30 November 2007

Photo Exhibition: Eartquake and Tsunami Emergency Support (Banda Aceh)

Dear All,
If you are in Banda Aceh within period of 29th of November to the 2nd of December 2008...
There's an Photo Exhibition ...
Earthquake and Tsunami Emergency Support Project (ETESP)
Photo Exhibition
"towards a better future"
@
Taman Sari, Banda Aceh
Opening Hours: 09.00 - 18.00 (Except on the 29th, 16.00 - 18.00)
With
Photograph by Eriek "Juragan" Nurhikmat
and
Essay writing by Oki Rahmatna Tiba
For more Information, please contact:
Tjute
0813-60504909
Be there... don't miss it...

Sphere: Related Content

Festival Budaya Batak

Yayasan Bengkel Seni '78 (YBS ' 78) Jakarta dan Grup Musik Enda Kustik - Turut Memeriahkan Festival Budaya Batak di Kalimantan Selatan (Banjarmasin)
Image
YBS 78 turut berpartisipasi untuk memeriahkan Festival Budaya Batak Sumatera Utara di Banjarmasin (Kal-Sel) pada acara puncak, sabtu 01 Des 07. Demikian Humas & Publikasi YBS 78 Drs. Boni P Tarigan, AAAIJ menyampaikan kepada kami via hp tadi pagi. Selanjutnya ditambahkan bahwa event ini digagas oleh Ikatan Keluarga Batak Sumatera Utara (IKABSU) Kalimantan Selatan yg terpanggil untuk ikut serta bertanggung jawab dalam hal pelestarian budaya, khususnya budaya Batak.
Festival ini akan memperlombakan : Tari tradisional, Tari kreasi baru, vocal group, trio, lomba busana anak-anak, perorangan dan berpasangan. Festival ini sudah berlangsung sejak 19 oktober 07 yg diikuti oleh semua etnis daerah Sumut (Toba, karo, simalungun, angkola/mandailing, pakpak/dairi dan Nias) yg ber domisili di Kal-Sel dan Kuala Kapuas.
Adapun jadwal acara festival ini adalah sbb:
  1. Tanggal okt. s/d 11 nov 07 Seleksi di masing-masing kabupaten dan kota se Kalsel.
  2. Tanggal 23 - 24 nov 07 Putaran semi final utk semua materi perlombaan, bertempat di Gedung Wanita - Banjarmasin, yg diikuti oleh masing-masing juara/peserta terbaik dari hasil seleksi semua kabupaten / kota se Kalsel.
  3. Tanggal 25 nov 07 putaran Grand Final semua materi perlombaan bertempat di Gedung Wanita- Banjarmasin.
  4. Tanggal 01 Des 07 acara pun cak yg berisikan acara pokok Penyerahan hadiah/uang pembinaan + tropy kepada masing-masing pemenang bertempat di Shinta Restaurant - Banjarmasin.
Acara puncak ini akan di hadiri oleh Gubernur Kal-Sel, Walikota Banjarmasin (Musida Propinsi dan kota). Juga kemungkinan Gubernur Sumut akan turut hadir. Menurut Drs. Boni P Tarigan yg juga Ka. Biro SORA SIRULO-Jabodebabeka ini, kehadiran YBS 78 di event ini selain karena undangan khusus pihak panitia juga adalah karena nama YBS sangat akrab dan tidak asing bagi masyarakat.
komunitas seni Kal-Sel khususnya Banjarmasin, apalagi YBS di dirikan pada thn 1978 oleh Drs. Usaha Tarigan (TariganU) dkk di Banjarmasin. Nama TariganU sendiri pun sangat familiar dikenal disini sebagai budayawan.
Ada pun tim YBS 78 yg berangkat ke festival ini adalah TariganU (Pendiri & Pembina), H.M. Tempel Tarigan, SE (Ketua Umum), Drs. Windra Tarigan (Wakil. Ketua), Drs. Petrus Barus (Sekretaris Umum) dan Drs. Boni P Tari gan, AAAIJ (Humas/ Publikasi).
Adapun misi YBS di event ini selain untuk menghibur masyarakat karo dan etnis daerah sumut lainnya di Kal-Sel juga utk me nunjukkan bahwa Karo punya potensi nilai jual seni budaya dan memiliki seniman-seniman profesional yg tidak kalah dengan etnis lainnya.
Untuk itu YBS 78 menggandeng mitranya Grup musik Enda Kustik pimpinan Alasen Barus untuk memeriahkan malam puncak acara sebagai entertaint yg berkelas. Di samping Lagu-lagu Karo klasik dan modern, lagu-lagu etnis daerah sumut yg lain pun sudah dipersiapkan. Termasuk lagu-lagu rakyat daerah Kalimantan selatan juga sudah dipesiap kan dengan iringan musik akustik & tradisional Karo, khususnya lagu Ampar-ampar pisang dan Pasir Berantai (Kota Baru).
Hal ini akan memberi nuansa baru dan sangat etnic, karena lagu - lagu daerah Batak dan Banjar akan di iringi musik tradisi Karo. Adapun personil Enda Kustik adalah Ramona Purba (kulcapi dan gitar melody) Junianto Meliala ( Gendang Singindungi), Alasen Barus (Gendang Singanaki), Untung Purba (Bass Gitar), Haris Teny Singarimbun (Gung + Penganak) dan Benar Purba (kibot Karo ).
Pada acara puncak ini, YBS 78 akan memberikan tanda kenangan/cenderamata kepada Muspida Provinsi Kal-Sel dan Kota Banjarmasin, Pangdam-VI / Tan jung Pura dan Gubernur Sumut berupa Buku Ontologi Puisi Karo - Indonesia karya TariganU yg berjudul Pincala sekalian dengan musikalisasi puisinya dalam bentuk casette dan CD.
Informasi terakhir dari panitia kemarin bahwa artis lain dari Jakarta yg akan turut memeriahkan adalah Tio Fanta Pinem dan Trio Ambisi.

Sphere: Related Content

DISPOTANK-Empat 'Komponis' Komunitas Tombo Ati Jombang

KOMUNITAS TOMBO ATI JOMBANG mempersembahkan

Pentas Musik 4 'Komponis':
ADI KOTREX-BAKIR RAMLAN-KI DALANG HERU-FARID KHUZAINI

Di Plaza Theater Jombang

Sabtu, 1 Desember 2007
15.00 dan 19.00 wib

Minggu, 2 Desember 2007
10.00 dan 15.00 wib

Produksi
KOMUNITAS TOMBO ATI
Jl. Arief Rahman Hakim 7
Jombang 61411
email:kta_jombang@yahoo.co.id
http://tomboatijombang.multiply.com
http://tomboatijombang.wordpress.com

Informasi:
Ipung 0321-6222051 dan Imam Ghozali 0888 530 44 97.

Sphere: Related Content

A-Soon Dance Company (Korea)

ART SUMMIT INDONESIA V 2007
A-Soon Dance Company
"The White Noise"
Dance, Korea
Kamis-Jumat, 29-30 November 2007
Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki
Pk, 20.00 - Selesai
Pementasan karya tari ini bercerita tentang kehidupan masyarakat dalam penindasan yang diwujudkan dalam sebuah pertunjukan penuh humor dan inprovisasi yang penuh keindahan.
Didukung oleh musik yang dihasilkan dari berbagai bunyi-bunyian namun tetap terpadu apik menjadio suatu aransemen musik kelas tinggi. Karya ini merupakan kritik terhadap masyarakat masa kini yang sudah tidak oeka terhadap kekerasam dan suara rakyat biasa.
Kreasi multimedia berpadu dengan keahlian luar biasa para penari di atas panggung skala besar akan mempesona setiap mata yang menyaksikan.
Persembahan A-Soon Dance Company menjadi nomr final dari festival Art Summit Indonesia 5.
Don't Miss It !!!
Sampai Jumpa 3 tahun lagi di Art Summit Indonesia VI.

Sphere: Related Content

Peluncuran dan Diskusi Buku Goenawan Mohamad

Salam

Buku Goenawan Mohamad yang terbaru, "Tuhan dan Hal-hal Yang Tak Selesai" akan diluncurkan dan didiskusikan. Tempatnya di Freedom Institute. Anda yang tertarik pada acara ini, silakah hadir, berikut saya sertakan undangannya.

Terima kasih

Guntur

=============
http://freedom-institute.org/id/index.php?page=index&id=333


Undangan Peluncuran & Diskusi Buku
"Tuhan dan Hal-Hal Yang Tak Selesai"
karya Goenawan Mohamad

Freedom Institute bekerjasama dengan Penerbit Kata Kita mengundang Anda menghadiri Peluncuran dan Diskusi Buku Goenawan Mohamad tentang "Tuhan dan Hal-Hal Yang Tak Selesai" dengan pembicara Martin Sinaga, Dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, dan KH. Hussein Muhammad, Pengasuh Pesantren Darut Tauhid Arjowinangun Cirebon.

Ada 99 esai dalam buku ini. Jika boleh menirukan karya Roestam Effendi yang terbit di tahun 1925, Pertjikan Permenoengan, ke 99 esai ini adalah percikan. Semua esai ini ditulis di masa yang seperti kita alami sekarang, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan, menakutkan, dan menciptakan kekerasan. Betulkah Tuhan dan agama berfungsi seperti itu? Buku ini layak untuk didiskusikan karena terkait erat dengan "kita" dan persoalan bangsa saat ini.

Acara akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal :
Selasa, 4 Desember 2007

Waktu :
Pukul 18.00 – 21.00 (diawali makan malam)

Tempat :
Ruang Diskusi Freedom Institute
Jalan Irian No. 8 Menteng Jakarta

Kami tunggu kedatangan Anda. Sebelum diskusi berlangsung akan ada pembacaan puisi karya Goenawan Mohamad. Silakan konfirmasi kedatangan anda dengan menghubungi Tata atau Imi di telpon 319 09226. Terima kasih.

Salam,


Rizal Mallarangeng

Direktur Eksekutif

Sekelumit buku Goenawan Mohamad klik di:

http://www.utankayu.org/in/index.cfm?action=detail&cat=news&id=22


Sphere: Related Content

"Bawang Merah Bawah Putih" dan "Si Kancil" dibajak Malaysia

Tertarik oleh prangko terbitan Pos Malaysia pada Juli 2007, saya mohon bantuan rekan-rekan terutama yang tahu mengenai cerita anak-anak, mengenai judul cerita anak-anak.
Di prangko terbitan Pos Malaysia ditulis judulnya "Bawang Putih Bawang Merah", tapi saya sering dengar judul ceritanya "Bawang Merah Bawang Putih".
Kemudian satu lagi, di prangko terbitan Pos Malaysia ditulis judulnya "Sang Kancil dengan Buaya", tapi saya pernah juga judulnya "Kancil dan Buaya".
Mana yang benar? Atau memang judul kisahnya agak sedikit berbeda di Malaysia dan Indonesia?
Terima kasih infonya.
Gambar-gambar prangko bisa dilihat di:
Berthold Sinaulan
wartawan harian Suara Pembaruan

Sphere: Related Content

Pekan Film Indonesia di Praha

Bapak,Ibu,Saudara/i Yth,
Kami undang Bapak, Ibu, Saudara dan Saudari semua untuk menghadiri acara Pekan Film Indonesia dengan tema 'Panorama Film Indonesia' di Sinema Ponrepo, Bartolomejska 11 - Praha 1.
Acara akan dibuka Senin, 3 Desember 2007 pukul 17.00 dilanjutkan pemutaran Film Ibunda, karya Teguh Karya.
Jadwal Pemutaran Film adalah sbb:
3 Desember 2007, 17.00 - Pembukaan
17.30 - Ibunda (1986)
5 Desember 2007, 17.30 - Cinta Dalam Sepotong Roti (1991)
6 Desember 2007, 17.30 - Suci Sang Primadona (1977)
7 Desember 2007, 16.30 - Pejuang (lebih awal 1 jam) (1960)
11 Desember 2007, 17.30- Pagar Kawat Berduri (1961)
Film-film yang akan diputar adalah film yang pernah mendapatkan penghargaan di tingkat nasional maupun internasional.
Pihak Sinema Ponrepo akan memungut biaya sekitar Kc. 30 untuk para pemirsa.
Demikian disampaikan, atas perhatian dan kehadirannya diucapkan terima kasih.
Hormat saya
Azis Nurwahyudi
Sekretaris I Penerangan Sosial Budaya dan Pariwisata
KBRI Praha

Sphere: Related Content

29 November 2007

Betawi Banget! 29 Nov - 2 Des @ TIM

Dewan Kesenian Jakarta
bekerja sama dengan
Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI)
mempersembahkan
Tontonan Jakarta
Betawi Banget! Doeloe dan Sekarang
29 November – 2 Desember 2007
Sanggar Baru dan Plaza Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat
Pembukaan:
Kamis, 29 November 2007
Pukul 18.30 – 03.00 WIB
● Arakan Penganten Betawi
● Silat Betwai, Rebana Biang, Sahibul Hikayat
● Lenong Denes
Jumat, 30 November 2007
Pukul 18.00 – 24.00 WIB
● Keroncong Betawi
● Gambang Rancak
● Topeng Blantek
Sabtu, 1 Desember 2007
Pukul 14.00 – 24.00 WIB
● Seminar tentang Kesenian Betawi
● Lenong Pemenang Lomba
● Sambrah
● Wayang Kulit Betawi
Minggu, 2 Desember 2007
Pukul 19.00 – 21.00 WIB
● Topeng Betawi
Bazar kuliner klasik dan modern Betawi
29 November – 2 Desember 2007
Mulai pukul 15.00 – selesai
Informasi lengkap:
Maya – 021- 7085 5776 / 0816 987 087
Nina Samidi – 0817.078.1719
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya No.73 Jakarta Pusat 13130
Telp. (021) 3193 7639 / 316 7280
Fax. (021) 3192 4616
Klik www.dkj.or.id untuk melihat agenda kegiatan Dewan Kesenian Jakarta.

Sphere: Related Content

Launching dan Diskusi Buku Puisi "Sukma Silam" karya Budhi Setyawan

Jakarta, 29 November 2007
Dengan hormat,
Bersama ini kami mengundang Bapak/Ibu untuk hadir pada acara
LAUNCHING & DISKUSI BUKU PUISI
"SUKMA SILAM"
Karya: Budhi Setyawan
Yang akan kami selenggarakan pada:
Sabtu, 1 Desember 2007
14.00 s.d 16.00 WIB
Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin
Taman Ismail Marzuki
JAKARTA
Pembicara: Endo Senggono & Medy Loekito
Moderator: Yonathan Rahardjo
Pembaca Puisi: Danielle, Dharmadi, Pudwianto
MC: Alin SP Apriliani
Kami berharap, Bapak/Ibu dapat hadir pada acara tersebut.
Atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami,
Panitia
Sekilas tentang Budhi Setyawan
Lahir di Purworejo, 9 Agustus 1969. Pendidikan terakhir Fak. Ekonomi Akuntansi UGM Yogyakarta. Sekarang bekerja sebagai eselon IV pegawai negeri di Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan, Jakarta. Hobi musik dan sastra. Banyak menulis puisi dan beberapa puisi dalam Bahasa Jawa (geguritan). Beberapa puisi pernah dimuat di harian Tribun Kaltim di Kalimantan Timur. Pernah menjadi drummer Douane Band di Balikpapan. Beberapa lagu telah ditulis tetapi belum pernah direkam. Dua buku yang telah terbit sebelumnya adalah KEPAK SAYAP JIWA (2006) & PENYADARAN (2006). Beberapa puisi bisa dilihat di blog:
HP 08158030529
Konfirmasi dan Informasi: Alin
(0818819944)



Sphere: Related Content

Undangan pertunjukan Acapella Mataraman di TUK

Salam,

Silakan anda datang untuk menonton pertunjukan musik ini. Kelompok Acapella Mataraman ini sangat unik, menggunakan mulut sebagai alat musik. Dengan mulut, mereka menirukan bunyi-bunyi dari pelbagai jenis musik; mulai musik Jawa, Dangdut, India, dan Barat. Sangat unik, menarik dan menghibur. Apalagi ditambah pesindennya, Soimah yang suaranya sangat merdu, lincah dan cantik jelita.

http://www.utankayu.org/in/index.cfm?action=detail&cat=event&id=122

Jumat, 30 November dan Sabtu 1 Desember 2007, pukul 20:00 WIB

CANGKEM KUADRAT Pimpinan Pardiman Djojonegoro.

Grup vokal Acapella Mataraman, yang para anggotanya berlatar musik Jawa, kerap bereksperimen membaurkan berbagai gaya paduan suara dan bahasa, dengan humor dan ironi. Tak mengherankan jika di tengah sebuah tembang Jawa yang mereka nyanyikan tiba-tiba terdengar lagu India, Mandarin, atau Barat yang kemudian bisa beralih lagi ke corak musik yang lain sama sekali, dan semua itu berlangsung mengalir begitu saja secara spontan, kocak dan segar. Kerap juga mereka bawakan lagu yang sudah luas dikenal namun dengan tempo dan ritme yagn sudah diubah, lebih lambat atau cepat, sehingga terdengar seperti asing tetapi sekaligus asyik.

Di dalam suasana gayeng yang mereka ciptakan dari oplosan berbagai unsur itu ada kalanya terselip satir sosial-politik yang tajam. Acapella Mataraman dipimpin oleh komponis Pardiman Djojonegoro dan didukung antara lain oleh pesinden Soimah Pancawati.

Tempat pertunjukan ini di Teater Utan Kayu (TUK), Jl Utan Kayu No 68H, dan tidak dipungut biaya.




Mohamad Guntur Romli
http://guntur.name/

Sphere: Related Content

Dinner with Designer (DWD) # 1: “A Sustainable Design”

News! Dinner with Designer (DWD) # 1: "A Sustainable Design", Jumat 14
Desember 2007, Aksara Bookstore Kemang.

http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/11/28/dinner-with-designer-a-sustainable-design/

Sphere: Related Content

28 November 2007

Buku Srinthil (Media Perempuan Multikultural) ada di TB. Jendela

Info : Buku baru dari Desantara dengan judul : Srinthil No. 13 Thn. 2007 : Tandha: Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura, Penulis : Kajian Perempuan Desantara, harga toko Rp 23,000 diskon 15% Rp 19,500 1 Srinthi1 No. 9 Thn .2006 : Selamat Tinggal Kartini Selamat Datang Ratu Kalinyamat Kajian Perempuan Desantara Rp 15,000 15% Rp 12,500 2 Srinthi1 No. 10 Thn. 2006 : Komodifikasi Seksuallitas Dan Pewadagan Perempuan Kajian Perempuan Desantara Rp 20,000 15% Rp 17,000 3 Srinthil No. 11 Thn. 2007 Perempuan Dalam Layar Kaya Kajian Perempuan Desantara Rp23,000 15% Rp 19,500 4 Srinthil No. 12 Thn. 2007 Penari Gandrung dan Gerak Sosial Banyuwangi Kajian Perempuan Desantara Rp 23,000 15% Rp 19,500 5 Srinthil No. 13 Thn. 2007 : Tandha: Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura Kajian Perempuan Desantara Rp 23,000 15% Rp 19,500

Apabila anda membeli 1 paket Buku Srinthil (No. 9, 10, 11, 12 dan 13) dari harga Rp 104.000 diskon 25% Rp 78.000 dan Apabila anda membeli 1 paket Buku Srinthil (No. 11, 12 dan 13) dari harga Rp 69.000 diskon 20% Rp 55.000
Dan buku-buku terbitan Desantara didiskon 20% untuk judul dibawah ini : 1. Bissu; Pergulatan dan Peranannya di Masyarakat Bugis ~ Halilintar Lathief ~ Rp 24,000 20% Rp 19,200 2. Desantara Kebudayaan, Edisi 15 Tahun VII/2007, Subversi Erotis Lengger Banyumas ~ Rp 15,000 20% Rp 12,000 3. Hadis-Hadis Kebudayaan ~ Peng : Ahmad Tohari dan Bisri Effendy ~ Rp 12,000 20% Rp 9,600 4. In The Shadow Of Change; Citra Prempuan dalam Sastra Indonesia ~ Tineke Hellwig ~ Rp 40,000 20% Rp 32,000 5. Jihad Melawan Islam Ekstrem ~ Mohammmad Said Al-Ashmawy ~ Rp 32,000 20% Rp 25,600 6. Keindonesiaan dan Kemelayuan dalam Sastra ~ Amin Sweeney et al ~ Rp 59,000 20% Rp 47,200 7. Mao Tse-Tung; Kebudayaan, Negara dan Pembebasan ~ Rp 24,000 20% Rp 19,200 8. Membaranya Batu Bara; Konflik Kelas dan Etnik Ombilin- Sawahlunto- Sumatera Barat (1892-1996) ~ Erwiza Erman ~ Rp 84,500 20% Rp 67,600 9. Perempuan Multikultural; Negosiasi Dan Representasi ~ Editor : Edi Hayat & Miftahus Surur ~ Rp 46,000 20% Rp 36,800 10. Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan ~ Abdurrahman Wahid ~ Rp 25,000 20% Rp 20,000 11. Plesetan Lokalitas: Plotik Pribumisasi Islam ~ Ahmad Baso ~ Rp 25,000 20% Rp 20,000 12. Radikalisasi Pemuda; PRD Melawan Tirani ~ Miftahuddin ~ Rp 38,700 20% Rp 30,960 13. Ritus Modernisasi; Aspek Sosial & Simbolik Teater Rakyar Indonesia ~ James L Peacock ~ Rp 55,000 20% Rp 44,000 Bila anda berminat bisa datang langsung ke outlet kami, atau anda bisa pesan via email. Khusus warga Kota Bogor ongkos kirim gratis minimal pembelian Rp 50,000.(netto) Aku tunggu kabar dan pesanannya dari Anda trims :) Toko Buku Alternatif Jendela Jl. Cikabuyutan No. 6 Baranangsiang Bogor Telp. 0251 ~ 379439 jendelaonline@yahoo.com www.jendela-online.com

Sphere: Related Content

Pramoedya Penggugat Penggugah Semangat

Hidup Mati Penulis & Karyanya (19)
Pramoedya Penggugat Penggugah Semangat

Oleh: A.Kohar Ibrahim

http://16j42.multiply.com/journal/



Foto : A.Kohar Ibrahim di Nongsa Kepri 2005


*
kata sorang penyair:
katakanlah yang hitam hitam
iya katakanlah yang merah merah
yang putih putih
bak sangsaka merah putih

*


IYALAH. Iya. Memang iya, bisa dimaklumi dan wajar-wajar saja adanya reaksi atas suatu manifestasi aksi tertentu, yang ragam macam. Dengan nada pro atau kontra, atau netral atau mengasih petunjuk : sebaiknya begini atau sebaiknya begitu. Dengan alasan ragam macam pula, biasanya dengan kaitan kata relevan atau tidaknya. Pun ada pula yang memberi reaksi secara terburu-buru, atau malah yang sepotong-sepotong, tapi sudah menarik kesan atau kesipulan yang tajam bersifat tendensius, memberikan kesan tuduhan : dendam atau bermusuhan.

Batinku : « Asbun aje lo... ! »

Padahal, katanya penulis, jurnalis atau publisis media terkemuka, tapi nggak menguasai materi soal yang dipersoalkan secara utuh.

Padahal, katanya, selayaknya mengakui adanya keberbedaan atau kemajemukan. Padahal katanya perlu menarik pelajaran dari pengalaman, supaya tidak mengulangi pengalaman yang negatip di masa lalu.

Padahal peristiwa masa lalu atau bersifat sejarah itu, selayaknya disimak secara obyektif – dengan mengingat ruang dan waktu – saling-hubungannya yang utuh, bukan yang sepotong-sepotong yang cuma menyenangkan hati dewek saja. Dengan tanpa melupakan perkembangan selanjutnya yang terjadi. Tanpa melupakan adanya perubahan-perubahan tertentu atau malah perubahan yang mendasar. Seperti, antara lain, misalnya adanya perubahan-perubahan tertentu dari sikap pendirian seseorang atau beberapa orang penanda-tangan Manikebu. Maka, kitapun selayaknya memperhatikan kurun waktu-waktu tertentunya.

Begitulah dan itulah pentingnya makna cahya nyala yang disulut Pramoedya dari Pulau Buru, yang dengan aktivitas-kreativitasnya bukan hanya untuk menjaga semangat kanca-konco se-kamp-konsentrasi-nya, melainkan juga yang di seluruh Nusantara bahkan yang di Mancanegara. Dalam hal aktivitas-kreativitas dan ketegas-tegaran pendiriannya sebagai sastrawan engagée, dalam menjaga keintegritasan, kejujuran dan keberanian, maka memang jitu apa yang dibilang Goenawan Mohamad bahwa Pram merupakan simbol atau icon.

Oleh karena itulah, dalam kaitan menyusun-urai tinjauan sekaligus memoar sekitar Pramoedya, aku tak bisa mengabaikan begitu saja hal-ihwal yang aku anggap penting untuk diungkap-angkat, dipertanyakan, bahkan jika perlu diperdebatkan. Apalagi hal iwal atau soal-soal yang memang menjadi persoalan. Maka perlu diungkap-jelaskan, supaya bisa mengetahui yang benar atau kebenarannya. Supaya yang gelap, kegelapan, tidak terus dibiarkan gelap atau jadi dibiarkan dalam kegelapan – apa pula jika memang digelap-gelapkan dengan sengaja. Sedangkan kita menghendaki kejernihan, keterangan, kecerahan. Demi tegaknya kebenaran dan keadilan. Dan khususnya dalam kaitan dengan sejarah, aku cenderung ganderung adanya sejarah yang utuh, bukan yang dipenggal-bengkokkan atau diputarbalikkan adanya.


SEJAK terjadinya Peristiwa G30S1965, lebih tepatnya sejak Kudeta Militer 1 Oktober 1965, banyak sekali keruwetan terjadi dalam lembaran sejarah Indonesia – termasuk sejarah kebudayaan, khususnya kesenian dan kesusastraan. Lebih khusus lagi yang berkenaan dengan apa yang disebut polemik antara MANIKEBU vs LEKRA. . Dalam periode yang panjang sekali, tidak lagi terjadi polemikos dalam artian « perang tanding argumentasi » atau perdebatan yang selayaknya,. Melainkan hanya berupa serangan sepihak, pengeroyokan teriring manifestasi aksi pembungkaman ekspresi diri bahkan ebrkelanjutan dengan pembinasaan karakter sekaligus fisik. Dan periode gelap penggelapan nyaris total itu berlangsung dalam kurun waktu cukup panjang – kurang lebih satu setengah dasawarsa lamanya. Selama waktu mana para aktor pekerja kebudayaan, intelektual, seniman, sastrawan, penyair menjadi penghuni penjara atau kamp konsentrasi kerja paksa Pulau Buru. Maka otomatis mereka tak bisa membela diri atau
memberikan penerangan atau jawaban yang selayaknya atas segala serangan berupa dusta dan fitnahan dari kaum Manikebuis.

Lebih lanjut, bahkan, setelah mereka yang terbungkam dan terbuang dalam kamp konsentrasi kerjapaksa itu « dibebaskan », pada hakekatnya mereka masih tetap dalam keadaan terbungkam dan terpinggirkan. Karena selama berjayanya kekuasaan OrBa, mereka masih terus mengalami ragam macam manifestasi aksi terorisme Negara maupun kalangan tertentu dalam masyarakat sekalian lembaga-lembaganya.

Begitu juga, setelah kepala rezim OrBa Jenderal tumbang. Bahkan di era yang disebut era Reformasi menuju demokrasi, berbagai kaum yang diposisikan sebagai musuh OrBa, masih terus mengalami perlakuan yang tidak adil dan ragam macam manifestasi aksi teror. Secara terselubung atau terang-terangan.

Khususnya yang berkenaan dengan Manikebu, yang turut serta menjadi pendukung tegaknya rezim OrBa, yang menjadi penikmat kekuasaan OrBa di bidang kebudayaan, meskipun ada orang yang bilang secara organisatoris „Manikebu nggak ada", namun bagaimana mereka dalam kenyataan yang sebenarnya? Bagaimana para pendukungnya yang ribuan banyaknya dan yang cukup penting juga: sejauh mana „manikebuisme" mempengaruhi generasi muda atau yang lebih muda dari para penggagas dan penanda-tangan Manikebu? Bagaimana cara-gaya mereka – baik yang senior maupun yang yunior; baik yang langsung turut jadi penegak rezim OrBa maupun pengikutnya – dalam memanfaatkan kekuasaan yang tersediakan?

Dalam selang seling kait berkaitan yang berkenaan dengan soal-soal yang jadi persoalan antara kaum Manikebu dengan Lekra, dengan tokoh Pramoedya sebagai simbolnya, itulah kiranya cukup menarik dan layak diperhatikan pernyataan atau pemikiran para penanda tangan Manikebu atau para tokoh-tokoh pendukungnya. Dengan begitu, saya pikir, akan mempermudah kita untuk memahami apa-siapa mereka, apa-bagaimana pemikiran mereka. Yang mereka lontarkan baik sebelum terjadi Kudeta Militer 1 Oktober 1965 maupun, dan terutama sekali setelah mereka berada di pihak kekuasaan atau malah termasuk dalam kantong kekuasaan – menurut istilah Pram.

Bisa dikatakan, serangan sewenang-wenang secara langsung dari penguasa maupun dengan mereka yang berkuasa di bidang kebudayaan terhadap Prmoedya dan Lekra serta kaum nasionalis kiri lainnya itu secara praktis sepihak saja adanya. Serangan yang dilancarkan dengan segala sarana kekuasaan di bidang kebudayaan (berbagai lembaga atau forum), pendidikan dan pers yang telah dihegemoninya.

Dampak negatif masa kegelap-pengapan itu luarbiasa bagi perkembangan kebudayaan umumnya, khususnya seni dan sastera. Pun dampak negatinya sudah bisa diperkirakan di bidang pendidikan, yakni berupa pembodohan.

Dalam rangka untuk menggugah sekaligus menggugat itulah, dalam batas batas tertentu yang amat terbatas, kita telah mengupayakan menyampaikan suara. Menggugah supaya orang tidak melupakan sejarah; menggugat supaya para pelaku atau penanggungjawab berkembangnya budaya dusta mempertanggungjawabkan keikutsertaan mereka dalam pembodohan bangsa.

Oleh karena itulah, betapa bangga lagi gembiranya kami, ketika dari Pulau Buru muncul nyala yang berkilat kemerlap yang kian lama kian terang benderang teriring gema lagu kemanusiaan yang dinyanyikan Pramoedya dengan Bumi Manusia-nya. Gema yang menggugah sekaligus menggugat itu pun tak urung menyemangati kami. Yang memang sama-sama kaum yang terbungkam dan terbuang. Maka dari itu, hasrat keinginan kian menjerit untuk mengekspresikan diri, termasuk memberi tanggapan atas serentetan soal yang menjadi persoalan dalam pertikaian ide atau keberbedaan dalam sikap-pendirian antara kami dengan kaum Manikebu. Untuk itulah, seperti telah diutarakan lebih dulu, kami upayakan adanya semacam penerbitan yang tergolong pers alternatif macam Kreasi, Arena dan Mimbar itu. Sekalipun hanya bagaikan setetes air di samudera, kebanding dengan sarana kekuasaan Manikebu/OrBa, tapi tetaplah sebagai pertanda eksistensi kami. Itikad kami. Untuk turut memberikan sumbangan dalam perjuangan untuk
demokrasi dan kehidupan seni dan budaya yang demokratis.

Dalam upaya untuk „hadir dan mengalir" kan ekspresi diri, pada masa itu memang tidak seperti dewasa ini – berkat pemanfaatan alat komunikasi elektronik yang canggih atau internet. Masa itu mesin tik manual dan stensilan masih amat berguna; kemudian fotokopy yang masih sederhana sekali. Kliping atau guntinga koran menjadi bahan amat penting.

Maka dengan hanya modal dengkul dan peralatan serba sederhana, kami memuli upaya penerbitan hasil karya tulis, berupa prosa dan puisi, termasuk esai dan resensi atau naskah opini lainnya.

Sudah sejak awal penerbitanya, Majalah Kreasi, menurunkan naksah-naskah yang baik langsung maupun tak langsung berkaitan dengan perkembangan seni dan sastra di Indonesia. Khususnya yang berkaitan dengan Pramoedya, Lekra dan Manikebu. Dengan ragam macam soal yang dijadikan persoalannya. Seperti soal semboyan „Politik adalah Panglima"; „Seni untuk Rakyat"; „Realisme Sosialis" ataukah „Romantisme Revolusioner"?; Lekra itu organisasi onderbownya PKI dan penganut Marxisme, Leninisme, Komunisme atau bukan?; apakah Manikebu dan KKPI itu sekedar manifes kebudayaan ataukah sekaligus juga merupakan rekayasa politik?: apa-siapa itu penganut Humanisme Universil dan bagaimana dihadapan kenyataan kehidupan masyarakat manusia atau bangsa?: apa-siapa yang melakukan serangan untuk menghitamkan Lekra dan tokoh prominennya macam Pramoedya?; sejauh mana dampak buruk segala propaganda hitam yang dilakukan oleh kekuasaan OrBa dan Manikebu?: sebesar dan seberat apa dampak dari manifestasi aksi
teror putih OrBa dan Manikebu? Dan lainnya dan sebagainya lagi.

Menurut hemat saya, segala soal yang jadi persoalan itu bukan saja masih relevan untuk dikaji diungkap-utarakan, melainkan merupakan tantangan dan kewajiban bangsa ini – khususnya para pekerja kebudayaan, budayawan, intelektual, wartawan, sastrawan, penyair dan seniman serta kaum yang punya rasa tanggungjawab di bidang kebudayaan lainnya. Dengan tujuan untuk mencapai kejernih-cerahan dan dengan demikian memudahkan kita dalam menarik pelajaran dari pengalaman demi tidak mengulangi lagi kesalahan macam masa lalu.

Peristiwa Empat Dasawarsa lalu itu memang bisa dianggap evenement lama, tapi jika ditinjau dari perkembangan sejarah keberadaan masyarakat manusia di Bumi Nusantara, pun ditinjau dari kurun waktu zaman modern Indonesia, kiranya masih belum terlalu lama, bahkan rasanya baru kemarin saja kelangsungannya. Maka, untuk melangkah menelusuri seraya membina peradaban dan budaya yang manusiawi, bukannya yang tipe adab dan budaya kampungan seperti kata Pramoedya, dewasa ini kita ditantang untuk bercermin dan memeriksa diri. Supaya lebih memiliki rasa integritas, harga diri dan percaya diri sebagai manusia, sebagai bangsa Indonesia. Hanya dengan demikian kita bisa melangkah maju membawa kemajuan dalam kehidupan berbangsa yang berbudaya lagi beradab.

Serangkaian naskah sekitar Pramoedya-Lekra dan Manikebu ini saya maksudkan sebagai sumbangan pribadi semau-sekuat-bisa saya dalam rangka upaya tersebut diatas. *** (27.11.2007)

Sphere: Related Content

Makalah Goenawan Mohamad di Rumah Dunia

Salam,

Berikut saya kirimkan makalah Goenawan Mohamad untuk pertemuan di Rumah Dunia, Selasa 27 November 2007, pukul 14.00. Kebetulan saya yang menyertai Mas Goen.

Kami berangkat dari TUK pukul 11.00 melalui jalan tol yang padat dan di beberapa titik macet total. Bubun, supir Mas Goen yang sudah bertugas selama 13 tahun sangat lihai mencari ruas jalan yang kosong. Kami tidak terlambat. Pukul 12.30 WIB kami sudah sampai di jalan masuk menuju Komplek Hegar Alam Rumah Dunia. Mas Goen mengira acara pertemuan akan dimulai pukul 13.00. Di dekat rel kereta api, kami berhenti, Mas Goen terlihat sibuk mencari-cari waktu acara di sebuah pesan pendek yang dikirim Gola Gong, ternyata acara akan dimulai pukul 14.00.

Di pinggir kanan jalan, terpampang sebuah spanduk dengan tulisan "Selamat Datang Agen Imperialis, dan Zionis, Boemipoetra" Saya tersenyum membaca tulisan di spanduk itu. Karena acara masih cukup lama dimulai, kami mencari rumah makan untuk santap siang yang lokasinya tak jauh dari tempat tadi.

Pukul 13.45 kami bergerak menuju Rumah Dunia kembali, spanduk tadi sudah tidak ada lagi di tempatnya. Entah kemana. Akhirnya saya tahu dari saudara-saudara di Rumah Dunia, spanduk itu dicopot oleh Saudara Firman Presiden Rumah Dunia. Di tengah perjalanan Mas Goen juga cerita bahwa Wowok, Saut dan orang-orang Boemipoetra marah pada Rumah Dunia karena mengundang Goenawan Mohamad. Padahal yang saya dengar dari saudara-saudara di Rumah Dunia, siapa pun bebas datang ke sana. Pekan sebelumnya Taufiq Ismail telah mengisi pertemuan di Rumah Dunia.

Saudara-saudara di Rumah Dunia menyambut kami dengan hangat. Terima kasih untuk Gola Gong, Firman, Aji, Tyas, penasehat, dan relawan Rumah Dunia yang berjumlah puluhan, dan para peserta pertemuan yang saya hitung jumlahnya mendekati 100 orang.

Dalam pertemuan itu Mas Goen lebih banyak cerita pengalamannya ketika membangun TEMPO, hingga pembredelan tahun 1994 yang akhirnya TEMPO terbit kembali di tahun 1998. Untuk reportase acara tersebut, biarlah reporter Rumah Dunia yang memberitakannya.

Mas Goen sudah menyiapkan makalah untuk pertemuan tersebut. Anda bisa baca di:

http://www.utankayu.org/in/index.cfm?action=detail&cat=news&id=29

Salam

Guntur


Mohamad Guntur Romli
http://guntur.name/

Sphere: Related Content

Undangan: Apresiasi Humor< Ketawa Cara Papua

APRESIASI KOMEDI MEMERINGATI HARI AIDS

Acara : Para-para Pinang (Cara Papua Ketawa)
Hari : Jumat, 30 November 2007
Pukul : 15.30 – 18.00 WIB
Tempat : Yayasan Umar Kayam, Perumahan Sawitsari I-3,
Sleman Yogyakarta
Info : 0274 885887 (Anggit) dan 0818469457
(Sholahuddin)


Dengan hormat,

Seperti halnya orang Indonesia pada umumnya, Papua
juga memiliki budaya ndagel di antara mereka. Acara
ini biasanya mereka adakan ketika hari beranjak sore,
di bawah pohon rindang dan dilakukan sembari mengunyah
buah pinang dicampur dengan daun sirih. Inti acara ini
adalah saling melempar mop (joke) untuk menghilangkan
kepenatan. Tetapi tidak jarang ini juga menjadi media
untuk menyampaikan kritik di antara mereka.
Sedemikian merakyatnya para-para pinang ini, TVRI
Papua pun menyiarkannya dengan menampilkan komedian
lokal di sana. Menurut Leo Kawab, sesepuh mahasiswa
Papua di Yogyakarta, tidak jarang para komedian itu
juga menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah
yang dianggap tidak pas. "Hingga sekarang saya belum
dengar ada masalah dengan kritik-kritik itu karena
disampaikan dengan humor. Malah biasanya para pejabat
itu tertawa-tawa," katanya
Menurut Shola, pengelola Jojoncenter, Apresiasi Humor
kali ini adalah tawaran rekonsiliasi terhadap
ketegangan multietnis dan multikultur akibat
kesenjangan sosial dan budaya yang semakin merebak di
Yogyakarta. Dan tak ada yang lebih efektif dari media
rekonsiliasi itu selain pengenalan budaya
masing-masing suku. "Dan humor adalah salah satu yang
paling efektif," tegas Shola.
Akhirnya, orang mungkin membayangkan bahwa akan
menarik jika Ketoprak dibawakan dengan bahasa Papua
dengan logat Jawa. Sama menariknya dengan Para-para
Pinang ini yang akan dipertunjukkan dengan bahasa
Indonesia—atau bahkan sesekali diselipi dengan
segelintir bahasa Jawa kaku—dengan aksen orang Papua.
Penasaran melihat kepiawaian melawak para mahasiswa
Papua? Sa tak sabar menantinya….

Hormat kami


Yogyakarta, 25 November 2007

Sphere: Related Content

DeKaVe: Berkomunikasi Lewat Tanda (Visual)

"DeKaVe: Berkomunikasi Lewat Tanda (Visual)" di Situs Desain Grafis
Indonesia pada kategori Academic Writing: ringkasan makalah Sumbo
Tinarbuko, dipresentasikan hari ini 28 November 2007 pada seminar
humas Universitas Negeri Yogyakarta (d/h IKIP Yogyakarta).

http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/11/28/dekave-berkomunikasi-lewat-tanda-visual/

Sphere: Related Content

Asahan Aidit: Sastra tak bisa dihambat rasa iri hati




Asahan Aidit:
Sastra Tak Bisa Dihambat Rasa Iri Hati

PADA usia 69, ia masih terlihat sehat dan segar. Suhu dingin menusuk tulang di pengujung musim gugur tak menghambatnya menyambut ramah Tempo di tepi jalan. Asahan Aidit kemudian mengajak menyusuri lekuk liku kompleks tempat tinggalnya di Hoofddorp, daerah pinggiran Schiphol, Belanda.

Rumah petak bertingkat yang dihuninya tipikal rumah-rumah
pinggiran kota. Di sanalah ia menetap sejak 1984. Istrinya, Sen--seorang
perempuan Vietnam--sedang ke luar rumah. Detak jam tua di atas lemari
terdengar seperti waktu yang terus mendesak.

Banyak sudah peristiwa yang dilalui pria kelahiran Tanjung
Pandan, Belitung, 4 Desember 1938, ini. Sebagai anggota PKI dan adik Dipa
Nusantara Aidit, dia tertahan di negeri jauh, dimusuhi banyak orang, dan
beberapa kali terpaksa mengganti nama.

Semua luka itu belum kering, tapi Asahan menganggapnya sudah
berlalu. Baginya, yang terpenting sekarang adalah hidup tenang bersama sang
istri. "Saya bukan utopis," katanya. "Saya realistis. Dunia berubah,
masa lalu tertinggal di belakang." Dia kini menenggelamkan diri dengan
dunia yang dicintainya sejak dulu: menulis prosa dan puisi. Sambil
menghirup kopi panas, ia menuturkan banyak hal kepada Asmayani Kusrini dari
Tempo.

Bagaimana pergaulan Anda sebagai sastrawan pada 1960-an?
Saya bersastra sendirian. Saya bukan anggota Lekra (Lembaga
Kebudayaan Rakyat--Red.), meski saya tahu tokoh-tokoh Lekra. Abang saya
sendiri, Sobron Aidit, adalah tokoh Lekra yang aktif. Saya kadang-kadang
ketemu mereka, Agam Wispi misalnya. Tapi saya juga ketemu semua orang.
Saya mengirim sajak ke mana-mana, tidak terbatas pada terbitan Lekra.
Waktu itu sajak saya belum banyak, tapi sudah masuk Mimbar Indonesia,
Waktu, dan lain-lain.

Apa tema puisi Anda saat itu?
Bebas. Saya enggak pernah membuat program dan membatasi diri
dengan tema tertentu. Begitu terpikir apa saja, saya tulis. Saya lihat
kehidupan gembel atau pelacur di Jakarta, ya, saya tulis.

Anda tidak bergabung dengan kelompok sastrawan mana pun?
Enggak, sama sekali tidak.

Mengapa tidak?
Memang tidak tertarik. Saya hanya merasa, bila saya menulis, saya
tidak mewakili siapa-siapa kecuali diri saya sendiri. Abang saya yang
Ketua PKI tidak pernah bertanya apakah saya anggota Lekra. Dia sangat
peka, dan tahu harus sangat berhati-hati bila berhadapan dengan para
sastrawan atau seniman.

Aidit tak pernah meminta Anda menjadi anggota Lekra?
Bila abang saya salah bertanya, umpamanya, mengapa saya tidak
menjadi anggota Lekra, dia akan terjerumus oleh jawaban saya: "Mengapa
harus menjadi anggota Lekra?" Dan bila dia berani memberikan jawaban, "Ya,
sastrawan komunis harus masuk Lekra, itu wajar saja," pasti akan saya
jawab, "Apakah tanpa menjadi anggota Lekra, keanggotaan PKI saya lalu
batal?"

Bukankah Lekra identik dengan PKI?
Seniman atau sastrawan selalu makhluk rumit. Karenanya, PKI tidak
pernah mengendalikan Lekra seperti yang banyak dipikirkan orang.
Makhluk liar itu bila dikendalikan siapa saja akan cepat bubar dan
berantakan. Lekra tidak pernah bubar selama berdampingan dengan PKI karena PKI
bisa memahami kepekaan makhluk liar itu dan membiarkan keliarannya dalam
pengaruh baik PKI.

Ada contoh keanehan seniman Lekra?
Jangan jauh-jauh. Sobron waktu itu sudah terkenal namanya sebagai
seniman dan penyair. Suatu hari, saya saksikan dia datang ke rumah,
ngobrol. Dengan spontan dia cerita, "Wah, saya baru saja baca buku. Bagus
banget." Buku apa? Dale Carnegie. Judulnya How to Win Friends and
Influence People. Menurut Sobron, dia sudah mempraktekkan ilmu dari buku
itu. Ternyata hasilnya luar biasa.

Apa anehnya membaca buku Dale Carnegie?
Karena buku itu menganjurkan pembacanya rajin memuji orang lain
sehingga orang tersebut mengikuti kemauan kita. Abang saya, Aidit,
mengatakan, "Itu kan ilmunya borjuasi, ilmu untuk nipu orang." Saya pikir
betul juga. Memuji-muji orang supaya dia senang sama kita, itu kan nipu.
Itu beda banget dengan ideologi komunisme. Komunisme itu menyenangkan
kehidupan rakyat. Tapi pengaruh buku itu sangat kuat pada diri Sobron.
Sampai kematiannya, ia punya teman banyak di mana-mana. Dia pandai
bergaul. Itu bukan bakat. Ada ilmunya itu.

Jadi bagaimana persisnya PKI memandang Lekra?
Isi kepala seorang seniman sulit diubah. Partai menyadari seniman
sangat sulit diurus. Tapi bahwa ada Lekra, ada organisasi seniman, itu
baik. Lekra bukan organisasi revolusioner. Orientasinya kepada rakyat.
Dia mempromosikan kesenian rakyat. Itu kan baik semua. PKI tidak punya
kuasa atas Lekra. PKI tidak pernah menyuruh ini-itu ke Lekra. Enggak
mungkin bisa.

Bukankah orientasi kepada rakyat merupakan program PKI?
Di sini kan yang penting garis. Garis PKI tidak ada dalam Lekra.
Kalau sejalan, ya. Itu karena dia punya moto: kesenian mewakili rakyat.
Itu sesuai dengan cita-cita PKI. Tapi bukan berarti Lekra sudah jadi
cabang suara PKI. Itu sama sekali tidak benar. Lekra sangat sulit
dikemudikan. PKI menyadari soal itu, jadi boro-boro mau ngasih instruksi.

Anda menyukai kebebasan. Karena itu, tak mau bergabung dengan
Lekra?
Lekra saya anggap terlalu antusias. Mereka sangat antusias
membatasi karya untuk rakyat. Pokoknya, harus mewakili rakyat! Galak, deh.

Ketika Manifes Kebudayaan diumumkan, Anda di Moskow. Apa pendapat
Anda tentang soal itu?
Tentang Manifes Kebudayaan, saya tidak banyak menerima informasi.
Bahkan di dalam partai sendiri tidak pernah ada diskusi mengenai itu.
Saya dengar pembicaraan dalam koridor universitas dari sesama teman
mahasiswa Indonesia. Situasi yang saya dapatkan ketika itu ialah kalangan
militer semakin panik karena meningkatnya pengaruh PKI di tubuh mereka.


Sikap kalangan PKI sendiri seperti apa?
Ketua PKI pernah mengatakan, "Siap-siap bila piring mangkuk akan
berpecahan." Peringatan itu lalu ditafsirkan orang secara salah kaprah,
terutama sesudah G-30-S, seolah PKI akan mengadakan pemberontakan.
Padahal peringatan semacam itu justru karena PKI, yang menempuh jalan
damai, harus pandai karena tidak punya senjata dan tidak bermaksud
memberontak, agar menyiapkan diri pagi-pagi untuk mempertahankan diri,
menyelamatkan diri.

Setelah puluhan tahun, aktivis Lekra, Kohar Ibrahim, menulis bahwa Manifes Kebudayaan mempanglimakan politik kaum militer. Mereka, menurut dia, menjalankan politik yang paling kotor dan keji. Apa pendapat Anda?
Kohar Ibrahim adalah teman baik saya. Saya menghargai
pendapatnya, tapi bukan berarti saya setuju dengan semua pendapatnya. Seperti yang
sudah pernah saya katakan, panglima saya adalah saya sendiri. Panglima
orang lain panglima orang lainlah. Perdebatan antara Lekra dan penanda
tangan Manifes Kebudayaan sesungguhnya perang Pram (Pramoedya Ananta
Toer-- Red.) pribadi dengan mereka. Tidak bisa kita katakan bahwa itu
adalah perdebatan antara Lekra dan Manifes Kebudayaan. Coba aja baca.
Semua itu kan kata-kata Pramoedya?

Jadi Pramoedya tidak mewakili Lekra?
Pram tidak mudah mewakili orang banyak. Perdebatan itu tidak
seratus persen Lekra versus Manikebu. Yang pokok itu Pram. Itu adalah
bahasanya Pram, bukan bahasa Lekra. Lekra itu kan banyak? Enggak mungkin
mereka menyuruh Pram ngomong. Pram aja yang jawab semua. Coba saja lihat
seniman-seniman sekarang. Jangankan dulu, sekarang saja seniman-seniman
masih berkelahi enggak jelas. Seniman itu enggak mungkin disetir.
Masak, anggota Lekra begitu mudahnya disetir oleh PKI? Enggak ada itu.

Mencuatnya kembali perdebatan lama antara Manifes Kebudayaan dan Lekra apakah bermanfaat bagi generasi sekarang?
Tergantung perkembangan perdebatan itu sendiri. Mungkin saja
masih ada manfaatnya, tapi mungkin saja tidak, dan hanya menimbulkan rasa
perseteruan yang terbangunkan kembali, dan tidak produktif. Namun
perdebatan yang tergelincir kembali mempersoalkan sastra untuk siapa, seni
untuk seni, seni untuk rakyat, humanisme universal, realisme sosialis,
dan semacamnya sudah tidak pada tempatnya dan kontraproduktif di abad
kita sekarang ini.

Mengapa kontraproduktif?
Jangan menjegal jauh-jauh, dan menetapkan sastra untuk siapa, dan
harus bagaimana. Itu akan mematikan kreativitas, bahkan bisa
menghambat perkembangan sastra itu sendiri. Sastrawan sebaiknya lebih banyak
memikirkan bagaimana karyanya bisa menarik dan enak dibaca, daripada
terlalu sibuk memikirkan atau menentukan saya menulis untuk siapa dan
mengabdi apa.

Apa salahnya berpikir seperti itu?
Buat apa berpikir mengabdi siapa: rakyat atau seni? Kalau
karyanya jelek, akhirnya tidak untuk siapa-siapa dan tidak mengabdi apa-apa
kecuali menghasilkan tumpukan kertas tak berguna, yang bak "pencalang
sarat tiada ke timur tiada ke barat". Tapi, kalau perdebatan beralih ke
arah penilaian kembali perkembangan sastra Indonesia ataupun
kemacetannya, dan menemukan sebab-sebabnya, itu mungkin akan punya nilai produktif.


Anda melihat sastra Indonesia mengalami kemacetan?
Sastra Indonesia, baik modern maupun klasik, terlalu sedikit yang
"go international". Sedikit yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing,
terutama ke dalam bahasa modern seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan
Spanyol.

Apakah masih mungkin muncul manfaat dari perdebatan sastra?
Bila bisa mengarah ke satu perdebatan produktif dan menemukan
pemikiran-pemikiran baru, perdebatan apa pun bisa bermanfaat. Tidak
tergantung apakah "lagu lama" atau "barang basi". Jadi kita tak perlu
cepat-cepat apriori menyetop perdebatan antara Lekra dan Manifes Kebudayaan.
Indonesia sedang ketagihan, bahkan maniak, berdebat dan bertengkar, dan
ribut-ribut. Jangan semuanya disetop. Kadang-kadang masturbasi verbal
juga perlu dilampiaskan.

Ada yang menuding Anda mendiskreditkan dan mengkhianati abang
sendiri, setelah membaca buku-buku Anda.
Tudingan itu pernah saya jawab melalui Internet. Saya katakan,
jelas orang yang menuding demikian tidak membaca buku-buku saya, atau
membaca tapi tidak mengerti. Atau dia cuma dengar-dengar, lalu karena rasa
sentimen terhadap saya, menyerang dan ingin merusak nama saya. Semacam
pembunuhan karakter terhadap saya. Dan yang terjadi adalah "Anjing
menggonggong kena lindas kafilah".

Mengapa Anda menyebut diri sendiri komunis abangan?
Saya menulis roman memoar berjudul Alhamdulillah. Artinya, ada
yang bersifat memoar, tapi pada pokoknya adalah sebuah karya fiksi. Roman
saya yang terdahulu, Perang dan Kembang, sepenuhnya novel. Tapi, dalam
sebuah resensi di Kompas, penulis resensi memperlakukan roman itu
sebagai otobiografi saya. Itu kekeliruan besar. Saya tidak menulis roman
otobiografi.

Mungkin karena sang tokoh dalam roman itu menyebut dirinya "Aku"?
Kalau protagonis dalam roman itu menyebut dirinya "Aku", itu
tidak bisa diidentikkan sebagai sang penulis roman. Bila sang protagonis
mengakui dirinya sebagai "komunis abangan", itu kan bisa diartikan
sebagai otokritik darinya dan juga mungkin bisa berlaku pada banyak orang
lain yang sebarisan atau sejenis dia. Kalau tuduhan otomatis dilemparkan
kepada sang penulis, itu sudah terang bukan pendapat pembaca yang
cerdas.

Banyak hal sekarang sudah berubah. Apakah Anda juga mengalami
perubahan ideologi atau pemikiran?
Tentu saja saya turut berubah dan, karena itu pula,
pikiran-pikiran baru saya ditentang oleh sementara orang, terutama sebagian kecil
orang bekas satu kandang dengan saya di waktu lalu. Pikiran baru saya
harus dicari dalam berbagai buku yang saya tulis, yang sudah diserang oleh
sejumlah kecil orang.

Sebagai sastrawan eksil, apakah Anda merasa terpaku pada Tanah
Air dan itu menjadi semacam pagar kreativitas?
Saya menulis tentang manusia-manusia bangsa saya dan di tanah air
saya, tapi saya juga menulis pengalaman-pengalaman selama berada di
luar negeri, terutama ketika masih jadi mahasiswa di berbagai negeri.
Saya tidak punya "pagar kreativitas", tapi memang kadang-kadang menemui
"kebuntuan kreativitas".

Apa yang Anda lakukan ketika mengalami kebuntuan dalam berkarya?
Bila itu terjadi, saya tak memaksa diri. Tenang saja di rumah,
dan mulai membaca secara lebih intensif. Bagi saya, membaca dan
berkreativitas sama pentingnya. Dua-duanya saya lakukan bila ada hasrat. Bila
sedang tidak ada hasrat, saya jalan-jalan sepanjang hari dan "persetan
dengan sastra!" hingga "setan" itu kembali menyalami saya. Pemaksaan
dalam kreativitas adalah kegagalan, dan itu sangat membunuh semangat.

Bagaimana cara Anda mengikuti perkembangan dunia sastra Indonesia
sekarang?
Saya terpisah dengan Tanah Air begitu lama, bahkan akan hampir
seumur hidup. Sastra Indonesia saya ikuti dari buku-buku yang sebagian
besar disuplai oleh teman saya, Ayip Rosidi. Belakangan juga dari
berita-berita tak seberapa di Internet. Saya tidak bisa melihat
perkembangannya dari dekat dan langsung. Hak bicara saya sangat sedikit, atau mungkin
saya tidak punya hak bicara.

Apa penilaian Anda terhadap sastrawan dari generasi lebih muda?
Saya kira munculnya seorang Ayu Utami dalam sastra Indonesia
modern bisa membuka perspektif yang menginternasional. Dia seorang
pengarang wanita yang berani mengatakan semua saja yang dia rasakan, lihat, dan
alami dengan bahasa jelas, terus terang, tapi tidak banal. Bahkan
terasa mendalam meskipun terkadang bisa berdiri bulu kuduk. Tapi justru di
sini salah satu keunggulan Ayu Utami.

Tahukah Anda, gaya penulisan Ayu Utami diserang oleh beberapa
pengarang lain?
Dia masih banyak keunggulannya yang lain, dan itu bagi pengarang
yang tidak satu selera dengannya bisa menimbulkan rasa iri hati. Tapi
kesusastraan tidak bisa dihambat hanya dengan iri hati. Sastra selalu
kompetisi yang tak habis-habisnya, dan para pemenang silih berganti. Ada
yang menjadi pemenang klasik, ada yang macet di tempat, ada yang
tenggelam sama sekali.

Mungkinkah ada hegemoni dalam dunia sastra?
Sastra tidak cuma estetika semata, tapi juga ideologi, bahkan
bisa politik. Tapi sastra juga sebuah kamar kosong yang bisa dimasuki
siapa saja, lalu memberikan papan nama pada pintunya masing-masing. Sastra
bukan sebuah gedung raksasa milik orang-orang tertentu, melainkan
berjuta-juta kamar kosong yang menunggu peminat dan pemiliknya. Lalu setiap
peminat sastra bisa mengetuk sendiri kamar-kamar mana yang dia sukai
setelah dia berkenalan dengan si pemilik kamar.

Di antara pemilik kamar bisa terjadi pertengkaran?
Bila terjadi pertengkaran di antara tetangga kamar sastra,
sebaiknya jangan sampai main bakar. Setiap sastrawan punya hak atas
kebebasannya sendiri-sendiri. Boleh bertengkar, tapi tak perlu mengarah ke
ekstremitas. Bangunlah kompetisi yang sehat dan menyehatkan sastra itu
sendiri.

+++++

Asahan Aidit

Tempat dan tanggal lahir:
Tanjung Pandan, Belitung, 4 Desember 1938

Pendidikan:
Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1961
Magister, Fakultas Filologi, Moskow, 1966
Doktor, Universitas Hanoi, Vietnam, 1978

Kegiatan:
Mulai menulis sejak 1950-an.
Kumpulan puisi dan prosanya diterbitkan dalam berbagai buku.
Menjadi eksil sejak 1962, tinggal di berbagai negara: Uni Soviet, Cina, dan Vietnam. Sekarang menetap di Belanda.

(Wawancara Majalah Tempo, 25 November 2007)
* Wawancara ini sudah dimuat dalam majalah "TEMPO" edisi 26-11-2007


--
asmayani | kusrini
http://www.rumahfilm.org/

Sphere: Related Content

27 November 2007

Reyog Mendemo Kedutaan Malaysia di Jakarta

Beberapa menit lalu, saya terima telpon dari seniman
Reyog Ponorogo. Mengabarkan bahwa, ratusan seniman
reyog dari Jawa dan luar Jawa, akan mengepung Kedutaan
Besar Malaysia di Jakarta, Kamis lusa, pukul 10.00
pagi sampai selesai. Mereka akan berunjuk rasa, karena
tidak terima hak cipta reyog dicolong Malaysia
(setelah menyolong lagu, batik, cerita rakyat dll).

Para wartawan diminta dukungannya, dengan meliput
acara ini, dan memberitakannya secara luas.

Salam budaya. (ysh)

Sphere: Related Content

ADGI Jakarta Chapter

News: "Adgi Jakarta Chapter-Member Recruitment and Gathering Night 2007"

http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/11/27/adgi-jakarta-chapter-member-recruitment-and-gathering-night-2007/

Sphere: Related Content

Terangnya Nyala Terang Benderang

Hidup Mati Penulis & Karyanya (18)
Pramoedya - Terangnya Nyala Terang Benderang

Oleh: A.Kohar Ibrahim

http://16j42.multiply.com/journal/


Komposisi 7 – karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim


SEMUA yang mengarah ke atas pasti ketemu di satu titik tuju. Ini bukan ide atau teori kutipan dari Karl Marx, bukan pula dari Dipa Nusantara Aidit, melainkan kuambil inti maknanya dari seorang pemikir agamis. Dan aku mengadopsinya, bukan secara dogmatis, melainkan secara praktis sebagai pelukis. Baik dalam penerapan teori perspektif maupun dalam memvisualisasikan imajinasi bahkan fantasi yang paling fantastis sekalipun. Di dalamnya sudah terkandung titik benih gerak hidup yang menghidupkan dengan segala variasi ke-dinamika-annya. Dari awal muawalnya sampai pada akhirnya – yang sebenarnya tanpa akhir melainkan lanjut berkelanjutan tiada kenal kesudahan.

Di bidang senirupa, contoh-contoh atau bukti-bukti perwujudannya tiada terperikan banyaknya. Dalam berbagai tendensi, gaya maupun ragam macam atau variasinya. Begitupun di bidang-bidang kesenian lainnya, seperti seni musik dan seni suara. Dan begitu pula di bidang kesusastraan. Tak terbilangkan jumlahnya, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Dari sekian perwujudan dalam bentuk maupun isinya, pengungkapan gelap-terang dengan mem-primadona-kan cahya sekalipun hanya setitik cahya adalah yang paling memikat hati dan pikiranku ; yang paling menggugah bahkan mengundang gugatan dalam jiwaku. Seperti contohnya – dalam senirupa – Rembrandt dengan La Ronde de Nuit atau De Nachtwacht; atau yang men-sublim-kan cahya, seperti Deux Hommes Regardant la Lune karya Caspar David Friederich dan Renée Magritte dengan L'Empire de Lumière atau Kerajaan Cahya-nya.. Sedangkan contoh lainnya, yang tak kurang pentingnya adalah karya lukis Edvard Munch dengan « Scream »nya ; juga karya-karya pelukis Tiongkok dan Jepang yang mengungkap-angkat burung legendaris Feniks atau Fenghuang. Yang kesemuanya itu hanya untuk sampai pada kesimpulan yang membikin hatiku senang pikiranku terang benderang. Karena lebih memahami akan makna gerak kehidupan nan abadi ; patah tumbuh hilang berganti. Seperti burung Feniks atau Fenghuang. Seperti nyala
api, yang tersimpan dalam tabunan atau dalam sekam.

Pengertian yang telah menjadi keyakinanku inilah yang antara lain amat membantuku untuk bertahan dan bahkan menjaga semangat untuk menghayati hidup dan kehidupan. Betapapun beratnya ujian. Dan pula yang membuatku tidak jatuh sakit syaraf atau sinting, seperti yang dialami sejumlah teman-temanku – sampai dirawat di Rumahsakit, bahkan sampai nekad terbang dari gedung tinggi tingkat sembilan !

Begitulah, dalam kaitan kehidupan perjurangan di bidang penerbitan dan kesusasteraan, setelah melalui periode kegelapan yang paling gelap, toh akhirnya ada titik terang. Titik yang menjadi titik titik terang, yang kian lama terangnya seperti pelita atau dipa, atau seperti obor di malam gelap gulita. Terang benderang.

Dahsyatnya ! Titik cahya teang seperti pelita, seperti obor itu, munculnya bukan dari belantara gedung pencakar langit Ibukota Jakarta, bukan pula dari rimba Sumatera atau Borneo, melainkan dari Pulau Buru ! Dari tengah-tengah Kamp Konsentrasi Kerja Paksa kaum Tahanan Politik rezim OrBa. Gulag Archipelago Nusantara: dengan sosok agungnya bukan bernama Soljenitsyne, melainkan Pramoedya Ananta Toer. Sang Dipa Pulau Buru. Sang Lentera Nusantara. Tak kalah terangnya seperti Dipa Nusantara yang telah dipadam-benamkan oleh manifestasi aksi kebiadaban budaya kampungan Pulau Jawa!

ADALAH David Hill yang menggemakan kabar akbar akan sejumlah orang-orang Tapol yang meski sudah berbadan lemah, kurus-kering, sakit-sakitan terkena dera derita panjara dan kamp konsentrasi kerjapaksa Pulau Buru, namun mereka masih menjaga semangat dan komitmen yang telah mereka pateri: keberpihakan pada rakyat, membela kebenaran dan keadilan serta upaya untuk menjadi manusia. Dengan bukti dari aktivitas-kreativitas mereka di bidang seni yang digeluti. Di ujung tahun 70-an di awal tahun 80-an kehadiran kembali mereka memang kehadiran dengan hasil karya. Pramoedya Ananta Toer dengan Bumi Manusia-nya. HR Bandaharo dengan pertanyaan yang menggugah sekaligus menggugatnya: Dosa Apa. Sedangkan Putu Oka Sukanta dengan Selat Bali-nya.

Berkenaan dengan Selat Bali Putu Oka Sukanta ini, kiranya Pengantar dari Joebaar Ajoeb cukup signifikan untuk dicatat dalam lembaran sejarah perpuisian kita.

„Orang gila, biasa bicara sendiri," kata Ajoeb. « Padanya tidak ada masalah seni bertanggung jawab. Ia tidak pedulikan. Ia fasik."

"Tapi, penyair bukan." Tegas Ajoeb. "Sekali lagi bukan orang gila. Dan bukan pula ia manusia luar biasa. Maka itu ia bukan monyet. Ia manusia. Biasa. Biasa saja. Hanya ia peka. Ia tahu pemahaman arti kata dan hidup. Ia mahfum. Kalau ia berkata. Ia berkata pada manusia. Pada cakrawala kebudayaan dan peradaban. Dan sebagaimana juga orang biasa, penyair pandai berhitung. Membuat perhitungan melalui angka-angka bahasa. Puisi dalam hal ini."

Menurut Joebaar Ajoeb, „Selat Bali Putu Oka ini ada mengatakan sesuatu. Tentang pengalaman batin pikiran dan hatinya. Tentang alur sejarah yang ia lalui. Ada kesenduan tertentu pada sementara sajaknya. Tapi kesenduan-kesenduannya membawakan sejumlah makna. Kadang-kadang ia berhasil menemukan makna pada kekuatan kata. Pada ketiak kalimat dan pengalaman hidupnya. Jika ia menemukan makna, ia lalu ceria, karena ia senang pada makna. Ia mencari kebenaran-kebenaran, sebagai saudara kandungnya keindahan, kesenduan, keceriaan, makna dan kebenaran. Kebenaran dan keindahan adalah zat yang diperlukan manusia. Manusia Indonesia masa kini dan besok."

Maka memang benarlah yang benar seperti yang diutarakan oleh Joebaar Ajoe sang direktur penerbit Inkultra itu, pun bisa kita nikmati dalam salah sebuah sajak Putu Oka berjudul Kelahiran Kembali.

*

Kelahiran Kembali

aku berpotret di kaca kaca etalage
memberi salam kepada siapa berlalu
sekalipun tak dikenal
rinduku pada sahabat
tangan siapa pantas dijabat?

ada nyanyi tak pernah mati
gelisahnya hati menanti

pintu pintu mulai meregang
permisi ; kalau boleh aku akan masuk
bukanlah orang asing di tanah air
permisi; aku telah sowan kembali

hanya jalan setapak diperlukan pejalan kaki
bagiku hari ini adalah kelahiran kembali
untuk ikut menabur dan menuai puisi

*

Kelahiran ya katakanlah kehadiran kembali seorang Putu Oka, seorang Banda dan seorang Pramoedya yang menggema sampai ke lima benua, meski di tanah air sendiri menjadi orang orang yang tersingkir di pinggir. Dan ketika, meskipun sudah "dibebaskan" dari penjara atau kamp konsentrasi kerjapaksa Pulau Buru, sesungguhnya masih saja hidup tanpa kekebasan yang hakiki. Masih saja hak-hak azasinya diinjak-injak dan tiadanya keadilan. Pun untuk mencari nafkah mereka harus berjuang setengah mati. Sementara itu pula, terorisme OrBa masih terus meliputi kehidupan masyarakat Indonesia secara latent.

Akan tetapi, walau bagaimana pun gelap pengap dan sulitnya keadaan, sejumlah seniman dan penulis serta penyair Indonesia itu masih terus menunjukkan kemampuannya untuk berkreasi. Hal mana mendorongku untuk juga menyimak keadaan di manca negara.

Sungguh! Sesungguhnyalah, aku pun jadi menyadari dan sekali lagi kian menyadari, bahwasanya sekalipun nampaknya diam, namun "diamnya mereka bak api dalam sekam". Kongkretnya, dalam kegiatan tulis menulis, mereka terus menulis sekuat bisa. Meskipun kebanyakan karya tulis mereka hanya tersimpan di dalam laci. Karena berbagai ragam kesulitan. Namun tak urung, mengandung pekik keinginan yang wajar untuk bisa tersiar.

Dalam keadaan demikianlah, maka kami – aku dan beberapa teman penulis lainnya, mengambil inisiatip untuk mengelola penerbitan yang bisa dikategorikan "pers alternatif" yang ada pada waktunya. Baik di Indonesia sendiri, terutama di kalangan pemuda mahasiswa, maupun di luarnegeri – juga terutama dari kalangan pemuda mahasiswa dan orang-orang semacam kami. Penerbitan itu berupa brosur, buku-buku dan majalah. Diantaranya majalah-majalah KREASI, ARENA dan MIMBAR.

Oleh karena itulah, pada awal 1989 di Kempering, Bijlmermeer, saya sempat menulis baris-baris kata berjudul "Hatiku Gembira": Hatiku gembira / menyaksikan lidah lidah api / menari bercumbu kasih / berpeluk mesra / meninggi membesar / bebas dan gairah / dengan udara / yang ku hirup".

Untuk majalah Kreasi nomor 1 (1989), tersajikan baris-baris kata puitis Putu Oka Sukanta: "Salam":
kutinggalkan pematang menabur salam
memahat perjalanan, di dinding dinding benua

*
Sedangkan di rubrik puisi, tersajikan sajak Intan Patriani, seorang penyair dari kalangan buruh, yang cukup signifikan sebagai salah satu bukti pertanda zaman.

Pengembara

Oleh: Intan Patriani

akulah pengembara
dari samudera berbadai-badai
dari benua di mana maut
mengintai di tiap sudut

sering kapalku terbanting
malahan pecah berkeping-keping
tapi begitu kapalku jadi
amboi! ke laut aku kembali

terkadang hatiku jenuh
terasa di dada dahaga meronta minta berlabuh
begitu sauh kubuang dari kapal hendak kutambat
oho, gelombang datang mengajak: -- hayo berangkat!

yah, akulah pengembara
dari hidup tak kenal lelah
tapi rinduku adalah pantai
tempat kasih bermekaran tak pernah luruh
tak pernah usai

*

Dan di dalam Kreasi N° 2 Medio 1989, dengan ilustrasi kulit muka „nyala" api pembakar yang terbakar, tergemakan di samping „Suara" penyair Suprijadi Tomodihardjo juga sajak Cakrawala Terbuka.

*

Cakrawala Terbuka

Oleh: Suprijadi Tomodihardjo


Kenangkanlah
yang terbakar sampai merah
bergelimang di awang-awang
jadi jutaan bintang

Jangan mengaduh
Ada saatnya memang
kita perlu berteduh
minum barang seteguk
dari sendang bening dan sejuk
karena ia menjamu manusia
begitu rela
begitu terbuka

Pun jangan resah
Gemuruh di langit itu
hanya angin lalu
membuka cakrawala
bagi yang setia
dengan luka di dada
menanggung beban jaman
penuh pengorbanan

Kenangkanlah
yang terbakar sampai merah
menyalakan langit
Jiwa Baru kan bangkit

(1987)

*

Sajak-sajak Suprijadi itu terkumpul dalam kupuisi „Suara Seorang Anak Semang", yang telah saya garis-bawahi makna ke-hadir-mengalir-annya yang cukup signifikan. Justeru dalam periode masih berjayanya kekuasaan Bersimerajalela. Ketika, menurut David Hill (1984), „penjara dan kematian memisahkan orang kiri dari lingkungan sastra nasional". Ketika „Sudah satu setengah dasawarsa kaum intelektual yang menentang komunisme dan Sukarno menguasai kehidupan kebudayaan Indonesia."

Tak urung, bagiku fenomena kreativitas tersebut di atas, baik di dalam maupun di luar negeri, sungguh amat signifikan dan karenanya menggembirakan; Justeru selagi memasygulan masih terus saja menggeluti jiwa senantiasa. Fenomena itu, tak ubahnya seperti dipa, seperti pelita, seperti nyala unggun api atau obor di alam berselimutkan kegelap-pengapan. *** (26.11.2007)

Sphere: Related Content

26 November 2007

Pidato Kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta: D Zawawi Imron

http://dkj.or.id/?opt=pages&cidsub=8&pages_id=224&submenu=agenda

Pidato Kebudayaan 2007

Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki - Cikini
Rabu, 28 November 2007, pukul 19.30 wib

Kenapa seolah-olah agama dan seni dipertentangkan? Apakah mungkin seni mendapat wilayah dan kebijakannya sendiri yang dapat ditolerir, seperti agama satu dengan agama yang lain? Mungkinkah seni pada akhirnya mendapatkan otoritas sendiri untuk bergerak sebagai bagian dari ekspresi spiritualitas juga? Dan apakah dengan dalih moral (baca: agama) membuat manusia jadi anti-seni?

"Salah satu yang perlu direnungkan lagi dan lagi adalah hubungan antara kesenian dan spiritualitas. Salah satu aspek dari hubungan itu adalah kebebasan berkesenian. Di satu pihak kesenian justru hanya dapat diminta bertanggung jawab melakukan peran kritisnya ketika ia memiliki kekebasan. Peran kritis itu diperlukan bagi renungan terus menerus untuk kemanusiaan senantiasa bergerak, sehingga tidak ada akhir sejarah. Di lain pihak peran kritis itu akan mengguncang sendi-sendi tertentu yang bagi sebagian orang tidak menyenangkan. Kiranya di sinilah letak pertentangan potensial antara seni dan agama sebagai dua bentuk spiritualitas." - petikan pengantar Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, Marco Kusumawijaya, dalam buku acara yang akan dibagikan dalam malam pembacaan Pidato Kebudayaan 2007.
Petikan pengantar di atas mengemukakan kenapa tema "Spiritualisme dan Kebebasan Berkesenian" menjadi isu yang penting untuk diangkat dalam Pidato Kebudayaan yang akan diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Badan Pengelola Taman Ismail Marzuki (BP-TIM), Rabu, 28 November 2007 mendatang.

Disampaikan oleh Kiai D. Zawawi Imron, Pidato Kebudayaan 2007 akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di awal tadi, bukan sebagai sebuah keputusan akhir, tapi sebagai pandangan atas ruang yang terus bergerak (plastis) oleh manusia itu sendiri, termasuk dalam urusan spiritualitas dan ekspresi keseniannya.

download file Pengantar Pidato Kebudayaan 2007: Marco Kusumawijaya, Ketua Pengurus Harisan Dewan Kesenian Jakarta


Sphere: Related Content