10 Januari 2008

Selasar Kenangan [5-selesai]

Surat dari Monmartre:


MEMBACA ULANG "SELASAR KENANGAN"

Kumpulan Cerpen Srikandi Apsas
Tebal:95 hlm + xx.
Penerbit:Akoer, Jakarta, Juni 2006

[Dengan ucapan Selamat Ulang Tahun Ke-3 Kepada Milis Apresiasi Sastra]


PROSA PUISI



Kesan lain yang membekas di hatiku seusai membaca "Selasar Kenangan" ini , kemudian merenungkannya bahwa hidup tidak obah suatu rangkaian kisah penuh plot tidak terduga.


Bayangkan saja misalnya, dalam cerpen Riris Juliyanti "Sesuatu Yang Bernama Kenangan", berlatarbelakangkan Peristiwa Mei 1998 di mana banyak perempuan etnik Tionghoa diperkosa, tiba-tiba Kak Mey Lan, salah seorang korban pemerkosaan hingga mempunyai anak dari tindak itu, kemudian berjumpa dengan Om Midun, si pemerkosa itu sendiri dan yang tak lain dari paman si "Aku". Ketidaterdugaan serupa pun aku dapatkan pada cerpen Mindo Hotagaol, "Segi Empat Bukan Segi Tiga" yang bertutur tentang kisah cinta segi empat. Si "Aku", tiba-tiba mengetahui bahwa ia adalah anak dari "Mbak Weti" yang selama bertahun-tahun dipanggilnya dengan sapaan "MbakWeti".


Dari ketidakterdugaan begini, lagi-lagi aku melihat garangnya kehidupan, bahwa kehidupan selalu merupakan tekateki tak pernah usai ditebak, hidup tak obah bagaikan kalimat berujung pada koma dan titik sama dengan kematian. Kontradiksi , jika menggunakan istilah filsafat Marxis, atau konflik jika menggunakan terminologi dunia tulis-menulis, selalu menyertai langkah kita. Sedangkan kerukunan" hanya merupakan tingkat penyelesaian kontradiksi atau konflik untuk memasuki konflik baru.Pantharei, segalanya mengalir, kalau menggunakan istilah Heraklitus.


Bisa terjadi bahwa para penulis cerpen ini tidak menyadari bahwa mereka meninggalkan pesan demikian kepada pembaca, tapi sebagai pembaca yang berdaulat, demikianlah pesan yang ditinggalkan ke hatiku. Di samping itu, aku juga melihat bahwa cerpen-cerpen tersebut mencatat peristiwa-peristiwa sejarah dan sosiologis dalam masyarakat kita. Karya sastra memang tidak menggantikan penulisan ilmiah sejarah dan sosiologi serta bidang-bidang ilmu sosial lainnya, tapi karya sastra bisa jadi salah satu sumber penelitian ilmu-ilmu tersebut dan bisa dibahas dari segi-segi tersebut. Barangkali dengan latar pandangan ini, maka seorang sejarawan Afrika Selatan pernah mengatakan bahwa legenda dan cerita rakyat, sastra oral, bisa dijadikan sebagai salah satu sumber sejarah atau paling tidak, mengantar penelitian sejarah ke jurusan yang dicarinya. Pandangan ini berbeda dengan pandangan sebelumnya yang menganggap sumber sejarah hanyalah materi-materi tertulis belaka, walau pun bahan-bahan
tertulis itu pun tidak luput dari kekurangan.


Sementara itu dari cerpen Anjar, "Putaran Batu", yang menarik perhatianku adalah usaha penulis untuk mengangkat kosakata lama untuk keperluan kekinian. kosakata itu misalnya "berselirat", "daksa", "ngelanguté, "sapandurat" [hlm. 15]. Usaha ini menjadi menarik bagiku, karena seolah ia memperlihatkan bahwa penulis tidak ingin dengan sederhana ikut arus lari ke gaya menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, sampai-sampai kata "saudara", "kau", "anda" , diganti dengan "you". Sikap begini mengingatkan aku pada sikap Bernard Pivot, budayawan terkemuka Perancis. Pivot dalam karyanya "Menyelamatkan 100 Kata Yang Hampir Dilupakan", antara lain mengatakan bahwa "kata" dalam suatu bahasa sama dengan sebatang pohon dalam hutan. Menebang sebuah pohon akan berdampak besar. Menjaga, memelihara kosakata dan mengembangkan bahasa melalui kosakata adalah usaha Pramoedya A. Toer sejak ia masih jadi dosen Unreca, Jakarta. Bagian dari usaha almarhum menulis Ensiklopedi. Apa yang dilakukan oleh Anjar, kukira, bisa disebut dengan kesadaran berbahasa dan mengembangkan bahasa, sebagai salah satu tanggungjawab penulis. Sehubungan dengan sikap dan kesadaran berbahasa seperti yang ditunjukkan oleh Anjar ini, aku bertanya-tanya bagaimana sikap dan tanggungjawab serta kesadaran berbahasa penulis-penulis seangkatannya? Dalam konteks ini aku pun teringat pada nasehat Rendra padaku saat remaja Yoygya, agar aku rajin membaca kamus. "Kamus memperkaya kosakatamu, Kus. Penyair bekerja dengan kata", nasehat Rendra yang masih saja melekat di benakku sampai sekarang. Pada waktu remajaku, aku pun masih ingat benar bahwa jika sebuah kosakata bahasa daerah dipakai oleh sepuluh penulis, maka ia akan menjadi kosakata bahasa Indonesia.

Menyempurnakan bahasa Indonesia pada waktu itu, pertama-tama lebih berorientasi ke bahasa lokal. Bukan ke bahasa asing. Karena itu Lembaga Sastra Indonesia Lekra dulu pernah berkesimpulan bahwa hubungan antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah bersifat saling mendekati dan melengkapi.Bukan saling menjauh dan bertolakbelakang. Pandangan yang ditindaklanjut dengan mendorong pengembangan sastra berbahasa lokal dan etnik. Dari segi ini, kukira sikap Anjar sangat menjangkau jauh dan bermakna. Salam "beraja" adalah penemuan Anjar dari studi kamusnya. Anjar mendapatkan lokalitas dan warisan budaya negerinya sebagai salah satu sumber kreativitasnya. Sikap berkepribadian yang mengingatkan aku akan sikap berkepribadian seorang mahasiswa Batak di Yogya dalam kisah "Ada Empat Keanehan Di Siborong-borong" yang bertolakbelakang dengan kisah tragik komik orang kehilangan diri seperti di kejadian "Made Sweden" lurah Serua Indah Ciputat.

Waktu itu, tahun 60an, di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, sedang diselenggarakan perploncoan. Seorang senior asal etnik Jawa bertanya kepada seorang yunior, mahasiswa yang diplonco.

"Kau dari mana?"

Yang ditanya menjawab bangga: "Dari Siborong-borong". Melihat kebanggaan yunior, si senior heran dan kembali bertanya:

"Apa sih hebatnya Siborong-borong maka kau begitu bangga pada kampung yang di peta pun tak tertanda?"

"Ada empat keanehan di Siborong-borong", jawab yunior makin semangat.

"Apa empat keanehan itu?"

Dengan lidah Bataknya si yunior berkata:

"Satu, ada gereja. Dua, ada Sekolah Guru Kepandaian Puteri [waktu itu SGKP, terdapat di mana-mana]. Ketiga, ada stasiun bus".

"Dan keempat?" tanya senior sambil menyembunyikan keheranan dan kagumnya pada yunior.

Dengan menatap lurus mata senior mahasiswa Batak asal Siborong-borong mengatakan:

"Keempat, ada siombus-ombus".

Mendengar "empat keanehan" di Siborong-borong itu, semua tidak bisa menahan gelak. Ini satu sikap. Sikap lain, berbalikan dengan sikap putera Siborong-borong ini adalah sikap lurah Serua Indah, Ciputat.Waktu itu, ada helat perkawinan. Lurah menyampaikan pidato ucapan selamat kepada kedua mempelai. Berkata: "Pokoknya saudara-saudari. Made in Sweden". [Diucapkan sebagaimana kata-kata ini ditulis. Made in Sweden adalah kata-kata yang tertera di kotak korek api buatan Swedia].

Orang kampung yang tidak mengerti arti kata itu, langsung bertanya:"Apa itu artinya, Pak?"

Pak lurah dengan bangga pula menjawab: "Artinya, semoga berbahagia". Dalam satu paduan suara spontan, hadirin yang terdiri dari orang-orang kampung berkata: "Ooooo...".

Cerita ilustratif ini kuangkat untuk menunjukkan dua mentalitas dari dua zaman. Yang satu pede, bangga pada budaya sendiri, yang lain merasa naik harga diri dan tingkat dirinya dengan mencoba menggunakan kata-kata asing. Ujud dari rendah diri?! Ah, Indonesia. Banyak keanehan di Indonesia.Lebih dari empat!

Apa yang dilakukan Anjar, agaknya mendekati apa yang dilakukan oleh mahasiswa Batak ini, dalam hal percaya diri dan bangga pada budaya lokal.

Aku sendiri tidak mempertentangkan nilai lokal, nasional dan unversalitas. Universalitas nilai bisa saja diungkapkan dalam cara yang berkebhinnekaan. Lokalitas adalah bahasa yang kita miliki dalam berdialog dengan budaya dunia. Pada lokalitas ini terdapat jati diri, ciri diri, kepribadian dan nilai diri. Entah sadar atau tidak, Anjar agaknya mengangkat masalah ini melalui pilihan kosakatanya sehingga tidak menjadi "lurah Serua Indah" yang merasa diri terangkat dengan menggunakan kata-kata asing secara salah kaprah dan tidak ia pahami artinya yaitu "made in Sweden". Ingin kusebut mentalitas pak lurah Serua Indah ini sebagai "mentalitas made in Sweden" sebagai bagian dari keanehan kekinian di negeri kita.

Hal lain yang kudapatkan dari "Selasar Kenangan" muncul dari membaca cerpen Ita Siregar dan Widzar Al- Ghifary, sipemakai jilbab rapat [cocok untuk Kota Bandung yang dingin], berjiwa militan tak takut lelah.

Widzar dalam cerpennya "Perempuan Dalam Keruntuhan Musim" , Ita Siregar dengan cerpennya "Sedikit Kenangan Tersisa", memperlihatkan adanya gejala yang kusebut bentuk prosa puisi [bukan puisi prosa]. Yang kumaksudkan dengan bentuk prosa puisi adalah suatu genre sastra berbentuk prosa tapi puitis. Dasarnya adalah bentuk prosa tapi kalimat-kalimatnya puitis. Sedangkan puisi prosa adalah sejenis puisi. Novel "Pulang" karya Toha Mochtar, mantan penerjun payung AURI, pada tahun 60an sering disebut sebagai karya prosa puisi ini. Puisi merumuskan pikiran dan perasaan dalam kalimat-kalimat puitis penuh renungan dan besayap. Di samping itu, agaknya , bentuk prosa puisi lebih reflektif dibandingkan dengan prosa yang tidak puitis.


"Ya, aku datang memang untuk menangis. Menuntaskan segala beban agar aku bisa melangkah ke depan", adalah kalimat prosa puitis dari Widzar. Kalimat ini kuanggap puitis [bisa saja aku berbeda dengan pembaca yang lain!] dan kalimat puitis serta puisi selalu bersayap, menerbangkan segala tafsir ke berbagai penjuru cakrawala.


Puitisitas cerpen ini lebih menonjol lagi pada Ita Siregar dalam tulisannya "Sedikit Kenangan Tersisa" di samping kekuatannya melukiskan suasana dengan sabar serta cermat. Di tengah suasana yang ia lukiskan ini, kemudian penulis menuangkan renungan dan suasana hatinya yang umumnya berwarna kesendirian. Hening bagai hamparan tamasya yang merentang di bawah gunung sejauh cakrawala. Seperti dalam kalimat-kalimat berikut:

"Kalau mau permen, bilang saja, ya", kata Nani. Aku mengangguk.

Setelah itu rasanya tidak ada hal lain.Lebih banyak sendirian, duduk dekat jendela, melihat aktivitas di luar sana. Tapi sebenarnya aku tidak ingat apa yang kulihat. Mungkin juga aku tidak melihat apa-apa.

Peristiwa-peristiwa itu akan tetap menjadi miliku selamanya. Masa kecilku yang pendek. Aku sedang berusaha mencari potongan kenangan lain di rentang usia itu. Karena aku kehilangan diriku di sana".

Membandingkan cerpen ini dengan novel "Mencari Daniel" dari penulis yang sama, aku melihat prosa puisi merupakan salah satu ciri khusus dari Ita Siregar. Ciri yang juga kudapatkan pada karya-karya Martin Aleida dan dulu pada reportase sastrawi penyair Amarzan Ismail Hamid.


"Selasar Kenangan" yang hanya terdiri dari 95 hlm + xx , memang bukan kucerpen tebal, tapi ia merupakan sumbangan nyata berharga dari milis apresiasi-sastra kepada dunia sastra Indonesia. Betapa pun kecil dan sederhananya suatu sumbangan, ia tetap berharga dan niscaya ditatat.Sumbangan sastra ini merupakan ujud dari suatu kesungguhan. Dari jauh yang dingin ditebarkan oleh langit kelabu yang menekan, kuucapkan "Selamat berulang tahun!" ***


Paris, Musim Dingin 2008
-------------------------------
JJ Kusni, pekerja biasa di Koperasi Restoran Indonesia Paris.

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: