13 Juli 2008

[ac-i] A.Kohar Ibrahim: Kreasi Sarat Semangat Multatuli

Kreasi Sarat Semangat Multatuli
Stm (21) Oleh: A.Kohar Ibrahim
 
 

Kreasi Sarat Semangat Multatuli

 

 Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis

(21)

 

Oleh : A.Kohar Ibrahim

 

*

 

Betapa hebat manusia

Jantung dan kepalanya

Betapa ngerinya manusia

Tingkah dan perbuatannya

(Asahan Aidit)

 

*

 

Dari Penyaji Kreasi : Bersemangat Multatuli

 

BIASA seperti biasa, tiap terbitan diawali tulisan editor. Begitulah Kreasi N° 7 1989-1991 setebal 80 halaman itu, pada halaman pertama tertera « Dari Penyaji : Dengan Semangat Multatuli ». Selaras ilustrasi halaman kulitnya berupa gambar Multatuli dan penyair WS Rendra yang lagi mengaktualitas di atas pentas gerakan kebudayaan, khususnya kesusastraan Indonesia. Dengan kasus sajak-sajaknya « Demi Orang Orang Rangkasbitung » dan « Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Roterdam » yang menggugah-gugat masyarakat berkaitan erat dengan kekuasaan Orang Kuat : Orde Baru.

 

« Perkembangan situasi budaya belakangan ini mempengaruhi rencana komposisi Kreasi nomor 7, » tulias penyaji D. Tanaera alias saya sendiri, menjelaskan,  hingga ada beberapa naskah mesti ditunda. Rubrik Catatan & Berita Budaya, misalnya, di « tiadakan » dalam nomor  ini, diganti dengan catatan-catatan yang relatip agak panjang tentang dan oleh para seniman. Bahkan kreasi itu sendiri – prosa maupun puisi – sebagian besar menampilkan kisah-kisah hidup atau kehidupan seniman.

 

Penulis sekaligus penyair Bet Gomas mengetengahkan persoalan aktual sekitar glasnost yang sejak awal zaman Gorbachev telah menggemparkan dunia – terutama dunia pikiran. Dunia kesadaran. Hingga terjadinya perubahan-perubahan dalam berbagai skala maupun nuansanya. Dengan kata lain, pengaruhnya bukan hanya di Uni Soviet atau « Blok Timur » saja, melainkan juga di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

 

Dalam hal glasnost, yang menjadi masalah memang dalam hal pengertian dan penggunaan atau penyalahgunaannya ! Pada umumnya tergantung dari pengetahuan, kesadaran serta kepentingan masing-masing yang bersangkutan – individual atau kelompokan manusia ataupun kekuasaan dalam berbagai bentuknya. Maka surat Anushka kepada Gregory itu memang menarik sekali ketika menyatakan bahwa baginya, glasnost itu bukan hanya berarti keterbukaan. Melainkan juga merupakan pengakuan atas adanya banyak masalah gawat yang selama 7 dasawarasa ditutup-tutupi, disembunyikan, dirahasiakan dan dilarang muncul dari benak manusia dalam bentuk kritik atau oposisi macam manapun… Saya pernah bilang, bahwa apa yang terjadi di URSS sejak 1985 – dengan glasnost dan perestroika – merupakan suatu revolusi kebudayaan yang luarbiasa dan merupakan suatu gerakan kritik-otokritik skala dunia. Justeru terutama mengingat persoalannya yang begitu besar, begitu penting, begitu genting atau gawat itu !

 

Aneka macam pengertian atas glasnost memang tercermin dari pengaruhnya di Indonesia. Glasnost bukan berarti keterbukaan belaka – sekalipun keterbukaan saja pun sesungguhnya tidak ada di Indonesia di bawah rezim Orde Baru. Suara Arief Budiman menunjukkan bahwa soal keterbukaan di Indonesia itu hanya menurut kepentingan atasan dan hanya merupakan keterbukaan main-main. Dalam hal ini saya juga pernah bilang, jika rezim di Indonesia itu melakukan keterbukaan secara konsekwen, itu berarti bunuh-diri ! Kerna tak ada syarat baginya untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan kebebasan. Tak ada syarat untuk melakukan kritik-otokritik. Syarat mereka justeru yang bertentangan dengan semuanya itu. Bukti-bukti tak terbilang banyaknya – dari semula sampai yang paling belakangan ini. Di bidang kesenian, peristiwa yang terjadi dalam bulan-bulan terakhir 1990 telah menunjukkan secara gamblang. Dalam mana kasus Rendra dengan 2 sajaknya yang menjadi mashur dalam waktu singkat itu merupakan puncaknya.

 

Oleh karena kasus Rendra yang berkaitan erat dengan kasus Multatuli itulah, maka kami sajikan catatan-catatan atas kedua seniman sekaligus humanis besar itu. Sebagai penghargaan kita – sekali lagi – pada makna dan jasa mereka. Dan juga mengingat arti sejarahnya, maka kami sajikan 2 sajak Rendra yang masing-masing berjudul Demi Orang-orang Rangkasbitung dan Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Roterdam, serta penjelasan dari Rendra sendiri atas kedua kreasinya itu.

 

Mereka yang mencinta kebenaran, keadilan dan kebebasan serta berpandangan luas, tentulah mengakui kepeloporan Multatuli dalam perjuangan untuk masalah-masalah besar dan luhur itu. Perjuangan yang sarat penderitaan dan dari mereka yang menderita. Perjuangan yang terus hadir terus mengalir.

 

Memang, memproklamirkan kemerdekaan itu satu hal, bagaimana mengisinya, bagaimana mewujudkannya bagi seluruh bangsa atau rakyat adalah hal yang lain lagi. Adanya konstatasi baik di zaman Sukarno maupun di zaman Suharto terbukti masih tetap sama berlakunya, bahwa Indonesia belum merdeka penuh. Kalau bukannya semacam negeri neo-kolonial !

 

Kalau tempo doeloe, di kalangan seniman, yang bersuara begitu terutama dari kalangan Lekra saja, maka kemudian juga dari kelangan seniman lainnya semacam Rendra. Suatu fenomena yang wajar. Seperti kata pribasa : Patah tumbuh hilang berganti. Sebab, hakekat pengabdiannya adalah sama, yaitu demi kebenaran, keadilan dan kebebasan serta kemanusiaan.

 

Begitulah hakekat perjuangan Multatuli, juga Chairil Anwar, Cornel Simanjuntak, Pramoedya, Rendra dan yang lain-lainnya lagi, termasuk pengisi Kreasi nomor ini. Suatu bentuk perjuangan yang bukan sebagai penentu, melainkan keturutsertaan dalam menentukan perubahan masyarakat manusia – dengan menggugah kesadarannya.

 

Tak peduli bagaimana besar-kecilnya jasa tiap seniman kreator, asal memiliki semangat Multatuli, masing-masing punya makna berharga dari penunaian kewajibannya – seperti kata Rendra : « Hadir dan mengalir ».

 

*

 

KREASI N° 7 setebal 80 halaman tersebut berisi berkas karya tulis, selain Dari Penyaji, naskah lainnya adalah « Eksakta dau buah persamaan aljabar » Bet Gomas, « Suara Arief Budiman », « Jejak Multatuli » oleh D. Tanaera. « Rendra Si Buung Merak » catatan DT. « Penjelasan Rendra » dan Dua Sajak Rendra : Demi Orang-orang Rangkasbitung, Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Roterdam. « Cornel Simanjuntak, Cahya datanglah » (2)  oleh Hersri. Dan catatannya dari Kamp Buru : « Apa kambék-kambékan, hé ? » Tersajikan pula 3 cerpen : « Ating Penyair Urakan » oleh Astama. « Diantara Tamu Tamu Kami » oleh Sobron Aidit. « Ayah bercerita » oleh Alan Hogeland.  Sedangkan kreasi puisi berupa sajak-sajak Asahan Aidit berjudul « Percakapan Dengan Arwah Pahlawan Di Sai Son » , « Antara Aku, Ular Dan Roket » dan « Hanoi Desember 1972 ».

 

Menelaah kreasi puisi berupa sajak-sajak Asahan tersebut, masa itu, merupakan suatu kesempatan istimewa karena telah terlebih dahulu menikmatinya, sebelum disaji-siarkan ke khalayak ramai. Tak urung, dengan itu pula, saya sampaikan apresiasi saya kepada yang bersangkutan. Bahwa benarlah, bahwa Asahan memang salah seorang dari penyair terkuat dari kalangan sastrawan eksilan, di samping Suprijadi Tomodihardjo dan Kusni Sulang alias Magusig O Bungai.

 

Iya. Teristimewa sekali sangat mengesankan « Percakapan Dengan Arwah Pahlawan Di Sai Son », yang tergolong sajak berkisah ;  kreasi simbolistis cenderung surrealistis. Lebih-lebih lagi, sebagai ilustrasi tersaji pula karya gambar hasil goresan sang putera tercinta : Vicci Aidit. Untuk kali ini, terlebih dahulu, saya sajikan kembali sajak berkisahnya.

 

Percakapan Dengan Arwah Pahlawan Di Sai Son

 

Oleh : Asahan Aidit.

 

Di Sai Son ada lubang raksasa di perut gunung

Dalam terhujam dan hanya diterangi setitik caya

Di dasarnya gua-gua panjang berliku seperti sungai beranak

Di atas kepala tampak lubang sebesar mulut perigi

Dari sini matahari mengintip

Dari celah yang tinggal sebesar mata kadal

Aku dan awan dipisahkan oleh jarak yang meninggi

Terbenam dalam gunung yang berongga kapur dan batu

Dan aku seperti semut yang tertelan jatuh ke kerongkongan raksasa

Di kegelapan yang remang-remang

Di dunia yang serba semu dan samar

Sedang aku tak bersuluh tak berjantung D a n k o yang menyala

Karna aku cuma sendiri mencari sesuatu yang mungkin kugali

Tak bersama Samsul Bahrain dan tak juga bersama Raja Budiman

Aku mencari riwayat dan hikayat

Dari orang-orang yang mati terkapar oleh lapar dan sesat

Dari orang-orang yang memberontak tak cukup kawan kebesaran lawan

Entah ratusan entah ribuah, tulang-tulangnya terkubur longgar

Mereka kalah berlaga tapi meninggali makna dan kenangan

Sudah berpuluh, beratus tahun silam

Yang menang juga 'lah pergi habis tak berbekas

Seperti sangkakala remuk berkecai hilang tak lagi berbunyi

 

Kuhangati diriku dengan sinar yang seperti kerucut

Karna lubang juga mentari mampu menembus gunung

Kulihat cahaya itu rakus mencari ruang

Seperti air yang dahaga turun ke bawah

Seperti aku ingin tahu segala yang tak jelas

Tak cukup dengan kuping dan mata, dengan indra yang sedia ada

Ternyatalah aku lebih gila dari mentari dan air

Karnanya aku sering terkurung seperti sekarang

Hingga akupun kehilangan jalan pulang

Aku berputar-putar di liang panjang yang belasan batu

Hingga malam tiba bersama hilangnya sinar surya

 

Lelah dan jemu lubang keluar tak bertemu

Aku akan mati bersama sinar bulan yang pudar

Kematian yang tanpa bersabung dan diserang

Dingin membeku stalactiet, stalacmiet

Tetes-tetes air abadi akan melumatkan tubuhku yang kejang

 

Mampuslah kau !

Hatiku menyumpahi diri

Tapi aku masih punya waktu berbincang-bincang

Dengan roh-roh yang meninggalkan tulang-tulang

Siapa tahu mereka menunjukkan jalan pulang

Aku berteriak – keras – mendengking menggema

Aku manusia ! Aku masih hidup !

Aku mencari hikayat dan riwayat

Aku mencatat legenda dan mitos

Aku, aku…

Mencari jalan pulang !

 

Terdengar suara bergema

Menyambung suaraku yang putus

 

Kami tahu kau manusia, seperti kami dulu

Kau dahaga lapar dan rakus

Kau dari benua asing, kau terdampar

Kami tahu apa yang kau cari

Diantara tulang-tulang dan tembikar pecah berserakan

Kau menghafal ajaran panglima besar dan hulubalang perang

Kau berteori dan berdebat sepanjang hari

Kau penuduh dan tertuduh dalam berbagi dan mengingkari dosa

Kau suka menepuk dada sendiri

Mengaku pemberani tapi tak pernah berlaga

Kau bilang tak takut macan karna macan kaukata bergigi palsu

Kau berteman dengan naga karna naga

Kaubilang akan mengeringkan laut dan menyatukan semua benua

Kau merasa pandai mencari teman dan cerdik mengucilkan lawan

Kau gantungi siapa saja yang kuat karna kau lemah tak berdaya

Kau bermaksud mendirikan kerajaan di hutan dan menembaki orang-orang di kota

Kau punguti bekas parang dan puting tombak berambu yang dulu kami gunakan

Kau bergantung di awang-awang tapi merasa sedang berdiri menginjak dunia

Kau tempuh jalan bertapa tapi kau suka cerewet ; itu sangat bahaya

Hai, orang asing, apa lagi yang kau cari di sini

Gua ini bukan galian manusia, takkan bisa kau tiru kau jiplak

Ia terbentuk oleh alam dan dianugerahkan kepada kami pribumi di sini

Cuma sayangnya tak ada benteng yang tak terkalahkan

Tak ada pertahanan yang tak terpatahkan

Tak ada persembunyian yang tak tertemukan

Tak ada perang yang berperi-kemanusiaan

Tiada kekejaman yang tanpa dosa

Tak ada aniaya yang bertolak dari kasih sayang

 

Hai, orang asing

Kau tersesat, bukannya mencari

Dan mencari karena tersesat

Kau terdampar bukan hendak pulang

Dan hendak pulang karena terdampar

Kau rindu tanah, rumah dan makanan

Dan bukan hendak berlawan

Ah, manusia pertapa

Kami tahu semua isi perutmu

Di sini kau tak bisa berbohong

Tak bisa memulas kulitmu

Kami ini orang-orang perang, para panglima dan hulubalang

Kami bela bumi ini dengan kalah dan menang

 

Hai, orang asing !

Siapa yang mengejar dan memburumu

Takutkah kau penjara dan siksaan

Hingga menyepi membiarkan waktu terbuang

 

Aku yang terpaku dan termangu

Tak tertahankan lagi

Mendengar tuduhan arwah suci

Hina dan malu tersentuh tak tertanggungkan

 

Arwah suci !

Aku ini bukan yang di buru

Tapi juga yang terbuang

Aku tak tahu penjara

Karnanya tak kukenal jera

Tak kualami pukulan dan siksaan

Hanya digemuki dan dimanjakan

Karnanya kudatang ke bumi Anda

Untuk berguru dan belajar menderita

Kuamati parang beliung yang Anda gunakan

Bagi merubah negeri dan tata tertib

Kumasuki kelenteng dan kuil-kuil

Untuk mencari petuah dan pendapat

Kumasuki gua-gua dan lubang-lubang dipertapaan

Agar tenang dalam  tafakur memamah ajaran

Kucari dan kupanggil arwah dan roh Anda

Supaya kuwarisi semangat dan harkat

Dan soal takut pulang itu tak usahlah Anda gaduhkan

Hingga saat ini diskusinya masihpun hangat

 

Hingga di sini tenagakupun serasa 'kan habis

Kutunggu jawaban arwah sekedar berehat sejenak

 

Hai pertapa asing, petualang, musyafir dan kelana !

Siapa sebenarnya kau ini

Pendekar atau pendengkur

Kau pandai bersilat tapi cuma di lidah

Kau seperti mendengar tapi matamu tertidur

Kau mamah ajaran tapi tak kau singkapkan

Hulubalang dan raja hilang muncul

Ramai-ramai kaupuja lalu ramai pula kau cela

Tak ingatkah kau dengan peribahasa

Kemana angin bertiup kesana pula pokok condong

Tak bisakah kau menjadi pohon

Besar tinggi dan tegak

Tak terlena oleh bayu tak roboh oleh ribut dan badai

Kau jauhi teman dan lawan

Kau dekati roh dan mendiang

Kau ziarahi makam-makam dan pekuburan

Mengharapi berkah dan selamat

Untukmu sendiri bukan untuk yang mati

Tak bisakah kau mencipta dan sedikit mengharap

Tak bisakah kau sairkan sairmu sendiri

Dan bukan hanya berdeklamasi yang orang-orang tak banyak mengerti

Tak bosankah kau dengan syablon dan klise

Yang mengiang di kedai-kedai kopi

 

Terasa kembali seperti disengat

Kritik dan tuduhan yang bagiku seperti nasi

Tapi kali ini benar-benar aku memberang

Tuduhan arwah suci

Mengguyur telinga mengiris jantung menikam empedu

Aku tak suka dibeginikan

Hingga akupun lupa bahwa aku pertapa

 

Arwah para pahlawan

Aku datang, aku jelang bagi mendekatkan diri disisimu

Bukankah kalian bangsa pahlawan

Turun-temurun dan berkurun-kurun

Menang dan kalah di dalam perang

Kudengarkan setiap katamu

Kutunggui perintah-perintah terbaru

Kusimpan surat-surat wasiat dan testamen

Karna kuyakini sinar mukjizat kebenaran dan kemurnian

Aku tak dilahirkan sebagai pembohong

Aku tak pandai berdusta memulas diri memulas kata

Karnanya kucari kebenaran dan kemurnian

Kudambakan kedamaian seperti yang juga kalian tuntut

Aku bukan pengekor bukan pembuntut

Aku cerewet karna tak tahu dan tak jelas

Bukan bertolak dari keinginan membangkang

Aku prajurit bukan panglima

Aku tak mengutuk dan memuji raja-raja menurut arah angin

Aku kandas oleh laut yang tak dalam

Terdampar bertemu angin haluan

Kutuklah jurumudi besar

Dan bukan aku yang pelaut

Aku tertinggal dan terlantar

Kucintai bumi dan tanahku

Seperti juga kan mencintai tanahmu

Aku tak berlari dari titik tolak

Tapi menuju ke pangkalan bundaku

Dan karna huru-hara yang bergejolak

Kuringkaskan muatan sarat menunggu badai berlalu

 

Suara arwah berkumandang

 

Pertapa asing !

Kau cari juga teman seiring

Kau tahu tanah ini tandus dan kering

Perang berkecamuk beras dan garam tak cukup

Kembalilah engkau ke lumbung yang melimpah

Ke kandang-kandang yang penuh ternak

Ke orang-orang yang ramah-tamah

Ke dapur-dapur yang berasap dimana lidah bergoncang

Ke peradaban, sopan-santun puja-puji senyum-simpul

Di mana kau tenang dengan seribu urusan

Jangan kau tambah lagi dengan beban-beban

 

Aku kembali menyambut kata

 

Arwah suci,

'Kan terusir pulakah badan awak

Seperti bola sepak yang ditendang kesana kemari

Ke timur ditolak, barat ditinggalkan di selatan diberambuskan

Sedang kampung sendiri habis seperti Singapura terbakar

 

Aku diam suara arwah tak lagi terdengar

Malam bertambah larut, hening hitam pekat sejagat

Mataku terpejam, lena dan tak ada lagi yang kuingat

Kutinggalkan Sai Son, entah bagaimana peristiwanya.

 

Vietnam

Ha Tay 1969

Asahan Aidit

 

*

 

Catatan :

Akan berkelanjutan Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis N° 22 :  Mempertandai Jejak Multatuli. ***

 



Envoyé avec Yahoo! Mail.
Une boite mail plus intelligente. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: