21 April 2008

[ac-i] jurnal sairara: hari itu kami berjumpa lagi [3]

JURNAL SAIRARA:
 
 
 
HARI ITU KAMI BERJUMPA KEMBALI
 
-Kisah-kisah kecil berjumpa dengan Goenawan Mohamad dan Laksmi Pamuntjak di Koperasi Restoran Indonesia Paris, 10 April 2008.
 
 
3.
 
Ketika berbicara tentang sejarah dan Tragedi September '65, peristiwa  yang berdampak besar sampai sekarang pada kehidupan berbangsa dan bernegeri , Mas Goen menyinggung tentang kunjungannya kembali ke Pulau Buru. Hal yang juga diketengahkannya di depan publik  pada acara  Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam".
 
 
Kalau ingatanku benar,  ketika Pulau Buru menjadi pulau buangan orang-orang PKI, yang dituduh PKI, yang dituding terlibat dalam Peristiwa G30S, dan orang-orang Lekra, Mas Goen pernah berkunjung ke pulau ini. Dengan mata kepala sendiri ia melihat keadaan pulau dan orang-orang yang dibuang tanpa melalui proses pengadilan. Bahkan anak usia belasan tahun pun turut dibuang dan kemudian meninggal di sana.
 
 
Selang puluhan tahun kemudian, Mas Goen kembali ke pulau pembuangan  tersebut. Dalam pertemuan khusus dengan anggota-anggota Koperasi Restoran Indonesia Paris dan yang dekat dengan Koperasi,  Mas Goen menuturkan secara singkat kesan kunjungannya ke Buru sekaligus mengucapkan hormat dan semacam kekaguman pada para tapol Buru. "Merekalah yang membangun Buru dengan tangan hampa. Merekalah yang mengobah Buru dari tanah gersang menjadi ladang-ladang subur". Mendengar kesan jujur terbuka begini, aku jadi teringat akan ucapan Pramoedya A. Toer bahwa kalau berbicara tentang politik berdikari, maka Buru adalah contohnya.  Kecuali itu, setelah mendengar ucapan hormat dan kekaguman Mas Goen akan para tapol Buru ini, dalam renunganku selanjutnya, aku melihat keperkasaan manusia dan bahwa manusia sadar, yang kunamakan manusia pencinta  itu, tidak gampang-gampang dibinasakan dan dikalahkan. Manusia tak gampang dikalahkan. Apalagi pemikiran mereka. Pulau Buru dalam pandangan Mas Goen merupakan sebuah monumen penting sejarah bangsa dan negeri kita.  Secara spesifik, ia menyarankan agar gedung kesenian yang digunakan oleh para tapol Buru untuk menggelarkan acara-acara kesenian diselamatkan dari kehancuran. Mas Goen mengkhawatirkan bahwa gedung kesenian yang juga merupakan monumen penting sejarah, jika tidak segera diselamatkan maka ia akan binasa. Semua yang hadir di dalam acara pembicaraan santai malam musim bunga di Koperasi bulat sepakat dengan ide GM ini. Lalu mengusulkan bagaimana jika pandangan ini dilontarkan ke publik oleh GM lebih dahulu. "Bung Goen lebih mempunyai syarat untuk menggaungkannya dari kami", ujar Umar Said, mantan pemred Harian Ekonomi Nasional, Jakarta pada masa Presiden Soekarno dan merupakan salah seorang pendiri Koperasi Restoran kami. "Kami tidak memiliki sarana media", ujar teman lain.
 
 
Aku tidak tahu, apakah ide ini muncul di pemikiran GM terilham oleh yang dia saksikan di jalan-jalan Paris ataukah muncul setelah kembali dari kunjungan keduanya di Pulau Buru.  Sebab   dalam perbincangan santai antar teman malam itu, Mas Goen sangat terkesan oleh adanya plakat-plakat di rumah-rumah di jalan-jalan Paris atau tembok-tembok kita di mana diterakan nama-nama orang yang gugur bertempur melawan pendudukan fasis Jerman, diabadikan nama para penulis, pelukis, arsitek,  yang pernah tinggal di gedung atau bahkan tersebut.  
 
 
Dari pernyataan-pernyataan di atas, aku melihat bahwa pada GM, terdapat suatu kesadaran sejarah yang kuat , seakan-akan mau mengatakan secara tak langsung atau paling tidak memperlihatkan bahwa sastrawan-seniman ada keniscayaan mempunyai lingkup pandang yang luas demi mengangkat taraf kesastrawanan seseorang yang memilih sastra-seni sebagai bidang kecimpungnya, hingga mungkin menawarkan sumbangan-sumbangan kepada pembangunan masyarakat manusiawi.
 
 
Sebenarnya, kehidupan kesenian di kalangan para buangan politik dalam sejarah Indonesia bukanlah sesuatu yang hanya terdapat di Pulau Buru. Jauh sebelum dijadikannya Buru sebagai pulau buangan, di kalangan para tapol kolonialisme Belanda di Digul, Papua, berlangsung juga suatu kehidupan kesenian. Hal ini gending yang dibuat oleh para tapol Digul. Dan memang sayangnya, gending saksi sejarah ini tidak diindahkan oleh pemerintah negeri kita. Kabarnya gending itu sekarang terdapat di Australia. 
 
 
Sementara itu di kalangan kaum eksil Indonesia yang pada suatu ketika berada di sebuah pedesaan Republik Rakyat Tiongkok, kehidupan sastra-seni ini lebih marak lagi. Tari, nyanyi , pementasaan teater, penterjemahan karya-karya teori dilakukan. Teman-teman dari etnik Jawa dengan kerinduan mendengar suara gending kampungnya, berhasil menciptakan instrumen musik tersebut dari potongan-potongan besi yang dikumpulkan dari sana-seni. Sayangnya, semua ini tidak terawat dan hilang begitu saja. Di hadapan hilangnya dokumen-dokumen dan monumen-monumen dalam berbagai bentuk ini, menjadikan usul Mas GM menjadi penting. Apakah usul Mas GM ini, bukannya,  selain memperlihatkan tingkat kesadaran sejarah kita yang belum bisa  dikategorikan sebagai kuat,  tapi juga merupakan teguran terhadap sikap kita pada dokumen, arsip  dan monumen. Adalah sangat  tipikal ucapan seorang tetangga Indonesiaku waktu aku bekerja di Indonesia: "Apakah dengan belajar di jurusan sejarah, kelak  kau akan bisa dihidupkannya?".
 
 
Paris, April 2008
----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
 
 
Keterangan foto:
Goenawan Mohamad  dan Laksmi Pamuntjak dalam acara  Koperasi Restoran Indonesia di Paris, 10 April 2008. [Dok. JJK].
 
 
[Bersambung....]


Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

0 komentar: