23 Juli 2008

[ac-i] Undangan : Hari Huru Hara Centhini | 25 Juli 2008 di Lembaga Indonesia Prancis (LIP) : 14.00-21.00

 

Hari Huru Hara Centhini

25 Juli 2008 di Lembaga Indonesia Prancis (LIP) : 14.00-21.00

Diselenggarakan oleh
CCF Yogyakarta / Lembaga Indonesia Prancis

Dimeriahkan oleh

Didik Nini Thowok & Bondan Nusantoro 
14.00 : Pembukaan
Elizabeth D. Inandiak

14.15 : Teater Centhini
Xavier Ricard & Mahasiswa LIP/UNY/UGM

14.30 – 16.00 : Seminar
"Sastra, Ilmu dan Bahasa Centhini" &
"Centhini dan Bahasa Arab"

Prof. Dr. Marsono (UGM) / Dra. Junanah (Ilmu Agama UII)
Moderator : RM Subanar (USD)

Hadrah Baitulsalam Bebekan
16.00 : Seminar
"Arsitektur dan Centhini"
 Bpk Eko Prawoto dan Mahatmanto (UKDW) dgn tembang oleh Drs. Sunardi (SMKI)
17.15 : Teater Centhini
19.00 : Ketoprak
"Nafsu Terakhir"
20.00 : Reog Satria Muda Budaya
Stage Manager: Yudhisthira


Namaku Centhini. Aku memang cuma seorang abdi, tetapi kutembangkan pengembaraan edan luar batas, pengembaraan dua putra serta seorang putri belia yang terpaksa lari dari Kerajaan Giri karena diserbu tentara Sultan Agung di abad XVII. Dalam kekalutan peperangan, si sulung kehilangan kedua adiknya. Selama saling pergi mencari itulah kedua putra dan sang putri mencicipi semua kebijaksanaan dan segala pelanggaran yang tumbuh subur di Tanah Jawa di candi-candi yang terlantar, di puncak foya-foya mewah, di hutan belantara yang dikuasai jin-jin mbalelo, di mulut-mulut gua yang pekat, di asrama  panas pondokan serta di kedalaman terang samudra. Mereka mengajak gabung orang-orang yang mereka temui di jalan di kekacauan pengembaraan mereka sendiri: pedagang keliling, para penembang, penggamel, ledek, banci, sastrawan sufi, pelacur, petapa Buddha-Siwa, pandai besi, dukun, guru kanuragan, kecu, segala orang bebas, pelarian atau paria yang, di luar kekuasaan, menemun serta mengutak-utik jaringan khayal syahwat dan roh Tanah Jawa.

Giliran anda, masuklah ke dalam pengembaraan edanku pada 25 Juli di LIP !

Elizabeth D Inandiak


 

Pada tahun 1996, Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Thierry de Beaucé, mengundang saya makan ke rumahnya di Jakarta. Beliau sedang berupaya mencari satu kembang sakti asli Jawa. Saya bercerita tentang Wijayakusuma, bunga yang hanya mekar pada tengah malam, menyebarkan wangi Ilahi, lalu layu sebelum subuh. Kembang ini tampil dalam tembang terakhir Serat Centhini, ketika Amongraga dan istrinya yang sudah berubah menjadi ulat, dibakar kemudian diletakkan dalam kelopak Wijayakusuma lalu dimakan oleh Sultan Agung. Serat Centhini adalah salah satu karya sastra terbesar dunia, namun dua belas tahun yang lalu, belum diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Terpesona oleh kisah itu Thierry de Beaucé memutuskan bahwa Kedutaan Besar Perancis di Indonesia akan membiayai sebuah saduran Serat Centhini yang terancam sirna itu, agar jangan sampai terlupakan dan kandungannya terwariskan dalam bahasa yang megah dan indah.

   Saduran Serat Centhini diterbitkan pada tahun 2002 di Perancis, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan dulu dalam bentuk cuplikan-cuplikan. Pada hari ini saduran Serat Centhini diterbitkan kembali dalam bentuk utuh di bawa judul: Centhini, Kekasih yang Tersembunyi.

   Di saat yang bersamaan terjemahan dua belas jilid Serat Centhini asli dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia juga sudah selasai oleh tim Universitas Gadjah Mada di bawa pimpinan Profesor Dr. Marsono. Sehingga kami mengambil kesempatan itu untuk mempersembahkan satu hari penuh kepada Si Centhini di Lembaga Indonesia Perancis, di mana para mahaguru yang cendekia dan serius bercampuraduk dengan kaum seniman rakyat yang gembira ria dan penabuh batin. Demikian kami berharap bahwa acara Hari Hura Hara Centhini dapat mencerminkan kekayaan dan keterbukaan luar biasa karya sastra adiluhung Jawa itu.

Oleh Elizabeth D. Inandiak
 
 
Eno Dewati
Humas/Publics Relations Centre Culturel Français | Lembaga Indonesia Prancis (LIP)
Jalan Sagan 3
55223 Yogyakarta
Indonésie
Tél: + 62 (274) 54 74 09 / +62856 436 84 556
Fax: + 62 (274) 56 21 40
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: