24 Juli 2008

[ac-i] GudegNet: Serat Centhini, Karya Sastra Besar di Dunia

Serat Centhini, Karya Sastra Besar di Dunia

Joko Widiyarso - GudegNet
Rabu, 23 Juli 2008, 14:56 WIB

Serat Centhini yang mulai ditulis pada tahun 1814 - 1823 oleh Putera Mahkota Kerajaan Surakarta, Adipati Anom Amangkunagara III (Sunan Paku Buwana V) merupakan sebuah karya sastra besar di dunia. Setelah menjadi Raja Surakarta, Sunan Paku Buwana V mengutus tiga pujangga keraton yaitu Ranggasutrasna, Yasadipura II (Ranggawarsita I), dan Sastradipura untuk meneruskan membuat cerita tentang tanah Jawa melalui tembang-tembang Jawa.

"Serat Centhini adalah salah satu karya sastra terbesar di dunia yang keberadaannya mulai terancam sirna. Untuk itulah saya tertarik untuk menyadurnya ke dalam bahasa Perancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia," kata Elizabeth D. Inandiak di Yogyakarta (22/07).

Oleh Elizabeth, karya adiluhung pujangga tanah Jawa ini merupakan sebuah peninggalan luar biasa yang dipunyai bangsa Indonesia yang harus diperkenalkan kepada dunia.

"Serat Centhini adalah harta luar karun biasa bangsa Indonesia yang harus diperkenalkan kepada dunia," tambahnya.
 
Dalam buku sadurannya yang berjudul  yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Laddy Lesmana, Serat Centhini terdiri dari 400 halaman yang bukan merupakan ringkasan buku asli, namun terjemahan.

"Buku aslinya terdiri dari 4.000-an halaman yang terdiri dari 12 jilid dengan ketebalan 4.200 halaman. Kini dalam buku saduran saya hanya terdiri dari 400 halaman. Ini buka menyingkat, tapi menyadur" ujarnya.

Berawal dari seorang Mohammad Rasyidi, Menteri Agama RI pertama yang mengerjakan disertasi doktornya tentang kitab Centhini “Critique et Consideration du Livre Centhini” di Universitas Sorbonne, Paris pada tahun 1956, Elizabeth D. Inandiak mulai tertarik dengan salah satu karya sastra pujangga Jawa ini. Terlebih ketika pada tahun 1996, Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Thierry de Beauce terpesona dengan Serat Centhini dan bersedia untuk membiayai sebuah saduran karya adiluhung yang terancam sirna itu.   

Oleh sejumlah pihak, Serat Centhini yang saat ini juga telah berhasil disadur ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof. Dr. Marsono dari Universitas Gadjah Mada (UGM), kadang disamakan dengan Kama Sutra, Ramayana, ataupun Mahabarata. Faktanya, Serat Centhini menggambarkan seluruh sifat manusia yang ada dalam ketiga cerita tersebut di atas.





-------------------------------------------------------
Iwan Pribadi
GudegNet - Gudang Info Kota Jogja
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: