29 Juli 2008

[ac-i] Terbit, Kamus Suroboyoan Indonesia (M.Djupri, Henk Publica, 2008)


KAMUS SUROBOYOAN INDONESIA

 

Penyusun       : M. Djupri

Penyunting     : Suparto Brata

Cetakan Pertama: Mei 2008

Tebal       : xi+ 225 halaman

Harga : Rp 25.000,-

Ukuran: 19 x 13 cm

ISBN: 978- 979- 25- 2973-9

Penerbit:

Henk Publica

Gedung Graha Pena Lantai 17 Ruang 08

Jl. Ahmad Yani 88 Surabaya 60234

Telp 031- 829 4678

Fax 031- 829 4679

Email: octagon@wavepluz.net

 

 

 

Dari Penerbit

Kamus Yang Terlahir dari Kontroversi

Ketika JTV mulai menayangkan program berita Pojok Kampung yang menggunakan bahasa Suroboyoan, timbul reaksi pro-kontra di kalangan masyarakat Surabaya. Sebagian arek Surabaya menganggap itu benar-benar mencerminkan bahasa Suroboyoan. Sebagian lain mengatakan itu sama sekali bukan bahasa Suroboyoan yang sepatutnya digunakan untuk program berita, yang mestinya menggunakan bahasa formal. Itu adalah bahasa kampung Suroboyo yang digunakan untuk program berita. Itu adalah kampung Suroboyo yang digunakan pada saat orang tukaran (bertengkar/berkelahi) atau sedang ngamuk (marah). Artinya, terlalu kasar sebagai bahasa formal. Jadi selain ada perbedaan tentang apakah bahasa Pojok Kampung itu bahasa Suroboyoan atau bukan, juga ada persoalan mendasar dunia televisi, yaitu bahwa bahasa berita di televisi, apapun bahasanya, mesti bersifat formal/resmi.

 

Merespon pro-kontra atas apa dan bagaimana Bahasa Suroboyoan itu sebetulnya, M.Djupri, seniman dan wartawan, mulai menyusun buku ini. Bakal buku Kamus bahasa Suroboyoan ini telah dikerjakan sejak beberapa tahun yang lalu. Memang tidak mudah menyusun sebuah kamus, apalagi kamus dari bahasa yang tengah menjadi kontroversi, dan belum ada rujukannya. Penulis yang dibekali keberanian dan niat tulus ini dengan tekun mengumpulkan kosa kata khas Suroboyo, dari program berita Pojok Kampung yang mengilhaminya, dari berbagai bacaan lain, maupun dari arek-arek Suroboyo yang merupakan "kamus berjalan" yang dijumpainya.

 

Kendala yang dihadapinya tak mudah: a) belum pernah ada kamus Bahasa suroboyo sebelumnya, b)bahasa Suroboyo memiliki cukup banyak perbedaan dengan Bahasa Jawa sebagaimana dikenal masyarakat umum, c) Bahasa suroboyoan tengah menjadi perdebatan (pro-kontra) karena penggunaannya yang mencolok di program berita televisi, d) tak ada cukup referensi mengenai materi tulisannya. Oleh sebab itu, ketika buku ini jadi, usahanya patut diapresiasi dengan langkah berikutnya, yaitu menerbitkannya.

 

Penerbit Henk Publica tertraik menerbitkan buku ini karena penebit menilai buku ini dapat memberi sumbangan yang amat berharga kepada perkembangan dan khasanah bahasa dan budaya bangsa. Kamus Bahasa suroboyoan ini diharapkan dapat meneruskan tradisi pengkajian bahasa dan budaya tradisional yang begitu kaya di Indonesia. Kekurangsmpurnaan kamus ini, oleh sebab itu, diharapkan dapat memicu dan memacu terbitnya buku-buku berikutnya dalam wilayah kajian yang sama. Akhir kata, semoga Kamus ini bermanfaat bagi kalangan akademisi maupun praktisi yang kerap bersinggungan dengan Bahasa Suroboyoan.

 

 

 

 

 

Biodata Penyusun:

M.DJUPRI dilahirkan di Surabaya, 15 Desember 1952. Masa kecilnya tinggal di kampung Ngaglik (Sawah Timur, kini: Tambak Windu), sebelah utara Stadion 10 November Tambaksari. Belajar di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Rakyat, juga tak jauh dari stadion itu, yang di era Orde Baru dibangun menjadi seperti sekarang ini. SMP Negeri 8 di Jl. Bunguran, dan SMA Negeri 9 di Jl. Wijaya Kusuma. Pernah kuliah, dan tidak sampai tamat, di Jurusan Bahasa Indonesia FKSS IKIP Negeri Surabaya. Semasa kuliah, antara 1973-1975 mulai senang menulis: puisi, cerita pendek dan esai. Dimuat di Surabaya Post, Jawa Pos, Surya, Bhirawa, Liberty, Bintang Baru, Bali Post, surat kabar kampus Media Airlangga, Salemba Universitas Indonesia, Sinar Harapan, Suara Karya, Pikiran Rakyat, dll.

 

Pernah aktif di surat kabar Mingguan Mahasiswa, kemudian berganti Mingguan Memorandum pimpinan Agil H Ali almarhum. Pernah pula mendirikan majalah kebudayaan TREM bersama Nurinwa Ki S Hendro winoto, Peter A Rohi dan Saiff Bakham.

Aktif di grup kesenian dan kepemudaan Bengkel Muda Surabaya yang bermarkas di Jalan Pemuda. Juga aktif di grup sastra 6 Januari 72 Art  bersama Ismoe rianto, Toto Sonata, Amang Mawardi dan Suharmono K.

 

Tahun 1982 pindah ke kota Malang dan bekerja di suratkabar Suara Indonesia. Bersama istri dan dua anaknya tinggal di kota itu, sampai sekarang. Saat ini masih aktif di dunia pers, di tabloid Teduh, Surabaya.

 

Kritik dan saran: mdjupri@yahoo.com

 


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: