12 April 2008

[ac-i] Sang Praktis

Sang Praktis
Cerpen oleh A.Kohar Ibrahim
http://www.bekasinews.com/
http://16j42.multiply.com/
http://fr.360.yahoo/kohar_be/
API


Cerpen
Oleh: A.Kohar Ibrahim



API ! Itulah bukti Api! Tulisku barusan saja via SMS, begitu usai mendengar suara via HP dari kekasihku nun jauh di Anggreksari kawasan Zamrud Katulistiwa. Suara yang begitu lugu begitu mesra melukiskan suasana jiwaraganya yang sedang direjam rindu. Kerinduan yang membuatnya tak bisa tidur nyenyak dengan segera. Begadang di tengah taman warna-warni kenang-kenangan indah kehidupan yang pernah dijalani. Sampai waktu subuh baru bisa menenangkan diri kembali. Hanya baru bisa pejamkan mata, terlena setelah melakukan ibadah solat dan melepas mukena.

"Aku tidur dengan berselimutkan handuk lebar yang dulu kita gunakan sebagai pelengkap alas di atas seprei terakhir kali kita saling naugerah rasa keindahan tiada taranya," jelasnya dengan suara begitu mesra, dan nyaris terbata-bata: "Iya, juga terakhir kali kita gunakan untuk mengelap tubuh setelah mandi pagi hari bersama...Masih ingatkah semua itu, Suami?"

Suara tanyanya yang mesra itu campur nada lirih. Membikin aku tercenung menung seketika. Tenggorokanku cepat terasa seperti tersumbat. Jantung hatiku keras berdebar. Sejenak kupejamkan mata. Menyegarkan kembali ingatan akan kelakuan kami yang terjadi setelah sekian lama, namun sepertinya baru kemarin dulu. Maka aku lanjut-tegaskan via SMS: "Handuk selimut itu pertanda bukti keberadaan Api, Kasihku !"

Seketika aku kembali tertegun. Diam. Hanya untuk lebih memusat-ingat-kan pada seorang perempuan kekasihku. Isteriku. Salah satu sosok makhluk indah ciptaan Yang Maha Kuasa Pengasih Penyayang. Meski raga kami terpisah jarak sedemikian jauh, namun terasa rasanya begitu dekat melekat. Suaranya begitu mesra. Sejuk lagi hangat menyamankan jiwa-ragaku. Tak ubahnya seperti percik api, lidah api, jadi penambah semangat kian gairah, segar dan girang malah. Jadi pengkondisi suasana yang amat berfaedah bahkan bisa pula mengundang imajinasi dan menghidupi kenangan sejak masa bocah. Seperti betapa gairah dan girangnya ketika tiap kali menyaksikan Mbah, Mamang atau Abahku memanipulasi geretan hingga muncul percik-percik api berubah nyala untuk membakar tabunan. Spontan kontan hatiku pun melonjak kesenangan menggerak anjak kedua belah tapak kaki dan menari-nari riang bersama bocah-bocah lainnya. Gerak gerik riang itu selaras irama retak-mertak ranting dan dedaunan
kering yang menjelmakan lidah-lidah api. Lidah-lidah api yang juga begitu gagah lincah sentuh bersentuhan, ringan-ria berdamping-gandengan, bergerak kiri kanan meninggi merendah tiada henti ubah berubah dengan gairah. Duhai! Betapa gembiranya masa bocah seperti yang aku alami itu. Lebih gembira dan bahkan lebih mengesankan lagi adalah ketika kobaran api mereda, hanya untuk memperagakan merahnya warna bara membara dengan masih berhias rangkai lidah-lidah api di sana sini. Seketika itu Mbah dengan dibantu oleh Ibu membawa bakul kecil berisikan apakah ubi, jagung ataukah singkong untuk dibakar. Ah ! Betapa lezat rasanya menikmati hasil bakar-bakaran Mbah itu. Lebih-lebih lagi nikmat dan asyiknya bila Mbah kembali mengutarakan dongeng tentang Api. Seperti api tabunan yang telah menjadi tradisi sejak zaman purbakala. Sejak manusia secara primitip menemukannya dengan menggosok-gesekkan benda keras berupa kayu atau bambu atau batu. Dari dan dengan
pergosok-gesekan benda keras itu sedemikian rupa hingga menjadi hangat, hingga menjadi panas, lantas rumput atau kulit kayu yang sudah kering-lembut dilembutkan diletakkan diantaranya. Hingga meruap asap pertanda terbakar yang secara sigap dan cakap ditiup dengan mulut hingga nyalapun menjelma. Maka sang Api pun tersedia apa adanya. Api yang selalu disambut dengan penuh kebangga-gembiraan, bahkan dirayakan dalam pesta apa adanya pula -- selaras situasi dan kondisi manusia pada zamannya itu. Tak syak lagi, menurut Mbah, penemuan api adalah penemuan ummat manusia di zaman purbakala yang teramat penting. Bukan cuma untuk membikin tabunan, hingga bisa membakar bahan makanan berupa ubi-ubian atau daging binatang hasil buruan dan tempat kumpul berkumpul menikmati hangat kehangatan sang Api, terutama di waktu malam dan di musim yang dingin. Tapi juga untuk alat terang penerang sebagai obor dalam kegelapan, baik di perjalanan maupun ketika manusia bermukim di
dalam gua-gua.

"Begitulah," ujar kata Mbah seraya menekankan, "semenjak zaman purbakala, entah berapa jutaan tahun lampau, manusia sudah tahu makna memaknai Api. Yang menurut kepercayaan tersimpan disimpan Bumi. Bumi yang juga terdiri dari Tanah dan Air dan Udara juga Api di kedalaman perutnya. Dan kemudian, entah berapa juta tahun kemudian, setelah terjadi proses panjang zaman perubahan, timbul kepercayaan bahwa sang Api datangnya dari Kayangan. Sang Api itu sedemikian rupa maknanya bagi hidup kehidupan ummat manusia dan sekalian alam dunia, sehingga dari satu ke lain zaman sampai dihormat-puja-puji sebagai Dewa. Penduduk dunia yang berasal dari Persia, Yunani, Osaka atau Mesir pasti tahu sekali apa dan bagaimana makna memaknai sang Api itu. Lagi pula, dalam perjalanan sejarah ummat manusia, dengan cara-gaya beragam macam, orang pun bisa menyimak tentangnya di tiap kitab-kitab yang menjadi tradisi kajian."


KETIKA mendengarkan kisah-kisah sang Api atau yang berkaitan dengannya, selagi masa bocah itu, aku hanya bisa menggeleng-anggukkan kepala saja. Bukan lantaran bosan ataupun ragu, meski mendengarnya berulang-kali, melainkan lantaran keasyikan teriring rasa kagum pada Api -- salah satu dari ciptaan Yang Maha Kuasa itu. Tak juga pernah merasa bosan, setiap kali tabunan tinggal bara, lantas ditambahi beberapa ranting dan tumpukan rumput atau dedaunan. Maka, sesaat sebelum meninggalkannya, aku sempatkan menatap betapa indahnya ruap meruap keputihan asap yang beruntai menggapai langit malam bertabur bintang.

Iya. Memang iya. Sejak masa bocah aku suka tabunan, ketika api mengobarkan nyala atau meninggalkan bara, bahkan ketika ruap meruap keputihan asap untai beruntai. Aku suka menampak tabunan di kebun atau di ladang; di lembah atau lereng bukit dan gunung. Seperti di Ciputat, Cimanggis, Cinangka, Kerawang, Bekasi atau di kebun dan ladang Abah di Kampung Setu, Cikarang, Cilengsi. Seperti di "zaman dulu" selagi bocah atau remajaku. Seperti juga belakangan ini ketika di Sawangan, di Kuningan dan di Subang. Maupun di sepanjang perjalanan Cirebon--Karawang--Bekasi. Begitulah pula, api tabunan senantiasa menggelitik hati dan pikiran serta imajinasiku ketika bersama kekasihku melakukan peninjauan ke Minangkabau. Dari Padang menelusuri Bukit Barisan dengan Gunung Merapinya yang agung, ke Bukit Tinggi dan Pagar Ruyung sampai ke Pekan Baru untuk akhirnya sampai pulang ke Batam Kepri. Nyala ataupun asap Api Unggun memikat hatiku senantiasa.

Apa pula lantaran perlawatan itu ditunaikan bersama seorang perempuan pujaan hatiku. Perempuan yang ketika aku temukan, sejak awal mula sudah mampu menarik-gugah hatiku. Tak ubahnya sepercik percikan api yang sarat asa dan kehangat-nyamanannya asyik dijaga. Menghangat-gairahkan semangatku. Nama panggilannya saja bagiku amat bermakna dan puitis. Menambah kenyaman dan keteguhan teriring rasa kebetahan bersamanya. Sekalipun, pada awal mulanya kami berlum pernah saling jumpa muka. Baru terlaksana hal itu beberapa tahun kemudian. Dan selama beberapa tahun itu terisi intensitas komunikasi yang nyalanya begitu mengesankan: mulai bak api dalam sekam hingga menjadi api unggun yang terang benderang menghiasi kegelapan malam.

Iya. Dan memang iya. Perempuanku yang nampaknya lebih bertandakan diam pendiam dengan penampilan anggun berbusana selayaknya kaum Muslimah itu, terbukti ke-kalem-diem-annya sebenarnya mengandung gelora-gairah luarbiasa. Wajah dengan senyumnya pun terhiaskan sepasang pelupuk beralis tebal dengan bulumata lentik penambah cantik. Sedang pandang mesranya, oh, cahya kemesraan yang dianugerahinya untukku itu seperti cahya api lembut yang paling lembut namun mampu menyulut semangat-gairah jiwaragaku. Bahkan ia mampu menanam-tumbuhkan kepercayaan sekaligus keyakinan akan kekuat-indahan cinta-kasihnya yang memang benar sebenar-benarnya. Sebagai Kekasih. Dan juga sebagai seorang isteri: Ketulus-Ihkhlasan serta Kesetiaannya yang luar biasa. Tangguh teguh dan ulet serta sabar dalam menghadapi ragam macam ujian. Tak ubahnya seperti Dian nan tak kunjung padam. Terangnya kecemerlangan cahaya kebenaran yang benar-benar selaras kata hatinuraninya.

Maka tak seinci pun aku merasa ragu ketika untuk kesekian kalinya perempuan-swarga-ku itu mengaku senantiasa direjam rasa rindu denam. Rejaman yang kerapkali keterlaluan hingga membikinnya tidak bisa mudah memejamkan mata. Seperti tadi malam. Menyebabkan dia begadang selama berjam-jam dari tengah malam sampai menjelang waktu subuh. Begitupun, dia baru bisa terlena dengan nyaman dan nyenyak lantaran terbaring di atas seprei berselimutkan handuk lebar. Handuk yang kami gunakan jadi penambah alas selagi bercengkerma menikmati masa ke-pengantin-baru-an kami yang baru saja dijalani. Handuk yang juga kami gunakan untuk saling lap-mengelap tubuh yang basah setelah menikmati acara mensucikan diri bersama di kamar mandi. Kamar mandi yang putih bersih bersimbah cahya yang menyimbah kesuburan Tanah Garapan Indahku yang kian indah saja tersiram kesejuk-segaran air pancuran seraya hirup menghirup harum sabun wangi dan segarnya udara pagi hari.

Handuk itu sarat akan kehangat-nyamanan nyala api cinta-kasih. Api nan tak pernah kunjung padam. Semoga. *** (29.03.2008)

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: