20 September 2008

[ac-i] Nonton Ledhek

Nonton Ledhek 

 

Saya pernah melihat pertunjukan ledek di sebuah kampung terpencil, kampung yang jauh dari kehidupan kota yang serba sibuk dan tak pernah mengenal istirahat. Malam itu sehabis hujan deras, jadi jalan-jalan di kampung becek, bahkan untuk menuntun sepeda motor pun kesulitan karena roda-rodanya lengket dengan tanah. Sandal dan kakipun kotor penuh lumpur. Setelah selesai bersusah payah, sampaijuga akhirnya kami di tempat pertunjukan.
 
Mula-mula kami hanyamenonton dari luar, karena kami tidak mendapat undangan. Tapikebetulan seseorang dari desa tersebut mengenal kami, danmempersilakan kami masuk dan memberi suguhan sebagaimana mestinya:teh panas, emping, lemper, jadah, wajik, dan tak ketinggalan kari ayam.
 
Musik tayub mulai mengalun: sederhana dan lugas. Berbeda dengangendhing-gendhing halus gaya Surakarta, musik tayub lebih menghentakdan, yang paling aku sukai, liriknya benar-benar lugas: othok kowokkembang srikatan, bengi ngothok awan pegatan...Tiga orang penari ledek, ketiganya tidak begitu cantik dan tubuhnyagemuk, menari di tengah arena.
 
Para tamu undangan duduk lesehan diatas tikar berharap mendapatkan sampur. Siapapun yang ketiban sampur(mendapat selendang warna kuning) dari sang Ledek harus bersediatampil ke depan dan menari bersama ledek. Mula-mula yang mendapatgiliran adalah orang-orang tua yang duduk di deretan depan. Makin malam, dan makin banyak penonton yang mendem ciu, musik makin kerasdan arena makin kacau. Anak-anak muda mengerubuti para ledek, dan sering menggerayangi pantat atau mencium pipi mereka.
Hal yang paling berkesan bagiku, dan masih kukenang hingga sekarangadalah ketika saya melihat seorang kakek mendapat giliran untuk menari. Seorang kakek, yang duduk di deretan depan di antarapenonton, ketiban sampur. Dengan perlahan-lahan namun penuh percayadiri, sang kakek pun bangkit. Gendhing mengalun, dan sang kakek punmenari dengan sepenuh hati.Bagi sang kakek, yang sudah uzur, hidup tinggal sesaat lagi. Hidup memang tak lama, seperti kembang api yang bersinar sesaat kemudianlenyap. Sang kakek menyadari sepenuhnya kesementaraan hidup. Dan dengan menari sang kakek merayakan kehidupannya. Life is acelebration. Dengan menari sang kakek melebur eksistensinya ke dalam seluruh Keberadaan. Dengan menari sang Kakek menemukan essensidirinya. Jika seorang filsuf berkata: Aku berpikir maka aku ada, makabagi sang kakek: Aku menari maka aku ada.

Pernahkah kita menari sepenuh hati untuk merayakan Kehidupan?
 
November 2004, Dukuh Bangoan, Desa Gilirejo (Daerah Genangan Waduk Kedungombo)
 
www.catatanrenungan.blogspot.com
 
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: