14 Juli 2008

[ac-i] Re: supaya sodara adep lebih purnama (kritik sahabat museum dkk 2)

Wuidiiiiih, gue juga dapet nih kiriman email via japri tentang
tulisan lo yang "memuja" gue sebanyak 12 halaman… wuidiiiihh...
huebaaaaaaaattt !!!

Katanya situ sejarawan hebaaaattt, tapi sebelum nyebarin gossip yang
nggak bener, cross-check dulu dong tentang asal muasal dan siapa aja
pendiri SAHABAT MUSEUM ini… Nih, baca ya, sebelum lo ngalor ngidul
tambah nggak jelas dan diketawain sama semua orang yang udah
ngikutin perjalanan SAHABAT MUSEUM dari dulu kala… hehe

Komunitas gue ini berdiri adalah hasil kumpul-kumpul gue dengan
temen-temen UI gue, ada Sastra Cina, Sastra Belanda, HI Fisip, Hukum
dan Psikologi. Setelah sering kongkow-kongkow ngobrolin sejarah,
temen-temen gue itu yang mendukung gue untuk membuat komunitas anak
muda pecinta sejarah generasi MTV yang selain suka jalan-jalan,
makan-makan, photo-photo dan tentu saja mencintai sejarah, heritage
dan segala sesuatu yang bersifat tempo doeloe, hingga akhirnya kita
rembukan dan menemukan nama yang tepat untuk komunitas ini, yaitu
SAHABAT MUSEUM yang didirikan pada tanggal 31 Agustus 2002 (asiiiik…
bentar lagi ulang tahun yang ke-6).

Sedangkan anak-anak UNJ (Universitas Negeri Jakarta, dulunya IKIP)
yang lo sebut nama-namanya itu, baru gabung satu tahun (baca yah,
satu tahun booook) SETELAH komunitas ini terbentuk dan menjalankan
kegiatannya. Halloooo, kemana aja lo selama ini?

Nah, supaya lo tau & ngerti, secara komunitas gue makin lama makin
besar, untuk ngadain suatu acara dan minta ijin kepolisian dan izin-
izin instansi terkait lainnya, mereka mengajukan persyaratan bahwa
untuk membuat suatu acara yang lebih dari 100 orang harus dibawah
naungan suatu instansi resmi supaya nggak dikira mau demo atau bikin
huru hara, maka dibentuklah Yayasan SAHABAT MUSEUM pada tanggal 12
Mei 2003.

Ya, lo bener banget, Yayasan SAHABAT MUSEUM emang yayasan keluarga.
Kenapa begitu??? Kenapa enggak? emang nggak boleh? atau lo yang
bikin peraturan kalo yayasan itu nggak boleh dibawah naungan
keluarga??? hehehe… Lucu deh lo... Sampoerna Foundation adalah
contoh salah satu yayasan yang dikelola oleh kalangan keluarga
sendiri yang sangat terkenal di Indonesia, bahkan di dunia… (baca
koran deh mas)

Tapi alasan yang paling penting yayasan tersebut di-handle oleh
keluarga adalah karena selama ini yang mengeluarkan uang untuk
membiayai operasional, menyiapkan segala logistik dan perlengkapan
pendukung acara, juga yang mengurus masalah perizinan acara SAHABAT
MUSEUM dari nol sampai sekarang ini adalah keluarga gue sendiri.

Dari dulu awalnya berdiri gue berjuang sendiri dan yang ikutan
bantuin acara gue baru 10 orang, sampai akhirnya gue dibantu temen-
temen volunteer dan sampai sekarang peserta yang udah ikutan acara
Plesiran Tempo Doelo berjumlah ratusan bahkan ribuan orang, tidak
satu pun teman-temen atau instansi-instansi luar pernah membantu
dalam segi keuangan atau penyediaan alat-alat yang mendukung
operasional (mobil operasional, telpon, fax, internet, scanner,
laptop, infocus, megaphone, speaker phones, etc, etc) . Sedangkan
kalo lo sedikit "mikir" atau lo pernah mengadakan suatu acara, lo
pasti ngerti, kalo mengadakan suatu acara terus menerus secara
konsisten itu mengeluarkan banyak sekali uang dan sekali lagi, uang
yang gue pake untuk ngejalanin semuanya adalah uang pribadi atau
keluarga. Oh, I love my family!

FYI, Anak-anak UI ataupun anak-anak UNJ lainnya yang dulu ikutan
bantuin gue sampe sekarang pun masih banyak yang bantuin, biarpun
nggak selalu setiap saat, karena semua panitia yang ada di komunitas
ini bersifat VOLUNTEER alias SUKARELA, mereka tidak dibayar, dan
tidak ada keterikatan kerja. Mereka bisa bantu kapan aja, dan bisa
keluar kapan aja mereka mau, karena mereka tentunya juga punya
kehidupan lain selain di SAHABAT MUSEUM. Sampe sekarang kita punya
50 orang volunteer yang gonta-ganti membantu kegiatan SAHABAT MUSEUM
kapan mereka bisa atau kapan mereka mau. Ada yang udah hilang
beberapa lama, tapi kembali lagi membantu. Mereka pun keluar dengan
berbagai macam alesan, dari yang menikah, sekolah ke luar negeri,
dapet kerja kantoran, sampe pengen membuat milis sendiri dan membuat
komunitas dan kegiatan yang sama persis dengan SAHABAT MUSEUM. Tapi
at the end, sampe sekarang kita masih keep in touch kok.

Dan kadang-kadang teman-teman yang membantu jadi pantia dateng ke
acara SAHABAT MUSEUM sebagai peserta yang cuman mau jalan-jalan atau
sekedar bernostalgia dengan teman-teman SAHABAT MUSEUM yang udah
mereka anggap udah seperti sodara sendiri. Dan banyak dari mereka
yang suka main ke markas besar SAHABAT MUSEUM alias ke rumah gue,
ada ataupun tidak adanya gue di rumah, karena hubungan mereka yang
dekat dengan orang tua gue yang udah mereka anggap orang tua dan
keluarga sendiri.

Mengenai yang lu bilang gue mau nulis di majalah, kan lu udah gue
ceritain kalo gue ditawarin nulis, dan tawaran itu disodorkan
langsung oleh pemilik majalah agar gue menulis di majalahnya,
lha..... kaaaan gue malahan nawarin ke lo tentang ini, gue kan
bilang gue kagak pede untuk nulis dan gue minta pendapat lo, dan lo
malahan minta ditanyain sama si owner free magazine itu (majalah
Area) agar lo diberikan kesempatan untuk menulis, tetapi mereka
bilang mereka pengen gue aja, mereka pengen figur penggerak SAHABAT
MUSEUM, mereka bilang mereka kagak perlu sejarawan, makanya gue
berkonsultasi dengan Pak David Kwa. Tapi FYI, sebelom gue minta
tolong Pak David untuk ngoreksi tulisan gue, gue bikin dulu draftnya
dengan pikiran dan tulisan gue sendiri, tapi kesalahan & kekhilafan
gue pada waktu itu adalah gue tidak menuliskan narasumbernya, yaitu
Pak David Kwa (wong baru pertama kali nulis untuk media). Tapi untuk
tulisan-tulisan berikutnya dan di iklan-iklan PTD berikutnya, gue
selalu menulis nama Pak David Kwa atau narasumber lainnya sebagai
sumber pendukung bahan tulisan gue, tapi tentu saja lo nggak tau
itu, dan pasti nggak mau tau karena yang lo akan selalu liat adalah
kesalahan-kesalahan gue aja kan, iya nggak? hehehe

Berbicara mengenai popularitas. Hhmmmm, kalo gue populer, itu salah
gue??? Kalo pun (menurut lo) gue populer, kayaknya bukan karena
tampang gue yang emang udah ganteng dari sononye (bwehehehe,
hueeekkk), tapi lebih dari prestasi gue yang mereka liat. Lagipula,
lo juga kan yang selalu bilang berulang-ulang kalo gue populer,
padahal gue-nya sendiri merasa biasa-biasa aja tuh. Cuman emang
seringkali kalo ada media yang meliput, gue sharing di milis gue
(ingat, milis gue, bukan milis tetangga) untuk mengajak orang makin
mengenal SAHABAT MUSEUM dan kegiatan-kegiatannya dalam mengajak
orang untuk lebih aware terhadap museum & sejarah.

Kalo lo ngikutin kegiatan SAHABAT MUSEUM dari awal berdiri dan lo
ngeliat ribuan klippingan koran/majalah/tabloid/videotape/vcd/dvd
dari media-media yang temen-temen kumpulin/kirimkan ke gue sampe
sekarang, pasti lo akan tau kalo banyak volunteer SAHABAT MUSEUM
yang juga sering di interview oleh media. Volunteer-volunteer lama
seperti anak-anak UNJ yang lo bilang kagak pernah di interview aja
pernah masuk koran dan tipi, misalnya Ali pernah masuk Suara
Pembaruan, Andra pernah masuk Trans TV, Dian dan Maya pernah masuk
Metro TV, Ajeng pernah masuk RCTI, Ahmad Q pernah masuk Anteve, dan
masih banyak lagi, sori gue gak begitu inget, gue malah yang motret-
motretin si Andra volunteer kita dari UNJ waktu dia di interview
oleh TV (mau liat photo-photonya? hehehe), dan banyak lagi volunteer
lepas SAHABAT MUSEUM yang sering diinterview media.

Tapi apakah lo tau itu? tentu tidak, karena sekali lagi pasti yang
lo liat cuma jeleknya orang aja. Yang gue tau, kebanyakan volunteer
SAHABAT MUSEUM suka males diinterview media dengan alesan mereka
nggak terlalu memahami sejarah dan malu kalo ditanya media tapi
nggak ngerti bahasannya. Mereka bantu-bantu di SAHABAT MUSEUM karena
seneng berteman, seneng berorganisasi, seneng jalan-jalan, makan-
makan dan photo-photo, dan menjalankan semuanya dengan hepi dan hati
juga pikiran yang bersih. Dua volunteer abadi yang selalu bantu
SAHABAT MUSEUM yaitu Deedee & Ninta aja sampe sekarang nggak pernah
mau diinterview oleh media karena mereka cuma tertarik membantu di
belakang layar aja atau membantu pada hari H, dan selalu mengarahkan
media tersebut untuk interview gue sebagai owner dan founder
komunitas SAHABAT MUSEUM. Mungkin jalan pikiran mereka nggak sama
dengan jalan pikiran lo. Mereka nggak merasa bahwa bahwa diinterview
atau di-expose oleh media itu sangat penting dalam kehidupan mereka.
Lain halnya dengan lo yang selalu ngebahas tentang interview dan
kepopuleran seseorang, bukan melihat dari segi apa yang orang itu
kerjakan atau kerja keras apa yang telah membuahkan hasil.

FYI, setelah bertahun-tahun berdiri dan telah melakukan berbagai
kegiatan baik yang mengenakan biaya maupun yang gratisan buat
masyarakat, gue juga sering terima kritikan, tapi temen-temen gue
biasanya ngasih kritik dan masukan yang membangun supaya gue bisa
mempertahankan yang udah bagus dan memperbaiki apa yang kurang untuk
lebih bagus lagi di kemudian harinya, bukan seperti lo yang hanya
bisa komplein dalam segala hal dan mencari-cari kesalahan orang lain.

Oh ya satu lagi, dari dulu sampe sekarang gue kagak pernah mengklaim
diri sebagai sejarawan, gue selalu menyebut diri gue sebagai
penggerak orang-orang untuk berkunjung ke museum, tempat-tempat
bersejarah tempo doeloe di Tanah Air, tapi kalo ternyata tindakan
gue masih tetep (dan akan selalu) lo anggap salah, Oh Tuhaaaann...
wake up, get real, and get a life!

Udah ah,
Buang-buang waktu gue aja untuk untuk ngebahas hal-hal seperti ini,
tapi emang perlu diklarifikasi agar orang lain yang nggak tahu
menahu juga berhak mengetahui apa yang sebenarnya.

Terserah lo mau ngomong apa lagi ke dunia luar, they know me better.
Orang-orang yang kenal gue dan appreciate kerjaan gue lebih tau
siapa gue.

Mendingan gue konsentrasi ke hal-hal yang lebih penting dan
berbobot. Mendingan gue mikir gimana caranya bisa lebih
mensosialisikan sejarah ke masyarakat umum, gue pengen orang lebih
mencintai negeri kita Indonesia, nah makanya gue seneng banget en
rajin banget bikin acara macam ginian, gue pengen masyarakat umum
bisa lebih mencintai sejarah bangsa sendiri dan bisa sering-sering
dateng ke museum.

Tapi makasih lho, udah capek-capek nulis berlembar-lembar dan
membuat gue tambah populer, hehehe.

salam manis selalu,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM

--- In artculture-indonesia@yahoogroups.com, Jj Rizal <sibetung@...>
wrote:
>
> Sodara adep
>
> Saya jj rizal, akan jawab jij ampunya email balesan ka orang
> yang jij sebut sebagi "si makhluk ini".
>
> "Si makhluk ini" kaget juga aken mendapet tanggapan yang
> begitu rupa gahar en trada keliatan barang sepotong rasionya dari
sodara adep. Begimana
> tidak jadi ilang rasionya seumpama saben-saben nonggol sederet
tanda seru (!!!)
> en menurunkan derajat seseorang dengan tidak menyebut namanya dan
dengan sekarepe dewek nyebutnya "si makhluk
> ini". Pedahal, minta saja "si makhluk ini" gunakan pembuktian
terbalik.
> Mintalah "si mahkluk ini" membuktikan yang dikatakan kacau dan
anakronis serta
> ga up date. Pedahal inilah titik
> sualnya yang utama.
>
> Tapi sudahlah, sementara "si makhluk ini" aken tunda kasi
> terang yang disebutnya sebagai "kacau dan anakronis serta ga up
date". Ini kali
> "si makhluk ini" aken pake kesempatan ini buat jemberengin alias
paparkan begimana
> "si mahkluk ini" ada kenal sama sodara adep. Bukan mao beriwayat
yang
> bertele-tele tetapi dengen cara begitulah kitaorang aken lebih
jembar alias terang
> macem bulan purnama (sebegimana sodara adep ampunya orang tua
templokin itu
> kata sebagi nama sodara adep) dalem liat item putih kelabu langit
sualnya.
>
> Kalu trada salah perkenalan kajadiannya itu antara 2002/2003..
> Itu kutika "si mahkluk ini" bersama Tuwan Ridwan Saidi, Yahya Andi
Saputra,
> Zefry Alkatiri dan David Kwa lagi ada kreja bareng iaitu urus
majalah KITA SAMA
> KITA (KSK). Bukan maksud nyohorin atawa memuji buatan kendiri
tetapi itu kutika
> emang marika yang senang sejarah Jakarta-Batavia-Betawi tempo
doeloe bakalan
> nefsong alias kabengbat atawa kepincut dengan ini majalah, sebab
isinya emang
> cerita-cerita tempo doeloe ibukota dengan gambar en foto kuno yang
spesial.
> Nah,ora tau begimana jalannya sekonyong-konyong datenglah kabar
dari Mevrauw
> Tinia Budiati (kepala museum sejarah jakarta),
> kepada "si makhluk ini" srenta temen-temannya untuk ngadep. "Si
makhluk ini" dkk
> pun pegi ngadep en lantas taulah kitaorang kalu Mevrauw Tinia
ternyata ada
> minta pendapet begimana caranya bikin gairah en numbuin dalem jiwa
en ati warga
> Jakarta supaya ada peduli en mau ikut srenta liat, lantas sayangin
sejarah
> srenta peninggalan-peninggalan kotanya marika. Sonder tanya lagi
lantaran "si mahkluk ini" srenta temen-temennya ada
> berasa punya kasejajaran visi en misi dengan yang kitaorang
dongdong-dongdong
> sebagi idealisme dalem KSK, maka kitaorang pun bikinken rencana
supaya itu
> kemaoan Mevrauw Tinia ada kawujud.
>
> "Si mahkluk ini" masing inget kalu itu kutika ada beberapa
> rencana. Si makhluk dkk pun diprait alias dibagi jadi tim-tim
kecil. "Si makluk ini" dengan Zefry Alakatiri
> kebagian buat bikin pameran foto atawa lithografi dll yang bekait
dengan
> sesuatu peristiwa sejarah di Jakarta.
> Sedengkan Tuwan Ridwan dengen Yahya Andi Saputra srenta Koko David
Kwa dengan Tuwan Isa dari Museum Sejarah Jakarta ada ngejalanin
program acara yang disebut sebagi "WISATA KAMPOENG TOEA" potong
> letter alias disingkat jadi WKT. Itu acara emang nanggok sukses
buesar. Boleh
> dikata kumbali ngidupin acara sejenis yang lah mati sejek dulu di
taon 70-80-an
> sempet rame muncul di antara upper midlle
> class Jakarta.
> Dapet sambutan heibat. Tapi sayang dalem mana orang lah begitu
antusias, ada
> selisih paham antara Tuwan Ridwan saidi dengan Mevrauw Tinia. Tapi
itu WKT
> terus jalan en "si makluk ini" dengan Tuwan Yahya Andi Saputra
srenta David Kwa
> masing ada kontak dengan Mevrauw Tinia meski Tuwan Ridwan Saidi
selaku hoofredactuur (pemred) KSK lah mundur. Di
> sinilah "si mahkluk ini" dkk lantas diamprogin dengan sodara adep.
Sebab sodara
> adep itulah yang disarankan Mevrauw Tinia aken kasi bantu sebagi
pelaksana
> lapangan itu acara WKT. Orang karang bilang sodara adep itu sebagi
EO (even
> organizer).
>
> Sonder Tuwan Ridwan Saidi itu acara emang tetep nanggok
> sukses buesar. Mingkin berasa WKT itu kutika boleh dikata kumbali
ngidupin
> acara sejenis yang lah mati sejek dulu di taon 70-80-an en sempet
rame muncul
> di antara upper midlle class Jakarta. Dapet sambutan
> heibat. Ini tentu trada lepas dari pratian yang dalem srenta
kepiawaian Koko
> David Kwa sebagi orang yang emang "si makhluk ini" dkk mufaketin
tanggungjawab
> en bikinken konsep srenta langsung ambil peran sebagi pemandu
dengan kreja
> organisasi sodara adep yang sebat alias cekatan. Nah, sejek itulah
sodara adep
> jadi salah satu orang yang saben-saben dateng ka redaksi KSK di
Puri Matari
> (Kuningan), buat ngobrolin acara WKT atawa ngalor-ngidul ngobrol
sual
> Jakarta-Betawi tempo doeloe en kasi jawab atawa terang sual-sual
kesejarahan
> yang ditanyai sodara adep. En sebegimana sablonnya "si mahkluk
ini" ini sebut, "si
> mahkluk ini" dkk ada berasa gumbira liat sodara adep ampunya
sumanget buat
> mengorganisir kegiatan jalan-jalan kota en lah mulai keliatan
tanggapan dari media-media beken saben ada acara WKT. Banyak
> pula orang daftar sebagi volunteer alias sukarelawan yang akan
dijadiin pemandu
> dengan sablonnya ditentir dulu sekutika sejarah tempat-tempatnya
yang bakal
> didatengin langsung oleh Koko David Kwa.
>
> Begitulah, saben acara jalan-jalan pun peserta mingkin
> bengkak, nambah besar. En seiring itu sodara adep pun namanya juga
mingkin
> bengkak, melambung, sohor dan populer di antaro Jakarta,
> malahan ke seluruh Indonesia.
> Tapi dalem kemasyuran itu pula "si makhluk ini" ada dengar en liat
kendiri
> sodara adep ngadepin kritik dari para volunteer yang lah kasi
andil sejek pertama
> marika beraktivitas untuk membentuk sahabat museum, tapi sodara
adep ora peduli
> en lufa bahwa tanpa marika itu tentu sodara adep trada aken
sanggup bediriin en
> bikin jadi besar sahabat museum.
>
> Tentu sodara adep trada bisa belaga lufa aken marika semua.
> Marika ada 10 orang. Anatara lain yang masing saya inget adalah
damar, andra, yenni,
> henny, ali, andra, yanto, shofa. Marika itu pilih tinggalken
sodara adep sebab
> marika berasa lah gerah dengan gaya hero
> worship (yang paling menentukan dan harus selalu paling depan)
dalam setiap
> kesempatan dan apresiasi yang tak layak secara materi pedahal
marika itu –
> pinjem kata sodara adep –bikin konsep, ngurus perijinan, nyari
narasumber,
> kesana kemari (pake mobil, dan mobil minum bensin!) untuk biaya
laen-laen seperti
> makan pas survey, rapat, trus juga buanyak deh hal-hal kecil dan
berat yg
> kayaknya kagak usah disebutin satu per satu di
> sini, ribetnya, betapa capek.. Juga yang non-materi (ga kebagian
tampil di media
> sebab diborong sodara adep melulu). Termasuk prilaku nevotismenya
sodara adep
> yang keterlaluan dengan membentuk yayasan sahabat museum trus
melupakan mereka
> semua yang telah menemani dan mendukungnya sejak mula, tetapi
malah pilih memasukkan
> anggota keluarganya saja.
>
> Itu kutika "si mahkluk ini" ini dkk trada pernah berasa iri
> apalagi dengki dengan pencapaian sodara Adep. Juga trada mao ikut
dalem sodara
> adep ampunya sual dengan para volunteernya yang berasa trada
mendapet keadilan.
> Seumpama kemudian muncul sikap jengkel "si mahkluk ini" dkk
terhadap sodara
> adep adalah lantaran tau sodara adep ada melakukan tindakan
yang "si mahkluk
> ini" dkk nilai sebagi trada punya liangsim (kesopanan), bahkan
trada bermoral.
>
> Begini ceritanya. Dalem kepopuleran itu sodara adep akhirnya
> memang dinilai oleh media, orang atau lainnya sebagi bukan sekadar
orang
> lapangan, organizer tetapi juga sebagai seorang pakar, ahli
sejarah Jakarta. Waktu awal-awal
> "si mahkluk ini" dkk emang masing berasa sodara adep itu ada
ngarti menempatkan
> diri dan mengarahkan tiap ada pertanyaan-pertanyaan yang menuntut
kealian dalam
> sejarah kepada Koko David Kwa atawa Tuwan
> Ridwan Saidi en Yahya Andi Saputra. Menempatkan diri sebagai EO.
Tapi
> belakangan "si mahkluk ini" dkk mulai berasa bahwa sodara adep ora
kuat lagi
> ngadepin rayuan mendapat popularitas ganda. Trada cukup deh
sekadar EO, tetapi
> juga mesti plus pakar sejarah Jakarta.
> Lagi pula ini kan kesempatan yang emang lah diablakin pintunya
oleh macem-macem media ka dirinya.
> Ngafa ora disamber? "Si mahkluk ini" dkk pun ada pikir itu
keputusan yang bagus
> kalu sodara adep ambil. Tapi tentu ada sejumlah hal yang mesti
dilakonin sodara
> adep sablon sampe jadi sebagi ahli sejarah Jakarta.
>
> "Si mahkluk ini" masing inget suatu kutika di Perpustakaan
> Nasional lt. 7 lagi enak baca Sinpo disamperin sodara adep.
Ngatahlah sodara
> adep: "Saya kepengen bisa ngoceh juga nulis seluk beluk sejarah
Jakarta, gimana ya
> caranya?"
>
> "Si mahkluk ini" pun kasih jawab: "Ya mesti banyak baca,
> nguplek di perpustakaan en arsip juga melihara buku Jakarta en
bergaul dengan yang lah dianggep
> sebagi ahli sejarah Jakarta,
> nanti juga berasa siap dan bisa ngoceh srenta nulis koq. Asal
tekun srenta
> sabar serta garang membaca, pasti beres dah. Apalagi banyak
sumbernya basa
> Olanda, pan sodara Adep dari sastra Belanda UI, biar diploma juga
pasti lebih
> dalem Olandanya dari anak jurusan sejarah yang cuman 4 sks doang,
yang kalu
> udah ngadepin sumber Olanda mending pili ngadepin kuntilanak aja,
lantaran lebi
> gampang lawannya, pantek paku ubun-ubunnya beres dah."
>
> "Si mahkluk ini" emang kemudian berasa dalem tempo beberapa
> waktu sodara adep ada kurangan mampir di kantor redaksi KSK. Kalu
pun ada
> amprogan atau ketemuan yang sering dengan redaksi KSK maka itu
kayanya cuman
> dengan Koko David Kwa aja. Tetapi saban waktu biasanya selalu ada
sms atawa
> telpon sodara adep yang diterima "si mahkluk ini" dkk. Biasanya
ada nanya atawa
> minta info tentang sesuatu hal yang berkait dengen sejarah
Jakarta. En "si mahkluk ini" dkk dengan bares
> en senang ati ada akan penuhin yang diminta sodara adep. Tapi
kemudian "si
> mahkluk ini" dkk jadi kuciwa begitu tau kalu sodara adep lah
berbuat ora suceng alias fair. Dalem beberapa
> kesempatan "si mahkluk ini" dkk ada dapetin sodara adep sonder
malu lah copy en
> comot begitu aja tanpa bilang permisi apa yang kitaorang infokan
ihwal sesuatu
> hal sebegimana yang di tanya dalem telpon dll, untuk bahan dia
ngoceh srenta nampilkan
> diri dalem ngadepin media (wawancara,menulis dll) dan kaga pake
nyebut
> sumbernya sehingga dengan demikian terlihatlah dia sebagi
pakarnya.
>
> Sejek itu "si mahkluk ini" dkk tau kalu dateng telpon atawa
> sms dari sodara adep maka itu petanda dia aken ngadepin wawancara
atawa tampil
> sebagai pembicara, atau diminta menulis sesuatu tentang tempo
doeloe Jakarta. Yang "si mahkluk
> ini" masing inget adalah suatu saat Tuwan Yahya Andi Saputra
tanya:
>
> "Apa `si mahkluk ini' terima sms sodara adep yang ada minta
ceritain
> sual lebaran tempo doeloe di Betawi.
>
> "Ya, emang ngapa? Jawab "si mahkluk ini".
>
> Tuwan Yahya Andi Saputra lantas bilang, "ora usah dijawab, bilang
> aja kalu ada redio atawa tv atawa koran-majalah atawa apaan keq
itu yang mo
> tanya, suruh aja langsung hubungin kita".
>
> "Si mahkluk ini" emang ikut saran Tuwan Yahya Andi Saputra. Apalagi
> kutika "Si mahkluk ini"dapetin satu tulisan sodara adep yang
begitu bagus di
> satu free magazine sual perayaan Sin
> Tjia alias Imlek tempo doeloe di Betawi (kalu trada salah inget)
dan berasa
> kalu itu tulisan trada salah lagi pasti Koko David Kwa ampunya
kebisaan. Pan
> sebagi sesama orang redaksi KSK kitaorang bisa kenalin gaya
menulisnya srenta pengetahuan
> spesifiknya. Sual ini betul-betul trada bisa dikasi sembuni.
>
> Itu kutika "si mahkluk ini" langsung ambil kereta ka kantor
> en ketemuin Koko David Kwa seraya nyodorin itu tulisan. "Ini
tulisan Koko kan? Ngafa namanya yang
> muncul sebagai penulis bukan Koko, paling tidak tulisan dengan
nama bedua dong,
> itu baru suceng alias fair."
> Koko David Kwa emang baek orangnya, dia emang ngaku lah
> nimbrung dalem itu tulisan malahan boleh dikata emang lah
memainkan peran besar,
> tapi dia ora mau panjang-panjangin itu sebagi soal. En "si mahkluk
ini" pun
> adem lah. Begimana kaga kalu liat Koko David yang begitu ikhlas en
ada dukung
> betul sodara adep buat maju, jadi sesuatu sebegimana yang diarep
sodara adep
> kendiri. Sebab itu Koko David banyak ambil peran dalem bikin macem-
macem bekait
> dengan sodara adep ampunya hajat, misalnya publikasi yang pake
basa Melayu
> Renda/Melayu Tionghoa yang menjadi trade mark sodara adep ampunya
acara.
> Tapi sayang Koko
> David ora dapet sesuatu yang setimpal dengan dia ampunya kebaekan.
Kalu lah
> begitu, "si mahkluk ini" sering ngenes sembari denger dia
ngatah: "biar Thian (Tuhan) yang beles".
>
> Tapi suatu kutika "si mahkluk ini" ada mendapet telpon dari
> sodara adep yang aken bikin Heritage Food
> in Heritage City di gedong Arsip Nasional Jl. Gajah Mada. Dia ada
minta
> tulung "si mahkluk ini" buat jadi pembicara sual sejarah makanan
di Jakarta bareng
> dengan Tuwan William Wongso, Myra Sydharta, Pia Alisjahbana en
Tuwan Yahya Andi
> Saputra. "Si mahkluk ini"ora keberatan permintaan yang pertama
ini, tapi kutika
> sodara adep ada bilang minta tulung dikasi info soal yang aneh-
aneh dan menarik
> seputar makanan di Jakarta tempo doeloe, maka "si mahkluk ini"
terus kaya kesambet dan nerocos ora
> juntrungan. Otak jail "si mahkluk ini" pun bangkit – entah syethon
mana yang
> liwat. Mulailah "si mahkluk ini" dengen spontan ngarang, membuat
djusta sejarah
> sebagi berikut:
>
> "Sodara adep, ada tuh yang unik cerita soto tangkar. Itu
> masakan jadi lantaran para jongos en babu ora sanggup beli daging
en kepaksa
> misti kumpulin sisa-sisa tulang-belulang dari ruma para Tuwan en
Nyonyanya,
> lantas ditangkar (dikumpulin) itu sisa-sisa daging yang ada en
masi nempel di
> tulang belulang dan dimasak".
>
> "Si mahkluk ini" trada sangka kemudian itu djusta yang maksudnya
> cuman bo'ong-bo'ongan malah muncul jadi bahan publikasi acara
Heritage Food in Heritage City. Labih kaget lagi kemudian tahu itu
cerita juga dipake dalem publikasi acara
> Festival Jajanan Bango pertama di Lapangan Banteng. Waduh, maksud
pengen jailin
> en bikin konyol-konyolan buat kaja kapok kajeblos sodara adep, eh
malah
> kebohongan sejarah itu menjadi kebenaran sejarah (accepted
history). Tapi "si mahkluk ini" kemudian sadar bahwa
> sodara adep detik itu memang telah menjadi orang yang dianggap
pakar dan sumber
> acuan sejarah Jakarta, jadi semua yang berasal dari dia dianggap
sebagai
> kebenaran sejarah, meski sumber dimana dia ambil itu keterangan
jelas bebeneran
> cuman ngebo'ong. Saya berasa beruntung banget sebab sodara adep
lebih panjang
> akal ketimbang akhlaknya, sebab dia ora sebut sumbernnya dari
saya, maka saya
> pun selamet lah dari cemar membuat kebohongan sejarah.
>
> Nah, cerita bo'ongan "si makhluk ini" itu selaen bisa kasi
> liat akhlaqnya sodara adep, juga bisa jadi bahan untuk memahami
sebenarnya
> seperti apa pemaham akan sejarah sodara adep. "Si makhluk ini"
kendiri merasa
> sodara adep trada paham hal paling dasar dari sejarah yang
salahsatunya adalah
> kritik sumber. Sodara adep asal telen aja en tidak melakukan
pengecekan silang
> atawa verifikasi.Dengan begitu sekutika sodara adep lah
menjadikan "si
> makhluk ini" sumber kebenaran. Waduh ini bukan saja ngawur dari
aspek
> kesejarahan tapi mesti ati-ati juga sebab dekat dengan tanda-tanda
kemusyrikan.
>
> Btw, intinya "si makhluk ini" mo kasi lihat supaya kitaorang
> dapet bukti sual begimana jauhnya pemahaman sejarahnya sodara
adep. Ini juga
> yang bikin kaget lho koq karang sodara adep tiba-tiba nerocos
kepada "si
> makhluk ini" (dikutip lengkap): "…itu
> informasi dari berbagai versi, lha kita semua kan juga kagak
ngalamin peristiwa itu bukan?
> jadinya kan semua infomasi itu didapatkan dari berbagai sumber,
dan menurut
> siapa sih, suatu peristiwa itu bener?!! cuma menurut lo? ya udin
kalo gitu,
> kalo lu ngerasa itu hanya pihak lu aja yang bener, yah monggo
mas.."
>
> Ya, kalu tau ada berbagai versi, juga sumber mengapa sodara
> adep telen mentah-mentah kebohongan sejarah yang "si makhluk ini"
bikin. Tapi
> itulah belangnya sodara adep, dia mo ambil gampang aja ora usaha
keras en
> dengan begitu dia bisa bekoar bahwa punya pengetahuan sejarah
tentang keunikan Jakarta dengan segala
> aspeknya yang ternyata adalah bualan belaka dari sumber yang emang
sengaja mau
> bikin dia kejeblos dalam menginformasikan sejarah.
>
>
> Ya, sodara adep memang telah jauh mendapat tempat khusus en
> pengakuan dalam dunia wacana sejarah Jakarta.
> Dia bukan saja EO, tapi juga bagian yang dianggap sebagai kaum
pakar sejarah Jakarta. Pinjem kata
> sodara adep, sudah jadi "keren hehehe". Besar EO-nya besar juga
legitimasi
> dirinya sebagi pakar sejarah Jakarta.
>
> Nah, terkait sama semua itu cerita "si mahkluk ini" nan
> panjang lebar di atas cuman mao kasi liat begimana sodara adep itu
nginjek
> pundak en kepala "si mahkluk ini" serenta temen-temennya sonder
punya liangsim buat
> dapetin pengarepannya supaya bisa dapet titel ganda, ya EO ya
pakar sejarah Jakarta. Berani sumpah, "si
> mahkluk ini" menyakini bahwa siapapun berhak jadi pakar sejarah
Jakarta, persetan latar
> belakangnya. Tetapi nilai dirinya adalah bagaimana proses ia
mencapainya. Dalam
> konteks ini seumpama dipikir sodara adep untuk yang pencapaian
yang kadua
> sedikit banyak boleh jadi contoh dari apa yang banyak kitaorang
ributin sebagai
> model mental umumnya banyak orang Indonesia karang, iaitu sual
mental
> menerabas yang ora mao susah payah berletih lelah boboran darah
untuk mencapai
> sesuatu. Tentu ini pinjam sekali lagi omongan sodara adep "tak
akan membuat lu
> keren hehehe".
>
> Tapi "si mahkluk ini" sebegimana temen-temen yang lelaen
> seperti Koko David en Tuwan Yahya trada berasa sebegimana yang
sodara adep
> bilang iaitu "iri hati…, dengki aauww… dari dulu proteeees mulu,
kompleeein
> mulu, dan kayaknya yang dilakukan kita-kita (komunitas-komunitas
yang die
> maksud), salaaaaah mulu." Juga `si makhluk ini" trada merasa
perlu "tanggapi
> secara sinis" koq, kalau mau tau siapa yang berhak menanggapi
sinis ada ya
> seperti lah "si mahkluk ini" bilang di atas: 10 volunteer WKT yang
kemudian
> bersama sodara adep membentuk sahabat museum en membesarkannya
itu. Marika
> tentu lebih berhak ambil sikap sinis, sedengkan "si makhluk ini"
trada
> untungnya koq. Malah lebih banyak mudarat ketimbang manfaat sebab
sodara adep
> dengan kharismanya bisa aja kasi prenta atawa pandangan supaya
kaum sanak
> beraya sahabat museum jangan beli buku masup jakarta. Atau malah
tanpa dihimbau
> teman-teman sahabat museum sudah bikin aksi boycot. Tapi saya
ngarep sodara adep
> en temen-temen sahabat museum masing punya akhlaq dalem ini sual.
Ya, percis
> kata Mevrauw Itut, "ilmu pengetahuan trada bersalah". Tabe srenta
hormat aken
> Mevrauw Itut ampunya kebaekan akhlak en kasih inget dalem ini
polemik.
>
> Perlu diketahui kalu "si mahkluk ini" bikin penerbit masup
jakarta juga salahsatunya lantaran kepengen
> mendukung apa yang sodara adep en temen-temen komunitas jak trail
jalanin. "Si
> mahkluk ini" kepengen temen-temen mudah mengakses bahan bahan yang
bisa
> diturunin sebagi sumber panduan. Tapi kalu ternyata setelah "beli
buku die
> sebagai salah satu sumber dari pengetahuan yang kita butuhkan"–
persis kata
> sodara adep – ora nampak ada pertambahan pengetahuan yaitu bukan
kesalahan "si
> mahkluk ini" dong. "Si mahkluk ini" cuman mensuplay doang, tapi
kan boleh merasa tegang
> sebab ada bahan koq masih gorengan lama aja yang diangetin (ga up
date). Ini
> nanti akan "si makhluk ini" kasi liat dalem surat untuk Meneer
Kartum.
>
> Jadi bukan seperti kata sodara adep "ah tetapi dia tidak
> melihat itu....", lha wong tanpa melihat kitaorang sudah bisa
berasa koq. Sodara
> adep emang kudu biasain taro kepala rada ke bawah biar deket bumi
jangan terus
> ngatas kepalanya sehingga trada bisa tangkep keluhan peserta jalan-
jalan kota yang merasa kekurang
> siapan pengetahuan yang jembar ihwal situs-situs yang dikunjungi.
Pedahal
> pasang jargon besar-besar dalem "sekilas sahabat museum" yang
dikirim pada
> siapa saja yang gabung dalem milistnya bahwa sahabat museum itu
jalan "Dengan
> berbekal pengetahuan yang matang mengenai sejarah Jakarta". "Si
mahkluk ini" trada soal dengan
> peserta yang lah merasa cukup kalu bisa jalan-jalan liat gedong
tua, dapat
> bahan foto bagus dll. Tapi mesti inget juga bahwa justeru ini
bukan sekadar
> jalan-jalan doang tapi juga suatu wisata sejarah (baca: ada
sejarahnya). Ingatlah
> aspek sejarahnya juga ada bukan cuman jalan-jalan doang. Pinjem
kata Koko David
> Kwa "Justru aspek sejarahnya ini yang penting, biar semua orang
yang mau tau
> "melek sejarah", jangan cuman tau sejarah dari buku sekolahan
doang. Jangan
> cuman tau sejarah dari versi yang suda "diresmikan", yang
seringkali juga bukan
> sejarah beneran, tapi ya memang "versi resmi"... Jalan-jalan doang
sih setiap
> saat juga bisa..."
> "Si makhluk ini" pernah ngobrol dengan Tuwan Bondan Kanumoyoso
> (ini ada historian dari Ui yang lagi kuliah di Leiden ambil fokus
Ommelanden), en dia ada
> satu kesempatan ikut jalan-jalan sahabat museum. En dia berasa
emang kurang
> mateng bekal pengetahuan sejarah sodara adep dkk yang bikin acara.
Tapi sejek
> mula Towan Adep lah kasih inget supaya Tuwan Bondan mahfum aja.
Lhaa…ngafa
> mesti disuruh mahfum, ngafa trada jadiin itu kesempatan buat
introspeksi en
> mengambil pelajaran untuk mematangkan pengetahuan sejarah Jakarta.
> En kalu "si mahkluk ini" dibilang sodara adep "gitu deh gak
> ngapa-ngapain hehe", maka cerita panjang "si mahkluk ini" di atas
sudah bisa
> ngasih liat kalu justru "si mahkluk ini" dengan terutama Tuwan
Ridwan Saidi,
> Zefry Alkatiri, Yahya Andi Saputra dan Koko David en berkat
kesempatan srenta
> prakarsa Mevrauw Tinia lah jadi bagian dari orang-orang yang
pertama
> ngebangkitin lagi model jalan-jalan keliling situs kota yang lah
lama mati suri.
> En justeru "si makhluk ini" dkk lah bangunin fondasinya buat
seterusnya sodara
> adep bangun gedongnya sonder pake bereken atawa beritungan kalu
sukses tar
> mesti dapet andil. Kalu karang lah besar EO-nya en adep kesohor,
gablek duit juga
> tokh "si mahkluk ini" dkk anggep itu emang rezekinya sodara adep.
>
> Andil? Balesan keuntungan? Trada itu kepikiran. Sebab itu
> "si makhluk ini" dkk trada pernah berasa kuciwa kalu ditanggep
oleh sodara adep
> sebagi narasumber atawa konsultan dll trada mendapet honor yang
setimpal, atawa
> cuman thank you doang. Bahkan
> seumpama cuman sekadar voucer belanja senilai Rp 150.000
sebegimana yang sodara
> adep kasi "si makhluk ini" dan Tuwan Yahya A. Saputra kutika
ditanggep sebagi
> narasumber acaranya Heritage Food in Heritage
> City yang begitu rame en jelas ngeruk banyak keuntungan. Aha, yang
ini
> sekalian buat kasih terang ka Mevrauw Herlina E. Pertiwi, biar tau
duduk
> soalnya yang bebeneran ngafa "si makhluk ini" kirim sms. En
terkait dengan
> acara Heritage Food in Heritage City, Koko David Kwa juga
> bisa cerita karena dia ada ngalamin nasib yang lebih menyakitkan
lagi.
>
>
> Kaget juga emang kalu sodara adep ternyata dalem emailnya
> nanggepin "si makhluk ini" begitu beritungan dalem sual duit.
Sodara adep
> bilang "lu pikir ngurus ini gampang? susah gila! konsep, ngurus
perijinan,
> nyari narasumber, kesana kemari (pake mobil, dan mobil minum
bensin!) untuk
> biaya laen-laen seperti makan pas survey, rapat,
> trus juga buanyak deh". Astaga, "si makhluk ini" jadi ngelus dada
deh kalu inget betapa "si makhluk
> ini" dkk trada beritungan begitu ketil en ketus dengan sodara adep
dulu-dulunya,
> kaga berlaku sebagai kruidener (tukang kelontong yang kikir).
>
> Begitulah "si makluk ini" dkk lah gotong royong sama-sama, terlepas
> dari kecil atawa besarnya, kasi peran dalem acara-acara sodara
adep, baek itu
> Wisata Kampoeng Toewa atawa kutika kemudian jadi "Plesiran Tempo
Doeloe". Sonder
> beritungan. Berlaku sebagi pedagang yang saben-saben teriak money,
piti, doku
> etc.
>
> Dus, itu tentu akan menjernihkan sesumbar sodara adep
> (dikutip lengkap) bahwa "kagak pernah bikin event kayak gini (gak
mau, atau gak
> sanggup, atau enggan, atau emang jago ngoceh doang), ah mungkin
die lebih demen
> menerapkan istilah: if you don't want people complained, then do
nothing, say
> nothing, act nothing... jadinya gitu deh gak ngapa-ngapain hehe".
>
> "Si mahkluk ini" emang ora merasa perlu ambil lahan kreja
> yang memang lah digarap temen-temen komunitas jalan-jalan. Sudah
pilih peran
> lain, tempat en lapangan lain yang blon digarap yaitu buku-buku
yang akan
> menjadi sumber. Kitaorang jalanin peran masing-masing aja
sebegimana kita ada
> dalem sebuah permesinan sosial Jakarta.
> Kitaorang cuman onderdil itu mesin, tapi kalu ada satu onderdil
yang lah
> diseblokin oli en ditemplokin gemuk ora juga bebeneran en endut-
endutan
> jalannya, apa ora jadi berasa aneh seraya kasih inget sablon
tereak supaya
> sigra dipanggil montir en bikin copot itu onderdil trada guna?
>
>
> Nah, "si mahkluk ini" minta tulung sodara adep ada jangan
> ngapusin, kacang lufa kulitnya. Lebih berani ngadepin kritik en
melihatnya
> sebagi sesuatu yang mesti disikapi lebih gentle,
> tanpa harus menggunakan sebaris tanda seru (!!!) dimana-mana yang
cuman akan
> memasukan sodara adep ke kelas bangsa jin yang saben-saben
beberekan alais
> mentereak tanpa sabab musabab.
>
> "Si mahkluk ini" dengan sadar tulis nama "si mahkluk ini" dibawah
> email yang "si mahkluk ini" kirim via milist mediacare. Terang
bahwa "si
> mahkluk ini" berusaha gak lempar batu sembuni tangan dan menyebut
nama marika
> yang "si mahkluk ini" kritik itu, bahkan dengan kata sandang
meneer (bapak). Ini
> maksudnya bukan ngatain apalagi menjelekkan dengan sinisme
blandis. Malah
> menempatkan kita bersama dalam konteks "pergaulan sesama yang
doyan sejarah
> Olanda di Batavia". Nah, ngafa sodara adep menyebut saya
sebagi "mahkluk
> ini", wow dari baunya saja "si mahkluk
> ini" lah tau en bisa bade alias tebak kemana arahnya.
>
> "Si mahkluk ini" juga dengan demikian menanti tanggapan,
> tetapi ketika ada tanggapan "si mahkluk ini" tidak tahu sebab
sodara adep cuman
> membuatnya untuk konsumsi kaumnya di milist sahabat museum.
Pedahal "si mahkluk
> ini" menanti tanggapan siapapun yang terlibat atau naro perhatian
dalam
> kegiatan itu en kepengen tau responnya. Tapi untunglah ada teman
yang kirim sms
> bahwa kriti "si mahkluk ini" telah rame diomongin di milist sodara
adep. En
> berkat dialah dapet dua dari sekian peserta tanggapnya. Terus
terang sebenarnya
> kalau dilempar luas ini aken jadi diskusi yang manarik dan bisa
diambil sebagi
> bahan pelajaran. Sebab dengan begitu kitaorang aken tau dan bisa
nguji apa yang
> cuman kitaorang bayangkan telah menjadi sebuah pencapaian. Kalu
perlu Bang
> Indra bisa bikinin debat kita ini jadi diskusi bebeneran yang fair
di dalem
> alam nyata bukan lagi dunia maya. Kitaorang bisa adu argumen en
bisa bawa
> bukti.
>
> Akhirnya, "si mahkluk ini" trada dalem emosi apalagi khilaf kutika
> kirim itu email. Itu kritik "si mahkluk ini" tulis dengan
bebeneran sonder pake
> menyesel begitu klik send (seperti kata Mevrauw Itut en Bang
Indra). Sebab "si
> mahkluk ini" berasa kritik perlu en sebegimana "si mahkluk ini"
tulis dipenutup
> kritik itu. "Si mahkluk ini" ora bisa bayangin begimana kalu idup
sonder
> kritik, lha ora bekelir dong, kehilangan daya pukaunya dong sebab
bakalan kitaorang
> semua aken menjadi orang yang persis peribasa kata "tong kosong
nyaring
> bunyinya". Berasa gede pedahal kopong melompong. Bayangan diri
brontosaurus begitu
> dilonggok cuman kutu kupret en paling banter tonggeret.
>
>
> Tabe srenta hormat
>
> Saya yang lah baek-baek en difitrain
> dengan nama oleh ortu sebagi JJ Rizal,
> tapi dipanggil sebagi "si makhluk ini"
>
>
> Lampiran 1: Surat Sodara Adep
>
> Prends !!!
>
> gue sih kagak bermaksud pengen ngebales isi email si mahkluk ini,
> namun diaorang dari dulu proteeees mulu, kompleeein mulu, dan
> kayaknya yang dilakukan kita-kita (komunitas-komunitas yang
> die maksud), salaaaaah mulu, sedangkan diaorang juga kagak
> pernah bikin event kayak gini (gak mau, atau gak sanggup,
> atau enggan, atau emang jago ngoceh doang), ah mungkin
> die lebih demen menerapkan istilah: if you don't want
> people complained, then do nothing, say nothing, act
> nothing... jadinya gitu deh gak ngapa-ngapain hehe
>
> dan asal tau yah diaorang ini pedagang buku, yang kita
> pun pada beli buku die sebagai salah satu sumber dari
> pengetahuan yang kita butuhkan, ah tetapi dia tidak
> melihat itu.... udah gitu yah die suka bilang kita-
> kita cuma pertebal kantong juga perbanyak peserta.
> (gila yah peserta kita dengan semakin demen akan
> sejarah kota Djakarta dan tempo doeloe, jadinya
> mereka juga pasti nyari dan baca-baca buku ttg
> ini-itu, dan salah satunya buku yang lu terbitin, jek!)
>
> hei, hei, hei, lu pikir ngurus ini gampang? susah gila!
> konsep,
> ngurus perijinan, nyari narasumber, kesana
> kemari (pake mobil, dan mobil minum bensin!) untuk
> biaya laen-laen seperti makan pas survey, rapat,
> trus juga buanyak deh hal-hal kecil dan berat yg
> kayaknya kagak usah disebutin satu per satu di
> sini, tapi kalo lu pernah bikin acara besar, lu tau
> dah gimana ribetnya ngurusin ini, betapa capek
> nya, dan ketika banyak (jumlah peserta yang si
> makhluk ini tanggapi secara sinis) orang yg ikut
> acara kita, ah betapa senangnya dihargai karya
> kita, dan kalo die cuma liet pemasukan (duit !!!)
> aja, yah selamat iri hati deh mas, dengki aauww
> tak akan membuat lu keren hehehe, eiitsss tapi
> yah, kalo lu anggep kitaorang cuma dagang aja,
> lha lu bukannya pedagang juga? kan lu jualan buku,
> jadi sesama pedagang kagak usah saling sikut dah :p
>
> jadi yah beda persepsi aja kalee, kita-kita kepengen
> banyak orang yang lebih mengenal riwayat Djakarta,
> juga sejarah negeri ini, trus kalo ternyata nih kitanya
> ada salah-salah sedikit dalam memberikan informasi
> yah maap-maap aja, gak perlu dikata-katain mas...
> hehehe kayak anak SD aja, toh kita-kita juga dapet
> itu informasi dari berbagai versi, lha kita semua kan
> juga kagak ngalamin peristiwa itu bukan? jadinya kan
> semua infomasi itu didapatkan dari berbagai sumber,
> dan menurut siapa sih, suatu peristiwa itu bener?!!
> cuma menurut lo? ya udin kalo gitu, kalo lu ngerasa
> itu hanya pihak lu aja yang bener, yah monggo mas..
> bila itu mau-mu hehehe, udah ah males nanggepin ini
> terlalu panjang (udah panjaaaang kallllleeee) *keluh*
>
> jadi nih kesimpulannya: seorang pengkritik akan selalu
> menjadi tukang kritik, layaknya komentator sepak bola,
> dia akan selalu komentari pertandingan, tanpa dirinya
> bisa bermain sepak bola. hehehe, peace ah !!! yeah!
>
> GGGOOOLLLLL *Belanda menang! Belanda menang!*
> (ddduuh gue masih ngelamun aja, Piala Eropa udah
> kelar kaaalllleeeee..) huhuhu Team Oranye huhuhu
>
> teriring salam manis sambil nyeruput teh manis,
> Ade Purnama (Adep)
> penggerak komunitas
> yang cuma ngeruk duit
> aja (menurut die) hihihi
>
> From: jj rizal
> To: artculture-indonesi a@yahoogroups. com
> Sent: Saturday, June 21, 2008 4:11 PM
> Subject: [ac-i] kritik u JELAJAH KOTA TOEA : JALAN-JALAN SORE KOTA
> TUA dan sejenisnya
>
> Aduh, Meneer Kartum ngapa kamu bikin publikasi macem begini kacau
> dan anakronis. Jangan malu-maluin orang sejarah dong. Mesti up
date
> gitu lho. Biar bisa bikin publikasi yag lebih giman gitu.
Ironisnya
> ini bukan Meneer Kartum aja tetapi juga lelaen orang yang ada
bikin
> kegiatan-kegiatan jalan-jalan kota tua. Dus, tulunglah kalian
jangan
> hanya pertebal kantong juga perbanyak peserta tetapi juga pertebal
> semangat membaca sumber dan perbanyak istigfar agar jangan terus
> melulu menyesatkan orang dengan keterangan sejarah yang gak
karuan,
> jangan jadi macem dinas kebudayaan dki dong, yang keberadaannya
> cuman beritung proyek doang tapi semua proyeknya satupun tak ada
> yang tidak menyesatkan.
>
> Nah, mohon maaf saya jadi mesti tulis begini keras, trada maksud
> laen kecuali karena inget kalian yang ada dianggap, ada dipercaya
> dan jadi tujuan orang buat numbuin rasa cinta orang Jakarta yang
> kepingin tahu kotanya lengkap dengan sejarahnya, tradisinya.
>
> Tabe srenta hormat.
>
> JJ Rizal
>
> --- On Sun, 6/15/08, Satura Fathur <fsatura@yahoo. com> wrote:
>
> From: Satura Fathur <fsatura@yahoo. com>
> Subject: [ac-i] JELAJAH KOTA TOEA : JALAN-JALAN SORE KOTA TUA
> To: artculture-indonesi a@yahoogroups. com
> Date: Sunday, June 15, 2008, 1:02 AM
>
> Sejak abad ke-14 pelabuhan Sunda Kelapa merupakan bandar laut yang
> cukup ramai di Nusantara,berbagai suku bangsa datang untuk
melakukan
> perdagangan. Pada tanggal 22 Juni 1527 Fatahilah menaklukan
> kerajaan Sunda Pajajaran serta mengusir Portugis dari pelabuhan
> Sunda Kelapa dan mengantinya dengan Jayakarta. Pada tahun 1619
> Jayakarta dapat dikuasai oleh VOC maka bedirilah Batavia.
>
> Pembangunan mulai dilakukan di kota yang baru ditaklukan ini, dari
> mendirikan gudang rempah-rempah, membangun jalur transportasi Kali
> Besar hingga mendirikan sebuah bangunan yang bernama Stadhuis
(Balai
> Kota), penelusuran perkembangan Kota Toea Jakarta dapat anda ikuti
> dalam kegiatan :
>
> JELAJAH KOTA TOEA : JALAN-JALAN SORE KOTA TUA
>
> Minggu, 22 Juni 2008
> Pukul : 15.30 - 20.00 WIB
> Registrasi ulang : Stand Museum Bank Mandiri & KJB
> JL. Taman Fatahilah No. 1 Jakarta-Kota
>
> Rute : Taman Fatahilah, Gudang Gandum, Pelabuhan Sunda Kelapa,
> Jembatan Kota Intan, Roterdam Internatio dan Museum Sejarah Jakarta
>
> Biaya : Rp. 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah)
>
> Fasilitas : Snack, Makan Malam, Sinopsis, Id Card, Tour Guide,
> Nonton film tempo doeloe di taman Fatahilah dan dimeriahkan
Batavia
> Art Festival 2008
>
> Pendaftaran & Registrasi
>
> KOMUNITAS JELAJAH BUDAYA
>
> Email : kartum_boy@yahoo. com
> Milist :jelajahbudaya@ yahoogroups. com
> Hp : 0817 9940173 / 021-99700131
>
> Pembayaran via transfer ke Bank Mandiri cabang Jakarta
> No.Rek. 115 0004512697 A/N. Kartum Setiawan


------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: