10 Juli 2008

[ac-i] Aslan Abidin Goes To Mojokerto

Dengan hormat,

 

Mengharap kehadiran Anda pada

 

Hari           :  Minggu Pahing

Tanggal     : 13 Juli 2008

Pukul         : 19.00 wib

Tempat      : Sekretariat Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto

d.a. Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto

Jl. Jayanegara  4 Kabupaten Mojokerto

telp 0321- 322244      

 

Acara         :

-Baca puisi 16 Penyair Mojokerto:

Dadang Ari Murtono-Kiki Effendi-Syamsul "Dasamuka Jr" Arifin-Jack "Ponadi" Effendi-Sarah Serena-Suliadi-Andhie Nurkholis- Jito Akar Mojo-Faqih-Fatoni-Bagus Mahayasa-Uka-Hadi Direkso-Marwiyah Derang-Umi Salama-Didik Pradipto

 

-Pentas Komunitas musik OyotMimang

 

-Bedah antologi puisi Bahaya Laten Malam Pengantin

Karya Aslan Abidin (Ininnawa, Makassar, Juni 2008)

Narasumber:

Aslan Abidin (penyair)

Hardjono WS (Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto)

 

Moderator:

Chamim Kohari (Komite Sastra Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto)

 

Terbuka untuk umum dan gratis.

 

Terima kasih.

 

Salam hangat,

Hardjono WS

Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto

Telp 0321- 7227330

 

 

Call center:

081 931 09 1965 (Chamim Kohari)

081 33 22 76 167(Suyitno Ethexs)

081 357 608 833 (Suliyat)


Aslan Abidin

 

lahir di Soppeng, Sulawesi Selatan, 31 Mei 1972. 

Pada 1998 resmi menjadi sarjana sastra dari Universitas Hasanuddin. 
Sajak-sajaknya telah dipublikasikan berbagai media massa seperti Media Indonesia, Basis, Horison, Jurnal Puisi, Republika, Bernas. 
Dua kali diundang Dewan Kesenian Jakarta dalam Mimbar Penyair Abad 21 dan Baca Sajak Penyair Delapan Kota. 
Kini memimpin Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST) Makassar

Kini menetap di Perumnas Antang, Jl Bangkalan II No 146 Blok I, Ujungpandang 90235. 

 

Aslan, Pattorani dalam Laut Sastra Indonesia

Oleh Anwar Jimpe Rachman

 

INILAH lipatan-lipatan sajak Aslan Abidin yang pertama. Sekumpul sajak yang oleh beberapa di antara sidang pembaca, mungkin, amat 'genit'. Pembedaharaan kata rasa genit bisa dinikmati di setumpuk sajak yang ditulisnya mulai 1993 dalam buku ini. Tapi benarkah Aslan genit?
Sepintas rasanya memang demikian. Tapi bagi Penerbit, sajak Aslan Abidin adalah benda penting dalam kehidupan kebudayaan Sulawesi Selatan. Pilihan Aslan untuk memasukkan seperangkat instrumen tubuh ke dalam larik sajaknya adalah pilihan yang tepat—setidaknya untuk kondisi Sulawesi Selatan.
Aslan sendiri dalam beberapa kesempatan mengatakan, perangkat tubuh yang dimasukkannya itu berdasarkan kebiasaan nelayan Pattorani atau pencari telur ikan terbang. Bila sedang di tengah laut, mereka melantunkan syair-syair cabul, sebagai penawar bagi awak Pattorani biar tak dimabukkan ombak laut yang keras; juga pelipur bagi mereka yang dilanda rindu rumah karena berlayar lama.
Tak kalah penting pula bagi kami adalah bila masyarakat laut seperti komunitas Pattorani menggunakan perangkat bahasa itu sebagai syair yang menenangkan, lain pula dengan masyarakat daratan Sulawesi Selatan. Kelamin, tentu dengan bahasa setempat, dipakai dalam kebutuhan memaki, seperti [maaf!] tailaso-mu (laso [Bugis/Makassar] = penis). Penggunaan kata 'kotor' itu berbeda dengan masyarakat, semisal Jawa, yang memakai kata, kalimat, dan sumpah-serapah dengan mendayagunakan nama anggota tubuh lain, semisal batok-mu, atau mata-mu.
Perilaku berbahasa masyarakat tempatnya tumbuh itu pun bisa menjadi referensi terkait laku Aslan dalam bersajak, yang memaksimalkan glosari kelamin dan alat genital lainnya menjadi perangkat bahasanya. Maka jangan heran dan tidak kebetulan bila Aslan mengolah dan menyandingkannya dengan kosa kata dan narasi tentang kekuasaan di dalam sajaknya seperti yang terpapar jelas dalam Rajah di Antara Kedua Buah Dada, Homme Statue, Phallusentris, atau Puncak Agustus 2002. Di tempatnya tumbuh, Sulawesi Selatan, Aslan bertindak sebagai warga yang merekam kedongkolannya terhadap praktik-praktik pengaturan yang dilakukan seperangkat aparatus negara yang abai terhadap kritik dan masukan.

KUMPULAN sajak ini awalnya dijuduli Buah Dada Aslan. Judul ini tidak bertahan lama. Aslan menyodorkan titel yang lebih 'menantang', yakni Kelamin dari Timur. Tajuk ini merupakan pengeliruan Ayam Jantan dari Timur, gelar pahlawan nasional Sultan Hasanuddin. Sayangnya, meski mendapat sambutan hangat, judul itu kami ubah lagi, lantaran beberapa masukan dari teman dekat.
Alasan yang terkuat adalah judul itu dianggap makin menegaskan sastra Indonesia masih memiliki kutub. Kami tidak menganut paham itu. Kami hanya melihat sastra harusnya hadir dan hidup untuk perbaikan-perbaikan kehidupan, setidaknya bagi masyarakat sekitarnya.
Selain itu, kecenderungan para petinggi yang berkiprah di tingkat nasional kerap membawa sematan Dari Timur bila masuk ke kancah yang lebih luas, termasuk Sultan Hasanuddin tadi, sebagai sebuah fenomena lucu bagi kami. Seakan-akan mereka berkiprah karena dorongan semangat dari pendukungnya yang murni hanya dari tempat mereka dibesarkan. Sekali lagi, kami bukan salah satu pengikut paham itu.

KAMI hadirkan sajak-sajak Aslan Abidin dalam buku ini, semoga, menjadi bagian dari laku kritik-diri, kritik terhadap apa yang tengah berlangsung di tengah kami. Harapannya, sifat masyarakat Sulsel yang pojialé (megalomania) tidak sampai menjangkit dalam generasi kami.
Lantaran pula sebab buku ini hadir untuk memberi semarak dunia sastra Indonesia, kami hantar sidang pembaca yang budiman dengan esai tak berjudul dari Ian Campbell, seorang peneliti keindonesiaan berkebangsaan Australia. Tulisan Campbell memang berbahasa Indonesia 'tertatih'. Namun kami membiarkannya demikian agar keaslian buah pikiran Beliau dalam logika bahasa Indonesia tak tergerus penyuntingan.
Dengan ini pula, kami hadirkan Aslan layaknya sebagai Pattorani di lautan luas sastra Indonesia: pelantun syair peredam gelombang hidup yang cepat-deras-keras.[]

(Tulisan ini adalah pengantar penerbitan kumpulan sajak Aslan Abidin "Bahaya Laten Malam Pengantin" [Ininnawa-2008]

Sumber: http://kotakjimpe.blogdrive.com



__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: