11 Juli 2008

[ac-i] kronik sairara: stigma

KRONIK  SAIRARA:
 
 
STIGMA
 
Dalam wawancancaranya dengan Iin Yumianti dari Detik News, Ayu Utami antara lain mengatakan bahwa:
 
"Pernyataan Pak Taufik Ismail itu kurang baik karena ia suka memberi  stigma. Itu sama seperti orang-orang PKI saja. Cara-cara seperti itu  kurang sehat. Menurut saya itu terjadi karena pemikiran Pak Taufik   terlalu sederhana, picik". [Lihat :Lampiran].

 

Pertanyaan saya, apakah dengan mengatakan bahwa"[....] Pak Taufik Ismail [apakah bukan menggunakan huruf  "q"?] suka memberi stigma",  melalui  pernyataan ini Ayu Utami sendiri tidak menterapkan apa yang ia cerca:"suka memberi stigma"?  Saya menagih penjelasan rinci Ayu Utamai mengenai hal ini.

 

Tagihan penjelasan ini, disebabkan karena jika tidak ada penjelasan maka metode berpikir Ayu Utami sekali pun mengyebut diri sebagai penentang Orba yang otoriter, sadar atau tidak,  masih mengesankan betapa ia terpengaruh oleh wacana Orba yang menjadikan PKI sebagai lambang keburukan dan kejahatan. Apakah benar demikian? Apakah benar -- tanpa menutup kesalahan metode pikir dan praktnya yang memang salah --bahwa PKI adalah lambang  dari segala keburukan dan kejahatan? Tentang hal ini pun, saya menagih keterangan Ayu Utami, jika ia tidak  mau   dikatakan masih terpengaruh oleh indoktrinasi  minim tiga dasawarsa Orba tentang Tragedi Nasional September 1965 atau sembarangan  bicara. Kalau pun kemudian Ayu Utami memberikan penjelasan "koreksi", saya tetap menganggap ungkapan yang ia gunakan di  atas tidak lain dari pernyataan bawah sadarnya. Sedangkan pernyataan bawah sadar adalah pernyataan jujur seseorang. Masih sebeginikah taraf perkembangan pemikiran Ayu Utami sebagai seorang penulis? Tentu  bukan menggembirakan tapi esok masih merentang menantinya di jalan  proses "tiral and error" guna menjadi anak manusia dan penulis  yang dewasa dalam artian luas [dengan menyadari bahwa siapa pun punya keterbatasan].  Dengan mengatakan bahwa  "Pernyataan Pak Taufik Ismail itu kurang baik karena ia suka memberi  stigma. Itu sama seperti orang-orang PKI saja. Cara-cara seperti itu  kurang sehat. Menurut saya itu terjadi karena pemikiran Pak Taufik  terlalu sederhana, picik" bahwa apa yang ia lontarkan kepada Taufiq Ismail kemudian  menjadi bumerang terhadap dirinya sendiri, menunjukkan kadar Ayu Utami hingga sekarang, jika ia tidak bisa atau tidak merincikan penjelasannya.

 

 

Wawancara Ayu Utami  dengan Detik News mengetengahkan banyak sekali soal tapi di sini saya tidak ingin memasuki semua masalah yang ia ajukan.  Di sini saya hanya mengangkat jawaban Ayu ketika menanggapi tudingan Taufiq Ismail dengan menyebut nama Ayu Utami mengenai  "Angkatan Sastra Fraksi Alat Kelamin [FAK]. Ayu  Utami mengatakan :"Sekarang soal sastra, atau baiklah soal novel. Kalau kita lihat  setelah Saman atau tepatnya setelah reformasi, tiba-tiba novel atau  fiksi yang mengangkat masalah seks meningkat. Ini kita harus  melihatnya secara menyeluruh dan rileks. Jangan dilihat hanya  sepotong-sepotong.

Harus diketahui masa itu kita baru saja mendobrak zaman yang represif.  Situasi chaos dan terjadi euforia kebebasan setelah rezim Orba yang  represif tumbang. Pada masa itu memang terjadi euforia kebebasan, termasuk masalah seks".

 

Bagus sekali jika Ayu Utami mengatakan jangan melihat masalah "hanya  sepotong-sepotong".  Paling tidak dengan jawaban ini,  Ayu Utami menyarankan suatu metode pandangan yang saya anggap nalar. Tapi apakah Ayu Utami menyetiai sikap ini? Apakah pada masa Orba yang dibilang oleh Ayu sebagai "represif" ,  dalam praktek kebebasan hubungan seks tidak makin marak. Tentu Ayu ingat  tentang adanya  cotages setelah munculnya TamanHiburan Ancol masa Ali Sadikin sebagai gubernur DKI,  adanya kamar hotel yang disewa jam-jaman dan kemudian berkembang menjadi motel-motel di berbagai kota hingga sekarang. Apakah adanya gejala ini merupakan petunjuk bahwa pada masa  Orba terjadi penindasan [represi] hubungan seksual sehingga menjadi argumen bagi Ayu Utami untuk membela yang disebut oleh Taufiq Ismail ssebagai Angkatan Sastra FAK? Kalau Ayu setia pada kenyataan, maka kiranya argumen untuk membantah Taufiq Ismail terasa kurang meyakinkan. Walau pun saya sendiri mencadangkan pendapat terhadap apa yang Taufiq Ismail tentang  Angkatan Sastra FAK [ yang di sini tidak saya masuki].  

 

Pernyataan   Ayu Utami bahwa  "Harus diketahui masa itu kita baru saja mendobrak zaman yang represif.  Situasi chaos dan terjadi euforia kebebasan setelah rezim Orba yang  represif tumbang".

 

Pertanyaan saya : Bagaimana Ayu memandang posisi perempuan dan keadaan perempuan pada masa Orba hingga sekarang? Apakah central-problemnya terletak pada masalah kebebasan hubungan seksual ataukah emansipasi perempuan yang di Tiongkok disebut sebagai "penyangga separo langit" dalam artian menyeluruh?  Apakah dengan kebebasan hubungan seksual yang lebih marak pada masa Orba menjadi tercapai atau relatif menjadi fokus perhatian? Apa hubungan adegan seksual di ranjang dengan pembebasan tenaga produktif "penyangga separo langit" dan feminisme?  Sade ketika bicara tentang seks dan hubungan seksual, ia mentautkannya dengan keadaan masyarakat dan perjuangan anti fasis.

 

Dilihat dari segi penuturan dan pelukisan hubungan seksual dalam sastra-seni di negeri kita, jika kita menghitung sastra lisan, Ayu Utami sama sekali bukanlah pelopor dalam soal pelukisan yang disebut oleh Taufiq Ismail tentang generasi sastrawan FAK. Kecuali kita kalau kita mengabaikan dan tidak menghitung sastra-seni lokal .Seks adalah bagian dari kehidupan dan tidak pernah ditabukan dalam sastra-seni seperti halnya mantra bukanlah hal baru dalam sastra-seni kita.

 

Stigma yang disinggung oleh Ayu Utami dalam wawancaranya dengan wartawan Detik News, kalau tidak salah,  hanya memperlihatkan kekacauan konsepsional tentang berbagai masalah dan menunjukkan sisa-sisa indoktrinasi Orba sekaligus memperlihat tingkat capaian pemikiran Ayu Utami dan Taufiq Ismail hingga sekarang.

 

Saya menunggu penjelasan dan konsepsinya tentang berbagai masalah yang ia singgung  lebih lanjut dari Ayu Utami tentang pernyataan-pernyataannya yang tanggung [lihat:Lampiran] yang menimbulkan rangkaian pertanyaan. ***

 

 

Paris, Juli 2008

----------------------

JJ. Kusni , pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.

 

 

LAMPIRAN:

bisai <annakarenina@quicknet.nl>
Subject: Re: {Spam?} [HKSIS] Re: Ayu Utami : Taufik Ismail seperti PKI saja
To: "AKSARA SASTRA" <aksarasastra@yahoogroups.com>, Pembebasan_Papua@yahoogroups.com, "SANTRI KIRI" <santrikiri@yahoogroups.com>, "SASTRA PEMBEBASAN" <sastra-pembebasan@yahoogroups.com>, "Trikoyo" <trikoyo@telkom.net>, wahana-news@yahoogroups.com, HKSIS@yahoogroups.com
Date: Friday, 11 July, 2008, 3:49 PM

KOMENTAR BISAI:
 
Ayu menyamakan si Taufik dengan PKI. Saya kira inilah komentar Ayu yang terbaik yang pernah dia ucapkan. Kalau umpamanya si Taufik dia samakan dengan ORBA atau Golkar, itu sudah pasti tidak akan bergema.
IRI HATI DALAM SASTRA BERLAKU UNTUK SEMUA SASTRAWAN DUNIA. Di kalangan sastrawan tidak ada teman sejati, yang ada adalah persaingan abadi termasuk dengan anakmu, ayahmu, ibumu, istrimu, suamimu, semua adik-adik-adik dan abang-abangmu dan kamu adalah yang terbaik di antara semua mereka.
Bila ada seorang sastrawan yang membantah soal ini, maka kejujuran seorang sastrawan sudah patut diragukan.
asahan.
 
 
----- Original Message -----
From: BDG KUSUMO
Sent: Friday, July 11, 2008 7:32 AM
Subject: {Spam?} [HKSIS] Re: Ayu Utami : Taufik Ismail seperti PKI saja

Betulkah PKI "suka memberi stigma"?
Menurut saya kebudayaan-kebudaya an di seluruh dunia sedikit atau
banyak mengolah juga hubungan erotis antara manusia dalam karya-
karya seni budayanya. Sebagai pencerminan hidup manusia sehari-hari
yang "harus" melakukannya karena sebagai ciptaan Tuhan, atau Alam,
terserah percaya yang mana.
Ortodoksi selalu ada dibidang apapun, yang hendak menghalangi dalam
hal ini kebebasan karya. Namun kemajuan masyarakat cepat atau
lambat akan menjadi lancar, karena warga yang makin berpendidikan
biasanya  enggan dikekang terus menjadi hipokrit, munafik.
 
Salam, Bismo DG, Praha
 
----- Original Message -----
From: masdimas62
Sent: Thursday, July 10, 2008 11:00 AM
Subject: [mediacare] Ayu Utami : Taufik Ismail seperti PKI saja

Ayu Utami:
Taufik Ismail Seperti PKI Saja

Iin Yumiyanti - detikNews

Jakarta - Penyair Taufik Ismail belum lama ini kembali menegaskan
keresahannya akan Gerakan Syahwat Merdeka. Gerakan ini salah satunya
muncul lewat sastra. Mereka yang masuk dalam barisan yang dituding
Taufik adalah para penulis fiksi yang suka mencabul-cabulkan karya.

Salah satunya yang kena tuding adalah Ayu Utami, si pemenang Sayembara
Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 lewat novel fenomenal 'Saman'.
Taufik menyebut si Parasit Lajang ini sebagai pelopor angkatan sastra
Fraksi Alat Kelamin (FAK). Itu gara-gara novel 'Saman' yang ditulis
Ayu yang menabrak tabu seks menjadi trend dan banyak diikuti penulis
lainnya.

Bagaimana pandangan Ayu atas tudingan yang dilontarkan Taufik Ismail?
Di sela-sela memenuhi permintaan penggemar untuk menandatangani novel
'Bilangan Fu' dan foto bersama, Ayu menjawab semua tudingan itu.

Perempuan kelahiran Bogor itu mengaku surprise, karena meskipun ia
dituding sebagai pelopor angkatan sastra Fraksi Alat Kelamin, ternyata
sejumlah penggemarnya yang datang adalah dari kalangan perempuan
berkerudung.

Berikut wawancara Ayu Utami dengan Iin Yumiyanti dari detikcom:

Apa pandangan anda terhadap sastra Indonesia kini? Taufik Ismail belum
lama ini kembali menegaskan munculnya Gerakan Syahwat Merdeka. Apa
pendapat anda?

Pernyataan Pak Taufik Ismail itu kurang baik karena ia suka memberi
stigma. Itu sama seperti orang-orang PKI saja. Cara-cara seperti itu
kurang sehat. Menurut saya itu terjadi karena pemikiran Pak Taufik
terlalu sederhana, picik.

Saya merasa Pak Taufik seperti ini, seumpama melihat perempuan, dia
kan punya mata, tangan, kaki, tapi Pak Taufik melihatnya kok hanya
dari alat kelaminnya saja. Mengapa yang dia pikir hanya itu? Fokus dia
hanya melihat pada syahwat dan kelamin. Saya pikir ada masalah dengan
fokus Pak Taufik.

Menurut saya, kita boleh saja tidak setuju dengan sesuatu, tapi tidak
boleh dengan memberikan stigma.

Tapi kalau diamati, setelah novel Saman yang anda buat, di dunia
sastra memang seperti kebanjiran tema yang mengangkat masalah seks
secara berani dan kebanyakan ini dilakukan para penulis perempuan.
Tanggapan anda?

Sekarang soal sastra, atau baiklah soal novel. Kalau kita lihat
setelah Saman atau tepatnya setelah reformasi, tiba-tiba novel atau
fiksi yang mengangkat masalah seks meningkat. Ini kita harus
melihatnya secara menyeluruh dan rileks. Jangan dilihat hanya
sepotong-sepotong.

Harus diketahui masa itu kita baru saja mendobrak zaman yang represif.
Situasi chaos dan terjadi euforia kebebasan setelah rezim Orba yang
represif tumbang. Pada masa itu memang terjadi euforia kebebasan,
termasuk masalah seks.

Euforia seks tidak hanya dilakukan sastrawan perempuan, ada juga
laki-laki, Moammar Emka yang membuat Jakarta Undercover, itu kan laris
luar biasa.

Tapi sekarang, setelah 10 tahun, pendulum beralih lagi. Sekarang
pendulumnya pada agama. Setelah masa chaos, orang rindu pada hal-hal
yang berbau spiritual, maka novel seperti Ayat Ayat Cinta pun laris.

Jadi apapun sebenarnya bisa jadi pasar bagi industri, penerbit juga
film. Seks bisa jadi pasar, agama juga bisa.

Jadi menurut anda tidak ada Gerakan Syahwat Merdeka dalam sastra?

Saya tidak setuju dengan tudingan soal Gerakan Syahwat Merdeka. Yang
dituduh itu kan salah satunya saya. Itu pandangan yang picik. Ada
banyak hal dalam tulisan-tulisan saya, mengapa yang dilihat kok hanya
seksnya?.

Maksudnya kalau ada syahwat merdeka, lawannya apa sih? Syahwat
terikat? Itu sadomasokis namanya. Kalau mau menyalurkan syahwat harus
diikat-ikat dulu.

Menurut anda, sebaiknya bagaimana memandang seks?

Seks harus diakui sebagai bagian dari kekuatan manusia. Maka harus
diregulasi dengan baik. Diberi tempat aman, diberi ruang untuk
berfantasi. Silakan mau syahwat merdeka, syahwat terikat, tapi jangan
memberi gembok pada tukang pijat. Silakan saja liar dalam berfantasi,
tapi dalam bertindak tetap dibatasi.

Saya sebetulnya mengajak orang untuk terbuka. Jangan membuat peraturan
karena ketakutan. Kita takut begini lantas kita larang. Di negeri yang
banyak VCD porno tidak semua terjadi perkosaan. Tidak ada relevansi
antara pornografi dengan perkosaan. Kita ambil contoh di Jepang. Di
sana, di restoran yang juga dikunjungi anak-anak , banyak disediakan
komik yang isinya mengerikan sekali, seksnya kasar. Tapi di sana,
jumlah perkosaan tidak tinggi.

Tingkat perkosaan tinggi, justru di mana perempuan sebagai individu
tidak dihargai, dimana perempuan dianggap sebagai obyek.

Saya kira banyak kok laki-laki beradab yang merasa gengsi untuk memerkosa.

Kesimpulannya sastra masih aman-aman saja dan tidak perlu terlalu
dikhawatirkan?

Tidak perlu takut dengan seks. Aku heran, kenapa sih takut pada seks?
Kalau mau tahu, data IKAPI justru memperlihatkan buku yang laku itu
adalah buku pendidikan dan buku agama. Jadi tidak usah takut atau
takut berlebih-lebihan pada seks. Nanti malah jadi neurotis.

 
Kamis, 10/07/2008 08:56 WIB
Ayu Utami: Saya Tak Pernah Nulis Buku untuk Laris
Iin Yumiyanti - detikNews

Jakarta - Justina Ayu Utami. Perempuan ini rupanya sedang
ditunggu-tunggu. Siang itu, puluhan orang datang khusus untuk bertemu
dengannya dan meminta tanda tangan penulis novel fenomenal 'Saman'
tersebut.

Ayu, siang itu hadir di Pameran Buku Ikapi, Istora, Senayan, dalam
acara jumpa pengarang. Acara itu terkait dengan peluncuran novel
teranyar Ayu, 'Bilangan Fu'. Ini merupakan novel ketiga perempuan yang
memenangkan sayembara menulis roman Dewan Kesenian Jakarta 1998
tersebut, setelah novelnya 'Larung' yang terbit tujuh tahun lalu.

Maka siang itu, tidak heran jika penggemar perempuan langsing ini
berdatangan. Dalam hitungan tidak ada satu jam, Bilangan Fu pun laku
70 eksemplar lebih.

Bilangan Fu berkisah tentang cinta segitiga antara dua laki-laki
pemanjat dinding beranama Yudha dan Parangjati dengan seorang
perempuan bernama Marja.

Lewat "Bilangan Fu", Ayu mengangkat tema yang disebutnya sebagai
'spiritualisme kritis'. Ini merupakan keprihatinan Ayu atas banyaknya
sikap intoleran dan beragama secara formalitis setelah reformasi.

Di sela-sela melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama dengan
penggemarnya, Ayu membeberkan proses penulisan Bilangan Fu. Seperti
apa? Lalu apa maksud Ayu mengaku tidak ingin menyenangkan orang?
Berikut petikan wawancara Iin Yumiyanti dari detikcom dengan Ayu Utami:

Bisa anda ceritakan proses pembuatan novel Bilangan Fu. Idenya dari mana?

Prosesnya agak panjang. Idenya? Saya punya pacar, namanya Erik
Prasetya. Ia dulu seorang pemanjat tebing. Tapi ia berhenti memanjat
karena sahabatnya meninggal dunia. Teman pacar saya ini namanya Sandy
Febijanto. Ia salah satu dari pemanjat tebing terbaik Indonesia.

Pengalaman ini (kematian Sandy) mungkin membuat trauma atau sedih yang
terlalu berat sehingga pacar saya lantas meninggalkan dunia panjat
tebing. Ia tidak mau lagi ke Bandung untuk latihan ataupun melihat
tebing-tebing.

Tapi ia selalu bercerita masalah ini kepada saya. Saya sampai pada
titik sudah penuh dengan ceritanya. Akhirnya saya putuskan, oke saya
akan menulis novel dengan tokoh pemanjat tebing.

Apa yang ingin anda sampaikan lewat Bilangan Fu?

Begini, kalau Saman, keprihatinan saya itu kan kerasnya represi pada
masa Orde Baru. Bilangan Fu ini keprihatinan saya setelah reformasi.
Saya melihat setelah reformasi , marak sikap intoleran dan cara
beragama yang terlalu formalistis.

Bilangan Fu bercerita tentang cinta antara dua pemanjat tebing dengan
seorang perempuan. Nah saya ingin memadukan kedua hal ini, kisah cinta
pemanjat tebing dan persoalan religiositas bangsa ini.

Bagi saya, ada kesamaan antara memanjat tebing dan beragama. (Ayu
lantas tersenyum). Nanti kalau kamu baca novel ini akan ada
kesamaannya. Kesamaannya gini, pemanjat dan orang beragama sama-sama
ingin mencapai puncak.

Pemanjat tebing ada yang kotor atau dirty climbing. Mereka ini
pemanjat yang merusak tebing. Mereka memasangi berbagai macam alat,
bor, paku dan sebagainya untuk mencapai tujuannya mencapai puncak.
Yang penting bagi mereka bisa sampai atas.

Begitu pula agama. Dalam mensiarkan kebenaran agamanya, ada yang
mamakai cara seperti cara-cara pemanjat tebing kotor. Misalnya dengan
main paksa saja, semua dihajar saja, kebudayaan setempat dihajar.

Tapi ada juga pemanjat tebing yang bersih, mencapai puncak dengan
cara-cara terpuji, dengan cara-cara berdialog.

Jadi dalam mencapai tujuan apapun kita bisa melakukan dua jalan, jalan
yang kotor, yang memaksa, yang merusak atau jalan yang bersih yang
tidak memaksa.

Inspirasi novel ini adalah pacar anda, Erick. Apakah tokoh utama dalam
novel ini yaitu Yudha sebagai pelukisan pribadi Erick?

Tokoh Yudha sebetulnya adalah saya juga. Yudha itu bagian diri saya
yang skeptis dan sinis. Kalau Parangjati bagian diri saya yang
bijaksana (Ayu lantas tertawa). Tapi saya lebih suka tokoh Yudha,
karena tanpa tokoh sinis kita melihat dunia terlalu lempeng, terlalu
biasa.Yudha tokoh yang mengacaukan banyak hal, memandang dunia dengan
cara berbeda.

Hubungan Anda dengan Erick masih sampai sekarang?

Masih.

Mengapa anda bukan sebagai Marjanya?

Itulah salahnya, orang selalu mencari saya mewakili tokoh perempuan.
Padahal belum tentu. Di Saman, banyak yang mengira saya sebagai
Lailanya. Padahal sebenarnya saya sebagai Samannya.

Tokoh Marja terinspirasi dari beberapa teman-teman perempuan saya yang
orangnya baik. Ia sederhana, tidak usah pakai teori macam-macam, tapi
hatinya memang baik saja.

Novel kedua anda, Larung, tidak sesukses Saman, bahkan ada yang
menyebut gagal karena kurang laku di pasaran. Lalu dibandingkan Saman
dan Larung, Bilangan Fu ini, apa istimewanya?

Sekali lagi saya tidak pernah menulis buku untuk laris. Saya selalu
mencadangkan kalau buku saya tidak disukai orang karena memang saya
tidak pengin menyenangkan orang. Saya ingin menyampaikan apa yang
menurut saya perlu. Saya ingin menyampaikan ide pergulatan saya. Jadi
saya selalu siap jika novel saya tidak laris.

Soal Larung, orang yang suka sastra mengatakan bab I Larung bagus
sekali. Tapi memang tidak ringan bagi banyak orang. Tidak semanis
Saman. Tapi ya gak papa. Kalau disebut gagal ya tidak apa-apa.

Apa istimewanya Bilangan Fu?

Saman dan Larung dengan Bilangan Fu memiliki banyak perbedaan tapi ada
banyak persamaan. Beda utama Bilangan Fu dengan Saman dan Larung,
adalah zaman yang menjadi settingnya. Saman settingnya zaman Orba,
dimana represi pemerintah masih keras sekali di semua bidang.

Saya ingin membongkar paradigma itu. Karena itu Saman dan Larung
sebagai sebuah novel strukturnya tidak rapi. Ia seperti mozaik,
fragmen yang terpisah-pisah. Tidak memakai plot yang lurus. Tapi itu
merupakan salah satu cara yang saya ambil sebagai reaksi saya dari
terlalu tertibnya nilai-nilai dan terlalu tertibnya kaidah menulis
yang saya rasakan di zaman itu.

Sekarang justru saya merasa terlalu banyak akrobat dalam penulisan.
Maka saya ingin kembali ke plot yang sederhana dan linear. Karena itu
Bilangan Fu, dari segi plot dan cerita jauh lebih sederhana.

Jadi dari segi plot lebih sederhana. Tapi tetap mengandung banyak
perdebatan. Lebih banyak perdebatannya dibandingkan dengan Saman.

Bilangan Fu masih mengangkat tema cinta yang sering menjadi cara
klasik untuk menarik pembaca. Mengapa?

Bagi saya, cinta itu selalu menakjubkan. Di novel ini, tokohnya sangat
dingin, sinis dan mengejek masyarakat. Tapi di sini kisah cinta bukan
tempelan. Dihadirkan bukan hanya sebagai bumbu agar seru ceritanya.

Kamu bisa melihat perbedaan bagaimana seks digarap dalam film
Hollywood dengan film Prancis. Di Hollywood, seks sering hadir sebagai
bumbu pembungkus, dibikin erotis. Di film Prancis, seks dihadirkan
sebagai persoalan manusia, misalnya laki-lakinya tidak bisa ereksi.
Jadi cinta atau seks bukan sekadar bumbu.

Jadi Bilangan Fu lebih ringan dibaca dibandingkan Saman dan Larung?

Hmmm, susah menjawabnya. Mungkin lebih berat, kan lebih tebal
(halamannya) . Novel ini banyak sekali perdebatannya. Tapi
perdebatannya tangkas. Saya menawarkan kata kunci baru yaitu
spiritualisme kritis. Yang saya maksud adalah, orang tetap percaya
sesuatu, apakah itu Tuhan atau nilai yang lain tapi ia tetap kritis
pada apa yang dia percayai. Ia tidak buru-buru menerapkan kebenarannya
pada orang lain. Karena kebenaran hakiki tetap jadi misteri. Yang
lebih baik pada hari ini adalah kebaikan itu sendiri.

Mengapa sampai butuh waktu sangat lama untuk menyelesaikan novel ini?

Untuk mengetahui detail dunia panjat tebing, saya ikut latihan panjat
tebing pada akhir 2003. Saya masuk sekolah Panjat Tebing Skygers. Lalu
saya mulai menulisnya tahun 2004. Selama empat tahun saya melakukan
pencarian yang tepat untuk menuliskan kisah ini. Tapi saya selalu
tidak puas.

Baru September 2007 lalu saya menemukan cara menulis yang saya merasa
puas. Setelah itu saya menulis nonstop. Jadi 4 tahun pencariannya, 9
bulan penulisan bentuk terakhir.

Biodata:

Nama Lengkap: Justina Ayu Utami
Lahir: Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968
Pendidikan: S-1 Sastra Rusia Universitas Indonesia
Buku yang ditulis:

Saman (memenangkan Sayembara Mengarang Dewan Kesenian Jakarta 1998)
Larung
Parasit Lajang
Sidang Susila
Bilangan Fu


 Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

.



Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does! __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: