22 September 2008

[ac-i] parit terakhir

PARIT TERAKHIR

Kapankah ia datang padaku? Kukira hari ini. Dalam gerak angin menumbuk kapal, aku bersiap-siap. Kukencangkan sabuk pengaman. Kami dalam ketinggian. Tapi apa guna sabuk pengaman ini? Sedang aku mengharap mesin mati. Lalu menabrak karang. Atau tenggelam dalam lautan. Maka itulah saat yang kutunggu: maut menjemput diriku. Aku ingin sekali melihat maut itu. Dalam bentuknya yang asli. Bukan tidur. Berarti aku harus terjaga. Membelalakkan mata. Merasakannya kerat demi kerat. Seperti orang mengunyah pizza.

Sudah 99 kali aku nyaris melihat maut. Tapi pada saat-saat terakhir, ia selalu menghindar. Dan itu adalah kegagalan yang menyakitkan. Membuatku sedih dan penasaran. Sampai tak ada lagi yang kukerjakan, kecuali mengintainya. Karena jemu dan capek, kadang gairahku yang besar itu mati. Tapi pada saat seperti ini, ia datang dengan rayuan dan bujukan. Memastikan aku pasti berhasil. Ketika aku menyala kembali, ia meliuk seperti pemain bola. Sehingga aku kalap dibuatnya. Maka kubantai apa saja yang ada. Tanpa pandang bulu lagi.

Capek membantai manusia, kadang aku masuk ke dalam rimba. Mencari rajanya, kalau-kalau dia dapat membantuku. Sama saja. Aum dan cakarnya tak juga melumpuhkanku. Meski kami sudah bersimbah darah. Sampai akhirnya aku berhasil mematahkan batang lehernya. Dan kemarin giliran istriku. Ia jago bela diri. Jadi bolehlah aku berharap mati.

Karena itu, kuterkam dia. Kutusuk dengan belati. Saat hampir kena, kuperlahankan gerakku. Memberi kesempatan agar dia bisa menghindar. Dan memang dia bisa menghindar. Tapi setan! dia bukan mau membunuhku malah merenung iba. Membuatku seperti anak kecil tertangkap mencuri. Jadi kamu ingin mati. Baiklah kamu mati. Maka kuhujamkan belati berkali-kali. Istriku ternganga tak percaya, sebelum mengatup mata.

Alangkah mengganggunya keinginan ini. Aku tidak bisa tidur. Seperti apa maut yang akan datang padaku? Segalanya sudah kulakukan. Bahkan aku sudah masuk dalam medan perang. Melemparkan granat, menembak musuh, ditembak musuh. Tak ada yang membuat maut datang padaku.

Sampai ketika benar-benar ingin melihatnya: aku berjalan ke arah musuh tanpa persiapan. Melenggang dengan senjata di tangan. Menjulur-julurkan kepala dan badanku. Mereka malah tertawa-tawa. Mendapat hiburan seakan aku orang gila. Sakit hati karena diperlakukan seperti itu, aku menembakkan senapan otomatisku. Komandannya berteriak, awas! lelaki ini bukan orang gila!

Begitulah aku dikejar puluhan orang dan kulompati parit demi parit, berlari ke daerahku sendiri. Kawan-kawanku menembakkan senapan mesin berat, saat aku melompati parit terakhir. Mereka memelukku, dan seorang kawanku sambil mengalungkan medali berkata, kawan-kawan, inilah contoh prajurit yang baik itu, berani menyusup ke daerah musuh, sendirian. Oh, nestapa, keinginanku cuma sederhana: melihat maut datang dan melawannya dalam arena.

Pada sebuah pagi, aku tersentak, kalau benar-benar ingin melihat maut, mengapa tidak membunuh diri sendiri? Kau dapat menahan napasmu sampai mati. Atau mengebor kepalamu. Terjun ke dalam jurang boleh juga. Benar juga.

Mengapa tidak terpikir olehku?
Tapi aku tidak mau mati bunuh diri.
Aku ingin kematian alami.
Sebab yang bukan datang dariku.

Aku ingin merasakan maut menghampiri dan aku dapat bersiap-siap. Menyambutnya dan bersiasat padanya. Menguji kemungkinan-kemungkinannya. Sebab tidak ada hal yang menarik di dunia kecuali kematian. Kita hidup, lalu mati. Proses dari hidup menuju mati itulah yang mengundang tanya.

Apakah sebab kematian kita? Kapan? Tidak bisakah kematian itu direkayasa? Sebabnya kita buat sendiri. Lalu kita mati. Tidak bisa? Mengapa tidak bisa? Jadi aku harus mencoba sepanjang hidupku, sampai kata-kata "tidak bisa" itu terbukti padaku. Maka mulailah aku memusatkan pikiran pada hal itu: di mana dan dengan cara apa aku dapat menemui maut.

Tapi peristiwa apa yang akan menimpaku? Aku begitu sigap dan secepat peluru. Bagaimana maut bisa datang padaku. Sakit? Tubuhku sehat sekali. Kujaga tubuhku. Kuberi makanan yang bergizi. Kuberi latihan lebih dari cukup. Sehingga tak mungkin terperdaya oleh manusia - juga alam semesta. Belum lagi instingku. Aku dapat membaca sesuatu yang akan terjadi. Anda pasti tidak percaya.

Tapi begitulah kenyataannya. Banyak hal yang aku sudah tahu. Aku bisa melihat kapal tenggelam. Mobil masuk jurang. Emas dalam ngarai. Aku bisa melihat pembunuhan yang terjadi beribu kilomoter dari tempatku berdiri. Aku bisa melihat orang onani. Pencuri yang beraksi di malam hari. Semua begitu jelas di mataku. Yang tidak pernah aku tahu adalah mautku sendiri. Dan karena itu aku selalu menciptakannya. Menantangnya. Kalau-kalau di baliknya ada mautku yang tersisa.

Aku juga pernah melihat kejadian yang akan menimpa negeri ini. Menurut penglihatanku, negeri ini akan kacau balau, tepi bergolak, tengah juga. Tak ada yang bisa dipercaya, karena orang hanya bermain dengan kata-kata. Sebagai kelanjutannya aku melihat kita akan lenyap: bangsa-bangsa tetangga datang menyerbu.

Dan kita lumpuh. Sampai orang-orang tepi itu melakukan perjuangannya sendiri-sendiri. Begitulah kita terbenam dalam pertempuran selama lima belas tahun.

Sampai kemudian kita benar-benar menjadi bangsa yang kuat, menyadari betapa hebat karunia Tuhan, dan keluar sebagai bangsa pemenang. Baru setelah perang besar itu, tumbuhlah pribadi-pribadi terpercaya, penuh kegembiraan hidup. Pribadi yang matang oleh pertempuran, bangsa yang selamat dari perang.

Tapi siapakah yang mau mendengar diriku? Aku hanya seorang manusia penuh kompleks. Aku bisa melihat masa depan tapi gemar membunuh orang. Aku hanya seorang lelaki yang ingin melihat mautnya sendiri.

Maka ketika pada sebuah malam aku melihat tubuhku berada dalam pesawat yang meluncur menuju karang, alangkah senangnya hatiku. Aku ingin sekali bernyanyi-nyanyi, melompat-lompat gembira. Tapi aku melihat hal lain lagi. Agak samar tapi membuatku mengurungkan lompatan kegembiraanku. Seakan kulihat seekor kucing hitam melesat dari lautan api. Sangat gesit meski tubuhnya besar dan perkasa. Kucing hitam lambang jiwaku. Namun begitu aku tetap harus naik pesawat itu. Menyaksikan sendiri apa yang terjadi di atas sana.

Kami merasakan getaran yang sangat hebat. Pesawat terasa berderak-derak. Histeria yang tadi bersahutan sekarang menghilang. Tercekam dalam ketakutan. Terpaku pada kursi kami sendiri.

Seorang pramugari muncul dari balik kabin. Lalu disusul pilot pesawat. Aku melihat maut di wajah mereka. Pilot dan pramugari itu hancur dimakan api. Tapi aku belum melihat mautku sendiri.

Tenanglah! Tenanglah!
Memang ada kerusakan dan sebuah mesin mati, ditambah angin yang sangat kencang.
Tapi kami akan mengatasinya. Harap kerjasama agar segalanya berjalan dengan baik.

Seorang ibu di sebelahku berdesis, menggigil dalam doanya. Ya Tuhan, sekali ini saja, kabulkan doaku. Kabulkan doaku. Aku melihat wajah suami dan anakku. Betapa aku menginginkan mereka. Tapi percuma. Karena kulihat perempuan ini juga mati. Terbakar dilalap api. Bola besar itu menelan seisi pesawat.

Tapi di manakah mautku? Mautku, di manakah kamu, sayangku? Aku tetap tak melihatnya di bawah gunung karang itu. Tempat pesawat kami hancur dan serpihan-serpihannya tertiup angin jauh sampai ke pantai di mana turis-turis berenang menjemur diri.

Duduk di sampingku, sebaris di kiri, seorang ibu muda yang lain memeluk bayinya kuat-kuat. Ia tidak mengucapkan apa-apa. Ia hanya berdoa dalam hatinya. Anak umur 3 bulan itu tergolek tenang. Dan sama seperti diriku, aku tidak melihat maut di wajah mereka. Kusapa mereka dengan anggukan.

Tenanglah, kita akan selamat. Ya, saya kira begitu. Saya juga merasa akan selamat dari musibah ini. Kemudian kami berpegangan lagi, ketika untuk kesekian kalinya kami rasakan pesawat kembali berderak-derak.

Kali ini kembali pilot keluar dan berbeda dengan sebelumnya, jelas kelihatan kepanikan di wajahnya. Meski dengan sekuatnya ia mencoba menyembunyikannya. Ia memberi perintah yang tidak terdengar oleh kami. Tapi pramugari itu segera berlari dan membawa apa yang diminta oleh pilot itu.

Kucing hitamku kembali melesat menembus lautan api, bersama beberapa orang termasuk ibu dan bayi itu. Entah bagaimana mulanya, pada hitunganku yang keseratus, badan pesawat seakan berbalik. Saat itulah aku melihat selang-selang pernafasan berjuntaian.

Aku menangkap selang itu dan mulai bernafas dengan baik. Tapi kemudian kembali aku tidak bisa bernafas saat kurasakan besi mati ini meluncur tanpa suara, dan orang-orang di dalam pesawat menjerit-jerit bagai orang gila.

Aku merasakan dengan nikmat detik-detik kritis itu. Lambung pesawat terbuka. Kudengar angin mengamuk seperti alam marah memekakkan telinga. Awan berlarian di samping kami saat semua orang mengatupkan mata. Pesawat menghujam ke bumi.

Aku seakan melihat alam lain warna-warni. Pikiranku tenang. Perasaanku juga.

Maut, datanglah padaku, meski aku tidak bisa berbuat sesuatu. Inilah saat yang sudah lama kutunggu. Yang agak kusesalkan adalah aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga tidak bisa bersiasat menghindar darinya.

Tapi aku masih belum yakin juga. Sebab kembali kulihat kucing hitam itu melesat menembus gelombang api, saat aku merasakan getaran maha hebat dan mulai tidak bisa mengenali apa-apa lagi.

hudan hidayat


___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: