31 Juli 2008

[ac-i] Komunitas Tombo Ati- Jombang pentas TEKEK (Heru Kesawa Murti)

Komunitas Tombo Ati Jombang akan mementaskan
TEKEK
karya Heru Kesawa Murti
sutradara Christanto Tripilu

2-3 Agustus 2008
di Plaza Theatre Jombang

2 Agustus 2008
pukul 15.00 wib dan 19.00 wib

3 Agustus 2008
10.00 wib dan 15.00 wib

Informasi:
Imam Ghozali
085 854 100 110
0888 530 44 97


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] KEMBALINYA SASTERAWAN NEGARA S. OTHMAN KELANTAN

Salam buat semua.

Bagi yang mengenali Sasterawan Negara (Malaysia) S. Othman Kelantan, dikhabarkan berita kehilangan sang penulis yang prolifik dan ikut menyumbang puluhan tahun memajukan dunia sastera Malaysia. Kesempatan ini, mohon bagi yang mengenali Allahyarham, ribuan ampun dan maaf segala dosa beliau dan mohon dilepaskan dengan penuh iklas segala hutang, makan minum dan apa-apa yang tidak pernah terfikir oleh kaum keluarganya.

Mungkin ada yang pernah menulis tentang beliau, dapat kiranya tulisan tersebut dikirim kepada anakandanya S.M. Zakir buat pustaka ilmu bagi yang cinta akan sejarah.

Salam takziah boleh dikirimkan kepada anakandanya SM ZAKIR di alamat smzakir90@gmail.com

Salam.

Quoting blalang_kupukupu <blalang_kupukupu@yahoo.com> on Thu, 31 Jul 2008 05:00:46 -0000:

>
> XXV - I
>
>
>
>
> Terhitung mundur satu.
>
>
>
> Sekali kuhembuskan. Tiga kali kuhirup kembali dua puluh lima hisapan
>
> mulut ini. Agar menggumpal segala Arok yang dilahirkan asap. Dan
>
> lekuk-lekuk pembuluhku, menyawa lelekuk keris Gandring.
>
>
> Aku mitos yang terduduk, didudukkan saja di atas kasur tanpa sprei ini.
>
> Dengan sarung, tanpa celana dalam. Seorang perempuan berambut panjang
>
> gelombang berdarah-darah di atas kasur yang sama.
>
> Menggelinjang-gelinjang. Merontan-ronta. Berteriak-teriak mengusirku ke
>
> luar dari istana rahim-Nya.  Tangis-jeritku diasingkan ke karautan.
>
> Disaksikan asap yang bersitegang dengan bulan.
>
>
> Bulan yang putih sudah hendak mengulurkan tangan. Hendak merangkulku
>
> kembali ke putih pelukan. Ke sepasang juntai puting mata air susu
>
> emban.
>
>
> "Oh bayiku, bayiku yang malang. Asap janganlah, jangan pasung
> katupan
>
> pertama matanya."
>
>
> Tapi bulan terlalu tinggi menggantung. Dan siapa makhluk di bumi yang
>
> tak kuasa menahan hasrat untuk dirayu ayunan?
>
>
> Tidak !
>
>
> Tangisku tambah kental. Aku ingin hanya kelindan danging yang
>
> betul-betul sintal. Yang kental. Yang kenyal. Dan siapa yang menyamai
>
> kelembutan asap selain angin yang tak betah berlama-lama di padang
>
> ilalang?
>
>
> Asap turun dari kepundan. Jeritku telah mengacau-balaukan malam. Aku di
>
> rimba. Di tengah pesta auman. Di sela irama acak tuak  jangkrik yang
>
> menggali liat tanah basah. Asap membuka penutup dadanya. Mengulurkan
>
> julur pucuknya. Ke mulutku yang menganga. Ke ujung lekuk keris yang
>
> haus darah. Yang lapar tulang.
>
>
> Terhitung mundur satu.
>
>
> Sekali kuhembuskan. Tiga kali kuhirup kembali dua puluh lima hisapan
>
> mulut ini.  Asaplah yang mengajariku membaca diam. Maka aku membaca
>
> senyap alam.  Senyap yang akan selalu diperdebatkan logika zaman.
>
> Seperti mitos kutukan: "Keterlahiran moyang perempuan dari rusuk
> Adam."
>
>
> Terhitung mundur satu, dari ini malam bulan.
>
>
> Rawamangun, Senin malam, 28072008
> blalang_kupukupu
> http://asharjunandar.wordpress.com <http://asharjunandar.wordpress.com>
>
>
>
>

------------------------------------------------------------------------------------
UNIVERSITY OF MALAYA  -  " Producing Leaders Since 1905 "
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] PARADE BUKU MERDEKA MEDIA PRESSINDO GROUP JOGJA-SEMARANG PP

PARADE BUKU MERDEKA

MEDIA PRESSINDO GROUP dan TOKO BUKU GRAMEDIA

JOGJA – SEMARANG PP

 

Diskusi Buku

 

MC : Darmo Budi S.

 

JOGJAKARTA SESSION

  • 5 AGUSTUS 2008 | 16.00 WIB | Panggung JOGJA BOOK FAIR 2008, Jogja Expo Centre

BERBISNIS DENGAN OTAK KANAN (Suryono Ekotama)

Menghadirkan  Suryono Ekotama (Penulis dan Direktur Smartpreneur Business Club)

 

  • 9 AGUSTUS 2008 | 14.00 WIB | TB. Gramedia Jl. Sudirman Jogja

MANUNGGALING KAWULA-GUSTI (K.H. M. Sholikhin)

Menghadirkan K.H. Muhammad Sholikhin (Penulis dan Peneliti Suifisme Islam Jawa)

 

  • 9 AGUSTUS 2008 | 18.00 WIB | TB. Gramedia Jl. Sudirman Jogja

BABAD TANAH JAWI (W.L. Olthof)

THE HISTORY OF JAVA (Thomas Stamford Raffles)

Menghadirkan : Sugito HS. (Budayawan Jawa dan Kolumnis Harian Jogja)

 

  • 17 AGUSTUS 2008 | 11.00 WIB | TB. Gramedia Jl. Sudirman Jogja

TEROBOSAN KEPEMIMPINAN (Ari Retno Habsari)

Menghadirkan : Ari Retno Habsari (Penulis dan Area Sales Manager BNI)

 

  • 20 AGUSTUS 2008 | 11.00 WIB | TB. Gramedia Jl. Sudirman Jogja

JARIMAGIC (M. Fajar Aulia)

Menghadirkan : M. Fajar Aulia (Penulis dan Pengajar)

 

  • 21 AGUSTUS 2008 | 14.00 WIB | TB. Gramedia Jl. Sudirman Jogja

BERBISNIS DENGAN OTAK KANAN (Suryono Ekotama)

Menghadirkan : Suryono Ekotama (Penulis dan Direktur Smartpreneur Business Club)

 

SEMARANG SESSION

  • 14 AGUSTUS | 14.00 WIB | TB. Gramedia Jl. Pandanaran SMG

BERBISNIS DENGAN OTAK KANAN (Suryono Ekotama)

Menghadirkan Suryono Ekotama (Penulis dan Direktur Smartpreneur Business Club)

 

  • 18 AGUSTUS 2008 | 11.00 WIB | TB. Gramedia Jl. Pandanaran SMG

TEROBOSAN KEPEMIMPINAN (Ari Retno Habsari)

Menghadirkan : Ari Retno Habsari (Penulis dan Area Sales Manager BNI)

 

  • 23 AGUSTUS 2008 | 14.00 WIB | TB. Gramedia Jl. Pandanaran SMG

MANUNGGALING KAWULA-GUSTI (K.H. M. Sholikhin)

Menghadirkan K.H. Muhammad Sholikhin (Penulis dan Ulama)

 

  • 23 AGUSTUS 2008 | 18.00 WIB | TB. Gramedia Jl. Pandanaran SMG

BABAD TANAH JAWI (W.L. Olthof)

The History of Java (Thomas Stamford Raffles)

Menghadirkan : Sugito HS. (Budayawan Jawa dan Kolumnis Harian Jogja)

 

 

Didik Adi Sukmoko (Jali)

Promosi dan Eksternal Affair

Media Pressindo Group

08882855643


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Diskusi Majalah VERSUS Episode-1 “Hot Ice Tea”

Hot Ice Tea (HIT) merupakan arena diskusi Majalah VERSUS, yang akan berlangsung setiap bulan, dengan topik yang selalu berupaya mencarikan titik temu antara dua masalah yang selama ini tampak atau dinilai saling kontra/versus. Pada episode yang pertama ini VERSUS akan menampilkan tema "Implikasi Pemahaman Sejarah Terhadap Desain Grafis di Indonesia".

Detail acara diskusi ini bisa anda ikuti di DGI.

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Fw: [mediacare] Bio-Art Workshop for Artists. PLEASE FORWARD

 
----- Original Message -----
From: KELOLA
Sent: Thursday, July 31, 2008 11:41 AM
Subject: [mediacare] Bio-Art Workshop for Artists. PLEASE FORWARD

BAGAIMANA MEMBUAT KARYA SENI HIDUP

WORKSHOP LABORATORIUM BIOLOGI UNTUK SENIMAN

Kerja sama antara Quasi-Living Group,

Universitas Katolik Atma Jaya dan Yayasan Interkultur

 

Text Box:  Sebuah workshop akan diselenggarakan di Jakarta pada 11-15 Desember 2008 yang memperkenalkan seniman (seni visual, teater, musik) pada laboratorium ilmu biologi dan memperlihatkan bagaimana cara membuat karya seni hidup. Seniman diundang untuk berprtisipasi. Workshop ini gratis.

 

Untuk pertama kalinya di Indonesia, musisi, artis panggung dan visual bisa belajar dari pakar ilmu pengetahuan Gary Cass dari University of Western Australia tentang bagaimana cara menggunakan laboratorium ilmu biologi di Universitas Katholik Atma Jaya untuk membuat karya seni yang hidup. Gary akan didampingi oleh S. Chandrasekaran, seorang seniman dan mantan kepala sekolah seni La Salle-SIA Singapore, dan Robert Finlayson, penulis dan manajer seni. Mereka bertiga membentuk cikal bakal Quasi-Living Group.

 

Text Box:  Karya seni hidup adalah perkembangan terkini dalam teknik pembuatan seni di Australia,Eropa dan USA. Untuk membuat karya seni hidup, para seniman bekerja sama dengan ilmuan di laboratorium untuk menciptakan karya seni dari bakteri, DNA, jaringan kulit dan materi hidup lainnya. Musik, pakaian dan gambar telah tercipta dari kolaborasi seniman/ilmuan di seluruh dunia dan dipersembahkan kepada public dalam pameran-pameran khusus termasuk even seni skala besar seperti Venice Biennale and Documenta.

 

Dalam workshop, para seniman akan belajar bagaimana menggunakan teknologi laboratorium biologi untuk menciptakan karya seni dan berdiskusi mengenai isu-isu yang terkait etika.

 

Text Box:  Workshop akan berlangsung selama lima hari (11-15 Desember 2008) dan akan bertempat di Fakultas Bioteknologi di Universitas Atma Jaya, Semanggi, Jakarta. Tempat terbatas untuk 25 orang. Workshop akan dilakukan dalam bahasa Inggris dengan terjemahan bahasa Indonesia. Workshop ini gratis. Seniman yang berpartisipasi juga diundang untuk bergabung dengan Quasi-Living Group untuk membuat even pertunjukan yang unik di masa mendatang.

 

Quasi-Living Group, yang menyelenggarakan workshop berkolaborasi dengan Universitas Atma Jaya dan Yayasan Interkultur, mengundang para seniman untuk berpartisipasi, baik yang berpengalaman mau pun amatir. Seniman akan dipilih berdasarkan curriculum vitae (produksi karya berkualitas tinggi, ketertarikan pada eksperimen) dan kemampuan mereka berimajinasi tentang penggunaan karya seni hidup dalam praktek keseharian.

 

Untuk ikut serta, harap menjawab pertanyaan di bawah ini dalam bahasa Indonesia atau Inggris (maksimal satu jalaman A4), lampirkan CV anda dan kembalikan ke interkulturyayasan@ymail.com paling lambat 15 September 2008.

 

 

HOW TO MAKE LIVING ARTWORKS

Biological Science Workshop for Artists

 

A collaboration between Quasi-Living Group,

Universitas Katolik Atma Jaya and Yayasan Interkultur

 

A workshop will be run in Jakarta in December 2008 that introduces artists from all disciplines (visual arts, music, performance, literature, film, digital media) to a biological science laboratory and shows them how to make living artworks. Artists are now invited to apply to be involved. The workshop is free.

 

For the first time in Indonesia, musicians, performers and visual artists will be able to learn from scientific expert Gary Cass from the University of Western Australia about how to use a biological science laboratory at Universitas Katolik Atma Jaya to create living artworks. Gary will be accompanied by S. Chandrasekaran, performance artist and former head of La Salle-SIA Singapore school of art, and Robert Finlayson, writer and arts manager. Together they form the nucleus of Quasi-Living Group.

 

Living artworks are the latest development in art-making techniques practised in Australia, Europe and the USA. To make living artworks, artists collaborate with scientists in laboratories to create artworks from bacteria, DNA, skin tissue and other living material. Music, cloth and images have been successfully created from artist/scientist collaborations around the world and presented to the public in specialist exhibitions and at major art events such as the Venice Biennale and Documenta.

 

At the workshop, artists will learn how to use biological laboratory technology to create artworks and will be able to discuss the ethical issues. The workshop runs for five days (11-15 December 2008) and will be held at the Faculty of Biotechnology at Universitas Katolik Atma Jaya, Semanggi, Jakarta. Places are limited to 25. The workshop will be conducted in English with Indonesian interpretation and bi-lingual written material. The workshop is free. Artists who participate may also be invited to join with Quasi-Living Group to develop a unique performance event in the future.

 

Quasi-Living Group, which is running the workshop in collaboration with Universitas Atma Jaya and Yayasan Interkultur, is inviting artists to apply to participate. Both experienced and new artists are asked to apply. Artists will be selected on the basis of their curriculum vitae (production of high quality work, interest in experimentation) and their ability to imagine using living artworks in their practice.  To apply, please answer the questions below in Indonesian or English (maximum one A4 page), attach your CV and return to interkulturyayasan@ymail.com by 15 September 2008.


APPLICATION

 

WORKSHOP BIO-SENI                    11-15 DECEMBER 2008

UNIVERSITAS KATOLIK ATMA JAYA

JAKARTA

 

Nama:

Alamat:

 

Handphone:

Email:

 

  1. Harap lampirkan CV anda!
  2. Mengapa anda ingin mengikuti workshop?

 

  1. Harap jelaskan karya seni yang menurut imajinasi anda dapat dibuat dari materi hidup seperti bakteri, DNA, jaringan tanaman atau zat hidup lainnya (Harap diingat bahwa DNA, meski pun halus seperti sutra adalah kode matematika yang dapat dimanipulasi).

 

Kembalikan bersama CV anda ke interkulturyayasan@ymail.com paling lambat 15 September 2008.

 

 

KELOLA

Jl. Cikatomas II No. 33

Jakarta 12180

+ 62.21.7399311

kelola@cbn.net.id

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sphere: Related Content

[ac-i] [sajak] XXVI – I

XXV - I

 


Terhitung mundur satu.

 

Sekali kuhembuskan. Tiga kali kuhirup kembali dua puluh lima hisapan

mulut ini. Agar menggumpal segala Arok yang dilahirkan asap. Dan

lekuk-lekuk pembuluhku, menyawa lelekuk keris Gandring.

 
Aku mitos yang terduduk, didudukkan saja di atas kasur tanpa sprei ini.

Dengan sarung, tanpa celana dalam. Seorang perempuan berambut panjang

gelombang berdarah-darah di atas kasur yang sama.

Menggelinjang-gelinjang. Merontan-ronta. Berteriak-teriak mengusirku ke

luar dari istana rahim-Nya.  Tangis-jeritku diasingkan ke karautan.

Disaksikan asap yang bersitegang dengan bulan.

 
Bulan yang putih sudah hendak mengulurkan tangan. Hendak merangkulku

kembali ke putih pelukan. Ke sepasang juntai puting mata air susu

emban.

 
"Oh bayiku, bayiku yang malang. Asap janganlah, jangan pasung katupan

pertama matanya."

 
Tapi bulan terlalu tinggi menggantung. Dan siapa makhluk di bumi yang

tak kuasa menahan hasrat untuk dirayu ayunan?

 
Tidak !

 
Tangisku tambah kental. Aku ingin hanya kelindan danging yang

betul-betul sintal. Yang kental. Yang kenyal. Dan siapa yang menyamai

kelembutan asap selain angin yang tak betah berlama-lama di padang

ilalang?

 
Asap turun dari kepundan. Jeritku telah mengacau-balaukan malam. Aku di

rimba. Di tengah pesta auman. Di sela irama acak tuak  jangkrik yang

menggali liat tanah basah. Asap membuka penutup dadanya. Mengulurkan

julur pucuknya. Ke mulutku yang menganga. Ke ujung lekuk keris yang

haus darah. Yang lapar tulang. 

 
Terhitung mundur satu.
 

Sekali kuhembuskan. Tiga kali kuhirup kembali dua puluh lima hisapan

mulut ini.  Asaplah yang mengajariku membaca diam. Maka aku membaca

senyap alam.  Senyap yang akan selalu diperdebatkan logika zaman.

Seperti mitos kutukan: "Keterlahiran moyang perempuan dari rusuk Adam."
 

Terhitung mundur satu, dari ini malam bulan.


Rawamangun, Senin malam, 28072008
blalang_kupukupu
http://asharjunandar.wordpress.com

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Pokoknya Sunda

Taking on nothing but Sundanese culture

Setiono Sugiharto ,  Contributor ,  Jakarta   |  Sun, 07/27/2008 10:22 AM  |  Bookmark

Pokoknya Sunda: Interpretasi untuk aksi
(Nothing but Sunda: Interpretation for action)
by Chaedar Alwasilah
Publisher: Kiblat, 2006
194 pages

Glancing one's eyes over the title of this book, one may suspect that the author purposefully intends to disseminate ethnocentrism among readers who probably come from diverse cultural backgrounds.

The title seems to suggest that everything related to Sunda, be it language, culture, literacy, ethnic identity or education, are central to all reality.

However, a close inspection of its content reveals the author's balanced views of respecting cultural values other than the Sundanese's.

The theme bearing the name Sundanese -- one of the country's ethnic groups -- that Alwasilah exposes in this book is not meant to demonstrate the superiority of Sundanese culture over other cultures in multicultural and multiethnic countries, particularly Indonesia.

Rather, it is meant to show critiques of Sundanese culture per se, which are driven by Alwasilah's apprehension about its fate in this fast-changing world.

In the education realm, for instance, Alwasilah is particularly critical of the paucity of appreciation of the richness and vitality of ethnic literature in schools.

This reality, however, never dampens his enthusiasm in promoting the essentials of local culture in language education. Local wisdom, he implicitly begs, which is not highly valued must be reinvigorated so that students will have a sense of appreciating and preserving their cultural heritage.

Born and raised in a pesantren (Islamic boarding school) environment in Garut, West Java, Alwasilah is undoubtedly adroit at discussing issues related to Sundanese cultures.

His adroitness is depicted in more than 250 articles (most of which are about Sundanese cultures) that he published in mass media.

Other important works meriting a mention here are Dari Cicalengka sampai Chicago: Bunga Rampai Pendidikan Bahasa (1994), Politik Bahasa dan Pendidikan (1997) and Language, Culture, and Education: A Portrait of Contemporary Education (2001).

Pokoknya Sunda is one of his masterpieces that spells out practical strategies of revitalizing and preserving Sundanese cultural heritage without provoking readers to overlook the significance of other cultures.

This book is in fact an anthology of Alwasilah's essays loaded with social critiques. Because Alwasilah expresses apprehension not only about the cultural heritage of the Sundanese alone, he also includes the explication of other related issues such as the fate of national education in general, language planning, language education, the tradition of literacy and other social phenomena in the country.

What needs to be appreciated in his bid to reinvigorate Sundanese cultural heritage is Alwasilah's ground-breaking proposal of the renaissance of Sundanese culture and the establishment of the Center for Sundanese Study.

This proposal is not without its raison de *tre, however. A prolific writer and researcher for years, Alwasilah knows perfectly well how to elevate Sundanese culture both nationally and internationally.

In 2001 he was involved in the International Conference on Sundanese Culture in Bandung.

Attended by scholars from foreign countries around the world, the conference was an initial move for the renaissance of Sundanese culture. From this conference, Alwasilah expects two essential things: the understanding of Sundanese people, particularly the young generation, and the strategy of cultural legacy to young generation.

To fulfill these expectations, he brings into question the involvement of related parties such as scholars, journalists, educators, religious leaders and the like.

Written in elegantly well-chosen diction and lucid exposition, this anthology serves as a critical impetus for those in quest of cultural relativism. It can also become an insightful source of reference for language students, scholars, authorities and culture observers in their bid to interpret the richness and vitality of local cultures.

The writer is chief editor of the Indonesian Journal of English Language Teaching. He can be reached at setiono.sugiharto@atmajaya.ac.id.

http://www.thejakartapost.com/news/2008/07/27/taking-nothing-sundanese-culture.html

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Re: { PESISIR } Fw: MASTERA ANGKATAN 2001 dan KELUARGA "PPN" IKUT BERDUKA-SN SOK KEMBALI KERAHMATULLAH

Inna lillahi wa inna ilaihi Roji'un,
SASTRAWAN NEGARA ( S N ) Malaysia, Sayyid Othman Kelantan meninggal dunia hari ini di Bangi,Selangor,dekat Kuala Lumpur,Malaysia. Beliau adalah ayahanda sastrawan muda Malaysia paling menonjol,SM Zakir,yang juga salah satu anggota TIM AD HOC "PPN" atau Pesta Penyair Nusantara ...
 
Sayyid Othman Kelantan juga guru kami di workshop sastra MASTERA angkatan 2001-genre novel-- di Puncak,Bogor , yang amat ramah,penuh humor dan penuh perhatian.Periode MASTERA itu sungguh penuh kenangan yang indah.
 
Karena itu,saya VIDDY AD DAERY--mewakili Komunitas MASTERA terutama angkatan 2001 dan mewakili Keluarga Besar "PPN" menyatakan IKUT BERDUKA CITA atas wafatnya SASTRAWAN NEGARA S.OTHMAN KELANTAN dan ikut berdo'a semoga amal beliau akan menghantarkannya mendapat tempat yang layak dan indah di sisi Allah SWT.
 
Dan kepada keluarga yang ditinggalkan, terutama kepada Sdr.SM Zakir, dapat kekuatan untuk tabah menanggung duka, dan mewarisi semangat Pak Cikgu kami dalam mencintai dan "menguri-uri" dunia sastera,demi terjaganya peradaban dan harkat martabat kehidupan.
 
Al-Fatikhah...
 
Amin...
 
=====================VIDDY AD DAERY============================
 
 


--- On Wed, 7/30/08, Ediramle Ismail <ediramle@kokpasir.com> wrote:
From: Ediramle Ismail <ediramle@kokpasir.com>
Subject: { PESISIR } Fw: SN SOK KEMBALI KERAHMATULLAH
To: pesisir@yahoogroups.com
Date: Wednesday, July 30, 2008, 8:19 PM

------------ --------- ------- Original Message ------------ --------- -------
Subject: [KEMSAS] Fw: [dato_kemala] SN SOK KEMBALI KERAHMATULLAH
From: "Hasyuda Abadi" <hasyuda@yahoo. com>
Date: Thu, July 31, 2008 8:14 am
To: kemsas@yahoogroups. com
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

--- On Thu, 7/31/08, dato kemala <dato_kemala@ yahoo.com> wrote:

From: dato kemala <dato_kemala@ yahoo.com>
Subject: [dato_kemala] SN SOK KEMBALI KERAHMATULLAH
To: "dato_kemala dato_kemala" <dato_kemala@ yahoogroups. com>, "zikir_group
zikir_group zikir_group" <zikir_group@ yahoogroups. com>
Cc: "sanggar sastra" <sanggar-sastra- tasik@yahoogroup s.com>
Date: Thursday, July 31, 2008, 4:32 AM

Dengan sedihnya dimaklumkan
bahawa SN S.Othman Kelantan
ayahanda SM Zakir
meninggal dunia sebentar tadi
selepas dirawat di Hospital Selayang
hampir dua minggu. Jenazahnya
dibawa ke rumah allahyarham
di No. 11, Jalan 3/23, Taman Bangi3,
43650 Bandar Bangi, Selangor.

Alfatehah.
Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah (Kemala)

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Tabuik - Re: Syiah

Dear miliser

Berikut sebuah artikel tentang Tabuik yang pernah diposting oleh Bung Barry Kusuma di milis tourism-indonesia, juga saya sertakan sebuah artikel dari Koran Tempo.

-------------------------------------------------------------------------------------------

 

Mati Suri Tabuik
oleh Barry Kusuma

Untuk melihat foto klik (http://www.alambudaya.blogspot.com/ )

Peristiwa pembantaian Hussain, cucu Nabi Muhammad di Padang Karbala, oleh pasukan Yazid bin Muawiyah dari dinasti Ummayah, menorehkan guratan sejarah yang mendalam bagi umat muslim di dunia. Di Pariaman, Sumatera Barat, peristiwa ini diperingati dengan melaksanakan sebuah upacara, Tabuik.

Berasal dari kata `tabut', dari bahasa Arab yang berarti mengarak, upacara Tabuik merupakan sebuah tradisi masyarakat di pantai barat, Sumatera Barat, yang diselenggarakan secara turun menurun. Upacara ini digelar di hari Asura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dalam kalender Islam.

Simbol Rasa Duka

Konon, Tabuik dibawa oleh penganut Syiah dari timur tengah ke Pariaman, sebagai peringatan perang Karbala. Upacara ini juga sebagai simbol dan bentuk ekspresi rasa duka yang mendalam dan rasa hormat umat Islam di Pariaman terhadap cucu Nabi Muhammad SAW itu. Karena kemeriahan dan keunikan dalam setiap pagelarannya, Pemda setempat pun kemudian memasukkan upacara Tabuik dalam agenda wisata Sumatera Barat dan digelar setiap tahun.

Dua minggu menjelang pelaksanaan upacara Tabuik, warga Pariaman sudah sibuk melakukan berbagai persiapan. Mereka membuat serta aneka penganan, kue-kue khas dan Tabuik. Dalam masa ini, ada pula warga yang menjalankan ritual khusus, yakni puasa.

Selain sebagai nama upacara, Tabuik juga disematkan untuk nama benda yang menjadi komponen penting dalam ritual ini. Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu. Bentuknya berupa binatang berbadan kuda, berkepala manusia, yang tegap dan bersayap. Oleh umat Islam, binatang ini disebut Buraq dan dianggap sebagai binatang gaib. Di punggung Tabuik, dibuat sebuah tonggak setinggi sekitar 15 m. Tabuik kemudian dihiasi dengan warna merah dan warna lainnya dan akan di arak nantinya.

Pada hari yang telah ditentukan, sejak pukul 06.00, keramaian sudah terasa di seantero Kota Pariaman. Seluruh peserta dan kelengkapan upacara bersiap di alun-alun kota. Para warga lainnya berkerumun di tepi jalan untuk menyaksikan jalannya kirab Tabuik. Tak hanya warga biasa, para pejabat pemerintahan pun turut hadir dalam pelaksanaan upacara paling kolosal di Sumatera Barat ini.

Tepat pada waktunya, Tabuik mulai diangkat dan karnaval pun dimulai. Satu Tabuik diangkat oleh para pemikul yang jumlahnya mencapai 40 orang. Di belakang Tabuik, rombongan orang berbusana tradisional yang membawa alat musik perkusi berupa aneka gendang, turut mengisi barisan. Selama arak-arakan berlangsung, seluruh peserta karnaval meneriakkan, "Hayya Hussain… Hayya Hussain!!!" sebagai ungkapan hormat kepada cucu Nabi Muhammad SAW tersebut. Sesekali, arak-arakan berhenti dan puluhan orang yang memainkan silat khas Minang mulai beraksi sambil diiringi tetabuhan.

Saat matahari terbenam, arak-arakan pun berakhir. Kedua Tabuik dibawa ke pantai dan selanjutnya dilarung ke laut. Hal ini dilakukan karena ada kepercayaan bahwa dibuangnya Tabuik ini ke laut, dapat membuang sial. Di samping itu, momen ini juga dipercaya sebagai waktunya Buraq terbang ke langit, dengan membawa segala jenis arakannya.

Bila dibandingkan dengan upacara Tabuik yang digelar sepuluh tahun lalu, upacara Tabuik yang ada sekarang memang berbeda. Kala itu, Tabuik dibuat oleh dua kelompok warga dari kubu yang berbeda dan kemudian diadu satu sama lain. Dalam prosesnya, tak jarang diikuti pula dengan baku hantam para warga dari kedua kubu tersebut.

Atraksi Budaya Unik

Kini, unsur kekerasan yang tadinya terdapat pada Tabuik itu telah dihilangkan. Upacara ini lebih diarahkan kepada sebuah atraksi budaya yang menarik dan dapat dikonsumsi oleh para wisatawan. Selain menyaksikan prosesi upacara Tabuik, para wisatawan dapat berkeliling di pasar tradisional dan bazaar yang digelar seiring dengan perayaan ini. Nikmati juga salaluk dan rakik maco, makanan khas Pariaman yang banyak dijajakan di pinggir pantai. Sayangnya, sampai kini, pelaksanaan upacara Tabuik belum digarap secara maksimal. Masih ada sejumlah kendala yang muncul dalam pelaksanaannya, terutama dalam hal pendanaan.

Perayaan Tabuik tahun ini yang jatuh pada bulan Februari lalu misalnya. Acara ini nyaris gagal dilaksanakan. Pemda setempat bahkan sempat mengumumkan lewat media massa rencana pembatalan tersebut dikarenakan kekurangan dana oleh pemerintah. Namun, berkat kesungguhan warga Pariaman untuk menggelar acara ini dengan sumbangan swadaya masyarakat, Tabuik pun akhirnya dapat digelar dan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat dan wisatawan. Walaupun Tabuik ini ditetapkan didalam agenda Pariwisata sumatera barat, lambat laun gaung seremony ini makin lama makin tidak terdengar. Yang semakin membuat pariwisata disumatera barat menjadi mati suri.

(Exotic nature and culture of Indonesia http://www.alambudaya.blogspot.com/ )

-----------------------------------------------------------------------------

 

Disarikan dari Koran Tempo - edisi 1 Februari 2008:

Tabuik adalah tradisi turun temurun khas masyarakat Pariaman, Sumatra Barat, untuk memperingati Asyura (10 Muharam) yang selalu berlangsung meriah dan gegap gempita. Acara 'larung' yang prosesinya berlangsung seminggu ini puncaknya digelar di Pantai Pariaman, bibir Samudra Hindia. Pada 2008 ini, peringatan Tabuik jatuh di minggu kedua bulan Januari, diramaikan oleh sekitar 25 ribu orang. "Hoyak Hussein, Hoyak Hussein..," teriak mereka. Suasana makin riuh saat gendang tasa ditabuh selusin pemain dalam irama nan rancak. Suasana kemudian mulai hening saat Tabuik mulai diturunkan di bibir pantai. Saat Tabuik lepas ke laut, warga meyakini peti jenazah Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad, sudah dibawa oleh Bouraq.

Ada dua jenis Tabuik yang dilarung ke laut lepas, yaitu Tabuik Pasa (Tabuik Pasar) dan Tabuik Subarang (Tabuik Seberang). Patung tersebut bukan sekadar hiasan karena pembuatannya melalui ritual terlebih dahulu


Tradisi Tabuik merupakan ritual untuk memperingati Tahun Baru Islam sekaligus peringatan syahidnya Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad, yang tewas di Padang Karbala (Irak) pada abad ke-7. Tradisi yang melekat pada kelompok Syiah ini dibawa oleh pendatang asal Sepoy, India, ke Pariaman pada 1831.

Pendatang asal Sepoy ini sebelumnya merupakan prajurit Inggris di bawah komando Thomas Stamford Raffles, yang semula bermarkas di Bengkulu. Tapi, setelah Traktat London antara Inggris dan Belanda ditandatangani pada 17 Maret 1829, wilayah pesisir barat Sumatera diserahkan kepada Belanda. Sebagian prajurit Sepoy ini memilih tinggal di Pariaman.

Mereka yang menganjurkan perayaan Asyura dengan membuat Tabuik untuk untuk mengenang tewasnya Imam Hussein.  Meski mayoritas warga Pariaman menganut mazhab Syafi'i yang dibawa Syekh Burhanuddin, tradisi Tabuik bisa diterima, walau awalnya sempat dipermasalahkan. Pengagum
Imam Hussein meyakini bahwa jenazah Hussein yang berserakan di tanah dijemput oleh malaikat berkendaraan bouraq (burak) dan diterbangkan ke langit. Burak diyakin sebagai hewan berbadan seperti kuda, tapi bersayap lebar dan berkepala manusia. Hewan inilah yang membawa peti mati dan berpayung dengan hiasan warna-warni.

Konon, saat burak akan membawa terbang jenazah Imam Hussein, salah seorang pengikutnya melihat dan meminta dibawa serta. Malaikat yang menolak hanya meninggalkan pesan agar dibuat benda mirip burak dan tabuik (peti jenazah) setiap 10 Muharam. Kisah inilah yang dijadikan dasar diadakannya acara Tabuik.

Febrianto

 

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Lika-Liku Kesenian Tradisi Jaranan Asal Jombang

[ Kamis, 31 Juli 2008 ]

Lika-Liku Kesenian Tradisi Jaranan Asal Jombang.

Tidak Mau Berharap, Timba Laku Hidup Berkesenian Cak Durasim

Kesenian kuda lumping atau yang akrab dikenal jaranan merupakan kesenian tradisi berasal dari tlatah Jombang. Namun, kini kondisinya terseok-seok. Salah satunya adalah yang dialami grup Kuda Lumping Turangga Pudak Arum di Desa Pandanwangi Kecamatan Diwek Jombang

BINTI-INAYAH, Jombang

-----------

PADA saat kelompok kesenian tradisi menerima banyak order pada bulan Agustus, ternyata tidak demikian yang terjadi pada kelompok Kesenian Kuda Lumping Turangga Pudak Arum. ''Di zaman serba hiburan begini, siapa yang mau nanggap jaranan?'' ungkap Cak Kadarusman, ketua kelompok ini.

Untuk bulan Agustus saja, mereka cuma ketiban order di dua tempat: Desa Cangkring dan Desa Nanggungan, keduanya di Kecamatan Perak. Kondisi ini lebih baik dibandingkan dengan bulan-bulan lain yang kadang hanya menerima satu order tanggapan. Namun, hal tersebut tak menyurutkan langkah para pemain dan pendiri untuk bertahan hingga 8 tahun berdiri.

''Awal berdirinya, kami dibantu Rp 500 ribu oleh Cak Sutikno, ketua Ludruk Sari Murni Jombang, untuk beli peralatan musiknya,'' imbuh Cak Kadar menceritakan tentang kelompok yang dipimpinnya.

Turangga Pudak Arum berdiri pada 2000. Digagas oleh Cak Kadar, Cak Slamet A, Budi, Umbar, Cak Sukir, Cak Slamet B, Kunawi, Cak Mui, Dwi, dan Cak Ngatirin.  Memang terbilang anyar. ''Kami mencintai seni jaranan ini, koyo sigaring nyowo. Beranggotakan 30 orang. Untuk menyokong keberlangsungan kelompok, kami bikin arisan Rp 1.000-an per bulan.

Agar pas ada job, tidak kelimpungan cari utang. Tapi sudah cukup bahagia bahwa kami, dengan kondisi seperti ini, tetap guyub-rukun dan tidak eker-ekeran,''sentil Cak Slamet A, yang juga bergiat memproduksi krecek krupuk samiler ini.

Kendati demikian, dengan peralatan musik dan seragam agak lawas, komunitas jaranan ini telah beberapa kali menyabet piala penghargaan dalam even-even kesenian rakyat: nominasi Festival Kuda Kepang (diselenggarakan Sampoerna Hijau, 2003, Jombang); juara II Lomba Jarang Kepang III 2004 (tingkat Jombang, piala Bupati); juara II Festival Kuda Lumping pada 11 September 2005 (tingkat Jombang, piala Bupati); dan juara II Lomba Klothekan atau Musik Patrol (diselenggarakan Radio RJFM, 2004, Jombang). Sementara Cak Kadar sendiri pernah meraih juara II Lomba Kidungane Wong Jombang pada 1998 (diselenggarakan Sampoerna Hijau dan 92,5 NKFM).

''Menjaga semangat seni jaranan sebagai ikon Jombang itu penting. Jika pemerintah ikut-andil melestarikannya, ya monggo saja. Ini sudah jadi salah satu bagian hidup kami. Sikap arep-arep tidak baik bagi spirit jiwa kami,'' celetuk Mas Budi, yang biasanya bertugas menangani koordinasi tanggapan.

Memang ketika ditanya soal apakah pemerintah pernah membantu mereka, ''Sama sekali tidak ada bantuan dari pemerintah,'' tandas Cak Slamet A, dengan senyum tipis tampak miris.

Kebanyakan kelompok ini menerima tanggapan untuk sunatan dan mantenan. Jika dihitung, sejak 2000, dalam setahun mereka hanya menerima order tanggapan sebanyak 21 kali. Maka hingga 2008, order mereka tertotal sekitar 168 tanggapan. Selama 8 tahun kesenian berjalan, sebut Cak Kadar, mereka tetap bertahan dengan semangat yang ditimba dari laku hidup berkesenian Cak Durasim dan Cak Markeso.

Jika sepi order, Cak Kadar mengayuh mbecak. Biasanya mangkal di Jomplangan spur arah Plandi. Cak Slamet A., bergelut ngulet-ngulet racikan kreceknya bersama istri. Mas Budi dan yang lainnya memanggul pacul dan arit ke sawah.

''Uang kas terakhir kami kemarin tersisa Rp 300 ribu. Karena spiker bejat, kami putuskan untuk beli yang baru seharga Rp 400 ribu. Untung setelah itu Gusti Allah membuka rezeki lewat tanggapan di Gudo. Kami dapat Rp 1,1 juta. Langsung dibagi Rp 30 ribuan untuk 30 personel. Jadi masih ada sisa untuk transportasi dan akomodasi jika ada tanggapan berikutnya,'' ujar Mas Budi. Sampai seberapa tangguh para seniman tradisi tersebut kuasa bersetia mempertahankan eksistensi jaranan Turangga Pudak Arum?

 

(Harian Radar Mojokerto)

 

Ingin nanggap?

Silakan kontak Mas Budi 085 25 74 74 711


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

30 Juli 2008

[ac-i] Tulang Raksasa Ditemukan di 'Hutan Purba' Sangihe

Harian Komentar
29 Juli 2008
 

Tulang Raksasa Ditemukan di 'Hutan Purba' Sangihe

 


Temuan adanya lokasi 'hutan purba' di seputaran kawasan lindung Sahanderumang, Kampung Lelipang Kecamatan Tamako Kabupaten Sangihe, oleh wisatawan asing asal Jer-man 27 Desember 2007 lalu, seakan semakin diperjelas dengan ditemukannya tulang belulang berukuran raksasa oleh warga Kampung Pinta-reng, Kecamatan Tabukan Selatan Tenggara (Tabselteng). 


Konon tulang belulang yang diyakini merupakan fosil dari manusia purba tersebut, ditemukan warga pada tahun 1997 silam. 


Tokoh masyarakat yang juga merupakan Ketua Jemaat GMIST Salurang Pdt Tapa-dongko STh menjelaskan, dari lokasi kawasan lindung Sa-handerumang yang berde-katan dengan spot hutan purba tersebut, terdapat sejumlah titik aluran sungai yang mengalir ke beberapa kampung. Dan salah satunya mengalir ke Sungai Busu yang berada di Pintareng. 


"Kalau dikaitkan, ada kebe-narannya juga bila di kawas-an lindung Sahanderumang ada spot hutan purba. Karena tahun 1997 lalu warga pernah menemukan tulang berukur-an raksasa di Sungai Busu. Sungai Busu ini muaranya dari Sahanderumang," jelas Tapa-dongko ketika ditemui warta-wan di kediamannya di Kam-pung Salurang, Kecamatan Tabselteng, (28/07) kemarin.  Bahkan Camat Tabsel E Malendes, Camat Tabselteng JH Lomboh SSos dan Kapi-talaung Salurang AM Lumiu yang ada saat itu, memper-silakan wartawan untuk ber-kunjung langsung ke Kam-pung Pintareng, kurang lebih delapan kilometer dari Kam-pung Salurang untuk mem-buktikan temuan tersebut. "Sisa-sisa tulang yang dite-mukan masih tersimpan di salah satu rumah warga di Pintareng," ujar Malendes. 


Wartawan pun kemudian ditawari jasa untuk dibonceng oleh Pdt Tapadongko dengan sepeda motornya ke Kampung Pintareng. Sesampainya di sana, tulang belulang tersebut ternyata masih disimpan oleh Ny VH Limpong, istri dari JB Habibi, mantan Opo Lao Pin-tareng. Ketika diperlihatkan, tulang belulang yang tersisa tujuh bagian tersebut memi-liki bobot rata-rata di atas lima kilogram (kg). "Ini de pe tulang kaki, de pe tulang bagian belakang deng gigi," ujar wanita 60 tahun itu sambil mengeluarkannya dari dalam karung. 
"Dulu ada tiga karung lebih, tapi ada bule-bule (warga asing) yang datang ambil dan bawa," tambahnya. Mantan Kepsek SD GMIST Sion Pin-tareng ini kemudian bercerita asal muasal ditemukannya tulang yang kini berwarna cokelat dan keabu-abuan tersebut. "Tahun 97 banyak warga yang mendulang emas di Kali Busu. Saat penggalian mencapai kedalaman lima meter, warga menemukan benda yang awalnya dikira bebatuan yang mengandung mineral emas. Tapi ternyata itu adalah tulang yang menu-rut kami adalah tulang betis kaki dan tulang belakang manusia raksasa zaman da-hulu. Ada juga giginya dite-mukan," ulas pensiunan guru ini seraya menambahkan, untuk tulang kakinya saja hampir mencapai 10 meter serta giginya nyaris berukur-an seperti bola voli. 


"Selain itu ditemukan taring berukuran satu meter lebih yang masih utuh. Namun telah diambil bule dari Prancis dan Jerman." Oleh warga yang menemukan tulang belulang itu mem-percayakan untuk disimpan di rumahnya, karena di masa itu suaminya merupakan Opo Lao (kepala kampung) Pinta-reng. "Namun tinggal ini yang tersisa. Lainnya sudah diambil bule yang kerja di perusahaan tam-bang. Ada juga yang telah diam-bil oleh Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi yang kata-nya untuk diteliti," tandas Oma Limpong yang memperkenankan wartawan untuk mengabadikan tulang belulang tersebut. 


Oma Limpong mengaku tidak pernah merasakan hal-hal aneh atau pun mistis selama menyimpan tulang tersebut di rumah sederhananya itu. Me-nariknya, nama Sungai Busu yang ada di Kampung Pintareng itu sendiri, menurut Oma Lim-pong, dijuluki warga karena di sepanjang sungai tersebut menyebarkan aroma tak sedap atau bau busuk. Namun sejak ditemukannya fosil tulang manusia purba pada 1997, bau busuk tersebut berangsur-ang-sur hilang kendati namanya tetap saja Sungai Busuk hingga saat ini.(yha

 

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Salihara.org

 
Komunitas Salihara
 
 
http://salihara.org/ __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

29 Juli 2008

[ac-i] Museum DGI @ Pameran Ekonomi Kreatif “Indonesia Bisa!”

Kepada para insan kreatif,

Bersama ini kami mengundang anda untuk menghadiri acara-acara yang akan diadakan oleh Museum Desain Grafis Indonesia dalam Pameran Ekonomi Kreatif "Indonesia Bisa!" di Atrium Senayan City, Jakarta pada tanggal 5-10 Agustus 2008. 

Jadwal acara dan informasi selengkapnya bisa anda ikuti di situs DGI.

Demikian dan atas parisipasinya kami ucapkan terima kasih.



__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content