20 Juli 2008

[ac-i] sodara adep, ayo lebih fokus

Sodara Adep,


"Si makhluk ini" lah baca sodara Adep ampunya jawaban, gumbira juga kalu ternyata ada mau jawab, en sedia keluar kandang milist Sahabat Museum masup dalam milist ACI sebab "si makhluk ini" denger itu jawaban "si makhluk ini" kena sensor trada boleh masup milist sahabat museum. Meski anehnya kritik sodara David Kwa terhadap sodara Adep yang juga adalah tanggapan surat "si makhluk ini" ada dimasukin milist Sahabat Museum.. Aha, ini ada kemajuan sikap, meski masing ngelantur en trada juga mengarti mana kembangannya ini polemik en mana pokok bagiannya yang mesti kudu harus di jawab biar sualnya lebih purnama, jembar, terang.


"Si makhluk ini" trada akan berpanjang-panjang, baek mari kitaorang kumbali pada sual yang memulai ini polemik (sebab dengan begitu akan lebih terarah en ada pelajarannya buat kitaorang semua), yaitu advertensi alias iklan JELAJAH KOTA TOEA : JALAN-JALAN SORE KOTA TUA dari KOMUNITAS JELAJAH BUDAYA sodara Kartum. Ini dia itu advertensi (dikutip lengkap):


Sejak abad ke-14 pelabuhan Sunda Kelapa merupakan bandar laut yang cukup ramai di Nusantara,berbagai suku bangsa datang untuk melakukan perdagangan. Pada tanggal 22 Juni 1527 Fatahilah menaklukan kerajaan Sunda Pajajaran serta mengusir Portugis dari pelabuhan Sunda Kelapa dan mengantinya dengan Jayakarta. Pada tahun 1619
Jayakarta dapat dikuasai oleh VOC maka bedirilah Batavia .

Pembangunan mulai dilakukan di kota yang baru ditaklukan ini, dari mendirikan gudang rempah-rempah, membangun jalur transportasi Kali Besar hingga mendirikan sebuah bangunan yang bernama Stadhuis (Balai Kota), penelusuran perkembangan Kota Toea Jakarta dapat anda ikuti dalam kegiatan : JELAJAH KOTA TOEA : JALAN-JALAN SORE KOTA TUA

Nah, ini dia kritik "si makhluk ini" (dikutip lengkap):


Aduh, Meneer Kartum ngapa kamu bikin publikasi macem begini kacau dan anakronis. Jangan malu-maluin orang sejarah dong. Mesti up date gitu lho. Biar bisa bikin publikasi yag lebih giman gitu. Ironisnya ini bukan Meneer Kartum aja tetapi juga lelaen orang yang ada bikin kegiatan-kegiatan jalan-jalan kota tua. Dus, tulunglah kalian jangan
hanya pertebal kantong juga perbanyak peserta tetapi juga pertebal semangat membaca sumber dan perbanyak istigfar agar jangan terus melulu menyesatkan orang dengan keterangan sejarah yang gak karuan, jangan jadi macem dinas kebudayaan dki dong, yang keberadaannya cuman beritung proyek doang tapi semua proyeknya satupun tak ada yang tidak menyesatkan.

Nah, mohon maaf saya jadi mesti tulis begini keras, trada maksud laen kecuali karena inget kalian yang ada dianggap, ada dipercaya dan jadi tujuan orang buat numbuin rasa cinta orang Jakarta yang kepingin tahu kotanya lengkap dengan sejarahnya, tradisinya.

Tabe srenta hormat.

Aha, sekarang "si makhluk ini" sekali lagi mo tanya sodara adep juga Kartum en yang lelaen aktivis jalan-jalan kota tua Jakarta, apa trada ngerasa kalau itu keterangan sejarah dalem itu advertensi – seperti "si makhluk ini" bilang "kacau dan anakronis serta ga up date"?


"Si mahluk ini" pingin dengar sodara adep juga kartum ada angkat bicara, kasi bukti bahwa data sejarah dalem itu advertensi ada tepat dan dengan demikian yang "si makhluk ini" bilang itu emang melantur en cuma didorong – pinjem kata sodara adep dkk batmus – oleh perasaan syirik srenta iri liat kesusksesan sodara adep?


Jawaban sodara adep dkk batmus "si makhluk ini" arep jangan lagi melantur, sejek karang mari kitaorang fokus pada sual data sejarah itu advertensi yang "kacau dan anakronis serta ga up date". En dengan begitu sodara adep, kartum dkk batmus pun bisa berasa bahwa kritik "si makhluk ini" sebagai – pinjem lagi omongan sodara adep – "kritik dan masukan yang membangun supaya gue bisa mempertahankan yang udah bagus dan memperbaiki apa yang kurang untuk lebih bagus lagi di kemudian harinya, bukan seperti hanya bisa komplein dalam segala hal dan mencari-cari kesalahan orang lain"..


Lagi pula dengan begitu pula sodara adep aken bisa kasi bukti bahwa SAHABAT MUSEUM dkk sejenisnya dalam kegiatan-kegiatannya mengajak orang untuk lebih aware terhadap museum & sejarah. Tentu sejarah yang tidak melantur. Persis jargon yang sodara adep tulis besar-besar dalem "sekilas sahabat museum" (dikirim pada siapa saja yang gabung dalem milistnya) bahwa sahabat museum itu jalan "Dengan berbekal pengetahuan yang matang mengenai sejarah Jakarta ".


Sebelonnya "si makhluk ini" via sodara Indra Bataviase Nouvels lah minta tulung supaya diamprogin dalem satu forum tatap muka terbuka buat mendiskusikan ini sual, tapi sayang sodara adep ada menolak en berasa trada pentingnya (seperti dikata berjkali dalem penutup suratnya). Nah karang "si makhluk ini" pengen tahu jawaban sodara adep atas sual yang "si makhluk ini" bilang "kacau dan anakronis serta ga up date"?


Tulung sodara adep srenta kartum jawab ini pertanyaan sebab dengan begitu sesungguhnya juga sodara adep dan kartum telah – pinjem kata sodara adep lagi – konsentrasi ke hal-hal yang lebih penting dan berbobot… gimana caranya bisa lebih mensosialisikan sejarah ke masyarakat umum, gue pengen orang lebih mencintai negeri kita Indonesia, nah makanya seneng banget en rajin banget bikin acara macam ginian [jalan-jalan kota tua], pengen masyarakat umum bisa lebih mencintai sejarah bangsa sendiri dan bisa sering-sering dateng ke museum.


Dengan jawaban sodara adep juga kartum, tentu kitaorang semua aken tahu bahwa  marika memang lah kerja keras, senang dan rajin banget buat "mensosialisasikan sejarah ke masyarakat umum, [bikin] orang lebih mencintai negeri kita Indonesia, [bikin] masyarakat umum bisa lebih mencintai sejarah bangsa sendiri", tapi dengan bukan sejarah yang melantur dan kacau sehingga melanggengkan orang dalam kesesatan sejarah.


Tabe srenta hormat.


"Si mahkluk ini"

JJ Rizal


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: