23 Juli 2008

[ac-i] undangan konferensi pers, pembukaan & liputan 'SACRED WITHOUT MYSTIQUE', Jogja Gallery, 26 Juli 2008



 

UNDANGAN PEMBUKAAN & LIPUTAN

 

Pameran Seni Visual & Keris

'SACRED WITHOUT MYSTIQUE'

Menampilkan 100 Keris Pusaka

 

 

Preview untuk Jurnalis:

Hari/Tanggal   : Sabtu, 26 Juli 2008

Pukul                   : 18.00 WIB [6 sore]

Tempat               : Lobby Jogja Gallery, Jalan Pekapalan no. 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta

 

Pembukaan pameran:

Hari/Tanggal   : Sabtu, 26 Juli 2008

Pukul                   : 19.00 WIB

Tempat               : Jogja Gallery

                               Jalan Pekapalan no. 7, Alun-alun Utara Yogyakarta

Dibuka oleh     : Drs. Taufiq Effendi, MBA

                              [Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara/PAN RI]

 

 

Kurator : Mikke Susanto / Co Kurator : Ki Juru Bangunjiwo

 

Seniman Peserta:

Akhmad Nizam, Andy Wahono, Aries B.M, Basrizal Albara, Bayu Widodo, Dhanank Pambanyun, Eddy Sulistyo, Eddi Prabandono, Enggar Yuwono, Fransgupita, Gigih Wiyono, Gintani Nur Apresia Swastika, Hedi Hariyanto, I Wayan Upadana, IGN. Hening Swasono, Khusna Hardiyanto, Komroden Haro, Octo Chan, Oskar Matano, Pius Sigit Kuncoro, Pramono Pinunggul, Putut Wahyu Widodo, Robert Nasrullah, Setu Legi/ Hestu A Nugroho, Yudi Sulistyo.

 

Tulisan pengantar pameran seni visual & keris "Sacred Without Mystique"

Sejak lama sebelum Indonesia merdeka, keris sudah dikenal luas oleh bangsa kita. Hingga kini, era reformasi, keris tetap hadir di tengah-tengah khasanah budaya nusantara, bahkan telah menjadi salah satu tanda kebesaran dan keagungan bangsa Indonesia. Beberapa hal yang perlu kita cermati adalah kekhususan dari keris itu sendiri, mulai dari bahan, asal muasal, teknik pembuatan, nilai seni, sampai pada sifat-sifat keris itu sendiri. Tak kalah menariknya, cerita tentang empu sang pembuat keris.

 

Keris, dari namanya saja mengandung misteri yang tidak setiap orang bisa mengartikan. Untuk memahami misteri keris memang diperlukan pemahaman seluas mungkin, bahkan sangat mungkin harus paham pula tentang budaya Jawa, tempat dunia keris singgah. Oleh karena itu pengenalan tentang keris harus diawali dengan sejarah perkerisan di Indonesia. Sejarah perkerisan ditampilkan dengan wujud fisik yang sangat sederhana. Oleh karena itulah perlu ditampilkan keris dari zaman pembuatan yang sangat sederhana tersebut: keris Budha. Meski demikian pembuatan keris yang awalnya sebagai senjata tusuk ini berkembang selaras dengan peradaban manusia Jawa.

 

Dalam pameran ini, disamping akan menghadirkan sekitar 100 koleksi keris dari beberapa daerah [Jogja, Bali, Palembang, Sulawesi, Patani, Madagaskar, dan Madura]. Kami juga mengundang 25 seniman untuk merespon pameran tersebut.  Adapun secara khusus yang terkait dengan diundangnya perupa dalam pameran ini terdapat dua hal yang menarik untuk dipakai sebagai pijakan berkarya. Pertama, pameran ini dapat dianggap sebagai bentuk mediasi pengalaman perupa dengan keris. Maksudnya bahwa setiap karya yang diungkap dalam pemeran ini dapat terkait dengan persoalan individu perupa ketika mengalami (meskipun hanya sebentar atau lama) hubungan dengan keris. Tidak harus berhubungan secara langsung dengan persoalan detail-detail dalam wujud sebuah keris. Dalam hal ini bisa cerita atau kajian khusus perupa ketika memegang keris dan sebagainya. Kedua, pameran ini bisa difungsikan pula sebagai upaya untuk menunjukkan hal yang berhubungan dengan persoalan dunia keris secara langsung, baik yang dianggap mistik ataupun yang dianggap ilmiah. Dalam hal ini perupa dapat merespon secara khusus persoalan fisik (warangka, luk, pamor, dsb) maupun wacana (intengible heritage), sampai dimensi sosial, politik dan ekonomi misalnya.

 

Hasilnya adalah pemandangan baru yang menohok mata. Seni masa kini yang 'garang' memang menawarkan cara pandang baru terhadap keris. Perupa-perupa bersemangat mengajukan tesis baru terhadap keris, menyambung kearifan lokal menjadi seni dengan semangat progresif. Lukisan, patung, mural, instalasi atau grafis tampaknya tidak menghilangkan keklasikan keris itu sendiri. Semoga pameran--mungkin baru kali ini--yang mengaitkan antara seni klasik dan kontemporer berdaya guna bagi kita semua. Selamat menikmati.

 

Melalui surat ini, kami berharap Anda dapat meliput pameran tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat kami, surat ini sekaligus menjadi undangan bagi Anda untuk hadir pada pembukaan pameran, Sabtu, 26 Juli 2008, pukul 19.00 WIB.

 

KETERANGAN LAIN

Organizer Partner       :  Paheman Memetri Wesi Aji [Pametri Wiji Yogyakarta],

                                                    Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia [SNKI].

Partner                                :  Royal Garden Restaurant, PT Dakota, Novotel Hotel, Grand Mercure, Akseri, Truly Jogja, Galeria Mall,Toko Buku Togamas, Plaza Ambarukmo.

Media Partner                 : Kabare Jogja, Kompas, Kedaulatan Rakyat, Bernas Jogja, Jogja TV 48      

    UHF, Radio Global 107.6 FM. Radio Sonora 97.4 FM, Radio Geronimo  

    106.1 FM, Radio GCD 98.6 FM, Star 101.3 FM, Rakosa 105.3 FM, Swara

    Jogja 91.9 FM.

 

Side Event :

Jogja Gallery mengundang civitas akademika di seluruh Indonesia, untuk mengikuti program 'Apresiasi 

 Seni untuk Pelajar'setiap kali pameran berlangsung. Dapatkan diskon tiket tanda masuk bagi rombongan

 pelajar/mahasiswa.              

                1. Pemutaran film dokumentasi

                    "Perawatan & Pembuatan Keris" [26 Juli – 10 Agustus 2008, pukul 09.00 – 21.00 WIB]

                2. Peraga Kinatah Keris & Atraksi Mendirikan Keris [Sabtu, 26 Juli 2008, pukul 19.00 WIB]

                3. Workshop Seni Visual, Keris & Periodesasi Keris [Minggu, 27 Juli s.d Minggu, 10 Agustus 2008]

                4. Sarasehan / Diskusi

                    Pembicara : KRT. Prodo Kardono & Ki Juru Bangunjiwo

                    Minggu, 27 Juli 2008, pukul 10.00 WIB

                    Tema : Sacred Without Mystique

                5. Demo Pembuatan Warangka

                     Sabtu, 2 Agustus 2008, pukul 15.00 WIB

                6. Demo Perawatan  Keris

                    Sabtu, 3 Agustus 2008 & Minggu, 10 Agustus 2008, pukul 12.00 WIB

                7. Demo Pembuatan Pendok

                     Sabtu, 9 Agustus 2008, pukul 15.00 WIB

                8. Konsultasi Keris

                     Minggu, 27 Juli s.d Minggu, 10 Agustus 2008, pukul 12.00 – 19.00 WIB

 

- Pameran berlangsung hingga 10 Agustus 2008

- Galeri buka Selasa-Minggu, pukul 09.00 – 21.00 WIB. Tiket tanda masuk Rp 3.000,- /orang

 

  PAMERAN SELANJUTNYA

-          Pameran " Streetworks : Inside Outside Yokohama" [20 Agustus s.d 7 September 2008]

Kerjasama Jogja Gallery & Australian Embassy

Kedutaan Besar Australia menghadirkan Streetworks: Inside Outside Yokohama. Pameran ini mengeksplorasi budaya aliran musik masyarakat kota dalam ber-skateboard, hiphop dan graffiti untuk menunjukkan wilayah-wilayah yang jarang ditemui dalam pemandangan masyarakat kota ke dalam rangkaian peng-film-an aksi dan video. Seniman Australia, Shaun Gladwell dan Craig Walsh menggunakan media baru dalam pameran nya dimana karya mereka menyimpang dari konsep pertunjukan dan dokumentasi, high art dan low art, budaya baru dan budaya pop, hal rekaan dan  kenyataan.

 

Informasi & kontak selanjutnya, hubungi:

Jogja Gallery [JG]

Jalan Pekapalan no. 7, Alun-alun Utara Yogyakarta

Telp. 0274 419999/41202i, Telp/Fax. 0274 412023, Telp/SMS. 0888 696 7227 / 0274 7161188

Email. jogjagallery@yahoo.co.id / info@jogja-gallery.com

 


Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: