23 Juli 2008

[ac-i] Re: Serat Centhini (Elizabeth D. Inandiak)

 
----- Original Message -----
From: BDG KUSUMO
Sent: Wednesday, July 23, 2008 10:30 PM
Subject: Serat Centhini (Elizabeth D. Inandiak)

 
Penulis Bule Elizabeth D. Inandiak Alih Bahasakan Serat Centhini ke
Pertama Membaca Versi Bahasa Prancis

Kepiawaian para pujangga Jawa diakui penulis Prancis. Paling tidak, itulah pengakuan Elizabeth D. Inandiak yang siang kemarin meluncurkan buku Centhini - Kekasih yang Tersembunyi - di Lembaga Indonesia Prancis (LIP).

-----

Ditemani Didik Nini Thowok, Elizabeth mengungkapkan bahwa Serat Centhini yang ditulis pujangga Jawa pada abad ke-18 merupakan mahakarya yang adiluhung. Bahkan, Serat Centhini yang berkisah tentang kehidupan dan juga arsitektur itu layak disejajarkan dengan kisah Mahabarata.

"Jawa punya harta karun yang tidak ternilai yang salah satunya adalah Babat Centhini. Untuk itu, kami menulisnya kembali dalam bahasa Indonesia agar kekayaan ini tidak lapuk ditelan zaman," kata Elizabeth.

Proses pembuatannya cukup unik. Buku dengan tebal 444 halaman yang diterbitkan Yayasan Lokaloka itu merupakan saduran ulang dari buku Centhini berbahasa Prancis. "Ini memang unik karena buku ini merupakan adaptasi dari versi Prancis yang judul aslinya adalah Les Chants de I ile a dormer debout - le livre de Centhini," jelasnya.

Elizabeth kembali menjelaskan bahwa selain buku yang diluncurkannya, saat ini terjemahan 12 jilid Serat Centhini asli dari bahasa Jawa juga sudah dapat dialihbahasakan ke bahasa Indonesia oleh UGM yang dipimpin oleh Prof Dr Marsono.

"Pengakuan akan Serat Centhini ini bahkan membuat Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia membiayai seluruh pembiayaan penyaduran Serat Centhini. Sekali lagi, upaya ini dilakukan agar mahakarya tersebut tidak sirna, terlupakan, dan kandungannya terwariskan dalam bahasa yang megah dan indah," imbuh Elizabeth.

Belum cukup itu, pengakuan akan kebesaran Serat Centhini juga ditunjukkan Prancis melalui LIP dengan repertoar Hari Huru-hara Centhini. Isinya pementasan teater, seminar, seni hadrah, kethoprak, dan lain-lain.

Didik Nini Thowok ikut ambil bagian dalam Hari Huru-hara Centhini dalam bentuk tarian. Didik menegaskan bahwa Serat Centhini berbeda dengan Kamasutra. "Saya tidak mendalami Kamasutra dan hanya membaca bukunya. Tetapi, Centhini sangat mendalam dan kompleks. Selain berbicara asmara, Centhini juga berbicara soal kehidupan dan bahkan arsitektur," kata Didik. (ufi/jpnn/ruk)

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: