22 September 2008

RE: [ac-i] ruu pornografi dan kekerasan wacana

Maaf, kalau boleh saya ikutan nimbrung..
 
 
Dari yg ibu Ratna F. Utami sampaikan di bawah, saya tergelitik untuk berkomentar :
 
Ibu Ratna (IR): tuh kan makin keblinger - sorry sam, ayas ndak ada niat untuk nyampurin urusan sampean ama Sing Mbaurekso Ndunyo... tapi orang Indonesia perlu di kontrol -
Komentar Ivan (KI): Menurut pendapat saya, 'diarahkan' mgk merupakan kata2 yg lebih tepat dibandingkan 'dikontrol'. Pernah lihat mobil remote control? Nah, jika orang Indonesia ini adalah mobilnya maka the man behind the remote control ini yang akan mengendalikan gerak dan arah si mobil. Apakah ibu bermaksud bahwa orang Indonesia perlu dikontrol dan menyerahkan 100% keberadaan dan kebebasan kita pada the man(or woman) behind the remote control? :-)
 
 
IR: Gerah liat geger bolong - udel bodong pada di pamerin di jalan dan pasar - Dada Paha pada di gelar tanpa ada malu - inget mas, Kita orang Timur yang punya keluhuran budi pekerti, punya TOTO KROMO, punya sopan santun,
KI: Sekali lagi, kata 'gerah' adalah merupakan ekspresi wajar dari IR, namun di lain pihak, objek yang sama akan terlihat 'teduh'. Lalu dimanakah letak batas antara meneduhkan dan meng-gerah-kan? Saya melihat art nude photography sebagai 'meneduhkan', mgk menurut ibu, itu terlihat 'meng-'gerah'-kan'. Saya pikir keluhuran budi pekerti itu tidak terbatas pada apakah seorang itu mempunyai kaki yang jenjang dan indah atau berdada indah yg TERLIHAT atau tidak. Kalau menurut saya, kebanyakan perempuan yang berkaki jenjang dan berdada indah yang menyadari keindahan tubuhnya dan mencoba mengekspresikan dirinya itu masih berada di dalam koridor dan tempat yang jelas. Jarang saya lihat, seorang gadis cantik, berkaki jenjang, berdada indah (ini imej standar laki2 ttg keindahan wanita - maaf jika ada yang berbeda) mengenakan very short pants dan tank top ke pasar tradisional. Biasanya kalaupun mereka tampil seksi, mereka ada di mall2 atau di night club atau di tempat2 yg mana keindahan tubuh mereka akan diapresiasi sesuai dengan ekspektasi dari perempuan yang bersangkutan.
 
 
IR: kesel liat goyang ngecor ngebor pada berlomba cari sensasi... apa itu yang namanya seni - Saya mendukung RUU Pornografi karena saya WANITA - yg sudah gerah kaum saya jadi sasaran EXPLOITASI  demi mata2 para buaya dengan kedok SENI !!!!!
KI: Tidak dipungkiri, banyak buaya, komodo dan t-rex yg berkedok SENI. Tetapi yang bener2 seniman juga ada. Saya pikir, seharusnya kalaupun RUU ini disahkan, seharusnya melindungi laki2 dari EKSPLOITASI juga - memangnya, masa kita krg SEKSI dan menarik dibandingkan perempuan??? hehehe....
 
 
IR: SENI kok merendahkan WANITA !!!
KI: Jika saya berdada bidang dan six packs (saat ini belum sih), lalu saya difoto dengan cawet saja atau art nudes, maka saya tidak merasa direndahkan dlm posisi tersebut. Mungkin..ini mungkin lho, perasaan yg sama jg dirasakan oleh para perempuan yang difoto nude atau yg menjadi model nude untuk kepentingan sculpting atau drawing - mgk yg ada adalah perasaan bangga bahwa tubuhnya itu dianggap indah dari kacamata seni dan keindahan.
 
IR: dan mohon maaf di sini ada moderator kan - ACI ini Art Culture Indonesia - tapi kok yg di bahas sama sekali yg bertolak belakang sama budaya INDONESIA...
KI: Bertolak belakangnya di mana ya? bukankah kita sedang membicarakan budaya Indonesia dan bukan budaya Amerika, Eropa atau Timur Tengah?
 
-
 
Demikianlah komentar saya. Maaf lho jika kata2nya ada bahasa Inggrisnya, ini bkn niat saya menyaingi Cinta Laura , so plis, chaya jyangan dicimpukin...:-)
By the way, saya yg termasuk tidak setuju RUU ini disahkan dan rasanya, saya lebih rela jika uang hasil pajak yg dipotong dari gaji saya tiap bulan itu dipakai KPK untuk memberantas korupsi.
 
- 
 
 
 


From: artculture-indonesia@yahoogroups.com [mailto:artculture-indonesia@yahoogroups.com] On Behalf Of ratna fajrianita utami
Sent: 18. syyskuuta 2008 11:03
To: artculture-indonesia@yahoogroups.com
Subject: Re: [ac-i] ruu pornografi dan kekerasan wacana

tuh kan makin keblinger - sorry sam, ayas ndak ada niat untuk nyampurin urusan sampean ama Sing Mbaurekso Ndunyo... tapi orang Indonesia perlu di kontrol - Gerah liat geger bolong - udel bodong pada di pamerin di jalan dan pasar - Dada Paha pada di gelar tanpa ada malu - inget mas, Kita orang Timur yang punya keluhuran budi pekerti, punya TOTO KROMO, punya sopan santun, kesel liat goyang ngecor ngebor pada berlomba cari sensasi... apa itu yang namanya seni - Saya mendukung RUU Pornografi karena saya WANITA - yg sudah gerah kaum saya jadi sasaran EXPLOITASI  demi mata2 para buaya dengan kedok SENI !!!!!
SENI kok merendahkan WANITA !!!
dan mohon maaf di sini ada moderator kan - ACI ini Art Culture Indonesia - tapi kok yg di bahas sama sekali yg bertolak belakang sama budaya INDONESIA...

----- Original Message ----
From: mediacare <mediacare@cbn.net.id>
To: artculture-indonesia@yahoogroups.com
Sent: Thursday, September 18, 2008 2:19:11 AM
Subject: Re: [ac-i] ruu pornografi dan kekerasan wacana



Saya bukan orang FPI, bukan orang PKS, bukan orang MUI, jadi tak ada urgensinya mendukung RUU Pornografi.
 
Saya malah dukung penghapusan kolom agama di KTP. Negeri ini akan tambah hancur kala pemerintah mengontrol dan sibuk mengurusi agama warganya.
 
Bubarkan juga itu MUI dan Depag.
 
salam,
 
radityo
 
 
 
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, September 16, 2008 3:07 PM
Subject: Re: [ac-i] ruu pornografi dan kekerasan wacana

Muslim. KTP = ATHEIS anda ngga berTUHAN ya aneh orang Islam kok ga dukung agamanya sendiri maaf saya sering ga sependapat sama semua posting di milist ini. Jadi inget mbah saya bilang manungso iku tambah pinter tambah keblinger.

Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: "mediacare" <mediacare@cbn. net.id>
Date: Tue, 16 Sep 2008 13:18:40 +0700
To: <artculture-indonesi a@yahoogroups. com>
Subject: Re: [ac-i] ruu pornografi dan kekerasan wacana



Saya muslim KTP, tapi saya tak mendukung tuh.
 
salam,
 
radityo
 
 
 
 
----- Original Message -----
From: iman tio
Sent: Tuesday, September 16, 2008 10:21 AM
Subject: Bls: [ac-i] ruu pornografi dan kekerasan wacana


jika anda muslim dukung RUU Pornografi !

--- Pada Ming, 14/9/08, Hudan Hidayat <HudanHidayat@ yahoo.com> menulis:
Dari: Hudan Hidayat <HudanHidayat@ yahoo.com>
Topik: [ac-i] ruu pornografi dan kekerasan wacana
Kepada: jurnalperempuan@ yahoogroups. com, "Forum-Pembaca- Kompas@yahoogrou ps.com FPK" <Forum-Pembaca- Kompas@yahoogrou ps.com>, "Apresiasi Sastra" <Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com>, "artculture indonesia" <artculture-indonesi a@yahoogroups. com>, "bhinneka tinggal ika" <bhinneka_tunggal_ ika@yahoogroups. com>
Tanggal: Minggu, 14 September, 2008, 10:34 PM


Bahasa bekerja sama dengan huruf yang saling mendekat.

Begitulah huruf a dari kerumunannya mendekati kepada huruf k dan mengambil u untuk kelengkapan dirinya: aku.

Aku sebagai fungsi yang menamai, sebagai sesuatu yang ditandai: manusia. Tapi segera: aku manusia meretak dan melubang dalam ranah filsafat: apakah aku itu? Apakah manusia itu?

Meretak dan melubang dalam aku yang menginginkan kekuasaannya, sebagai individu yang diatur, dengan menitipkannya kepada representasi kekuasaan bernama demokrasi. Sebuah ranah yang sering dikhianati dengan menggunakan medium klaim.

Klaim atas nama banyak orang tanpa adanya mekanisme referendum untuk sebuah regulasi.

Katakanlah regulasi yang bernama ruu pornografi.

Sudahkah kita menanyai semua orang dalam mekanisme referendum untuk soal ini? Bagaimana kalau hasil referendum sebagian besar orang menolak?

Tentulah uu itu kelak akan kehilangan legitimasinya.

Tapi bagaimana kalau sebagian kecil saja yang menolak – kecil itu bisa dibaca jutaan di tengah 250 jutaan manusia Indonesia misalnya.

Adakah hak uu itu untuk memaksakan aturannya kepada mereka yang menolak?

Maka bahasa di sini menimbulkan soal kepatuhan orang terhadap undang undang.

Orang yang sebagian kecil itu, kalau tidak mau mematuhi undang undang, apa jadinya? Tentulah demokrasi adalah hasil suara terbanyak. Tapi mana referendumnya?

Hanya klaim dari repsentasi orang yang mengatas namakan mewakili semua orang. Saat sedikit orang hendak menyampaikan suaranya, kanal kanal menjadi mampat.

Sumbatan saluran ini tak pernah dihitung dalam arus besar bernama demokrasi.

Maka bahasa melubang dan meretak ke dalam makna demokrasi.

Apakah sesungguhnya demokrasi? Bagaimana demokrasi mencari jalan keluar bagi aspirasi sedikit orang, di tengah adagium demokrasi itu sendiri: kekuasaan di tangan rakyat.

karena itu, tidakkah demokrasi itu sudah bergerak ke arah demo kerasi - sebuah pamer kekerasan wacana dari banyak orang kepada sedikit orang.

hudan

____________ _________ _________ _________ ____________ _______
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/


Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain!



Looking for the perfect gift? Give the gift of Flickr!

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: