24 April 2008

[ac-i] LANDING SOON #6: Pameran dan Presentasi Seniman Residensi



Cordially invite you to:

Exhibition and Presentation of Artists in Residence
LANDING SOON #6
ARFAN SABRAN | RALPH KÄMENA

  

Opening | Tuesday, 22nd of April, 2008 | 19.30
Artists' Talk | Friday, 25th of April, 2008 | 19.30


2nd Floor, Situs Kriya
Jogja National Museum
Jl. Amri Yahya no. 1, Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta
Open everyday, 22 – 29 April 2008, 10.00 till 18.00





This exhibition is organised by Cemeti Art House.
For information: +62 274  371 015 | www.cemetiarthouse.com

                                                                                                                                                                           


Arfan Sabran was born in Makassar in 1981. He has recently  completed his graduate degree in Biomedicine from Hasanuddin University in  Makassar.
Suster Apung is Arfan Sabran's first documentary film. It has  been received well in both the national and international arenas. This film  won three Eagle Awards 2006, initiated by Metro TV. Since then, Arfan Sabran  has decided to begin channeling his personal anxieties through a camera.
In  his films, Arfan focuses on social problems, particularly national issues. As  a member of his generation, Arfan understands history as a subtle, subjective, and never ending process. His choices fall to obscure cases; minor history that almost never emerges on to the surface. For instance, his work during the  residency program, LANDING SOON, in Yogyakarta, concerned the situation after  1965 in Nanggulan, Kulonprogo. Arfan made a film about the near-fatal fate of a gamelan music group in Grubug village after the attempted coup on September 30, 1965, in which stories of ideology, discrimination, friendship, betrayal, and education are unveiled. Through this film, Arfan offers notes on an  alternative version of history. At the same time, he tests the general  perspective of who is the "enemy" and who is a "friend", or accusations of  "victim" and "victimizer".

Dutch artist
Ralph Kämena (40) works with photography and video. He started his professional career in 1995 after graduating from the Academy for Visual Arts St. Joost in Breda, the Netherlands. He focuses mainly on architectural and urban matters. Very often, the city is his studio, but private rooms and other interiors also capture his attention. He portrays people or their behaviour indirectly through photographing only the places they use. Kämena regards architecture, inside and outside, through the perspective of how it facilitates the events of life. Architecture and the city become venues of experience. In photography, Kämena  employs his personal documentary style. Video is used experimentally, often  through photo animation techniques that interfere with the subjective experience of time and place. During his residency in Yogyakarta, Kämena  worked on a project on the landscape of the Indonesian bureaucracy system. He photographed people and their surroundings in a direct way. This is a continuation of his project last year on Russian computer programmers, and is  also one of the focuses in the Yogyakarta bureaucracy project. The work will  be shown in an experimental video installation.
This bureaucracy can be watched only in private.


Di tengah hiruk-pikuk wacana identitas yang muncul dalam karya-karya seni rupa kontemporer, soalan sosial menjadi titik berangkat dan pilihan perhatian kedua seniman residensi LANDING SOON periode ini, Arfan Sabran (Makassar) dan Ralph Kämena (Belanda). Melalui kamera dan dari sudut pandang seorang penjelajah, keduanya mencoba membuka telinga lebar-lebar, mendengar dan mencerap 'suara' yang kerap kali luput dari perhatian awam, kemudian menceritakannya kembali lewat film dan animasi foto yang mereka kerjakan selama masa residensinya.

Seniman Belanda, Ralph Kämena (40), berkarya dengan fotografi dan video. Ia memulai karir profesionalnya pada tahun 1995, setelah menyelesaikan studi di Akademi Seni Visual St. Joost di Breda, Belanda. Fokus utamanya adalah hal-hal yang berhubungan dengan arsitektur dan isu perkotaan. Seringkali bentang kota adalah 'studio'-nya, tetapi ia juga terpikat kepada ruang-ruang privat dan interior. Ia menampilkan orang-orang dan perilaku mereka secara tidak langsung dengan cara memotret tempat-tempat yang mereka gunakan. Kämena mengapresiasi arsitektur, interior maupun eksterior, dengan perspektif bagaimana rancang bangun itu memfasilitasi kehidupan. Arsitektur dan kota pun menjadi ranah pengalaman. Dalam fotografi, Kämena menggunakan gaya dokumenternya sendiri. Ia juga bereksperimen dengan video, kerap kali melalui teknik animasi foto yang melibatkan pengalaman subyektif orang per orang tentang ruang dan waktu. 

Selama tinggal di Yogyakarta, Kämena mengerjakan proyek tentang lanskap sistem birokrasi di Indonesia. Orang-orang dan lingkungannya dipotret secara apa adanya. Ia bekerja selayaknya seorang arkeolog sehari-hari yang mengumpulkan artefak para birokrat dan menemukan kejutan-kejutan. Kämena mendengar banyak cerita mengenai birokrasi, tetapi karyanya lepas dari pandangan umum. Pandora, demikian tajuk karyanya, adalah fantasi Kämena mengenai mereka yang berada di belakang meja; kolase dari tak terhingga detail sehari-hari yang seringkali terlewatkan, yang lebih terasa fiksional ketimbang real. Karya ini adalah karya dalam proses, diperlihatkan dalam sebuah instalasi video eksperimental dan hanya bisa dinikmati secara privat. Bersama katalog yang akan melengkapi karyanya (diterbitkan sesudah pameran berlangsung), Kämena mengajak apresiatornya untuk mengalami sensasi hyper real, sekaligus melihat sisi manusiawi pelaku-pelaku birokrasi.

Arfan Sabran, lahir di Makassar tahun 1981, adalah pembuat film yang menaruh perhatian terhadap isu-isu kebangsaan. Film dokumenter pertamanya, Suster Apung, memenangi tiga penghargaan Eagle Award 2006 yang diselenggarakan oleh Metro TV dan mendapat apresiasi yang besar, baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Seperti generasinya, Arfan memahami sejarah sebagai hal yang tak pernah berhenti, bersifat subtil, dan dengan demikian senantiasa subjektif. Pilihannya jatuh kepada kasus-kasus renik; sejarah minor yang hampir tak pernah muncul ke permukaan. Selama menjalani program residensi LANDING SOON di Yogyakarta, Arfan menyigi perihal peristiwa pasca-1965 di Nanggulan, Kulonprogo. Sahabat di Perbatasan Pagi, film yang diproduksinya selama residensi, adalah bentuk kesaksian Arfan atas kesaksian dua karib, yang oleh tragedi 1965 dipaksa untuk menegaskan pilihan masing-masing dan bersimpang jalan. Film ini memuat kisah-kisah mengenai ideologi, diskriminasi, persahabatan, pengkhianatan, dan pendidikan. Memori dan histori orang per orang akan tragedi Gestapu-Gestok telah menjadi perhatian Arfan sejak lama. Dalam pameran yang berlangsung di Jogja National Museum selama minggu terakhir April, Arfan menggenapi karya-dalam-prosesnya tersebut dengan enam testimoni 'korban' G30S: kumpulan wawancara yang dikumpulkannya dari mereka yang berdiam di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Swedia. Sahabat di Perbatasan Pagi dan seluruh instalasi video dokumenter ini adalah penawaran Arfan; catatan sejarah alternatif yang sekaligus menguji pandangan umum tentang siapa 'lawan' siapa 'kawan', atau tudingan terhadap 'korban' dan 'pelaku'.


LANDING SOON is a three  year exchange programme organised by Heden, The Hauge, the Netherlands and  Cemeti Art House, Yogyakarta, Indonesia.
This  project is supported by Heden, the Netherlands and the Culture &  Development Programme of the Royal Netherlands Embassy.  
 

Supported by:
 

                             


Rumah Seni Cemeti /  Cemeti Art House
Jl. D. I. Panjaitan No. 41 Yogyakarta 55143 Indonesia  
Telp/Fax. +62 (0)274 371015
Hp. +62 812 273 3564
Website:  www.cemetiarthouse.com
Email:
cemetiah@indosat.net.id
Buka/Open: Tuesday -  Saturday, 09.00 - 18.00




--
"Everybody lies -- every day; every hour; awake; asleep; in his dreams; in his joy; in his mourning." [Mark Twain]

http://12miranda.multiply.com __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: