18 April 2008

Kreasi Puisi Sekalian Jawaban Untuk Goenawan Mohamad

Kreasi Puisi Sekalian Jawaban Untuk Goenawan Mohamad
STM (12) Oleh: A.Kohar Ibrahim


Jangan percaya yang tak yakin
jangan mengerjakan yang tak mungkin
walau tenggorokan kering dahaga
pantang menawar haus dengan racun
(Sobron Aidit)
*
Kata orang Aceh:
Pencuri manouk lam tutupan
Pencuri intan ateuh kurusi
(Z. Afif)
*
Puisi & Esai Kreasi Nomor Tanjidor
SERING ataukah jarang diulang ucap namun arti pentingnya takkan pernah lenyap -- demikianlah kata pepatah Perancis: La parole s'envole l'écrit reste. Omongan mabur tulisan tinggal tetap. Apa dan bagaimanapun cara, bentuk maupun isinya. Begitulah pertanda sekaligus bukti pembuktiannya dengan adanya hasil upaya sederhana kami di bidang penerbitan berupa majalah-majalah seperti Kreasi, Arena dan Mimbar sekalian yang berupa brosur dan buku-buku itu. Yang keberadaannya merupakan bukti nyata yang bisa disimak-lacak oleh para peminat sejarah sastra Indonesia umumnya, sastra eksilan khususnya. Yang keduanya erat saling kaitannya sebagai suatu mata-rantai atau merupakan bagian tak terpisahkan dari lembaran sejarah yang utuh, bukan yang gombal atau tercincang dicincang arogansi dan kecurangan kekuasaan zalim serta kaum yang bermentalitas serupa.
Iya. Memang iya, saya tegas-jelaskan ulang, bahwasanya, hasil penerbitan sederhana dan terbatas kami macam majalah Kreasi itu, hanyalah sekedar pertanda saja. Tanda akan eksistensi kami. Sederet-barisan para penulis eksilan. Bahwa sekalipun dalam keadaan yang paling sulit kami terus berkreasi dan berupaya menanggapi dengan berbagai cara dan sekuat bisa serangan yang dahsyat dari mereka yang sedang berada di atas angin di bidang kebudayaan -- mereka yang turut menegakkan kekuasaan tirani atau yang berada di kantong kekuasaan sang penguasa Orde Baru.
Yang dimaksudkan berupaya dengan berbagai cara itu, misalnya, antara lain dengan cara lisan pada kesempatan silaturahmi, jumpa sastra, malam kesenian, di samping yang dengan cara tulisan. Seperti upaya penerbitan itulah. Dengan senantiasa menyedari, bahwasanya, upaya itu sangat tak sebanding dengan upaya pihak penguasa atau mereka yang berada di kantong kekuasaan dengan segala sarana dan fasilitasnya baik skala lokal maupun nasional. Dengan segala forum dan dengan segala sarana media massa yang mereka monopoli atau hegemoni.
Walau bagaimanapun juga, tak urung gema eksistensi kami dalam batas-batas tertentu bisa direkam dan terabadikan. Seperti, misalnya, ketika ada serangan-serangan yang bersifat memojokkan kami dari sosok seniman atau penulis macam Bagong, pun yang semacam Goenawan Mohamad dan yang lainnya lagi. Maka tulisan-tulisan berjudul "Bukan Kejahatan Dan Tidaklah Nista Menjadi Anggota Lekra" oleh Magusig O Bungai, dan tentang "Sastra dan Politik" oleh I. Sartika adalah sekedar contoh dalam menanggapi opini dari mereka yang beseberangan dengan kami itu. Waktu itu.
Maka dari itu, dalam rangka memberikan sajian bahan pertimbangan, kiranya ada baiknya pokok-pokok opini mereka saya sajikan kembali. Sajian yang dilengkapi secara selang-seling beberapa puisi berupa sajak-sajak para penyair yang termuat dalam majalah Kreasi nomor Tanjidor. Dengan urutan pertama: I. Sartika Menjawab Goenawan Mohamad.
*
Sajak Sajak Sobron Aidit, Asahan Aidit, Z. Afif, HR Bandaharo
Sajak Sajak Sobron Aidit:
Aku ingin cuek, masa'bodo
manusia hari ini
berlupa kemaren dan esok
ingat kemaren? Rindu kekalahan!
ingat esok? Membangun mimpi!
27-XII-87
Jangan percaya yang tak yakin
jangan mengerjakan yang tak mungkin
walau tenggorokan kering dahaga
pantang menawar haus dengan racun
27-XII-87
Aku tak suka Desember
karena bagai petir menggelegar
terkadang sepi, angin mati
hingga terdengar gesekan bulu-bulu tangan
lalu menggoncang penaka lautan garang
langit dan laut
berebut tinggi dan dalam
Aku tak suka Desember
lalu kenapa mau kau memburu selalu?
cepatlah berlalu
hingga terusir ke tahun baru
28-XII-87
00,25
Beban-beban diri sendiri
dan orang lain
dipikul di bahu dan dijinjing
berdatangan bagai terbangan peluru
terkadang aku rebah
dan berdarah
luka
tapi aku tetap liat
ke sana aku pergi
pergi mencari kemampuan
merebut dan menyergap keperkasaan
Paris, 25-XII-87
jam 11,50
Tidak lagi merokok
tidak lagi mengopi
lalu mengapa?
usia tua termangu di depan jendela
kericut keriput masuk musimdingin
rindu berkepanjangan
rindu yang tak tertahan
seperti Ronsard mengenang Helena
7 Nov 84
jam 05.00
*
PANORAMA di sebuah desa kecil di perbatasan AMSTERDAM
Oleh: Asahan Aidit
Pada pertengahan oktober
Daun daun kuning terlepas
Dari dahan-dahan yang perlahan meranggas
Dan angin dingin yang tak menentu arah
menerbangkan daun daun yang jatuh ke tanah
Seperti tukang sapu yang marah marah
Hari hari buram
Kabut kelabu menghadang jarak pandangan
Sedang dengkingan suara mesin di jalan
tak teratur menggugah merangsang
Di akhir pekan belia-belia beterbangan
meraungkan Honda dan Suzuki
Menombak telinga dan jantung
Dan desa yang setengah kota ini
Terus diperindah dan didandani
Vila-vila dan bunggalo
Terjual sebelum berdiri
Keteraturan letak-letak tersusun rapi
Danau-danau galian, rumput-rumput hijau, pepohonan dan belukar
Memajangi rumah-rumah yang seperti taman mini
Ia dilalui sebuah jalan lurus panjang
Kadang-kadang dikerat oleh jembatan yang menyilang
Dan terus diaspali ditebali digaris garisi
Keras dan lekat terbaring di tanah, bergerogi tapi rata
Di sini roda-roda mobil tak lagi kelihatan berputar
Tapi seperti meluncur di atas mentega
Tanah-tanah pertanian yang mengepung desa
Tampak seperti gasing
Bulat dan di tengah-tengahnya rumah penduduk
Di musim semi ada tiga samudra
Bunga, gandung dan bit gula
Di musim menjelang menanam
Berubah menjadi jamban raksasa
Dua jenis najis disatukan: hewan dan manusia
Dan udaranya mengambang hingga langit ketujuh
Di saat begini keindahan terpaksa mengundurkan diri
Menyediakan tempat bagi petani
Menimbuni pasar dengan produksi melimpah
Pabrik-pabrik dan industri juga turut campur
mengepung desa, mengasapinya meributinya
Kantor dan bank, disko dan supermarket
Terang-terangan bereskalasi
Seperti juga belasan kanal TV luar negeri
Dan apa yang tak ada di sini ...
Kecuali lowongan kerja yang tak kudapat
Bertahun-tahun ini.
*
Dunia Yang lain
Oleh: Z. Afif
Di Yogya menanjak yang koit
karena anjing gila
Di Jakarta lipat ganda si kaya
yang gila anjing
Di Sumba 35 kilometer Amaq Fadli jalan kaki
menjaga periuk belanga bagi sesuap nasi
Di Jakarta pejabat, jenderal
wira-wiri numpak pesawat terbang
ke Singapura, Hongkong, Tokyo
pangkas, minum eskrim, beli dasi, sembur mani
Di Flores, sang bocah Fani mati
begitu sulit cari klinik
Di ibukota pejabat negara bolak-balik
Amerika, London, Tokyo, Amsterdam
periksa mata
biar gamblang pelototi kelangkang paha pramuria
Kata orang Aceh:
Pencuri manouk lam tutupan
Pencuri intan ateuh kurusi. *)
1978.
*) Pribahasa Aceh, artinya: Pencuri ayam dijebloskan ke dalam penjara, sedangkan pencuri intan menjadi penguasa.
*
Dosa Apa
Oleh: HR Bandaharo
kelam menyungkup malam
laksana langit terhembus ke bumi.
bintang-bintang pudar bertaburan
besi dan besi berlaga, memercikkan api.
kelam menyusupi kalbu.
setiap orang meraba tanpa pedoman
berkeliaran tanpa tuju
dalam suatu arak-arakan
buta mata -- tuli telinga.
putra-putri agustus terseret ke belakang kawat-duri
membawa hati penuh tanya
tentang dosa apa dan dosa siapa.
lalu menyerahlah siapa yang menyerah
karena rela menerima sendiri
dosa tak pernah diperbuat --
tercoret kening, tertampar pipi.
(DOSA APA, Inkultra, Jakarta, 1981)
*
Sartika Menjawab Goenawan Mohamad :
Tentang Sastra Dan Politik
ADA aksi pasti timbul reaksi -- dalam ragam macam bentuk dan isinya. Meskipun reaksi itu dimanifestasikan atau dieksprikan dengan menggunakan sarana yang tak setara, sangat timpang. Begitulah salah satu buktinya esai I. Sartika yang merupakan jawaban atas tulisan Goenawan Mohamad dalam "Peristiwa 'Manikebu' : Kesusastraan Indonesia dan Politik di tahun 1960-an". (TEMPO bulan Mei 1988). Dengan catatan, untuk mengingatkan, bahwa tulisan tersebut membahas persoalan yang terjadi sebelum meletusnya peristiwa "G30S", dalam masa yang bisa dikategorikan masih pluralistis. Namun, konflik antara grup Manikebu dengan Lekra serta sekutu-sekutunya telah diikuti dengan tindakan administratif (pelarangan Manikebu), setelah terjadi dialog (polemik-polemik) untuk waktu yang singkat. Tindakan administratif yang sama terhadap Lekra, termasuk teror dan masaker oleh rezim militer Suharto, tidak memungkinkan berlanjutnya dialog yang tuntas sekitar soal Manikebu. Sekarang praktis hanya monolog yang ada. Tulisan kami ini tidak bisa dimuat dalam media penerbitan yang sebanding dengan tulisan Goenawan dan karena itu tidak akan mencapai pembaca seluas pembaca Goenawan. Disporporsi ini membuat tulisan ini tidak sepenuhnya bersifat jawaban terhadap tulisan Goenawan, melainkan sekedar refresing bagi pembaca yang jauh lebih terbatas mengenai soal-soal Manikebu yang mungkin mengabur dari ingatan. (Kreasi n° Tanjidor hlm 4 & 14)
I. Sartika merasa perlu memberikan jawaban, lantaran menurut hematnya tulisan GM itu "termasuk penulisan sejarah (sejarah sastra) sambil menampilkan data-data dan dasar pandangan yang ia yakini." Jawaban yang sebenarnya hanya sekedar refresing itu memang sudah menjadi perhatian kami ketika GM mengumumkan tulisannya di Tempo. Terutama sekali poin-poin yang berkenaan dengan hubungan sastra dan politik, humanisme universil, Manikebu sebagai manifestasi aksi politik bekingan militer dan kezaliman mereka.
Menurut I Sartika: "Usaha-usaha untuk memisahkan seni dari politik sudah terjadi sejak timbulnya kesadaran pada seniman dan sastrawan, bahwa seni dan sastra bisa menjadi senjata yang ampuh untuk melawan penjajahan. Di Indonesia berbagai tindakan dilakukan oleh kolonialisme Belanda untuk mematahkan perlawanan lewat seni dan sastra ini. Dengan sensor Balai Pustaka saja dianggap tidak mencukupi, karena itu lewat pengajaran di sekolah atau lewat mengenalan literatur Barat dimasukkan faham l'art pour l'art (seni untuk seni) ke alam sastra Indonesia." (hlm 4)
"Lewat anak-anak didiknya kolonialisme Belanda berusaha mematahkan atau mengimbangi sastra perlawanan ini dengan "sastra menara gading". Tradisi itu dilanjutkan terus oleh kekuatan kolonialis untuk menggagalkan Revolusi Agustus'45. Kali ini penerbitan Gema Suasana dijadikan kubu untuk mengibarkan bendera "humanisme universil". H.B. Jassin pada mulanya dengan galak menyerang "jiwa humanisme universil" itu, katanya: "... yang tidak bisa dimaafkan ialah karena Belanda dengan memarakkan jiwa humanis ini, justru untuk membantu siasatnya menaklukkan kembali Indonesia, yang ternyata untuk kedua kalinya dengan aksi militernya yang kedua pada akhir tahun 1948 itu juga."
"Lucunya, Jassin itu pula yang mendukung gerakan 'humanisme universil' pada tahun 1950 ketika munculnya Surat Kepercayaan Gelanggang oleh Chairil Anwar dkk. Alasan yang diberikannya ialah: 'saya bukan tidak setuju dengan perikemanusiaan ... yang dinafaskan Gema Suasana, tapi datangnya mendahului zaman...' dan kemudian, '... sesudah penyerahan kedaulatan, tatkala kita tidak lagi berhadapan dengan Belanda dan dunia sungguh-sungguh terbuka luas buat kita', maka dia pun aktif mendukung ide gerakan 'humanisme universil'. Baginya penyerahan kedaulatan yang formil itu menjadi patokan yang otomatis menghilangkan sengketa dan perlawanan kolonialisme. Padahal dia tahu benar, bahwa seiring dengan 'humanisme universil Gelanggang' bergerak pula badan kebudayaan Sticusa yang menyokong Gelanggang baik moral maupun material." (hlm 5)
I. Sartika memberikan penegas-jelasan, bahwa: "LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1950 menolak usaha-usaha untuk memisahkan seni dari politik. Mukadimah LEKRA dengan tegas menyatakan: 'Hanya jika panggilan-sejarah Revolusi Agustus terlaksana, jika tercipta kemerdekaan dan perdamaian serta demokrasi, kebudayaan Rakyat bisa berkembang bebas. Keyakinan tentang kebenaran ini membuat Lekra ikut serta aktif dalam pergulatan untuk kemerdekaan tanah-air dan untuk perdamaian di antara bangsa-bangsa, dimana terdapat kebebasan bagi perkembangan kepribadian berjuta-juta Rakyat'. Panggilan-sejarah Revolusi Agustus itu, yang merupakan tugas-tugas politik Rakyat Indonesia, termasuk seniman-seniman dan pekerja kebudayaannya dirumuskan oleh LEKRA sebagai berikut: 'Revolusi Agustus adalah usaha pembebasan diri Rakyat Indonesia dari penjajahan dan peperangan, penindasan dan penghisapan feodal.' Berbeda dengan Jassin yang menganggap revolusi sudah selesai dan mendukung 'humanisme universil' sebagai mercu suar, LEKRA menganggap bahwa Revolusi Agustus masih terus berjalan dan perlu dikobarkan terus semangat revolusioner ini selama tugas-tugas itu belum rampung." (hlm 5-6)
Dalam poin ini, I. Sarika lebih lanjut menunjukkan, bahwa: "Pada hakekatnya tak ada seni yang bebas politik atau ideologi. Manusia itu adalah mahluk politik, kata beberapa ahli pikir. Menurut Keith Foulcher: '... kegiatan sastra dan kritik sastra dalam hubungan sejarah/masyarakat tertentu adalah suatu pernyataan ideologi'. Ia menyatakan juga, bahwa: 'Apa yang ditampilkan sebagai perbedaan antara seni dan ideologi pada kenyataannya merupakan suatu pilihan antara-antara ideologi-ideologi yang saling bersaing dan dampaknya dalam kegiatan sosial dan budaya'. Dalam nada yang hampir serupa Ajip Rosidi mengemukakan: 'Juga adanya perbedaan-perbedaan pandangan seni dan sastra yang berpangkal pada perbedaan-perbedaan pendirian politik, sudah sejak lama kelihatan dalam sastra Indonesia'. (Sedangkan) seorang sastrawan muda, Ariel Heryanto, yang menolak ke-universil-an sastra dengan dukungannya pada 'sastra kontekstual' menyatakan: 'Dalam pemahaman saya, 'sastra' tidak pernah terlepas dari 'politik' atau tidak pernah terlepas dari kepentingan-kepentingan 'politik' fihak-fihak tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Hubungan antara 'sastra' dan 'politik' bukan sebagai dua hal mandiri yang mempunyai persinggungan-persinggungan di tepi wilayah masing-masing.' Kemudian ia merumuskan: 'Istilah politik yang dipakai di sini meliputi pengertian umum yang lebih luas, yang secara sederhana mungkin dapat disebutkan sebagai aneka siasat dan tingkah memperebutkan atau mempertahankan kekuatan sosial'. " (hlm 7)
"Tidak berpolitik pun sudah merupakan suatu sikap politik," tegas I. Sartika, lagi pula : "Sebenarnya kita bisa membiarkan faham 'seni untuk seni' dan 'humanisme universil' ini sebagai suatu alternatif bagi seniman-seniman yang genit seni. Tapi kita melihat bahaya, bahwa di belakang faham-faham ini ada kekuatan-kekuatan sosial yang memperalat faham-faham ini untuk tujuan politiknya. Faham-faham ini hanya sebagai kedok, dan di balik kedok itu bercokol kekuasaan penjajah masa lampau ataupun masa kini. Bukti yang paling menyolok tentang penggunaan 'humanisme universil' sebagai kedok untuk memupur atau tameng untuk membela kekuasaan penjajah adalah munculnya Manifes Kebudayaan (disingkat: Manikebu). Situasi ketika itu adalah bahwa kekuatan neokolonialis yang dikepalai oleh imperialisme Amerika dan kaum reaksioner dalam negeri yang anti-revolusi merasa terdesak dan kepepet oleh aksi-aksi revolusioner yang digerakkan oleh kaum buruh dan tani serta massa revolusioner lainnya. Manifesto Politik (disingkat: Manipol) yang diprakarsai oleh Presiden Sukarno dan yang menjadi garis umum politik ketika itu nerhasil menggelorakan semangat dan meningkatkan situasi revolusioner ke derajat yang benar-benar meresahkan posisi imperialisme Amerika. Kaum imperialis takut bahwa 'teori domino' nya menjadi kenyataan. Menurut mereka yang perlu dibasmi adalah teras dari kekuatan revoluisoner ini, yakni Partai Komunis Indonesia. Bersama-sama dengan kekuatan ABRI yang dikepalai oleh "Dewan Jnederal", mereka laksanakan secara sistimatis rencana "Red-drive" serentak dengan penggulingan kekuasaan Presiden Sukarno." (hlm 8)
I. Sartika seterusnya mengungkap latarbelakang, apa dan siapa serta untuk apa kelahiran Manikebu itu. Bahwasanya, tulis Sartika, "Pelaksanaan garis revolusioner dibidang kegiatan politik dan ekonomi bisa dijegal oleh kekuatan ABRI yang kontra-revoluioner dan anti-komunis bersama-sama dengan kekuatan kapitalis-asing dan tuan-tanah. Lalu siapa yang akan menantang garis revolusioner di bidang ideologi dan kebudayaan? Di sinilah tampilnya Manikebu dan situasi inilah yang menjadi latar-belakang lahirnya Manifes itu. Bukan kebetulan, bahwa yang merumus naskah Manikebu ini adalah Wiratmo Sukito, anggota Dinas Rahasia Angkatan Bersenjata."
"Foulcher sepenuhnya benar ketika menyatakan: 'Manifes itu adalah suatu pameran kekuatan' oleh 'suatu kelompok yang mewakili kebudayaan anti-komunis' dengan 'dukungan terselubung dari Tentara'. " Meskipun demikian: "Goenawan Mohamad mencoba mengelakkan tuduhan itu dengan mengatakan, bahwa 'Foulcher agaknya tidak mencoba meneliti faktanya lebih jauh.' Kemudian ia (GM) membeberkan riwayat lahirnya Manikebu. Dalam pembeberan itu ia mengakui adanya kasak-kusuk orang 'dari SOKSI sebuah organisasi yang didirikan dengan dukungan tentara', pada awal pembentukan Manikebu. Tak tahu apakah dari situ datang ide menelorkan Manifes itu, yang kemudian ditampung oleh Wiratmo Sukito. Dari Ajip Rosidi kita mendapat penjelasan siapa orang-orang yang bersembunyi di belakang Manikebu itu, katanya: "Orang-orang anti-komunis dan menentang Lekra di setiap daerah .... sekarang muncul ke perlukaan air'. " (hlm 8)
"Bahwa naskah Manikebu itu 'memang bukan sebuah naskah yang punya nilai tinggi dalam soal kegamblangan'-nya bukanlah suatu hal yang kebetulan pula," tulis Sartika, hlm 9. "Maksud-maksud yang tersirat di dalam naskah itu disuratkan dengan sangat tersamar, sehingga banyak sastrawan-sastrawan yang jujur mencari alternatif lain dalam udara kesusastraan yang mereka rasakan panas menyesak, menjadi terjebak dalam perangkap Manikebu. Belakangan, dalam masa Orba, sebagian dari sastrawan-sastrawan itu berbalik mengkritik Manikebu."
"Goenawan mengakui sekarang, bahwa Manifes itu adalah Menifes 'konyol', katanya: 'Apa yang terumuskan di sana -- dengan segala keterbatasan dan kekonyolannya -- bagaimanapun merupakan serangkaian pokok pikiran, suatu pendefinisian sikap dasar beberapa sastrawan dan intelektual Indonesia dalam menghadapi masalah yang akut waktu itu: hubungan kreativitas dan politik'. "
"Benarkah 'hubungan kreativitas dan politik' akut ketika itu? Memang benar. Yakni 'hubungan kreativitas dan politik' yang kontra-revolusi. Arief Budiman, seorang sosiolog dan sekarang menjadi pendiri gagasan 'sastra kontekstual' perrnah merumuskan, bahwa 'kreativitas adalah kesanggupan untuk mencipta dari apa yang ada, menjawab tantangan kenyataan, bukan melarikan diri dari kenyataan.' "
"LEKRA dengan tepat menjawab tantangan ketika itu, membawa seni untuk ikut aktif dalam perjuangan politik untuk mewujudkan cita-cita Revolusi Agustus'45. Karya-karya LEKRA mendapat sambutan hangat dan bersatu dengan aksi-aksi massa buruh dan tani, mulai dari kota sampai ke desa-desa. Ke-akut-an itu tidak ada di pihak LEKRA dan seniman revolusioner lainnya."
"Kenyataan membantah tuduhan Goenawan yang mengatakan, bahwa 'kesusastraan revolusioner' Indonesia tidak 'memberi kesan benar-benar padu dengan suatu elan revolusioner yang merombak banyak hal di sekitarnya'. Jika tuduhan itu benar, mengapa sampai kumpulan sajak A. Wispi 'Matinya Seorang Petani' ditakuti dan dilarang beredar oleh ABRI yang waktu itu merupakan pelaksana pemerintah dalam keadaan perang? Mengapa sampai begitu banyak drama sastrawan-sastrawan LEKRA yang dilarang atau dipersulit izin pementasannya oleh DPKN setempat? Malah sampai sekarang lebih dari 70 jenis buku sastrawan LEKRA yang dilarang beredar; belum terhitung naskah-naskah Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru yang digelapkan oleh pemerintah Orba." (hlm 9-10)
"Goenawan menganggap keliru, bahwa 'humanisme universil' digambarkan sebagai tema utama dalam Manikebu, walaupun ia sendiri enggan menyebutkan apa tema utama Manifes itu. Kita sudah sejak lahirnya Manikebu menunjukkan bahwa dalam perumusan yang sangat terselubung dimanifestasikan kehendak untuk mengaburkan kontradiksi pokok dan sasaran perjuangan politik ketika itu. Manikebu seakan-akan 'revolusioner' ketika mengoceh: 'Kami tetap menarik garis pemisah secara tegas antara musuh-musuh dan sekutu-sekutu Revolusi...' Tapi segera dibawah alinea tersebut ditegaskan, bahwa 'Musuh kami bukanlah manusia, karena kami adalah anak manusia. Musuh kami adalah unsur-unsur yang membelenggu manusia, dan karenanya kami ingin membebaskan manusia dari rantai-rantai belenggunya.' "
Suatu argumentasi yang ditangkas-kelupas oleh Sartika: "Kita memang ingin bertanya, dalam bentuk apakah musuh-musuh dan sekutu-sekutu revolusi itu? Dalam bentuk manusiakah atau hanya dalam bentuk 'rantai-rantai yang membelenggunya'? Apakah kolonialisme dan imperialisme itu fenomena psychis? Atau Revolusi Agustus itu hanya revolusi kejiwaan? Bukankah Revolusi Agustus itu adalah revolusi perombakan suatu sistim, yakni sistim kolonialisme dan sisa-sisa feodalisme, dan melawan manusia-manusia yang mau mempertahankan sistim itu. Jika tidak demikian, tidak akan terjadi pertempuran mati-matian antara pejuang-pejuang kita dengan tentara KNIL dan pasukan-pasuikan Sekutu yang membantunya."
Lanjut Sartika: "Yang paling jahat lagi adalah ketika kalimat itu diteruskan: ' Dalam perlawanan kami terhadap musuh-musuh kami itu, kami tetap berpegang teguh pada pendirian bahwa sejahat-jahatnya manusia, ia masih tetap memancarkan sinar cahaya Ilahi, sehingga konsekwensi kami harus menyelamatkan sinar cahaya Ilahi tersebut.' Astaga! Jangan dianggap ini hanya sekedar 'retorika yang agak melambung'. Tapi inilah justru maksud sesungguhnya dari Manikebu itu. Mencoba memupur-hiasi musuh-musuh revolusi dengan 'sinar Ilahi'. Padahal waktu itu rakyat Indonesia sedang sengit-sengitnya melakukan aksi-aksi massa untuk mengganyang imperialisme AS yang menggunakan pembentukan federasi Malaysia dalam rangka rencana mengepung Indonesia. Pemerintah Indonesia membalasnya dengan membantu perjuangan pembebasan rakyat Kalimantan Timur untuk mendobrak rantai pengepungan ini. Cukup banyak pejuang-pejuang revolusioner kita yang gugur ketika itu. Di saat yang seperti itulah Manikebu mengibarkan bendera 'humanisme universil' dengan 'sinar cahaya Ilahi'-nya." (hlm 10-11)
"Ketika ditanyakan, bagaimana dengan Westerling, misalnya, yang telah membunuh sejumlah besar orang Indonesia? Apakah dia masih memancarkan 'sinar Ilahi'? Goenawan menghadapi dilema, untuk menjawab pertanyaan ini dan dengan payah menjelaskan: 'Harus saya akui, bahwa pertanyaan itu tak mudah dijawab, saya kira lubuk penjelasannya punya kaitan dengan jenis 'iman' ....'. Memang sukar menjawabnya! Menurut pendapat kita, bukan karena sejenis 'iman', tapi sejenis 'politik' yang terselubung di dalam manifes itu, yaitu politik kontra-revolusi. Menjawab ini secara jujur, berarti membuka tabir watak kontra-revolusi dari manifes tersebut. Kita mendapat kesan bahwa Goenawan tidak sampai-hati membikin perhitungan tuntas dan langsung terhadap Manikebu, tapi secara tidak langsung ia mengatakan: 'Para penulis yang terlibat di dalamnya dengan segera dinyatakan sebagai 'kontrarevolusi' -- sebuah cap kejahatan di masa itu.' Sebuah cap kejahatan di masa itu ? Apakah ini bisa kita artikan sebagai sepatah kata sindiran dari Goenawan, bahwa di masa ini, di masa Orba rezim militer Suharto, kontra-revolusi bukan lagi sebagai suatu kejahatan?" (hlm 12)
Setelah menunjukkan perlunya menarik garis pemisah secara tegas antara musuh-musuh dan sekutu-sekutu Revolusi; memihak atau melawan revolusi, yang merupakan masalah hidup-mati dalam perjuangan rakyat-rakyat anti-penjajah melawan penjajah, Sartika menunjukkan bagimana kaum Manikebuis yang katanya "anti-politik" tapi justeru penggemar politik dalam aktivitas-kreativitasnya. Tulis Sartika lebih lanjut:
"Apa yang kita kemukakan di atas menjadi jelas setelah terjadinya kup rezim fasis militer Suharto, yang dimulai sejak meletusnya G-30S. Sajak-sajak tahun 1966, ketika pemerintah Sukarno berhasil mereka preteli, adalah sajak-sajak yang penuh berselemak nafsu politik untuk mengugurkan secara menyeluruh kekuasaan Sukarno yang dianggap mereka sebagai 'tiran'. Sajak-sajak Tirani oleh Taufik Ismail, Perlawanan oleh Mansur Samin, Mereka yang telah bangkit oleh Bur Rasuanto, Pembebasan oleh A.W. Situmeang dan Ribèli kumpulan sajak Aldian Arpin cs. adalah sajak-sajak protes yang merupakan prolog dari sebuah praktek politik yang kejam. Dengan restu orang-orang yang menepuk dada sebagai pembela 'humanisme universil' ini, seniman dan sastrawan LEKRA bersama orang-orang revolusioner lainnya dibunuhi, diteror, disiksa, dipenjarakan, dikejar-kejar atau dibuang ke Pulau Buru. Sampai sekarang, sesudah hampir seperempat abad berlalu, kartu penduduk mereka masih dicap ET (Ex-Tapol), tidak dibenarkan bekerja di kantor-kantor pemerintahan, diuntit setiap langkah mereka, tidak diberi kebebasan bepergian ke luar negeri. Sampai sekarang masih dilakukan insinuasi dan ancaman terhadap sanak-keluarga yang ternyata mengadakan hubungan dengan orang-orang yang tertuduh 'Gestapu', walaupun tuduhan itu tidak pernah dibuktikan di pengadilan. Mereka yang dalam Manikebu nya menyatakan 'Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami' tidak berani buka mulut besar terhadap hal-hal yang tidak berperi-kemanusiaan, dan yang melanggar hak-hak asasi manusia ini. Tapi ketika dulu 'diganyang' karena sikap kontra-revolusisoner mereka, dimana tidak ada satu bulu mereka pun yang rusak, cuma bulu kuduk mereka saja yang merinding, mereka sudah kalang kabut seperti cina karam. Mereka buru-buru mengetok kawat meminta maaf kepada Presiden Sukarno, yang oleh Goenawan dinyatakan 'merupakan tindakan yang menistakan diri'. Dalam kawat itu mereka berjanji 'Kami tetap setia dibawah pimpinan dan bimbingan Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno '. Dalam penilaiannya terhadap Sukarno, Ajip Rosidi menyatakan: '.... fihak PKI memberi angin kepada Sukarno untuk menjadi tirani.' Mana yang betul nih: Minta maaf dan tetap setia kepada pemimpin besar revolusi atau kepada tiran? Mereka sendiri tak tahu lagi apa yang mau mereka ucapkan." (hlm 13-14)
"Mereka menceritakan, bahwa mereka dulu diteror secara mental, direpresi, dihantam dan dimusnahkan secara politik," tulis Sartika pada akhirnya. Ah! "Maukah kita membuat balans secara terperinci tentang yang mereka alami dengan apa yang dialami LEKRA dan seniman-seniman revolusioner setelah G-30S? Kami pikir tak usah. Goenawan sudah mengemukakannya dengan gaya yang ringan: 'Kini memang harus diakui, bahwa pengganyangan seperti itu belum sebanding dengan yang ditanggungkan para penulis dan cendekiawan prokomunis setelah hancurnya PKI secara keras dan berdarah beberapa waktu setelah 1965.' Malah barangkali dengan 'kenikmatan tertentu' ia menutup uraiannya: 'dalam bentuk yang lebih keras, kini antara lain giliran para seniman Lekra yang menjadi sasaran '." (hlm 14)
Begitulah opini seorang macam GM -- salah seorang penanda-tangan Manikebu, seorang budayawan yang juga publisis kondang. Sebegitu saja adanya. Akan halnya tanggapan dari I. Sartika yang sedemikian itu cukuplah mengena pula -- malah bisa sebagai penambah atau pelengkap bahan pertimbangan yang diperlukan oleh pembaca yang berkenan dan perhatian akan sejarah sastra Indonesia. (AKI). ***
(Bersambung, selanjutnya: Kreasi Puisi Sekalian Jawaban Magusig O Bungai Untuk Bagong Kussudiardjo)

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: