18 April 2008

Ketekunan Nagabonar

Belum lama ini saya dan Deddy Mizwar bernostalgia soal pembuatan film di jaman 70'an dan 80'an. Jaman itu belum ada istilah "kejar tayang". Yaitu pembuatan film atau sinetron yang harus terburu-buru, karena sudah ditunggu deadline tayang. Saat ini, film Indonesia memang sedang ramai-ramainya. Hampir tiap minggu tayang 2-3 film Indonesia yang baru. Banyak film yang selesai shooting hanya 2-3 minggu. Lalu masuk post-productions dan segera tayang. Saat ini tekhnologi punya pengaruh yang sangat kuat terhadap kecepatan dan percepatan. Beda dengan jaman dulu.

Saat shooting Nagabonar yang pertama, Deddy Mizwar bercerita bahwa waktu shooting yang diperlukan adalah 2 bulan. Itupun haru shooting berhari-hari dilokasi. Malah disalah satu lokasi, selama berhari-hari Deddy Mizwar harus mandi dikali. Karena lokasinya memang terpencil sekali. Saat itu Deddy Mizwar baru saja menikah, dan harus pindah ke rumah baru. Honor shooting belum bisa menghidupi keluarga yang baru menikah. Terpaksalah mobil dijual. Guna menyambung hidup. Sambil tertawa terbahak-bahak, Deddy Mizwar mengenang masa itu. Dilihat dari tawanya yang kencang banget, jelas pula, Deddy tidak menyesali pengalaman jaman itu. Secara arif, beliau bercerita bahwa dijaman itu, walaupun segalanya lebih kurang, namun ia punya kemewahan untuk menekuni profesinya sebagai bintang film. Sebuah proses belajar yang penuh totalitas dan ketekunan. Melihat hasilnya sekarang, ia justru mensyukuri semua pengalaman itu.

Cerita Deddy Mizwar lekat sebagai sebuah inspirasi yang bagus. Salah satu kunci keberhasilan bisnis adalah tekun dan bukan rajin biasa. Seorang pengusaha Cina bercerita kepada saya, bahwa didesa-nya, 10 tahun yang lalu ada 2 bengkel sepeda yang buka tidak jauh satu dengan lainnya. Dua-duanya adalah pengusaha yang rajin. Mereka selalu buka sejak jam 6 pagi. Tidak pernah sekalipun terlambat. Keduanya adalah kompetitor yang sengit. Selalu bersaing dalam segala-galanya. Tak pernah mau mengalah sekalipun dalam segala hal. Setelah bersaing 10 tahun yang satu tetap buka sebagai bengkel sepeda. Tidak ada kemajuan yang berarti. Bengkel satunya lagi sudah tutup sejak lama. Hampir 5 tahun lebih. Pengusaha yang kedua kini pindah ke pusat kota. Ia membuka bengkel motor dan bengkel mobil. Cabangnya sudah lebih dari selusin. Ia juga kini menjadi distributor ban sepeda dan ban motor.

Pelajaran yang menarik adalah, pengusaha yang pertama cuma rajin biasa. Membuka toko tidak pernah telat. Dan menutup toko hingga larut malam. 7 hari selalu buka dan tidak pernah tutup. Pengusaha kedua beda. Ia tidak hanya rajin tapi juga tekun luar biasa. Mulanya ia tekun memperhatikan pelanggannya yang sering menambal ban. Dan ia mulai menghitung umur ban. Dikalikan dengan jumlah pelanggannya, ia menyimpulkan mestinya sebulan ia bisa menjual 15-20 ban sepeda baru. Iapun memberanikan diri datang kesalah satu distributor ban sepeda, dan minta diberikan fasilitas kredit berjualan ban sepeda. Itu awalnya. Lama-lama ia merambah ke ban motor, dan membuka bengkel motor dan mobil.

Menurut Deddy Mizwar, rajin saja belum cukup tapi harus tekun. Bedanya kalau tekun punya 2 elemen, elemen pertama memang sewajarnya kalau mau sukses harus rajin. Tetapi elemen kedua harus ditimpali dengan kerja keras dan belajar. Yang akhirnya bisa menjadikan kita bijak, selalu memperhatikan dan peduli dengan details, dan lama-lama tumbuh "sense of perfection". Jadi tekun adalah rajin yang berstamina. Begitu cerita beliau.

Ketekunan yang sama diperlihatkan Deddy Mizwar kepada saya ketika memperjuangkan kehadiran film NAGABONAR karya almarhum Asrul Sani ex tahun 1987. Sehabis sukses dengan film Nagabonar Jadi 2, datang permintaan bertubi-tubi untuk memutar ulang film Nagabonar yang pertama. Deddy Mizwar merasa terharu dengan permintaan itu akhirnya mencari copy negatif film NAGABONAR ex 1987. Untung luar biasa, akhirnya negatif itu ditemukan, tapi dalam kondisi yang sangat parah. Berjamur dan hampir rusak total. Mulanya kami semua menyerah dan putus asa. Namun Deddy Mizwar gigih meminta sample copy film itu dikirim ke Hong Kong untuk dianalisa. Rupanya Tuhan melihat ketekunan Deddy Mizwar, dan film NAGABONAR ex 1987 akhirnya bisa juga diselamatkan. Tentu saja tidak dengan biaya murah, tapi menghabiskan biaya milyaran rupiah. Deddy Mizwar minta kami maju terus.

Film dibongkar pasang, tiap frame diperbaiki satu demi satu dan diwarna ulang. Suara di dubbing ulang dan direkam dengan tekhnologi DOLBY DIGITAL terbaru. Muncul masalah baru, beberapa pemain sudah meninggal dunia. Mencari dubber dengan kepribadian yang mirip jelas susah bukan main. Franky Raden diminta pulang dari Amerika untuk merekam ulang ilustrasi musik. Karena semua lagu rakyat sudah diberlakukan Undang-Undang Hak Cipta, maka Deddy Mizwar harus bernegosiasi ulang untuk meminta ijin pemakaian lagu tersebut. Negosiasi berlangsung alot dan cukup lama. Tadinya hampir-hampir lagu soundtracknya mau diganti. Syukur akhirnya negosiasi berlangsung aman juga.

Masalah lain yang muncul juga cukup banyak dan sangat melelahkan. Untunglah Deddy Mizwar menghibur saya. Kata beliau menasehati saya, NAGABONAR kita hadirkan dengan niat baik, untuk memperingati 100 tahun kebangkitan nasional. Maka setiap penderitaan dan perjuangan yang kita hadapi pasti akan setimpalnya dengan hasilnya nanti. Nasehat Deddy Mizwar terasa betul seperti segelas air es yang mengguyur kepala saya. Terasa sangat adem dan nyaman. Walaupun semua crew dan anggota team deg-deg-an tidak ada habisnya. Kehadiran NAGABONAR nanti mulai 8 Mei 2008, adalah bukti nyata bagaimana ketekunan bisa mengalahkan segalanya. "Impossible is Nothing !"


kafi kurnia - 18 april 2008

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: