24 April 2008

[ac-i] jurnal sairara: hari itu kami berjumpa kembali [5]

JURNAL SAIRARA:
 
 
 
HARI ITU KAMI BERJUMPA KEMBALI
 
-Kisah-kisah kecil berjumpa dengan Goenawan Mohamad dan Laksmi Pamuntjak di Koperasi Restoran Indonesia Paris, 10 April 2008.
 
 
 
5.
 
 
Dalam pertemuan santai antar teman di Koperasi, soal apa saja diketengahkan dan dibicarakan secara terus-terang.
 
 
Karena anggota-anggota Koperasi , umumnya menjadi anggota berbagai milis, maka mereka pun mengikuti serangan-serangan terhadap GM pribadi dan Komunitas Utan Kayu [KUK].Maka pertanyaan-pertanyaan mengenai hal ini  pun tak terelakkan diajukan. Apalagi sudah menjadi kebiasaan di kalangan anggota Koperasi kalau berbicara dengan sesama dan orang-orang yang dianggap dekat, selalu berbicara langsung  ke masalah tanpa berputar-putar, hal yang mungkin bagi orang lain terasa amat tajam.  Sedangkan bagi mereka, ketajaman dan bicara langsung, tidak pernah meretakkan hubungan. Bertanya dan mengajukan pendapat adalah hak yang dipahami oleh masing-masing  dan dihadapi dengan sikap bahwa  "yang berbicara tak berdosa, yang mendengar patut waspada".
 
 
Dari pembicaraan santai malam itu, terkesan padaku bahwa Mas Goen sendiri agaknya  kurang menangkap dasar nalar alasan  serangan terhadap KUK dan  atas dirinya.
 
 
Menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai soal ini, GM yang kata-katanya selalu terukur sebagai laiknya seorang penyair, hanya mengatakan bahwa di  KUK dan KUK itu bukan hanya GM. Ia pun sebuah komunitas yang sangat longgar. Terbuka. Seterbuka diskusi-diskusi yang diselenggarakan oleh KUK. Ucapan seseorang yang tergabung di KUK, tidaklah serta-merta menjadi pendapat dan sikap KUK.
 
 
Ketika merenungkan kata-kata GM ini, aku juga teringat akan pengalaman kecilku selama di Lekra dulu .
 
 
Siapakah yang bisa melarang seseorang mengutarakan pendapat? Di Lekra dan terutama di lembaga-lembaga kejuruan serta sanggar-sanggarnya, semua orang leluasa berbicara. Sanggar dan lembaga-lembaga kejuruan merupakan tempat diskusi yang seru dan terus-menerus. Aku sendiri , jika ada yang kurasakan sudah tak tertahan dan menyangkut hal-hal  yang kuanggap punya nilai umum, maka ia kutulis dan kusiarkan di media massa. Kasus Pram dalam hubungannya dengan pimpinan pusat Lekra di Cidurian 19 Jakarta dulu, yqang tidak selalu akur,  barangkali merupakan contoh yang cukup representatif. Sehingga adalah keliru jika ada yang memandang Lekra sebagai satu ketunggalan sikap dan pendapat. Yang monolit. Kalau pun ada ketunggalan pada Lekra, maka ia terdapat pada pandangan sikap bahwa sastra-seni itu bersifat memihak. Mempunyai sikap [engagé]. Berpihak kepada kemanusiaan.
 
 
Sehubungan dengan ini, aku teringat akan salah paham orang-orang luar tentang pendapat-pendapat Pramoedya.  Karena tidak sedikit yang menganggap pendapat Pram sebagai serta-merta pendapat Lekra di mana ia tegabung dan menjadi salah seorang anggota Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra. Lekra membiarkan para anggota-anggotanya untuk mengeluarkan  pendapat, termasuk kepada Pram. Sekali pun ada kebebasan begini, tapi umumnya di kalangan anggota Lekra ada satu hal yang sama, yaitu menjadikan sastra-seni sebagai salah satu sarana memanusiawikan manusia yang pada saat itu disebut sastra-seni untuk rakyat . Sastra-seni berpihak [engagé] inilah yang satu pada orang-orang Lekra, walaupun terhadap garis "sastra-seni untuk buruh, tani dan prajurit" tetap saja ada perbedaan pendapat.
 
 
Aku tidak tahu  apakah  pengalaman Lekra di atas bisa diterapkan   guna memahami ucapan GM di atas tentang KUK.
  
 
Sedangkan mengenai  serangan terhadap KUK dan GM pribadi, aku sendiri sering berpikir, apa tidak lebih baik jika jika komunitas-komunitas yang ada di Indonesia sekarang ini,  bersaing secara sehat sesuai pandangan "biar bunga mekar bersama, seribu aliran bersaing suara"? Apakah kerjasama bukannya lebih menguntungkan daripada saling baku hantam, apalagi seandainya baku hantan itu tidak menyangkut masalah-masalah hakiki atau mendasar. Kerjasama akan jauh  lebih produktif. Berlomba berkreasi dengan mutu yang maksimal akan lebih berguna bagi pengembangan dan kebaik2, adik apa kamajuan sastra-seni negeri kita. Kerjasama antar komunitas begini menayangkan mimpi di benakku bahwa pada suatu hari mereka berhasil menyelenggarakan Kongres Kebudayaan Nasional dari bawah. Bukan Kongres Kebudayaan Nasional dari atas.
 
 
Apakah gerangan yang hakiki dalam serangan-serangan pada KUK dan GM atau pengarang lain secara pribadi dan apakah yang didapatkan dari serangan-serangan demikian untuk pengembangan sastra-seni negeri ini secara kongkrit? Prinsip sastra-seni apakah yang diperjuangkan? Politik? Politik sastra apa yang ditawarkan? Apakah tulisan-tulisan GM, lebih-lebih caping-nya tidak mengandung sikap politik? Apakah pertanyaan ke publik  GM tentang "di mana Wiji Thukul" misalnya bukan suatu sikap politik? Apakah gagasan GM menjadikan Gedung Kesenian di Pulau Buru, bukannya suatu sikap politik? Apa gerangan kesalahan politik dalam tulisan-tulisan GM yang juga nampaknya terus-menerus berkembang?
 
 
"Ah, kau membela GM!", barangkali ada yang berkata demikian . Memang boleh jadi demikian, jika hakekat sikapku yang ingin menduduki masalah pada proporsinya , bersikap adil pada siapapun dipandang sama dengan membela. Hanya saja KUK dan GM pun pasti akan kukritik juga jika menurut pandanganku mereka berlaku tak adil dan melakukan kesalahan politik. Jika dan sekali lagi jika! Apalagi  dari pengenalanku yang terbatas, GM bukan orang yang menolak kritik. 
 
 
Kritik diperlukan kapan pun diperlukan. Tapi mengapa tidak kiritik itu  dilakukan secara  menyeluruh secara  sehat dan katakanlah secara ilmiah? Untuk mengembangkan sastra-seni , meningkatkan taraf apresiasi, kukira kritik memang perlu. Hanya saja kritik dan kritik itu ada bermacam-macam  tingkat kadarnya. Kritik seperti halnya karya sastra-seni lainnya sebenarnya tidak lain dari tingkat dan kadar diri kita sendiri.
 
 
Hanya saja, kukira masih  perlu juga dicatat, bahwa kritik dan kritik itu selain bermacam-macam kadarnya, kritik dan kritik itu caranya pun perlu sesuai dengan tingkat kontradiksi. Seniscayanya baik jika diperhitungkan, apakah kritik itu ditujukan kepada teman, atau dibidikkan kepada lawan atau musuh. Kritik terhadap kawan dan lawan, kiranya akan mengambil cara berbeda. Apakah GM seorang musuh? Apakah KUK itu musuh sastra-seni Indonesia? Politik sastra-seni KUK dan tindakan-tindakan yang bagaimanakah yang membuat KUK dan GM ditempatkan pada posisi musuh, seandainya mereka memang adalah musuh yang harus dihujat dan dibidik? 
 
 
Pertanyaan berikut yang muncul dibenakku adalah: Adakah polemik esensil sekarang ini di dunia sastra-seni Indonesia? Kalau ada polemik, prinsip apa gerangan yang dipolemikkan?
 
 
Polemik antara penulis Poedjangga Baroe tahun 30-an masalahnya jelas. Debat antara Lekra dan kelompok Manifestan tahun 60-an, masalahnya pun gamblang. Apakah adakah debat atau polemik yang prinsipiil  sekarang ini? Kukira jika memang ada masalah prinsipiil, maka akan menjadi lebih produktif jika masalah itu diutarakan jelas dan didiskusikan secara sehat serta tenang bernalar.
Jika memang ada masalah prinsipiil dan masalah tersebut dibahas dengan tenang bernalar, pasti akan meningkatkan taraf pemahaman dan apresiasi pembaca. Pasti akan mencerahkan dan membantu pemanusiawian diri, kehidupan dan masyarakat.  Bakal meningkatkan taraf apresiasi kita, termasuk si awam seperti diriku ini. Aku tidak tahu, apakah pemikiran begini merupakan pandangan yang kadaluwarsa dan tidak tanggap zaman? Jika ada masalah esensil sekarang yang diperdebatkan dan diketengahkan maka baru kukatakan ada polemik. Karena keterbatasanku, maka aku ingin diberitahukan, apakah gerangan masalah esensil yang diperdebatkan sekarang? 
 
 
Masalah penerbitan karya-karya di luar negeri oleh penerbit asing , kukira tidak lepas dari peran lobbie selain mutu karya tersebut sendiri memang turut mendukung. Tentang soal ini aku tidak masuk ke rinciannya.
 
 
Di Perancis, lobbie sastra Indonesia untuk diterbitkan pada tahun-tahun terakhir ini banyak dilakukan oleh Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam". Lobbie ini pun agaknya juga terjadi pada hadiah-hadiah internasional baik bertingkat rejional atau pun skala dunia. Kukira, tak ada keanehan dengan lobbie ini. Lobbie menyangkut masalah jaringan, hubungan dan kemampuan serta barangkali juga pengalaman. Barangkali ini juga sebagian dari rahasia penerbitan buku-buku Pram, lebih-lebih ketika ia berada di pulau pembuangan Buru.
 
 
Jika demikian, untuk apa cekcok tak perlu dikembang-kembangkan, padahal jika komunitas-komunitas sastra-seni bisa bekerjasama di lapangan, kerjasama ini hanya akan berdampak memperkuat lobbie dan promosi. Siapakah dan adakah yang dirugikan dengan kerjasama saling asih, saling asah dan saling asuh? Pengembangan sastra-seni Indonesia, tantangan-tantangan yang menyertai usaha ini, promosinya di luar negeri pun  lebih terbantu jika terjalin kerjasama. Aku masih percaya bahwa GM sangat memperhatikan pengembangan angkatan muda. Aku masih percaya bahwa GM menaruh harapan pada angkatan muda.
 
 
Soal-soal ini termasuk yang antara lain juga diangkat dalam perbincangan santai  di Koperasi Restoran Indonesia di Paris -- yang memang sekaligus dalam proyek pendiriannya 25 tahun dahulu juga merupakan pusat kegiatan kebudayaan Indonesia.
 
 
Sedangkan anggapan bahwa KUK sebagai agen imperialis, karena mendapat bantuan dari luar negeri, jika benar ada, kukira, soal ini menyangkut masalah bagaimana kita menggunakan bantuan dari luar. Berdasawarsa lamanya, aku pernah menangani masalah dana dari luar negeri ini untuk Indonesia, dan aku tidak pernah sedetik pun merasa diriku  sebagai agen imperialis dan atau menjual diri untuk kepentingan asing. Tapi KUK dan diriku adalah dua hal yang berbeda dan terpisah. KUK sajalah yang paling bisa menjelaskan secara tepat apa siapa dirinya dan sikapnya. Hanya secara prinsip apakah benar dengan menerima bantuan luar negeri itu sama sebangun dan otomatis menjadikan diri kita sebagai agen asing atau kaki tangan imperialis? Apalagi jika penerima dana tidak mengadaikan diri dan berulah sebagai budak tapi berpegang pada prinsip sendiri yang republiken dan berkeindonesiaan. Apakah tudingan seperti di atas , bukannya tidak terlalu simplistis?  Dalam hal ini, aku jadi teringat akan kata-kata Mas Oyik [Satyagraha Hoerip]  alm. dalam simposium  sastra Majalah Horison: "Berhentilah  bersenda gurau". Kata-kata Mas Oyik ini diucapkan untuk menganjurkan agar antara orang-orang Lekra dan pendukung Manifes Kebudayaan mau dan bisa duduk bersama di hadapan satu meja menyimpulkan pengalaman dengan kepala dingin. Dalam skala terbatas anjuran Mas Oyik ini telah dilakukan oleh Andi Makmur Makka dari The Habibie Center dengan menyeponsor pameran-pameran bersama yang berhasil antara pelukis-pelukis Lekra dan para pelukis pendukung Manifes Kebudayaan  disertai dengan diskusi untuk memahmi pengalaman dari pertikaian masa silam. Menyusul usaha berhasil ini, Bung Andi Makmur Makka jugalah  yang pada tahun lalu di The Habibie Center, kemudian mengorganisasi dikusi tentang kebudayaan dan berkeindonesiaan. Barangkali usaha-usaha seperti yang dilakukan oleh Bung Makka ini lebih produktif dan nyata dalam menanggap perkembangan sastra-seni di negeri ini. Dengan cara begini, barangkali hal yang negatif bisa menjelma jadi sesuatu yang positif, bukan sebaliknya hal yang positif dirobah dan diarahkan ke jurusan yang  negatif. Aku khawatir , jika mendorong hal positif jadi negatif, kita akan makin mengayuh perahu ke hulu yang temaram, padahal muara laut kehidupan dan zaman, demikian  dahsyat menggelora menagih jawab. Waktu pun akan makin meninggalkan kita tanpa perduli mencecerkan tahun demi tahun usia kita sebagai dedaunan kuning rontok berhamburan. Terhadap soal waktu dan keniscayaan menanggap zaman ini, seorang penyair Tiongkok pernah menulis:
 
 
"rebut waktu pagi senja
seribu tahun terlalu lama" 
 
 
Mengapa kita mesti secara sukarela membuang waktu "seribu tahun" mengayuh ke hulu sedangkan muara dan laut menunggu kejantanan awak pinisi? 
 
 
Malam Musim Bunga makin larut, terasa hingga ke ruang percakapan santai. Tamu-tamu yang makan malam satu demi satu pulang meninggalkan restoran. Di luar matahari sudah lama tenggelam meninggalkan kelam pada dedaunan hijau yang makin merimbun. Pembicaraan saja yang nampaknya seperti tak berujung bagaikan kehidupan yang terus berlanjut tanpa perduli suka dan duka kita pribadi. "La vie continue", orang Perancis bilang.***
 
 
Paris, April 2008
----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
 
 
Keterangan foto:
Goenawan Mohamad  di acara Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam", Paris, 09 April 2008. [Dok. JJK].
 
 
[Bersambung....]


Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: