31 Agustus 2008

[ac-i] Program Yayasan Umar Kayam (YUK) 2008-2009


Kepada:

Pelaku, Pemerhati, Komunitas, Handai-Tolan,…dan Penikmat Seni dan Kajian Budaya

 

 

Dengan hormat,

pada September 2008-2009, YAYASAN UMAR KAYAM mengerjakan beberapa program seperti tertulis di bawah ini:

 

 

PENGKAJIAN SASTRA PASKA ORDE BARU (penelitian dan penerbitan)

Tumbangnya Suharto tahun 1998 bukan saja sebagai bentuk perubahan politik, namun juga sebagai bentuk perubahan akan perjalanan sastra Indonesia. Karya-karya sastra tidak lagi bernada marah atas kebengisan rezim, bahkan khotbah tentang pentingnya keadilan. Novel Ayu Utami, Saman, konon merupakan gerbang corak sastra Indonesia paska Orde Baru. Sebagaimana Ayu Utami, karya sastra lainnya bermunculan dengan tema-tema yang unik. Tepat kiranya dilakukan dokumentasi, apresiasi, dan kajian sebagai bagian pemotretan perkembangan sastra dan masyarakat Indonesia kontemporer.

 

PERGULATAN SARIDIN (penelitian, penerbitan, dan pementasan)

Saridin merupakan tokoh unik yang hidup di Zaman Sunan Kudus. Sangat luwes, reflektif, filosofis, dan bahkan nakal dalam praktek dan memahami agama. Saridin juga bisa dibaca sebagai sastra lisan yang telah mengakar, biasa dikisahkan dalam ketoprak-ketoprak, khususnnya di daerah Pesisir Utara Jawa.

 

QUO VADIS LAWAK INDONESIA! (penelitian, penerbitan, workshop, dan pementasan)

Lawak atau humor masih dianggap kesenian kelas dua di Indonesia. Para pelakunya pun, bahkan tidak jarang, mengaku menekuni profesi tersebut sebagai kecelakaan hidup. Padahal, kesenian jenis ini sangat akrab di dalam masyarakat. Tokoh-tokohnya pun selalu menandai zamannya dan menjadi ingatan bawah sadar banyak orang. Di luar itu semua, kesenian jenis ini, sebenarnya memiliki kemampuan menertawakan, kritik, serta protes dengan gaya yang sederhana, dekat, dan mengenai sasaran.

 

APRESIASI HUMOR (diskusi bulanan)

Kegitan ini layaknya perkuliahan dalam bentuk "yang lain": praktisi lawak dihadirkan, diminta menceritakan proses kreatifnya, kemudian dibawa ke dalam obrolan lintas disiplin. Setelah aktivitas obrolan tentang lawak dianggap selesai, biasanya, acara dilanjutkan dengan sesi yang sangat menarik, yaitu adu humor: sesi yang mewajibkan pembicara (praktisi lawak yang dihadirkan) untuk menghadirkan lawakan-lawakan.

 

ASISTENSI MANAJEMEN

Disemangati oleh kepedulian akan tumbuhnya kantong-kantong kebudayaan, Yayasan Umar Kayam bekerja sebagai mitra dalam membenahi manajemen organisasi LEMBAGA PENELITIAN DAN PENCIPTAAN TEATER TAMBOLOGI (Padang Panjang-Sumatra Barat), sebuah lembaga nirlaba yang memfokskan dirinya pada kajian Tambo, sastra lisan tentang asal muasal, sebuah  tradisi yang melekat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

 

NONTON BARENG DI ANGKRINGAN YUK

Setiap Hari Kamis, malam menjelang larut, teman-teman penikmat Angkringan YUK dan koneksi internet (alias HOT SPOT GRATISAN!) meyelenggarakan acara nonton bareng: mulai dari yang lucu-lucu hingga serius; mulai dari "Gundala Putra Petir" hingga film-film tentang Beatles; mulai acara sepakbola hingga pemutaran ulang acara-acara tahun 1980-an. Sekali-kali datanglah: melepas penat, bertemu handai tolan,…, sekalian bernostalgia.

 

 

Untuk mengikuti perkembanga program, mendapatkan informasi dan beritanya lebih awal, silahkan kunjungi www.umarkayam.org atau kirimkan alamat email Anda ke umar_kayam@yahoo.com. Terimakasih.

Hormat kami.

 

 

Kusen Ali

Direktur Yayasan Umar Kayam


Jai Guru Deva
Slamet Thohari (Amex) Yogyakarta

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Ditemukan naskah kuno letusan Krakatau 1883

Laporan wartawan Kompas Yurnaldi


JAKARTA, MINGGU-- Jauh sebelum peneliti asing menulis tentang
meletusnya Gunung Krakatau (Krakatoa, Carcata) tanggal 26, 27, dan 28
Agustus 1883, seorang pribumi telah menuliskan kesaksiaan yang amat
langka dan menarik, tiga bulan pascameletusnya Krakatau, melalui Syair
Lampung Karam. Peneliti dan ahli filologi dari Leiden University,
Belanda, Suryadi mengatakan hal itu kepada Kompas di
Padang, Sumatera
Barat
, dan melalui surat elektroniknya dari Belanda, Minggu (31/8).

"Kajian-kajian ilmiah dan bibiliografi mengenai Krakatau hampir-hampir
luput mencantumkan satu-satunya sumber pribumi tertulis, yang mencatat
kesaksian mengenai letusan Krakatau di tahun 1883 itu. Dua tahun
penelitian, saya menemukan satu-satunya kesaksian pribumi dalam bentuk
tertulis, " katanya. Sebelum meletus tanggal 26, 27, dan 28 Agustus
1883, gunung Krakatau telah batuk-batuk sejak 20 Mei 1883. Letusan
dahsyat Krakatau menimbulkan awan panas setinggi 70 km dan tsunami
setinggi 40 meter dan menewaskan sekitar 36.000 orang.

Sebelum meletus tahun 1883, Gunung Krakatau telah pernah meletus
sekitar tahun 1680/1. Letusan itu memunculkan tiga pulau yang saling
berdekatan; Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil, dan Pulau Rakata.
Suryadi menjelaskan, selama ini yang menjadi bacaan tentang letusan
Gunung Krakatau adalah laporan penelitian lengkap GJ Symons dkk, The
Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena: Report of the Krakatoa
Committee of the Royal Society (London, 1883).

Sedangkan sumber tertulis pribumi terbit di Singapura dalam bentuk
cetak batu (litography) tahun 1883/1884. Kolofonnya mencatat 1301 H
(November 1883-Oktober 1884). Edisi pertama ini berjudul Syair Negeri
Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu (42 halaman). " Tak lama
kemudian muncul edisi kedua syair ini dengan judul Inilah Syair
Lampung Dinaiki Air Laut (42 halaman). Edisi kedua ini juga
diterbitkan di Singapura pada 2 Safar 1302 H (21 November 1884), "
paparnya.

Edisi ketiga berjudul Syair Lampung dan Anyer dan Tanjung Karang Naik
Air Laut (49 halaman), yang diterbitkan oleh Haji Said. Edisi ketiga
ini juga diterbitkan di Singapura, bertarikh 27 Rabiulawal 1301 H (3
Januari 1886). Dalam beberapa iklan, edisi ketiga ini disebut Syair
Negeri Anyer Tenggelam. " Edisi keempat syair ini, edisi terakhir
sejauh yang saya ketahui, berjudul Inilah Syair Lampung Karam Adanya
(36 halaman). Edisi keempat ini juga diterbitkan di Singapura,
bertarikh 10 Safat 1306 H (16 Oktober 1888)," ungkap Suryadi, yang
puluhan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal internasional.

Menurut Suryadi, khusus teks keempat edisi syair itu ditulis dalam
bahasa Melayu dan memakai aksara ArabMelayu (Jawi). Dari perbandingan
teks yang ia lakukan, terdapat variasi yang cukup signifikan antara
masing-masing edisi. Ini mengindikasikan pengaruh kelisanan yang masih
kuat dalam tradisi keberaksaraan yang mulai tumbuh di Nusantara pada
paroh kedua abad ke-19. Suryadi yang berhasil mengidentifikasi tempat
penyimpanan eksemplar seluruh edisi Syair Lampung Karam yang masih ada
di dunia sampai saat ini menyebutkan, Syair Lampung Karam ditulis
Muhammad Saleh.

Ia mengaku menulis syair itu di Kampung Bangkahulu (kemudian bernama
Bencoolen Street) di Singapura. " Muhammad Saleh mengaku berada di
Tanjung Karang ketika letusan Krakatau terjadi dan menyaksikan akibat
bencana alam yang hebat itu dengan mata kepalanya sendiri. Sangat
mungkin si penulis syair itu adalah seorang korban letusan Krakatau
yang pergi mengungsi ke Singapura, dan membawa kenangan menakutkan
tentang bencana alam yang mahadahsyat itu," katanya.

Bisa direvitalisasi

Suryadi berpendapat, Syair Lampung Karam dapat dikategorikan sebagai
syair kewartawanan, karena lebih kuat menonjolkan nuansa jurnalistik.
Dalam Syair Lampung Karam yang panjangnya 38 halaman dan 374 bait itu,
Muhammad Saleh secara dramatis menggambarkan bencana hebat yang
menyusul letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Ia menceritakan
kehancuran desa-desa dan kematian massal akibat letusan itu.
Daerah-daerah seperti Bumi, Kitambang, Talang, Kupang, Lampasing,
Umbulbatu, Benawang, Badak, Limau, Lutung, Gunung Basa, Gunung Sari,
Minanga, Tanjung, Kampung Teba, Kampung Menengah, Kuala, Rajabasa,
Tanjung Karang, juga Pulau Sebesi, Sebuku, dan Merak luluh lantak
dilanda tsunami, lumpur, dan hujan abu dan batu.

Pengarang menceritakan, betapa dalam keadaan yang memilukan dan kacau
balau itu orang masih mau saling tolong menolong satu sama lain.
Namun, tak sedikit pula yang mengambil kesempatan untuk memperkaya
diri sendiri dengan mengambil harta benda dan uang orang lain yang
ditimpa musibah. Selain menelusuri edisi-edisi terbitan Syair Lampung
Karam yang masih tersisa di dunia sampai sekarang, penelitian Suryadi
juga menyajikan transliterasi (alih aksara) teks syair ini dalam
aksara latin.

"Saya berharap Syair Lampung Karam dapat dibaca oleh pembaca masa kini
yang tidak bisa lagi membaca aksara Arab-Melayu (Jawi). Lebih jauh,
saya ingin juga membandingkan pandangan penulis pribumi (satu-satunya
itu) dengan penulis asing (Belanda/Eropa) terhadap letusan Gunung
Krakatau," jelas Suryadi.

Peneliti dan dosen Leiden University ini menambahkan, teks syair ini
bisa direvitalisasi untuk berbagai kepentingan, misalnya di bidang
akademik, budaya, dan pariwisata. Salah satunya adalah kemungkinan
untuk mengemaskinikan teks Syair Lampung Karam itu dalam rangka agenda
tahunan Festival Krakatau. Juga dapat direvitalisasi dan diperkenalkan
untuk memperkaya dimensi kesejarahan dan penggalian khasanah budaya
dan sastra daerah Lampung.

Yurnaldi
 
 
 


 
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Semar dan Chuang Tzu

Semar dan Chuang Tzu


Semar bertubuh tambun: melukiskan keluasan hatinya. Ati segara, begitu kata orang Jawa: hati bagai samudera. Makin luas hatinya berarti makin halus pula rasa-nya. Dalam literatur Jawa, rasa adalah inti terdalam manusia, kebenaran tertinggi. Makin halus rasanya, berarti makin dekat orang itu pada inti kebenaran, makin tinggi tingkat spiritual-nya. Dan makin halus rasa seseorang, dia akan menjadi makin momot, makin luas ruang hatinya, sehingga bagai samudera yang bisa menampung ribuan sungai yang mengalir kepadanya tanpa menjadi penuh maupun kotor.

Sebaliknya makin kasar rasa seseorang, makin rendah tingkat spiritual-nya, makin kaku sikapnya, dan makin sulit menerima pandangan yang berbeda, tidak bisa hidup tenteram dengan kelompok lain, mau menang sendiri... dan ugal-ugalan. Lebih celaka lagi, dengan mengatas-namakan agama dan Tuhan!

Lao Tse mengajarkan: bahwa orang yang benar-benar bijak akan rendah hati dan tidak berdebat dengan siapapun. Semar adalah Dewa tertinggi, tapi dia mengambil rupa sebagai seorang hamba, seorang abdi yang dengan setia mengabdi pada para ksatria pilihan: Pandhawa Lima. Semar tidak pernah menginginkan jabatan tinggi bagi dirinya sendiri. Misinya murni: untuk menjaga harmoni semesta raya. Ia tak ubahnya seperti Chuang Tzu yang menolak dijadikan perdana menteri dan berkata: kura-kura yang hidup dalam lumpur jauh lebih baik daripada kura-kura yang diawetkan dengan air keras dan tinggal di istana raja.
 
Salam,
www.catatanrenungan.blogspot.com
 
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Fwd: The Lamp, the Light, and the jewel

"The human race is a single being
Created from one jewel
If one member is struck
All must feel the blow
Only someone who cares for the
pain of others
Can truly be called human"
- Shaykh Sa'adi, Muslim poet and philosopher (1184 -1283)


"The lamps are different, but the Light is the same: it comes from Beyond".
- Jalaluddin Rumi, universal mystic and philosopher (1207 -1273)


"saat diri merasa baik (mulia)
hamba cenderung lupa kepada-NYA
saat diri merasa hina di hadirat-NYA
hamba semakin ditambah nikmat dan didekatkan kepada-NYA

Ya Allah ampunilah hamba yang hina dan banyak dosa ini
Ampunilah kami sebelum, selama, dan sesudah Ramadhan"
- Wiyoso Hadi (1975 -)


[dikutip dari milist suaraSUARA]



PH PRO

Publikasi & EO



Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Blog Nirwan Dewanto

silakan klik

http://nirwandewanto.blogspot.com/

Sabtu, 2008 Agustus 30

Delapan Sketsa tentang Pluralisme (1)

"PRAGMATISME," SEBAGAI PERMULAAN

Bertolak dari pengalaman, saya dapat mengatakan bahwa setiap sensasi dalam mencerap karya seni, dalam hal ini seni rupa, adalah unik, mengandung nilai dalam dirinya sendiri, dan tak terbandingkan. Di depan sebuah Jackson Pollock: saya tak merasa perlu menolokkannya dengan sebuah Hendra Gunawan. Di depan sebuah Made Budi: saya bisa merasakan subversi, seperti halnya di depan sebuah Fernando de Szyslo, tanpa menyimpulkan bahwa yang satu lebih "maju" ketimbang yang lain.

Saya seorang pragmatis, setidaknya pada masa lampau saya. Seni rupa, selalu merupakan anasir—rupa di antara rupa-rupa lain—dalam lingkungan. Lukisan di ruang tamu adalah penyedap atau pelengkap, ia mengimbangi perabotan, jambangan, taplak meja, cat dinding, dan benda-benda lain: pada masa kanak dan remaja, seperti kebanyakan orang, selera-rupa saya terbentuk oleh lukisan pemandangan alam gaya Mooi Indie, atau lebih tepat repro atau tiruannya. Ketika saya jatuh kasmaran pada sastra—dan menganggap sastra sebagai seni tinggi—lukisan tetaplah "barang biasa," meskipun ia lama-kelamaan berubah fungsi. Demikianlah, seni rupa, khususnya lukisan, adalah pendidik mata. Alam dan kota-kota, saya lihat sebagai pantulan lukisan pemandangan alam, bukan sebaliknya. Jika puisi lirik menyarikan dunia—membuat dunia ini "sekadar" suasana hati—lukisan membuat diri ini keluar membesar ke dunia.

Sisa kasmaran pada gaya Mooi Indie tak bisa hilang, bahkan ketika makin besar rasa penasaran saya pada blok-blok warna Barnett Newman, sejak saya melihatnya di Berlin pada pertengahan 1993.

Tapi bagaimana mungkin "mempunyai nilai dalam dirinya sendiri" selaras dengan pragmatisme? Mungkinkah saya puas dengan seni yang kecil dan terbatas—berbeda dengan Arahmaiani yang (ingin) "memperluas kanvas saya seluas-luasnya menjadi kehidupan itu sendiri, dan mengganti kuas dan cat dengan unsur-unsur yang ada dalam kehidupan"?

Pragmatisme: saya pada dasarnya "menuntut" seni rupa tak lain sebagai bagian dari rupa-rupa lain, yang ada "guna"-nya. Namun, ternyata, seni rupa memisahkan diri dari rupa. Bukan karena kritikus dan sejarawan seni rupa kita menjauhkan seni dari desain dan kriya. Tapi karena ruang publik menghilang. Taman umum, plaza kota, kaki lima, menyusut, sebelum akhirnya punah: semua menjadi ruang sisa dalam kapitalisme-primitif perkotaan. Mata publik tak terdidik oleh susunan rupa yang bisa memuaskan gairah bermain, rekreasi. (Bermain adalah mencipta kembali, bukan?) Sementara seni rupa publik dan museum—saya bicara tentang institusi(-onalisasi), bukan sekadar gedung dan barang—yang menjadikan seni rupa sebagai milik umum, tak kunjung tiba, mungkin tak akan tiba juga. (Bersambung)



Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Yahudi Surabaya


The Jews of Surabaya

by Jessica Champagne and Teuku Cut Mahmud Aziz

It's hard to convince most Indonesians that Jews don't run the world, or at least the banks and US foreign policy. It's even harder to convince them that there's a longstanding community of Jews in Indonesia itself. In the early twentieth century, there were at least a thousand Jews, scattered to Padang, Semarang, Medan, Malang, Bandung, Batavia, Jogjakarta, and perhaps othercities. Now, while expats and others may gather in Jakarta and other major cities, the only synagogue and the largest community are in Surabaya.

This lone synagogue is easy to miss. The former residence of a Dutch doctor during the colonial period, the exterior is plain white, with a small section of wooden carving hidden by tree branches. The inside is immediately recognizable as an Orthodox, Sephardi synagogue. Men and women are separated as Orthodox Jewish law dictates, and the pulpit faces the ark for the Torah together with the congregation in accordance with the tradition of Sephardi Jews, those from Spain, Africa, and the Middle East. The simple, wooden ark is empty now; the old Torah scrolls belong to a larger congregation in Singapore. There is a ragtag collection of books locked away in the pulpit cabinet and the ark-frayed history Jewish history books in Dutch, World War II-issue GI prayer books, shinier new prayer books from a New York institution dedicated to preserving Sephardi tradition.

There is little documentation of the past-at least one old book of names and records has been thrown out, seen as bulky and unnecessary. Stories, though, are passed down through the generations; the few children readily describe their grandparents' childhoods. Leah Zahavi and Isaac Solomon , each of whom has held various official positions in the synagogue, are among those who keep their community alive, and are eager to share their memories and passed-down stories. Leah, whose features reflect her Iraqi origins, lives in a house adjoining the synagogue and serves as a caretaker and occasionally as a guide.

In telling community history, Leah often lapses back into Biblical tales of Ham, Shem, and Japeth or Sarah and Abraham, exploring the ancient root of the tensions between Jews and Muslims or of Jews as wanderers. Her stories of Indonesia, though, begin in the early 20th century, by which point some Jews (mostly Sephardi) had come to Surabaya as traders. Before living in Indonesia, many had lived in other parts of Asia, such as India, Malaysia, Singapore, Hong Kong. As Leah says, they settled wherever they could find a living and a respite from war and persecution. When one person found a suitable place, they spread the word. Often, the men went first, and sent for their wives and children after they'd established themselves. As in other Dutch colonies, some (again, mostly Sephardi) Jews came as part of the colonial presence.

Some reports suggest that the community was increased by World War II refugees. Gravestones in a small, overgrown Jewish cemetery plot bear names from around Europe and Asia, as well as generically Jewish names - Sassoon, Kattan, Moses, Reuben, Mussry.

The Surabaya Jews worked largely in trade. Over the decades, community members imported and/or repaired watches, refrigerators, electronics, fruits, diamonds, and more. Their hope that Surabaya would be a safe and profitable home was fulfilled for several decades.

Then the Japanese invaded, and put the Europeans into internment camps. It is rumored that the Jews were not counted as enemies until Gestapo officers arrived and demanded that the Jews be put into camps and kept separate from the other prisoners. Rumors still circulate that the Indonesian Jews would have been put to death by the Axis powers if the war had continued only a few days longer. As it was, they worked as forced labor on the railroads and were treated brutally. Old men bear physical reminders of their time in the camps, broken noses and missing teeth.

The Jews were liberated when Japan was defeated, but many had lost their homes and possessions. Some left Indonesia, but many dug back in. By the 1950s, the community was thriving again. Community members now speak of the 1950s as the peak of the Jewish community in Surabaya. They say that thousands of Jews lived in Surabaya, that they dominated the center of town in the way that Chinese are said to today. The community had acquired the current synagogue, its second, and set up a badminton court behind it. The community youth played sports, studied religion and language, and celebrated holiday and life cycle celebrations with each other and their families. Even those who couldn't attend these celebrations would send carloads of food, contributing to lavish feasts.

As the 1960s began, Indonesia was again becoming a risky place to set up shop. Jews felt vulnerable to the anti-Dutch feeling that marked the 1962 attempt to reclaim West Irian from the Dutch. They worried about currency instability, Sukarno's economic policies, and their physical safety. The mid-1960s, with the coup against Sukarno and widespread "anti-Communist" violence, increased many Jews' fear for their livelihoods and even for their lives. The Dutch passports held by many of the Indonesian Jews, along with changes in immigration policies, made it easier for them to enter other countries. Many Indonesian Jews decamped to Singapore, Malaysia, Australia, the Netherlands, the United States, and the new state of Israel.

It was during this turbulent period that Leah Zahavi came to Indonesia.

Abraham Zahavi left for Israel in the 1960s with his mother and brothers, driven by his mother's wish for him to find a nice Jewish bride. Soon after he succeeded in that mission, he returned to Surabaya without his mother and

brothers, but with his new Bombay-born wife, Leah, and a baby daughter, Chaya. By the time Leah and Chaya arrived in Surabaya, in 1969, the vibrant community with regular celebrations and gatherings was only a memory.

The Zahavi family has grown since then, with Chaya marrying an Indonesian Muslim and giving birth to two children (now ages 12 and 15). The community, however, has shrunk further with death and emigration. Now, there are only a handful of Jewish households in Surabaya, a total of about 20 people.

Still, the Zahavi family remains firmly rooted in Surabaya. While Leah speaks of going home to Israel where she can eventually be buried and mourned by a

full minyan, Chaya and her children speak of Indonesia as their home. "I love Indonesia very much," Chaya says. "I grew up here, I went to school here, I eat Indonesian food, my friends are here. I am an Indonesian, and my heart is an Indonesian heart. The father of my children is an Indonesian."

Many members of the older generation still hold Dutch passports gained at independence, ready to flee or chase a better dream abroad. In exchange for the international flexibility of a foreign passport, they accept limitations on their economic and civic rights in the country where they have always lived. These people speak many languages, vestiges of each land they have occupied. Leah readily holds conversations in Hebrew, Indonesian, English, Dutch, and Farsi, and has some skill in Javanese and Madurese. Chaya's children, however, are Indonesian citizens. While, like others in their cohort, they may dream of studying abroad or visiting family around the world, they will do so under Indonesian passports. The family still preserves the children's Judaism. Parents and grandparents teach them songs, prayers, family stories, and a little Hebrew.

These children's existence flouts the Indonesian state's static, divided concept of religion, in which each person has a single, clear religion

stamped on their national ID card and inter-religious marriage is forbidden. While the children have their mother and grandmother's Iraqi features, their skin is an Indonesian brown. Chaya seems conflicted about her children's religious future, first saying they will be allowed to choose and then sayingthat she can't imagine taking them away from their father. "Who will pray for him when he dies?" she asks. "What would it be if his children prayed for him, a Muslim, in the Jewish way?" For now, the children attend Catholic school, learning the stories of the Old and New Testament, and the boy follows his father to the mosque for Friday prayers. Their ID cards say "Islam," since Judaism is not among the five official options. Chaya's older child herself says "I choose Jewish because I am Jewish."

Leah and Chaya constantly find ways to fit themselves into an unexpected niche, building a life that is both Jewish and Indonesian. Leah sells what she calls Jewish food, but markets as Arab food. None of it would be recognized as Jewish in the western lands of bagels and lox. Now that there are too few children to make a Hebrew school, Leah teaches Hebrew periodically to interested Christians. She studies the Bible with Christian friends, Arabic with a Muslim, and is expert at explaining the similarities between Judaism and Islam.

As Leah navigates her life in Surabaya, she also navigates the Indonesian language. While bahasa Indonesia has words for "Jew" (yahudi) andHebrew (Ibrani), the wealth of words necessary to describe Jewish life and observance are missing. The Indonesian words Leah uses to describe her community are largely lifted from a Muslim Indonesian vocabulary, such as iman (faith) and ummat (the religious community), although the word she uses for the building under her care is gereja (church).

That building is threatened both by the decline in the community's numbers and by what many Indonesian Jews feel is a recent rise in anti-Semitism. Every person interviewed for this article expressed concern about any additional attention being drawn to their community or to themselves. They said the situation was riskier now than it was a decade ago, and declined to talk on the record about past cruelties. They told happy stories about their Muslim and Christian friends and neighbors, and shared few personal anecdotes of anti-Semitism. Still, there was a fear that with the post-New Order decline of law and order and the rise of militant Islam, their situation could change rapidly. They do not hide their Judaism from friends and neighbors, but often pass as Arab in casual interactions or when things get tense.

Chaya told of a televised speech by political leader Amien Rais in which he said that stingy Jews were living right here, among Indonesians, in Surabaya. Chaya called an elderly aunt and said "hey, he's talking about us!"
The aunt retorted indignantly, "but we're not stingy!" Chaya laughs about the story, but says "we have to be careful--it's like pouring gasoline on the fire."

Each person interviewed repeatedly said they did not want to talk about politics, particularly Israel. This fear mingles with a faith that is constantly reflected in Leah and

Chaya's constant allusions to G-d and fate. They speak of the wheel of life, of how things go up and down in their own time. When asked whether her grandchildren will have a synagogue to pray in when they reach adulthood, Leah says, "the one who knows the future is G-d."

Chaya at one point gestured toward a plant in the yard, a clipping from Israel that has grown to full size. "Whatever my mother plants, it grows," she says. "Her hands are blessed. And the soil here is very good-whatever you throw will grow. You even put a stick in the ground and it will be a tree. That's why the Jews before us called it Paradise."
Latitudes magazine [Bali] -  January 2003
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Fwd: dari benua cinta penyair..

--- In dato_kemala@yahoogroups.com, "akmaljiwa" <akmaljiwa@...>
wrote:

--- In puisi-indonesia@yahoogroups.com, akmal jiwa <akmaljiwa@>
wrote:

ulangtahun ke 51 malaysia merdeka

dari benua cinta penyair
ke tanah bertuah bangsa,
selepas setengah abad
mencecapi makna merdeka

Akmal Jiwa

dari benua cinta penyair kejelangi tanah bertuah bangsa. kuendapkan
kelezatan maknawi mencecapi setengah abad merdeka
merdeka hakiki, merdeka hayati, merdeka batini, merdeka kecubung
mimpi berpalang, belenggu keroyokan asing empat setengah abad. kami
adalah bulan putih dengan arsitektur laboratorium kedaulatan
pertama. Ilahi merestui dan mematrai selaksa gurindam, bergugusgugu
doa kudus.
dari benua cinta penyair
ke tanah bertuah bangsa. kami membaca
hikayat delima derita
dengan liangliang sukma kami
dibantai pelor para bandit.
kami menempeli lembaran yang sobek dimakan bubuk dan anaianai.
merbau dan kruing, nibung dan petaling -  kami pikul dari belantara
gelap kini tertancap di dadamu.
seribu tiang seri rumah warisan
monumen keprihalan pahlawanpahlawan kecil
tak bernama, hilang tak kembali di malam kemerdekaan yang gerimis.
ada desis mendesis tiba "kami hilang tapi roh kami tetap mengusap
tiap jalur, bulanbintang panjipanji --
itu tubuh, darah dan kalbu kami.  kami gugur
demi maruah pribumi dan daulah cinta para leluhur!"

II

selepas setengah abad terdempar, di hadapan kalian kini limapuluh
album lusuh. tangan mulus
srikandi mana bakal mengelus dan menyeka debudebu musim --
menyusun, mengitar, mengawet potret tua pada sudut album baru yang
sahih. ada yang kelabu, ada yang tercetaicetai terperangah
dicakar serigala lapar.  ada kebenaran yang
tertindih dan sukma wangi dihujami tangkulak.
aduh, di manakah jiwa anggun dahulu, kekasihku? 
aku menerjang ke malammalam sepi yang panjang.
aku menggali wilayah karang tajam di dasar laut dalam. ini pancaroba.
ini kerikil tasbih ditampar taufan.
rindu apakah ini kekasihku?  qasidah tajalli benangnya rohani.
nasyid dan ghazal, seloka dan pantun
bersatu dalam dendam berkurun. "kembalikan diri yang terpenjara,
dicambuk mungkar karun
sebelum padam api kemerdekan anggun!
dari benua cinta penyair, ke tanah bertuah bangsa --
selepas mencecapi makna merdeka
angin tanahair berkesiur, "ini kemerdekaan
ini kunci iman, rindu keanggunan. bara hasrat yang kugenggam dari
binarpijar tujuh cakrawala
bak cinta kasmaran menembusi tujuh lapis bumi
lalu kucanai
kunci firasat, kunci makrifat
kunci hakikat
kunci kasih
kunci rohani!

Kuala Lumpur Malaysia
31 Ogos 2008

(c) dato' dr ahmad kamal abdullah


New Email names for you!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and
@rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

--- End forwarded message ---

--- End forwarded message ---

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

30 Agustus 2008

[ac-i] Artis Nasi Kotak vs Seniman Nasi Bungkus

Artis Mendapat Nasi Kotak, Seniman Daerah Nasi Bungkus

Sebagai salah satu pengisi acara dalam acara Pesta Merdeka Yamaha 2008 yang cukup sukses diselenggarakan Trans 7 di Prambanan, Jawa Tengah, pada 18 Agustus 2008 saya merasakan diskriminasi dan perlakuan beberapa kru Team Work Trans 7 di lapangan yang mengecewakan.

Seyogianya jam makan adalah pukul 13.00, bukan pukul 16.30. Padahal, saya sudah menanyakan makan siang berkali-kali. Bahkan, kurang etis kalau membedakan penyajian makan antara artis dari Jakarta yang diberikan nasi kotak dan seniman daerah yang diberikan nasi bungkus.

Oleh karena itu, saya terpaksa membeli makan siang dan makan malam sendiri sejumlah 40 buah untuk penari dan kru, termasuk anak-anak yang sudah sangat kelaparan. Tenda tempat rias juga seharusnya tidak dibedakan, kalau semua beralaskan rumput, sebaiknya semua beralas rumput.

Semoga hal ini tidak terulang lagi dan menjadikan pelajaran bagi kita bersama sebagai manusia yang tidak sempurna, mengingat bahwa kerja sama sudah terjalin lama. Sebagai bangsa Indonesia yang sedang menggalakkan persatuan dan meningkatkan rasa nasionalisme seharusnya bertindak manusiawi.
 
Didik Hadiprayitno Jatimulyo Baru G/14 YK, Tegalrejo, Yogyakarta

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/08/28/ 00350398/ redaksi.yth
 
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] A.Kohar Ibrahim: Charles Baudelaire

Charles Baudelaire
Oleh: A.Kohar Ibrahim
 

 

Tiga Pendekar Puisi Perancis Abad XIX

(2)

 

Charles Baudelaire

 

 

Esai oleh : A. Kohar Ibrahim

 

 

 

BOUDELAIRE (1821-1867), seperti halnya Hugo dan Rimbaud, semasa hidupnya pernah jadi kaum eksilan di Brussel, Belgia. Meskipun, tulis sejarawan Aimé Bernaerets, hanya selama « dua tahun dua bulan 8 hari » saja. Namun begitu, apa pun suka-dukanya kehidupan kaum yang jadi perantau yang terpaksa oleh keadaan sikon perpolitikan di negeri asal, selaku pujangga besar nyala kreativitasnya tak kunjung padam.

 

Selama di Belgia, pengarang buku puitika-sensual «Les Fleurs du Mal » yang masyhur itu, menulis dua buku masing masing berjudul « Pauvre Belgique » dan « Amoenitates Belgicae ». Akan tetapi, putera dari ayah usia 62 tahun dan ibu usia 28 tahun ini, jika kehidupan pribadinya tidak selalu bahagia, namun kehidupan kreativitas seni sastranya, istimewa sekali puisi, tergolong pujangga besar Perancis yang gemilang. Seperti penilaian dari cendekiawan Barbey d'Aurevilly, bahwa Baudelaire itu adalah « Dante d'une époque déchue. »

 

Dalam lembaran Sejarah Puisi, penerbitan buku « Fleurs du mal » (1857) dinilai sebagai suatu « texte fondateur d'une nouvelle esthétique ». Teks pembinaan estetika baru. Dan bagaimana Baudelaire dalam memaknai sarana bahasa dan istimewa sekali kata-kata, sang penyair pernah mengutarakan baris kata yang masyhur : « Tu m'as donné ta boue et j'en ai fait de l'or. » Kau berikan aku lumpur maka kan kuubah jadi emas. Baginya sedemikian penting dan bermanfaatnya kata-kata dalam proses penciptaan puisi. Bahwa bahasa puitika bisa berperan dalam transmutasi dunia nyata ; lewat saringan kata-kata, alam dunia yang dalam realitasnya yang paling jelek sekalipun bisa jadi indah – seperti lumpur berubah emas itu !

 

Untuk sekedar cicipan, saya sajikan empat sajaknya sebagai berikut :

 

 

Kepada Pembaca

 

Kedunguan, kesalahan, dosa dan kekikiran,

Menghuni jiwa kita dan menggeluti raga kita,

Dan menjadikannya santapan penyesalan halus kita,

Seperti pengemis memberi makan kaum terhina mereka.

Dosa-dosa kita pembandel, ketobatan kita pengecut ;

Kita bayar sendiri dengan mahalnya pengakuan kita,

Dan kita pulang dengan girang di lorong berlumpur

Percaya dengan tangis pura-pura bisa menghapus dosa.

Di telinga keburukan adalah Setan Trismegis

Yang melobang lama lama jiwa senang kita,

Dan logam adi kemauan kita

Dan semua diuapkan oleh ahli kimia ini.

Adalah iblis pemegang talikendali kita!

Pada benda-benda menjijikkan kta temukan daya tarik ;

Tiap hari tiap tapak kita turun ke Neraka,

Tanpa takut melalui kegelapan bau busuk.

Demikian serupa sorang miskin senggama dan makan

Payudara korban dari pelacur tua,

Kita mau sambil lalu kenikmatan selingkuh

Yang kita peras sekeras-kerasnya bak jeruk rapuh.

Berdesakan, berkerumunan, bak sejuta ulat-jahat,

Dalam otak kita gentayangan gerombolan Iblis,

Dan, saat kita menarik nafas, Kematian di ruang jantung,

Turunlah, sungai siluman, dengan gerutu menulikan.

Jika perkosaan, racun, belati, kebakaran,

Belum lagi dihias oleh gambaran mereka yang menyenangkan

Kain setramin biasa nasib kita yang menyedihkan

Hal itu karena jiwa kita, aduhai! Tak cukup tangguh.

Tetapi di antara para serigala, macan tutul, ajing buruan,

Monyet, kalajengking, gagak, ular,

Raksasa melengking-lengking, berteriak-teriak,  merangkak,

Dalam kandang memalukan sifat-sifat buruk kita,

Ada satu yang lebih jelek, lebih jahat, lebih kejam-keji!

Meski ia tak mendorong tindakan kasar pun tidak teriak keras,

Ia hanya menjadikan tanah debu

Dan dengan sekali penguapan kan menelan dunia ;

Itulah Kejenuh-jengkelan! – mata menanggung tangisan terpaksa,

Ia mimpikan panggung tiang-gantungan sembari hisap houka.

Dikau mengenalnya, pembaca, raksasa peka ini,

-- Pembaca munafik, -- se sama ku, -- saudara ku!

 

(Charles Baudelaire : Au Lecteur)

 

 

 

Keserasihan

 

Alam adalah pagoda di mana tiang tiang hidup

Mengeluarkan kadang kala ujar kata campur baur;

Manusia berjalan melintasi hutan hutan simbol,

Yang dipandang dengan tatapan biasa mata.

 

Bagaikan gema panjang dari jauh terdengar membingungkan.

Dalam kegelap-gelitaan di kedalaman kesatuan,

Luasnya seluas malam dan terangnya cemerlang,

Wewangian, warna warni dan suara sahut bersahutan.

 

Adalah wewangian segar tak ubah daging bocah,

Lembut bagai seruling, hijau bagai padang rumput,

Dan yang lain lain, korup, kaya dan menang,

 

Dengan melebar-luas apa apa tanpa batas,

Seperti batu ambar, kesturi, kemenyan dan setanggi

Yang menyanyikan gejolak jiwa dan cita rasa.

 

(Charles Boudelaire : Correspondences)

 

Musuh

 

Masa muda ku tak lain kecuali gelap gulita

Melewati sana sini cahya terang mentari ;

Guntur dan hujan dahsyat mendera begitu rupa,

Yang tersisa di kebun ku hanya sedikit saja buah kemerahan.

 

Begitulah ku masuki musim gugur buah pikiran,

Dan seharusnya menggunakan sekop dan garu

Untuk memugarkan tanah setelah kebanjiran,

Di mana air telah menggali lubang lubang gadang bak kuburan.

 

Dan siapa tahu jika bunga bunga baru yang ku impikan

Tumbuh di tanah yang terbersihkan sebersih pantai pasir ini

Santapan mistik yang menjadikannya segar bugar?

 

Oh kenyerian! Oh kepedihan! Sang Kala memakan kehidupan,

Dan musuh suram kelabu yang menggerogoti jantung hati

Darah tertumpah kita kian bertambah dan menguat saja!

 

(Charles Boudelaire: L'Ennemie)

 

Catatan :

Bersambung naskah selanjutnya : « Arthur Rimbaud ».

 

*

 


Envoyé avec Yahoo! Mail.
Une boite mail plus intelligente. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Victor Hugo Oleh: A.Kohar Ibrahim

Victor Hugo
Oleh: A.Kohar Ibrahim
 

 

Tiga Pendekar Puisi Perancis Abad XIX

 

Victor Hugo

 

 

Esai oleh : A. Kohar Ibrahim

 

 

 

DALAM rangka menyajikan cicipan karya seni sastra berupa puisi para penyair Perancis yang sezaman dengan pujangga Raja Ali Haji, yakni abad ke-XIX Masehi, saya pilih penyair Victor Hugo, Charles Baudelaire dan Arthur Rimbaud dengan beberapa karyanya masing-masing yang saya terjemahkan langsung dari bahasa aslinya.

 

Memilih tiga nama dari ratusan penyair pilihan dengan beratus ratus sajak pilihan mereka itu tentu saja tak lepas dari penilaian subyektif. Tak syak lagi dan malah saya sebut mereka sebagai Tiga Pendekar Puisi Perancis Abad XIX yang sekaligus juga sebagai pelopor puisi modern selaras panggilan zamannya. Kepeloporan yang layak dimaknai sebagai modernis kebanding awal dan pemkembangannya yang terdokumentasi secara rapih dan telah menambah khazanah kesusastraan sejak abad ke-XII Masehi.

 

Zaman mereka itu adalah zaman dinamika perubahan teriring perkembangan masyarakat dengan timbulnya revolusi Perancis yang masyhur yang pengaruhnya mendunia. Karena Perancis memang merupakan salah satu negara penting benua Eropa. Penting karena peran internasionalnya yang besar baik sebagai kekuatan negara berdaulat dengan jaringan diplomasinya, juga sebagai salah satu kekuatan penjelajah malah penjajah dunia. Maka bisalah dimengerti, selain besar pengaruhnya di bidang-bidang politik, militer dan ekonomi juga di bidang kebudayaan, istimewa sekali pengaruh dari bahasa dan sastranya.

 

Saya menggunakan sebutan pendekar karena selain kecakap-piawaian mereka menggunakan sarana bahasa, juga keterampilan mereka dalam bersilat kata – kata kata pilihan yang sarat irama dan warna dengan segala nuansanya. Dan dengan segala metamorfosa hal ihwal yang nampak biasa bahkan bak tak bermakna tergubah luar biasa sarat aroma puitis, romantis malah mengarah surrealistis.

 

Sampai pada rangkai baris-baris kalimat ini sayang bermaksud menggaris-bawahi ujar-kata Mahmoud  Darwich akan makna bahasa yang bukan hanya sebagai sarana melainkan juga sebagai yang essensi. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita mengapresiasi kaum penyair dari zaman ke zaman – sejak dahulu kala hingga dewasa ini. Karena merekalah yang paling perhatian dan konsisten dalam mengapresiasi, memanfaatkan dan mengangkat bahasa dalam bentuk seni yang paling terkonsentrasi dan tergubah dalam bentuk osmosia irama, suara dan warna kata-kata yang harmoni yang disebut puisi.

 

Proses kreativitas mencapai keharmonisan, menurut hemat saya, secara essensi tidak berubah dari sejak asal muasalnya puisi sejak zaman dahulu kala hingga dewasa ini. Dalam hal irama, misalnya, bukankah pada awal mulanya di zaman dahulu kala puisi diutarakan selain dengan suara ucapan juga teriring irama musik ? Bahkan dinyanyikan tak ubahnya seperti pembawaan lagu dan sajak  di zaman modern dewasa ini. Sedangkan yang boleh dikatakan keberbedaannya lebih tertandakan pada bentuk penulisan dan semangat zamannya. Seperti yang lazimnya disebut puisi antik, klasik dan modern atau kontemporer.

 

Jika para pengamat masyarakat atau bangsa, menjadikan salah satu kajiannya adalah puisi, pasalnya karena bentuk kesenian ini merupakan pertanda signifikan dari jiwa masyarakat atau bangsa itu sendiri. Karena puisi adalah bentuk ekspresi lama yang keberadaannya mungkin sama tuanya dengan peradaban masyarakat manusia itu sendiri. Peradaban yang perkembangannya disebut oleh sementara naskah kesejarahan dimulai dari zaman antik sampai modern itu. Di zaman antik Eropa, dengan contohnya peradaban Yunani kuna dengan penyair Homere sang penggubah « Iliade » dan « Odyse » yang masyhur dalam abad ke-VII SM. Selama berabad-abad, puisi antik erat sekali kaitannya dengan mitologi, pemujaan ragam macam dewa-dewi sampai pada puja-puji atas kekuasaan atau penguasa aristokrasi dalam Zaman Tengah abad ke-XVI. Pemujaan atau puja-puji terhadap yang kuasa, yang dipertuan atau orang orang yang diperagungkan, berlangsung terus sampai pada periode disebut klasik abad XVII. Sedangkan puisi modern dimulai dalam abad ke-XIX dengan kepeloporan gerakan romantisme yang antara lain sosok-sosok utamanya adalah  sang tiga pendekar : Hugo, Boudelaire dan Rimbaud itu.

 

Victor Hugo

 

HUGO dianggap sebagai salah seorang pelopor gerakan romantis sekaligus modernis dalam perpuisian Perancis, selaras nafas zaman dimana masyarakat feodalis mulai tergeser kapitalis dengan munculnya kaum burjuis.

 

Selayaknya diingat, demikian antara lain tercatat dalam « L'histoire de la poèsie », bahwasanya Revolusi Romantik itu tak lepas dari kondisi sosio-ekonomi yang baru : Puisi, terbebaskan dari pengekangan kaum pembesar atau penguasa, telah menjadi bebas merdeka dan gratis. Oleh sebab itulah puisi bisa kembali berkenaan dengan individu dalam artian luas, dan bukan lagi terbatas untuk mengabdi atau memuja-muji sekelompok pembesar atau penguasa. Terhadap kaum yang belakangan ini malah arahan ujung pena penyair bukan hanya bebas merdeka untuk mengekspsresikan persetujuan atau puja-puji, melainkan juga bisa menunjukkan keberbedaan, mengkritisi atau kecaman. Dalam hal ini, tak syak lagi, Victor Hugo merupakan salah seorang pujangga yang jadi bukti dan teladan cemerlang. Keteladanan dalam sikap-pendirian yang teriring perbuatan atau aktivitas dan kreativitasnya, baik sebagai insan biasa maupun sebagai seniman atau pujangga. Salah seorang tokoh pekerja kebudayaan yang konsisten dan kreatif yang berdampak luar biasa dalam perkembangan kehidupan masyarakat manusia, khususnya kehidupan kebudayaan dan lebih khusus lagi kehidupan bahasa dan kesusastraan Perancis. Konsekwensinya, selain memanen puja-pujian, juga kecaman bahkan ancaman teriring hukuman sebagai salah seorang yang disingkirkan oleh pihak kaum pembesar atau pemegang kekuasaan negara, hingga pernah jadi salah seorang dari kaum eksilan. Sekalipun, bahkan sebagai eksilan, Hugo tetap sebagai pejuang yang anti-otoriterisme, dengan antara lain karyanya berjudul « Napoléon le petit ». Napoleon Si Kecil. Salah satu karya eksilnya di Brussel, yang masyhur dengan isinya yang secara tajam mengkritisi kekuasaan Louis Napoléon Bonaparte.

 

Bagaimana makna penting Victor Hugo dan aktivitas-kreativitasnya selama keterpaksaan jadi perantau di Brussel itu mendapat sorotan singkat tapi bernas dari sejarawan Belgia Aimé Bernaerts dalam bukunya berjudul « Proskrits – Exilés – Ecrivains étrangers en Belgique ». Sedangkan makna khusus mengenai karya tulisnya berjjudul « Napoleon Si Kecil » telah dijadikan kupas-bahasan dari sejarawan Sylvie Aprile dalam halaman « Groupe Hugo » Université Paris. Bahan-bahan bacaan itu merupakan satu dua saja dari luar biasa jumlah dan ragamnya referensi perihal sang pujangga sekaligus pendekar puisi modern Perancis yang masyhur itu.

 

Begitu juga kebersaran hasil karya sastranya, baik prosa maupun puisi yang telah memperkaya kepustaan Perancis dan dunia. Dan dari segi kepenyairannya saja pun, menurut P. Segher : « Son œuvre couvre à elle seule presque un siècle de poésie ». Sekedar untuk mencicipi karya seni puisi Hugo yang begitu luas dan bervariasi, maka saya sajikan beberapa sajak-sajaknya seperti di bawah ini.

 

 

Dua Anak Gadis Ku

 

Dalam rayapan gelap-terang malam sejuk menyenangkan,

Yang pertama serupa angsa yang kedua seperti merpati,

Jelita, keduanya cerah ceria, oh, lemah gemulai!

Lihatlah, sang kakak sang adik

Duduk duduk di pinggir kebun, dan di atas mereka

Serangkum bunga anyelir putih bertangkai langsing panjang

Dalam jambang marmer terhembus angin goyang

Tersandar, menatap keduanya, tertegun dan hidup,

Bergetar dalam kelam, mengesankan, di tepi jambangan

Terbang sang kupu-kupu terhenti terpancang pandang tercengang.

 

(Victor Hugo : Mes deux filles)

 

 

Besok, Mulai Dinihari

 

Besok, mulai dini hari, selagi pedesaan memutih diri

Ku kan berangkat. Kau maklum, aku tahu dikau menunggu ku

Ku kan telusuri hutan, gunung ku daki,

Ku tak bisa lebih lama lagi tinggal jauh dari mu

 

Ku kan berjalan dengan pandang tercengkam pikiran

Tanpa melihat yang di luar tanpa suara yang didengar.

Sendiri, tak dikenal, punggung membungkuk, tangan bersilang,

Sedih, siang hari bagi ku kan seperti malam kelam.

 

Tak kan ku perhatikan keemasan malam datang menjelang

Pun tidak layar di kejauhan laju menuju Harfleur

Dan mana kala ku tiba, kan ku letakkan di atas makam mu

Serangkum rumpun hijau dan serangkum rumpun berkembang.

 

(Victor Hugo : Demain, à l'aube)

 

 

Gitar

 

Bagaimana, kata mereka,

Dengan keranjang balon terbang kita,

Lepas bebas dari jeratan rumput laut ?

-- Mendayunglah, kata mereka.

 

Bagaimana, kata mereka,

Melupakan pertengkar-tikaian,

Kesengsaraan dan mara bahaya ?

-- Tidurlah, kata mereka.

 

Bagaimana, kata mereka,

Menyenangkan wanita wanita jelita,

Tanpa minuman muzarab guna-guna ?

-- Cintailah, kata mereka.

 

(Victor Hugo : Guitar)

 

 

Jin

 

Tembok tembok, kota

Dan pintu,

Asil

Yang mati,

Laut kelabu

Di mana bersilir

Silir angin laut

Semua tertidur

 

Di dataran rendah

Lahir desah.

Adalah nafas

Malam hari.

Dia mengeluh kukuh

Serupa sebuah jiwa

Seperti lidah api

Senantiasa nyala.

 

Suara yang lebih tinggi

Bagaikan gemetaran.

Dari seorang cebol yang melompat

Adalah lari cepat cepat.

Dia kabur, melambung,

Lantas gerak berirama

Dengan satu kaki menari nari

Di ujung gelombang pasang.

 

Desas desus mendekat,

Gemanya mengulang bilang.

Adalah seperti lonceng

Dari biara terkutuk,

Seperti suara berisik gerombolan orang

Yang kian mengeras kian melaju,

Dan kadang tertumbang

Dan kadang membesar.

 

Tuhan! Suara kematian

Jin ! ... – betapa kebisingan mereka ciptakan!

Lari tunggang langgang dalam bentuk lingkar spiral

Dari tangga tangga yang dalam !

Lampu ku telah padam,

Dan bayangan sandaran tangga,

Yang sepanjang tembok merangkak,

Naik hingga ke langit-langit.

 

Itu adalah segerombolan jin yang lewat

Dan angin puting beliung yang melengking.

Pohon pohon if yang terhempas terbangan mereka,

Terpecah belah bagai pohon pohon cemara membara.

Gerombolan mereka yang berat lagi cepat

Terbang di angkasa hampa,

Bak mega biru kelabu

Yang di sisinya terbawa mata petir.

 

Mereka dekat sekali! – Tetap tutup kuat kuat

Ruang di mana kita menantang mereka

Betapa berisiknya di luar! Tentara suram-seram

Naga dan hantu penghisap darah!

Balok atap rumah terkuak

Melengkung sedemikian rupa bak rumput basah.

Dan pintu tua karatan,

Gemetar, tak tahan menahan pitam.

 

Teriakan neraka! Suara jerit dan tangis!

Gerombolan yang ganas, terbawa angin dingin keras,

Tanpa ragu, oh langit! Runtuh di atas rumah ku.

Tembok meliuk di bawah kehitaman batalyun

Rumah menggereyot dan ruangan miring

Dan orang bilang lantai terenggut,

Maka diusir nya sehelai daun kering,

Angin memutarnya dengan sang taufan!

 

Nabi! Jika tangan mu menyelamatkan ku

Dari setan siluman malam malam ini,

Ku kan datang sembahyang

Di hadapan dupa-dupa suci mu!

Lakukanlah di depan pintu pintu setia ini,

Padamkan hembusan kilat api mereka,

Dan supaya kuku sayap mereka sia-sia belaka

Berderak memekik tertumbuk kaca-jendela hitam ini!

 

Mereka berlalu! – Rombongan mereka

Terbang dan kabur, dan kaki mereka

Berhenti menendangi pintu ku

Dengan tendangan bertubi-tubi.

Udara tercengkam bising dencing mata-rantai,

Dan di hutan rimba berdekatan

Menggeletar semua pohon pohon cemara besar,

Di bawah terbangan kabur mundur mereka!

 

Dari kejauhan sayap sayap mereka

Kepakan mengurang,

Sedemikian samar-samar di dataran rendah,

Sedemikian samar-samarnya terkesankan

Bagaikan belalang

Meneriakkan suara lengking panjang,

Atau ringkik-ringgih belalang,

Di atas sekring genting tua.

 

Suku-suku kata aneh

Sampai lagi pada kita:

Bahwasanya orang orang Arabia

Pabila terompet kumandang,

Sebuah lagu pemogokan,

Seketika bangkit berdiri,

Dan sang anak yang mimpi

Impian-impian keemasan.

 

Jin jin pekuburan,

Anak kematian,

Di alam gelap kelam

Melaga langkah mereka;

Gerombolannya menggerung;

Sedemikian, mendalam,

Desah gelombang

Tak tertampak pandang orang.

 

Suara alunan

Yang tertidur,

Adalah alunan

Di tepian;

Adalah gerutuan

Nyaris habis

Seorang suci

Bagi seorang mati.

 

Orang ragu

Malam ...

Ku dengar : --

Semua kabur,

Semua berlalu;

Ruang angkasa

Menyapu

Suara.

 

(Victor Hugo : Les Djinns)

 

*

 

Catatan : Bersambung, selanjutnya : « Charles Baudelaire ».

 

*

 


Envoyé avec Yahoo! Mail.
Une boite mail plus intelligente. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content