24 September 2008

[ac-i] perihal lekra-manikebu - sastra indonesia : pemberontakan dari dunia pesantren

(ternyata bukan hanya saut situmorang dan lain lain yang memberontaki sastra indonesia, tapi juga dari dunia pesantren, dunia pinggiran, walau tak segarang dan selantang saut situmorang dalam pengucapannya)

untuk melihat realitas sastra yang ada, dan untuk ikut mengetengahkannya ke hadapan publik, saya mulai membaca secara serius tiap tiap tulisan seseorang di dunia maya.

kegiatan ini mulanya saya lakukan terkait dengan respon banyak kalangan anak muda di pelosok pelosok indonesia berkaitan dengan polemik sastra pornografi dan polemik sastra saut dan tuk. saya memerlukan mengamati hal tersebut, karena untuk mencari sudut pandang lain selain sudut pandang yang sudah sangat sering terungkap di media massa semisal koran atau majalah.

tetapi lalu saya berpikir, atau banyak menemukan, suara suara yang menunjukkan sastra itu tidak seterpencil nampaknya. di sana, orang membahas sastra sama antusiasnya dengan sastrawan menciptakan sastra. di sana juga saya menemukan nilai sastra tidaklah sehitam apa yang disebut taufiq ismail sebagai gerakan syahwat merdeka.

saya sering mempersoalkan posisi kritikus di dalam produksi sastra kita. sebagai sebuah cara kerja yang tidak otonom pada dirinya sendiri. selalu diletakkan pada sebuah konteks, konteks kekuasaan dalam rupa rupa wujud. konteks motif ideologis juga. dan terutama, selalu mengambil puncak puncak dari sebuah fenomena sastra - kenyataan yang diakui juga oleh penulis yang postingannya saya kutip ini - mohammad dery irawan, yang mengaku dirinya sebagai santri jalanan di daerah jawa timur sana, dengan penyebutan nama nama sastrawan dalam tulisannya ini.

atau dalam kasus lain, misalnya, sastra dari kaum kiri lekra dulu. selalu tiap pembicaraan mengacu kepada pramudya ananta toer misalnya.

tentu saja sangat masuk akal karena keunggulan dari sastra pram sendiri, membuat para kritikus atau pengamat berpusat pada pram (contoh buku profesor apsanti dari UI itu).

(tetapi bagaimana kita bisa mengatakan selain pram tidak ada yang unggul dari sastrawan lekra itu, kalau kita belum mendalami karya karya mereka?)

tapi jarang saya menemukan sebuah pembahasan yang juga menyangkut sejarah, sejarah yang melibatkan sejumlah nama secara utuh, dengan, misalnya, memetakan ciri dari tema tema sastra dari kaum kiri dulu.

seperti kawan kita di milis ini: bung a. kohar ibrahim, belum pernah terbaca oleh saya keberadaan dirinya di tengah tengah sastra indonesia, oleh dan dari pembahasan kritikus atau pengamat sastra kita tentang sastra orang orang kiri itu, kini.

syukur kalau hendak dikontraskan dengan sastra dari generasi terakhir dari sastrawan indonesia.

adakah dan apakah perbedaan di antara sastra orang kiri (kohar) itu, dengan sastrawan terakhir?

(dalam emailnya kepada saya, bung kohar berkata lekra sudah tidak ada lagi)

kohar pun di milis ini selalu meneriakkan kemasygulannya (jadi bukan hanya goenawan yang masygul melihat kohar dengan sebutan parodi yang buruk itu: sebuah kehendak untuk membangkitkan pertikaian lama, kata goenawan), bahwa yang ingin dilihatnya adalah keadilan sejarah. terutama sejarah dalam sudut pandang kebudayaan.

dan itulah email tanggapan goenawan terhadap kohar. bahwa apa yang dilakukan kohar terhadap pemberangusan media massa dulu itu (goenawan menyebut muhtar lubis), sampai sekarang bersuara tentang hak azazi manusia.

email semacam ini membuat saya berpikir tentang dua hal:

pertama, kebutuhan melihat sejarah itu secara utuh dan berimbang, di dalam sebuah buku yang seimbang dan proporsional pula memandang persoalan lekra dan menikebu dulu. terutama saya ingin melihat buku yang dibuat bukan oleh sastrawan pelakunya sendiri, tapi, katakanlah seorang sejarawan yang netral, memiliki cukup ketajaman dalam menguak tiap fenomena dan data, dan memiliki juga empati terhadap sejarah yang telah silam itu.

kedua, saya pun berpikir tentang inkonsistensi tindakan dan pikiran. benarkah sebuah tindakan harus diukur dari konsistensinya dengan pikiran? tidak adakah celah manusiawi di dalam tindakan seseorang, dalam suatu konteks dan suasana tertentu?

kalau kita mempertahankan konsistensi dan inkonsistensi ini dalam bentuk pelabelan sebagai pengkhianat nurani, maka hendak bagaimanakah kita bersuara terhadap pramudya atau muhtar lubis itu sendiri? apa yang akan kita katakan terhadap kohar yang disebut goenawan sebagai orang yang tak pernah bersuara tentang hak azazi, tapi kini seolah menyulap logika: mencitrakan diri sebagai pejuang kemanusiaan?

tidakkah tema dan suara di dalam karya karya tokoh tokoh besar itu adalah tema dan suara orang yang tertindas semua?

bisakah kita membuat sebuah klaim, bahwa muhtar lubis telah melakukan pemberangusan hak azazi dengan mengembalikan hadiah magsaysay yang telah diterimanya itu, saat mendengar pram pun menerima hadiah yang sama?

tidakkah pada momen ini muhtar lubis bisa kita katakan sebagai orang yang inkonsisten?

maka di sinilah saya mengajukan celah manusia yang saya sebut itu: celah manusiawi.

kemasygulan, harapan, atau permintaan kohar (dan tentulah bukan kohar sendiri) untuk melihat diri di dalam perspektif keadilan sejarah, yang kemudian berimplikasi kepada tempat di mana rumah sejarahnya menurut keadilan sejarah itu, sama wajarnya dengan harapan seseorang yang ingin melihat tempat dirinya di sebuah negeri atau pulang ke kampung halaman: di manakah letak rumahku kini?

apakah jawab atas semua itu? saya tidak tahu. tentulah yang berkompeten menjawabnya adalah kritikus sejarah sastra kita. kita bisa menghidunya dengan penciuman subjektif belaka. terutama subjektif selaku sesama manusia. tempat mereka sebenarnya di dalam sejarah? itulah gunanya ilmu sejarah, terutama sejarah budaya atau sejarah sastra di negeri ini.

kalau saya menulis seperti ini, semata hanya tertarik saja kepada sejarah orang orang tua kita dulu iti. sejarah, sebaiknya memang harus diletakkan dan ditimbang secara adil. tidak dan sama sekali tidak untuk ikut arus menghidup hidupkan pertikaian lama di antara manikebu dan lekra.

kembali kepada suara mohammad dalam posting ini, begitulah saya melihat sebuah suara yang lain, suara dari mereka yang menyebut kaum pinggiran.

ada yang menarik dari suara semacam ini, yakni ketika mohammad Eri Irawan mengakhiri tulisannya dengan mengatakan:

Terkait dengan itu, mungkin ada yang menganggap saya berlebihan dengan menyebut mereka sebagai sastrawan; hanya karena karya mereka belum benar-benar teruji seperti karya selebritis sastra papan atas Indonesia.

Sudahlah, buang jauh pola pikir positivisme seperti itu.

Toh mereka juga berkarya. Itu sudah cukup untuk mengatakan bahwa pemilik tangan-tangan kreatif dari pesantren itu sebagai seorang sastrawan, meski dengan embel-embel pinggiran.

hudan hidayat

---------------------------------------

sastrawan muda (pinggiran di pesantren) Sep 23, '08 9:55 PM

(for everyone)

Sastrawan Muda (Pinggiran) di Pesantren Minggu, 31/12/2006

Thursday, 20 March 2008


TAHUN 2006, tahun penuh warna, akan segera berlalu.

Tahun 2006, tentu menyisakan banyak cerita seputar jagat seni menulis.

Sepanjang tahun penuh bencana itu, jagat seni menulis dan jagat perbukuan Indonesia masih didominasi karya sastra. Karya-karya sastra dari pelbagai macam genre muncul merebut simpati publik.

Semuanya serbariuh dan gemerlap. Namun, di balik gejala menggembirakan bagi dunia sastra itu, karya karya sastra yang banyak bertebaran ternyata lebih banyak dihasilkan oleh para pemain lama, nyaris tanpa ada nama baru, apalagi penulis muda.

Hanya ada nama Radhar Panca Dahana, Jakob Sumardjo, Remy Sylado, Maman S Mahayana, Ayu Utami, Nirwan Dewanto, Seno Gumira Aji Darma, Hudan Hidayat, Agus Noor, Puthut EA, Djenar Maesa Ayu, dan Dewi Lestari.

Mereka seolah dianggap sebagai selebritis sastra yang tidak tergoyahkan.

Adapun mereka adalah penulis yang telah teruji karya-karyanya, hal itu tidak perlu diperdebatkan lagi. Berderet karya berkualitas mereka adalah
bukti nyata yang mampu menyaput sinisme yang diarahkan.

Namun, bila dilacak lebih jauh lagi, bisa jadi itu adalah gejala minimnya kreativitas kita dalam menghasilkan penulis-penulis muda berbakat.Terutama, bagi kaum muda yang ada di pelosok desa atau juga di pesantren yang masih dianggap sebagai lembaga pendidikan nonformal yang udik.

Memang,ada banyak penulis muda yang muncul di tengah kesemarakan dunia penerbitan sastra kita. Buktinya, lima tahun terakhir ini, dunia penerbitan sastra banyak disemarakkan karya sastra pop dari penulis muda.Terbitnya buku buku chicklitteenlit adalah bukti nyata menyeruaknya ruang gelisah; publik sastra kita untuk menggugat kemapanan penulis penulis tersohor.

Sedikit nama, di antaranya, sebut saja Rachmania Arunita dengan novel Eiffel Im in Love yang laris manis bak kacang goreng di pasaran.

Kemunculan Rachmania cukup fenomenal.Novelnya sejak terbit tiga tahun lalu, sudah naik cetak beberapa kali. Bahkan, meski sedikit berlebihan, Rachmania bisa disamakan dengan kisah novelis Helen Fielding
yang novelnya, Bridget Jones Diary, menjadi buruan di pasar internasional.

Selain Rachmania, ada nama Icha Rahmawati sebagai penulis muda nan berbakat. Novelnya, Cintapuccino, booming dan kini sudah naik cetak dua belas kali. Di satu sisi, kemunculan penulis penulis muda itu patut mendapat apresiasi.Namun, di sisi lain, hal itu juga menunjukkan perbedaan budaya tulis yang mencolok antara anak muda kota dan anak muda di pelosok desa. Dua penulis muda yang saya contohkan di atas adalah produk dari perkotaan.

Bagaimana dengan anak muda dari dunia pesantren?

Jawabannya jelas, dalam dunia penerbitan sastra kita, sangat sulit ditemui nama yang berbau pesantren. Namun itu dulu. Cerita muram tentang minimnya karya sastra dari pelosok atau komunitas yang selama ini dianggap pinggiran; seperti pesantren kini telah berakhir.

Setahun belakangan ini, tidak sedikit karya sastra dari sastrawan muda pinggiran itu yang berhasil menghiasi etalase-etalase toko buku di Tanah Air.

Ada nama Shachree M Daroini, Marifatun Baroroh,Fahrudin Nasrulloh, Pijer Sri Laswiji, Zaki Zarung, S Tiny, dan Mahbub Jamaludin. Shachree M Daroini menulis novel Bola-Bola Santri, Marifatun Baroroh menulis Santri Semelekete, Pijer Sri Laswiji menulis Kidung Cinta Puisi Pegon, Zaki Sarung menulis Santri Baru Gede, S Tiny menulis Dilarang Jatuh Cinta, dan Mahbub Jamaludin menulis Pangeran Bersarung.

Novel novel yang ditulis oleh sastrawan belia pesantren tersebut meminjam analisis puisi model Hipolyte Taive, pada dasarnya merupakan perwujudan dari teori ketergantungan karya literer dengan fenomena pada zaman dan
lingkungannya. Karya literer (puisi, novel) selalu mencoba merefleksikan, mencatat, dan menafsirkan problematika zaman dan lingkungannya. Paling tidak, karya tersebut memang berusaha menjadikan dirinya sebagai saksi atas berbagai peristiwa dan kondisi sosial.

Dalam konteks ini, tangan-tangan kreatif dari komunitas lain bernama pesantren itu mencoba memotret realitas keseharian pesantren lengkap dengan dinamikanya. Realitas keseharian, seperti perilaku gus (putra kiai) ketika santri jatuh cinta dan kerja keras untuk belajar di tengah kesederhanaan disajikan dengan sangat jujur dan bernas.

Masyarakat yang menganggap pesantren sebagai komunitas udik dengan baju kumal dan penyakit kulit para santri akan dibuat insaf bahwa pesantren ternyata juga sangat berpotensi dalam penerbitan sastra. Novel Bola-Bola Santri karya Shachree, misalnya, mampu memotret dengan cukup utuh perjalanan hidup seorang gus alias putra kiai.

Kisah pergaulan gus dengan sesama gus, para santri, juga warga sekitar kampung mengusung nilai lokalitas ala pesantren yang cukup kental.

Novel-novel mereka memang kental dengan nuansa pesantren.

Suasana udik ala pesantren ditampilkan apa adanya.

Novel-novel ini, meski masih sangat sederhana, sudah bisa mengusung semangat estetika lokal, semangat yang melandasi pelaksanaan Kongres Cerpen Indonesia di Riau beberapa waktu lalu.

Meski tak sesempurna Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari dalam mengusung semangat lokalitas, novel-novel mereka tetap mampu menyeruakkan aroma pesantren. Penggunaan istilah-istilah yang biasa dipakai di pesantren, seperti roan, ghasab, pawestren, ndalem, dan takzir sangat membantu novel-novel mereka menjadi semakin terasa nyantri.

Lalu, apa langkah yang tepat bagi sastrawan muda pinggiran ini ke depannya?

Langkah awal brilian berupa lahirnya novel-novel di atas perlu lebih didukung publik sastra guna pengembangan sebuah karya sastra yang lebih serius dan tematik, mulai dari plot maupun materi cerita.

Dengan begitu, kemunculan mereka tidak sekadar hangat-hangat tahi ayam; sehingga kita bisa memacu lahirnya sastrawan-sastrawan muda dari pesantren.

Terkait dengan itu, mungkin ada yang menganggap saya berlebihan dengan menyebut mereka sebagai sastrawan; hanya karena karya mereka belum benar-benar teruji seperti karya selebritis sastra papan atas Indonesia.

Sudahlah, buang jauh pola pikir positivisme seperti itu.

Toh mereka juga berkarya. Itu sudah cukup untuk mengatakan bahwa pemilik tangan-tangan kreatif dari pesantren itu sebagai seorang sastrawan, meski dengan embel-embel pinggiran.(*)

MOHAMMAD ERI IRAWAN Santri jalanan; di sejumlah pesantren di Jember, aktif di Rumah Baca dan Diskusi Taman Katakata Jember, Jatim

SUMBER: KLIK!
KOMUNITAS MATAPENA
http://matapena.co.cc Menggunakan Joomla! Generated: 24 September, 2008, 11:48

Prev: mencari titik temu sastra dan agama

___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: