25 Juli 2008

[ac-i] Press release: Dokumenter atau Bukan

*******************

RumahDokumenter

Screening dan Diskusi Film

 

" DOKUMENTER atau BUKAN "

 

Perdebatan pendekatan dalam film dokumenter, tak ubahnya sebuah percakapan tak pernah selesai. Cara tutur baru dalam film dokumenter membentuk definisi baru. Terkadang mengkaburkan batas imajiner antara film fiksi dan dokumenter

 

Pemutaran film September 13 karya Shalahuddin Siregar

Dan Uang Naik karya Ulfiani

 

Selasa, 29 Juli 2008, Jam. 19.00, Pendhopo Kelurahan Kampoeng Baluwarti Solo

Pembicara Shalahuddin Siregar, Tonny Trimarsanto

 

September 13, karya Shalahuddin Siregar

(20 menit, Indonesia Subt, finalis Eagle Award, screen at Singapore International Film Fest )

Sebuah film tentang pencarian identitas. Tori ( anak Timor Leste), terpaksa mengungsi hingga Yogyakarta ketika pecah konflik di perbatasan Indonesia –Timor Leste. Tori terpisah dan menahan rindu pada keluarga dan saudaranya. Sebuah perjalanan panjang dalam menemukan dan mempertanyakan identitas.

Film dengan struktur unik, dan sempat mengilhami beberapa sutradara fiksi untuk mengadopsinya.

 

 

Uang Naik, karya Ulfiani (Makassar)

(20 menit, Indocs)

Film yang menyodorkan aspek kultural, yang justru menciptakan beban bagi anak anak muda di Makassar pada saat ini. Jika mencintai gadis dan ingin meminangnya, maka si jejaka harus menyediakan uang. Jumlah yang terkadang tidak masuk akal.

Film ini menjadi bahan kajian yang hangat dalam pemutaraanya di banyak tempat. Tampil dengan isu sensitif dan mencoba menyodorkan kekaburan definitif antara dokumenter dan fiksi .

 

 

*************

Contact:

Heru 081 6675808

Email: rumahdokumenter@gmail.com, udandawet@gmail.com

Weblog: www.rumahdokumenter.blogspot.com

 

 

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: