Posted by: Anuv Chaviddy
E-mail: viddyad2@yahoo.com
Hudan Menantang Saut di JAWA POS
Saut Kecil Ingin Mencari Hudan
Saut Situmorang hendak keluar dari selubung malam: ia ingin meraih fajar tapi tak sampai. Entah mengapa ia tak bertenaga meraih fajar itu. Mungkin karena apriorinya bukan pada gagasan tapi pada orang.
Saya memang mengatakan "teks adalah segalanya dan di luar teks tidak ada apa-apa". Tetapi, opini ini saya letakkan dalam sebuah konteks. Yakni, nilai apa pun tidak dapat menghalangi kebebasan berekspresi. Karena, segala pencapaian menjadi mungkin bila seseorang dibebaskan memainkan imajinasinya. Lalu, di manakah batas imajinasi itu? Batas imajinasi adalah sejauh kesanggupan imajinasi itu sendiri.
Entah bagaimana, keyakinan saya akan kebebasan manusia itu, dikaitkan dengan "ribut-ribut" dengan Taufiq Ismail. Lihat kata-kata Saut, "ribut-ribut" , sebutan
yang terkesan antidialog dan antiwacana. Saut telah mencampuradukkan antara ideologi sastra dan dialog sastra. Saya menduga, inilah buah pendidikan yang didapat dari kata-kata "setelah karya lahir, pengarangnya pun mati". Sebuah proposisi yang justru
kami tentang sendiri. Dan kesalahbacaan Saut berlanjut, ketika ia mengaitkan Memo Indonesia dengan "agar karya saya dapat diterima oleh publik sastra".
Astaga: brengket Tuan Saut! Bagaimana mungkin kelahiran Memo Indonesia yang sangat jelas argumennya itu, dapat mendongkrak karya sastra yang saya dan Mariana hasilkan (novel Tuan dan Nona Kosong)? Memo Indonesia adalah undangan untuk dialog yang lebih
luas, (dan bukan upaya membelokkan esensi pidato Taufiq Ismail seperti yang disesali penyair itu dalam wawancaranya di harian Republika).
Inilah serangkaian kesalahbacaan atas dunia sastra Indonesia terkini: Taufiq mem-FAK- kan sastra anak negeri sendiri, tanpa mau melihat sisi transendensi dari karya sastra yang distigmakannya itu. Penyimpulan "seolah-olah ada sastra seks" ini, diikuti oleh
sebagian penulis "polemik sastra pornografi" di Jawa Pos, Republika dan Media Indonesia.
Padahal, saya sudah menjawab tulisan Taufiq Ismail bertajuk "Hudan Hidayat dan Gerakan Syahwat Merdeka (JP/17/6/2007) " dengan "Nabi Tanpa Wahyu (JP/1/7/2007) ", yang menunjukkan sisi transendensi dari karya-karya yang disebut pornografi itu. Apa yang terjadi? Gelombang penolakan berlanjut, tanpa seorang pun merujuk kepada bahan. Bahan seolah dibenamkan dan mereka asyik berpendapat sendiri: "seolah-olah sastra
seks" itu benda yang taken for granted ada. Gejala "monolog" ini, bukan lagi anti dialog dan antiwacana, tetapi telah menjelma ke arah kekerasan wacana. Ambillah contoh beberapa tulisan itu.
Kuswaidi Syafi'ie, penyair dan dosen tasawuf di Universits Islam Jogyakarta, dalam tulisannya "Kado untuk Taufiq dan Hudan" (JP, 5/8/2007), berkata, "Kritik Taufiq
Ismail inilah yang kemudian memancing lahirnya keculasan dan kepandiran paradigmatik yang dikerahkan Hudan Hidayat, Binhad Nurrohmat, Mariana Amiruddin... " Culas dan pandir, itulah sebutan Kuswaidi bagi sebuah dialog sastra yang hendak dicoba dengan mengemukakan argumen.
Dan, Sunaryono Basuki KS, dosen dan novelis Bali, meski sudah mendapat ruang dua tulisan di harian Republika (12/8/2007), tanpa analisis yang jelas dan tanpa menyebut dengan tegas mana karya-karya yang ditolaknya, telah melakukan kekerasan wacana atas
dasar moral, dengan bangun pikiran "seolah-seolah ada sastra seks" itu. "Pernah tersebar luas istilah "sastra wangi", yang mungkin sewangi bau minyak wangi para pelacur murahan," katanya (pelacur murahan, duh Pak Dosen!).
Sunaryono menambahkan, "Tentunya, yang masih punya hati nurani dan rasa malu, tak akan menjebloskan bangsa ini ke dalam kutukan Sodom dan Gomoroh..." Maka, sempurnalah bangun pikiran "seolah-olah ada sastra seks" itu. Tetapi, hanya statemen, tanpa ada
upaya sungguh-sungguh membuktikan pada tingkat tahapan-tahapan analisis sastra, mana karya dan bagian mana dari karya itu ada "sastra seks" tersebut.
Dunia "seolah-olah" itu kini diulang kembali oleh Saut Situmorang, penyair yang agaknya menyediakan diri untuk bertabrakan dengan siapa pun. Ia memang menyebut
novel Tuan dan Nona Kosong, sambil membandingkannya dengan film Paris Chic. Kesimpulan Saut: Paris Chic lebih memberinya tekstase ketimbang novel Tuan dan
Nona Kosong. Karena, Paris Chic mengeksplorasi seks, sedangkan Tuan dan Nona Kosong mengeksploitasi seks.
Lagi-lagi statemen, tanpa tingkatan argumen dari seluruh anasir. Misalnya, bagaimana menjelaskan bahwa metafora seks dan seks sebagai psikologi cerita yang "mengejar" Tuhan yang menghidupi tokoh-tokoh novel Tuan dan Nona Kosong, tanpa harus membuat novel itu menjadi teks yang membangkitkan birahi, adalah eksploitasi seks? Tuan dan Nona Kosong jauh dari dugaan (imajinasi) Saut. Ia menjangkau segala medan wacana dunia: seks (sebagai gejala purba), agama, manusia. Ia bahkan menjangkau medan bahasa dengan menegakkannya melalui penghancuran bahasa (formal). Ia menabrak filsafat penciptaan novel yang selalu bersandar bahwa dunia novel adalah (semata) dunia
fiksi. Tetapi, pada Tuan dan Nona Kosong di balik: novel bukan (semata) fiksi tapi bersambungan dengan kehidupan senyatanya, dengan pengarangnya. Karena itu,
tokoh-tokoh novel memakai nama pengarangnya sendiri. Cover dengan gambar pengarangnya sendiri.
Dan, kata-kata Saut: Tuan dan Nona Kosong diklaim sebagai seni sastra, tanpa pernah dibuktikan dalam kerangka kritik sastra. Betapa naifnya! Tahukah Saut betapa dunia kritik sastra di Indonesia adalah dunia link-sastra yang dibayang-bayangi "kuasa dan usaha" yang bersandar pada dunia "kapital"? Link yang bukan melihat karya sastra secara murni tapi telah berkelindan dengan rasa takut-senang- harap di hati.
Inilah (salah satunya) yang hendak kalian tentang di pertemuan Ode Kampung Dua itu: sebuah dominasi-dominasi kritik sastra, apresiasi sastra, hadiah sastra, terjemahan sastra, even dan perjalanan sastra. Tradisi intelektual yang objektif, apa boleh
buat, masih angan-angan di benak para kritikus sastra kita. Atau bagaimana kalau dibaca begini, Saut: kritikus sastra Indonesia tak mampu menjangkau novel Tuan dan Nona Kosong, dan karena itu mereka berdiam diri, bungkam. Seperti "diamnya" Budi Darma dan menyerahkan nasib novel Tuan dan Nona Kosong agar diuji oleh sejarah. Bukan diuji oleh dirinya sendiri saat ini. Atau Tuan Saut, saya katakan, bahwa kita berada di dalam situasi di mana kritikus sastra bisa membalik angin, setelah memberi kata pengantar terhadap buku Keluarga Gila yang termasuk buku "FAK" seperti diyakini Taufiq Ismail, dan kini menyerahkan otoritas kritiknya kepada gelombang kehendak yang
lebih luas.
Brengket Tuan Saut: bagaimana mungkin upaya mengatasi permainan wacana dengan "menyeberangkan" Tuan dan Nona Kosong kepada orang seperti Rocky Gerung, Afrizal
Malna, Damhuri Muhammad, Muhidin M. Dahlan, Chavchay Syaifullah, Ahyar Anwar, atau Nurudin, Anda sebut sebagai para Hudanis? Alangkah hebatnya Hudan? Lalu apakah peserta Ode Kampung Dua itu harus saya katakan sebagai "Sautis"? Tidak. Saya mengakui dan menerima permainan wacana, sebagai sesuatu yang harus dipatahkan dominasinya, tetapi tidak (semata) melalui gerakan sastra, tetapi (terutama) melalui penciptaan
dan pencapaian karya sastra kreatif.
Memo Indonesia memang mengakui keberagaman dan toleransi atas nilai, tetapi bukan sebagai sesuatu yang tabu didialogkan. Dan, tiap dialog, bagi Saut, adalah sikap agresi. Inilah susahnya: Saut seolah tak memahami hakekat kemajuan dunia, bahwa dunia bergerak maju melalui dinamika dan perbenturan di dalam pemikiran warga dunia. Dan, dunia seperti inilah yang dikehendaki oleh rekan saya, M. Fadjroel Rachman, saat
dia menulis, "Kita semua adalah warga negara bumi manusia dan negara hanya batasan hukum belaka, bukan batas imajinasi, kreasi.." di mana "sedangkan negeri,
entah Indonesia atau apa pun namanya, hanyalah tempat badan secara relatif terikat, tetapi pikiran kesadaran membubung tinggi mengatasi tempat." Dunia tempat manusia mempertarungkan gagasan-gagasannya, sehingga dinamikanya akan membuat dunia bergerak maju. Di mana warganya saling menguji pemikirannya.
Tetapi, dunia ideal yang dibayangkan novelis Fadjroel Rachman direduksi oleh Saut dengan retorik yang sangat simplistik: "...kalau memang identitas Indonesia itu
tidak ada, lantas kenapa masih merasa perlu untuk memakai istilah "Indonesia" dalam nama Memo Indonesia?" Saut abai membaca Fadjroel, yang menghendaki dunia global, dan berperan global, di mana badan dan nama negeri, hanya sebutan belaka. Dunia global yang mestinya kita "rebut dan tandingi", bukan malah menyerah seolah inlander yang hanya bisa mengutip-ngutipnya.
Dan, Saut terus meracau. "Humanisme liberal dari abad 19 penuh dengan frasa-frasa indah tentang kebebasan dan kemanusian," tulis Saut. "Tapi, apa kenyataannya?
Humanisme liberal menyebabkan agama Kristen mati di Barat dan kolonialisme terjadi di Asia, Afrika, dan benua Amerika."
Apakah implikasi kata-kata Saut ini? Apa yang hendak dikatakan penyair yang menulis buku puisi "Saut Kecil Ingin Mencari Tuhan" ini? Adalah kebebasan akan menghancurkan kemanusiaan! Dan, apakah jawabnya? Karena itu kebebasan dan pemikiran harus dibatasi.
Dengan apa? Norma masyarakat! Nilai-nilai baik yang ada di masyarakat. Benarkah? Dan, siapa yang menentukan suatu nilai baik atau sebaliknya? Karena, saat kita tercemplung ke dalam dunia, maka pada saat itulah kita masuk ke medan tafsir dunia.
Inilah pernyataan yang berbahaya. Sebab, sekali kebebasan itu dirampas, maka umat manusia akan meluncur ke dalam jurang kegelapannya. Bahwa relasi "pemikiran" dan "kebebasan" sampai kepada kaum "politisi" menjadi liar dan tak terkendali, bukan
salahnya "pemikiran" dan "kebebasan". Justru "pemikiran" dan "kebebasan" yang dapat menjebol sumbatan kemanusiaan dalam wujud kolonialisme. Kebebasan tiap individu untuk mewujudkan kemanusiaannya sendiri. Seperti teks proklamsi kita itu, dengan segala gerakan "pemikiran" dan "kebebasan" yang mengikutinya.
Brengket Tuan Saut. Yang kita bela adalah manusia, tanpa melihat batasan-batasan dan identitas fisiknya.
*) Hudan Hidayat, penggagas Memo Indonesia bersama M. Fadjroel Rachman, Mariana Amiruddin, dan Rocky Gerung. Penulis novel Tuan dan Nona Kosong bersama Mariana
Amiruddin
JAWA POS - Minggu, 23 Sept 2007
23 September 2007
Saut Situmorang ingin meraih fajar, tapi tak sampai
di
23.9.07
Label: hudan hidayat
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)




0 komentar:
Poskan Komentar