22 Juli 2008

[ac-i] Wayang Krucil Kediri-Nganjuk

     Radar Kediri
[ Selasa, 22 Juli 2008 ]
 
 
Sudiono, Perajin Sekaligus Dalang Wayang Krucil
Prihatin Wayang Hanya Sebagai Pajangan

Kesenian wayang kulit mulai dijauhi generasi muda. Apalagi wayang kayu yang biasa disebut wayang krucil. Mungkin hanya satu dua perajin wayang jenis ini. Salah satunya Sudiono, yang tinggal di Desa Garu, Kecamatan Baron. Sayang, pesanan datang bukan untuk dipentaskan. Namun untuk kerajinan pajangan.

AHYA ALIMUDDIN, Nganjuk

----------

Tangan pria separo baya itu cekatan mengukir kayu di hadapannya. Hanya berbekal pisau kecil, dalam sekejap mahkota Anoman itu sudah terbentuk. Itulah satu diantara sekian banyak tahapan pembuatan wayang kayu alias wayang krucil. Berbahan kayu mentaos, pembuatan satu wayang bisa memakan waktu hingga satu minggu.

"Tapi kalau wayangnya kecil cukup tiga sampai empat hari saja," ujar Sudiono. Perajin itu dibantu dua asisten. Setiap hari, dia dan asistennya berkutat dengan kayu-kayu itu. Mulai memotong, mengukir, mengamplas hingga mengecat. Hanya saja, khusus mengukir, Sudiono sendiri yang melakukannya. "Lainnya tidak bisa (mengukir)," tutur pria yang sudah berusia setengah abad ini.

Bapak dua anak itu berkarier sejak 1977. Mendapat bakat turunan dari ayahnya, Sudiono mampu mengembangkan keterampilannya hingga mampu menghasilkan. Dalam sebulan, tak kurang 5 pesanan diterimanya. Rata-rata pemesan 1-2 wayang.

"Tapi kalau yang pesan dalang ya bisa sampai seratus buah, Mas," ujar suami Musiani ini. Tapi pesanan sejenis itu sangat jarang. Seringkali, pesanan wayang diperuntukkan untuk pajangan. Harga wayang krucil itu berkisar Rp 1,5- Rp 2 juta, tergantung ukurannya.

Tidak hanya wayang kayu, pria yang pernah meraih juara dalam lomba dalang se-Jawa Timur itu juga mampu membuat wayang kulit. Bahkan mampu juga memainkannya. "Tapi pesanan yang banyak adalah wayang kayu," ujar pria yang memakai nama panggung Sudiono Kuncoro Carito ini.

Menetap di desa kelahirannya, hasil karya Sudiono sudah merambah hingga ke luar negeri. Tepatnya di negara Paman Sam, Amerika. Tapi Sudiono prihatin karena hasil ciptaannya hanya menjadi pajangan. Padahal wayang-wayang tersebut akan lebih bermakna bila dimainkan.

"Saat ini wayang krucil sudah tidak banyak dikenal. Padahal ini bisa menjadi alat menggali kebudayaan adiluhung," ujar pria yang juga dalang wayang krucil ini.

Berbeda dengan wayang kulit, lakon wayang krucil lebih beragam. Meliputi peristiwa-peristiwa kerajaan Jawa seperti Majapahit, Kadiri dan Demak. Ada juga yang berkisah tentang perjuangan kemerdekaan.

Kini, Sudiono memimpikan bisa menambah jumlah produksi. Tetapi niat tersebut terhalang dengan pengerjaan wayang yang masih manual.

"Saya berharap bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah. Saya ingin beli mesin pemotong kayu," pungkas pria berkacamata itu. (dea)


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: