19 September 2008

[ac-i] Rendra, Sawung Jabo, Iwal Fals, dll dalam film "Kantata Taqwa"

KANTATA TAQWA DALAM FILM
Catatan singkat Ikranagara
 
 
Tadi malam, tepatnya 18 September, di Blitz Grand Indonesia, film "Kantata Taqwa" digalaprimerkan!
 
Syuting itu sebenarnya sudah rampung sekitar 18 tahun yang lalu, sebanyak 600 can, tapi tidak kunjung ada yang siap mendanai atau pun mengerjakan post proctionnya, dan baru tahun ini akhirnya film itu siap dan layak tayang, berkat tekhnologi digital. Ya, film itu dibuat dengan seluloit, akibatnya banyak yang lengket karena disimpan selama itu. Maka sisanya yang bagus-bagus kemudian diedit, ddan akhirnya jadilah sebuah film yang memukau penonton tadi malam.
 
Ya, biasanya kita datang ke bioskop menonton yang namanya "film" itu sudah siap dengan sebuah konsep di kepala "Ceritanya apa, ya?"
 
Tapi film "Kantata Taqwa" bagi yang sudah pernah nonton pertunjukan kolosal di abad lalu (!) tentulah sudah siap mau menonton pertunjukan seni musik & lagu, bukan? Ditambah dengan pembacaan puisi-puisi Rendra, tentu saja! Tapi bagaimana halnya dengan generasi sekarang, yang tidak sempat nonton live-shownya di Senayan itu?
 
Generasi sekrang, menurut perkiraan saya, adalah generasi baru yang sudah siap untuk menikmati bahasa filims a la video clip yang berisi lagu dan musik. Tapi memang, menikmatinya lewat pemutaran CD atau DVD di layar kaca, bukan di bioskop. Jadi, kalau saja generasi baru (generasi M-TV?) datang dengan kesiapan membaca film itu dalam bahasa video-clip seperti itu, maka mereka akan bisa menikmatinya.
 
Yang mungkin tergolong unik adalah pembacaan puisi Rendra yang biasanya hanyalah dibacakan dengan penampilan tunggalnya yang kesohor dan kharismatik itu, dalam film "Kantata Taqwa" kali ini juga ditampilkan dalam bahasa vide-clip yang memukau juga! Inilah yang boleh dikata baru, bahwa ada puisi yang ditampilkan dengan bahasa-filmis/media divideo-clipkan. (Mungkin ini untuk pertama kalinya di dunia, barangkali? olong dikporeksi kalau saya salah lho!)
 
Yang mencengkam adalah penampilan adegan-adegan kekerasan politik yang terjadi di zaman Orde Baru di bawah Soeharto ketika itu! Tapi, karena pengungkapannya tidaklah dalam pola Realisme, maka tidaklah secara langsung menunjuk kepada realitas kontekstual tersebut. Dengan pendekatan non-realistik, bahkan terasa adanya unsjur stilisasi abstrak, maka bisa saja secara semiotik film ini punya makna konotatif yang sesuai dengan teks yang ada di dalam kepala pemirsanya masing-masing yang saling berbeda, bukan?
 
Kekerasan itu misalnya, bisa saja menunjuk kepada yang terjadi di masa kini kita. Atau justeru menunjuk ke realitas yang ada di dalam sejarah Ummat Manusia sepanjang zaman...!
 
Singkatnya film "Kantata Taqwa" yang akan ditayangkan mulai 26 September di gedung teater Blitz Megaplex yang ada di Mall Grand Indonesia itu pantas untuk diajungi jempol! Salut untuk Gatot Prakosa, Eros Djarot, Rendra, Sawung Jabo, Iwan Fals, Djodi, dll!
 
 
Jakarta 2008

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: