24 Juli 2008

[ac-i] Festival Seni Budaya Ringin Contong @ Jombang

SARASEHAN BUDAYA DI JOMBANG

Menggagas Festival Seni Budaya Ringin Contong

 

Sarasehan Budaya putaran kedua diadakan di Sanggar Sakkal Dadi pimpinan Syaifulloh di Jl.Sumatra 7 Parimono Jombang, Sabtu (19/7). Kali ini tema yang diangkat adalah mewujudkan festival seni rakyat Jombang.

Pukul 20.00 wib acara dibuka Inswiardi sebagai salah satu panitia yang menyatakan acara tersebut dimaksudkan sebagai bursa ide dan terbuka bagi siapapun yang ingin membangkitan seni budaya di Jombang.

Guntur membuka gagasan awal tentang diadakannya Ringin Contong Art Forum, sebuah festival rakyat yang melibatkan banyak pihak. Kegelisahannya disertai alasan bahwa selama ini Jombang belum menemukan icon yang bisa menggerakkan kehidupan masyarakatnya.

 

Lontaran Guntur yang berasal dari Magetan tersebut langsung direspon oleh Bapak Arifin (Ketua KONI, mantan Parbupora Jombang). Dengan runut Arifin membahas beberapa even budaya di Jombang seperti MTQ, Ultah Pramuka yang membuatnya bangga sebagai warga Jombang , dimana memberikan peluang bagi seniman menampilkan kreasinya khususnya seni islami. Selanjutnya beliau mempertanyakan kenapa gagasan-gagasan yang telah disampaikan oleh para budayawan di Jombang selama 10-15 tahun, jalan ditempat. Perlu ada organisasi sebagai wadah bagi seniman dan budayawan yang tersebar di berbagai lokasi dan ragam fokusnya. Bagaimana dengan rencana pembentukan Dewan Kesenian Jombang ?

"Jogja punya gudeg, dagadu, dll. Bagaimana dengan Jombang , mengapa rumit menemukan, menjalankan dan mengembangkan temuan-temuan tersebut.Ludruk di Jombang (sebagai Icon), bagaimana kehidupannya sekarang ?".

Fathurrohman, setuju dengan ide diadakannya pasar seni Ringin Contong, bersifat reguler (rutin pada waktu-waktu tertentu). Perlu dikoordinasikan dengan instansi pemerintah daerah dan tidak berhenti pada gagasan semata.

 

Sekitar 30 peserta mengikuti acara dengan gayeng dan santai dengan hidangan kopi dan gorengan serta pangsit mie. Ada perwakilan dari PKL, ikatan masyarakat tionghoa, pelaku seni tradisi dan modern,penulis, jurnalis, LSM.

Nasrulloh Illahi dari Parbupora Kabupaten Jombang ikut urun rembug dan menguraikan beberapa program yang telah dilakukan Parbupora Jombang."Pasar malam alun-alun, Kebonrojo bisakah dijadikan satu icon yang bisa bernilai ekonomis dan tempat untuk mengembangkan kreasi seni dan budaya ?Gagasan tentang Dewan Kesenian Jombang telah beberapa kali dilakukan, melalui musyawarah besar seniman Jombang, dilanjutkan dengan tim perumus, merancang program pengembangan seni dan budaya Jombang. Kenapa terhenti?"

 

Lebih lanjut, Cak Nas, panggilan akrabnya menyarankan agar pasar seni Ringin Contong, perlu disponsori oleh pihak ketiga dan  Parbupora bisa membantu fasilitas untuk pentas-pentas kesenian. Perlu formulasi yang efektif dan efisien, serta perlu pendekatan yang 'simbiosis mutualisme' (saling menguntungkan) antar berbagai pihak yang berkepentingan. Saat ini Parbupora Jombang giat mapping segala potensi seni dan budaya di Jombang. Perlu partisipasi dari para seniman/budayawan.

Bustani Salatin, penulis buku dan aktivis komunitas Poros Langit memberikan informasi perihal beberapa temuannya berkaitan dengan Mojopahit. "Mojopahit awal dekat di Kabuh-Ploso.Ringin contong, simbol Majapahit, bermaksud menjadi tempat berteduh.". Sambil mengusulkan lakon Bimo suci untuk pentas wayang kulit.

"Saya menawarkan  legenda Kebokicak untuk dieksporasi lebih detil. Saya punya 4 versi", kata Dian Sukarno penulis dongeng anak dan kolektor folklore cerita rakyat.

Jabar Abdullah  dari komunitas Lembahpring, menanyakan  kenapa seni budaya selalu terbentur terbentur dana. Bagaimana implementasi dan distribusinya sehingga  seni jaranan Cak Kandar dan Cak Slamet, tidak pernah dibantu oleh pemerintah sampai hari ini.

 

Sebagai keynote speaker adalah Arif Rofiq dari Taman Budaya Jawa Timur.

Menurut Abah Rofiq, panggilan akrabnya bahwa membuat festival seni-budaya, gampang di gagasan, sementara implementasinya gampang-gampang susah. Perlu diperkuat dukungan dari bawah, tidak bisa berharap banyak dari atas. Suatu gagasan penting di prosesnya, tidak perlu berharap instan jadi.Banyak pengalaman event organizer festival seni-budaya, jatuh bangun ketika mewujudkan gagasan,frustasi bisa terjadi jika tidak memiliki tekad dan motivasi yang tinggi. Gagasan spesifik, perlu dilaksanakan oleh mereka yang memiliki bakat spesifik.

Perlu sinergi dukungan, sangat ditentukan oleh bagi peran para pihak. Pemerintah memiliki fasilitas. Bagaimana yang lain ? Ketika diintegrasikan gagasan bisa diwujudkan. Kuncinya  adalah  kesamaan visi, bertemu di misi, dan diwujudkan atas dasar kejelasan berbagi peran, karena masing-masing memiliki kemampuan menyediakan fasilitas-fasilitas berbeda.

Lebih lanjut Arif Rofiq yang berlatar belakang penari memberi contoh menarik adalah pelaksanaan Jember Fashion Carnival, sebagai sebuah festival yang mendunia. Gagasan yang kemudian berorientasi proyek akan mudah gagal di tengah jalan seperti Kya-kya Surabaya. karena pengaturan kepentingan tidak tuntas diawal. Gagasan yang ingin diwujudkan tidak hanya ketemu di prinsip, sistem dan teknisnya perlu disepakati oleh berbagai pihak yang terlibat.

"Sistem untuk mewujudkan aksi  dan menjaga keberlangsungan aksi perlu dirumuskan dan dijaga. Para pihak yang terlibat harus konsisten. Demikian halnya dengan rencana festival seni budaya Ringin Contong.

Memperkuat kesenian bisa dilakukan dengan memperkuat aspek-aspek tertentu dalam kesenian melalui penumbuhan pementasan-pementasan kelompok-kelompok seni. Dari situ, bisa ditemukan penguatannya; ada yang kuat tari, kuat koreografinya, kuat gamelannya, dll. Nah, masing-masing akan nampak spesifikasinya," jelas Arif Rofiq sekaligus menutup acara pada pukul 22.00 wib.

 

Informasi:

Inswiardi (Jombang) : 081 331 235 113

                

 


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: