30 September 2008

[ac-i] MOHON MAAF LAHIR BATIN

Assalamu 'alaikum wr, wb,
Atas nama pribadi, keluarga, selaku ketua umum Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Komunitas Cerpen Indonesia (KCI), serta redaktur sastra Harian Republika, dengan setulus hati saya mengucapkan

SELAMAT IDUL FITRI 1429 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

semoga untuk selanjutnya kehidupan kita diwarnai kedamaian, kesejahteraan, keadilan, produktivitas, kreativitas, kesuksesan, dan kebahagiaan.

Wassalamu 'alaikum wr, wb.
Ahmadun Yosi Herfanda
dan keluarga


------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

[ac-i] Selamat Iedul Fitri 1429 H

Atas nama Forum Kebudayaan Indonesia / The Indonesian Cultural Forum ( www.forumbudaya.org ), kami mengucapkan

Selamat Iedul Fitri 1429 H
.
Mohon maaf Lahir dan Bathin.

Wassalam,
Luluk Sumiarso
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] lucu logika pembela ruu pornografi

sementara logika ruu pornografi tetaplah seperti semula: rawan dalam bangunan pemikiran yang menjadi spirit ruu itu, maka makin nampak kelucuan para pendukung ruu pornografi ini. kelucuan yang makin memperlihatkan betapa ruu pornografi memang lemah bangunan pikirannya.

lihatlah kata ade armanto, sambil mencurigai jangan jangan orang seperti gadis arivia misalnya, belum membaca ruu pornografi itu yang paling mutakhir, ia mencoba membela ruu yang kemungkinan besar akan membuat kebudayaan berhenti itu (bila memang akan diterapkan), dengan menggelar pengertian pornografi keras dan pornografi lembut yang menjadi pembabakan dalam ruu pornografi. dan pornografi keraslah yang kelak akan ter dan di babat oleh uu pornografi.

majalah semacam play boy (versi indonesia) tidak akan terkena. tapi memang kelak akan diatur penyebarannya.

di sinilah mulainya kelucuan itu: semacam ada dosa berat dan ada dosa kecil dalam terminologi agama.

padahal dosa ya tetap dosa dan sampai kapanpun akan dilarang.

hal itu kalau dibuat analogi akan jadi begini: dilarang membuka jilbab di depan umum. tapi untuk keperluan seni misalnya di ruang tertutup maka bolehlah membuka jilbabmu.

padahal menurut mereka yang mempercayai: hukum jilbab itu wajib dan tak mengenal waktu, kecuali kepada muhrimnya.

ah ruu pornografi itu! kita tak juga belajar dari sejarah: bagaimana sukarno usia belia 20 tahunan sudah membuat tulisan yang cemerlang: nasionalisme, islamisme, dan komunisme.

tulisan yang mengabarkan betapa pentingnya persatuan untuk menghadapi dunia luar (dulu kolonialisme).

jejak isme isme itu mungkin kini sudah tidak relevan lagi kalau kita proyeksikan dari partai partai pendukung ruu pornografi atau partai penentangnya (eh benarkah kedua partai itu akan konsisten menentang ruu pornografi menjadi undang undang?)

tapi persatuan dari negeri yang plural ini sampai kapan pun masih tetap akan relevan.

untuk apakah menerapkan uu kalau uu yang seabrek abrek ini saja belum kelihatan diterjemahkan ke dalam laku nyata di tengah tengah masyarakat.

sedang potensi perpecahan sudah makin menggema kalau ruu pornografi dipaksakan menjadi uu pornografi.

kematangan seorang atau kelompok pemimpin terlihat saat mereka atau dia mendahulukan kepentingan bersama, dari pada mengiyakan kepentingan golongan terbesar masyarakat tapi kemudian akhirnya terjebak ke dalam saling curiga yang akan menjurus kepada perpecahan.

tapi terserahlah. kelak masyarakat akan memperlihatkan suaranya sendiri.

kini sih sudah.

hudan


___________________________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

[ac-i] sajak suram, mata kata memejam - untuk hasan aspahani

Ketika kau tuliskan sajak-sajak suram, ketika itu pula mata kata memejam.

Puisi tentang puisi penyair hasan apsahani ini, bisa menjadi titik tumpu saat kita mengarungi karya seni.

Sebuah cerita poe tentang mata seorang lelaki tua yang seolah burung pemangsa, adalah sebuah prosa yang bergerak ke arah puisi. Ia menjadi sajak suram, menjadi mata kata memejam.

Manusia memang puisi sekaligus prosa.

Dalam prosa pun kita menjumpai karakter karakter puisi. Segala diskripsi yang dilakukan oleh aku dalam cerita poe itu, memang adalah prosa dengan disiplin psikologi sang tokoh yang dibangun oleh narator.

Tapi mata berselaput biru milik sang lelaki tua yang seolah burung pemakan mangsa, ketakutan sang aku terhadap mata itu, serta kehendaknya untuk membunuh agar sang mata lenyap dari pandangan, adalah sepenuhnya puisi.

Ia adalah teka teki jiwa. Teka teki dari manusia yang kelewat tajam pandangan mata batinnya.

Sajak sajak suram memang hasil dari sebuah mata kata memejam.

Ia adalah kegiatan subersiv dari hidup: memejamnya kata yang menghasilkan kesuraman.

Sebab mata kata seperti itu menampik kehendak untuk sebuah hidup yang wajar. Hidup yang tertib dari nilai nilai hidup yang tertib. Ia mencari daerah jejak yang lain, oleh mata katanya yang memejam oleh ketertiban.

Kini ia menjemput daerah daerah dari impuls jiwanya. Sebuah daerah yang sangat mungkin tak dikenalnya secara sadar. Tapi terbenam, dan hanya soal sebuah triger, membuat mata jiwa yang tidur itu bangkit.

Mata yang terpejam itu telah bangkit, dan kini menjemput sajak suramnya yang kedua.

Setelah menancapkan kuku-kuku kematian sehingga sang lelaki tua itu mati, kini sajak suram itu bergerak ke arah dirinya sendiri.

Sia sia sang tokoh hendak menghilangkan jejak dari sajak suramnya yang pertama, menutupi tubuh lelaki tua pemilik mata seolah burung pemangsa, yang telah dipotong-potongnya, dan dipendam ke dalam lantai, karena puisi jiwanya yang berteka teki itu telah memberontak kepada kehendaknya sendiri - sebuah dunia menghindar yang sedang dilakonkan oleh sang tokoh cerita.

Jangan ajari sajakmu mengucap dusta, kata penyair hasan aspahani, sebab mulutmu akan dibungkam kata-kata.

dan begitulah sang pembunuh mulai membuat pengakuan.

suara itu bangkit – apa yang bisa kulakukan? Kudengar suara lemah, samar samar, yang berdetak dalam tempo cepat, seperti detak jam yang terbungkus kain.

hudan hidayat

___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

[ac-i] Pornography Bill Stirs COntrovesy in Indonesia

Pornography Bill Stirs Controversy in Indonesia

Dorian Merina | 29 Sep 2008
World Politics Review


JAKARTA, Indonesia -- Close to 16 million Indonesians are expected to leave the country's cities this week in a mass exodus to their hometowns in order to celebrate Idul Fitri and the end of the Ramadan month. But this year, they will be hitting the roads as a broad national debate over a controversial anti-pornography bill continues to rage from the local communities of Bali to the streets of Jakarta.

Earlier this month, the government announced that it was close to passing legislation that would monitor not only media, but also behavior -- even conversation -- that is seen to violate "the normative values of society." At the time, Mahfudz Siddiq, chairman of the conservative Prosperous Justice Party (PKS), touted the bill's passage as imminent and promised it as a "Ramadan gift" to supporters. But as the month draws to a close, the bill remains stalled. Critics have demanded more deliberation and called the bill a political stunt by government officials who seek to garner support before next year's national elections.

Indonesia, as the world's most populous Muslim country, has long been known as a tolerant and pluralistic society. But following the end of Suharto's 32-year rule in 1998, violence -- including riots that targeted Jakarta's Chinese community and local power struggles between Christians and Muslims -- left nearly 1 million Indonesians displaced. In an attempt to govern this pluralistic nation where hundreds of different ethnic and linguistic groups span 17,000 islands, the state ceded a degree of regional autonomy to local governments in 2001.

But in recent years a more conservative interpretation of Islam has begun to take hold. When some areas passed Shariah-inspired bylaws, Jakarta resisted. As recently as August, the newly-appointed head of the Constitutional Court said the bylaws violated the constitution, which guarantees religious freedom. The current anti-pornography bill is the latest flashpoint between groups still struggling to define a long-simmering issue: the role of religion in society.

"We understand that this is a delicate issue," said Bahrul Hayat, Secretary General of Indonesia's Ministry of Religious Affairs in an interview at his Jakarta office. "It is not a one day process." Hayat's ministry is one of the government bodies responsible for gathering public opinion and presenting recommendations to the president. So far, the legislation has received criticism from a range of sectors.

Many point to the bill's expansive definition of pornography -- which according to a recent draft includes any "sexual materials in the form of drawings, sketches, illustrations, photographs, text, sound, moving pictures, animation, cartoons, poetry, conversations or any other form of communicative message" -- as problematic.

Others, especially among the country's Hindu population, see the bill as an effort to impinge on their cultural independence. Earlier this month in Bali, home to many of the country's Hindus, a rally drew 5,000 protesters to the local legislative building, where they called on the local government to reject the bill. Bali's Governor Made Mangku Pastika said that the bill should include pledges to preserve the country's diverse traditions."Failure to do so will give rise to a very complicated situation," he told the Jakarta Post.

In Jakarta, women's rights groups said that the bill unfairly targets women, and worry that it could be used by conservative groups to regulate their dress and activities. "They want to control the morality of the people," said Baby Jim Aditya, founder of Partisipasi Kemanusiaan, a group that works with Jakarta's prison population. Aditya, who also conducts sexual education courses in Jakarta's schools and prisons, said she worries that the bill will also affect her ability to speak to Indonesians about serious health threats, such as HIV/AIDS and other sexually transmitted diseases.

Apprehension also extends to Indonesia's minority population. Nia Gautama is a Chinese Indonesian, as well as Catholic in a country where 88 percent of the population is Muslim. While she agrees with certain limitations in the media and in artwork, she fears that the anti-pornography bill may be another way of driving Indonesia's various communities apart. Some in the Chinese community are still recovering from the trauma of the Jakarta riots in 1998, said Gautama, when mobs burned Chinese businesses and targeted Chinese women for assault and rape. What is needed now, she said, is more communication and respect among Indonesia's diverse communities.

It is a task that has consumed the nation since its founding. During his rule, Suharto banned public discussion about secularization, fearing that open dialogue would tear the country apart. Now, Indonesians are engaged in precisely that debate with the anti-pornography bill, with the violence of the past still fresh in the nation's collective memory.

Dorian Merina is a freelance journalist based in New York. He is currently in Indonesia on a Pulitzer Traveling Fellowship.


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

RE: [ac-i] Tong Kosong di Penghujung Ramadhan

Bagus sekali ditullis saudara leo ini. Semalam saya gak bisa tidur, karena berisiiiiiik banget.

Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network


From: leonardo rimba <leonardo_rimba@yahoo.com>
Date: Tue, 30 Sep 2008 22:11:18 -0700 (PDT)
To: <spiritual-indonesia@yahoogroups.com>
Subject: [ac-i] Tong Kosong di Penghujung Ramadhan

Friends,
 
Akhirnya saya SADAR bahwa di penghujung bulan suci Ramadhan itu ternyata tidak ada apa2, melainkan cuma suara tong2 kosong yg dipukul bertalu-talu sambil jejeritan allahuakbar. Sebenarnya saya SUDAH tahu hal itu dari dahulu, dan makin lama makin tahu dengan jelas, terutama selama beberapa tahun terakhir ini... -- Tetapi, baru malam tadilah saya benar2 menyadari bahwa there's is NOTHING more to that, selain suara tong2 kosong yg dipukul bertalu-talu dengan histeris. Saya juga HERAN ternyata Allah itu diam saja, sama sekali tidak menyahut walaupun dimana-mana semua orang berteriak-teriak allahuakbar.
 
Teriakan allahuakbar itu BUKAN berasal dari Mata Ketiga, however, melainkan dari naluri atau, paling tinggi berasal dari Cakra Solar Plexus. Kalau diteruskan juga, memang akhirnya bisa KESAMBET, tetapi bukan kesambet roh tingkat tinggi, melainkan roh tingkat rendah, yg BISA membuat orangnya nekat untuk semakin memanggil-manggil Allah dengan suara lebih keras lagi. Semakin lama semakin keras walaupun so pasti Allah TIDAK akan muncul sampai kapanpun. Akhirnya manusianya akan capek sendiri dan stop. Sudah, cuma itu saja.
 
Pertanyaannya sekarang: Apakah kita MASIH sebegitu primitifnya seperti saudara2 kita sebangsa dan setanah air yg selalu SETIA memukul-mukul tong2 kosong di penghujung Ramadhan itu ?Terus terang saya sendiri MALU kalau berhadapan dengan orang2 yg berasal dari luar Indonesia yg terheran-heran melihat begitu banyak JIN pada mukulin tong kosong sambil teriak2 allahuakbar di penghujung Ramadhan.  Malu lah ! Siapa yg tidak malu ?
 
Kelakuan2 yg PRIMITIF seperti itu ternyata masih dilakukan sampai sekarang, walaupun, sudah berkurang banyak. Ternyata orang2 lain juga banyak yang SUDAH sadar bahwa dari dahulu sampai sekarang Allah itu akan DIAM SAJA walaupun diteriakin akbar2 dengan suara sekeras-kerasnya dari corong masjid. Mungkin ada mesjid yg memenangkan KONTES suara paling keras, tetapi pialanya jelas BUKAN dari Allah. Mungkin dari MUI atau lembaga2 keagamaan yg ingin MENCARI MUKA di depan Allah walaupun, setahu saya, Allah sendiri sudah BUANG MUKA terhadap kelakuan2 primitif seperti itu.
 
Allah yg ada di saya dan banyak teman2 lainnya sudah membuang muka melihat segala kebiasaan yg sudah tidak pada tempatnya. Kita sudah di abad ke-21 M, abad Post Modern, dan terus terang banyak dari kita sudah merasa MALU melihat sebagian orang jejeritan allahuakbar dengan suara histeris. Tapi kita juga merasa MALU untuk bilang ELING ELING... -- So, tanpa malu2 sekarang saya bilang bahwa sudah sepantasnya kita meninggalkan adat kebiasaan masa lalu itu. Dari jaman Belanda masih bercokol di Indonesia, kelakuan mukulin tong kosong sambil teriak2 allahuakbar itu SUDAH dilakukan. Masa masih mau dilakukan terus ?
 
Kalau Allah itu benar2 suka diteriakin akbar2 pakai tong2 kosong yg dijadikan bedug itu, pastilah Allah akan turun dan bilang MAO APE LUH ! (logat Jakarta). Tetapi, .... bahkan dengan logat Jakarta atau bahasa Arab sekalipun, Allah itu TIDAK pernah muncul di penghujung Ramadhan.
 
So, akhirnya semuanya akan menjadi seperti SINETRON belaka, en the judul is "Tong Kosong di Penghujung Ramadhan". Nggak ada sambungannya because akan berulang seperti itu lagi di tahun hijriah di muka, walaupun mungkin intensitasnya akan sedikit berkurang. Sedikit demi sedikit berkurang, insyaallah insyaallah...
 
Selamat merayakan Idul Fitri bagi anda yg berpuasa maupun tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Allah yang ASLI itu akan SELALU mengampuni segala dosa anda yg anda perbuat dengan sengaja maupun tidak sengaja. Walaupun anda itu TIDAK berpuasa, segala dosa2 anda diampuni. Dan diampuni TANPA anda perlu membayar zakat fitrah ataupun ikut sholat ied berjemaah... -- Happy Idul Fitri to all, baik anda beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu,... maupun Kejawen, Agnostic, dan Atheist. Allah yg ASLI mencintai anda semua, from the beginning till the end, from everlasting to everlasting.
 
Leo


Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Re: Jadwal ludruk Karya Budaya Mojokerto OKTOBER 2008

Pak Abdul Malik

Kami minta ijin jadwal seperti ini dapat ditampilkan dalam Situs Budaya www.forumbudaya.org dalam kotak Kalender Budaya, nantinya dipisahkan antara yang Internasional, Regional, Nasional dan Daerah biar diketahui oleh para pemangku kepentingan budaya.
Selamat dan salut atas upaya Bapak dkk.

Salam,
Luluk Sumiarso


2008/9/30 abdul malik <filantrophi@yahoo.com>
JADWAL LUDRUK KARYA BUDAYA MOJOKERTO
OKTOBER 2008

4 Oktober, Sabtu Kliwon      : Pandean, Tarik, Sidoarjo.
6 Oktober, Senin Pahing      : Ngepung, Pungging,Kabupaten Mojokerto
9 Oktober, Kamis Kliwon      : Patihan Balandono, Babat, Lamongan
10 Oktober, Jumat Legi        : Keper, Krembong, Sidoarjo
11 Oktober,Sabtu Pahing     : Tanjungan RW 1, Driyorejo, Gresik
12 Oktober, Minggu Pon       : Gamping, Krian, Sidoarjo
13 Oktober, Senin Wage       : Merenungkidul,Ngusikan, Jombang
15 Oktober, Rabu Legi          : Cangkring/Sidokare, Sidoarjo
16 Oktober, Kamis Pahing     : Kedungkudi, Mojosari, Kabupaten Mojokerto
17 Oktober, Jumat Pon          : Desa Sukodono,Sukodono,Sidoarjo
18 Oktober, Sabtu wage         : Dateng, Ngoro, Kabupaten Mojokerto
19 Oktober, Minggu Kliwon     : Bongsowetan,Menganti, Gresik
20 Oktober, Senin legi            : Plosogede, Mojoanyar, Mojokerto
22 Oktober, Rabu Pon            : Balongmasin, Pungging, Kabupaten Mojokerto
24 Oktober, Jumat Kliwon       : Sambimalang, Noro, kabupaten Mojokerto
25 Oktober, Sabtu legi            : Kuwukan RW 03 Sambikerep, Surabaya
26 Oktober, Minggu Pahing     : Sambikerep RW 04 Surabaya
27 Oktober,Senin Pon             : Lontarwetan RW 01, Sambikerep, Surabaya
29 Oktober, Rabu Kliwon         : Tambak/Kalisurgo, Jabon, Sidoarjo
30 Oktober, Kamis pahing        : Bajangan, Pungging,Kabupaten Mojokerto

Dengan maraknya ludruk yang diprakarsai oleh TNI dan Polri, tahun 1967 membuat para tokoh masyarakat di Desa Canggu Kecamatan Jetis Mojokerto tergerak hatinya untuk mendirikan organisasi ludruk. Di desa Canggu secara turun temurun sejak jaman penjajahan Belanda selalu berdiri grup ludruk. Maka diamanatkan pada Cak Bantu yang kebetulan anggota Polsek Jetis untuk mendirikan grup ludruk. Tepatnya tanggal 29 Mei 1969 berdirilah ludruk yang diberi nama Karya Budaya dipimpin oleh Cak Bantu dengan binaan Polsek Jetis.
Menjelang pemilu 1971, ludruk Karya Budaya ditanggap Partai Golkar sebagai hiburan kampanye Golkar selama satu bulan berpindah dari desa ke desa. Hal tersebut sangat dimanfaatkan Cak Bantu mempromosikan ludruk Karya Budaya. Dengan keberhasilan pada setiap pementasan membuat ludruk Karya Budaya dikenal masyarakat.
Tahun 1993 Cak Bantu Karya wafat, dan secara aklamasi seluruh anggota memilih putra sulung Cak Bantu Karya memimpin ludruk Karya Budaya yakni Drs Eko Edy Susanto, Msi (lebih akrab dipanggil Cak Edi Karya, ludruk Karya Budaya mengalami perkembangan yang bertambah pesat. Merayakan ulang tahun ke-30 pada tanggal 29 Mei 1999, ludruk Karya Budaya resmi menjadi Yayasan Kesenian dengan SK Notaris No.06 melalui akte Notaris Grace Yeanette Pohan, SH.

Informasi:
Drs Eko Edy Susanto,Msi
(Cak Edy Karya)
Pimpinan Ludruk Karya Budaya
Dusun Sukodono RT 02 RW 01 Desa Canggu Kecamatan Jetis
Kabupaten Mojokerto 61310
Jawa Timur
INDONESIA
Telp 0321- 362847
HP 081 231 89 347
Email:cakedikarya (at)yahoo.com dan cakedikarya(at)gmail.com
http://ludrukkaryabudaya.multiply.com


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Jadwal ludruk Karya Budaya Mojokerto OKTOBER 2008

JADWAL LUDRUK KARYA BUDAYA MOJOKERTO
OKTOBER 2008

4 Oktober, Sabtu Kliwon      : Pandean, Tarik, Sidoarjo.
6 Oktober, Senin Pahing      : Ngepung, Pungging,Kabupaten Mojokerto
9 Oktober, Kamis Kliwon      : Patihan Balandono, Babat, Lamongan
10 Oktober, Jumat Legi        : Keper, Krembong, Sidoarjo
11 Oktober,Sabtu Pahing     : Tanjungan RW 1, Driyorejo, Gresik
12 Oktober, Minggu Pon       : Gamping, Krian, Sidoarjo
13 Oktober, Senin Wage       : Merenungkidul,Ngusikan, Jombang
15 Oktober, Rabu Legi          : Cangkring/Sidokare, Sidoarjo
16 Oktober, Kamis Pahing     : Kedungkudi, Mojosari, Kabupaten Mojokerto
17 Oktober, Jumat Pon          : Desa Sukodono,Sukodono,Sidoarjo
18 Oktober, Sabtu wage         : Dateng, Ngoro, Kabupaten Mojokerto
19 Oktober, Minggu Kliwon     : Bongsowetan,Menganti, Gresik
20 Oktober, Senin legi            : Plosogede, Mojoanyar, Mojokerto
22 Oktober, Rabu Pon            : Balongmasin, Pungging, Kabupaten Mojokerto
24 Oktober, Jumat Kliwon       : Sambimalang, Noro, kabupaten Mojokerto
25 Oktober, Sabtu legi            : Kuwukan RW 03 Sambikerep, Surabaya
26 Oktober, Minggu Pahing     : Sambikerep RW 04 Surabaya
27 Oktober,Senin Pon             : Lontarwetan RW 01, Sambikerep, Surabaya
29 Oktober, Rabu Kliwon         : Tambak/Kalisurgo, Jabon, Sidoarjo
30 Oktober, Kamis pahing        : Bajangan, Pungging,Kabupaten Mojokerto

Dengan maraknya ludruk yang diprakarsai oleh TNI dan Polri, tahun 1967 membuat para tokoh masyarakat di Desa Canggu Kecamatan Jetis Mojokerto tergerak hatinya untuk mendirikan organisasi ludruk. Di desa Canggu secara turun temurun sejak jaman penjajahan Belanda selalu berdiri grup ludruk. Maka diamanatkan pada Cak Bantu yang kebetulan anggota Polsek Jetis untuk mendirikan grup ludruk. Tepatnya tanggal 29 Mei 1969 berdirilah ludruk yang diberi nama Karya Budaya dipimpin oleh Cak Bantu dengan binaan Polsek Jetis.
Menjelang pemilu 1971, ludruk Karya Budaya ditanggap Partai Golkar sebagai hiburan kampanye Golkar selama satu bulan berpindah dari desa ke desa. Hal tersebut sangat dimanfaatkan Cak Bantu mempromosikan ludruk Karya Budaya. Dengan keberhasilan pada setiap pementasan membuat ludruk Karya Budaya dikenal masyarakat.
Tahun 1993 Cak Bantu Karya wafat, dan secara aklamasi seluruh anggota memilih putra sulung Cak Bantu Karya memimpin ludruk Karya Budaya yakni Drs Eko Edy Susanto, Msi (lebih akrab dipanggil Cak Edi Karya, ludruk Karya Budaya mengalami perkembangan yang bertambah pesat. Merayakan ulang tahun ke-30 pada tanggal 29 Mei 1999, ludruk Karya Budaya resmi menjadi Yayasan Kesenian dengan SK Notaris No.06 melalui akte Notaris Grace Yeanette Pohan, SH.

Informasi:
Drs Eko Edy Susanto,Msi
(Cak Edy Karya)
Pimpinan Ludruk Karya Budaya
Dusun Sukodono RT 02 RW 01 Desa Canggu Kecamatan Jetis
Kabupaten Mojokerto 61310
Jawa Timur
INDONESIA
Telp 0321- 362847
HP 081 231 89 347
Email:cakedikarya (at)yahoo.com dan cakedikarya(at)gmail.com
http://ludrukkaryabudaya.multiply.com

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

29 September 2008

[ac-i] Situs Forum Budaya

Teman2 Budayawan, Pecinta dan Penggiat Budaya

Kami dari Forum Kebudayaan Indonesia telah membuat "Situs Budaya" (masih
dalam tahap pengembangan), yaitu *www.forumbudaya.org* yang diharapkan dapat
menjadi situs kita bersama untuk menampilkan segala aspek dan kegiatan yang
terkait dengan budaya. Prinsipnya "dari kita untuk kita". Untuk itu mohon
tanggapan dan saran, yang dapat disampaikan langsung di halaman situs
tersebut.
Mudah-mudahan situs ini bermanfaat buat pengembangan budaya di tanah air.

Silahkan dibuka.

Salam,
Luluk Sumiarso


------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

[ac-i] Situs budaya www.forumbudaya.org

Teman2 Budayawan, Pecinta dan Penggiat Budaya

Kami dari Forum Kebudayaan Indonesia telah membuat "Situs Budaya" (masih dalam tahap pengembangan), yaitu www.forumbudaya.org yang diharapkan dapat menjadi situs kita bersama untuk menampilkan segala aspek dan kegiatan yang terkait dengan budaya. Prinsipnya "dari kita untuk kita". Untuk itu mohon tanggapan dan saran, yang dapat disampaikan langsung di halaman situs tersebut.
Mudah-mudahan situs ini bermanfaat buat pengembangan budaya di tanah air.

Silahkan dibuka.

Salam,
Luluk Sumiarso

On Mon, Sep 29, 2008 at 1:15 PM, mediacare <mediacare@cbn.net.id> wrote:

Ulysses

ADA seorang perempuan yang mudah dilupakan dunia tapi seharusnya tak dilupakan kesusastraan. Namanya Margaret Anderson.

Ia lahir pada 1886 di Indianapolis, Amerika Serikat, di sebuah keluarga yang berada, dengan seorang ibu yang hampir setiap tahun tergerak untuk pindah ke rumah baru-dengan mebel, taplak, gorden, dan lukisan dinding baru.

Margaret tak seperti ibunya, tapi ia punya keresahannya sendiri.

Pada suatu malam, ketika ia berumur 21 tahun, setelah seharian merasa murung, ia terbangun dari tidur. "Pikiran persis pertama: aku tahu kenapa aku murung," demikianlah tulisnya, mengenang. "Tak ada yang bersemangat yang terjadi-nothing inspired is going on. Kedua: aku menuntut hidup harus bersemangat tiap saat. Ketiga: satu-satunya cara untuk menjamin itu adalah mendapatkan percakapan yang bersemangat tiap saat. Keempat: kebanyakan orang tak bisa jauh dalam percakapan.."

Akhirnya kelima: "Kalau aku punya sebuah majalah, aku akan dapat mengisi waktu dengan percakapan yang terbagus yang bisa disajikan dunia.."

Syahdan, pada umur 28 tahun, ketika ia sudah lumayan dikenal sebagai penulis resensi buku di beberapa media, di Chicago, Margaret menerbitkan majalah The Little Review. "Omong-omong tentang seni", itulah semboyannya.

Tapi tentu saja tak sembarang omong-omong. Nomor pertama majalah kecil itu berbicara soal Nietzsche, feminisme, dan psikoanalisis-hal-hal yang bisa menyentakkan orang Amerika dari tidur borjuis mereka yang tertib dan taklid.

Seperti lazimnya majalah seni dan sastra, The Little Review tak laku. Juga sulit mendapat sponsor. Margaret kehabisan uang, diusir dari rumah sewaannya, dan harus menutup kantor majalahnya. Tapi ia tetap menginginkan percakapan yang bersemangat, dan ketika ia ketemu Jane Heap, seorang seniman yang aktif dalam gerakan seni rupa baru Chicago, cita-citanya bangkit lagi. Kedua perempuan itu, yang kemudian berpacaran, meneruskan The Little Review dengan memindahkannya ke New York. Seraya membuka toko buku di Washington Square, di sudut kota tempat inspirasi tak mudah mati itu, kedua perempuan itu membuat sejarah.

The Little Review memuat karya para sastrawan yang kemudian jadi percakapan seluruh dunia: T.S. Eliot, Hemingway, Amy Lowell, Francis Picabia, Sandburg, Gertrude Stein.. Sejak awal, Ezra Pound jadi penasihat dan koresponden majalah itu di London, dan dari Eropa André Breton dan Jean Cocteau mengirimkan tulisan mereka.

Juga: James Joyce, dengan Ulysses-nya.

Tapi sejarah sastra tak pernah mudah, terutama di masa ketika modernisme bersedia membenturkan diri menghadapi apa yang "normal"-yakni segala hal yang ukurannya dibentuk oleh tata sosial yang ada, oleh bahasa yang diwariskan, dan oleh ketakutan terhadap yang tak pasti, yang tak jelas, yang beda. Sejarah sastra memang jadi berarti ketika sastrawan dan karyanya tak memilih kenyamanan yang ditentukan oleh kelaziman sosial.

Margaret membuktikan itu dengan dirinya-sejak ia, dalam ketiadaan uang, berani hidup di bawah tenda yang didirikannya sendiri di tepi Danau Michigan, sampai dengan ketika ia berani menerbitkan Ulysses, dalam bentuk cerita bersambung sejak 1918.

Joyce baru merampungkan karya besarnya yang setebal 732 halaman ini pada akhir Oktober 1921. Sengaja disandingkan dengan epos Yunani kuno karya Homeros, Ulysses tak berkisah tentang para pahlawan, melainkan tentang kehidupan sehari-hari Kota Dublin, Irlandia, dengan dua tokoh yang berbeda, Stephen Daedalus dan Leopold Bloom.

Novel yang terdiri atas tiga bagian besar dengan 18 episode ini tak mudah dibaca, meskipun tiap bagian memukau, liris, juga ketika "arus kesadaran" sang tokoh merasuk ke dalam paragraf seakan-akan puisi yang meracau. Joyce sendiri mengatakan-mungkin serius, mungkin main-main-bahwa ke dalam Ulysses ia memasukkan "begitu banyak teka-teki dan enigma hingga para profesor akan berabad-abad sibuk berdebat tentang apa yang saya maksud".

Tapi di dunia ini ada para profesor, atau para peminat sastra yang bersungguh-sungguh yang menemukan kenikmatan dan kearifan dalam percakapan ("percakapan yang bersemangat," kata Margaret Anderson), dan ada orang yang tak begitu berminat meskipun teramat bersungguh-sungguh: para sensor.

Dalam Ulysses sang sensor merasa menemukan "pornografi". Pada 1920, orang-orang yang merasa diri bermoral dan saleh yang bergabung dalam "The New York Society for the Suppression of Vice" berhasil memenangkan dakwaannya di pengadilan, dan hakim menyetop The Little Review memuat novel itu.

Majalah itu disita. Margaret Anderson dan Jane Heap dihukum sebagai penyebar kecabulan. Masing-masing didenda $ 100. The Little Review yang miskin dana itu pun kehilangan masa depan. Akhirnya kedua perempuan itu memutuskan untuk meninggalkan Amerika-di mana kekuasaan uang dan "moralitas" dipergunakan untuk mengimpit mereka yang berbeda-dan melanjutkan The Little Review di Eropa. Ulysses juga telantar. Tak ada penerbit baik di Amerika maupun di Inggris yang mau mencetak dan menyebarkan novel itu. Baru pada 1931, di Paris, seorang perempuan lain, Sylvia Beach, berani melakukannya, diam-diam dari toko bukunya yang sampai kini tak mentereng di tepi Sungai Seine, "Shakespeare and Co".

Sejak itu, zaman berubah, juga "moralitas" dan kecemasan. Pada 1933, hakim John M. Woolsey mengizinkan novel itu beredar. Porno? Merangsang? Hakim itu telah membacanya dan ia mengatakan bahwa ia, bersama dua orang temannya, tak bangkit syahwatnya karena Ulysses.

Pada akhirnya seorang lelaki bisa mengerti kearifan yang dibawa Margaret Anderson, Jane Heap, dan Sylvia Beach: "moralitas" itu hanya bangunan kekuasaan mereka yang waswas akan libido diri sendiri.

Goenawan Mohamad

Majalah Tempo - 29 September 2008

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Ulysses

Ulysses

ADA seorang perempuan yang mudah dilupakan dunia tapi seharusnya tak dilupakan kesusastraan. Namanya Margaret Anderson.

Ia lahir pada 1886 di Indianapolis, Amerika Serikat, di sebuah keluarga yang berada, dengan seorang ibu yang hampir setiap tahun tergerak untuk pindah ke rumah baru-dengan mebel, taplak, gorden, dan lukisan dinding baru.

Margaret tak seperti ibunya, tapi ia punya keresahannya sendiri.

Pada suatu malam, ketika ia berumur 21 tahun, setelah seharian merasa murung, ia terbangun dari tidur. "Pikiran persis pertama: aku tahu kenapa aku murung," demikianlah tulisnya, mengenang. "Tak ada yang bersemangat yang terjadi-nothing inspired is going on. Kedua: aku menuntut hidup harus bersemangat tiap saat. Ketiga: satu-satunya cara untuk menjamin itu adalah mendapatkan percakapan yang bersemangat tiap saat. Keempat: kebanyakan orang tak bisa jauh dalam percakapan.."

Akhirnya kelima: "Kalau aku punya sebuah majalah, aku akan dapat mengisi waktu dengan percakapan yang terbagus yang bisa disajikan dunia.."

Syahdan, pada umur 28 tahun, ketika ia sudah lumayan dikenal sebagai penulis resensi buku di beberapa media, di Chicago, Margaret menerbitkan majalah The Little Review. "Omong-omong tentang seni", itulah semboyannya.

Tapi tentu saja tak sembarang omong-omong. Nomor pertama majalah kecil itu berbicara soal Nietzsche, feminisme, dan psikoanalisis-hal-hal yang bisa menyentakkan orang Amerika dari tidur borjuis mereka yang tertib dan taklid.

Seperti lazimnya majalah seni dan sastra, The Little Review tak laku. Juga sulit mendapat sponsor. Margaret kehabisan uang, diusir dari rumah sewaannya, dan harus menutup kantor majalahnya. Tapi ia tetap menginginkan percakapan yang bersemangat, dan ketika ia ketemu Jane Heap, seorang seniman yang aktif dalam gerakan seni rupa baru Chicago, cita-citanya bangkit lagi. Kedua perempuan itu, yang kemudian berpacaran, meneruskan The Little Review dengan memindahkannya ke New York. Seraya membuka toko buku di Washington Square, di sudut kota tempat inspirasi tak mudah mati itu, kedua perempuan itu membuat sejarah.

The Little Review memuat karya para sastrawan yang kemudian jadi percakapan seluruh dunia: T.S. Eliot, Hemingway, Amy Lowell, Francis Picabia, Sandburg, Gertrude Stein.. Sejak awal, Ezra Pound jadi penasihat dan koresponden majalah itu di London, dan dari Eropa André Breton dan Jean Cocteau mengirimkan tulisan mereka.

Juga: James Joyce, dengan Ulysses-nya.

Tapi sejarah sastra tak pernah mudah, terutama di masa ketika modernisme bersedia membenturkan diri menghadapi apa yang "normal"-yakni segala hal yang ukurannya dibentuk oleh tata sosial yang ada, oleh bahasa yang diwariskan, dan oleh ketakutan terhadap yang tak pasti, yang tak jelas, yang beda. Sejarah sastra memang jadi berarti ketika sastrawan dan karyanya tak memilih kenyamanan yang ditentukan oleh kelaziman sosial.

Margaret membuktikan itu dengan dirinya-sejak ia, dalam ketiadaan uang, berani hidup di bawah tenda yang didirikannya sendiri di tepi Danau Michigan, sampai dengan ketika ia berani menerbitkan Ulysses, dalam bentuk cerita bersambung sejak 1918.

Joyce baru merampungkan karya besarnya yang setebal 732 halaman ini pada akhir Oktober 1921. Sengaja disandingkan dengan epos Yunani kuno karya Homeros, Ulysses tak berkisah tentang para pahlawan, melainkan tentang kehidupan sehari-hari Kota Dublin, Irlandia, dengan dua tokoh yang berbeda, Stephen Daedalus dan Leopold Bloom.

Novel yang terdiri atas tiga bagian besar dengan 18 episode ini tak mudah dibaca, meskipun tiap bagian memukau, liris, juga ketika "arus kesadaran" sang tokoh merasuk ke dalam paragraf seakan-akan puisi yang meracau. Joyce sendiri mengatakan-mungkin serius, mungkin main-main-bahwa ke dalam Ulysses ia memasukkan "begitu banyak teka-teki dan enigma hingga para profesor akan berabad-abad sibuk berdebat tentang apa yang saya maksud".

Tapi di dunia ini ada para profesor, atau para peminat sastra yang bersungguh-sungguh yang menemukan kenikmatan dan kearifan dalam percakapan ("percakapan yang bersemangat," kata Margaret Anderson), dan ada orang yang tak begitu berminat meskipun teramat bersungguh-sungguh: para sensor.

Dalam Ulysses sang sensor merasa menemukan "pornografi". Pada 1920, orang-orang yang merasa diri bermoral dan saleh yang bergabung dalam "The New York Society for the Suppression of Vice" berhasil memenangkan dakwaannya di pengadilan, dan hakim menyetop The Little Review memuat novel itu.

Majalah itu disita. Margaret Anderson dan Jane Heap dihukum sebagai penyebar kecabulan. Masing-masing didenda $ 100. The Little Review yang miskin dana itu pun kehilangan masa depan. Akhirnya kedua perempuan itu memutuskan untuk meninggalkan Amerika-di mana kekuasaan uang dan "moralitas" dipergunakan untuk mengimpit mereka yang berbeda-dan melanjutkan The Little Review di Eropa. Ulysses juga telantar. Tak ada penerbit baik di Amerika maupun di Inggris yang mau mencetak dan menyebarkan novel itu. Baru pada 1931, di Paris, seorang perempuan lain, Sylvia Beach, berani melakukannya, diam-diam dari toko bukunya yang sampai kini tak mentereng di tepi Sungai Seine, "Shakespeare and Co".

Sejak itu, zaman berubah, juga "moralitas" dan kecemasan. Pada 1933, hakim John M. Woolsey mengizinkan novel itu beredar. Porno? Merangsang? Hakim itu telah membacanya dan ia mengatakan bahwa ia, bersama dua orang temannya, tak bangkit syahwatnya karena Ulysses.

Pada akhirnya seorang lelaki bisa mengerti kearifan yang dibawa Margaret Anderson, Jane Heap, dan Sylvia Beach: "moralitas" itu hanya bangunan kekuasaan mereka yang waswas akan libido diri sendiri.

Goenawan Mohamad

Majalah Tempo - 29 September 2008

 
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Gulirkan Sastra Pesantren di Ponpes Tebuireng

Gulirkan Sastra Pesantren di Ponpes Tebuireng
JOMBANG - Ponpes Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang bekerja sama dengan RMI (Rabithah Ma'ahid Islamiyah) dan jaringan intelektual NU menggelar Halaqah Nasional Kebudayaan Pesantren pada tanggal 22 – 23 Agustus 2008. Acara yang diadakan di aula masjid Ponpes Tebuireng tersebut mengusung tema "Kebangkitan Sastra Pesantren".
Secara resmi Shalahuddin Wahid sebagai pengasuh pondok ini, dalam pembukaan acara, menyampaikan pentingnya merawat tradisi intelektual pesantren bahwa kaum santri jangan sampai meninggalkan tradisi menulis yang telah diteladankan para sastrawan terdahulu, baik dari tradisi Arab klasik hingga perkembangan intelektual Islam mutakhir di negeri ini. Sedang Said 'Aqil Siraj menyampaikan dalam orasi kebudayaan tentang pentingnya kebudayaan pesantren sebagai pengokoh karakter bangsa.
Pada malam 22 Agustus, panitia menghadirkan pembicara Si penyair Clurit Emas, D. Zawawi Imron, yang mengulik tanya-jawab dengan tulisan "Tradisi Menulis di Kalangan Santri". Pun Jadul Maula, dari Yayasan LKiS Yogyakarta, menggulirkan makalah dengan judul "Kekuatan Karya Sastra Santri". Ajang interaktif ini cukup membentangkan cakrawala pemikiran dan spirit yang inspiratif bagi para santri.
Sementara pada 23 Agustus, acara ditutup dengan renungan kebudayaan oleh Dr. Ir. Soedarsono dengan tema, "Menjadi Santri yang Berbudaya dan Berwawasan Kebangsaan". Sebelumnya, dialog disemarakkan dengan kehadiran penulis novel kontroversial Syekh Siti Jenar, Agus Sunyoto dari Malang, yang menyorongkan tulisan "Menelisik Akar Sistem Pendidikan Pesantren". Dr. Mastuki HS juga melemparkan diskusi dengan "Memperkuat Akar Budaya Bagi Revitalisasi Sistem Pendidikan Pesantren.
Catatan penting dari kegiatan ini setidaknya mampu menggugah gairah menulis santriwan dan santriwati ponpes Tebuireng khususnya, dan para undangan yang datang dari beragam wilayah di Jawa. Ini mengingatkan kita pada tahun 1998 di mana pernah digelar Kongres Kebudayaan Pesantren di Ponpes Pandanaran di Magelang, Jawa Tengah, yang menghadirkan Thalhah Hasan, Dr. Simuh, Ahmad Thohari, dll.
Kontribusi dari kegiatan semacam ini sangatlah penting untuk dicatat. Karena pesantren sejak dahulu merupakan basis intelektualisme lslam yang cemerlang yang kini memerlukan reorientasi dan cakrawala baru dalam memaknai dan menumbuh-kembangkannya. Tentu, halaqah ini, ke depannya, dapat lebih difokuskan pada semisal, workshop kepenulisan yang ajeg dan bervisi jelas. Sejumlah penulis berbasis pesantren dari berbagai daerah turut menyemarakkan acara ini seperti, Sachri M. Daroini (Magelang), Isma Kazee (yang juga redaktur Mata Pena, Yogyakarta), Zaki Zarung (Yogyakarta), Fahrudin Nasrulloh (Jombang), juga pegiat budaya Jabbar Abdullah (dari Komunitas Lembah Pring cabang Mojokerto). Hadir pula saat itu penyair M. Faizi (dari Ponpes An-Nuqayyah, Guluk-guluk, Sumenep), dan Dadang Ali Murtono dari Pacet, Mojokerto. Kedua penyair ini masuk dalam antologi dua belas penyair mutakhir Jatim 2008.
Liputan:
Fahrudin Nasrullaoh : 081578177671
Jabbar Abdullah : 081559951306

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Cak Edi Karya :Ludruk Bukan Sekedar Hiburan

Ludruk Bukan Sekedar Hiburan

Ba'da tarawih (27/9), pondok Jula-Juli yang merupakan base camp Ludruk Karya Budaya kembali dijubeli warga sekitar. Tampak lima penari travesti besutan Sunawan dan kelompok musik karawitan asuhan Cak Narto yang mengenakan kaos seragam bertulis "Diklat Tari dan Karawitan Ludruk Karya Budaya Mojokerto" sedang bersiap-siap menunjukkan hasil latihan mereka selama sepuluh kali pertemuan dalam sebulan yang nantinya akan mendapat evaluasi dari pakar bidang tari dan musik karawitan sebelum dipentaskan bulan November mendatang.

Abah Edy, penggagas Diklat Tari dan Karawitan, memang sengaja mendatangkan empat evaluator dengan tujuan ingin mengetahui sejauhmana hasil yang diperoleh para peserta diklat yang sudah menjalani proses latihan sebanyak sepuluh kali pertemuan selama bulan ramadhan. "Saya sengaja mengundang pakar bidang tari dan musik karawitan untuk mengevaluasi dan memberikan input serta memotivasi peserta diklat agar ketika pementasan nanti kami dapat menyajikannya dengan baik", tutur Abah Eko Edi Susanto yang malam itu mengenakan setelan kemeja yang dirangkapi rompi switer.

Masing-masing evaluator yang diundang Abah Edy adalah Yanti Yananta, S.Pd (Staf Teknis Kasi Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto), Elita Dimawan dari Wates (pemilik dan pelatih Sanggar Sangra Laksita), Akhiriyah, S.Pd (Guru tari SMPN 7 Kota Mojokerto) serta Pak Busono, pakar musik karawitan asal Wates. Hadir juga tamu undangan yang lain, yakni Cak Supali (pelawak), Saiful Bakri (Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto) serta Fahrudin Nasrulloh dan Jabbar Abdullah (pegiat Komunitas Sastra Lembah Pring).

Kurang lebih sebelas menit lamanya lima penari travesti dan kru musik karawitan menyajikan paduan tari dan musik di depan para evaluator. Meski latihannya terbilang "patas" (hanya 10 kali pertemuan), lima penari yang kesemuanya waria itu tampak begitu enjoy dan lemah gemulai dalam mengolah gerak tubuhnya yang diiringi musik karawitan hingga tuntas.

Sajian tari berakhir. Sesi evaluasipun digelindingkan dengan Abah Edy sebagai moderatornya. Abah Edy membuka forum evaluasi bersama itu dengan memberikan sekelumit kalimat pengantar. Dalam pengantarnya diungkapkan bahwa kelima penari (Sonya, Okid, Dini, Bibin dan Very) telah memulai dan mengikuti diklat tari berangkat dari nol. Gagasan tentang diklat itu sendiri digagas dalam rangka peningkatan kualitas SDM para penari Ludruk Karya Budaya. "Dengan adanya diklat tari dan karawitan ini diharapkan mampu menjadikan para penari terpilih untuk lebih dapat menjiwai peran yang dibawakan dan menumbuhkan sikap profesionalisme saat pentas di panggung. Intinya, agar menarinya tidak asal-asalan", imbuh Abah Edy yang sudah 15 tahun menahkodai Ludruk Karya Budaya.

Selanjutnya Abah Edy memberikan kesempatan kepada para evaluator untuk mengevaluasi setelah sebelumnya disuguhi hasil latihan diklat tari dan karawitan. Evaluasi pertama disuarakan oleh Elyta Damawan. Mas Elyta, panggilan akrabnya, menyoroti dan menyarankan Mas Sunawan selaku koreografer agar melakukan upaya eksplorasi terhadap tari Solah Kemuning yang terinspirasi oleh tari Banjar Kemuning. "Eksplorasi gerak cukup bagus. Namun sayang, 60% - 70% nuansa Banjar Kemuningnya masih tampak kental, baik dalam gerak maupun dalam dinamika musiknya", kritik Mas Elita.

Evaluasi kedua dilontarkan oleh Yanti Yananta, S. Pd, alumnus Universitas Negeri Surabaya yang saat ini menjabat Staf Teknis Kasi Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto. Bu Yanti, panggilan akrabnya, mengulas tentang penekanan pada olah rasa dan pembenahan gerak tubuh agar dapat menghasilkan tarian yang halus dan maksimal. "Tari dan musik merupakan satu kesatuan. Masing-masing tidak dapat berdiri sendiri. Karena itu diperlukan keseimbangan antara keduanya. Jangan sampai saat tampil kelihatan lemah pada gerak tari namun kuat dalam musik. Keduanya (tari dan musik) harus berjalan seimbang", jelas Bu Yanti yang juga Bendahara Dewan Kesenian Kota Mojokerto ini.

Lain halnya dengan Ibu Ria. Guru tari SMP Negeri 7 kota Mojokerto ini menitikberatkan evaluasinya pada kebutuhan akan munculnya sesuatu yang baru (reinterpretasi) dalam pengangkatan sebuah karya. "Hal itu diperlukan agar tidak ada kesan njiplak (copy-paste)", katanya. Dia menambahkan, seorang penari harus mengetahui dan mengerti terlebih dahulu sinopsis dari tari yang akan dibawakannya. Karena yang dibawakan adalah tari kelompk, maka masing-masing penari harus mampu menjadi sebuah tim yang utuh.

Sementara itu, untuk musik karawitannya mendapat evaluasi cukup tegas dari Pak Busono, pakar musik karawitan asal Wates. Menurutnya, untuk garapan musik nyaris 90% adalah hasil adopsi dari Banjar Kemuning dan sarat akan jiplakan. "Kurangnya keberanian dalam mengolah musik membuat dinamika musiknya kurang atau bahkan tidak nampak sehingga terkesan monoton. Ini adalah PR buat Cak Narto selaku penggarap musiknya", cetus Pak Bus.

Meski mendapat banyak kritikan, keempat evaluator tersebut juga memberikan acungan jempol kepada para penari dan pengrawit yang telah menampilkan paduan tari dan musik karawitan dengan begitu luar biasa meskipun hanya dalam sepuluh kali latihan saja. Berkaitan dengan penampilan, Abah Edy mengakui masih perlu banyak pembenahan terutama dalam penjiwaan peran. Secara pribadi, Abah Edy sangat berharap sekali bahwa dengan diklat tari dan karawitan semacam ini dapat merubah paradigma tentang Ludruk.

"Ludruk bukan sekedar hiburan saja. Harus ada upaya menjadikan ludruk sebagai tontonan yang layak dicintai dan sarat dengan pendidikan serta mampu melekatkan kesan yang positif di benak penonton mengingat yang mengkonsumsi pertunjukkan ludruk berasal dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat, tidak cuma orang dewasa saja tapi juga anak-anak dan remaja", pungkas pimpinan Ludruk Karya Budaya di pengujung acara evaluasi diklat seni dan karawitan.

 

 

 

Informasi:

Drs Eko Edy Susanto,Msi

(Cak Edy Karya)

Pimpinan Ludruk Karya Budaya

Dusun Sukodono RT 02 RW 01 Desa Canggu Kecamatan Jetis

Kabupaten Mojokerto 61310

Jawa Timur

INDONESIA

Telp 0321- 362847

HP 081 231 89 347

Email:cakedikarya(at) yahoo.com, cakedikarya (at) gmail.com

http://ludrukkaryabudaya.multiply.com

 


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Cak Sampirin : Pelawak Ludruk dari Jombang Wafat

Cak Sampirin : Pelawak Ludruk dari Jombang Wafat

 

Ramadan yang meriah seolah tiba-tiba langit bermendung dan derai tangis melantun ritmis, saat tersiar kabar bahwa Cak Sampirin, pelawak ludruk dari Jombang itu, meninggal pada Rabu, 23 September 2008. Di hari yang terik itu, sekitar pukul 1 siang, ia mengembuskan nafas terakhirnya setelah berhari-hari tak kuasa bertahan dari sesak napas dan liver yang dideritanya. Ia dimakamkan hari itu juga pada pukul 5 sore di Dusun Kendil Wesi.

 

Siapakah Cak Sampirin? Orang-orang lebih akrab mengenalnya dengan sebutan Cak Worin. Ia lahir pada 3 Mei 1955, di Dusun Kendil Wesi, Desa Pulorejo, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang. Perjalanan karirnya di dunia ludruk diawali ketika ia bergabung di grup ludruk Masa Baru pada era 70-an. Kemudian bergabung di Kartika Jaya tahun 80-an. Sempat mendirikan grup ludruk Mustika Jaya dan Mustika Putih bersama Cak Wito Kantot. Pernah juga ia nobong bareng dengan grup Warna Jaya Jombang.

 

Menurut Cak Jamil (seorang seniman ludruk Jombang yang kerap berperan sebagai aktor laga) ketika diwawancarai Tim Banyumili Networks, ia mengungkapkan kesedihannya, "Kami benar-benar sangat kehilangan beliau. Bagi kami beliau itu panutan. Sesepuh. Ia adalah pelawak ludruk dari Jombang yang pantas dihargai dan dikenang dedikasinya. Yang selalu saya ingat waktu ia nglawak adalah: ia paling sering ngepur (keluar pertama saat ndagel). Tidak semua pelawak yang ngepur punya kepiawaian dalam membuka gojegan sebelum njedul pelawak lainnya. Dan gaya ngidung cengkokan (lirik)-nya itu merupakan ciri khas beliau."

 

Kenangan yang terus berjejak tiada putus dari Cak Worin yang terkenal adalah bahwa setiap pentas yang isi ceritanya ada acara kendurenan (hajatan), ia pasti yang ditunjuk sebagai kamituo (sesepuh kampung) yang memberi uro-uro (nasihat bijak) yang diplesetkan. Seperti: Lha menika kajate tuan rumah dipun tujoaken dumateng cikal bakale sing mbaurekso deso niki, nggih sing biasane ngakali bakul cikalan niku (Lha ini adalah hajatnya tuan rumah yang ditujukan pada orang yang pertama kali membuka pemukiman desa ini, yaitu orang yang biasanya mencurangi tukang jualan kelapa itu). Demikian kenang Cak Supali, meski ia belum pernah nglawak bersamanya.

 

Abdurrahman, sebagai anak mantu Cak Worin, merasa bangga dan mendukung sang mertua dalam berkesenian ludruk. Ia mengisahkan kesannya saat suatu hari ia diceritai secuplik pengalaman dari sang mertua, "Saya agak lupa kapan peristiwa ini terjadi. Mungkin sekitar tahun 70-an. Alkisah, pada waktu mau nglawak bareng dengan Cak Bari (dari Kabuh), Cak Worin kebelet berak. Kebetulan di sekitar panggung pertunjukan ada sungai yang lumayan besar arusnya. Ia pun pamit tergesa-gesa. Selesai berak, ia balik ke panggung untuk bersiap-siap mentas. Tak tahu kiranya, saat itu Cak Worin kelihatan bengong sambil nyangkluk (mengalungkan) sarungnya. Cak Bari spontan nyemprot (menegur) padanya karena penonton sudah berteriak-teriak bahwa Cak Worin nggak nongol-nongol juga. Cak Bari mendekatinya sambil mendelik, ia bersungut-sungut seperti tiba-tiba kerasukan bau tak sedap. 'Kamu sudah berak apa belum sih?' tanya Cak Bari dengan berang. 'Sudah! Tuntas pol,' jawab Cak Worin lega seraya membenahi celana kolornya yang kedodoran. Jebule (ternyata), setelah manggung, konco-konco Cak Worin pada muntah-muntah campur mumet (pusing) sehabis menemukan sekepal tahi nyantol (tersangkut) di balik gulungan sarung Cak Worin. Sejak itu, cerita 'tahi nyantol sarung' ini jadi riwayat tutur yang melekat erat dalam ingatan kaum seniman ludruk Jombang." Cerita ini, sambung Abddurrahman, dituturkan Cak Worin pada tahun 2000. Cak Supali pun membubuhi bahwa cerita itu lama sudah menyebar di grup-grup seniman tradisional di kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

 

Cak Worin memang dikenal di kalangan seniman dan pelawak Jombang memiliki kepribadian yang low profile, bijaksana, sederhana, ngemong, guyub, dan dianggap sebagai salah satu sesepuh atau senior seniman ludruk di Jombang.

 

Selain cengkokan-nya yang menjadi ciri khasnya kala ngidung, gagasan-gagasan Cak Worin demi memajukan dunia perludrukan juga patut dicatat dan menjadi bahan renungan bersama. Kepribadiannya yang ngemong konco (mengarahkan pada hal-hal yang baik), supel meski pendiam, ia juga menularkan semacam laku hidup bagi oran g-orang yang benar-benar menekuni seni ludruk agar tidak gampang menyerah, terus mengolah kreatifitas, sabar, dan tidak tergoda untuk mengejar publisitas dengan cara serampangan dan tidak bermartabat. Ia juga bermimpi setiap grup ludruk yang akan pentas tidak lagi uyel-uyelan (berdesak-desakan) di bak truk, tapi ia berharap grup ludruk suatu saat punya transportasi sendiri yang layak, semisal bis mini, sehingga konsentrasi di kala manggung dapat terjaga kualitasnya.

 

Tentulah, meninggalnya Cak Worin akan menyisakan tilas kenangan panjang yang berliku, baik yang pahit maupun yang manis, bagi para seniman ludruk, terutama seniman ludruk Jombang yang di saat wafatnya hampir semuanya bertakziah. Bahkan yang dari luar Jombang pun juga banyak yang berdatangan. Ia meninggalkan seorang istri (Bu Nurul), 2 laki-laki, 1 perempuan, dan seorang cucu.

 

Ia dimakamkan kira-kira 200-an meter di sebelah utara rumahnya, di sebidang tanah bergunduk tinggi miliknya sendiri di mana makam itu termasuk area persawahan kampung Kendil Wesi. Semoga jasa-jasanya senantiasa bisa dikenang, dan segala pengabdiannya pada Tuhan dan di dunia perludrukan mendapatkan balasan yang sepadan dan berlipat. Amin! Selamat jalan Cak Worin!  

Liputan:Jabbar Abdullah


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] The 7 Laws of Happiness, Buku Terbaru Arvan Pradiansyah

The 7 Laws of Happiness, Buku Terbaru Arvan Pradiansyah
-------------------------------------------------------


Arvan Pradiansyah---seorang penulis, fasilitator pengembangan SDM, dan host talk show---pada September 2008 menerbitkan karya keempatnya, The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 423 h.) Buku tersebut meneruskan tradisi ketiga buku sebelumnya dalam mengarungi hidup lebih optimistik, menemukan kebahagiaan, dan membangun sikap positif. Dua buku pertamanya bertema umum mengenai kepemimpinan (leadership), sementara dua buku terakhirnya lebih banyak membicarakan life management (manajemen kehidupan.)

Membicarakan tema bukunya di Islamic Center, Kompleks Graha Hijau 2, Ciputat, pada Sabtu, 27 September, Arvan menyatakan bahwa ide tentang The 7 Laws of Happiness sebenarnya sudah muncul sejak akhir 2002. Diskusi itu juga disimak pemirsa di Masjid Villa Cendana via teleconference. "Namun kesibukan saya membuat buku ini baru selesai ditulis pada pertengahan 2008," kata Managing Director Institute for Leadership & Life Management (ILM) ini. Maka yang terjadi juga agak lain. Bila buku tertentu kadang-kadang diikuti pelatihan setelah terbit, yang terjadi pada Arvan malah sebaliknya. Bersama tim, Arvan malah lebih dulu menyelenggarakan pelatihan "The 7 Laws of Happiness at Work" pada karyawan Indosat yang berlangsung sejak 2007 hingga sekarang. Berbeda dengan tiga buku sebelumnya yang lebih mirip perca pemikiran, kali ini Arvan menilai dirinya berusaha mengungkap sebuah konsep yang utuh dan padu mengenai model kebahagiaan.

Dengan pemaparan yang lancar dan akrab, Arvan menyebut bahwa gagasan mengenai kebahagiaan merupakan sesuatu yang universal. Setiap orang ingin mendapatkannya dan semua ajaran luhur menyebut bahwa kebahagiaan merupakan sesuatu yang esensial. "Bukankah kita diajari doa agar senantiasa diberi kebahagiaan?" tanya Arvan bernada retoris. Sayang, kehidupan dunia beserta segala perniknya kerap menggerus manusia menjadi sengsara, mudah marah, meledak, bahkan kesulitan menemukan kebahagiaan itu seperti apa. Kerap orang keliru menganggap kebahagiaan sebagai kepemilikan maupun kesenangan sesaat.

"Kenapa orang tidak bahagia? Karena orang salah makanan yang masuk ke kepala. Ini diperparah adanya ribuan makanan mental yang masuk ke kepala kita nyaris tanpa filter sama sekali," tegasnya. Dia menyebut banyaknya acara sampah di televisi atau informasi rendahan yang malah dikonsumsi besar-besaran oleh masyarakat, bahkan yang merendahkan kemanusiaan sekalipun. "Acara seperti itu membuat mental rusak dan sakit."

Pernah menjadi dosen di FISIP Universitas Indonesia selama 13 tahun dan berpengalaman mengembangkan organisasi dan SDM dalam pelatihan "The 7 Habits of Highly Effective People" bersama Dunamis, Arvan mengatakan syarat utama untuk bahagia ialah kemampuan mengubah pikiran yang sehat di dalam diri orang tersebut. "Pikiran itu mirip kebun, bila dipupuk dengan yang baik-baik, hasilnya tentu kebaikan."

Dalam The 7 Laws of Happiness, dia menyebutkan ada tujuh rahasia hidup yang bahagia. Tiga yang pertama Intrapersonal Relation, merupakan syarat bahagia untuk diri sendiri, terdiri dari patience (sabar), gratefulness (syukur), dan simplicity (sederhana, kemampuan menangkap esensi). Tiga yang kedua Interpersonal Relation, merupakan kebahagiaan terkait orang lain, terdiri dari love (kasih), giving (memberi), dan forgiving (memaafkan.) Puncaknya ialah Spiritual Relation, yaitu surrender (pasrah), ialah kemampuan berserah diri dan percaya seratus persen kepada Tuhan. Dalam diskusi dan bukunya, Arvan memberi contoh dan inspirasi nyata betapa meraih kebahagiaan puncak itu tidaklah hadir sekonyong-konyong, melainkan dengan perjuangan yang berat, bahkan perlu dilatih.

Mizan sudah mendistribusikan The 7 Laws of Happiness ke toko buku. "Awal Oktober ini sudah terdisplay ke seluruh toko buku," kata Pangestuningsih dari bagian promosi Mizan. Menurut rencana, Mizan akan membawa Arvan tur ke enam kota untuk mempromosikan The 7 Laws of Happiness, termasuk berniat mengadakan acara khusus, misalnya talk show The 7 Laws of Happiness for Teacher. Tiga buku Arvan sebelumnya, yaitu You Are Leader!, Life is Beautiful, dan Cherish Every Moment semuanya terbitan Elexmedia Komputindo, merupakan rangkaian best seller. Pada Desember 2007 KoranTempo memilih Cherish Every Moment sebagai salah satu Buku Nonfiksi Terbaik.[] 29/09/08

Oleh Anwar Holid

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
Informasi lebih banyak @ http://halamanganjil.blogspot.com

Situs terkait:
www.ilm.co.id
www.mizan.com

-*-
Anwar Holid, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku.

Kontak: wartax@yahoo.com | (022) 2037348 | 08156140621 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Sudilah mengunjungi link ini, ada lebih banyak hal di sana:
http://www.goethe.de/forum-buku
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=319
http://www.rukukineruku.com
http://ultimusbandung.info
http://www.gramedia.com
http://www.mizan.com
http://halamanganjil.blogspot.com

Come away with me and I will write you
---© Norah Jones


------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Re: Bls: [ac-i] Kendoeri Tempo Doeloe

Selamat Hari Raya Eidill Fitr
Maaf Bermaaf Bersama.
Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah (Kemala)
Sarjana Tamu
Fakulti Bahasa Moden dan Komunikasi
Universiti Putra Malaysia
43400 Serdang, Selangor, DE
Malaysia
 
+6012-2029130
----- Original Message ----
From: Nik Abdul Rakib Bin Nik Hassan <nikrakib@gmail.com>
To: artculture-indonesia@yahoogroups.com
Sent: Sunday, September 28, 2008 18:38:26
Subject: Re: Bls: [ac-i] Kendoeri Tempo Doeloe


Assalamualaikum,
 
 
   Selamat menyambut hari raya Aidil Fitri
 Maaf Zahir dan Batin
 
   Ikhlas dari saya,
 
   Nik Abdul Rakib  Bin Nik Hassan
   Pusat Pengajian Melayu
   Prince of Songkla University   Kampus Pattani
   Provinsi Pattani
   Selatan Thailand


New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content