10 Juli 2008

[ac-i] Jangan takut dengan Festival/Pesta ! Selamat BerPESTA!!!



--- On Tue, 7/8/08, anuv chaviddy <viddyad2@yahoo.com> wrote:
From: anuv chaviddy <viddyad2@yahoo.com>
Subject: Jangan takut dengan Festival/Pesta
To: viddyad2@yahoo.com, vita.priyambada@yahoo.com, pedulimajapahit@gmail.com, lsumiarso@gmail.com
Date: Tuesday, July 8, 2008, 6:03 AM

KOMPAS -Jawa Timur
Kamis, 17 Oktober 2002

Bikinlah Festival Sebanyak-banyaknya

ANTHONY Reid dalam bukunya Asia Tenggara dalam Kurun Niaga: 1450-1680 menulis mengenai abad-abad keemasan Asia Tenggara dalam abad pertengahan. Di mana pada saat itu, di Barat identik dengan "abad kegelapan", di Timur terkenal dengan "abad kelimpahmewahan" karena majunya perdagangan dan surplus hasil bumi dan pertanian.

Dengan meneliti secara komprehensif, banyak dokumen catatan perjalanan pengelana Barat, Cina, dan pelayar-pedagang Arab, Reid mengemukakan bahwa Asia Tenggara yang terkenal dengan sebutan "Negeri di Bawah Angin" karena anginnya sepoi-sepoi sepanjang tahun. Dengan Matahari dan hujan yang seimbang, di abad-abad pertengahan itu adalah "negeri pesta, negeri festival", di mana Reid memasukkan segala kategori pesta: pesta keramaian, upacara agama, upacara kerajaan, perlombaan, perjudian, teater, lawakan, sampai pesta seks dan minuman.

Mengutip disertasi-disertasi Schouten, La Loubere, dan Brugiere, Reid mendefinisikan beberapa karakter pesta di Asia Tenggara, di mana pada saat pesta larangan-larangan dan pantangan dilonggarkan untuk sementara.

Mencari nama

Mengutip Geertz, Reid menjelaskan bahwa fungsi pesta dan festival di Asia Tenggara: untuk memperkuat hubungan sosial, sekaligus justru memperkuat stratifikasi (jenjang-jenjang) pelapisan sosial. Karena itu, raja atau sultan gemar mengadakan pesta dan festival, karena (menurut Geertz pula) berarti pengukuhan status sebagai "pusat teladan" agar raja bisa melanggengkan kekuasaannya.

Dikemudian hari, tradisi raja itu ditiru oleh orang kaya dengan mengadakan pesta perkawinan (mantu) dengan "pesta tujuh hari tujuh malam". Di zaman modern, dilaksanakan oleh sponsor, semuanya bertujuan "mencari nama".

Dalam bukunya itu, terutama di bagian-bagian pertama dari buku tebalnya, Reid menulis khusus mengenai pesta dan festival dari halaman 199 hingga 234. Reid banyak meneliti dan mengungkap pesta-pesta rakyat di Pegu (Birma), Siam (Thailand), Kamboja, Champa (Vietnam), Patani (Thailand selatan), Malaka, Aceh, Mojopahit, Bali, Lombok, Mataram-Jawa, Makassar, Banjarmasin, Tagalog dan Visayan (Filipina).

Dengan demikian, tradisi festival sebenarnya asli milik Asia Tenggara. Hal itu karena di abad pertengahan, Asia Tenggara memiliki waktu luang banyak setelah musim panen dan menunggu musim panen berikutnya. Sementara untuk hasil hutan yang melimpah dan ikan di sungai dan lautan, membuat mereka tidak perlu bekerja lebih keras lagi, tidak seperti orang Barat yang sumber alamnya terbatas, dan selalu diperbudak raja (lord-pemilik tanah luas).

Di Barat yang berpesta kebanyakan hanya para bangsawan di lingkungan puri (benteng), sedangkan rakyatnya bekerja keras dan mati kelaparan. Di Asia Tenggara, pesta dan festival selalu merupakan interaksi raja dan rakyat. Mengutip naskah Hikajat Bandjar: "..laki-laki parampuan, kanak-kanak sama suka hatinja malihat pala bagai jang dilihatnja itu sarta mandangar bunji-bunjian itu". Mengutip naskah Desawarnana (kini terkenal sebagai Negarakertagama): "Setiap pesta di Mojopahit berlimpah tuak dari kelapa, tuak dari pohon lontar, arak dari pohon aren, air gula tebu dan tape ketan".

Pigeaud juga menulis bahwa bazar/pasar merupakan satu kesatuan dari festival. Festival tahunan di lapangan Bubat, yang jaraknya dua hari perjalanan dari pusat kerajaan Mojopahit, diadakan setahun sekali secara besar-besaran, semua penduduk dari gunung dan hutan datang memasarkan hasil buminya. Dalam buku Negarakertagama dan Tafsir Sejarah-nya, Prof Slamet Mulyana menulis, keadaan di ibu kota Mojopahit selalu berpesta setiap hari sepanjang tahun. Di setiap sudut kota terdengar bunyi gamelan, dan banyak orang menari, berpesta, makan dan minum.

Festival tahunan yang diselenggarakan untuk "memasarkan" putri-putri Mojopahit, diselenggarakan secara besar-besaran penuh dengan atraksi kesenian dan olahraga. Acara itu didatangi oleh para utusan negeri jajahan dari seluruh Nusantara, yang datang membawa upeti sekaligus berniat memenangi sayembara meminang putri Mojopahit sebagai "semacam ijazah legalitas" pejabat yang berwenang memerintah di negeri jajahan Mojopahit.

Saya membalik-balik lontar sejarah ini adalah dalam rangka melihat bahwa tradisi pesta dan festival bermutu untuk rakyat di Nusantara (bahkan Asia Tenggara) sudah sangat tua, justru sebelum orang (rakyat jelata) Barat mengenal pesta. Karena saat itu di Barat yang berpesta dengan mutu tinggi hanya kaum bangsawan di istana-istana yang dijaga para pengawal bersenjata, sedangkan rakyat hanya berpesta api unggun dan membakar daging kelinci serta minum arak murahan, seperti kita saksikan dalam film Robinhood.

Pesta di Asia Tenggara mulai hilang ketika para penjajah Barat menguasai negeri-negeri Asia Tenggara, merampok kekayaannya, menghancurkan kebudayaannya, dan menyuntikkan virus baru: kapitalisme tidak murni (kapitalisme yang dikotori korupsi, kolusi dan nepotisme/KKN). Pesta atau festival yang meriah dan bermutu kini justru pindah ke negara-negara Barat atau negara Timur yang maju, karena kekayaan adalah sponsor utama pesta atau festival.

Semakin kaya suatu negara, pasti akan semakin banyak menyelenggarakan festival karena itu wujud "kesyukuran", wujud kebahagiaan, dan "cari nama".

Festival negara miskin

Di tengah kemiskinan dan keterbatasan, kini Surabaya bisa menyelenggarakan Festival Cak Durasim (FCD). Ironisnya, pesta ini tidak disambut gembira oleh para seniman Surabaya, tetapi justru digebuki.

Ini membuktikan bahwa seniman Surabaya dibelah oleh kubu-kubu yang saling cemburu. Seharusnya, semakin banyak festival, justru semakin baik karena itu wujud kebahagiaan, wujud kesyukuran, meskipun juga ada faktor "cari nama" (sebagaimana memang itu sudah tradisi para raja-menurut Geertz).

Soal mutu dan pamrih serta tujuan penyelenggara, itu adalah sangat subyektif dan tidak bisa dijadikan alasan untuk menggempur sebuah festival. Sebuah festival yang besar dan bermutu juga tidak boleh mematikan festival lain yang dianggap kurang bermutu, sekalilagi karena subyektivisme tadi.

Saya sangat kepingin menghadiri FCD yang tahun ini sangat menarik karena ada parade sastra etnis. Sayangnya, saya harus menghadiri festival di negara lain. Saya diundang sebagai pembicara di "Festival Ismail Hussein" di Gedung UMNO Alor Setar, Negara Bagian Kedah, Malaysia.

Ismail Hussein adalah tokoh Melayu Raya yang menggerakkan persatuan etnis Melayu Nusantara serta yang terdiaspora di Suriname, Madagaskar, Afrika Selatan, dan di Pasifik-Polinesia. Melayu di Suriname, Madagaskar, dan Afrika Selatan ada karena ulah penjajah Belanda mengirim moyang mereka sebagai kuli perkebunan.

Melayu Polinesia (tetapi kesadaran sebagai Melayu di Polinesia masih sangat sedikit) justru terjadi karena migrasi di zaman prasejarah ketika budaya pertanian di negeri asal (Jawa) belum secanggih sekarang.

Oleh karena itu, budaya pertanian di Polinesia masih sangat sederhana. Tetapi, Hawaii adalah berasal dari kata jawi (padi), ada juga vanua (benua), palau (pulau), vurung (burung), vutsi (putih), dan banyak lagi. Pada festival itu, di samping diskusi juga akan ada festival tari dari seluruh etnis Melayu, pembacaan puisi, juga ada kunjungan ke perpustakaan Ismail Hussein dan kampung kelahiran Ismail Hussein di Kedah.

VIDDY AD DAERY Sastrawan dan pelukis.

Search :
 
 

Berita Lainnya :

Bikinlah Festival Sebanyak-banyaknya

Bom di Bali Berimbas pada Pariwisata Jatim

DLLAJ dan Organda Mafia Transportasi Darat?

Doa Bersama bagi Korban Bom Bali di Jember

DPRD Tinggal Pilih Wakil Wali Kota

Jaringan Telkomsel Terganggu, Pelanggan Dirugikan

Kepala Dinas dan Anggota DPRD Segera Diperiksa

Konservasi Air Sebatas Wacana di Atas Kertas

"Luminescent Twilight", Pesona Tutorial Pergulatan Timur dan Barat

Masih Rendah, Akses Masyarakat pada Internet

Menjelang Puasa, Order Kopiah di Gresik Meningkat

Meski Warga Menolak, Pemkot Batu Tetap Mendukung Pabrik Jamur

Pelabuhan Pun Tidak Punya Detektor Logam

Pengusaha Rokok Merasa Diperlakukan Tidak Adil

Pengawasan Laut RI Memprihatinkan

Produk Unggulan Unej Ditawarkan kepada Pengusaha

224 TK dan SD di Surabaya Akan Diakreditasi

Warga Sekapuk Blokir Jalan ke Gunung Kapur

SWARA HATI

LINTAS JATIM

INTI EKBIS

SOSOK

FOTO: Doa Umat Hindu untuk Korban Bom

FOTO: Order Kopiah Meningkat



 

 



__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: