30 Juni 2008

[ac-i] kronik sairara: perlunya 'Forum Kebudayaan Indonesia' [2]

Kronik Sairara:
 
 
2.

 

 

VISI KEBUDAYAAN:

 

 

Soal lain adalah masalah perlunya kita "mempunyai Visi Kebudayaan  yang jelas yang dipakai sebagai arah perjalanan (budaya) bangsa kita. Kelihatannya selama ini kita sibuk dan jalan sendiri-sendiri,  masing-masing  mungkin baik, tetapi kita kurang bersinergi. Meminjam judul sebuah sinetron terkenal, "Ibarat Serpihan  Mutiara Retak". Beberapa kalangan bahkan ada yang mengartikan dan meredusir seolah budaya itu hanyalah sebatas Seni-Budaya. Padahal unsur budaya lebih dari itu, mencakup pula antara lain adat istiadat dan bahkan teknologi. Hasil proses budaya inilah yang akan berupa peradaban suatu bangsa", demikian tulis Saudara Luluk Sumiarso.
 
Pertanyaan saya: Apakah selama ini, kita tidak "mempunyai visi kebudayaan nasional yang jelas yang dipakai sebagai arah perjalanan [budaya] bangsa kita"?
 
Jawaban pertanyaan ini barangkali bisa didapat jika kita melihat sejarah perkemangan Republik Indonesia dari periode ke periode berdasarkan siapa yang menjadi pemegang kekuasaan politik di negeri ini.
 
Periode Soekarno agaknya bisa dipilah dalam dua tahap, yaitu periode demokrasi parlementer, di mana presiden tidak menjadi penyelenggara negara, tapi lebih menjadi simbol. Periode ini berlangsung sampai 1959 menyusul kegagalan Sidang Konstituante di Bandung, sehingga Soekarno mengunakan kedudukannya sebagai Kepala Negara mengumumkan "kembali ke UUD 1945" dan mengawali Demokrasi Terpimpin-nya serta presiden langsung bertanggungjawab atas penyelenggaraan negara sampai pada 1966, ketika ia dijatuhkan. 
 
Seperti sudah menjadi pengetahuan umum, setelah Soekarno dijatuhkan maka Soeharto dengan Orbanya naik ke panggung kekuasaan hingga 1998, lalu dilanjutkan oleh Habibie, Gus Dur, Megawati dan sekarang oleh Susilo Bambang Yudhoyono [SBY].
 
Kalau masalah pendidikan yang menggambarkan corak manusia Indonesia yang diinginkan oleh  RI , serta menelaah ulang konsep Pancasila [bukan Pancasila Orba Soeharto!] dan pasal khususnya tentang masalah kebudayaan Indonesia, saya kira  pada periode demokrasi parlementer, RI mempunyai visi kebudayaannya. Visi ini [lepas dari kita setuju atau tidak] lebih jelas lagi pada periode Demokrasi Terpimpin yang mula-mula dituangkan dalam Manipol,  kemudian dijadikan arahan bagi kegiatan nasional di bidang kebudayaan. Orientasi itu  menginginkan agar kebudayaan kita mempunyai kepribadian nasional. 
 
Visi ini menjadi tidak jelas begitu Orba Soeharto mengendalikan negeri. Yang nampak di daerah-daerah adalah adanya gejala Jawanisasi feodal [yang di sini rinciannya tidak saya masuki]. Rasa dan semangat republiken dan berkeindonesiaan kemudian merosot dan makin merosot yang ujudnya sampai sekarang masih nampak.
 
Dari paparan sangat singkat di atas, kiranya bisa nampak bahwa sesungguhnya secara visi, kita sudah mempunyai visi kebudayaan yaitu yang bersifat republiken dan berkeindonesiaan. Visi tersebut, kiranya, tidak lain dari republik dan berkeindonesiaan karena saya memandang republik dan berkeindonesiaan adalah suatu visi dan program kebudayaan sekaligus. 
 
 
Ketika Saudara   Luluk Sumiarso mengatakan  "bahwa kita perlu mempunyai Visi Budaya yang jelas yang dipakai sebagai arah perjalanan (budaya) bangsa kita. Kelihatannya selama ini kita sibuk dan jalan sendiri-sendiri,  masing-masing  mungkin baik, tetapi kita kurang bersinergi. Meminjam judul sebuah sinetron terkenal, "Ibarat Serpihah Mutiara Retak", terkesan pada saya seakan-akan kita tidak "mempunyai Visi Budaya yang jelas yang dipakai sebagai arah perjalanan [budaya] bangsa kita". Lain halnya jika Saudara Luluk Sumiarso dari Pembina Paguyuban Puspo Budoyo/ Ketua Yayasan Peduli Majapahit, memandang bahwa Republik dan Indonesia bukan sebuah visi budaya dan bukan politik kebudayaan sekaligus.
 
Konstatasi Saudara Luluk Sumiarso barangkali bisa dipahami sebagai lukisan keadaan sekarang, tapi tidak berarti bahwa kita yang mengakui dan menerima Republik dan Indonesia sebagai sebuah cita-cita, tidak mempunyai visi budaya. Konstatasi Saudara Luluk Sumiarso jika demikian, bisa dipandang sebagai pernyataan bahwa sekarang kita tidak mengindahkan republik dan Indonesia sebagai visi dan politik kebudayaan. Jika benar demikian, maka masalahnya, apabila kita sepakat dengan republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai, visi dan politik kebudayaan, mengapa tidak kita kembali melaksanakannya? Jadi bukan mencari visi dan politik kebudayaan baru karena kita sudah mempunyainya tapi kita tidak indahkan saja seperti halnya OrbaSoeharto memerosokan RI menjadi sebuah imperium feodal keluarga. Konstatasi Saudara Luluk  Sumiarso bisa dipahami juga sebagai bias dari pemerotan Republik dan Indonesia menjadi imperium feodal keluarga itu yang dampaknya nampak sampai sekarang.  Apakah tidak demikian? Secara formal negara ini masih berbentuk Republik dan negeri ini masih menggunakan nama Indonesia, tapi pada kenyataannya Republik dan Indonesia sebagai cita-cita masih sedang menjadi dan sedang terus diujudkan. Barangkali keadaan demikian salaah satu faktor untuk memahami apa yang dikonstatasi oleh Saudara Luluk Sumiarso. Jika tidak, maka ada baiknya kita mendengar tawaran visi budaya baru dari Saudara Luluk Sumiarso selain dari visi Republik dan Indonesia.  ***
 
 
Paris, Juni 2008
-----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
 
[Bersambung.....]
 
 
LAMPIRAN:
 

Pada tanggal 23 Juni 2008, melalui milis artculturindonesia @yahoogroups.com ,  Luluk Sumiarso menyiarkan tulisan  berikut:

 

"Teman2 yang Peduli Budaya,

Tentu kita tergelitik dgn berbagai tulisan yang dimuat Kompas Minggu tgl 22 Juni 2008 yang menyangkut kebudayaan Indonesia, utamanya yang berjudul "Secara Kultural   Kita Sedang Kalah",   tulisan Frans Sartono yang mengulas pendapat Saini KM, yang budayawan, penyair, penulis drama, penulis esai yang memprihatinkan budaya bangsanya yang tengah jatuh dan kehilangan arah. ' ....Karena dalam gelombang globalisasi, bangsa yang tidak punya karakter akan lenyap....', kata Saini.

Saya berpendapat bahwa kita perlu mempunyai Visi Budaya yang jelas yang dipakai sebagai arah perjalanan (budaya) bangsa kita. Kelihatannya selama ini kita sibuk dan jalan sendiri-sendiri,  masing-masing  mungkin baik, tetapi kita kurang bersinergi. Meminjam judul sebuah sinetron terkenal, "Ibarat Serpihah Mutiara Retak". Beberapa kalangan bahkan ada yang mengartikan dan meredusir seolah budaya itu hanyalah sebatas Seni-Budaya. Padahal unsur budaya lebih dari itu, mencakup pula antara lain adat istiadat dan bahkan teknologi. Hasil proses budaya inilah yang akan berupa peradaban suatu bangsa.

Terus terang, saya bukan budayawan dan juga bukan pelaku industri budaya. Saya hanyalah satu diantara mereka-mereka yang peduli budaya bangsanya dan menggiatkan kegiatan budaya, khususnya budaya tradisional. Tahun lalu, tepatnya tanggal 5 Juli 2007 di Balai Kartini, Jakarta, kami bersama Lintas Budaya Nusantara dan Media Grup menyelenggarakan Sarasehan Budaya dalam rangka memperingati Kongres Kebudayaan Pertama yang diselenggarakan di Solo tanggal 5 Juli 1918, sepuluh tahun setelah lahirnya Boedi Oetomo. Konggres ini , walaupun pada tahap awal merupakan Konggres Kebudayaan Jawa, tetapi kemudian diperluas menjadi Kongres Kebudayaan Nasional pada tahun-tahun, yang kemudian berujung juga dengan diselenggarakannya Sumpah Pemuda 10 tahun kemudian. Sarasehean dibuka oleh menbudpar Jero Wacik , menampilkan pembicara antara lain Dr. Edi Sedyawati, Jakob Oetama dan Christine Hakim. Salah satu butir kesimpulan adalah perlunya dibentuk 'Forum Kebudayaan Indonesia' untuk menggalang semua potensi budaya bangsa, tanpa harus mengilangkan identitas masing-masing.

Untuk itulah, memanfaatkan momentum yang tepat, yaitu 100 Tahun Kebangkitan Nasional, 90 Tahun Konggres Kebudayaan Pertama dan 80 Tahun Sumpah Pemuda, kami bersama beberapa tokoh budaya dan mereka-mereka yang peduli budaya, akan membentuk 'Forum Kebudayaan Indonesia" pada tanggal 5 Juli 2008 pukul 10.00.Tempatnya adalah di Studio Radio Republik Indonesia, jalan Merdeka Barat Jakarta. Forum ini adalah Non-Politik, akan dipakai sebagai sarana komunikasi semua unsur budaya, tanpa mengurangi/meredusir identitas peran masing-masing, juga untuk membantu pemikiran-pemikiran mengenai visi budaya bangsa Indonesia ke depan. Harapanya, ke depan 'forum' ini dapat berkembang menjadi 'semacam KONI' untuk Kebudayaan Nasional Indonesia.

 
Mohon email ini disebarkan ke teman-teman yang perduli budaya. Karena tempat terbatas, teman-teman yang berminat mohon mendaftar ke pedulimajapahit@ gmail.com

Mudah-mudahan forum ini bermanfaat.

Jakarta, 24 Juni 2008

Salam Budaya
Luluk Sumiarso
Pembina Paguyuban Puspo Budoyo/
Ketua Yayasan Peduli Majapahit


Expand your social network today - Yahoo! Singapore Search. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Re: [ac-i] Perlunya 'Forum Kebudayaan Indonesia'

Gus Henry, assalamu'alaikum.

Saya harap Bung dapat menolong. Esok malam ada penyair dari Makassar ingin ke Kediri melalui terminal Bungurasih. Opsi yang saya usul adalah langsung ke lokasi festival di Hotel BLB pada Selasa malam via bus. Syaratnya ia harus tunggu kontak saya pada pkl 22.00 adakah menemukan kawan lama yang dapat bantu tunjukin bus jurusan Kediri. Bisa dicatat aja Dra. Anil Hukma di HP aktif 081 2425 2563. Opsi kedua adalah kontak Taman Budaya JATIM via DKJT untuk diberi tempat di Genteng Kali yang kerap kami pake. Kawannya sudah berangkat duluan, kini di Ploso daerah Kediri dan sedang tajlil Rujuh Malam kedukaan ayahnya.

Terima kasih dan selamat berkarya.

Roell Sanre

--- On Thu, 6/26/08, henri nurcahyo <henrinurcahyo@yahoo.com> wrote:

From: henri nurcahyo <henrinurcahyo@yahoo.com>
Subject: Re: [ac-i] Perlunya 'Forum Kebudayaan Indonesia'
To: artculture-indonesia@yahoogroups.com
Date: Thursday, June 26, 2008, 9:43 PM

Saya juga berminat datang. Harus pake undangan atau datang langsung? Kalo harus ada undangan tolong kirim via email ini. Trims.

Salam
Henri Nurcahyo
Lembaga Ekologi Budaya (ELBUD) - www.elbud.or. id
Jl. Bungurasih Timur 40 Waru Sidoarjo - 61256

--- On Thu, 6/26/08, luluk sumiarso <lsumiarso@gmail. com> wrote:
From: luluk sumiarso <lsumiarso@gmail. com>
Subject: Re: [ac-i] Perlunya 'Forum Kebudayaan Indonesia'
To: artculture-indonesi a@yahoogroups. com
Date: Thursday, June 26, 2008, 8:37 AM



Saya hanya penggiat budaya (bukan budayawan)
Kebetulan saat ini menjabat sebgaia Dirjen Migas, Dep ESDM.
Salam,
Luluk


2008/6/26 safrullah sanre <ssanre@yahoo. com>:

Salam dan bahagia.
Saya minat untuk datang. Biasanya dengar Mas Luluk dalam birokrasi pusat kekuasaan. Kalau salah ataukah telah pensiun haraplah maafkan daku. Kalaua boleh kirim undangan
SAFRULLAH SANRE
Jalan Belibis i No. 14 Makassar 90124.
(Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Selatan)



--- On Mon, 6/23/08, luluk sumiarso <lsumiarso@gmail. com> wrote:
From: luluk sumiarso <lsumiarso@gmail. com>
Subject: [ac-i] Perlunya 'Forum Kebudayaan Indonesia' Date: Monday, June 23, 2008, 5:24 PM


Teman2 yang Peduli Budaya,

Tentu kita tergelitik dgn berbagai tulisan yang dimuat Kompas Minggu tgl 22 2008 yang menyangkut kebudayaan Indonesia, utamanya yang berjudul
"Secara Kultural Kita Sedang Kalah", tulisan Frans Sartono yang mengulas pendapat Saini KM, yang budayawan, penyair, penulis drama, penulis esai yang memprihatinkan budaya bangsanya yang tengah jatuh dan kehilangan arah. ' ....Karena dalam gelombang globalisasi, bangsa yang tidak punya karakter akan lenyap....', kata Saini.

Saya berpendapat bahwa kita perlu mempunyai Visi Budaya yang jelas yang dipakai sebagai arah perjalanan (budaya) bangsa kita. Kelihatannya selam ini kita sibuk dan jalan sendiri-sendiri. masing-masing  ungkin baik, tetapi kita kurang bersinergi. Meminjam judul sebuah sinetron terkenal, "Ibarat Serpihah Mutiara Retak". Beberapa kalangan bahkan ada yang mengartikan dan meredusir seolah budaya itu hanyalah sebatas Seni-Budaya. Padahal unsur budaya lebih dari itu, mencakup pula antara lain adat istiadat dan bahkan teknologi. Hasil proses budaya inilah yang akan berupa peradaban suatu bangsa.

Terus terang, saya bukan budayawan dan juga bukan pelaku industri budaya. Saya hanyalah satu diantara mereka-mereka yang peduli budaya bangsanya dan menggiatkan kegiatan budaya, khususnya budaya tradisional. Tahun lalu, tepatnya tanggal 5 Juli 2007 di Balai Kartini, Jakarta, kami bersama Lintas Budaya Nusantara dan Media Grup menyelenggarakan Sarasehan Budaya dalam rangka memperingati Kongres Kebudayaan Pertama yang diselenggarakan di Solo tanggal 5 Juli 1918, sepuluh tahun setelah lahirnya Boedi Oetomo. Konggres ini , walaupun pada tahap awal merupakan Konggres Kebudayaan Jawa, tetapi kemudian diperluas menjadi Kongres Kebudayaan Nasional pada tahun-tahun, yang kemudian berujung juga dengan diselenggarakannya Sumpah Pemuda 10 tahun kemudian. Sarasehean dibuka oleh menbudpar Jero wacik, menampilkan pembicara antara lain Dr. Edi Sedyawati, Jakob Oetama dan Christine Hakim. Salah satu butir kesimpulan adalah perlunya dibentuk 'Forum Kebudayaan Indonesia' untuk menggalang semua potensi budaya bangsa, tanpa harus mengilangkan identitas masing-masing.

Untuk itulah, memanfaatkan momentum yang tepat, yaitu 100 Tahun Kebangkitan Nasional, 90 Tahun Konggres Kebudayaan Pertama dan 80 Tahun Sumpah Pemuda, kami bersama beberapa tokoh budaya dan mereka-mereka yang peduli budaya, akan membentuk 'Forum Kebudayaan Indonesia" pada tanggal 5 Juli 2008 pukul 10.00.Tempatnya adalah di Studio Radio Republik Indonesia, jalan Merdeka Barat Jakarta. Forum ini adalah Non-Politik, akan dipakai sebagai sarana komunikasi semua unsur budaya, tanpa mengurangi/meredusi r identitas peran masing-masing, juga untuk membantu pemikiran-pemikiran mengenai visi budaya bangsa Indonesia ke depan. Harapanya, ke depan 'forum' ini dapat berkembang menjadi 'semacam KONI' untuk Kebudayaan Nasional Indonesia.


mohon email ini disebarkan ke teman-teman yang poeduli budaya. Karena tempat terbatas, teman-teman yang berminat mohon mendafta ke pedulimajapahit@ gmail.com

Mudah-mudahan forum ini bermanfaat.

Jakarta, 24 Juni 2008

Salam Budaya
Luluk Sumiarso
Pembina Paguyuban Puspo Budoyo/
Ketua Yayasan Peduli Majapahit

(Sekedar  tambahan informasi, saat ini kami sedang melakukan upaya Rekonstruksi Kompleks Kraton Majapahit dalam rangka menyelamatkan Situs Trowulan, seiring dengan upaya yang dilakukan oleh Depbudpar. Kalau ada teman-teman yang berminat dan akan berkontribusi pemikiran dll, silahkan menghubungi kami di pedulimajapahit@ gmail.com).)












__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] (Buku Baru Alvabet) Menjadi PNS di Usia Senja Karya Dra. Hj. Qaimah Umar

 

Dear Moderators,

Numpang lewat lagi ya, mo kasih kabar ihwal buku terbaru terbitan Pustaka Alvabet. Moga milisers berkenan membacanya...


Many thanks,

Redaksi Alvabet


 

Menjadi PNS di Usia Senja

 

Dra. Hj. Qaimah Umar 

 

 

SINOPSIS:

Menjadi PNS di Usia Senja adalah catatan perjalanan panjang seorang guru sekolah dasar, sejak menjadi guru honorer hingga sekitar 15 tahun kemudian diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade tersebut, Qaimah, sang guru sekolah dasar, telah mengalami berbagai pengalaman menarik selama menggeluti profesi ini. Duka, gembira, susah, senang, semua menjadi pengalaman yang senantiasa memberi hikmah dan pelajaran di dalamnya.

 

Selain membagi pengalamannya dalam mengajar, Qaimah juga memaparkan beberapa pendapat dan pemikiran pribadinya dalam hal pendidikan, khususnya pendidikan untuk tingkat sekolah dasar. Ini mencakup bagaimana menyuguhkan metode pengajaran dan atau pembelajaran kepada anak didik di dalam kelas. Dengan bahasa tutur yang lugas dan mengalir, ia tidak hanya membagi pengalaman dan pelajaran yang didapatnya selama ini, tetapi juga menularkan semangat berkobar  kepada sesama guru untuk tetap maju dan berkarya semakin baik di bidangnya: mengajar.

 

 

ENDORSEMEN:

"Buku yang menggambarkan kegigihan seorang guru honorer dalam menyikapi ketidakpastian janji-janji birokrasi. Buku yang menggugah. Wajib dibaca para guru honorer yang bernasib sama.

—Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

"Dengan kemampuan komunikasi yang dimilikinya sekarang ini, Qaimah memang ingin menunjukkan sisi lain dari kemampuannya itu, yaitu berkomunikasi melalui tulisan. Meskipun karyanya terbilang masih tahap 'mencoba', namun kemampuan refleksi Qaimah dalam mengembangkan ide dasar tulisannya yang berasal dari pengalamannya ini cukup baik. Ini terlihat dari cara penulis yang ingin menunjukkan bagaimana menjadi guru yang baik, bukan sekadar profesi sampingan tetapi sebagai alat mengabdi kepada Allah, bangsa dan negara."

—Fuad Fachruddin, PhD, Direktur Eksekutif INSEP

 

"Inspiring experience. Sebuah buku berharga yang patut dijadikan cermin bagi setiap guru yang ingin mengembangkan kemampuan menulis dalam rangka meningkatkan kapasitas akademis seorang guru."

—Dr. Khoirudin Bashori, Rektor UMY

 

 

TENTANG PENULIS:

Dra. Hj. Qaimah Umar adalah guru pada SDN Harapan Baru IV, Bekasi Utara. Perempuan kelahiran 8 September 1966 di desa Tegalinggah, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali ini menamatkan sarjananya pada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Bandung tahun 1991. Ia bekerja sebagai guru honorer selama 15 tahun dan diangkat menjadi PNS pada 2007, dan telah aktif mengikuti serangkaian seminar serta pelatihan active learning dan effective school management yang diselenggarakan oleh INSEP dan Sekolah Madania Jakarta.

 

 

DATA BUKU:

Judul                : Menjadi PNS di Usia Senja

Penulis            : Hj. Qaimah Umar

Genre              : Memoar

Cetakan           : I, Juli 2008

Ukuran            : 12,5 cm x 20 cm

Tebal               : 180 halaman

ISBN               : 978-979-3064-64-2

Harga              : Rp. 30.000,-

 



==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Bls: [ac-i] Undangan Pembukaan Pameran Lukisan Pendidikan Anak Usia Dini Tunas Harapan

Pamerannya sampe tanggal brapa??
Terima kasih

Salam,

----- Pesan Asli ----
Dari: Eminx Sujalma <eminx_art@yahoo.com>
Kepada: belajardesain@yahoogroups.com; artculture-indonesia@yahoogroups.com
Cc: endonesa@yahoogroups.com; forum_teater_indonesia@yahoogroups.com
Terkirim: Sabtu, 28 Juni, 2008 16:07:36
Topik: [ac-i] Undangan Pembukaan Pameran Lukisan Pendidikan Anak Usia Dini Tunas Harapan

Dear All,

Mengundang dengan hormat pembukaan pameran lukisan anak-anak
pada Kelompok Bermain & Taman Tumbuh Kembang
"Tunas Harapan" Desa Pohkecik Dlanggu - Mojokerto - Jatim
yang akan dilaksanakan pada
Hari : Senin
Tanggal : 30 Juni 2008
Jam : 08.00 - selesai
Tempat : Bale Desa Pohkecik Dlanggu Mojokerto - Jatim
Acara : Gelar Seni dan Karya

atas perhatiannya disampaikan terima kasih


Ketua Penyelenggara
Dra. Tanti Lulus U MPd.








contact person :


EMINX SUJALMA


blog:

eminxsgallery. multiply. com

081586366991 - +620321510165
Address :
Jl A Yani 07 Pohkecik Dlanggu Mojokerto 61371
East Java Indonesia







Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] Re: Undangan Pembukaan Pameran Lukisan Pendidikan Anak Usia Dini Tunas Harapan

--Terimakasih n sukses selalu.
Salam hangat.
H.David Omar,SE
081585528644.
> Dear All,
>
>
>
> Mengundang dengan hormat pembukaan pameran lukisan anak-anak
>
> pada Kelompok Bermain & Taman Tumbuh Kembang
>
> "Tunas Harapan" Desa Pohkecik Dlanggu - Mojokerto - Jatim
>
> yang akan dilaksanakan pada
>
> Hari : Senin
>
> Tanggal : 30 Juni 2008
>
> Jam : 08.00 - selesai
>
> Tempat : Bale Desa Pohkecik Dlanggu Mojokerto - Jatim
>
> Acara : Gelar Seni dan Karya
>
>
>
> atas perhatiannya disampaikan terima kasih
>
>
>
>
>
> Ketua Penyelenggara
>
> Dra. Tanti Lulus U MPd.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> contact person :
>
>
> EMINX SUJALMA
>
>
> blog:
> eminxsgallery.multiply.com
> 081586366991 - +620321510165
> Address :
> Jl A Yani 07 Pohkecik Dlanggu Mojokerto 61371
> East Java Indonesia
>

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

[ac-i] Berita Pesta Penyair Nusantara-Kediri di LAMPUNG POST

LAMPUNG POST-Minggu, 29 Juni 2008
APRESIASI
Kronik

Edy Samudera dan kawan-kawan Ikuti

Pesta Penyair Nusantara 2008

 

BANDAR LAMPUNG--"Nabi Penyair Lampung" Edy Samudera Kertagama mengikuti Pesta Penyair Nusantara 2008 di Taman Budaya Sumber Air Cakar Wesi, Kediri, Jawa Timur. Acara yang berlangsung mulai 26 Juni sampai 2 Juli ini diikuti sastrawan Indonesia dan luar negeri, antara lain Brunei Darussalam, Singapura, dan Malaysia.

 

Pesta Penyair Nusantara 2008 bertema Sempena The2nd Kediri Jatim Internasional Poetry Gathering.

Acara ini juga diisi empat rangkaian kegiatan seminar dan dialog sastra, di antaranya bertajuk Peranan perempuan dalam kesusastraan. Dari Malaysia, hadir sebagai narasumber Dr. Datuk Kemala dan SM Zakir. Kemudian Jefri Arif dari Brunei, dan Korrie Layun Rampan,Viddy AD Daery dan D.Zawawi Imron (Indonesia).

 

Dari Lampung, selain Edy Samudera, penyair Inggit Putria Marga dan Isbedy Stiawan Z.S. juga diundang. Kepada Lampung Post, Kamis (26-6), Edy mengatakan Pesta Penyair Nusantara menjadi wahana apresiasi penambah wawasan sastra. "Ilmu yang kita terima nanti bisa diaktualisasikan kepada bakal sastrawan Lampung agar makin bergairah dengan dunia sastra," kata dia.

 

Di lokasi Pesta sastra,yakni di Sanggar Mulang Sara' Cakarwesi,Kediri,disamping dari Lampung,juga tampak hadir dari NTB, Riau,Kaltim,Jakarta,Madura,Makassar dan Jawa Timur sendiri.Juga beberapa delegasi sastrawan LSM PENA Malaysia.

 

Para peserta mendapat penginapan gratis dari Pemkot Kediri yakni di Gedung BLB,dekat Kantor Pos Kediri.

 

Pembukaan akan diadakan di Pendopo Kabupaten Kediri pada 30 Juni 2008 jam 18.30.

 

 

 

( n CR-2/P-1 dan vdad )

 


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] H a r a p a n - Cerpen oleh: A.Kohar Ibrahim

H a r a p a n

Cerpen: A.Kohar Ibrahim

http://16j42.multiply.com

 

 

H A R A P A N

 

 

Cerpen

Oleh : A.Kohar Ibrahim

 

 

LETIH. Meski tidak lagi jenuh. Iya, merasa letih saja dan belum lagi rasa jenuh yang datang menerjang sekalian merajam bareng keletihan. Kalau sudah letih dan jenuh, maka ceritanya akan lain lagi jadinya.

 

Sungguh, merasa letih keletihan adalah ciri utama dalam derita sakit yang merajam diriku belakangan ini. Kini. Selama beberapa bulan sejak awal tahun 2008 ini. Perasaan letih yang kurasakan memang beda dengan letih keletihan lantaran kerja badan atau kegiatan lainnya tatkala sekujur badan sehat walafiat.  Tegas jelasnya, letih keletihan ini, yang mulai terasa sejak awal tahun, kini diketahui gara-gara anemia. Diketahui berkat perawatan sejak masuk ruang Servis Urgen Klinik Saint-Jean. Menjadi salah seorang sitoyennya. Penduduknya. Penghuninya.

 

Masih segar sekali ingatanku, mulai dari melangkah masuk ruang bagian servis layanan urgen sampai mengalami serentetan pemeriksaan, rasa gelisah resah kian bertambah-tambah. Was-was. Penasaran – ingin segera mengetahui persis sebab musabab sampai bisa terjadi pendarahan hingga kehilangan darah lebih dari separuh darah yang dibutuhkan.

 

Dalam cengkam rajam rasa sakit, letih dan was-was, selang seling rebutan kesempatan untuk bangkit dari atas ranjang pasien. Membuka tirai jendela kaca atau keluar kamr dan duduk-duduk di ruang beranda untuk membaca bacaan yang tersedia. Atau juga sekedar berdiri sembari melempar pandang mata ke seputar luar rumah sakit ini. Klinik besar terdiri dari beberapa gedung tinggi yang letaknya sangat strategis. Terutama sekali dari tingkat lima atau tingkat enam – untuk menyaksikan kota Brussel By Day ataupun By Night. Meskipun tidak mungkin bisa menyaksikan dengan gaya bergerak dari satu ke lain tempat yang penting dan menarik dengan kendaraan bus yang khusus. Seperti bus « Brussels Sight Seeing ». Namun, meski tanpa kendaraan macam itupun, selagi berdiri di balik jendela kaca, mata ingatan dan alam pikiranku bisa meluncur laju menyinggahi tempat-tempat yang menjadi tujuan para wisatawan.  Lantaran aku cukup mengenal kota Brussel – selaku salah seorang sitoyen atau penduduknya yang lebih dari sejuta jiwa jumlahnya. Aku mengenalnya sejak 1972. Kenal perubahan-perubahan kemajuannya. Seperti perubahan atas jalan raya Boulevard Botanique yang membentang panjang melewati Klinik Saint-Jean dan Place Rogier. Di Place atau Lapangan Rogier yang didekorasi oleh gedung gedung pencakar langit itu dulunya adalah jalur trem gaya lama. Kini trem dan metro serba modern meluncur menelusuri jaringan rel bawah tanah, sedang di atasnya muncul menjembul sebuah bangunan mini piramid. Jalur-jaluran kendaraan umum di bawah tanah itu menjalar ke segenap penjuru kota, disamping-dampingi oleh jelujur jalur-jalur pipa air ledeng  atau terowongan buangan air bekas atau pun kalenan-kalenan penyalur air alamiah maupun tumpahan air hujan dari kayangan.  Yang kesemuanya menjadikan Brussel yang bermula sebagai Kota Rawa itu tanpa mengalami kebanjiran.

 

Dari balik jendela-jendela kaca besar beranda rumah sakit itu, di sayap kanannya, nampak sekali betapa kehiruk-pikukan di sepanjang panjangnya Boulevard Botanique. Bila aku beranjak, beralih tempat ke sebelah kiri, juga melayangkan pandang lewat jendela-jendela kaca lebar, maka segera menampak pemandangan kota yang cukup memikat hati. Apa lagi di waktu malam hari. Dimana bangunan gedung-gedung tinggi dan gedung bersejarah bersimbah cahaya listrik cerlang cemerlang. Seperti  bangungan gedung yang menjulang tinggi di cakerawala sana. Julangan tinggi menaranya yang semakin tinggi semakin melancip bak anak-panah siap-sigap menerpa sang langit.  Bangunan yang menjulang ke langit itu merupakan salah satu bangunan bersejarah yang terletak di lapangan bersejarah. Yakni yang merupakan gedung Balaikota lama dan yang terletak di Grand Place de Bruxelles. Lapangan Besar Brussel.

 

Di gedung Balaikota lama itu, pada tahun 1977 kami, aku dan para mahasiswa lainnya menerima diploma dari Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles. Akademi Senirupa Brussel.

 

Dan tentu saja, di gedung itu, selain bendera nasional tiga-warna Belgia, juga bendera Brussel berwarna biru berhias bunga Iris warna kuning keemasan. Warna sarat makna simbolistis : harapan. L'espérance. Harapan akan hidup menghidupi kehidupan yang baik dan lebih baik lagi. Suatu harapan manusia yang mendalam lagi mendasar dari dan bagi sitoyen atau penduduk kota Brussel. Kota yang berusia lebih dari seribu tahun. Dengan rangkaian kisah-kisah bersejarahnya yang menakjubkan di segala bidang kehidupan.

 

Betapa tidak,  kata hati bareng dengan pikiranku, bermula dari hanya sebuah bangunan sederhana berupa Chapelle yang didedikasi bagi Saint-Michel di dekat tepi Sungai Senne itu kemudian berkembang jadi sebuah kota ; menjadi Ibukota Belgia, lantas Benelux dan seterusnya defakto Ibukota Uni Eropa yang menghimpun 27 negara. Dengan adanya pula Markas Besar Nato, maka kota ini menyibukkan diri bukan saja di bidang-bidang ekonomi, politik dan kebudayaan melainkan juga militer. Meskipun dalam kesehari-hariannya yang menonjol adalah kesibukan bidang sosio-ekonomi-budaya dari masyarakat manusianya yang faktual lagi aktual sebagai masyarakat multi-kultural.  Dengan dampak osmosia kebudayaannya yang luarbiasa, sejak berabad-abad lamanya. Yang paling mengesankan lantaran langsung berkenaan dengan diriku sendiri. Yakni pasal kaum eksilan umumnya, khususnya kaum budayawan, seniman dan sastrawan proscrits yang pernah singgah bahkan menjadi sitoyen kota Brussel. Sejak zaman Francesco Petraca (abad ke-13) sampai zaman modern dewasa ini. Dalam mana namaku tercatat sebagai salah seorang di antaranya.

 

Kini, pandang mataku benar-benar tertumpu-tuju pada Grand Place Brussel. Pada gedung Balaikota yang megah. Megah kemegahan dengan menara-panahnya menembus langit bak penunjuk mengilustrasi opini berbunyi : « Semua yang menuju ke atas bertemu. » Frase terkenal dari filosof Teilhard de Chardin, yang aku sitir untuk salah satu dari serangkaian naskah « Catatan Dari Brussel : Bumi Pijakan Kaum Eksil. » Bumi Harapan. Harapan manusia yang ragam macam, dari pembesar dan orang-orang terkenal sampai pada pekerja biasa. Harapan manusia untuk mengatasi segala kesulitan atau ujian demi  menjalani hidup kehidupan yang baik dan lebih baik lagi. Seperti dipertandakan oleh kehadiran Douwes Dekker alias Multatuli – salah seorang dari deretan panjang para pengarang yang tergolong kaum eksilan yang juga menjadi sitoyen atau penduduk kota Brussel. Multatuli dengan novelnya yang terkenal « Max Havelaar » yang disusun rampung di sebuah kamar kecil kafetaria yang letaknya hanya seratusan meter saja dari Grand Place. Multatuli yang melahirkan karya-karya tulisnya dalam derita kekurangan makan dan kedinginan serta terlibat hutang-piutang. Multatuli sang humanis besar yang dijadikan guru oleh Pramoedya Ananta Toer. Dengan inti ajaran bagaimana menjadi manusia, bagaimana memanusiawikan manusia. Multatuli yang juga menjadi nama Akademi Sastra dan Bahasa Indonesia « Multatuli » Jakarta, dimana Pramoedya salah seorang gurunya di samping Bakri Siregar, sedangkan aku sendiri sebagai salah seorang muridnya.

 

Harapan untuk hidup sebagai manusia yang manusiawi seraya kiprah untuk memanusiawikan manusia itupun memang menjadi harapan sekaligus tujuanku.

 

Dengan tujuan sarat harapan yang jadi pendorong eksistensiku itu pula aku mengambil keputusan untuk hidup, meneruskan hidup kehidupan yang indah dan tak ternilaikan ini – betapapun ragam-macam kesulitan atau ujian yang harus dihadapi. Termasuk ujian yang sudah dan sedang aku hadapi. Yang aku alami. Berupa rajaman rasa sakit penyakit yang sedang aku derita. Dengan senantiasa mengayomi impian,  cita-cita sekalian cinta yang terwujudkan dengan daya upaya tanpa kenal henti.

 

« Aku jadi tambah yakin akan kebenaran kata dan maknanya, bahwa semua yang menuju ke atas bertemu, » bisik hatiku memperkuat pikiranku seraya mengarahkan pandang mataku ke Grand Place dengan gedung Balaikota yang bermenara bak anak panah menembus langit tinggi. Tumpuan hati dan pikiranku yang sarat harapan kuat itu seketika teralihkan oleh teguran seorang lelaki yang didampingi dua juru-rawat perempuan.

 

« Monsieur Kohar, kami cari-cari di kamar dan ruang ngasoh, eh, rupanya berada di sini, » kata lelaki itu, yang ternyata Dokter Dansart.

 

« Maaf, Tuan Dokter, »  ujarku, « saya lagi gunakan waktu senggang untuk kontemplasi pemandangan kota Brussel. Sedikit nostalgia… »

 

« Très bien, » sambut Dokter dengan nada ramah senantiasa. « Bagus sekali. Oke. Kita ke kamar Anda ? Ada info yang patut Anda ketahui. »

 

« Oke. D'accord, » ujarku mengangguk seraya beranjak bersama sang Dokter dan kedua juru-rawat pendampingnya.

 

« Begini, » ujar Dokter Dansart seraya melanjutkan dengan informasi berkenaan dengan serangkaian pemeriksaan medis yang telah dilakukan atas diriku. Hasilnya kini sudah cukup jelas dan memberi jawaban tentang sebab-musabab terjadinya pendarahan yang mengakibatkan anemia. Yakni, karena tumor yang mengidap di bagian kolon. Untuk menghentikan pendarahan, maka harus dikikis. « Anda akan mengalami operasi. »

 

Seketika aku terkejut, jantungku berdebar keras, tarikan nafas seperti menyesak.

 

« Tak usah gelisah, » ujar Dokter, cepat membaca perasaan dan pikiranku dengan menampak wajah, sinar mata dan kening berkerut. « Iya. Tak usah gundah. Kini sudah diketahui sebab-musababnya Anda kekurangan darah itu. Belum terlalu lambat. Apalagi setelah infusi darah, Anda telah memiliki kekuatan kembali dan akan tahan untuk menghadapi operasi nanti. »

 

« Kapan, Dokter ? » tanyaku, dengan nada sama sekali tanpa nada gugatan meski sarat kegelisahan teramat sangat. « Besok ? »

 

« Tidak besok, tapi lusa, » kata Dokter, seraya memberikan saran supaya aku segera menyampaikan berita kepada keluargaku akan diagnosanya. « Beritakan teriring harapan bagi pemulihan kesehatan Anda. »

 

« Oui, Docteur, » ujarku mengamininya, perlahan, berupaya mengikis rasa was-was dan meyakinkan diri dengan menelan seutuhnya ujar kata Dokter itu. Istimewa menerima makna kata harapan yang ditekankan pas di alam perasaan dan pikiranku.*** (28.06.08)

 

(Dari Serangkaian Kisah « Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati » A.Kohar Ibrahim)

 

 



Envoyé avec Yahoo! Mail.
Une boite mail plus intelligente. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content