22 April 2008

[ac-i] Liku luka Penyair Lamongan

Sunday, June 19, 2005
RAK BUKU TEMPO
Tue, 03 May 2005 12:45:27 -0700

http://www.korantempo.com/news/2005/1/16/Buku/14.html

Judul buku : Liku Luka Kau Kaku
(200 sajak untuk 200 Penyair)
Penulis : Aguk Irawan MN.
Penerbit : Pustaka Sastra Yogyakarta (Ombak), 2004
Jumlah halaman: xxix + 280 : 13 x 20 cm


MIMPI INDONESIA UNTUK 200 PENYAIR
Peresensi A. Purwantara

Adalah Aguk Irawan MN., penyair yang lahir dari bumi
Lamongan (1
April 1979), tanah yang sekarang dikenal setelah bom
Bali
mengejutkan dunia. Beberapa tahun yang lalu dia
meninggalkan tanah
kelahirannya menuju negeri Fir'aun untuk studi di
Universitas Al-
Azhar Kairo, dari tahun 2002, hingga sekarang sedang
menyelesaikan
kuliah tingkat akhir di jurusan Ushuludin Departemen
Aqidah
Filsafat. Sebelumnya dia nyantri di ponpes Darul Ulum,
Langitan,
Tuban sambil sekolah di MAN Babat, Lamongan (1997)

Mulai belajar sastra kepada gurunya, Bp. Harmaji,
penyair lamongan
dan guru Bahasa Indonesia. Kepenyairannya semakin kuat
ketika di
Kairo mendirikan sanggar seni Kinanah bersama
teman-teman
Indonesianya. Setelah itu dia seperti memproduksi
kata-kata dengan
tiada henti. Dan sebagain besar karyanya itu bisa
dinikmati
dipelbagai koran dan majalah baik daerah maupun Ibu
Kota. Setelah
beberapa buku dia lahirkan, kali ini dia menelorkan
lagi sebuah
kejutan dari kata-kata yang terus diproduksinya.

Liku Luka Kau kaku, sebuah kumpulan puisi. Kalau
menyuplik komentar
Sigit Susanto di sampul belakang buku itu; Puisi-puisi
Aguk tak jauh
dari tema pertemanan, kerohanian, kehidupan dan alam.
Metafor-
metafor yang dihasilkan banyak berangkat dari
perenungan alam yang
dalam. Kemudian dia coba menikung pada kehidupan
manusia lewat ironi-
ironi kekinian.

Mungkin tema-tema di atas sungguh sangat biasa
diangkat oleh penyair
yang pernah ada. Sebuah tema yang tidak terlalu aneh.
Karena karya
seni itu tiruan dari alam, begitu kira-kira kata
seorang filsuf.
Tidak aneh! Lalu apa yang bisa dilihat dari sebuah
buku puisi yang
tak aneh?

Tungu dulu, Liku Luka Kau kaku, mungkin beda. Buku ini
mungkin agak
unik jika dibandingkan dengan buku-buku dengan tema
yang tidak aneh
itu tadi. Menurut A. Mustofa bisri; Antologi puisi
penyair muda Aguk
Irawan ini benar-benar merupakan sebuah karya yang
unik. Mungkin
inilah pertama kali dan satu-satunya antologi puisi
yang seluruh
sajaknya dipersembahkan dan "merespon" kepada hampir
semua penyair
Indonesia yang dikenalnya. Maka antologi inipun
menjadi semacam
leksikon puitis atau kumpulan "puisi leksikon".

Ya, buku ini berisi 200 sajak untuk 200 penyair.
Kenapa 200 penyair,
menurut Aguk; Sebab sejarah sastra adalah sejarah yang
purba dengan
rentang waktu yang sangat panjang dan pelik, maka
hanya 200 saja,
rasanya memang betul tak cukup!

Bagaimana Aguk mengumpulkan 200 nama penyair Indonesia
itu? Katanya,
200 nama penyair Indonesia ini dihimpun dengan
kategori periode
(mudah-mudahan tidak salah) di mulai dari zaman Balai
Pustaka,
hingga sekarang (2004). Dia juga menyandarkan pada
hasil penelitian
di Paris yang diberi nama The Paris Review – Interview
dan di bawah
judul "Some Work of Indonesian Poets (2002) yang
menghimpun 197 nama-
nama penyair Indonesia tetapi; bukan berarti yang ada
dalam
penelitian itu pasti ,begitu kanyanya.

...yang jelas 200 para penyair yang saya jadikan teman
dialog dalam
kata-kata latah di buku ini, mereka adalah guru dan
tauladan saya,
sejak pertama saya berkawan dengan mereka, atau sejak
pertama kali
membaca tulisannya, sejak itu pula saya putuskan niat
yang tulus
untuk berguru....

Begitulah, sebagai mantan santri Aguk memang tak bisa
melepas
tradisinya untuk bersilaturahmi. Untuk itulah dia
menciptakan
jembatan yang menghubungkan jarak keberadaannya dengan
para penyair
itu yang berupa puisi tegur sapa. Puisi yang mengajak
berdialog,
bercakap-cakap. Dengan bahasa yang kadang-kadang
bergelora, lelah,
putus asa juga cinta dan kehangatan.

Apa hanya itu alasan dia menulis 200 sajak untuk 200
penyair yang
dia kenal, baik langsung maupun hanya kenal karyanya
itu? Dia
mengungkapkan, "Saya tak bisa membayangkan tanpa
mereka bagaimana
bisa Indonesia menjalani liku sejarah sebagai bangsa
yang penuh
kedukaan ini berlangsung?"

Pada saat peluncuran buku di Taman Ismail Marzuki
(TIM) pada Jumat
21 Oktober 2004, seorang penyair Akhmad sekhu bertanya
kepadanya, "Kenapa kau berani menulis 200 puisi untuk
200 penyair,
apa kau kenal mereka? Apa yang mengilhami kau menulis
itu?"
Jawabnya, "Saya bukan penyair. Bahkan saya benci
penyair. Karena
penyair di mata saya adalah orang yang suka
sesenaknya, tidak
peduli. Tapi kenapa saya tiba-tiba ingin menyapa
mereka? Ketika saya
melihat Indonesia sedang berduka, terluka
berdarah-darah, merekalah
yang setia mencatat, merekam dan menyodorkan obat dan
memberi
hiburan yang sedang duka. Sejak itu saya mencintai
mereka. Dan ingin
berdialog dengan mereka." Begitu kurang lebih dialog
yang terjadi
antara Aguk dengan Akhmad Sekhu, seorang penyair yang
sempat pula
disapa dalam antologi puisi Liku Luka Kau kaku ini,
dengan judul
Kosong –untuk Akhmad Sekhu di halaman 30.

Dari dialog itu terungkap bahwa Aguk Irawan, anak
kelahiran Lamongan
yang sekarang di Mesir, menyimpan semangat yang pedih
melihat
bangsanya dicerca duka dan luka yang tak pernah henti.
Lihat saja
kata-kata Liku Luka Kau Kaku, empat kata yang dengan
tepat
menggambarkan perjalanan sejarah yang penuh liku dan
luka-luka.
Sedemikian itu liku dan luka yang bahkan hampir-hampir
membuat
semangat kebangkitan kaku beku.

Kita lihat puisi di halaman pertama buku Liku Luka Kau
Kaku; ....../dari cuaca yang paling teduh/Indonesia
memang hanya
mimpi/ya, mimpi yang entah milik siapa?/dengan segala
muslihat/yang
tajam dan yang tumpul//dan jika Indonesia
adalah/rembulan maka
hampir/sudah tiada malam lagi/dan cahaya, lalu mimpi
untuk siapa
(Mimpi untuk Abdul Hadi W.M, Kairo 2004, hal 1-2)

Aguk seakan melihat Indonesia dengan sejarah yang
suram itu bagaikan
mimpi. Bahkan dia hampir tidak melihat perbedaan mimpi
buruk ataukah
kenyataan yang sedang dialami bangsanya. Seakan
ketenangan,
keamanan dan kesejahteraan adalah mimpi indah rakyat
Indonesia yang
dihantam krisis, bom, separatisme dan macam-macam
teror. Tenang? Itu
hanya mimpi indah yang entah milik siapa.

Ekspresi kebangsaan Aguk dapat dilihat dalam beberapa
sajaknya,
seperti Kehormatan yang diperuntukkan A. Ajib Hamzah
dari
Jogjakarta. Aguk memandang; bumi kita yang hangus.
Terasa harapan
yang pupus. Dan untuk Ajip Rosidi dia menulis; tanah
kita/tempat
menaruh segala/harapan dan cinta/bunga-bunga
mekar/lanmgit yang
bening/tanpa ketakutan. Sebuah harapan yang
mendambakan negerinya
bebas dari ketakutan, tempat cinta dan bunga-bunga
mekar dengan
indah, itulah Indonesia dalam mimpi Aguk.

Kemudian serunya kepada semua orang; ......bangunlah
wahai
pemimpi/lihat huruf-huruf sudah/tak bisa dieja lagi
apalagi
terbaca/anak-anak negeri (Bangunlah untuk Budiman S.
Hartoyo, Kairo
2004, hal 70-71)

Aguk menjadi orang yang gelisah ketika harus berbicara
tentang
keadaan bangsanya, Indonesia. Seperti menyimpan cemas
dan gamang.
Sehingga dia lebih senang memandang keindahan itu
sebagai mimpi.
Kepada penyair yang telah berumur dia berkeluh kesah;
...... pada
harihari ini memang kita saksikan/kekalahan seribu
wajah kita
untuk/mengundang pagi yang cerah dengan/firdausfirdaus
baru yang
mengantarkan pelaut/malam pada matahari (Tangis untuk
D. Zawawi
Imron, Kairo 2004, hal 79-80. Dia mencoba mengajak
Zawawi Imron sang
Celurit Emas untuk berdialog. Dia mengungkapkan; mari
kita hitung
berapa harihari yang/tersisa tanpa tangis sebelum
usaiusai
hari/luruh dalam gelap.

Itulah penyair dari Lamongan yang berkeluh kesah
tentang bangsanya
yang sedang terluka dan menderita. Diraciknya keluh
kesah dan
mimpinya dalam sajak-sajak yang dipersambahkan kepada
penyair-
penyair tanah airnya yang setia mencatat dan merekam
peristiwa pedih
yang mengiringi perjalanan bangsa.

Kepekaan penyair dalam menyikapi keadaan bangsanya,
menurut Aguk
tidak bisa muncul begitu saja. Dia harus banyak
belajar dari para
pendahulunya yang mempunyai tradisi mencermati
keadaan. Aguk merasa
telah berguru kepada semua penyair yang sempat
dikenalnya maupun
yang hanya dibancanya. Seperti penuturannya dalam
salah satu puisi
untuk penyair Gunawan Mohamad; ....Diamdiam aku
meracik mimpi/dari
denyut jantungmu/seperti daun, diamdiam memang
aku/menyaring desah
anginmu (Guru untuk Gunawan Mohamad, Kairo 2004, hal
119-120)

Dia juga mengungkapkan kekagumannya kepada WS. Rendra
yang selalu
berteriak lantang pada ketidakberesan yang terjadi di
negeri ini.
Juga kepada Agus R. Sardjono; di negeri Fir'aun kita
bercakap di
bundaran/deretan kursi, kau baca pikiranku
yang/berkelebat ke sana
ke mari dan kau rangkum/setiap kata dengan kalimat
yang
singkat:/salah! (Kenangan untuk Agus R. Sardjono,
Kairo 2004, hal 20-
21). Dia memang berguru pada semua penyair. Dengan
begitu dia tetap
mampu melihat terang meski semua orang merasa gelap
sebagaimana
ketika membaca Afrizal Malna; malam telah memberiku
gelap
memang,/gelap di seluruh penjuru, tetapi tidak pada
kau,/dalam gelap
kau selalu benderang dan tidak/sembunyi, bahkan dalam
gelap kau
selalu/menghadirkan siang, dalam percakapan/dari
percikan sinar,
dalam malam kau/terbangkan angin yang jauh
dalam/sajaksajakmu (Gelap
untuk Afrizal Malna, Kairo 2004, hal 18-19).

Dan untuk penyair-penyair sahabatnya sedaerah
(Lamongan) dia
menulis ; apa yang terlintas dalam kenangmu saat
kita/baca/katakata
bersama//yang kau katakan saat perjalananku
sampai/"segeralah
mampir ke rumah tengok derai gerimis sore/hari
yang/menetes dari
atap rumahku, dan kita/menghirup udara/yang dingin
membeku dari
langitlangit kamar, sambil/mengintip halilintar di
luar"//saat aku
ingin berjalan dan sampai/kepadamu, rasanya/aku tak
perlu lagi
katakata, karena bukankah/kita/sudah begitu mengerti
tentang
beranda/rumah kita yang/sama. Dan di sana telah kita
tanam
bersama/kesegaran/hidup kanakkanak dari titik hujan di
luar/dan
tangis/hujan (Halaman untuk Viddy Alymahfoedh Daery).

Membaca buku Liku Luka Kau kaku seperti menyelami
pedalaman seorang
anak negeri yang lahir dari tanah pergerakan Lamongan,
yang menebar
pasir kerinduan Mesir dan merangkul negeri yang luka
Indonesia.
Seperti bersilaturahmi dengan hati kepada setiap orang
yang merasa
Indonesia dari bahasa.

Itulah kerja keras Aguk yang telah melahirkan sekian
kata-kata yang
dirangkainya dalam 200 judul sajak yang dipersembahkan
untuk 200
penyair senegerinya. Dalam satu tahun dia menghasilkan
200 sajak,
wah, sebuah kerja yang tidak main-main. Mungkin karena
itu, Aguk
sering menggunakan idiom yang seakan berulang-ulang
muncul. Atau
mungkin saja dia punya maksud mengulang-ulangnya,
seperti mimpi. Ya,
mimpi Aguk yang selalu terulang jika ingat negerinya.
Sementara dia
nun jauh di seberang, di tengah hamparan pasir yang
gersang. Namun
dia tetap ingat. Dan ketika kita membacanya, kita pun
ingat, negeri
ini punya mimpi.

(Peresensi adalah budayawan, dan anggota DKS (Dewan
Kesenian Surabaya)

posted by aguk at 9:35 PM


____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: