10 Juli 2008

[ac-i] kronik sairara: menghayati kebhinnekaan bangsa

Kronik Sairara:

 

 

MENGHAYATI  KEBHINNEKAAN BANGSA

 

 

Bahwa Indonesia adalah sebuah  bangsa dan negeri yang  bhinneka, tentu sudah menjadi pengetahuan umum. Paling tidak ia diajarkan sejak Sekolah Dasar, jika dilihat dari segi pendidikan formal.

 

Pertanyaannya: Apakah masalah kebhinnekaan sebagai nilai budaya sudah kita hayati benar, seperti halnya sekali pun kita fasih menyebut Republik dan Indonesia, apakah kita mengerti Republik dan Indonesia sebagai suatu rangkaian nilai?

 

Pertanyaan ini muncul di benak saya, karena ketika bekerja di Indonesia bertahun-tahun dan pulang kembali paling tidak setahun sekali,  saya menyaksikan bahwa keberadaan di Indonesia, bukan jaminan bahwa kita mengenal Indonesia. Untuk mengenal negeri sendiri diperlukan kerja keras,  baik melalui belajar atau pun penelitian. Jangankan mengenal Indonesia, mengenal kampun kita sendiri pun sering kita gagal. Paling-paling yang kita kenal adalah gejala serta permukaan gejala, dan   itu pun kita mengenalnya secara sepotong-sepotong. Pengenalan mendalam memerlukan kegiatan belajar dan pengkajian serta penelitian serius. Sampai sekarang, saya masih bertahan pada hipotesa bahwa terkadang kita lebih tahu tentang Barat, Amerika daripada tahu tentang Indonesia, sekali pun kita berada di Indonesia secara fisik.

 

Konstatasi ini agaknya diperkuat oleh maskot kera dan cawat Dayak yang digunakan oleh Panitya PON XVII Bontang Kaltim sekarang. Dari penjelasan mengenai makna lambang maskot kerat bercawat Dayak ini, nampak pada saya bahwa pengetahuan pihak Panitya PON XVII sangat minim. Saya tidak tahu, apakah di dalam Pantiya PON di Bontang terdapat orang Dayak yang turut serta dan telah didengar pendapatnya. Jika  benar ada orang Dayak dalam Panitya, maka saya kira, penggunaan maskot kera bercawat Dayak yang dianggap sebagai lambang khas Kaltim, hanya memperlihatkan keterasingan seorang Dayak akan kampung-halamannya sendiri. Keterasingan Panitya PON Ke-XVII dari negeri sendiri. Belum dikhayatinya oleh Panitya PON Ke-XVII kebhinnekaan budaya negeri dan bangsa ini.  Menunjukkan ketidaktahuannya tentang lambang-lambang lokal dan makna yang tersirat dalam lambang-lambang tersebut.

 

Masalah arti penting lambang dan memperebutkan arti lamban dan lambang itu sendiri, bukan hanya terjadi di Indonesia, misalnya pada masa Orba tapi juga terjadi di berbagai negeri. Jean d'Arc [Joan of Arc], pahlawan perempuan Perancis dalam menghalau agresor Inggris, diperebutkan oleh kaum neo-nazi Perancis dan nasionalis lainnya.

 

Dalam sejarah Dayak, penggunaan lambang untuk menindas etnik ini banyak didapat. Akibatnya, sampai-sampai tidak sedikit orang Dayak yang malu mengaku diri Dayak, karena ide Belanda tentang "Dajakers" sebagai lambang segala keburukan dan kejahatan tertanam dalam.  Karena itu, pengunaan lambang adalah suatu bentuk kekerasan budaya terhadap pola pikir dan mentalitas pihak lain.  Oleh sebab itu pula maka ada istilah genocide budaya yang tidak kalah kriminalitasnya dengan masakre fisik. Dalam sejarah berbagai bangsa, agresi fisik dan agresi budaya , nampak sering dilakukan bersamaan. Simultan. 

 

Dari kasus maskot kera dan cawat Dayak serta penjelasan Panitya tentang makna lambang [Lihat:Lampiran] yang saya lihat sangat menonjol adalah ketidaktahuan pihak Panitya tentang makna lambang , khususnya lambang-lambang Dayak. Sekali lagi, ketidaktahuan yang lebih, bahkan hanya  memperlihatkan keterasingan diri dari segi budaya terhadap negeri dan bangsa sendiri. Memperlihatkan gejala  bahwa kita yang mengaku diri Indonesia  tapi sebenarnya menjurus ke kehilangan diri sebagai Indonesia dalam artian nilai budaya.  Kehilangan diri ini oleh Alain Touraine, sosiolog Perancis terkemuka, pengajar di l'Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales [l'EHESS], Paris, disebut sebagai "kekosongan [la vide, the emptiness]. "Kekosongan" menurut Alain Touraine, adalah keadaan yang sangat berbahaya, karena pada saat ini manipulasi bisa leluasa bermanuvre dan orang-orang kehilangan orientasi. Saat ini pula maka kekuatan luar bisa leluasa bermanuvre menancapkan gurita pengaruh dan kekuasaannya tanpa disadari oleh terkait.

 

Saya khawatir bahwa maskot kera bercawat  Dayak adalah  salah satu petunjuk saja dari beradanya bangsa dan negeri ini pada keadaan kekosongan.

 

Apakah makna yang disimbolkan oleh kera dan cawat Dayak yang digunakan oleh Panitya PON XVII?

 

Di sini saya menggunakan acuan yang ada di Dayak Katingan , Kalimantan Tengah.  Kera [bakei -- bahasa Dayak Katingan] adalah lambang dari ketidak beradaban. Tidak beradat. Bakei adalah makian paling keras terhadap seseorang. Bukan anjing. Anjing adalah sabahat manusia, terutama ketika berada di tengah hutan atau berburu atau di ladang. Anjing adalah lambang kesetiaan.  Dengan menggunakan keras sebagai maskot tipik Dayak, saya kira, secara tidak sadar, karena tidak tahu dan keterasingan budaya, maka Panitya PON XVII mengatakan masyarakat Dayak Kaltim khususnya adalah orang-orang yang tidak beradab. Orang-orang yang tidak beradat. Tudingan yang sangat keras setara dengan simbol "Dajakers" yang digunakan oleh kolonialisme Belanda ketika menterapkan politik budaya "ragi usang"nya.

 

Sedang cawat, menunjukkan kepada tingkat komunitas Dayak  yang oleh antropolog kolonialis Barat disebut sebagai "masyarakat primitif" untuk membenarkan yang mereka sebut sebagai "mission sacrée", bahwa Tanah Dayak adalah suatu terra in cognita yang perlu  diadabkan.  Secara nyata dan statistik, berapa banyak gerangan, orang Dayak yang bercawat. Mengapa cawat yang melambangkan keterbelakangan diambil sebagai bagian dari maskot bertubuh kera? Lagi-lagi dari pengambilan cawat sebagai lambang, saya melihat keterasingan koseptor maskot dan Panitya PON XVII  dari tanahairnya dan kebhinnekaan budaya.

 

Oleh makna lambang demikian, saya tidak heran jika sebagian masyarakat Dayak Kaltim menjadi marah dan tidak rela dihina. Mencabut maskot-maskot, menurunkan spanduk-spanduk yang menghina demikian, saya kira masih dalam batas kewajaran dan belum sampai ke tindak kriminal. Tindakan keras ini akan lebih berarti jika pihak masyarakat Dayak Kaltim melakukan langkah-langkah hukum.Langkah yang menunjukkan bahwa bangsa dan negeri ini sangat beragam dan selayaknya untuk bisa saling menghormati dan menghargai, tanpa usaha melaklukan tindakan sadar atau tidak hina menghina. 

 

Penangkatan masalah pesut, lumba-lumba hitam Sungai Mahakam adalah sesuatu yang baik. Apalagi dihadapan bencana kepunahan pesut yang langka. Sayangnya dalam penjelasan Panitya PON XVII, masalah lingkungan ini sama sekali tidak disinggung sepatahkata pun. Adakah kaitannya kealpaan ini dengan soal kesadaran lingkungan?

 

 

Inti dari persoalan maskot kera bercawat Dayak ini, dalam penglihatan saya terletak pada belum dikhayatinya masalah  kebhinnekaan budaya, makna rangkaian nilai dan berkeindonesiaan. Tanda bahwa kita masih terasing dari negeri sendiri. Tanda adanya masalah dalam sooal wacana atau wawasan integral berbangsa dan bernegeri.  Benarkah?***

 

 

Paris, Juli 2008

----------------------

JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.

 

 

 

LAMPIRAN:

 

On Wed, 9/7/08, budi baskoro <untukibaz@yahoo.com> wrote:

From: budi baskoro <untukibaz@yahoo.com>
Subject: Re: [dayak] Re: Makna Maskot PON XVII Kaltim
To: dayak@yahoogroups.com
Date: Wednesday, 9 July, 2008, 6:41 PM

teman2 di bawah ini saya postingkan penjelasan makna maskot PON dari web resmi PON XVII dan dari web keluarga pelajar mahasiswa balikpapan di yogyakarta. utk melihat gambar, langsung saja klik kedua web tsb. mereka juga tidak mengulas masalah cawat yg dikenakan monyet dlm maskot tsb. dan pada gambar yg tertera dlm kedua site itu memang tak ada gambar cawat. entahlah yg beredar di kaltim sana. jika saja ini hanya soal maskot, bisa jadi, ini hanya masalah perbedaan memaknai maskot tsb. memang juga sangat boleh jadi dlm maskot tsb itu terdapat anasir konstruksi yg melecehkan dayak, meskipun mungkin itu tanpa disadari oleh si pembuat maskot. tapi, yg jelas, di balik kemegahan PON kaltim, ternyata kaltim tidak sedang baik2 saja.   satu hal yg juga menarik, pastinya maskot ini telah dilaunching dan ramai beredar sebelum PON berlangsung. tapi kenapa protes baru muncul sekarang? yang juga menarik, diberitakan di TV bahwa para pedagang yg menangguk cukup banyak untung dari penjualan maskot itu adalah pedagang yg datang dari luar kaltim. ada juga yg dari yogyakarta. silakan didiskusikan lebih jauh.  iBaz  Maskot Resmi PON XVII (http://www.ponxvii-kaltim.com/index.php?menu=beranda&sub_menu=maskot_logo)    Burung Engang [ Maskot untuk Cabang Olah Raga Udara ]  • 	Makna Gambar 	:	Burung Enggang sangat dekat dengan kehidupan Masyarakat Kaltim • 	Wajah Engang 	:	Dengan mulut tersenyum menandakan masyarakat Kaltim yang ramah dan mulut sedikit terbuka mengisyaratkan atau memanggil seluruh anak negeri untuk berkumpul dan bersatu di Bumi Etam. • 	Medali Emas 	:	Sayap tangan yang memegang medali menandakan suatu prestasi yang baik dicapai dengan upaya yang positif dan menjujung tinggi sportifitas.   Pesut [ Maskot untuk Cabang Olah Raga Air ]  • 	Makna Gambar 	:	Pesut Merupakan hewan khas perairan Sungai Mahakam yang populasinya sangat langka. • 	Wajah Pesut 	:	Tersenyum sebagai pertanda masyarakat Kaltim yang ramah dan bersahaja.   Orang Utan [ Maskot untuk Cabang Olah Raga Darat ]  • 	Makna Gambar 	:	Orangutan mengambil bentuk posisi seakan sedang berlari dengan membawa obor api PON • 	Wajah Orang Utan 	:	Dengan mulut tersenyum memberikan kesan yang ceria, ramah tamah dan suka cita menyambut PON XVII di Kaltim    Logo Resmi PON XVII     Makna Gambar Logo Resmi PON XVII – 2008 Kaltim : •	Bagian utama logo berbentuk ekor pesut dalam posisi melambai yang dapat terlihat ketika menyelam, dari atas permukaan air menggambarkan lambaian salam selamat datang. •	Tiga buah ring berwarna biru, bermakna PON XVII – 2008 Kaltim, menjunjung kekompakan dan persatuan untuk mencapai Tri Sukses PON yaitu Sukses Prestasi, Sukses Penyelenggaraan dan Sukses Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. •	Bentuk lengkung motif khas Kaltim ini melambangkan deburan ombak Sungai Mahakam yang merupakan tempat habitat Pesut.  •	Tulisan Kaltim 2008 dan PON XVII memberikan informasi Kaltim sebagai Tuan Rumah Penyelenggara Pekan Olahraga Nasional XVII Tahun 2008.  •	Slogan ini bermakna semua peserta PON berlomba untuk daerah masing-masing, namun pada hekekatnya : Semua adalah satu, Bangsa Indonesia.     Arti Logo Pon KALTIM May 8, 2008 Filed under: Informasi terbaru, info kaltim — KPMB Yogyakarta @ 1:18 am  Tags: kaltim, logo, pon   Pon sudah semakin dekat, pelaksanaannya dijadwalkan 6-17 juli 2008. tapi sudah tahukan teman2 arti logo pon kaltim yang baru, bentuknya, lambangnya, warnanya, maskotnya … kami ulas semua disini..  BURUNG ENGGANG  Makna Gambar : Burung Enggang sangat dekat dengan kehidupan Masyarakat Kaltim.   Wajah Enggang dengan mulut tersenyum menandakan masyarakat Kaltim yang ramah dan mulut sedikit terbuka mengisyaratkan atau memanggil seluruh anak negeri untuk berkumpul dan bersatu di Bumi Etam.  Medali Emas sayap tangan yang memegang medali menandakan suatu prestasi yang terbaik dicapai dengan upaya yang positif dan menjunjung Tinggi sportifitas.  Rompi Khas Kaltim Melambangkan sebuah Busana perjuangan untuk Meraih kemenangan sejati. IKAN PESUT  Makna gambar : pesut Merupakan hewan khas perairan sungai mahakam yang populasinya sangat langka.  Wajah pesut tersenyum sebagai pertanda masyarakat kaltim yang ramah dan bersahaja,sirip tangan pesut memegang cincin menandakan persahabatan dan persatuan yang penuh optimisme.  Rompi khas kaltim, melambangkan sebuah busana perjuangan untuk meraih kemenangan sejati. ORANG UTAN  Makna Gambar : Orang utan mengambil bentuk posisi seakan sedang berlari dengan membawa sebuah obor Api PON.  Wajah Orangutan dengan mulut tersenyum memberikan kesan ceria, ramah tamah dan suka cita menyambut PON XVII di Kaltim.  Rompi Khas Kaltim, melambangkan sebuah busana perjuangan untuk meraih kemenangan sejati.   Bagian utama logo berbentuk ekor pesut dalam posisi melambai yang dapat terlihat ketika menyelam, dari atas permukaan air menggambarkan lambaian salam selamat datang.  Lima buah ring berwarna biru, kuning, hitam, hijau dan merah, bermakna PON XVII-2008 di Kaltim mendukung pencapaian prestasi olahraga dunia.  Bentuk melengkung motif Khas Kaltim ini melambangkan deburan ombak Sungai Mahakam yang merupakan tempat habitat Pesut.  Tulisan Kaltim 2008 dan PON XVII memberikan informasi Kaltim sebagai Tuan Rumah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional XVII tahun 2008.  Slogan ini bermakna semua peserta PON berlomba untuk daerah masing-masing, namun pada hakekatnya, semua adalah satu, Bangsa Indonesia.   (http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://kpmbyogya.files.wordpress.com/2008/05/maskot-pon.jpg&imgrefurl=http://kpmbyogya.wordpress.com/2008/05/08/arti-logo-pon-kaltim/&h=250&w=344&sz=7&hl=id&start=1&tbnid=-Pc4ZputRdkf5M:&tbnh=87&tbnw=120&prev=/images%3Fq%3D%2522maskot%2Bpon%2522%26gbv%3D2%26hl%3Did%26sa%3DG) 


New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: