22 Juli 2008

[ac-i] Re: Fw: Mas Bechi hari ini pencoblosan Pilkada Jatim, berikut tulisan keduaku bu

salam sejahtera,
inilah sebuah bukti pragmatisme politik.
untuk memenuhi ambisi menjadi jatim-1 dan persyaratan dukungan,
seorang sekaliber khofifah pun harus bisa berkompromi dengan seorang
La Nyalla Mattaliti dengan reputasinya, melalui Partai Patriot,

kesepakatan seperti apa yang mereka buat?

sayang, sungguh sayang...

menurut saya, bila sudah berani "loncat", lebih aman bila mau
bergabung PDI-P, menjadi wakil pak cip dulu, yang punya reputasi yang
lebih baik sekaligus memperkuat citra sambil menunggu kesempatan
menjadi jatim-1 atau mungkin mentri pemberdayaan wanita, bila sampai
megawati terpilih.

wassalam,
MERDEKA!


--- In artculture-indonesia@yahoogroups.com, marissa haque
<marissahaque_iqro@...> wrote:
>
>
>
> --- On Mon, 7/21/08, marissa haque <marissahaque_iqro@...> wrote:
>
> From: marissa haque <marissahaque_iqro@...>
> Subject: Mas Bechi hari ini pencoblosan Pilkada Jatim, berikut
tulisan keduaku buat rubrik "Salam Marissa"
> To: bechi_bec@...
> Cc: marissahaque_iqro@...
> Date: Monday, July 21, 2008, 10:27 AM
>
>
>
>
>
>
> i
>
>
> Ka-Ji Semoga `Makin Manteb'
>
> Sepulang dari Umroh sejak tiga hari yang lalu membuat hati dan diri
ini yang masih didominasi `selimuti alam pikir' gelombang alpha
menjadi semakin sering bersenandung "Ya nabi salam `alaika" serta
berbagai dzikir muhasabah. Juga entah kenapa tiba-tiba pikiran ini
jadi melayang memikirkan bagaimana perkembangan salah seorang
perempuan Indonesia yang saya kagumi – Khofifah Indar Parawansa – yang
sekarang ini sedang menjadi salah satu kandidat Gubernur Jatim
>
> Saya mengenal sosok Khofifah disaat menjadi salah seorang menteri
pada Kabinet Presiden Gus Dur. Ia memegang amanah sebagi Mentri Negara
Urusan Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP). Memang sebagai salah satu
menteri diwilayah tersebut yang pernah menjabat, Khofifah bukan yang
paling tinggi pendidikannya. Ada nama lain yang sekarang ini sedang
menjabat, ia adalah Prof. Dr. Meutia Hatta. Namun jurju saja dari hati
sanubari yang terdalam justru Khofifah adalah yang paling vokal, serta
paling menonjol kekaryaan / `sepak terjangnya.'
>
> Mengenal Khofifah lebih dalam setelah menyaksikan pendampingan serta
dorongan yang luar biasa yang diberikan kepada sang suami tercintanya
disaat-saat genting pencapaian gelar tertinggi akademik dari PSL-IPB
(Pusat Studi Lingkungan Hidup – Institut Pertanian Bogor). Ya, Pak
Indar Parawansa adalah kakak kelasku di IPB, Bogor . Perkawanan
dilanjutkan menjadi lebih dekat disaat bersama-sama Neno Warisman
selama tiga bulan menjadi juri Pildacil di LaTV beberapa bulan yang
lalu. Bersama Khofifah, kami berdua seringkali menyelipkan bebrbagai
pesan lingkungan hidup berbasis argumen ilmu Al Quran. Para
semi-finalis yang lalu menjadi finalis, kami coba masukkan pemahaman
terhadap ilmu sistem lingkungan hidup yang holistic serta integrated
dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti orang awam.
>
> Kurang lebih tiga bulan yang lalu disaat pencanangan pertama
Khofifah dan pasangannya bertempat disalah satu stadion besar di
Surabaya, saya, mbak Emilia Contessa, Neno Warisman, beberapa artis
lokal Jawa Timur, serta sebagian keluarga besar PPP dan warga Nahdiyin
Jawa Timur (NU) berbaur dengan seluruh pendukung dari unsur partai
pendukung lain pencalonan pasangan Ka-Ji tersebut. Kami semua partai
pendukung beserta dengan ketua partai masing-masing hadir disana dan
menyatakan dukungan resmi. Dan hari ini, tanggal 23 Juli 2008, akan
menjadi salah satu hari yang paling bersejarah dalam kehidupan Bunda
Khofifah (panggilan sayang seluruh kru, juri dan peserta acara
Pildacil). Saat yang dinanti selam tiga bulan yang melelahkan
datanglah jua, saat pencoblosan tiba! Saya mendoakan semoga semuanya
berjalan lancar adanya tanpa kendala dzolim yang tidak diperlukan
seperti yang telah nyata terjadi di Sulawesi Selatan dan Maluku Utara
termasuk Pilkada Banten 2006
> yang lalu diantaranya.
>
> Namun, sayapun menyiapkan hipotesa, bahwa kemungkinan besar Pilkada
Jatim 2008 ini – diluar menang atau tidak menang Khofifah dan
pasangannya nanti -- kelihatannya tetap akan menyisa hari dengan
setumpuk permasalahan kegelisahan hukum yang berkepanjangan. Sebagai
warga negara, sebenarnya sudah sejak kurang lebih dua tahun lalu saya
mersakan kegelisahan yang tidak penting ini. Tidak penting!, karena
saya maupun warga negara Indonesia lain yang melek hukum masih ingin
meyakinkan diri bahwa negeri ini sebenar-benarnya adalah sebuah negara
hukum seperti yang telah dijamin oleh UUD 45 pada pasal 1 ayat 3.
Namun dengan puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan kejadian
bertubi-tubi sejak 42 tahun yang lalu, membuat kita semua harus tetap
memasang kewaspadaan dan membobot kembali keabsahan jaminan hukum dari
sebuah rezim pemerintahan disebuah negeri yang bernama Indonesia
tercinta ini.
>
> Kemarin sore dalam kepulangan dari Balikpapan menuju Jakarta, saya
berpapasan dengan Cawagub Kaltim pasangan AFI (Awang Farouk – Farid
Wajdi) yang salah satunya diusung oleh PPP (Partai Persatuan
Pembangunan). Diruang Executive Lounge Garuda Indonesia, saya menjalin
sebuah diskusi cerdas hangat bersama Pak Farid. Beliau dengan latar
belakang seorang Ustad dan pernah menjadi PNS Depag Kaltim sangat
menyayangkan beberapa komentar yang keluar sebagai sebuah ungkapan
arogan berbau sangat provokatif. Semisal, KPUD Kaltim tidak ada
urusannya dengan MA (Mahkamah Agung). KPUD dapat menolak fatwa MA, dan
lain sebagainya. Apabila benar hal-hal yang telah diucapkan tersebut
terjadi, alangkah sangat disayangkannya. Mengingat kalimat janggal
berbau emosi tersebut keluar dari mulut seorang yang terhormat dengan
latar belakang perjalanan karir serta politik panjang di Indonesia
yang sekaligus sebagai sebuah parameter masih terjadinya 'budaya'
premanisme
> politik-hukum yang dimasa lalu selama 32 tahun mendominasi negeri
kita.
>
> Sayapun kini termenung mengevaluasi konteks kejadian demi kejadian
serba ribut dan gontok-gontokan pasca pelangsungan Pilkada hampir
diseluruh Indonesia. Teringat akan salah satu sub-bab pada buku
berjudul "Il Principe" karya Nicolo Machiavelli. Dalam bukui yang
aslinya ditulis dalam bahasa Italia tersebut digambarkan serta
dijelaskan bahwa hukum 'tak tertulis' didunia ini adalah bahwa pada 10
tahun masa pasca sekompok proletar berhasil menang atas kaum borjuis
dan merebut kursi posisi penguasaan kepemerintahan, maka para kaum
borjuis yang selama masa tersebut berpura-pura mereformasi diri demi
bertahan terhadap gelombang perubahan sosial-politik, maka dengan
kekuatan besar lama ia akan datang kembali dengan 'wajah serta baju
baru..' Kelompok reformis asal proletar tidak akan merasakan ancaman
laten tersebut.
>
> Hari ini bila kita mengacu kepada seluruh kekacauan yang terjadi
sebenarnya, adalah indikator atau parameter akan masa dimana para
'monster politik' masa lalu sudah ada didepan kita dengan kekuatan
lebih prima, amunisi lebih mumpuni, sumberdaya manusia lebih siap
bersaing, serta network strategy tak tertandingi yang hanya dapat
dikalahkan apabila ada intervensi 'tangan' Allah semata. Lihatlah
kasus Lapindo yang tak kunjung selesai, yang akan menjadi pekerjaan
rumah Khofifah bila ia menang nanti. Dengarkan jerit-tangis sebagian
besar keluarga besar Jawa Timurann kita semua di Porong, Sidoarjo yang
kehilangan segalanya serta terserabut dari akar budayanya. Doa
panjangku untuk Bunda Khofifah dan pasangannya dalam Ka-Ji
(www.kaji-manteb.com), semoga semakin mantab didalam berjihad
dijalan-Nya. Dan 'manteb' pula nantinya didalam mewakilkan
jerit-derita wong Porong, Sidoarjo disaat nanti bernegosiasi dengan
Presiden terpilih dan Mendagri yang akan
> datang 2009, jika insya allah menang nanti.
>
> Namun, bila nanti kalah karena faktor kedzoliman dari aspek keadilan
yang tidak jujur. Maka jalanlah sedih dan berkecil hati. "La tahzan,"
saranku sebagai kawan baikmu Ya Bunda Khofifah Kekasih Allah, teruslah
berjuang jangan pernah mengatakan mengalah pada kebathilan seperti
perjuanganku sampai dengan hari untuk ranah Propinsi Banten melalui
berbagai peradilan / meja hijau hukum Indonesia. Doa ikhlasku untukmu
sobat! All the best semua hanya karena Allah... hanya karena Allah...
hanya karena Allah...
>
> Oleh:
> Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, Kandidat Doktor.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: