21 April 2008

[ac-i] jurnal sairara: hari itu kami berjumpa kembali [4]

JURNAL SAIRARA:
 
 
 
HARI ITU KAMI BERJUMPA KEMBALI
 
-Kisah-kisah kecil berjumpa dengan Goenawan Mohamad dan Laksmi Pamuntjak di Koperasi Restoran Indonesia Paris, 10 April 2008.
 
 
4.
 
 
Di hadapan hilangnya dokumen-dokumen dan monumen-monumen dalam berbagai bentuk ini, usul Mas GM terasa menjadi penting.  Terpikir juga olehku, apakah usul Mas GM ini, bukannya,  selain memperlihatkan tingkat kesadaran sejarah kita yang belum bisa  dikategorikan sebagai kuat,  tapi juga merupakan teguran terhadap sikap kita pada dokumen, arsip  dan monumen. Adalah sangat  tipikal ucapan seorang tetangga Indonesiaku waktu aku bekerja di Indonesia: "Apakah dengan belajar di jurusan sejarah, kelak  kau akan bisa dihidupkannya?".
 
 
Perkembangan baru yang agaknya mencengangkan GM  ketika berkunjung kembali ke Pulau Buru setelah Soeharto dipaksa turun dari kursi kepresidenan adalah kenyataan bahwa di pulau pembuangan yang dibangun oleh para tapol, setelah terjadinya Konflik Ambon, ternyata menjadi pelarian para pengungsi Ambon. Menggenai konflik ini, sangkan-parannya telah ditunjukkan dengan jelas oleh utusan Ambon yang terdiri dari seorang wakil dari agama Islam, seorang pendeta Kristen dan seorang lagi seorang pastur. Sebagai tokoh masyarakat Ambon, ketiganya berusaha sekuat tenaga menyelesaikan konflik ini. Dalam pertemuan di Gedung Parlemen Perancis, tiga tokoh ini jelas-jelas menunjuk tentara sebagai biang penyulut di belakang konflik untuk menunjukkan bahwa tanpa tentara, Indonesia akan kacau-balau. Demikian juga yang melatari Konflik Sampit tahun 2000 di mana aku berada langsung di tengah-tengahnya.  Tapi kampanye pers para cendekiawan, termasuk sastrawan-seniman,  dalam menjatuhkan citra militer dan militerisme dengan "dwi fungsi" dan pendekatan "stabilitas dan keamanan nasional" sudah terlanjur menjadi kekuatan materil serta dikahayati masyarakat. Walau pun masih saja ada sisa-sisa kekuatan yang mendukung militerisme dan otoritarisme.  Karena itu, GM wanti-wanti dalam percakapan santai di Koperasi kami, mengingatkan agar "jangan sampai militerisme kembali berkuasa".
 
 
Melalui berbagai kesempatan dialog, aku yakin benar bahwa GM adalah seorang yang republiken dan kuat berkeindonesiaannya. GM-lah yang mengatakan bahwa Republik Indonesia adalah "konsep agung dan indah". Walau pun dalam penglihatanku masih suatu konsep yang sedang dan terus-menerus diujudkan.
 
 
Berpegang pada konsep "agung dan indah" ini, GM mengesankan padaku bahwa ia sangat sadar melakukan "pengkaderan" untuk melaksanakan tugas agung dan mulia mewujudkan  konsep Republik dan Indonesia, missi yang tidak bisa dilakukan seorang diri. Barangkali dari segi inilah, orang bisa memahami GM dan lingkup kegiatannya sampai sekarang.
 
 
Beberapa kali aku menyaksikan mata GM selalu menyala girang saban bicara tentang anak muda, bahkan ia pun memuji kemampuan seorang penyair yang gencar "menyerangnya" secara terbuka. 
 
 
Ketika  berbicara tentang esok dan Republik dan Indonesia sebagai konsep agung serta indah, GM menyentuh masalah minat baca dan peran tivi. Menurut GM, pers tulis kurang besar pengaruhnya dibandingkan dengan tivi. Apalagi jika minat baca masih lemah.
 
 
"Jika demikian, mengapa KUK [Komunitas Utan Kayu] tidak menyelenggarakan tivi alternatif?", tanyaku langsung.
 
"Dari mana duitnya?", Mas GM langsung menjawabku.
 
Artinya dari segi finansil pun, GM merasa ada keterbatasan guna meujudkan mimpi republiken dan berkindonesiaannya.
 
 
Barangkali aku salah dan pongah ketika menanggap pertanyaan "dari mana duitnya" ini. Kukatakan bahwa bagiku pertama-tama yang diperlukan adalah keselesaian dan kemantapan ide. Setelah soal ini selesai, kita pikirkan bagaimana mewujudkannya. Hal beginilah yang terjadi dengan lahir, berdiri dan berkembangnya Koperasi Restoran Indonesia yang tahun ini usianya menjelang 26 tahun. Untuk menopang pendapat ini, aku bercerita tentang pengalaman Bank Kredit Simpan Pinjam [Credit Union] di Kalimantan Barat, yang mulai dari yuran Rp.1000,- rupiah, sekarang assetnya mencapai miliaran. Aku juga mengangkat pengalaman Mas Sutanto dalam menyelenggarakan Festival Lima Gunung di Jawa Tengah. Contoh yang tentu saja bisa kuperpanjang deretannya. Bahkan Pulau Buru dibangun oleh para tapol , selain karena keterpaksaan, tapi ia tidak dimulai dari kekuatan finansial, malah hanya bermodalkan dua tangan dalam arti harafiah oleh orang-orang yang dirampas segala hak kemanusiaannya.
 
 
Dengan mengatakan hal begini, yang kumaksudkan bahwa pertama-tama yang kita perlukan adalah orang. Manusia. Orang dan manusia pemimpi yang setia pada mimpinya. Dengan adanya orang dan manusia pemimpi, manusia sadar, jika tidak ada uang, mereka akan mencari dan mengelolanya. Orang begini barangkali tak obah "kandil di atas bukit yang memberi terang pada dunia sekitarnya". Mereka adalah "garam kehidupan" yang membuat hidup tidak hambar.
 
 
Jika bacaanku atas lingkup kegiatan dan visi GM di atas, aku sampai pada dugaan bahwa GM adalah seorang sastrawan total sesuai dengan peran sastrawan-seniman. Sebagai sastrawan total, ia tidak bermain-main dengan estetisme murni, tanpa mengabaikan estetika. Estetika pun sebenarnya adalah konsep total. Oleh konsep sebagai saastrawan-seniman total beginilah maka dalam sejarah Albania, Viêt Nam, Perancis, bahkan "The Lost Generation" pengarang-pengarang Amerika Serikat, juga negeri kita, tidak sedikit mereka yang langsung melibatkan diri dalam perjuangan fisik melawan fasisme dan ketidakadilan. André Malraux, yang kemudian menjadi Menteri Kebudayaan Charles de Gaulle , presiden Republik Perancis setelah usai Perang Dunia II,  hanyalah merupakan salah satu nama menonjol saja dalam sejarah sastra-seni Perancis yang menempuh jalan sastrawan total ini. ***
 
 
Paris, April 2008
----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
 
 
Keterangan foto:
Goenawan Mohamad  dan Laksmi Pamuntjak di tengah-tengah anggota  Koperasi Restoran Indonesia di Paris, 10 April 2008. [Dok. JJK].
 
 
[Bersambung....]

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

0 komentar: