31 Oktober 2007

Hidup Mati Penyair & Puisinya (1): HR Bandaharo -- Penyair Besar Indonesia

Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (1)
HR Bandaharo – Penyair Besar Indonesia
Oleh: A.Kohar Ibrahim
"Manusialah yang barangkali tidak berbahagia,
namun berbahagialah seniman
yang dimamah oleh rindu"
(Baudelaire)
BARIS kata-kata penyair Perancis Abad XIX yang dijuluki sebagai salah seorang pelopor Romantisme sekaligus puisi modern Perancis, disitir oleh seorang penyair tenar di zaman Sukarno, untuk mengawali Kata Pengantar yang ditulisnya untuk kumpulan puisi 3 Zaman. Yakni: HR Bandaharo alias Banda Harahap. Kupuisi (kumpulan puisi) yang dimaksudkan adalah "Sepuluh Sanjak Berkisah", terbitan Yayasan SKBSI dan yang dicetak ulang oleh penerbit "World Citizen Press" Amsterdam, dengan pendaftaran resmi ISBN: 90-72669-01-0. 1987.
Dalam penerbitan cetak ulang yang dieditori oleh saya sendiri itu pun baris-baris kata puitis penyair Baudelaire tersajikan, seperti tersajikannya secara utuh kata pengantar dari Adam Lipsia. Dengan penegas-jelasan, bahwasanya pada saat penerbitan pertama itu penyair HR Bandaharo masih hidup, dan penerbitan kumpulan puisinya itu, dalam rangka sekedar turut memberi tanda akan ulang-tahunnya yang ke-70.
"Sepuluh Sanjak Berkisah", tulis saya, adalah sekedar "echantillon" dari aktivitas-kreativitas seorang penyair rakyat Indonesia yang mendapat perhatian penting dari Indonesianis tenar Perancis: Henri Chambert-Loir. Dengan, antara lain menunjukkan, bahwa "un long poème, Sarinah et moi, qui est certainement son chef d'oeuvre, a été traduit par L.C. Damais in Cent-deux poèmes indonésiens. » (Sastra, Cahier d'Archipel 11.1980 hlm 161).
Iya. Mengingat situasi-kondisi obyektif yang kita hadapi ketika itu, semasa jaya-jayanya zaman Orde Baru yang melakukan pemberangusan secara sewenang-wenang atas kaum seniman, pengarang dan penyair macam HR Bandaharo, betapapun sederhananya penerbitan yang dihasilkan itu, sudah selayaknya disyukuri. « Meski kita punya impian – dalam rangka ultahnya itu adalah lebih patut seandainya diterbitkan sebuah antologi puisi yang betul-betul mewakili kepenyairannya selama setengah abad ».
« Apa boleh buat, » tulis saya meneruskan. Bahwa sampai detik itupun kita belum bisa mewujudkan impian tersebut. Baru sekedar dalam usaha untuk lebih meluaskan terbitan pertama itu. Dalam hubungan ini, mimpi bukan saja boleh…
Iya. Saya memang sengaja menggaris-bawahi soal mimpi dalam kaitannya dengan hidup dan kehidup-matian manusia, apalagi sang penyair, yang tergolong penyair romantis macam Hugo, Rimbaud dan Baudelaire itu !
« Kita mesti mimpi », tulis saya, hanya penegasan semata persetujuan saya akan ujar kata tertulis V. Oulianov sembari menyitir Pissarev akan bagaimana makna-memaknai saling-hubungan impian dengan kenyataan. « Lagi pula, apalah artinya kehidupan itu tanpa impian ? Tanpa adanya suatu cita-cita atau keyakinan dengan segala usaha demi pelaksanaan pencapaiannya ? Dalam artian ini, maka kita akan lebih memahami lagi baris-baris sajak Banda. Sebagaimana kita telah memahami pidatonya yang terakhir di depan para seniman. Hampir seperempat abad yang alu. Di depan Sidang Pleno Lembaga Senirrupa Indonesia. Maka jelaslah konsistensi Banda itu senantiasa menjelujuri kreasinya. Apapun yang telah terjadi. Karena memang, "Apakah yang dapat dimatikan dan dimusnahkan / Pada kepercayaan yang dalam tertanam" sebagai dinyatakan oleh penyair terkemuka Malaysia Usman Awang. Banda sendiri mengukuhkan keteguhannya selain dalam baris kata puitis "tak seorang berniat pulang / walau mati menanti", juga pula baris-baris sajaknya berbunyi:
musim dan tahun cepat melampau
tiada terasa tiada terduga menjadi tua
hanya mimpi yang tinggal tersisa
sekalipun mengabur tetap memukau
Dan dalam sajaknya berjudul "Elegi", secara tegas dinyatakan: "tanpa cita-cita kau adalah musuh dirimu sendiri."
Musim berlalu, tulis saya selanjutnya pula dalam kata pengantar itu. Tahun berganti. Banda telah menjadi seorang penyair yang tua usia. Suatu ketika akan meninggalkan yang lebih muda dan yang muda-muda. Tetapi kreasinya akan abadi. Yang muda-muda, dengan segala impiannya pun akan terus bermunculan. Seperti lidah-lidah api. Seperti burung Feng Huang.
Maka terjadilah apa yang sudah semestinya terjadi. Benar saja, sekian tahun kemudian, sang penyair kelahiran Medan, Mai 1917, itu meninggal dunia pada tanggal 1 April 1993. Di Ibukota Republik Indonesia, Jakarta. Dalam keadaan miskin dan papa.
Naskah-naskah berupa bloknota memoir ini saya susun, dalam rangka mengenang 90-Tahun (1917-2007) HR Bandaharo Penyair Besar Indonesia Yang Takkan Pernah Terlupakan. ***
B, 17 Oktober 2007.
Catatan: Ilustrasi kulitmuka kupuisi "Sepuluh Sanjak Berkisah" HR Bandaharo dan Majalah Kreasi N° 13 Mei 1993, ISSN-0923-4934, Editor D.Tanaera alias A.Kohar Ibrahim.


Sphere: Related Content

Ichwan berburu sampai Ke Eropah

ANDY RIZA HIDAYAT

Tujuh tahun di Eropa, selama itu pula Ichwan Azhari memburu arsip sejarah Nusantara. Perpustakaan swasta maupun kampus-kampus, terutama di Jerman dan Belanda, menjadi tempat favorit yang didatanginya. Ia juga menemui para misionaris yang pernah bertugas di Indonesia.

Pengembaraannya tak sia-sia, mengingat arsip lama sejarah Nusantara relatif tersimpan rapi di Eropa. Banyak dari arsip itu masih utuh, sesuai aslinya. Sebagian hanya tinggal satu sehingga dia tak bisa mendapatkan aslinya.
Padahal, arsip-arsip langka itu sangat berharga bagi sejarah Indonesia. Beberapa arsip yang ditemukan Ichwan adalah surat kabar terbitan Indonesia (sebagian besar dari Sumatera Utara), peta lama, mata uang logam dan kertas, foto-foto, majalah, buletin, kartu pos, serta sejumlah piringan hitam.

Semua dokumen itu dia gandakan dan sebagian dia beli aslinya. Saat pulang ke Tanah Air tahun 2001, arsip yang didapatkan dari Eropa ikut serta. Sebagian orang sempat mencibirnya sebagai konyol lantaran jauh-jauh dari Eropa hanya membawa "barang rongsokan".

Kini, kumpulan arsip itu menjadi koleksi utama Pustaka Humaniora (Pusra) yang didirikannya pada April 2006. Baginya, pengumpulan dokumen itu penting untuk menyibak sejarah Nusantara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, terutama tentang Sumatera.

"Dari sini kita bisa tahu, ternyata pergerakan sejarah sebelum kemerdekaan tak hanya di Jawa, melainkan di berbagai penjuru Tanah Air, termasuk Sumatera," kata suami dari Netty Herawati ini.

Koleksi Pusra yang didirikannya bertambah lengkap lantaran sumbangan kolega dan berbagai instansi pemerintah. Seluruh koleksi Pusra dikelompokkan menjadi tujuh golongan yang terdiri dari 3.399 jenis. Untuk arsip koran-koran lama, jumlah yang berhasil dia kumpulkan sebanyak 10.000 lembar.

Beberapa koleksi yang membanggakannya adalah koran- koran akhir pada abad-19 yang terbit di Sumatera Utara, prangko zaman revolusi, uang zaman revolusi, dan uang kebon. "Semua ini hanya berlaku di Sumut. Saya sudah cek beberapa museum tidak ada yang mengoleksi, terutama uang kebon dan koran lama," katanya.
Ia mempunyai sekitar 1.800 lembar koleksi prangko dari zaman Belanda, Jepang, dan awal revolusi serta 1.500 lembar uang lama dan uang kebon.

"Awal November ini 6.500 koleksi buku, majalah, dan koran lama kami dipinjamkan untuk perpustakaan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Unimed (Universitas Negeri Medan)," ujarnya.

Menggabungkan

Ichwan memperoleh sebagian besar arsip sejarah dari Jerman dan Belanda. Penggabungan seluruh arsip dari kedua negara itu menjadi kesatuan data sejarah yang saling melengkapi.

Setelah mempelajari sebagian besar arsip yang didapatkan, kata dia, perusahaan swasta Eropa di Sumatera Utara itu lebih dulu masuk daripada Pemerintah Belanda. Perkembangan ini sangat memengaruhi migrasi penduduk, konflik, kekejaman sistem kapitalisme, intelektualitas, serta dinamika sosial dan budaya masyarakat Sumut, khususnya Medan dan sekitarnya.

"Saya ingin membangun data selengkapnya tentang Sumut pada masa itu," ucapnya. Untuk mewujudkan keinginan itulah, kesempatan mengajar dan belajar di Jerman 1995-2001 dimanfaatkannya guna mencari arsip-arsip pendukung.
Ichwan bercerita, suatu hari, pada masa studi doktoralnya di Jerman, ia mendapat tugas dari sang profesor menemui seorang pendeta yang pernah bertugas di Tapanuli Utara bernama Kawinsky. Melalui pendeta itu, dia tahu bahwa banyak misionaris Jerman yang menyimpan foto, dan tulisan berharga pada akhir abad-19 sampai awal abad-20 tentang Sumut.

Di Jerman terdapat lembaga misionaris terkenal di Wuppertal yang menyimpan Arsip Nommensen dan surat-surat Si Singamangaraja XII. Arsip ini, kata dia, belum dibaca dan diteliti dengan kritis. Sementara di Belanda, Ichwan banyak mendapatkan arsip koran, foto, dan peta lama Sumut.

Berbekal arsip-arsip berharga itu, keinginan Ichwan membangun perpustakaan sendiri semakin kuat. Dalam benaknya, perpustakaan swasta seperti yang tumbuh subur di Jerman dan Belanda mestinya bisa berdiri di Medan.
"Sejarah kita mestinya kita juga yang memiliki dan merawatnya. Tetapi selama ini, justru orang lain yang jauh di sana, yang merawat dan memeliharanya sampai sekarang," ujarnya.

Pendirian Pusra tak lepas dari aktivitasnya sebagai pengajar tamu di Jurusan Indonesia, Fakultas Orientalis, Universitas Hamburg, Jerman, tempat dia juga menyelesaikan studi S-3 tentang sejarah pada 1995-2001. Dari kegiatan itulah, dia bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk mengumpulkan arsip-arsip sejarah.

Mengontrak

Sekembali dari Jerman, Ichwan tingga di rumah kontrakan di Medan. Uang yang dia peroleh selama mengajar dan mendapat beasiswa di Jerman nyaris habis untuk membeli berkas- berkas lama tentang Sumatera. "Itulah harta yang saya bawa dari Jerman."

Belum sempat membuat perpustakaan, ia menyicil dengan menyusun dan mengelompokkan arsip-arsip tua tersebut. Pada tahap ini pula ia mendapat banyak masukan dan tambahan koleksi dari teman-teman di Medan.
Baru pada April 2006 perpustakaan Pusra berdiri dengan lima orang pengelola. Pusra menempati rumah sewaan di Jalan Tuasan 69 Medan, sekitar satu kilometer dari Kampus Universitas Negeri Medan (Unimed).
Pada tahun pertama beroperasi, tamu bisa menikmati perpustakaan secara gratis. Semua pengunjung boleh membaca, tapi tak bisa membawa pulang buku. Pusra menyediakan foto kopi bagi mereka yang ingin menggandakan koleksi penting.

Memasuki tahun kedua, April 2007, pengelolaan perpustakaan diperbaiki sebab ia kesulitan mencari biaya operasional. Selama itu biaya operasional perpustakaan ditutup dari koceknya. Maka, diberlakukanlah sistem keanggotaan. Mereka yang menjadi anggota Pusra dipungut iuran Rp 20.000 per enam bulan. Dana itu untuk perawatan koleksi perpustakaan dan honor lima karyawan.

Selama sekitar 12 tahun, sejak 1995, dana yang dikeluarkan Ichwan untuk Pusra tak kurang dari Rp 500 juta. "Itu hasil menyisihkan penghasilan selama bertahun-tahun juga ha-ha-ha."

Pada perjalanannya, Pusra tak hanya menawarkan koleksinya untuk dibaca dan dipakai sebagai bahan penelitian, tetapi juga melayani penjualan buku "langka" atau buku yang jarang ditemukan di toko buku. Pusra pun berkembang menjadi komunitas, beberapa buku langka, seperti Tan Malaka di Medan, dicetak ulang. Pusra juga menjadi tempat diskusi para mahasiswa.

Pengunjung Pusra semakin ramai, jumlah anggota aktif 169 orang. Setiap hari tak kurang dari 30 pengunjung dari berbagai kalangan, mulai murid sekolah dasar sampai dosen, memenuhi rumah sewaan bertipe 70 itu.

Kompas - 31 Oktober 2007

Sphere: Related Content

Nyoman Gunarsa kecewa

Penjual Lukisan Palsu Bebas

Denpasar, Kompas - Pengadilan Negeri Denpasar memvonis bebas Hendradinata alias Sinyo, terdakwa kasus pelanggaran hak cipta atas karya seniman lukis Nyoman Gunarsa. Dalam amar putusan yang dibacakan selama tiga jam, Selasa (30/10), terdakwa dinyatakan tidak terbukti bersalah.
Majelis hakim yang diketuai Wayan Mertha menyatakan, pelanggaran yang dilakukan Sinyo sebatas pelanggaran pidana biasa terkait dengan Pasal 380 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai penjualan barang palsu.

Menurut pendapat hakim, indikasi pemalsuan terlihat dari tanda-tangan pada lukisan yang tidak identik dengan tanda tangan Gunarsa yang asli. Namun, hal itu tidak digunakan sebagai dasar tuntutan oleh jaksa penuntut, sehingga hakim tidak mempertimbangkan hal itu dalam putusan yang diambil.

"Lukisan yang dinyatakan palsu oleh pelapor (Nyoman Gunarsa) bukanlah karya bersangkutan, sehingga status hak cipta bukanlah miliknya dan dia tidak memiliki hak untuk memperkarakannya. Apalagi terdakwa hanya mendapatkan lukisan itu dari orang lain," kata Mertha.

Sinyo diduga telah memajang dengan maksud menjual 10 lukisan palsu Nyoman Gunarsa, tepatnya pada tanggal 10 Januari 2000. Kesepuluh lukisan dengan berbagai ukuran tersebut antara lain bertemakan penari dan suasana persembahyangan yang dilukis dengan cat air di atas kertas serta cat minyak di atas kanvas.

Gunarsa kecewa

Gunarsa yang selalu hadir sejak sidang pertama hingga pembacaan putusan tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Dia menyatakan, putusan itu adalah tragedi bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam upaya penegakan hak cipta.

"Ini memperburuk pandangan bangsa asing terhadap lemahnya penegakan hak cipta di negeri ini, karena terdakwa jelas-jelas melakukan pelanggaran hak cipta dengan menempelkan stiker di lukisan yang dijualnya, seolah- olah itu merupakan lukisan saya," kata Gunarsa.

Gunarsa mengaku khawatir, praktik pemalsuan lukisan akan terus terjadi dan semakin banyak dilakukan. Dalam titik tertentu, kondisi itu akan semakin menjatuhkan harkat dan martabat seniman Tanah Air, sekaligus bangsa Indonesia.

Sementara itu Koordinator Tim Jaksa I Nyoman Rudju menegaskan, pihaknya akan mengajukan kasasi karena keputusan hakim tersebut dinilai kurang tepat. (BEN)

Kompas - 31 Oktober 2007

Sphere: Related Content

Pramoedya dan pembersihan


Oleh Ahimsa H. Situmeang

Awalnya saya amat kagum kepada Pramoedya Ananta Toer (PAT). Akan tetapi, setelah saya menggali lebih jauh, dan untung ada "google", tentang apa dan mengapa PAT, saya terkejut sekali menemukan sebuah kliping dari Harian Bintang Timur 9 Mei 1964, berisi satu tulisan PAT. Tulisan itu kelihatannya sebuah sambutan yang bersemangat atas dilarangnya "Manikebu" oleh pemerintah Bung Karno yang terjadi sehari sebelumnya.

Yang mengejutkan saya ialah bahwa PAT bukan saja amat bersemangat atas dibungkamnya suara sejumlah sastrawan (penyusun "Manikebu" antara lain: H.B. Jassin, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Soe Hok Djin). PAT malah menganjurkan "pembersihaan" di kalangan penerbit menyusul pelarangan "Manikebu" oleh pemerintah.

Menurut PAT, "Segala macam kebudayaan kosmopolit yang mendukung dan mengembangkan nihilisme-nasional tersebut benar-benar sudah tidak dapat ditenggang lagi, tak peduli dari mana pun datangnya dan siapa pun pendukungnya".

Maka, kata PAT, memperingatkan: "Kepada instansi-instansi resmi yang setelah 8 Mei 1964, yaitu setelah pelarangan Manikebu oleh Bung Karno, masih meneruskan operasinya, tahun ini juga akan dimintai pertanggung-jawabannya".

Tulis PAT lagi: "Juga pada tahun ini perusahaan-perusahaan penerbitan yang secara demonstratif mempampangkan gigi, bahwa mereka berani menerima dan memobilisasi tenaga-tenaga Manikebu/BPS takkan luput dari keharusan memberikan pertanggungjawaban."

PAT kemudian berbicara tentang perlunya tindakan "pembersihan". Katanya,"pembersihan terhadap penerbit yang menjadi pabrik ideologi gelandangan telah merupakan suatu tantangan bagi semua organisasi kebudayaan yang progresif revolusioner"

Saya sangat terkejut, karena bayangan saya selama ini PAT adalah pembela kemerdekaan bersuara sebagai bagian dari HAM. Tetapi bukankah tulisannya yang saya kutip itu malah menunjukkan Pramoedya sebagai penganjur pembrangusan pendapat yang berbeda?

Jadi, seperti rezim Orde Baru juga yang melakukan "pembersihan" terhadap buku dan penerbit yang dianggap pro-PKI, termasuk karya-karya PAT?

Saya jadi sedih dan guncang banget kekaguman saya kepada Pramoedya.

Mungkin kita perlu menelaah kembali sejarah (terutama sejarah kemerdekaan berekspresi dan berbeda pendapat) di Indonesia. Jangan-jangan PAT ternyata sejajar dengan Taufiq Ismail yang
memperingatkan bahaya "gerakan syahwat merdeka" dalam sastra.


Ahimsa H. Situmeang

-----------------------------

Tulisan tersebut di atas juga sebagai tanggapan untuk Anton

From: Anton, Jakarta
E-mail:
anton_djakarta@yahoo.com

Mengatakan kerja sastra Pramoedya Ananta Toer sebagai Kanonik sastra sangat fatal kesalahannya. Pram lebih dilihat sebagai epos perlawanan yang murni Indonesia. Kehidupannya yang keras adalah sebuah ketekunan intelektual dan ketangguhan manusia sampai pada batas-batasnya untuk melawan kekekuasaan.

Pram adalah salah satu dari jutaan manusia Indonesia yang dibungkam oleh Orde Baru. Mendegradir karya-karya sastra Pram sebagai Kanonik sama saja membungkus sejarah itu sendiri.

Kanonik sastra adalah sebuah gerak imperialis untuk menumbuhkan kekuasaan, sementara Pram adalah nyanyi sunyi untuk melawan kekuasaan. Jadi meng"kanon" kan sastra Pram sama saja menuduh macan loreng menjadi kambing hitam...

Karya-karya sastra Pram di zaman Orde Baru merupakan benang merah yang jelas dari tulisan-tulisan apa yang disebut di jaman Pujangga Baru sebagai "batjaan-batjaan liar" macam : Hikayat Kadiroen, Sair Mata Gelap, Sairnja Sentot, atau Student Hidjo yang dilarang oleh penguasa Belanda pada waktu itu....

Karya sastra Pram besar karena mutu dan epos hidupnya yang bisa menjadi teladan bagi kita melawan kekuasaan dengan kekuatan batin yang tidak mau tunduk....


________________________

Pramoedya Ananta Toer: Tahun 1965 Tahun Pembabatan Total


Oleh Pramoedya Ananta Toer


Dengan dipersenjatai oleh amanat "Banting Stir" Bung Karno di depan MPRS, termasuk di dalamnya asas "Berdikari", amanat Dasawarsa KAA-I, dan amanat Harpenas, Rakyat Indonesia dan para pekerja kebudayaan makin diperlengkapi persenjataannya untuk mengganyang kebudayaan Manikebu, Komprador, Imperialis dan Kontra Revolusi secara total.

Segala macam kebudayaan kosmopolit yang mendukung dan mengembangkan nihilisme- nasional tersebut benar-benar sudah tidak dapat ditenggang lagi, tak peduli dari mana pun datangnya dan siapa pun pendukungnya. Revolusi Indonesia tidak membutuhkan penadahan dan tukang-tukang tadah kebudayaan setan dunia.

Untuk waktu yang lama tukang-tukang tadah ini menadahi segala macam penyakit dunia kapitalis-imperialis pada satu segi, dan secara aktif ikut melakukan pembentukan ideologi-setan pada lain segi."

17 Agustus 1965 yang akan datang, dalam merayakan 20 tahun kemerdekaan Indonesia, kebudayaan-setan ini seyogianya sudah harus tidak lagi mengotori bumi dan manusia Indonesia. Sebagaimana diketahui potensi pengembangan kebudayaan-setan ini masih kuat dalam masyarakat kita, baik yang dilakukan oleh sementara instansi resmi, swasta maupun perseorangan.

Dapat disinyalemenkan, bahwa mempertahankan kebudayaan-setan tersebut, sengaja dilakukan untuk merongrong menanjaknya situasi revolusioner dewasa ini, dan karenanya semakin menanjak situasi revolusioner itu, semakin meningkat cara-cara perongrongan atasnya. Jelas, bahwa mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan-setan ini tidak lagi soal selera sebagaimana mereka selalu mencoba meyakinkany tetapi telah merupakan sistem perongrongan yang terorganisasi. Dan karena itu pengganyangan terhadapnya mau tak mau harus pula secara terorganisasi.

Kepada instansi-instansi resmi yang setelah 8 Mei 1964, yaitu setelah pelarangan Manikebu oleh Bung Karno, masih meneruskan operasinya, tahun ini juga akan dimintai pertanggungjawabannya.

Kepada instansi-instansi tidak resmi atau swasta juga akan dimintai tanggung jawabnya dan keterangan-keterangan ke mana saja produksi kebudayaan-setannya itu dikirimkan.

Penerbit sebaagai alat pembantu pembentukan ideolozi dalam tahun "Banting Stir" in akan dihadapkan pada ujian, sedang penerbit-penerbit gelap yang tidak tercatat, dalam hubungan dengan kedudukannya sebagai alat pembantu pembentukan ideolozi tersebut, adalah sebagai kontra revolusioner.

Sebagaimana diketahui, untuk waktu yang lama penerbit 'Endang' (Jakarta) menjadi produsen buku-buku antikom, demikian juga halnya dengan "Inmajority'. Kemana sajakah buku-buku terbitan mereka ini dikirimkan? Dan bagaimanakah rencana konkret mereka, dan proyek
politik itu berafiliasi pada kekuatan apa?

Sebagaimana diketahui penerbit-penerbit yang menerbitkan karya-karya Manikebu adalah seperti penerbit-penerbit pemerintah, penerbit- penerbit swasta untuk tidak menyebut beberapa nama. Apakah sebabnya penerbit-penerbit tersebut menerbitkannya dan apa sebabnya tidak pernah menarik kembali penerbitan-penerbitan tersebut dari peredaran' Apakah sebabnya ada penerbit yang justru menerbitkan buku-buku plagiat Hamka, sedang sudah diketahuinya karya tersebut adalah plagiat? Bukankah Presiden Soekarno telah menggariskan agar berkepribadian sendiri pada sekitar Konsepsi Presiden tahun 1957? Apakah perbuatannya tersebut mendukung tugas perongrongan, ataukah hanya karena ketamakan belaka?

Juga pada tahun ini perusahaan-perusahaan penerbitan yang secara demonstratif mempampangkan gigi, bahwa mereka berani menerima dan memobilisasi tenaga-tenaga Manikebu/BPS takkan luput dari keharusan memberikan pertanggungjawaban.

Gerakan Manikebu secara dialektik telah menyebabkan organisasi-organisasi massa belajar beraksi dalam satu front persatuan yang bulat. Dan aksi front kini telah menjadi tradisi di Indonesia. Maka gerakan mengembangkan kebudayaan-setan sebagai sistem perongrongan ini secara dialektik pun akan memutuskan aksi-aksi front yang akan datang Perkembangan yang demikian takkan dapat dielakkan, sedang kemenangan-kemenangan baru sama pastinya dengan hancurnya lawan- lawan revolusi.

Dalam tahun 'Banting Stir', tahun 'Berdikari', ketukangtadahan kebudayaan asing sama artinya dengan mempertahankan ideologi lama untuk menyerimpung revolusi, karena ia mempertahankan kondisi lama kondisi di bawah tindakan imperialisme-kolonialis.

Kita masih bisa bertanya sekarang ini, apakah sebabnya buku Z.A. Ahmad, Membentuk Negara Islam masih pada meringis di pinggir-pinggir jalan Jakarta, sekalipun di trotoar, dan apakah sebabnya buku Doktor Zhivago terjemahan Trisno Sumardjo diterbitkan?

Kita masih bisa bertanya bagaimanakah sikap penerbit-penerbit yang selama ini berafiliasi pada "Franklin Foundation" Amerika Serikat, dan karenanya selama ini ikut melakukan agresi kebudayaan di Indonesia? Apakah tanpa bantuan "Franklin Foundation" AS penerbit-penerbit semacam ini masih hidup terus, dan adakah kelangsungan hidupnya dalam alam berdikari justru, karena mendapatkan bantuan gelap, ataukah karena memang telah berdikari sebagai kolone kelima di bidang kebudayaan?

Kita tahu bahwa kebudayaan adalah manifestasi dari kristalisasi kreatif yang telah dicapai oleh suatu taraf perkembangan ideologi. Setiap tindak penadahan atas kebudayaan-setan secara langsung melakukan tindak sabotase terhadap kristalisasi kreatif tersebut pada satu segi, dan terhadap manifestasinya pada segi yang lain. Sedang secara politik penerbit-penerbit demikian membentuk satu golongan tertentu dalam masyarakat dengan ideologi tukang tadah, golongan yang menjadi tawanan jinak imperialisme-imperialisme, dan dengan sendirinya melucuti dari militansi patriotik dan militansi internasionalisnya.

Dengan bersenjatakan 'Berdikari', 'Berkepribadian dalam Kebudayaan, dan 'Banting Stir', pembersihan terhadap penerbit yang menjadi pabrik ideologi gelandangan telah merupakan suatu tantangan bagi semua organisasi kebudayaan yang progresif revolusioner.

Pembersihan ini bukan saja akan mengakibatkan terjadinya perkembangan yang sehat dalam pembinaan kepribadian nasional, juga menghabisi perbentengan terakhir musuh-musuh revolusi. Sedang di bidang sosial- ekonomi secara edukatif akan membantu penerbit-penerbit Manipolis memasuki form-nya sebagai alat revolusi sesuai dengan tuntutan situasi revolusioner dewasa ini.

Juga di bidang penerbitan, setiap kekalahan pada pihak lawan mengakibatkan
terjadinya kemajuan ganda pada kekuatan revolusioner.

dimuat dalam Lembaran Kebudayaan "LENTERA," Bintang Timoer, 9 Mei 1965

catatan:
Ejaan sudah disesuaikan

Sphere: Related Content

Bagaimana menulis kritik musik yang konstruktif?

Ikuti!!



Diskusi
Kritik Musik


Bersama Slamet Abdul Sjukur

Aksara Bookstore, Kemang


5 –- 6 November 2007, pukul 14.00 – 17.00 WIB

Bagaimana menghasilkan sebuah
tulisan kritik musik yang berkualitas dan konstruktif?


Dewan Kesenian Jakarta

mengundang Anda, terutama wartawan, untuk ikut dalam Diskusi Kritik Musik
bersama Slamet Abdul Sjukur, salah satu maestro musik Indonesia yang
telah mendapatkan berbagai penghargaan internasional. Workshop/diskusi ini bertujuan mempersiapkan wartawan dan kritikus untuk lebih konstruktif dalam tulisan-tulisannya tentang musik (sebagai
bimbingan/arahan).



Segera daftarkan diri Anda!




Hubungi: Ranti Dradjat, telp. (021) 3193 7639

*tempat terbatas untuk 30
peserta, terbuka untuk umum, terutama wartawan.

Klik www.dkj.or.id untuk melihat agenda kegiatan Dewan Kesenian Jakarta.



Sphere: Related Content

Mata-Mata Jogja



Pameran Sketsa dan Fotografi 'MATA-MATA JOGJA'


MENAPAKI KOTA LEWAT SKETSA


Jogja Gallery [JG], Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta

3 - 18 November 2007

Muji Harjo, 'Ngejaman Kraton Yogyakarta', mixed media on paper, 30 x 42 cm, 2007

Perupa yang tampil: Denny 'Snod' Susanto, Deskhairi, M. Alfairuz Hasby, M. Fadlil Abdi, Masriel, Muji Harjo, WM. Hendrik

Kurator: Mikke Susanto

Mengawali bulan November 2007, ruang pamer Jogja Gallery akan dipenuhi karya fotografi koleksi museum di Prancis – 'Objectif Paris' [ruang pamer lantai bawah] dan karya sketsa dan fotografi tentang kota Yogyakarta – 'Mata-mata Jogja' [ruang pamer lantai atas]. Khusus di ruang pamer lantai atas, melalui karya seni yang tergolong sederhana ini, kita akan melihat sebuah 'diorama visual' yang direpresentasikan lewat media pensil, pena, tinta cina dan cat air di atas kertas. Semua sketsa yang terhampar dalam ruang pamer ini difungsikan untuk melacak kembali situasi terakhir kota Jogja. Terdiri dari berbagai hal, mulai dari bangunan tua dan bersejarah [dalam pameran ini ditampilkan foto-foto kuno bangunan yang ada di Jogja sebagai pembanding], hamparan sawah di sebuah desa, potret kehidupan, tetumbuhan, senjata tradisional dan beberapa makanan khas yang masih ada saat ini. Sketsa-sketsa ini dikerjakan oleh tujuh perupa muda yang nota bene telah sekian tahun tinggal dan hidup di Jogja. Dengan berbekal keterampilan akademis, seperti halnya ketika mereka menimba ilmu sketsa di Insitut Seni Indonesia [ISI] Yogyakarta, hasil karya yang mereka buat, sangat layak diapresiasi.

Gambar-gambar yang mungkin terkesan remeh ini ternyata menyimpan seribu kenangan bagi siapa saja. Di tengah perubahan tak bisa ditahan, kekacaubalauan yang mungkin tak terhindarkan, dan situasi tak menentu yang mungkin kan kita lewati, membuahkan kesadaran untuk melakukan pencatatan sedini mungkin. Sketsa--di samping fotografi--adalah jalan sederhana yang sangat efektif digunakan untuk tujuan itu. Dan salah satu ikhtiar yang ingin ditegaskan dalam pameran ini adalah bahwa sketsa dan fotografi layak disandingkan sebagai instrumen penting pencatat kehidupan. Tak salah bila pameran sketsa dan fotografi 'Mata-mata Jogja' dirangkai sebagai pendamping pameran fotografi 'Objectif Paris' di Jogja Gallery.

Pameran fotografi 'Objectif Paris' menampilkan 87 karya foto koleksi museum-museum di Prancis. Dikuratori oleh Anne Cartier-Bresson, pameran kali ini menampilkan nama-nama terbesar [40 fotografer] dalam dunia fotografi antara lain, Henri Cartier-Bresson, Jan Auvigne, Jean-Philippe Charbonnier dan William Klein. Pameran tersebut merupakan bagian dari kegiatan Bulan Fotografi / Mois de la Photo yang diselenggarakan oleh Lembaga Indonesia Perancis [LIP], Yogyakarta. Suatu kebanggaan tersendiri bagi organiser kegiatan ini, karena pameran fotografi 'Objectif Paris' ini pertama kalinya digelar di Indonesia dengan mengambil kota Yogyakarta, untuk selanjutnya berkeliling ke Jakarta dan Bandung.

Organiser: Mairie De Paris, Lembaga Indonesia Perancis [LIP] dan Jogja Gallery

Bulan Fotografi official supporter: Dinas Kebudayaan Propinsi DIY

Bulan Fotografi partners: Ruang MES 56, De Britto Fotografi Club, Rets Fotografi Club, Via Via Kafe.

Jogja Gallery supporters: Plaza Ambarrukmo, Trully Jogja, Galeria Mall, Jogja View, Toko Buku Gramedia Yogyakarta dan PT Dakota.

LIP supporters: Grand Mercure Hotel, Hotel Novotel Yogyakarta dan Hotel Ibis Yogyakarta, Jogja National Museum [JMN] dan Bella Vitta.

Buka Selasa - Minggu, pukul 09.00 - 21.00 WIB / Tiket tanda masuk Rp 3.000,-

Jogja Gallery [JG]

Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000 INDONESIA
Telp. +62 274 419999, 412021

Telp./Fax +62 274 412023

Telp./SMS +62 274 716188, +62 888 696 7227

email: jogjagallery@yahoo.co.id / info@jogja-gallery.com

www.jogja-gallery.com


Sphere: Related Content

Kerja sastra Pramoedya bukan hasil kanonik

From: Anton
E-mail:
anton_djakarta@yahoo.com

Mengatakan kerja sastra Pramoedya Ananta Toer sebagai Kanonik sastra sangat fatal kesalahannya. Pram lebih dilihat sebagai epos perlawanan yang murni Indonesia. Kehidupannya yang keras adalah sebuah ketekunan intelektual dan ketangguhan manusia sampai pada batas-batasnya untuk melawan kekekuasaan.

Pram adalah salah satu dari jutaan manusia Indonesia yang dibungkam oleh Orde Baru. Mendegradir karya-karya sastra Pram sebagai Kanonik sama saja membungkus sejarah itu sendiri. Kanonik sastra adalah sebuah gerak imperialis untuk menumbuhkan kekuasaan, sementara Pram adalah nyanyi sunyi untuk melawan kekuasaan. Jadi meng"kanon" kan sastra Pram sama saja menuduh macan loreng menjadi kambing hitam...

Karya-karya sastra Pram di zaman Orde Baru merupakan benang merah yang jelas dari tulisan-tulisan apa yang disebut di jaman Pujangga Baru sebagai "batjaan-batjaan liar" macam : Hikayat Kadiroen, Sair Mata Gelap, Sairnja Sentot, atau Student Hidjo yang dilarang oleh penguasa Belanda pada waktu itu....

Karya sastra Pram besar karena mutu dan epos hidupnya yang bisa menjadi teladan bagi kita melawan kekuasaan dengan kekuatan batin yang tidak mau tunduk....

_________________________

TANGGAPAN

From: Tjuk Kasturi Sukiadi
E-mail: kasturi_sukiadi@yahoo.co.id

LHO , apakah Kanonisasi Sastra William Shakespeare juga dilakukan oleh sebuah institusi di Inggris sana (pada abad ke 17?). Lepas dari fakta dan pertimbangan apapun Pram adalah sastrawan yang paling produktip dan paling berpengaruh pasca Angkatan 45. Sama juga dengan WS yang 'diakui' karena karya-karya besarnya yang bermutu dan mendunia.

Salam

Tjuk KS

_________________________

Sphere: Related Content

Sastrawan Hudan Hidayat gugat Akademi Jakarta

Yang terhormat Anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Akademi Jakarta (AJ).

Surat ini, disamping untuk DKJ, juga untuk AJ. Karena saya kira, ada hubungan fungsional DKJ dan AJ.

Dalam kaitan dengan "polemik sastra pornografi" khususnya antara Taufiq Ismail dan saya, saya melihat Taufiq Ismail telah:

1) membuat stigma terhadap salah satu bagian sastra Indonesia, yakni sastra seks, tanpa ada upaya membuat telaah pada karya yang dimaksud.

2) tidak memberikan pencerahan, karena caranya menggunakan perumpamaan dan menilai orang cenderung menghina, serta menutup pemikiran.

3) stigma seperti itu akan mengkerangkeng kebebasan kreatif.

Dalam kaitan dengan itu, saya bertanya dimanakah letak dan fungsinya DKJ dan AJ? Apakah DKJ dan AJ akan membiarkan saja wacana seperti itu berkembang? Apakah kedua institusi budaya ini tidak relevan mengurusi polemik "anggota budaya"nya?

Saya sungguh-sungguh ingin tahu, apakah fungsi kedua institusi budaya ini? Apa kaitan nyatanya dengan kehidupan seni di indonesia, khususnya kehidupan sastra?

Saya sangat percaya baik DKJ dan AJ benar-benar mengikuti semua denyut budaya yang ada, termasuk polemik "sastra pornografi" itu. Karena alasan seperti ini, saya tidak menyertakan bahan-bahannya. Karena bahan-bahannya sudah ada semua di media massa, termasuk media internet.

Demikian saya meminta jawaban, akan letak dan fungsi DKJ dan AJ dalam kehidupan budaya di Indonesia.

Salam hormat,
(hudan hidayat)
mobile: 0815-86274577

Sphere: Related Content

Ragam tanggapan: Taufiq Ismail membenci orang lain tanpa didasari intelektualitas yang cukup

Ragam tanggapan untuk Taufiq Ismail

From: Ida I. Khouw, Holland
E-mail: idakhouw@yahoo.com

# Kalau saya jadi Taufiq Ismail, AGAR TIDAK MEMPERMALUKAN DIRI SENDIRI di hadapan khalayak, saya akan menahan mulut saya dari LANCANG mengomentari (judgmental) terhadap kelompok lain yang paham/ideologi dan sejarah gerakannya tidak saya mengerti/ketahui dengan baik.

# Kalau saya sudah setua Taufiq Ismail, saya akan berusaha bersikap bijak sebagaimana idealnya seorang tua: saya akan rendah hati menyimak kritik anak muda terhadap saya, dan mengakui kalau ada yang salah (DAN MEMANG JELAS BANYAK YANG KELIRU) dalam pandangan saya (makanya terus-menerus diteriaki "G", huruf yang krusial itu!), lantas -kalau mampu- berusaha mengubahnya.

# Kalau saya ternyata tidak kunjung mampu memahami gerakan perempuan dan feminisme yang demikian beragam dan kompleks itu, yah,,,, saya menikmati masa pensiun saja di rumah; menikmati indahnya kebun rumah, bercengkerama dengan anak-cucu; daripada mempertontonkan kekurang-pengetahuan saya dan bikin reseh :-)))

(Taufiq Ismail barangkali kurang persiapan bacaan sebelum ke Amerika di tahun 1970-an itu, makanya mengalami 'culture shock' berkepanjangan mendapati gerakan simbolis bakar- bakaran be-ha oleh feminis baby-boomers kala itu, yang sudah outdated lah ya buat hari gini.....)

-Ida Khouw-


From: Radityo Djadjoeri, Jakarta
E-mail: radityo_dj@yahoo.com

Hai Ida,

Sedikit berkomentar untuk tulisanmu ini:

Taufik Ismail barangkali kurang persiapan bacaan sebelum ke Amerika di tahun 1970-an itu, makanya mengalami 'culture shock' berkepanjangan mendapati gerakan simbolis bakar2 be-ha oleh feminis baby-boomers kala itu, yang sudah outdated lah ya buat hari gini.....)

Setahuku, berdasarkan biodata, kunjungan perdana Pak Taufik Ismail (TI) ke Paman Sam adalah pada 1956-1957, saat mengikuti program AFS. Selama di sana, ia mukim di keluarga Amerika selama setahun sebagai host family-nya. Jadi kalau TI mengalami gegar budaya (culture shock) mustinya terjadi pada tahun itu, bukan tahun 1970-an, mengingat saat itu ia sering mondar-mandir ke AS - untuk tugas kantor maupun untuk keperluan Bina Antar Budaya.

Namun untuk pelajar AFS sendiri, sebelum dikirim ke luar negeri terlebih dulu diberi training agar tak mengalami gegar budaya. Entah pada zamannya TI sudah ada training seperti itu atau belum. Setahuku, ia dikirim ke AS karena menjadi anggota PII (Pelajar Islam Indonesia) . CMIIW.

Kalau menurutku, sikap TI seperti itu lebih karena latar belakang almarhum ayahnya yang ustadz. Ia orang Minang kelahiran Bukittinggi, walau masa remajanya dihabiskan di Pekalongan. Lalu kini ia dekat dengan tokoh-tokoh PKS. Ia juga dekat dengan anak-anak FLP (Forum Lingkar Pena) yang underbouw PKS. Di sebuah acara PKS, ia pernah bilang begini, "Saya ini masih saudara kandung Walikota Depok." Apa pasal? Karena sama-sama bani Ismail: Nurmahmudi Ismail dan Taufiq Ismail. Klop kan?

From: Ida I. Khouw, Holland
E-mail: idakhouw@yahoo.com

Saya memang mengabaikan ketepatan 'data sejarah', hanya fokus pada gambar besar persoalan Taufiq Ismail. Terima kasih koreksinya, Radityo. Namun ada hal penting yang perlu dikomentari: saya tidak mempedulikan etnisitas dan latar belakang ke-ustadz-an Taufiq Ismail. Seperti dalam feminisme, ustadz juga banyak ragamnya. Saya tahu sejumlah ustadz yang tulisan-tulisannya mencerahkan, mengerti dan bersahabat dengan feminisme.

Islam di tangan ustadz-ustadz seperti di atas mendekatkan saya pada Islam. Namun Islam di tangan orang seperti Taufiq Ismail, YANG MEMBENCI ORANG LAIN TANPA DIDASARI INTELEKTUALITAS CUKUP, membuat saya takut terhadap Islam.

Saya tak habis mengerti bagaimana bisa Taufiq Ismail menuding feminisme, YANG MENGKAMPANYEKAN INTEGRITAS DAN PENGHORMATAN TERHADAP TUBUH PEREMPUAN, sebagai salah satu akar persoalan bejatnya moralitas. Saya ingin tahu apa saja sih bacaan Taufiq Ismail, sang penyair kondang itu, sehingga bisa-bisanya dia menuding feminisme mendukung pornografi. Keduanya JELAS BERTENTANGAN, sebab pornografi adalah bentuk eksploitasi tubuh perempuan (dan juga laki-laki), tema yang justru dilawan feminisme.

Maaf saja, sejak beberapa lama lalu saya sudah tidak bisa lagi respek pada Taufiq Ismail, penyair bermulut kotor dan lancang itu!!!! Ia sudah saya masukkan dalam satu kotak bersama ORANG-ORANG BODOH yang suka membenci etnis Cina secara membabi buta.

Ida Khouw

__________________________

From: Farida Wardhani, Surabaya
E-mail: fwardhani@gmail.com

Taufiq Ismail patut dihargai

Saya membaca e-mail Taufiq Ismail, penyair Angatan 66, kepada Dubes Indonesia di Praha, Dr. Salim Said. Saya tidak tahu bagaimana e-mail itu tersiar? Akan tetapi setelah membaca sikapnya kepada yang disebutnya "Gerakan Syahwat Merdeka", saya lega ketika saya sampai kepada kalimat, bahwa dia tidak akan memberangus kemerdekaan menulis dan menyatakan pendapat.

Kata Taufiq:

"Dua tahun lamanya saya tidak dapat menulis di media massa, 1964-1965, selepas pelarangan Manifes Kebudayaan (daftar hitam nama kami pendukung Manifes tersebar ke seluruh media massa zaman itu) dan pengalaman pahit tak terlupakan itu janganlah terjadi lagi pada siapa pun."

Saya kira kita wajib menghargai sikap ini!

Yang membuat waswas, kalau nanti semua kecemasan Taufik Ismail kepada "kelompok atheis, homoseks, lesbian, feminis, dan anarkis" yang memperkuat "Gerakan Syahwat Merdeka" negeri kita ini dijadikan kecemasan atas nama agama dan atas nama negara, lantas ada tindakan pembredelan, sweeping, dan teror. Bukankah ini pernah terjadi dengan karya seni rupa Agus Suwage dalam Biennale Seni Rupa CP pada tahun 2005?

Saya sendiri menolak keras buku dan film porno yang melibatkan kekerasan kepada perempuan dan anak-anak. Akan tetapi MUI, dan juga polisi dapat menilai salah dan FPI bertindak sewenang-wenang terhadap apa saja yang mereka putuskan sebagai "porno".
Kalau itu terjadi, saya berharap Taufiq Ismail berani bersuara menentang kesewenang-wenangan itu. Mudah- mudahan ia bersedia menyatakan sikapnya tentang pembrangusan karya Agus Suwage.


Farida Wardhani.

__________________________

From: Inez Dikara
E-mail:
inezdikara@yahoo.com

Kalau seandainya Hudan Hidayat memang atheis, mengapa tidak membela keyakinannya seperti Taufiq Ismail membela/memperjuangkan keyakinannya? Jadi tidak perlu sembunyi- sembunyi/menafikan 'tuduhan' itu. Tetapi jika ternyata Hudan Hidayat memang bukan atheis, ya biarkan saja Tuhan yang menilai semua itu, terlepas dari apa yang dikatakan orang terhadap kita. Toh masing-masing orang nantinya akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Tuhan.

Untuk Pak Taufiq Ismail, bukankah Islam menciptakan kemanusiaan tidak melalui kekerasan yang fanatik, melainkan terwujudnya kemerdekaan dan persaudaraan tanpa memperhatikan ras dan keyakinan?

Mungkin sebaiknya memang kita menyibukkan diri saja dengan kekurangan dan segala dosa yang telah kita perbuat, tanpa perlu menilai/mengadili keyakinan orang lain.

Saya yang penuh dosa-dosa,

Inez Dikara
__________________________

From: Mariana Amiruddin, Jakarta
E-mail: mariana@jurnalperempuan.com

Taufiq Ismail menghina feminisme

Email Taufiq Ismail (TI) ke saya tentang Hudan Hidayat (HH) dan Gerakan Syahwat Merdeka (GSM).

Pertanyaan:
Pertama, untuk apa dikirim ke saya?
Kedua, untuk apa dikirim ke Salim Said juga?
Ketiga, memangnya Hudan-Hidayat itu siapa sih, kok segitunya menyerang dia?
Keempat, dia menghina feminisme, paling tidak menghina karena ketidaktahuannya dengan wacana feminisme dan pluralisme.
Ini orang mulai ketarik ke semangat terorisme, atau trend polisi syariat dimana-mana.
Nggak ada hujan, nggak ada badai tiba-tiba serang orang dari belakang.
Buat saya sangat mengganggu.


Pak Taufiq,

Anda harus hati-hati dengan kata-kata di nomor 5 tentang Amerika Utara terutama komentar anda tentang kaum feminis:

"Kaum feminis gencar-gencarnya mengumumkan liberasi atau pembebasan kaum perempuan, maknanya liberasi kopulasi atau kebebasan berkelamin."

Dan point nomor 6 yang pukul rata menghina kaum feminis di Indonesia:

"Itulah adegan garis besar Gerakan Syahwat Merdeka, Amerika Utara, 1970-an, yang berulang 3 dasawarsa kemudian di negeri kita dalam format sama"

Pak Taufiq, anda harus belajar lebih banyak tentang gerakan kaum feminis di Indonesia yang plural, dan kalau anda bicara begitu sembarangan, itu bisa menyinggung seluruh tokoh feminis yang ada di Indonesia. Feminis muslimah misalnya seperti Ibu Sinta Nuriyah Wahid, Ibu Musdah Mulia, Ibu Maria Ulfah Anshor, Ibu Farha Ciciek, mereka adalah beberapa pejuang permpuan muslim, mereka membela agama dan hak-hak perempuan. Mereka anti terhadap eksploitasi dan seks bebas.

Jadi pernyataan anda ini bisa menghina kemajemukan gerakan kami di Indonesia. Untuk konteks pornografi, aliran feminis radikal (bahkan dari Amerika) bernama Chaterine McKinnon sangat anti, dan punya kontribusi terhadap terbentuknya UU pornografi di Amerika, begitu juga Andrea Dworkin.

Mereka malah lebih nyata pergerakannya dalam melawan pornografi, tidak dengan menyerang orang sana-sini, tetapi memberi argumentasi jelas, data dan solusi dari persoalan pornografi yang mengeksploitasi kaum perempuan tersebut.

Salam,


Mariana
__________________________

Tuan Taufiq Ismail sedang membisikkan hatinya sendiri?

Oleh Hudan Hidayat


Sejak Pidato Kebudayaan, sampai dengan kirim e-mail kepada Salim Said itu, Tuan Taufiq Ismail telah "main kayu" dalam berwacana tentang sastra Indonesia.

Coba bayangkan, dia yang melancarkan stigma sastra SMS, sastra FAK.

Samar-samar, tersebut nama Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami. Tapi tidak ada telaah, karya yang mana dan pada bagian mana sastra yang disebutnya bersyahwat-syahwat itu. Masa iya sih, dari ratusan lembar tulisan itu, syahwat semata seperti yang dituduhkannya? Karena itu saya bilang, sastra mereka bukan fiksi selangkangan, tapi memakai medium "seks" sebagai sampiran, untuk sesuatu yang lebih tinggi. Jadi, ada transendensi. Ada kontemplasi.

Belakangan, setelah saya merespon Pidato Kebudayaan yang membuat banyak orang geli itu, saya pun kena tuduhan serupa: Hudan Hidayat dan Gerakan Syahwat Merdeka.

Saya berani taruhan, bahwa "Tuan Penyuara Gerakan Syahwat Merdeka" kita ini, tak pernah membaca novel saya dan Mariana, "Tuan dan Nona Kosong" (meski awal terbitnya sudah saya berikan pada orang-orang HORISON untuknya), tetapi dengan sengit telah melancarkan tuduhan.

Coba saya tanya, Tuan Taufiq, apakah "seks" di dalam novel kami itu semata dunia selangkangan? Bila iya, pada bagian mana? Tidakkah ia adalah sebuah upaya yang luar biasa, dari seseorang untuk menjangkau Tuhannya?

Tentu saja, sastra bisa didekati dengan "bahasa" apa pun, meski pendekatan tetap harus ada batas-batasnya. Karena sastra adalah dunia tersendiri, di samping dunia-dunia tersendiri lainnya, yang memang diciptakan Tuhan seperti itu: mempunyai kekhasannya sendiri. Seperti ada gunung ada ngarai. Ada malam ada siang. Dan semua dunia ini mempunyai bahasanya sendiri dan hukum-hukumnya sendiri.

Jelas sekali Tuan Taufiq mendekati sastra dengan bahasa moral agama (Islam). Tetapi dia mengatakan, saya yang mengutip Quran, dia tidak. Baiklah. Tapi saya tanya, dari mana moralitas Tuan yang (seperti saya juga yang menolak), sepenuh energi mengerahkan segala daya untuk mengatakan telah terjadi syahwat-syahwatan semata dalam sebagian sastra Indonesia? Bukankah tindakan seseorang datang dari keyakinannya? Kalau demikian, apakah gerangan keyakinan Tuan?

Menyadari ini, maka saya langsung mengajak Tuan untuk sama-sama melihat, bagaimana sesungguhnya "maunya" Kitab Suci itu, terhadap pokok yang sedang kita bincangkan. Tapi Tuan bungkam.

Kebungkaman Tuan Taufiq, ternyata datang dari dua hal:

1) berlogika dalam sastra tidak dikerjakannya lagi, sudah dikerjakannya 30 tahun yang lalu. Dan ini kan lucu! Bagaimana mungkin? Dia kan harus mempertanggung-jawabkan stigmanya itu! Ini kan sama dengan tuduhan: hey, kamu kan penjahat! Lho, kok kamu menuduh saya penjahat? Iya pokoknya kamu penjahat. 30 tahun yang lalu saya juga menemukan penjahat kok.

2) bahwa Tuan Taufiq Ismail anti pada intelektualitas, dan kasar dalam "berdialog", serta yang lebih berat lagi, dalam hatinya telah berkecambah tuduhan yang jauh sekali dari contoh-contoh yang diperagakan Nabi: lemah-lembut sesama, bersangka baik dengan sesama.

Mengapa? Simaklah surat kepada Salim Said itu (halaman 2): siapapun yang berbicara dengan aktivis 10 komponen gerakan ini dengan memakai ukuran moral manusia waras dan normal, apalagi agama, akan mereka tertawakan habis-habisan. Juga Tuan Taufiq suatu ketika berkata kepada saya: percuma berbicara agama dengan mereka. (Maaf Tuan, Nabi kita didustakan dan beliau tetap berbicara dengan musuh-musuhnya, dengan santun dan kasih sayang pula).

Dan siapakah aktivis itu: adalah atheis, homoseks, lesbian, feminis, dan anarkis - semua mahluk-mahluk Tuhan juga. Jadi di mata Tuan Taufiq, semua orang sudah bersalah semua, kecuali, mungkin, penulis-penulis sastra yang bergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), karena tidak menulis sastra dengan sampiran "pornografi" dalam karya-karya mereka.

Lalu, ini apa? Bagaimana mungkin seorang Taufiq Ismail bisa menggenggam kebenaran sendirian? Bagaimana mungkin di dalam hatinya tidak sedikit pun terlintas untuk melihat kemungkinan kebenaran di dalam diri orang lain, setidaknya "kebenaran" dalam sastra - yakni kebermaknaan sebuah karya sastra untuk manusia.

Sudah jelas, saya bagian aktivis yang dituduh oleh Taufiq itu. Tetapi toh saya malah yang mengajaknya memandang karya sastra dalam perspektif agama. Saya tidak menertawakan. Malah Taufiq yang bungkam, diam. Mengungkapkan dengan kalimat "moral manusia waras dan normal" seperti itu, Taufiq hendak mengatakan mereka tidak waras dan tidak normal. Bagaimana dengan feminis seperti Musdah Mulia, Maria Ulfah, Sinta Nuriah Wahid, Farha Ciciek, dan Debra Yatim yang santun serta sangat Aceh itu, juga tidak waras dan tidak normal?

Haraplah dicatat, feminis-feminis ini mempunyai keluarga baik-baik, dengan suami dan anak- anak mereka yang baik-baik. (dengan segala hormat, mohon beliau-beliau ini ikut menyumbangkan suaranya dengan segenap tuduhan ini).

Saya melihat malah rekan se"ideologi" Taufiq lebih matang dalam berwacana, lebih dewasa pula. Semisal Saut Situmorang dan Kuswaidi, yang berani dan mau masuk ke substansi masalah yakni sastra pornografi, meskipun hemat saya, kedua penulis ini tidak menggunakan metodologi yang maksimal dalam argumen mereka.

Pada titik ini, akhirnya saya harus mengakui warning M. Faizi dalam tulisannya di harian Jawa Pos, bahwa "petasan-petasan yang disulut Taufiq Ismail dan Hudan Hidayat adalah berbahaya dan menakutkannya." Tapi saya memandang bahaya itu datang dari Taufiq Ismail dengan kedua poin yang sudah saya kemukaan ini.

Saya disebut Taufiq tidak peduli dengan destruksi sosial. Siapa bilang? Terasa bagi saya di sini Taufiq sangat sloganistik. Sangat verbal dan sempit pikiran. Semua pengarang boleh saja menggarap karyanya, tidak mesti seluruh kerusakan yang diterminologikan sebagai Gerakan Syahwat Merdeka oleh Taufiq itu, yang boleh diangkut ke dalam karya sastra.

Dalam kaitan dengan tuduhan a-sosial ini, terkait dan berkait dengan tuduhannya yang lain, bahwa saya mengalihkan 10 isyu yang dipeluk-ditimang oleh Taufiq Ismail yang, mohon maaf, tidak bisa saya hindari kesan seolah "dagangannya" ke muka publik, seperti sering dieejekkan kawan-kawan seniman.

Mengapa? Karena tidak pernah/atau belum pernah, saya mendengar atau melihat seorang Taufiq Ismail mempunyai gerakan konkret terhadap masyarakat kecil yang terkena seluruh destruksi yang disebutkannya itu, kecuali kegiatannya menulis, membaca puisi, atau ceramah. Tentu saja, kegiatan ini pun mulia.

Saya katakan, bahwa saya boleh memasuki dari bagian mana saja dari poin pidatonya, tanpa harus terkena tuduhan mengalihkan isyu. Apalagi poin yang saya masuki adalah hal yang langsung mengenai dunia yang saya geluti. Yakni sastra. Melarang saya mengekplorasi salah satu poin itu, sama dengan tindakan yang tidak demokrat dalam sastra. Menuduh saya tidak peduli karena saya fokus kepada poin itu, sama dengan tindakan/keinginan menyeragamkan pikiran manusia - sesuatu yang dilarang Tuhan secara keras. Dan kalau boleh berkata, saya menulis juga kok, akan imbas-imbas yang Tuan maksudkan itu, tetapi tentu, dengan "gaya sastra" yang pastilah Tuan tentang. Baca deh, buku-buku saya, Tuan Taufiq, sebagaimana saya membaca buku-buku Tuan.

Dan lihatlah cara-cara kasar dan antiwacana seorang Taufiq Ismail, dengan membuat metapora kebakaran yang seluruh keluarga sibuk memadamkan api, tapi ada anak kecil umur 10 tahun yang merengek-rengek minta jatah jajan belanjanya. Yakni, HH.

Inilah metapora yang sangat menghina pemikiran - khususnya pemikiran sastra. Inilah kehendak seorang fasis yang ingin dan memaksakan rakyatnya agar seragam dalam berpikir dan seragam dalam bertindak.

Dan ini terasa sekali dengan metaporanya yang lain lagi, yang bagi saya sangat berbahaya dan sangat menghina pendidikan di Indonesia . Lihatlah kata-kata Taufiq: seorang guru mengajarkan alphabet "a" sampai "k", tapi ada seorang anak yang hanya mau menyebut "g" saja meski sudah dipaksa.

Apakah artinya ini? Sang guru telah melampaui wewenangnya sebagai manusia, yaitu seolah tidak mungkin luput dari kesalahan, dengan memaksakan sesuatu yang tidak/belum sempat "disukai/disentuh" oleh muridnya.

Dengan menindas dan mematikan kemandirian dan keberanian muridnya untuk berpikir lain, berpikir sendirian dari arus massa yang nota bene telah merusakkan segi-segi kita sebagai bangsa (ingatlah korpri, pakaian seragam, yang telah menjadikan bangsa kita tidak kreatif, takut dan tidak punya inisiatip kemandirian. Tidak punya visi sendiri).

(Idiiihhh, Tuan Taufiq genit deh, dengan memetaporakan diri sebagai guru, dan HH sebagai anak didiknya).

Ada satu lagi yang saya ingin tandaskan, Tuan Taufiq, Tuan Saut, dan Tuan Kuswaidi, bahwa dunia sastra adalah dunia kreatif yang kejam. Hanya orang bernapas panjang dan bersaraf baja saja yang berhasil. Dan tentu saja berbakat, Tuan. Tidak ada katrol-katrolan di dunia sastra. Setidaknya bagi saya. Sebagus apapun hubunganmu, kalau karyamu jelek, maka kamu akan tenggelam bersama waktu.

Sudah sejak awal saya masuk dunia sastra, saya tanamkan pikiran ini di hati. Hampir 15 tahun sejak saya pertama kali menulis, saya memendam sendiri keinginan saya, melatih sendiri diri saya, tidak pernah merengek, tidak pernah bergantung dengan siapapun. Saya membatu dalam hati saya sendiri.

Dan hingga hari ini prinsip itu saya anut. Tak tergantung. Jadi saya berjuang sendiri. Kalaupun saya berkawan, itu dalam kesetaraan. Begitu juga saya berkawan dengan penyair Sutardji Calzoum Bachri. Dan tak pernah sekalipun saya menunggangi kebesaran seorang Sutardji! Jadi kalau Tuan-Tuan berpikir saya (dan Mariana) menyerap tenaga-tenaga kalian, untuk sebuah popularitas, ini kelucuan dan kebodohan macam apa lagi? Dan Mariana, adalah seorang intelektual, seniman, aktivis dan Direktur di sebuah LSM perempuan. Jadi tak perlu kalian katrol, dia sudah mampu mengkatrol dirinya sendiri.

Anak muda ini cerdik sekali mencari cara mempublikasikan dirinya dan bisa jadi kasus contoh praktek di London School of Public Relations, tulis Taufiq.

Ini pun penghinaan bagi seorang yang ingin melihat dunia sastra maju, semarak dengan perdebatan, dan permainan yang membahagiakan. Lepas dari kesunyian dan keterpencilannya dibanding bidang-bidang lain. Dunia sastra yang bisa menjadi "oase" bagi dunia real di Indonesia.

Apanya yang cerdik, Tuan, kalau semua tindakan saya, saya letakkan dalam bingkai aksi-reaksi: ada pidato kebudayaan Tuan, saya tertarik, saya membuat esai. Ada SMS Tuan yang nyasar ke kantor saya, saya membela diri dengan menulis. (meskipun dalam surat Tuan itu, Tuan menyanggah telah mengadukan saya, tapi faktanya ada SMS tuan ke kantor saya).

Dengan kata-kata "cerdik" itu, malah saya jadi berpikir, jangan-jangan Tuan sedang membisikkan hati Tuan sendiri. Dan Tuan Taufiq minta ditunjukkan bagian mana dari Pidato Kebudayaan dan esai Tuan di Jawa Pos itu (HH dan Gerakan Syahwat Merdeka), yang menindas kebebasan kreatif. Saya akan jawab: stigma Tuan bahwa ada sastra Indonesia yang berputar pada selangkangan itu, (mau) mengkerangkeng pengarang Indonesia untuk memilih ekspresinya sendiri.

Padahal dia bukan berputar di selangkangan, tapi mengutarakan tubuhnya (tanpa terjatuh pada pornografi), sebagai bagian yang diberikan Tuhan padanya. Sebagai salah satu unsur cerita untuk meraih maknanya yang lebih luas. Tetapi kalau VCD porno, pelacuran anak dan sebagainya, kita pun menolak.

Saya akan menyudahi tulisan ini, dengan sekali lagi membuat sebuah argumen yang hemat saya sederhana sekali: tentu saja saya "atheis", tidak percaya kepada Tuhan yang seperti dibayangkan oleh Taufiq Ismail, Tuhan yang mengkerangkeng hambanya untuk mengembangkan nikmat berupa bakat-bakat serta potensi yang sudah diberikan oleh-Nya sendiri. Melalui penceritaan kehidupan dengan memakai imajinasi dan aspirasinya. Bagi saya Tuhan tidak seperti itu.

Bagi saya Tuhan nyaman kok pada mahluk-Nya. Karena itu saya berkata, "Kita semua cuma anak-anak nakal di mata Tuhan".

Tetapi terima kasih untuk doanya. Saya pun ingin mendoakan Tuan: semoga Tuan segera mendapat pencerahan, sehingga dapat lebih rendah hati terhadap kehidupan.

Jakarta, 26/102007

(hudan hidayat)
__________________________


__,_._,___

Sphere: Related Content

Pengumuman Pemenang RAH Award 2007

Pengumuman pemenang Kontes Menulis Puisi Raja Ali Haji
Award Dewan Kesenian Provinsi Kepri 2007.

Juara 1 - Ayat-ayat Penyengat - M. Badri/Bogor
Juara 2 - Syair Gurindam: Sebuah Epilog - Eva
Amalia/Tanjungpinan

g
Juara 3 - Kugali Terus Sumur Gurindam - A Rahim
Qahhar/Medan.

3 Juara Harapan:
1. Wasilah Dua Belas - Suhendri/Rengat
2. Ibu Memasak Gurindam - Bandung Mawardi/Karanganyar
3. Wahai Cinta Inilah Nyeri Merindu Wajahmu - Nanang
Suryadi/Malang

Juara 1, 2, 3 diundang untuk menerima langsung hadiah
dan membacakan karya di Tanjungpinang bersempena
dengan Bintan Arts Festival (BAF) IX 2-3 November 2007.

Tanjungpinang, 31 Oktober 2007

Hasan Aspahani

Seksi Lomba

Sphere: Related Content

Jaringan baru Saut?

Assalamualaikum;
Membaca tulisan Pak Oyos, kita tentu sudah mafhum bahwa selama ini pak Saut memang super ngawur dan mengacau. Bagaimana tidak? Ketika ditanya kejelasan substansi serangan dia ke TUK saja dia sudah memaki yang bertanya dengan "taik kucing!"
Tapi, saya heran. Mengapa orang seperti Pak Triyanto yang sudah dimaki kok ya mau-maunya membentuk gerombolan baru dengan Pak Saut?
Menurut tuylisan Pak Oyos, organisasi itu cukup aneh. Jabatan sekretaris ada 3: Sekjen (Pak Triyanto), Sekeretaris (Pak Agus Noor), dan Wakil Sekretaris (Pak Saut).
Dilihat dari susunan anggotanya, hanya Pak Agus Noor yang tidak punya media. Pak Ahmadun kerja di Republika, Pak Triyanto di Suara Merdeka, Pak Raudal (yang merupakan supporter fanatik Pak Saut) mengerjakan Jurnal Cerpen (meskipun jarang terbit).
Nah, jangan-jangan mereka sedang menyusun strategi penguasaan media massa sebagaimana yang mereka tuduhkan kepada KUK? Kita tahu Pak Ahmadun telah menggunakan Republika untuk mendukung kengawuran Pak Saut, misalnya dengan memuat puisi Pak Saut yang menghina umat Hindu. Dulu Pak Saut mendapat tempat di Media Indonesia karena dukungan Pak Chavchay dan Pak Eddy Effendi (sekarang kayaknya tidak lagi).
Sayang sekali kalau koran seperti Republika dan Suara Merdeka akhirnya akan dicemari oleh gosip, makian, dan fitnah a la Saut!
Wassalam,
Ahmad Jaelani
Bugisan, Jogja,
Oktober 2007
From:
Oyos Saroso, Bandar Lampung
Menurut saya, kita selama ini mudah terpancing oleh arus isu dan rumor yang tidak mencerdaskan. Ada baiknya kalau kita hentikan saja debat kusir yang tidak cerdas itu.

Kebetulan saya kenal dengan semua pihak yang disebut "kubu" yang berseteru itu. Saya mengenal dengan baik dan akrab Sitok Srengenge dan beberapa aktivis KUK, Wowok Hesti Prabowo, Hudan Hidayat, Gola Gong dan sebagian aktivis FOK. Juga Saut Situmorang. Khusus Saut memang awalnya baru kenal nama. Dia pernah mengutip pernyataan saya (dalam tulisan "Menolak Sekte Sastra" yang dimuat MIM beberapa tahun lalu). Saya baru ketemu Saut beberapa hari lalu di sela-sela Kongres Cerpen Indonesia (KCI) di Banjarmasin.

Saya sempat diskusi agak memanas dengan Saut. Diskusi memanas karena saya, Ari Pahala Hutabarat (penyair Lampung), dan Triyanto Triwikromo (penyair, cerpenis, dari Semarang) dibilang "taik kucing" oleh Saut. Saut mengira kami membela TUK. Padahal, kami hanya minta kejelasan soal substansi serangan-serangan dia kepada GM dan TUK.

Dari cara Saut berdebat dengan kami, saya menyimpulkan tak perlulah kita membuang-buang energi untuk berdebat kusir. Tak ada faedahnya. Lebih baik, mereka yang penyair tetaplah menulis puisi, mereka yang cerpenis, teruslah menulis cerpen, mereka yang esais, teruslah menulis esai yang bermutu.

Sastrawan dianggap sastrawan bukan karena keras omongan dan serangannya kepada sastrawan lain. Dia akan disebut sastrawan karena melahirkan karya sastra. Dia akan dikenang karena menciptakan karya-karya yang bermutu.

Oh ya, sebagai info mutakhir, Saut terpilih sebagai wakil sekretaris dalam organisasi baru yang disebut Komunitas Cerpen Indonesia (KCI). Saya sendiri tidak ikut memilih. Dalam forum penyusunan KCI saya tidak ikut. Selain saya merasa tidak kapabel, saya tidak punya energi untuk sibuk dalam pusaran kegiatan aktivitas sastra di level nasional. Lagi pula, saya kurang sreg (enak hati). Tapi ya kita lihat saja perkembangan KCI ke depan. Selain Saut, di KCI ada Ahmadun Yosi Herfanda (ketua), Agus Noor (sekretaris), Triyanto (Sekjen), Raudal Tanjung Banua (bendahara), dan lainnya.

Salam dari Lampung,

Oyos

Sphere: Related Content

Lomba poster nasional dalam rangka HUT PKBI ke-50

-


I. PENDAHULUAN

Tahun 2007, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) akan
memperingati hari ulang tahunnya yang ke 50, suatu usia yang dewasa dan
matang. Untuk memperingati HUT emas, PKBI akan mengadakan serangkaian
kegiatan atau event berkaitan dengan isu-isu kependudukan serta hak-hak
kesehatan seksual dan reproduksi yang strategis.

Salah satu kegiatan tersebut yaitu lomba poster tingkat nasional dengan
mengangkat tema "Memperluas akses bagi pemenuhan hak-hak kesehatan seksual
dan reproduksi dalam upaya menurunkan angka kematian ibu" dengan sub-tema
yang dapat dipilih seperti : pelayanan kesehatan, kesehatan reproduksi
remaja, keluarga berencana, HIV & AIDS, kehamilan tidak diinginkan,
kesetaraan gender, seksualitas.
II. TUJUAN

1. Menyuarakan Visi dan Misi PKBI melalui kegiatan lomba poster.
2. Meningkatkan citra PKBI di kalangan publik dengan mengangkat isu-isu
khusus menyangkut kependudukan serta hak-hak kesehatan seksual dan
reproduksi.
3. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menyuarakan hak-hak
kesehatan seksual dan reproduksi, khususnya dalam upaya menurunkan angka
kematian ibu.

III. PESERTA

Lomba ini dibagi dalam 2 kategori :
1. Kategori remaja : diikuti oleh remaja dengan rentang umur 10 - 19
tahun.
2. Kategori umum : diikuti oleh masyarakat umum

IV. HADIAH

1. Lomba poster akan memperebutkan total hadiah sebanyak 20 juta
rupiah.
2. Kategori remaja akan dipilih 3 orang pemenang : Juara I (Rp.
5.000.000,-) , Juara II (Rp. 2.000.000,-) , Juara III (Rp. 1.000.000,-)
3. Kategori umum akan dipilih 3 orang pemenang : Juara I (Rp.
7.500.000,-) , Juara II (Rp. 3.000.000,-) , Juara III (Rp. 1.500.000,-)
4. Pemenang pertama dari tiap kategori akan diundang pada kegiatan
acara puncak HUT Emas PKBI pada tanggal 15 Desember 2007 di Jakarta.
5. Pajak hadiah ditanggung oleh pemenang.

V. KETENTUAN LOMBA POSTER

1. Poster harus menampilkan tema "Memperluas akses bagi pemenuhan
hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi dalam upaya menurunkan angka
kematian ibu"
2. Sub tema yang dapat dipilih antara lain : pelayanan kesehatan,
kesehatan reproduksi remaja, keluarga berencana, HIV & AIDS, kehamilan tidak
diinginkan, kesetaraan gender, seksualitas.
3. Poster harus asli, bukan tiruan atau jiplakan, belum pernah
dipublikasikan/ dilombakan, dan berwarna (bidang gambar harus diwarnai penuh
tanpa garis tepi).
4. Manual : Poster dikerjakan pada kertas-karton berukuran 42 x 59,4 cm
(A2), alat gambar berupa crayon, cat air, cat poster atau cat lukis.
5. Komputer : Poster dikerjakan dan dicetak diatas kertas Artpaper 42 x
59,4 cm (A2).
6. Lomba ini terbuka untuk umum di seluruh wilayah Indonesia.
7. Poster dikirimkan kepada panitia PKBI Pusat paling lambat tanggal 16
November 2007 (cap pos).
8. Peserta mencantumkan alamat lengkap dengan kode pos, nomor telepon yang
dapat dihubungi di halaman belakang poster. Sertakan juga foto kopi
KTP/kartu pengenal lainnya.
9. Seluruh poster dan hak publikasi poster peserta menjadi milik
panitia
10. Kriteria seleksi poster terdiri atas : orisinalitas poster, pesan yang
disampaikan, layout/tata letak kata/gambar, komposisi warna, kreatifitas/
desain.
11. PKBI Pusat mengumumkan pemenang melalui surat kepada setiap pemenang
lomba poster (30 November 2007)

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Panitia HUT PKBI ke-50
d/a Fahmi Arizal
PKBI Pusat
Wisma PKBI, Jl. Hang Jebat III F 3 Kebayoran Baru, Jakarta 12120
Telp +62 21 720 7372, 739 4123. Fax +62 21 739 4088
Email : ippa@pkbi.or. id , fahmi.ippa@gmail. com

Atau dapat juga menghubungi Panitia HUT PKBI ke-50 di daerah masing-masing.


Sphere: Related Content

Saut: "Kalian semua taik kucing!"

From: Oyos Saroso, Bandar Lampung

Menurut saya, kita selama ini mudah terpancing oleh arus isu dan rumor yang tidak mencerdaskan. Ada baiknya kalau kita hentikan saja debat kusir yang tidak cerdas itu.

Kebetulan saya kenal dengan semua pihak yang disebut "kubu" yang berseteru itu. Saya mengenal dengan baik dan akrab Sitok Srengenge dan beberapa aktivis KUK, Wowok Hesti Prabowo, Hudan Hidayat, Gola Gong dan sebagian aktivis FOK. Juga Saut Situmorang. Khusus Saut memang awalnya baru kenal nama. Dia pernah mengutip pernyataan saya (dalam tulisan "Menolak Sekte Sastra" yang dimuat MIM beberapa tahun lalu). Saya baru ketemu Saut beberapa hari lalu di sela-sela Kongres Cerpen Indonesia (KCI) di Banjarmasin.

Saya sempat diskusi agak memanas dengan Saut. Diskusi memanas karena saya, Ari Pahala Hutabarat (penyair Lampung), dan Triyanto Triwikromo (penyair, cerpenis, dari Semarang) dibilang "taik kucing" oleh Saut. Saut mengira kami membela TUK. Padahal, kami hanya minta kejelasan soal substansi serangan-serangan dia kepada GM dan TUK.

Dari cara Saut berdebat dengan kami, saya menyimpulkan tak perlulah kita membuang-buang energi untuk berdebat kusir. Tak ada faedahnya. Lebih baik, mereka yang penyair tetaplah menulis puisi, mereka yang cerpenis, teruslah menulis cerpen, mereka yang esais, teruslah menulis esai yang bermutu.

Sastrawan dianggap sastrawan bukan karena keras omongan dan serangannya kepada sastrawan lain. Dia akan disebut sastrawan karena melahirkan karya sastra. Dia akan dikenang karena menciptakan karya-karya yang bermutu.

Oh ya, sebagai info mutakhir, Saut terpilih sebagai wakil sekretaris dalam organisasi baru yang disebut Komunitas Cerpen Indonesia (KCI). Saya sendiri tidak ikut memilih. Dalam forum penyusunan KCI saya tidak ikut. Selain saya merasa tidak kapabel, saya tidak punya energi untuk sibuk dalam pusaran kegiatan aktivitas sastra di level nasional. Lagi pula, saya kurang sreg (enak hati). Tapi ya kita lihat saja perkembangan KCI ke depan. Selain Saut, di KCI ada Ahmadun Yosi Herfanda (ketua), Agus Noor (sekretaris), Triyanto (Sekjen), Raudal Tanjung Banua (bendahara), dan lainnya.

Salam dari Lampung,

Oyos


Sphere: Related Content

Nenek moyang orang Nias lebih tua dari Adam

Menurut buku "Asal Usul Masyarakat Nias - Suatu Interpretasi" karangan P. Johannes M. Harmmerle OFMCap. tahun 2001, halaman 211: Peristiwa yang paling berpengaruh bagi masyarakat Nias pada zaman kuno ialah kedatangan suatu kelompok etnis yang memiliki pelbagai kemajuan dan yang menyebut diri manusia dari atas.

Menurut penulis buku tersebut, besar kemungkinan mereka ini adalah keturunan orang Cina.

Sumber wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Nias menuliskan:

Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan hasilnya ada yang dimuat di Tempointeraktif, Sabtu 25 November 2006 dan di Kompas, Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta.

Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.

Apa kira-kira ada kaitan dengan keberadaan Atlantis atau Lemuria yang hancur di sekitaran masa belasan ribu tahun lalu?

Yang unik dari penghuni pertama Nias (Sowanua atau Bela):
1. dianggap sebagai makhluk halus
2. menyebut diri "manusia dari atas"
3. hidup di atas pohon besar
4. berkulit putih dan mulus.
5 diangap sebagai pemilik atau penguasa segala marga satwa
6. meminta persembahan
7. Mereka cantik-cantik
8. bisa membuat api dari kayu atau dari batu api.
9. suka menculik perempuan tinggal seorang diri di hutan atau di kebun yang sepi yang kemudian tiba-tiba hilang kesadarannya.

Salam,

nur agustinus

Sphere: Related Content

Hudan Hidayat menggugat Akademi Jakarta

Yang terhormat Anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Akademi Jakarta (AJ).

Surat ini, disamping untuk DKJ, juga untuk AJ. Karena saya kira, ada hubungan fungsional DKJ dan AJ.

Dalam kaitan dengan "polemik sastra pornografi" khususnya antara Taufiq Ismail dan saya, saya melihat Taufiq Ismail telah:

1) membuat stigma terhadap salah satu bagian sastra Indonesia, yakni sastra seks, tanpa ada upaya membuat telaah pada karya yang dimaksud.

2) tidak memberikan pencerahan, karena caranya menggunakan perumpamaan dan menilai orang cenderung menghina, serta menutup pemikiran.

3) stigma seperti itu akan mengkerangkeng kebebasan kreatif.

Dalam kaitan dengan itu, saya bertanya dimanakah letak dan fungsinya DKJ dan AJ? Apakah DKJ dan AJ akan membiarkan saja wacana seperti itu berkembang? Apakah kedua institusi budaya ini tidak relevan mengurusi polemik "anggota budaya"nya?

Saya sungguh-sungguh ingin tahu, apakah fungsi kedua institusi budaya ini? Apa kaitan nyatanya dengan kehidupan seni di indonesia, khususnya kehidupan sastra?

Saya sangat percaya baik DKJ dan AJ benar-benar mengikuti semua denyut budaya yang ada, termasuk polemik "sastra pornografi" itu. Karena alasan seperti ini, saya tidak menyertakan bahan-bahannya. Karena bahan-bahannya sudah ada semua di media massa, termasuk media internet.

Demikian saya meminta jawaban, akan letak dan fungsi DKJ dan AJ dalam kehidupan budaya di Indonesia.

Salam hormat,

(hudan hidayat)


Sphere: Related Content

Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Melayu yg dicampur aduk menjadi bahasa gado2 dari berbagai macam bahasa Sansekerta, Portugis,

Tionghoa, Belanda, Inggris dsb-nya. Marco Polo adalah orang Eropa pertama yang mendarat di Asia Tenggara, maka dari itu juga kamus pertama bhs Melayu ke dlm bhs Eropa adalah kamus Melayu - Italy yg disusun oleh Antonio Pigafetta yang berbangsa Itali pada tahun 1522.

Ketika mang Ucup pertama kali tiba di Belanda merasa bingung, karena kata
"keju" dlm bhs Belanda bukanlah keju melainkan "Kaas" sedangkan untuk
mentega adalah "Boter", maklum karena orang Eropa pertama yg memperkenalkan
keju bukanlah orang Belanda melainkan orang Portugis, dlm bhs Porgugis: keju
= queijo, begitu juga dgn mentega = manteiga. Merekalah yg pertama kalinya
memperkenalkan budaya barat kepada bangsa Indonesia, seperti kata gereja =
igreja, meja = mesa, kemeja = camisa dan sepatu = sapatu.

Bhs Indonesia juga banyak menyerap kata2 dari bhs Tionghoa terutama dlm soal
pangan seperti mie, bihun, bakpau, bacang, tauco, lobak, pecai, cincau,
bakso, bahkan kata "sate" juga sebenarnya berasal dari kosa kata bhs
Tionghoa yg berarti "tiga tingkat". Sedangkan kecap dlm bhs Hokkian
"kueciap" ini mengacu kepada saos tomat, sebab kecap seperti yg kita kenal
di Indonesia dlm bhs Hokkian disebut "taoyu".

Bahasa Arab masuk pada tataran yang lebih luas terutama dalam bidang iptek
dan kemasyarakatan. Lihat saja dalam sistem pemerintahan dikenal kata-kata:
wakil, rakyat, majelis, musyawarah, mahkamah, hukum, hakim, wilayah, asas,
pasal, ayat, dll. Dan dlm bidang iptek, dulu ketika saya masih sekolah masih
dipakai istilah ilmu alam, ilmu hayat, ilmu hewan, ilmu ukur, ilmu falak,
aljabar, kimia, dll. Sebelum akhirnya terdesak dengan biologi, zooologi,
goniometri/stereometri, cosmologi, matematika, dll.

Indonesia dijajah oleh Belanda sekitar 350 th jadi wajarlah andil paling
besar yg paling berpengaruh dlm bhs Indonesia adalah bhs Belanda. Menurut
seorang ahli bahasa ada sekitar 5.000 kata-kata bahasa Indonesia yang
berasal dari bahasa Belanda, tetapi tidak semua kata-kata lazim dan sering
digunakan sebagai bahasa sehari-hari.

Rupanya karena orang Indonesia dahulu sukar mengucapkan lafal huruf W & F
maka akhirnya diubah menjadi huruf B, sebagai contoh ialah waskom menjadi
baskom, wekker = beker, Winkel dirubah menjadi Binkel dan akhirnya menjadi
bengkel. Untuk huruf f dan v diganti dengan p; franco = perangko, fiets
= piet, vol = pol, divan = dipan, vanille = panili, versnelling =
persneling, voorschot = persekot, enveloppe = emplop.

Begitu juga dengan suku kata "ui", dari "achteruit", menjadi "ahteret",
ritssluiting = ritsleting, kortsluiting = korsleting, puin = puing dan dari
kakhuis = kakus. Suku kata "tje" dlm bhs Belanda dirubah menjadi "ci"
laatjes = laci, kaartjes = karcis, petje = peci, potje = poci

Bukan hanya bhs Indonesia saja yg menyerap kosakata dari bhs Belanda,
kebalikannya pun demikian, karena sudah banyak kosakata bhs Indonesia yg
diserap oleh bhs Belanda sebagai contoh: toko, soerat, kassian, goedang,
hormat, koeli, senang, pienter, sate begitu juga dgn kata nasi, hanya hati2
apabila Anda memesan "nasi" di Belanda, sebab kata "nasi" disini bukannya
berarti "nasi putih" melainkan "nasi goreng".

Bahasa Inggris juga banyak 'meminjam' (borrowing) kata2 dari bhs Indonesia
antara lain: to run amok(ngamuk), compound (kampung), sarong (sarung), gong,
batik, tempeh (tempe), gamelan, dsb. Yg menarik ttg istilah 'word borrowing'
ialah bhw mereka yg meminjam tidak pernah minta ijin dan tidak pula pernah
mengembalikan yg mereka pinjam itu.

Dgn modal pengetahuan tsb saya berusaha mencari kata2 dlm bhs Indonesia yg
diserap dari bhs Belanda, dan ternyata telah berhasil menemukan sekitar
1.500 kosakata yg berasal dari bhs Belanda. Ini memudahkan bagi saya untuk
mempelajari bhs Belanda, sehingga dlm jangka waktu hanya tiga bulan saja
saya sdh bisa berkomunikasi dlm bhs Belanda. Bagi mereka yg terarik untuk
bisa mendapatkan kamus sakti nya mang Ucup mohon hubungi saya per japri :
mangucup@wanadoo.nl
nanti akan saya fwd secara gratis per email.

Aneh bin nyata bangsa Jepang mengalami kesulitan untuk mengucapkan lafal "l"
sehingga kata Hotel menjadi Hoteru, sedangkan Hallo menjadi Harro,
kebalikannya orang Tionghoa kesulitan mengucapkan lafal "r" sehingga kata2
yg ada huruf "r" nya jadi pelo diucapkannya, padahal kalau direnungkan ras
dan daerah mereka tinggal tidak berjauhan satu dgn yg lain.

Berdasarkan Noam Chomsky, seorang ahli bahasa kenamaan dari Amerika, ini
sebenarnya tidak tergantung dari ras atau etnis darimana manusia itu
berasal, sebab setiap bayi yg dilahirkan di dunia ini telah dilengkapi dgn
perangkat bahasa yg dinamakan Language Acquisition Device (LAD), jadi
bertentangan dgn teori bahwa tiap bayi yg dilahirkan itu bak piring kosong,
atau tabularasa.

Perangkat LAD ini bersifat universal, dibawa anak sejak lahir, sehingga
dapat dikatakan ia sudah dibekali pengetahuan tertentu tentang bahasa. Yg
dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan berbahasanya hanyalah masukan guna
mengaktifkan tombol-tombol universal itu. Sesungguhnya, perangkat bahasa
inilah yg memungkinkan anak bisa memperoleh bahasa apa pun.

Sebagai contoh apabila seorang anak Bule dilahirkan di Shanghai, selama
beberapa tahun memakai bahasaTionghoa, bergaul dgn anak-anak yg berbahasa
Tionghoa, ia tidak hanya akan bisa berbahasa Tionghoa, tetapi bahasa
Tionghoa nya akan menjadi serupa dgn bunyi bahasa Tionghoa penduduk Shanghai
tulen, berarti ia juga nantinya akan turut menjadi pelo untuk mengucapkan
lafal huruf "l'.

Dgn ini saya akhiri oret2an saya mengenai Bahasa.

Mang Ucup
Email: mangucup@wanadoo.nl
Homepage:
www.mangucup.org

Sphere: Related Content