22 April 2008

[ac-i] Dua acara wisata kuliner TV yang saya senangi

Oleh Mula Harahap
 
 
 
Ada 2 acara wisata kuliner TV yang saya senangi. Yang pertama adalah "No Reservation", dipandu oleh Anthony Bourdain, dan disiarkan di Discovery Chanel. Yang kedua adalah (saya lupa judulnya), dipandu oleh Keith Floyd, dan kalau saya tak salah ingat juga disiarkan di Discovery Chanel.
 
Bagi saya acara itu menjadi menarik karena kita selalu diingatkan bahwa urusan kuliner adalah urusan kebudayaan. Mengenal makanan suatu masyarakat artinya mengenal kebudayaannya. (Di sebuah majalah saya pernah membaca bahwa selama beberapa tahun terakhir ini koki-koki Israel dan Palestina selalu bertemu dan mengadakan acara masak bersama: mereka mau mencoba
menggalang perdamaian lewat kuliner).
 
Dalam acara "No Reservation" kepada kita selalu diperlihatkan bagaimana Anthony Bourdain berinteraksi dengan penduduk setempat, mengobrol tentang berbagai aspek kebudayaan yang menarik hatinya, dan menyantap berbagai makanan yang (biasanya) erat kaitannya dengan
aspek kebudayaan yang sedang diperbincangkannya itu.
 
Dalam sebuah episode--misalnya--kepada kita diperlihatkan bagaimana Anthony Bourdain menonton
pertarungan adu domba di Garut, seraya duduk menikmati jajanan yang dijual oleh para pedagang di seputar arena adu domba itu. Atau, dalam episode yang lain, kepada kita diperlihatkan bagaimana Anthony Bourdain berkelana di Thailand, naik "tuktuk" dan gajah, keluar-masuk pasar, lalu mengobrol ngalor-ngidul sambil menikmati makanan khas Thailand tersebut.
 
Dan hal yang juga menarik dari acara tersebut (serta yang membuat kita tambah ngiler) ialah: bahwa Anthony Bourdain selalu menyantap makanannya dengan lahap dan tak meninggalkan sisa.
 
Acara kuliner yang dibawakan oleh Keith Floyd, yang kemana-mana selalu mengusung wajannya itu, juga tak kalah menarik. Keith Floyd selalu di-"shoot" memasak makanan setempat di tengah-tengah alam atau lingkungan setempat pula.
 
Dalam sebuah episode kepada kita--misalnya--diperlihatkan ketika Keith Floyd sedang berada di pinggir pantai Norwegia. Di latar belakang kelihatan sekelompok orang Norwegia sedang
duduk mengelilingi sebuah meja besar (yang masih kosong) sambil bernyanyi-nyanyi. Lalu mulailah Keith Floyd (yang dalam episode itu memakai topi seperti tanduk orang Viking) meramu kerang, kepiting dan udang dalam menu Swedia di wajannya yang besar itu. Setelah masakan matang ia memanggil salah seorang dari antara kerumunan itu untuk mengambil makanan. Semua menyantap
makanan dengan lahap dan tak bersisa.
 
Sementara itu, dalam wisata kulinernya (yang disiarkan oleh Trans-TV), Bondan Winarno tak pernah kelihatan berusaha untuk mengangkat setting dan warna budaya dari makanan yang sedang dipromosikannya itu. Ia hanya sibuk membahas bumbu dari makanan tersebut, lalu setelah memakannya satu atau dua sendok hanya berkata, "suedaaap", "uenaak" atau "mak nyus". Maaf, saya bahkan mendapat kesan, bahwa alih-alih mempromosikan etnis dan budaya asal makanan tersebut, Bondan Winarno lebih mempromosikan restoran yang menyajikan makanannya.
 
Hal yang lebih menjengkelkan lagi dari Bondan Winarno ialah, bahwa dalam setiap episode ia selalu berusaha untuk memperkenalkan sebanyak mungkin makanan. Lalu ia hanya menyantap satu atau dua sendok dari berbagai makanan yang diperkenalkannya itu. Memang, saya tidak mengharapkan Bondan Winarno untuk menyantap habis semua makanan yang diperkenalkan dalam satu episode
acara itu (bisa mencret dia). Tapi dengan trik kamera sebenarnya bisa diperlihatkan bagaimana Bondan Winarno seolah-olah telah menyantap makanan itu sampai habis.
 
Dan kalau hal ini bisa dilakukannya maka saya--yang sedari kecil sudah diajari bahwa tidak menghabiskan makanan di piring sendiri adalah dosa--mungkin masih bisa sedikit mengapresiasi acaranya yang hanya dipenuhi dengan kata-kata "suedaap" itu.
 
Horas,
 
Mula Harahap
 
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

0 komentar: