27 Juli 2008

[ac-i] Terowongan Maut - Cerpen: A.Kohar Ibrahim

Terowongan Maut
Cerpen: A.Kohar Ibrahim
 

Terowongan Maut

 

Cerpen

 

Oleh : A.Kohar Ibrahim

 

 

KISAH yang berkaitan dengan terowongan seringkali sarat akan perasaan gairah,  penuh asa,  bisa juga tak lepas rasa was-was dan penasaran. Seperti kisah dalam cerpen Maxim Gorky yang justeru berjudul « Terowongan ». Seperti kisah tenggelamnya kapal Titanic. Juga seperti perasaan yang timbul campur baur imajinasi ketika mengunjungi terowongan yang digunakan Tentara Merah dalam sejarah Perang Rakyat Tiongkok. Dan juga ketika kesempatan mengunjungi tambang batu bara Bligny di daerah Walonia Belgia.

 

Yang kesemuanya, kisah-kisah itu erat berkaitan dengan makna operasi, makna kekerasan dalam aksi peperangan maupun aksi kerja keras rakyat pekerja.

 

Sungguh sesungguhnyalah kata operasi adalah kata yang jarang aku gunakan. Kata yang kedengarannya tak aku suka, lantaran secara subyektif kontan mengingatkan tindakan kekerasan. Apa pula ditambah kata bedah atau pembedahan. Lebih-lebih lagi operasi pembedahan itu bukan tertuju pada orang lain, melainkan pada diriku sendiri. Pada tubuhku sendiri. Pada perutku sendiri. Kedua kata itu – operasi bedah – sungguh membuat aku terkejut melongok, tercenung merenung, bingung.

 

Hari-hari direjam sakit penyakit, aku rasakan, aku bayangkan, diriku bagaikan sehelai daun menguning nyaris kering di ujung ranting. Antara asa dan putus asa. Runtuh jatuh melayang-layang antara bumi dan kayangan. Betapa gamang kegamangan ini begitu mengerikan dalam kelengang-hampaan. Takut. Rasa takut ketakutan menerjang sekalian menyergap, menelikung jiwa-ragaku dalam kurungan. Aku berteriak. Memberontak. Aku tak mau dikurung pun terkurung dalam kebingungan sekalian rajaman ketakutan.

 

Dalam mengayunkan langkah menelusuri perjalanan hidup kehidupanku, nyatanya tidaklah sederhana dan mudah. Seperti tertera dalam catatan atau kenangan tertulisku, sejak masa muda remaja sampai lansia. Dalam salah satu lembar catatan, antara lain aku mengaku: Iya, aku terjatuh jatuh bangun. Namun jejak langkah terus ku ayun. Menelusuri rimba raya, lembah, lereng bukit dan gunung ataupun gurun. Ya Allah, Allahu Akbar ! Betapa tabah ketabahan bermakna besar, seraya setia menjaga marwah dalam gairah maupun dalam susah payah. Takkan sekali-kali ku bertekuk lutut sekalipun tegarnya aral perintang, garangnya musuh dan maut. Sekali pun sekali terjatuh aku bangun lagi, mengayun langkah dengan tabah sekalian menjaga marwah.

 

Aku jatuh terjatuh lalu bangkit kembali menegakkan langkah yang jadi kebiasaanku selama ini. Begitulah. Tekadku tak berubah. Meski aku ngaku, ragaku tidak lagi dalam masa remaja sampai dewasa yang gagah. Iya, memasuki masa lansia terasa kegairah-perkasaan berangsur melemah. Apa pula jatuh terajam penyakit yang tak pernah aku suka pun tak pernah aku duga. Hingga menjadi lemah lantaran kekurangan darah : Anemia adanya. Lantas kini mesti mengalami operasi bedah pula ? Bayangkan saja. Ah… !

 

Operasi dioperasi dibedah, sesungguhnyalah aku tak suka mendengar ujar kata itu. Apa pula mesti aku sendiri yang akan mengalaminya. Tapi apa daya, hal itu sudah merupakan keputusan dari team kedokteran dan pengobatan Klinik Saint-Jean. Sebagai diagnosa dari pemeriksaan-pengobatan-perawatan sejak aku masuk rumah sakit atau klinik ini. Jelasnya, sebagai hasil kesimpulan dari pemeriksaan yang terakhir aku jalani. Yakni gastroskopi dan kolonoskopi.

 

Dua pemeriksaan yang aku jalani Jumat kemarin -- pagi-pagi sekali kemudian sore hari -- macam pemeriksaan keadaan kesehatan badan yang paling berat aku rasakan.


Yang pertama. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Jam enam. Badanku yang sudah lemas bertambah lemas lantaran « puasa ». Tidak boleh makan dan minum sejak kemarin malam. Pagi hari tentu saja tanpa sarapan pagi. Pada jam delapan seorang juru-rawat sudah siap mengantarku, dengan menggunakan kursi-dorong, dari kamar biasa di tingkat tiga turun ke ruangan lantai bawah-tanah. Perutku yang memang sering terasa sakit dan mual, kian bertambah mual saja, ketika turun menggunakan lift.

 

« Courage, Monsieur, » ujar sang juru-rawat asal Afrika bernama Clemantine – seperti tertera di kartunama tanda pengenal yang nyantel di dadanya. « Gastroskopi merupakan pemeriksaan yang tak menyenangkan. Harap Tuan sabar dan tabah. »

 

Harus tabah dan bersabar, itulah nasihat sang juru-rawat berkulit-hitam manis teriring senyum, menyerahkanku kepada seorang juru-rawat yang bertugas di lantai bawah-tanah. Di ruangan yang cukup luas memanjang, dengan warna dinding tembok yang putih keabu-abuan. Rasanya dingin kebanding di ruang lantai atas. Dan aku dideret-jajarkan dengan para pasien lainnya. Lantas menyuruhku meminum segelas besar air yang sebenarnya dicampur zat obat pengobatan. Rasanya agak aneh sekalipun ada aroma jeruknya. Setelah tiga perempat jam baru aku dibawa masuk ke ruang khusus untuk gastroskopi. Dibaringkan dengan posisi miring sebelah kiri, di atas meja yang mirip ranjang berseprei putih. Lantas seorang dokter datang menyapa dengan ramah seraya minta kerjasamaku. Agar supaya pemeriksaan berlangsung secara lancar dan mencapai hasil yang diperlukan. Ketika aku penasaran tanya :

 

« Kerjasamanya bagaimana, Tuan Dokter ? »

 

« Mudah saja, » katanya, senyum.  « Jaga ketenangan, jangan panik. Meski nanti terasa haus dan hangat di tenggorokan.  Dan bernafaslah dengan mulut, setuju ? »

 

« Oui, Docteur. D'accord, » jawabku polos.

 

Jawaban polosku itu sesungguhnya berupa kepasrahan saja, meski sarat nekad sekalian itikad untuk memulihkan kembali kesehatanku.  Dengan mencari sekaligus menemukan sebab-musabab keadaan anemia lantaran terjadinya pendarahan. Maka aku tak berkutik pun tanpa berkata apa-apa lagi ketika menerima saluran oksigin via lubang hidungku. Ketika ada alat di mulutku supaya tetap mangap. Ketika menerima zat yang hangat-hangat panas mengalir di jalur kerongkonganku. Dan ketika, akhirnya, via kerongkongan sang dokter memasukkan pipa mungil yang dilengkapi kamera untuk mendeteksi sekaligus memotret panorama perutku --  usus besar dan jalur kolon-nya sekalian. Rasa perasaan aneh menghujam-rajam diriku, seluruh jiwa-ragaku. Anehnya rasa haus kehausan dan sakit kesakitan yang luar biasa, ketika sang dokter melakukan pencariannya dengan alat yang bagiku aneh pula itu. Kadang rasa haus dahaga begitu terasa. Ah, kehaus-dahagaan melebihi ketika puasa di bulan Ramadan ; mungkin lebih jitu kehaus-dahagaan seperti musyafir di padang pasir ? Kadang pula terasa dingin, seperti terbenam di dasar laut. Tak ubahnya seperti kapal Titanic yang diselami penyelam dengan dilengkapi pipa berkamera untuk mendeteksi sekaligus memotret apa saja yang dianggap penting, sebagai penemuan yang layak disimak dan sebagai pengetahuan bermakna.

 

Selama beberapa saat panas-dingin merejam badan kian meningkat terasa, sepertinya aku telah kehabisan nafas, nyaris pingsan. Sampai saat sang dokter menarik kembali pipa secara keseluruhan, dan aku bisa bernafas kembali seperti biasanya. Seketika aku pejamkan mata lantaran keletihan. Baru terjaga beberapa lama kemudian ketika sudah kembali berada di kamar pasien di lantai atas.

 

Agaknya selama dua jam lebih aku terlena dengan nyenyak, membikin badan terasa lebih enak. Hanya untuk mengalami pemeriksaan lainnya – kolonoskopi --  beberapa jam kemudian. Yakni pada jam lima sore. Pemeriksaan yang juga aneh, menimbulkan rasa aneh keanehan akibat alat yang digunakan --  semacam pipa yang juga dilengkapi pendeteksi sekaligus pemotret keadaan kolon. Keanehan yang menerkam rejam jiwa raga terkesankan kenyerian dan kewaswasan serta penasaran. Meskipun berlangsung tidak lama dan betapa sigap-cakapnya sang dokter memanipulasi alat yang digunakannya  – mulai dari mulut lubang dubur sampai masuk merasuk ke dalam perut, istimewa ke usus yang disebut kolon itu -- namun kiranya, ya ampun,  cukuplah sekali itu saja.

 

Iya. Sekali itu saja. Masing-masing sekali itu saja – pemeriksaan yang disebut gastroskopi dan kolonoskopi itu. Sekali itu saja dan terakhir kali, akupun bergerak secara otomatik begitu mendengar saran sang dokter supaya aku cepat ke toilet. Gerak cepat seperti robot otomatik dari meja pasien ke toilet hanya untuk secepatnya mengeluarkan isi perut sehabis-habisnya hingga kempis. Untuk kedua kalinya perasaan aneh lantaran keletihan menyergap-dekap jiwa-ragaku.  Ketika sang juru-rawat menjemputku kembali ke ruang kamar pasien, aku segera terbaring di ranjang dan tertidur lelap.

 

Suasana kedua macam pemeriksaan medis itu layaknya membawaku pada kenangan sekaligus pengalaman yang menimbulkan perasaan sarat asa dan ketiadaan asa, campur-baur rasa ngeri dan was-was berkenaan dengan terowongan. Timbulnya rasa perasaan aneh di dalam terowongan sekaligus diri sendiri sebagai terowongan. Terowongan dalam perjuangan hidup-mati di medan laga peperangan, pekerjaan dan di dalam jiwa-raga diri sendiri.

 

Akan tetapi, suka tak suka, kedua macam pemeriksaan bagaikan terowongan itu, merupakan lanjutan yang wajar. Sebagai mata-rantai tak terpisahkan dari rangkaian pemeriksaan medis lainnya yang tidak bisa tidak dijalani. Karena atas dasar kesemuanya itulah team kedokteran menyatakan diagnosanya, menarik kesipulan dan memutuskan cara terbaik untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Yakni dengan melakukan operasi pembedahan. Operasi untuk melikwidasi tumor yang mengidap di bagian kolon dalam perutku.

 

Iya. Kolon itu sendiri tak ubahnya bagai terowongan yang selain bisa hidup menghidupkan, sebagai saluran pembuangan sampah atau kotoran dari dalam perut. Sebaliknya juga bisa mematikan jika sang terowongan itu tersumbat atau diidapi tumor yang gawat jadi penyebab pendarahan hingga kehilangan sampai kehabisan darah. *** (26.07.2008)

 

Catatan : Ilustrasi foto karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim, cat akrilik di atas kanvas.

 

 


Envoyé avec Yahoo! Mail.
Une boite mail plus intelligente. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: