30 September 2007

Para seniman dan sastrawan Lekra, kehidupan mereka sekarang (4-Habis): Hersri Setiawan

Trauma, Pilih Jadi Penerjemah untuk Menyambung Hidup

Tak pernah putus asa dalam menghadapi kondisi sesulit apa pun. Inilah filosofi hidup Hersri Setiawan, mantan ketua Lekra Daerah Jawa Tengah. Di usianya yang kini 71 tahun, dia tetap optimistis melanjutkan hidup, meski merasa masih mendapat perlakuan diskriminatif karena telanjur dicap terkait PKI.

NOSTAL NUANS SAPUTRI, Tangerang

Rumah yang terletak di kawasan Nusaloka, Jalan Sulawesi II, kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang, itu cukup sederhana. Ukurannya tipe 45. Kedatangan Jawa Pos siang itu disambut sangat ramah oleh sosok pria yang rambutnya hampir semuanya memutih. Dia adalah Hersri Setiawan.

Umurnya sudah 71 tahun, tapi masih terlihat energik. "Ayo, langsung ngobrol di ruang belakang," ajak Hersri, mengeluarga, sambil mengenalkan istrinya, Ita Nadia, kepada Jawa Pos.

Ruang belakang rumah itu, tempat kami ngobrol, langsung menghadap ke sebuah taman kecil. Hersri mengawali obrolan dengan kecintaannya kepada dunia sastra yang sampai sekarang masih belum pudar.

"Insya Allah, saya segera meluncurkan kumpulan puisi saya yang pertama," tuturnya ketika ditanya tentang aktivitasnya belakangan ini. Buku kumpulan puisi yang diterbitkan Yayasan Tifa itu diberi judul: Inilah Pamlet Itu. Apa makna judul tersebut?

Dengan gaya bicara yang bersemangat, Hersri menjelaskan makna pamflet dan hubungannya dengan isi puisinya. "Pamflet artinya tulisan atau pernyataan singkat. Dan puisi yang saya ciptakan dalam buku itu sebagian besar menceritakan kehidupan korban peristiwa '65 (G 30 S/PKI)," tuturnya.

Menurut dia, pascaperistiwa pembunuhan terhadap tujuh jenderal Angkatan Darat dan seorang perwira polisi itu, banyak orang ditangkap, bahkan dibunuh, karena dituduh terlibat gerakan PKI.

"Saya ingin menyuarakan sejarah bagi mereka yang kini tidak bisa lagi bersuara," kata Hersri, sambil duduk santai di kursi makan, ruang belakang itu. Bagi dia, puisi bisa digunakan sebagai media untuk belajar sejarah. "Jika ingin belajar sejarah, carilah dari berbagai aspek. Bukan hanya dari buku-buku konvensional terbitan pemerintah saja," tuturnya, sambil menggerak-gerakkan tangan ke atas dan ke bawah.

Hersri memang begitu bersemangat dengan buku kumpulan puisinya. Sebab, setelah dua tahun sempat dijebloskan ke penjara di Lapas Salemba sejak 1969, kemudian delapan tahun diasingkan ke Pulau Buru sejak 1971, baru kali ini dia bisa menerbitkan kumpulan puisinya.

"Begitu bebas dari pengasingan, fokus saya adalah melanjutkan hidup dengan mandiri," ujarnya. Meski mengaku masih bisa menulis puisi dan artikel, hal itu sengaja tak dilakukan Hersri yang memang mantan guru dan wartawan tersebut.

"Saya memilih pekerjaan lain, karena menjadi guru dan wartawan adalah profesi yang terlarang bagi eks tahanan politik seperti saya," ujarnya dengan pandangan menerawang.

Sekeluarnya dari penjara (antara 1979-1980), pria lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu segera menghubungi rekan-rekannya di luar negeri, ketika dia bertugas sebagai ketua Delegasi Kebudayaan Indonesia untuk Forum Asia-Afrika di Kolombo, Sri Lanka. "Dari mereka lantas saya mulai menjajaki lagi dunia penerjemahan, yang sebelum ditangkap sempat saya kerjakan di kantor-kantor perwakilan asing," ceritanya.

Selain menjadi penerjemah bahasa Indonesia untuk peneliti Jerman dan Belanda, Hersri menjadi penerjemah bahasa Inggris untuk diktat-diktat sosiologi, filsafat hukum, dan psikologi untuk mahasiswa.

"Dulu Mulyana (mantan anggota KPU Mulyana W. Kusumah, Red) saat kuliah semester akhir sering meminta saya menerjemahkan buku-bukunya," kenangnya. Aktivitas sebagai penerjemah itu dia lakoni antara kurun 1981-1987.

Pada 1981, tiga sahabatnya yang peneliti dari Jerman membantu usaha penerjemahan itu. "Mereka mengumpulkan uang sampai Rp 3 juta untuk membantu saya membuka biro penerjemahan di Tebet Timur," katanya.

Pada tahun yang sama, putra Anom Sosrohardjo itu menikahi seorang aktivis perempuan Belanda bernama Ruth Havelaar. "Kami dikaruniai seorang putri bernama Ken Marijtje Prahari." Meski telah dibebaskan dari pengasingan, kehidupan pernikahan mereka tak lantas berjalan mulus. "Pada 1987, istri saya divonis terkena kanker payudara. Karena tak yakin bisa sembuh, saat itu dia memutuskan pulang ke Belanda dan membawa putri kami," bebernya.

Langkah tersebut diakui Hersri sangat tepat. Sebab, saat itu, anak-anak eks tapol (tahanan politik) diperlakukan sangat diskriminatif. "Anak tapol biasanya sulit masuk sekolah negeri. Mereka sering diejek oleh teman-temannya di sekolah," tambahnya.

Setahun setelah kepergian istri dan putrinya ke Belanda, Hersri lantas menyusul ke Negeri Kincir Angin itu. Di Belanda Hersri melanjutkan pekerjaan sebagai penerjemah. "Di sana saya belajar bahasa Belanda dan bekerja sebagai penerjemah bahasa Indonesia di Universitas Leiden."

Karena cukup lama tinggal di Belanda, ditambah lagi situasi di tanah air yang tak menguntungkan bagi kehidupannya, Hersri memutuskan pindah menjadi warga negara Belanda.

Hersri baru pulang ke tanah air ketika putrinya berusia 26 tahun dan melanjutkan pendidikan S-2. Sang istri akhirnya meninggal pada 1989, setelah bertahun-tahun bergelut dengan penyakit kanker payudara.

"Saya kemudian menikah lagi pada 2004, juga dengan seorang aktivis perempuan. Tapi, kali ini wanita Indonesia asli," katanya, lantas tertawa. Wanita bernama Ita Nadia yang seorang aktivis HAM itu dia temui di Belanda. Saat dinikahi Hersri, wanita yang kini 49 tahun itu berstatus janda dengan dua anak (semuanya putri, masing-masing kini duduk di semester III perguruan tinggi dan kelas 2 SMA).

Kini boleh dikatakan kehidupannya bersama istri dan kedua anak tirinya cukup mapan. Mereka berdua memutuskan berjuang menegakkan HAM bagi eks tapol '65. "Pemerintah Orde Baru tidak hanya menangkapi tokoh-tokoh yang benar-benar terlibat pembunuhan tujuh jenderal. Namun, juga menangkapi, bahkan membunuh, orang-orang yang pro-Soekarno tanpa pembuktian dan persidangan," tambah Hersri didampingi Ita, istrinya.

Ketika ditanya soal keterlibatannya di Lekra, Hersri punya alasan tersendiri. "Saya bergabung dengan Lekra karena tidak puas dengan hasil perundingan Konferensi Meja Bundar tentang kebudayaan Indonesia pada 1950," tuturnya. Saat itu, lanjutnya, kebudayaan Indonesia harus tunduk pada kebudayaan kolonial Belanda yang jadi sentral negara Indonesia Serikat.

Hersri mengaku sangat mencintai dunia sastra dan kebudayaan Indonesia sehingga tidak rela jika harus berkiblat pada budaya Belanda. Dia mulai masuk Lekra ketika kuliah di Jurusan Publistik dan Ilmu Kemasyarakatan UGM. Prestasinya terus berkibar hingga dia dipilih menjadi ketua cabang Lekra Jogja, kemudian ketua Lekra Daerah Jawa Tengah. "Ketika di Lekra, saya pengagum berat Bung Karno dan sudah sering membuat artikel serta puisi tentang Bung Karno.

Kepengurusannya di organisasi budaya sayap kiri dan keberpihakannya kepada pemerintah Bung Karno itulah yang kemudian membuatnya dipenjara pada 1969 di Lapas Salemba. Kemudian dia diasingkan di Pulau Buru mulai 1971 hingga 1979. "Di Pulau Buru saya sering disiksa. Telinga pernah dimasuki jangkrik dan direndam air hingga tuli yang sebelah kiri karena ada seorang teman sebarak yang melarikan diri," kisahnya.

Pensil, kertas, dan buku-buku bacaan pun tak boleh dia dapatkan. Karena itu, untuk mengasah ingatan serta menggambarkan alam Buru dalam puisinya, terpaksa dia menghapalkannya dalam bentuk lagu. (*)

Jawa Pos - Minggu, 30 September 2007

Sphere: Related Content

Batavia Awal Abad 20

Batavia Awal Abad 20
gedenkschriften van een oud-kolonial

karya H.C.C. Brousson

193 hlm /Pengantar Iskandar P Nugraha /
September 2007 / Rp 35.000

***

Di buku ini Batavia dikupas dengan imajinatif, jenaka, naif, namun kadang menyentuh dan tema-tema disusun dengan cerdik. Sebab itu pembaca dapat mengoptimalkan seluruh pancaindera demi merasakan nuansa tempo doeloe, mulai dari kehidupan di tangsi militer hingga pernik-pernik keunikan Batavia yang “tak boleh terlewatkan” (keindahan Weltevreden, Ciliwung yang “sulit dipercaya”, Glodok yang begitu hidup dengan Pecinannya, tempat-tempat ibadah dan pelesiran khas Hindia, bahkan kondisi masyarakat Batavia yang kosmopolitan di abad baru). Meskipun kita harus meminjam mata Brousson yang sesungguhnya sarat dengan ideologi kolonial, buku ini berguna untuk panduan wisata Batavia masa silam yang mampu membawa kesadaran bahwa Jakarta tempo doeloe itu di sana-sini masih memperlihatkan kesamaan dengan Jakarta masa sekarang.

Buku ini juga bukan sekadar cetak ulang tetapi juga ada penambahan dua bab baru dan pemberian beberapa ilustrasi gambar dan foto sejaman serta pengantar ahli sejarah pariwisata dari UNSW, Iskandar P Nugraha.

***

Bisa didapatkan di toko-toko Gramedia dan Gunung agung serta Toga Mas mulai 30 September 2007 atau langsung pesan ke Penerbit Masup Jakarta dan jadi pembaca pertama dengan rabat 15% dan fasilitas antar di seluruh wilayah Jabotabek dan paket untuk luar Jabotabek.

PENERBIT
MASUPJAKARTA
Jl. Mesjid At-Taqwa No. 11 Beji Timur
Depok 16422
Telp/Fax: 021-7755462
email: masupjakarta@yahoo.com atau kobambook@yahoo.com

Sphere: Related Content

Candik ala GM Sudarta

Setelah matahari tengah hari tergelincir, langit berangsur berubah
berwarna kuning. Sinar menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut
kuning menerpa seisi alam. Cuaca seperti inilah yang oleh ibu disebut
sore "candik ala". Suatu sore yang jelek. Suatu sore yang membawa
malapetaka dan penyakit. Dalam cuaca seperti ini, kami diharuskan
masuk ke dalam rumah.

Aku tidak lagi mau bertanya kepada ibu, perihal kenapa kita mesti
takut kepada cuaca seperti itu. Karena kalau aku bertanya hal-hal
aneh, seperti misalnya larangan untuk duduk di depan pintu yang nanti
akan dimakan Batara Kala, akan selalu dijawab dengan nada agak marah,
dengan kata yang tak kupahami maksudnya: "Ora ilok!" kata ibu.

Tapi kali itu, setelah beberapa kali mengalami sore candik ala, aku
tak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang ayah, yang sudah
berbulan-bulan tidak pulang. Ibu seperti menghindar, memalingkan muka
menyembunyikan wajahnya, sambil jawabnya:

"Nanti juga kalau saatnya pulang, pasti pulang."

"Apa nggak kena penyakit karena candik ala, Bu?" tanyaku tak sabar.
Ibu diam saja.

Memang, kadang-kadang setengahnya aku kurang percaya dengan hal-hal
aneh demikian, tapi kadang kala pula hati dibuat ciut dengan kejadian
seperti yang pernah kami alami tahun lalu. Menjelang tengah malam
kudengar suara kentongan bertalu-talu, seperti jutaan kentongan
dipukul bersamaan. Semula terdengar samar-samar, seperti dari
kejauhan, semakin lama semakin keras seperti semakin mendekat. Ibu
segera berdiri di balik pintu depan, sambil komat kamit membaca doa.
Kudengar sepotong doanya:

"Ngalor, ngalor, aja ngetan aja ngulon."

Kupeluk kaki ibu karena ketakutan oleh sesuatu yang tidak kumengerti.

"Ada gejog," kata ibu, "Nyai Roro Kidul bersama bala tentaranya sedang
berarak menuju istananya di gunung Merapi. Orang yang tinggal dekat
Segara Kidul, yang pertama kali melihat ombak laut besar dan suara
gemuruh, mulai memukul kentongan. Itu pertanda Nyai Roro Kidul keluar,
naik kereta kencana, diiringi para serdadu jin. Kemudian orang desa
yang akan dilewati rombongan itu beramai-ramai memukul kentongan
supaya beliau tidak singgah ke desanya. Karena setiap beliau singgah,
beliau akan mengambi abdi dalem baru."

Aku tetap kurang paham akan keterangan ibu. Yang aku tahu ibu telah
berdoa supaya rombongan itu tidak singgah ke sebelah timur Gunung
Merapi, letak desa kami.

Beberapa hari kemudian, malamnya, dua lelaki berseragam loreng datang
ke rumah dan mengajak ayah pergi, sepertinya dengan cara paksa. Ibu
mengejar sampai halaman depan sambil memohon supaya ayah jangan dibawa
dengan penuh iba.

"Ayah dibawa Nyai Roro Kidul ya Bu?" tanyaku.

"Hush!" jawab ibu sambil bergegas langsung masuk kamar tidur. Kudengar
tangisan ibu menyayat hati.

Berita tentang perginya ayah merebak ke seluruh desa. Meskipun tak
begitu aku pahami artinya, kudengar dari Lik Kasdi, pamanku, bahwa
ayahku terlibat. Terlibat apa aku kurang jelas, hanya yang kuketahui
juga dari tetangga bahwa ayahku adalah seorang pegawai negeri yang
suka memberi penyuluhan kepada para petani.

Sejak itu, ibu kerap pergi dengan menjinjing rantang berisi nasi
dengan lauk ikan asin dan sayur daun singkong kesukaan ayah. Kami,
anak-anak, tidak diperkenankan ikut serta. Beberapa kali, aku yang
merasa anak terkecil suka merengek minta ikut. Dengan sedikit marah
ibu menjawab:

"Ibu akan nengok ayahmu yang sedang kerja, kamu jangan ganggu dia!"

Pasti ayah sedang kerja lembur, pikirku. Tetapi beberapa bulan
kemudian, ibu tidak bisa lagi berbohong, karena kemarin aku dengar
dari Lik Kasdi, bahwa ayah ditahan di kota.

Dan dia bercerita panjang lebar, tentang pemberontakan besar. Waktu
itu yang tertangkap dalam otak kecilku adalah tentang para jenderal
yang dikorbankan dimakan buaya di sebuah lobang.

"Ayahmu sedang berjuang," ujar ibu dengan wajah keruh ketika aku tanya
soal tahanan ayah. Tanpa tahu apakah yang dimaksud dengan berjuang,
yang pasti aku kerap kali menangis sendirian bila malam waktu tidur
tiba. Setiap bangun pagi, ibu melihat mataku sembab. Rupanya ibu pun
tahu akan kerinduanku pada ayah. Kulihat air matanya mengembang.
Kemudian memelukku erat-erat, dan tangisnya tertahan meskipun air
matanya deras membasahi pundakku. Jadinya aku ikut menangis tanpa
kutahu sebabnya.

Sore itu, cahaya candik ala menyelinap lewat jendela menerpa lemari
kaca tempat memajang foto ayah dalam bingkai. Mungkin karena rinduku
pada ayah, kulihat seakan foto ayah bergerak, tangannya melambai
kepadaku. Terasa di dalam dadaku ada yang menggelepar- gelepar.

Kudengar pula dari Lik Kasdi, ayah bersama para tahanan beberapa lama
ini sedang dipekerjakan membuat tanggul sepanjang rawa besar di daerah
tak jauh dari rumah kami. Katanya tanggul yang sepanjang tiga
kilometer ini sekaligus untuk jalan penghubung antardesa yang terpisah
oleh rawa. Karena rinduku tak tertahankan lagi, dengan mengendap-endap
lewat pintu dapur, tanpa sepengetahuan ibu dan tanpa takut dengan
cuaca candik ala, sambil membawa pancing bambu, kugenjot sepedaku lari
kencang ke rawa, dengan harapan ayah masih di sana.

Setiba di sana, nampak banyak orang berseragam loreng dengan
menyandang senjata laras panjang. Mereka berjaga di sebelah timur
rawa, di mana kulihat ratusan orang sedang bekerja menggali tanah dan
mengangkat batu. Dalam terpaan cahaya kuning, wajah-wajah kurus
semakin mempertegas cekungan mata bagai mayat hidup. Dadaku
berdebar-debar, tak sabar untuk bisa cepat-cepat bertemu ayah, yang
mungkin ada di sana. Beberapa meter sebelum mencapai tempat mereka,
seorang petugas mengusirku, dan menyuruhku mancing agak jauh dari situ.

Kutaruh sepeda di pinggir jalan, kemudian duduk mencangkung di atas
batu padas di pinggir rawa. Dengan berpura-pura memancing, terus
kutajamkan mataku mencari ayah di antara ratusan orang yang sedang
bekerja. Langit yang membiaskan warna kuning agak menyilaukan mataku,
sehingga sulit mencari di mana ayah berada. Ketika langit berubah
warna memerah, pertanda magrib menjelang tiba, dan ketika aku nyaris
putus asa, kulihat di kejauhan seseorang berdiri tegak memandang ke
arahku, sementara yang lain masih bekerja…. Itulah ayah!

Kulempar pancing, tanpa menghiraukan para petugas, aku pun berlari,
menangis sambil berteriak keras-keras memanggil ayah. Ayah seperti
tertegun melihat kedatanganku.

Tetapi kemudian wajahnya berubah gembira, meskipun kulihat seperti
dipaksakan. Lengannya terentang menyambutku. Kujatuhkan diriku memeluk
lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Kulihat ayahku sangat kurus dan
lusuh, tapi nampak diusahakan selalu tubuhnya ditegap-tegapkan.

"Kapan ayah pulang? Kapan, yah, kapan?" tanyaku berulang-ulang

Ayah tersenyum lebar sambil jawabnya: "Nanti kalau kerja besar ini
selesai, cah bagus."

Beberapa petugas mendekati kami. Ayah bicara kepada mereka beberapa
saat, kemudian kami dibiarkan berdua. Kami hanya berpelukan sampai
terdengar peluit tanda usai kerja. Kami bergerak bersama para tahanan
menuju truk-truk yang sudah tersedia, sambil kupeluk pinggang ayah.

"Ayah tidak kena penyakit karena candik ala?" tanyaku.

Ayah tertawa. Sambil mengelus rambutku ayah bekata:

"Tidak mungkin ayah kena. Ayah sehat karena banyak makan sayur."

Kemudian ayah membopongku, menciumiku sambil tawanya yang nampak
dipaksakan pula. "Ayah nanti tidur di p..p..penjara? " tanyaku
terbata-bata menahan tangis.

"Siapa bilang, he..he..he, bukan di penjara, tapi di hotel!"

"Ayah sedang berjuang?" tanyaku kemudian. Ayah nampak kaget.

"Ibu yang bilang…," kataku menjelaskan. Ayah tertawa mendengar ini.

Menjelang dekat truk, ayah berjalan dengan tegak sambil menyanyikan
sebaris lagu Indonesia Raya. Para petugas dan para tahanan
terheran-heran, memandang kami. Setelah menurunkan aku dari
gendongannya, ayah melompat ke bak truk. Sambil menoleh kepadaku, ayah
mengacungkan tinju ke atas, dan katanya keras-keras:

"Ingat Aryo, kamu harus selalu berjalan tegak, menghadapi nasib apa
pun. Termasuk kalau ada candik ala…. Dan jangan lupa lagu Indonesia Raya!"

Barisan truk pelan-pelan semakin jauh meninggalkanku sendirian di
pinggir rawa. Tak terasa air mata membanjir membasahi pipi.

"Ayaaaaaaaaah! !" teriakku keras-keras muncul sendiri tanpa kusadari.

Saat usia sekolahku tiba, suatu malam Lik Kasdi, yang sudah menjadi
carik desa, datang mengunjungi rumah kami. Di ruang depan dia bicara
setengah berbisik kepada ibuku. Dari balik pintu kamarku, kutangkap
pembicaraan mereka, bahwa ayah sudah menyambut maut dengan gagah
sambil menyanyikan Indonesia Raya, katanya.

"Saya sudah berusaha keras menolongnya, Mbakyu," ujar Lik Kasdi,
"Sudah kuberi bukti bahwa Mas Kasman tidak terlibat, melainkan karena
fitnah bekas bawahannya yang sakit hati karena dia pecat." Aku mau
menangis keras, tapi terasa tenggorokanku tercekik. Semalam suntuk aku
terduduk di balik pintu kamar, sambil mendengar isakan ibu dan Yu
Rini, berkepanjangan di kamarnya.

Tiga tahun kemudian, ibuku pun menyusul ayah. Bukan karena diambil
Nyai Roro Kidul, melainkan oleh sakit batuk yang diidapnya sekian
lama. Yu Rini pun menikah dengan seorang aparat desa dan aku ikut
dengannya. Berpuluh tahun kemudian, setelah melewati berapa puluh sore
candik ala, setiap cuaca demikian, ada sesuatu yang pedih, seakan ada
yang pecah berkeping-keping di dalam dadaku. Dan telah sekian puluh
tahun pula aku mencoba benar-benar berjalan tegak, tapi sangatlah
sulit. Hanya karena aku adalah anak kandung ayah. Dan semua orang
masih saja mengingat ayah adalah ayah kandungku.

Sekarang ini, aku masih juga mencoba berjalan tegak, meskipun sudah
sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi hanya baru bisa melata di
tanah!

Klaten, 2005

Catatan:

Candik ala: pertanda buruk dengan cuaca sore yang membiaskan warna kuning

Ora ilok: pamali, larangan

Gejog: barisan roh halus

Nyai Roro Kidul: Ratu Laut Selatan

Ngalor, ngalor, aja ngetan, aja ngulon: ke utara, ke utara, jangan ke
timur jangan ke barat

Segara Kidul: Laut Selatan

Kali Woro: sungai besar di lereng gunung Merapi yang dipenuhi pasir
dan lahar dingin


http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/30/seni/3866233.htm

Sphere: Related Content

"Hei! Jangan Kau patahkan "

Ananda Sukarlan's new work for children's choir

"Hei! Jangan Kau patahkan "
(based on a sonnet by Sapardi Djoko Damono), commissioned by Seven Chorale for their 3rd anniversary Asian Tour will be premiered in this concert.

Don't miss it !

Cheers

Chendra Panatan

---------------------------------

SEVEN CHORALE presents
3rd Anniversary Concert

"BECAUSE WE SING!"
Rizal A. Tandrio, conductor

incl. the world premiere of a new work by
Ananda Sukarlan
Saturday - October 20th, 2007

Goethe Haus
Jalan Sam Ratulangi No. 9-15
Jakarta Pusat

Ticket Price
Rp 60.000,- (all seats)

Information & Reservation
Stella : 9377 0577 / 0818 727426
Malinda : 0815 11605383

mail@sevenchorale.org

www.sevenchorale.org

www.friendster.com/sevenchorale

Sphere: Related Content

Blog Talago Buni

Saya baru buat blog kusus untuk Talago Buni Contemporary Music of Minangkabau.


Silakan klik:

talagobuni.blogspot.com

Mudah-mudahan ini bisa memperkaya keragaman budaya Indonesia.

Terimakasih.


Salam


Edy Utama
Pimpinan Talago Buni

Sphere: Related Content

Tuan Saut nan luar bi(n)asa

Kiriman: Indra Bambang, Yogyakarta
E-mail: indrabambang13@yahoo.com


Saut dan Si Orang Utan

Dari dulu, lingkungan seni Jogjakarta penuh orang yang suka menepuk dada sendiri. Yang merasa penting di lingkungan sendiri. Orang yang suka ngomong gede. Dan merasa dirinya menarik di hadapan orang lain. Yah, aku tahulah. Aku kan lahir di Jogja, dan nyemplung ke lingkungan pergaulan kesenian Jogja sejak 1970an. Bergaul doang sih. Di kelompok Umbu Landu Paranggi dulu, aku juga nulis sajak. Sempat masuk Sabana, itu yang oleh Umbu digolongkan berkualitas nasional. Dan aku juga tahu betul gimana para pelukis Jogja. Aku kenal dengan beberapa anak Seni Rupa Baru yang kuliah di Gampingan.

Budaya gosip memang bagian dari kultur Jogja. Maksudku kultur pergaulan seniman. Dan tampaknya ini pupuk yang bagus buat kreativitas. Paling nggak memupuk persaingan. Dari dulu banyak yang ngomongnya gede, merasa dirinya burung merak. Kayaknya nggak ada yang lebih penting di dunia ini ketimbang diri mereka. Ini soal gaya lho. Lihat saja itu Rendra (Mas Willy), Motinggo Boesje, Umar Kayam, sampai anak-anak Persada di bidang sastra. Di bidang seni lukis ada Sudjojono, Nyoman Gunarsa, Gendut Riyanto, sampai anak-anak sekarang seperti Agung Kurniawan. Semuanya hobi manas-manasin orang.

Tapi soal gaya pribadi ini tak gawat-gawat amat sih. Ini kan warisan dari kultur agraris juga. Raja-meraja. Biar mereka suka menepuk dada sendiri dan mengejek orang, yang penting buat aku gimana karya mereka. Begitu aku melihat karya yang bagus, kulupakanlah segala yang jelek tentang pribadi pembuatnya. (Terus terang saja, mereka yang gede kepala dan gede mulut itu, sering cuma nebeng hidup pada teman- teman, keluarga, bahkan istri sendiri. Mungkin dengan itu mereka bisa konsentrasi berkarya? Yo wislah, karya mereka bagus, jadi kulupakan kehidupan mereka yang miring itu.)

Nah, kurang lebih empat tahun yang lalu, laki-laki ini datang ke Jogja. Dari gayanya, tampaknya dia oke. Bakal meneruskan kultur urakan Jogja. Dia sedikit tambun. Rambut gondrong dikucir. Sangar tapi sayu. Selalu bercelana pendek; alamak, terlalu pendek, panjangin dikit dong! Tampaknya dia penerus tradisi omong besar di Jogja. Boleh juga gayanya. Selalu terlihat minum bir. Malah di Biennale Jogja 2004 dia selalu menenteng botol bir ke sana ke mari. Cailah. Tampaknya dia ingin membawakan diri sebagai “poete maudit”. Kayak Baudelaire atau Chairil Anwar. Hmmm. Boleh juga. Namanya Saut Situmorang. Penyair, yaitu orang yang nulis puisi (semua yang nulis dan nerbitkan puisi boleh disebut penyair kan, biarpun puisinya jelek?). Dia orang Batak tentu. Tapi pindah dari Bali. (Baru belakangan aku tahu dia kenapa dia lari dari Bali. Tapi ini kurang pantaslah kalau dikisahkan di sini.)

Sebenarnya aku nggak terlalu peduli dengan dia. Aku lebih memperhatikan para pelukis (wuah, aku bosan dengan sastra, yang begitu-begitu melulu!). Di kalangan pelukis atawa perupa ini banyak yang lebih edan gayanya. Lihat saja itu Ugo Untoro, S. Teddy D, Bob Sick Yudhita, Agung Kurniawan, dan Samuel Indratma dan (dulu) Eddie Hara. Juga Agus Suwage yang pendiam itu, ternyata juga pemain gitar yang edan (eh, dia bisa ngoleksi gitar yang mahal-mahal dan punya studio musik lagi). Dibanding mereka ini, gaya si Saut mah kagak ada apa-apanya.

Tapi Saut ini ada juga lainnya. Tenaganya untuk berselancar di mailing list (dan SMS) luar biasa. Dia bersemangat sekali menyerang lawan-lawannya di bidang sastra, terutama Orang Utan Kayu. Seakan-akan nggak ada yang lebih penting dipikirin di dunia ini ketimbang Orang Utan Kayu. (Aku heran, kenapa si Orang Utan kagak menjawab? Mungkin mereka cuma mesem-mesem saja. Sialan, ayo turun ke gelanggang dong. Biar rame. Kalian perlu juga sekali-kali jadi petinju!)

Nah, karena tembakan si Saut (dan kamerad-kameradnya yang menamakan diri gerombolan Boemi Poetera dan yang lain-lain juga) kagak berhenti, aku mulai memperhatikan dia. Ribut amat sih? Apa kagak ada hal-hal yang lebih penting? Kalau ada orang yang bersemangat “berjuang” begitu, tentu aku mulai penasaran, barangkali ada yang menarik dari mereka? Mungkin pikiran, mungkin karya, mungkin juga cita-cita perjuangan itu
sendiri. Mungkin kultur Jogja sedang memberi alternatif terbaru?

Setelah membaca berbagai pernyaatan si Saut dalam beberapa bulan terakhir ini, aku mesti bilang, wah payah deh. Isinya kok maki-makian melulu. Nggak berkelas polemik. Cuma menunjukkan ketidakmatangan penulisnya. Heran aku, kenapa mereka kok menimpakan semua kesalahan (yang menyangkut karir sastra mereka) pada Orang Utan Kayu?

Yang aku heran adalah apa yang mereka sebut “dominasi” atau “mafia” Orang Utan Kayu. Nggak jelas buat aku, apa itu “dominasi”, apalagi “mafia”. Menyerang Orang Utan Kayu tanpa argumen yang cukup itu sih sama saja dengan mengganggap si Orang Utan penting. Dari dulu nggak berubah “politik sastra” kita ini. Nyerang Jassin kek, majalah Sastra
kek, majalah Horison kek, yah tetap saja. Memperkuat otoritas pihak musuh karena serangan yang sembarangan. (Wah, jangan-jangan mereka nyerang karena nggak dimuat saja di koran-koran yang redakturnya kebetulan anggota Orang Utan?)

(Yang buat aku aneh adalah koran kayak Media Indonesia [koran besar lho!] ikut nampung maki-makian itu. Aneh juga, sebuah koran besar bisa ikut “mengamini dominasi” Utan Kayu yang markasnya kecil dan nyelempit di Jakarta Timur itu. Wah mereka sudah kehilangan “sense of proportion”. Aku curiga jangan-jangan pak wartawan dan redaktur itu juga pingin dapat pengakuan tuh. Wah, Orang Utan kok dianggap serius! Piye toh?)

Kembali ke si Saut. Dia ini tampaknya memang “bapak spiritual” dari gerombolan lawan Orang Utan Kayu. Dia memang kelihatan lebih pinter dari gerombolan Boemi Poetera, yang modalnya cuma kemarahan plus ngomong kosoooong doang (mereka bikin “jurnal”, tapi kagak ngerti tuh apa bedanya “jurnal” dengan “selebaran”, jangan-jangan mereka kagak ngerti tuh apa bedanya “buruh” dengan buruh). Si Saut ini memang kayaknya membaca banyak, dan aku cukup kagum juga dengan “name dropping” dalam berbagai “risalah”-nya. Biasalah, di negeri bekas jajahan ini, yang ngaku intelektual nggak pede tuh kalau nggak nyantol ke nama-nama impor.

Ada yang mendasar dalam tulisannya? Nggak ada. Ya cuma maki-makian itu tadi. Dia mungkin mencari Bapak Literer yang mau mengakuinya Anak, tapi juga dia mau membunuh si Bapak. Mungkin sastra Indonesia dianggapnya Ibu yang bisa dia kawini. Tapi sastra ngindonesia ini ternyata bukan Bapak dan Ibu. Aku sudah biasa dengan “nalar” kayak gini. Dulu anak-anak Persada ingin membunuh Umbu, Pengadilan Puisi kepingin membunuh
Jassin dan Horison, dan Gerakan Desember Hitam mau membunuh Seni Lukis Nasional Indonesia (via Dewan Kesenian Jakarta). Capek deh! Kagak brenti juga gini hari!

Tuan Saut ini secara “luar bia(n)asa” menggabungkan istilah-istilah teori sastra mutakhir dengan makin-makian. Yah, hasilnya cuma uneg-uneg saja. Lebih banyak gosip. (Saya sih lebih suka pikiran yang langsung, kagak pake “name dropping”). Bahkan dia lebih banyak salah-persepsi dan salah-baca. Misalnya ketika dia mengatakan (kurang lebih, kepada Manneke Budiman) bahwa “jurnal” Boemi Poetera bergaya Dada kayak di
Eropa awal abad 20. Wah, ini ngawur bah! Dia kira kita kagak ngarti tuh sejarah seni modern.

Kalau dia betul-betul paham, maka yang bergaya Dada itu bukan Boemi Poetera. Yang Dada(istik) itu Puisi Mbeling Remy di majalah Aktuil 1970an, dan mungkin Pengadilan Puisi Indonesia 1974. Meledek “establishment” tapi juga kocak dan penuh ironi terhadap diri sendiri. Itu baru gerakan dari orang yang bisa nulis. Kalau anak-anak Boemi Poetera sih masih harus belajar nulis dan belajar berpolitik. Sori. (Mas Wowok Hesti, kudengar anda anggota PDIP, tapi kok kiprah anda mirip FPI sih! Belajar ke Taufik Kiemas dan Pramono Anung, dong!)

Tadinya sih kukira si Saut ini berbakat nulis esai. Kayaknya provokatif. Ternyata dalam 2-3 bulan ini ketahuan sebenarnya dia cuma ngobral snobisme saja. Cuma obrolan warung kopi yang berbentuk tertulis saja. Gosip. Dan yang lebih “penting”, dia nggak pernah menghormati lawannya. Buat dia, lawan “polemik” itu juga lawan yang harus dihabisi. Lihat saja misalnya balasan dia ke Fadjroel Rachman dan Manneke Budiman). Sama sekali nggak bergaya Dada(isme). Tapi gaya serdadu Uganda! Kalau mau berpikir jangan kalap dong, Pak. Anda kan sudah lama ninggalkan tangsi. Jauh-jauh sekolah ke Negeri Biri-Biri lagi.

Nah, sekarang aku ke soal lingkungan pergaulan di Jogja. Si Saut ini, kalau menyerang lawan-lawannya, dia menyerang pribadi. Tapi dia rabun dekat. Sori aku terpaksa rada pribadi nih. Dia menyerang (memaki!) “establishment”, tapi sori ya, dia itu juga ngenger pada establishment yang lain, yang lebih kongkrit. Namanya (keluarga) Agus Suwage dan (keluarga) Made Wianta (dulu di Bali). Aku sih sebenarnya nggak punya
masalah dengan ini. Cuma aku keberatan kalau “gaya sepenaknya” dia itu disebut gaya Jogja. Jogja itu biarpun ngeledek, mengumpat, masih punya martabatlah. Kagak numpang tapi ngaku mandiri.

Terhadap establishment seni rupa itu dia tunduk habis-habisan. Soalnya dia hidup dari situ. Paling nggak numpang ngebir-lah. Berbotol-botol. Hampir tiap malam. Atau dia jadi penerjemah katalog seni rupa. (Oh ya, aku sempat membaca terjemahan dia di katalog Agus Suwage di Nadi Gallery. Aduh, jelek banget terjemahannya. Sori.) Gajah di pelupuk mata tak tampak. Yang tampak adalah kuman di seberang, namanya Orang Utan
Kayu. Ayo Bung, ganyang juga dong establishment seni rupa. Mereka itulah yang sadar nyemplung ke kapitalisme internasional. Tapi kan Bung nggak brani, karena dengan duit mereka Bung bisa mabuk bir tiap malam?

Tadi kubilang bahwa aku akan memaafkan kelakuan pribadi seniman kalau karyanya bagus. Nah gimana karya Saut Situmorang ini? Kubaca-baca lagi. Karya yang kayak beginian ini (misalnya “saut kecil bicara dengan tuhan”) dulu banyak ditulis teman-temanku di Pelopor Yogya tahun 1970an. Misalnya Darwis Khudori, Mustofa W. Hasyim, Suripto Harsah, RS Rudhatan, Bambang Darto, juga Umbu sendiri.) Tapi karya teman-temanku
itu (ingat 1970an) jauh lebih baik. Saut itu penyair romantik (kayak teman-temanku), tapi kok telat banget ya. (Dia kan ngerti posmo, mestinya pake “pastiche” dong, paling nggak berjaraklah dari yang romantik.) Dia orang Sumatra, tapi kok bahasanya lebih miskin ketimbang para penyair Jawa. (Wah ini, bukan rasisme lho, aku cuma ingat Sitor, yang betul-betul tahu bagaimana mewarisi Batak dan Melayu.)

Jadi ujung-ujungnya, Saut itu bukan tokoh sastra. Nulis “karya” sastra dan “pikiran” sastra, tapi baru setaraf ngomong doang. Padahal umurnya sih sudah kepala empat. Sebagai orang Jogja, aku tersinggung berat. Apa dia harus di-persona-non-grata-kan? Nggak usah deh. Biar aja dia aman di lindungan rumah Agus Suwage. Jogja itu pemurah kok. Selalu begitu. Kita lindungi dia sampai dia mampu membuktikan mutunya sendiri. Atau ya memang dia cuma segitu. Tapi jangan menggali kuburan sendiri dong.

(Suryodiningratan, akhir September 07)

Sphere: Related Content

Saut Situmorang: Apakah Nirwan Dewanto itu seorang penyair?

From: Bima Putra
E-mail: thendraloh@yahoo.com

Hai sastrawan indonesia yang gak sastrawan gak hai, he..he..

Gw dapet sms dari Saut Situmorang isinya begini:


Sodara2 sastrawan Indonesia,
apakah Nirwan Dewanto orang TUK itu seorang 'penyair'?
Kok bisa dia pergi ke Iowa, Amrik, mewakili Sastra(wan) Indonesia?!


Selanjutnya terserah Anda!



Y. Thendra BP

Sphere: Related Content

Saut Situmorang "dikerubuti" umat Hindu

From: Ida Wayan Dudik Mahendra, Denpasar
E-mail: idawayan_dm@yahoo.com

Bli Saut,

Saya Dudik, dulu pernah kita bertemu saat bli di Bali Echo saya di Bali News. Saya terkejut membaca puisi Bli yang dimuat di Republika. Sayang sekali, kenapa kata dewa dan pura harus muncul di situ....

Cobalah ganti kata dewa dan pelacur dengan Maria dan pura dengan gereja atau biar lebih kelihatan ketidak berpihakan Republika dan Bli coba ganti pula kata dewa dengan nabi Muhamad dan pura menjadi mesjid.

Penyair adalah dia yang tahu arti merdeka dan bukan pengecut seperti para pejabat.
Dan penyair adalah dia yang tahu mengabarkan arti baik bagi sahabatnya.

dudik

From: Saut Situmorang, Yogyakarta
E-mail: sautsitumorang@yahoo.com


hahahahahaha

Anda pasti pengikut Radityoisme!!!

hahahahahaha

- saut situmorang

_________________________________

From: I Nengah Karma (Kalki Awatara)
E-mail: inengahk@chevron.com



Yang terhormat bapak Saut Sitomorang,

Akhir-akhir ini nama bapak tidak asing lagi terdengar di mata orang. Bapak adalah penyahir yang ulung, dan diakui oleh nasional. Kalo boleh tahu darimana bapak mendapat dasar pemikiran tentang syair-syair Bapak?

Apa bapak sudah lama berkecimpung tentang syair-syair? Kalau boleh tahu apa syair-syair yang Bapak ciptakan bisa menghasilkan uang?

Saya sangat tertarik untuk menjadi penyair. Jika saya bisa menciptakan syair-syair apa bapak bisa memasarkannya? Apa syarat dari kata atau kalimat supaya bisa dipakai syair?

Sehari berapa syair bisa diciptakan? Apakah ada syair yang bisa menghibur bayi atau
pujaan-pujaan terhadap tuhan atau bencana di Jambi?

Coba ajari saya menciptakan syair untuk gempa di Jambi...

Maaf saya bertanya terlalu menjelimet...

From: Saut Situmorang, Yogyakarta
E-mail: sautsitumorang@yahoo.com



hahahahhaha

Ini satu lagi hasil hasutan Radityo!


Dasar Radityoisme!

- saut situmorang

From: Radityo Djadjoeri
E-mail: radityo_dj@yahoo.com


Wah, Leak Saut ada orang yang bertanya kok malah ketawa hahahahahaa....
Bukankah seorang sastrawan yang handal musti mampu berdialog dan berinteraksi dengan para penggemarnya? Kok malah ketawa hahahahaha gitu lho...

Bukankah seorang sastrawan handal itu biasanya ringan tangan, tak segan-segan untuk berbagi ilmu? Sayangnya saya bukan sastrawan seperti Anda, jadi tidak bisa menjawab pertanyaan dari Bli Nengah....

From: Saut Situmorang, Yogyakarta
E-mail: sautsitumorang@yahoo.com


hahahahhahaha

Inilah Radityo bagi yang ingin membunuhnya!

profile Radityo Djadjoeri

http://profiles. friendster.com/indonesiana

hahahahahaha


Saut Situmorang

During times of universal deceit,
Telling the truth becomes a revolutionary act
- George Orwell

_________________________________

Sphere: Related Content

Program Penghijauan Komunitas Utan Kayu

Berangkat dari cita-cita mulai ingin menghijaukan Jakarta, Komunitas Utan Kayu memulai proyek penghijauan dari dua kelurahan Utan Kayu Utara dan Utan Kayu Selatan. Ide tersebut dimulai dari tiga pendiri Komunitas Utan Kayu, Goenawan Mohamad, Santoso dan Ayu Utami yang terinspirasi program penghijauan di Puri Kembangan di kawasan Palmerah Jakarta Barat.

Hingga saat ini program tersebut sudah berjalan hampir setahun. Program tersebut dimulai dengan mengumpulkan dua lurah dan ketua-ketua RW dan ketua RT di Teater Utan Kayu bulan Pebruari 2007. Ayu Utami yang juga penulis novel Saman berbicara di depan warga tentang pentingnya penghijauan dengan memutar sebuah film dokumenter. Saifullah seorang inspirator penghijauan Puri Kembangan juga diundang dan berbicara berbagi pengalaman dengan warga Utan Kayu.

Selepas pertemuan tersebut Komunitas Utan Kayu melalui Radio Utan Kayu FM menyediakan bibit pohon sejumlah 2000 bibit dan diserahkan kepada warga Utan Kayu. Radio Utan Kayu juga telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan dan lembaga dengan cara menukar pemasangan iklan yang dipasang di Radio Utan Kayu dengan bibit-bibit pohon.

“Taman Mekarsari yang memasang iklan senilai tiga juta rupiah di Radio Utan Kayu membayar dengan bibit pohon senilai harga iklan tersebut,” kata Eko penanggungjawab program penghijauan ini.

Komunitas Utan Kayu juga bekerjasama dengan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) melalui program Bank Pohon yang membagikan bibit pohon tidak hanya bagi warga Utan Kayu namun bagi warga Jakarta khususnya pendengar Radio Utan Kayu. Hingga saat ini lebih dari 5000 pohon sudah diserahkan pada warga. Dan bulan September ini akan disediakan lagi 3000 bibit pohon kerjasama Taman Mekarsari, Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) dan KBR68H.

Menurut Syamsul Ketua RW 06 Utan Kayu program Komunitas Utan Kayu tersebut sangat membantu dan sesuai dengan harapan warga. “Selama ini kita hanya bisa mengeluh Jakarta semakin kering dan tambah panas, tapi tidak ada yang peduli untuk menyumbang bibit, Komunitas Utan Kayu telah memulainya.”

Sekilas tentang Komunitas Utan Kayu

Komunitas Utan Kayu (KUK) terdiri dari Teater Utan Kayu, Galeri Lontar, dan Jurnal Kebudayaan Kalam – ketiganya bergerak di lapangan kesenian. Bila diperluas lagi, KUK juga meliputi lembaga-lembaga lain – Institut Studi Arus Informasi, Kantor berita Radio 68-H, dan, kemudian, Jaringan Islam Liberal.

Terbatasnya kebebasan di segala bidang, termasuk kebebasan pers, di masa Orde Baru menimbulkan ide di kalangan sejumlah wartawan, intelektual, dan penulis untuk mendirikan sebuah “kantong” di mana kesenian, pemikiran, dan jurnalisme alternatif saling mendukung dalam satu jaringan kemerdekaan bersuara.

Pada tahun 1994, tiga media cetak ditutup Pemerintah: Tempo, Editor, dan Detik. Inilah yang merangsang insiatif untuk membangun Komunitas Utan Kayu. Maka berdirilah Institut Studi Arus Informasi (1995) dan Galeri Lontar (1996) di sebuah kompleks bekas rumah-toko di Jalan Utan Kayu 68-H Jakarta Timur. Menyusul kemudian, Teater Utan Kayu (1997).

Kini, lembaga-lembaga di lingkungan Komunitas Utan Kayu mengembangkan diri di bidang masing-masing, seraya tetap saling mendukung untuk memelihara semangat dan prinsip kebebasan berpikir dan berekspresi. Pada dasarnya kami percaya bahwa eksperimen dan kepiawaian di pelbagai bidang adalah tanda dari masyarakat yang demokratis, terbuka, dan maju.

Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi:
Eko Sulistyanto
Head of Promotion and Marketing Program KBR68H
Email: eko@kbr68h.com
Mobile: 08161314906

http://www.utankayu.org/in/index.cfm?action=about&tick=34562109

Sphere: Related Content

29 September 2007

Halim Hade: Gerombolan "Manifesto Boemipoetra" semuanya ngacir

Di milis RUMAH-DUNIA, Halim Hade menulis (disunting seperlunya):

Aku sendiri terus terang berada di samping si Saut Situmorang, lantaran gerombolan "Ode Kampung" dan "Manifesto Boemipoetera" semuanya NGACIR. Terutama si Wowok itu yang udeh binnen jadi juragan. Dan aku dengar, sekarang dia menjauhi internet lantaran gemetaran.

Si Viddy itu cuma bisa kalo 'safe' dan masuk berita koran. Dan kenapa pula itu seratusan orang laennya? Tapi, seperti yang selalu aku duga: begitulah nasib gerombolan, nggak ada kapasitas individualnya. Nggak ada kapasitas pribadinya. Yang ada sejumlah orang dengan tanda tangan agar dianggap dan dicatat sejarah.

Ternyata, sejarah nggak ramah. Dia harus menghadapi apa yang namanya serbuan dari berbagai jurusan gelombang. Dan gelombang itu datang dari mereka yang nggak mau diganggu. Dan sekarang sok-sok-nya ingin mengajukan suatu sikap moderasi.

Itu memang gaya broker, calo, kalangan akademisi yang biasanya suka nyusun proposal.
Aku nggak setuju dengan cara berpikir, pernyataan 'Manifesto Boemipoetera'. Kamu lihat saja, orang yang paling awal memberikan komentar terhadap 'Manifesto Boemipoetera' adalah si Halim.

Kenapa?

Pertama, aku baca jurnalnya. jelek. Menyerang pribadi.

Kedua, mau mengganyang soal-soal seks, tapi pakei rumor seks juga.

Ketiga, aku sendiri bukan 'boemipoetera' aku harus jelasin soal ini secara tegas. Kata 'boemi poetera' itu mengandung kekuatan yang heibaat bin dahsyaaat, lantaran menjadi kekuatan kata yang membentuk gelombang sosial-politik dalam sejarah di Nusantara: hadapi kolonial. Dan dalam masa kolonial itu, kakek-buyutku, canggahku termasuk 'bukan-boemipoetera ', yang istilah jaman suharto-nya, rejim itu menyebut 'non-pribumi' .

Aku berada di posisi itu. Dan aku nggak mau menolak soal itu. kalo aku bilang diriku ini 'pribumi', jelas-jelas aku menipu dan tentu saja 'ahistoris'. Disamping, ejaan 'oe-oe' itu membuat aku terganggu.

_____________________________

From: Saut Situmorang
E-mail: sautsitumorang@yahoo.com


MANIFESTO BOEMIPOETRA

Tangerang 17 Agustus 2007

Beberapa tahun terakhir ini rakyat Indonesia banyak mengalami musibah besar yang merubah kehidupan mereka seperti terjadinya tsunami dan gempa bumi. Tapi tsunami dan gempa bumi adalah musibah yang memang tidak bisa dicegah terjadinya oleh kekuatan manusia karena merupakan bencana buatan alam. Bencana alam hanya bisa diterima dan menjadi tanggung jawab bersama korban dan bukan-korban untuk menanggulangi akibatnya.

Ini berbeda dengan bencana lain yang disebabkan oleh kelalaian manusia. Kelalaian manusia karena keserakahan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi sebesar-besarnya dan tidak adanya tanggung jawab atas akibat yang mungkin diakibatkan sebuah perbuatan merupakan penyebab utama terjadinya bencana seperti yang terjadi di Porong Sidoarjo, Jawa Timur. Sudah lebih satu tahun ribuan rakyat Porong Sidoarjo telah menjadi korban lumpur beracun yang disebabkan oleh perusahaan Lapindo. Puluhan kampung musnah selamanya dan ratusan hektar tanah berubah menjadi danau lumpur beracun yang tidak mungkin untuk dimanfaatkan lagi oleh manusia. Semua ini terjadi karena kelalaian perusahaan Lapindo yang pemiliknya adalah Keluarga Bakrie.

Dalam konteks inilah penganugerahan Bakrie Award setiap tahun kepada tokoh-tokoh yang dianggap berprestasi besar dalam kebudayaan Indonesia adalah sebuah penghargaan yang sangat melecehkan kemanusian. Karena sementara ribuan rakyat Porong Sidoarjo korban lumpur Lapindo makin sengsara kehidupan sehari-harinya, Bakrie malah menghambur- hamburkan uang hanya untuk mencari nama semata. Disamping Kasus Lapindo, Bakrie dengan lembaga Freedom Institute-nya juga telah menyengsarakan rakyat Indonesia dengan cara memasang iklan raksasa di media massa nasional yang mendukung kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu.

Kami mengecam keras politik pemberian penghargaan Bakrie Award karena bagi kami hanya sebuah usaha manipulatif untuk mempengaruhi pendapat-publik atas reputasi Bakrie dan Freedom Institute sehubungan dengan Kasus Lapindo dan iklan mendukung kenaikan harga BBM di media massa. Kami mengecam keras para “budayawan” penerima Bakrie Award yang tidak memiliki solidaritas nasional dengan ribuan korban lumpur Lapindo dan jutaan rakyat korban kenaikan harga BBM. Kami menuntut Keluarga Bakrie dan perusahaan Lapindo-nya untuk segera melaksanakan tanggung jawabnya memberikan semua ganti rugi seperti yang diminta para korban lumpur Lapindo secepatnya. Kami menuntut para penerima Bakrie Award untuk memberikan hadiah uang sebesar Rp 100 juta yang mereka terima sebagai bagian dari penghargaan Bakrie Award kepada para korban lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo secepatnya. Karena merekalah yang paling berhak untuk menerima uang tersebut sebagai kompensasi atas musibah besar yang ditimpakan atas kehidupan normal mereka. Sebagai solidaritas nasional kami meminta kepada para budayawan Indonesia untuk menolak dipilih sebagai penerima Bakrie Award di tahun-tahun yang akan datang kalau Kasus Lapindo belum diselesaikan Keluarga Bakrie sebagaimana mestinya.

Tangerang, 17 Agustus 2007

Saut Situmorang

Ahmadun Yosi Herfanda

Wowok Hesti Prabowo

Koesprihyanto Namma

Mahdiduri

Gito Waluyo

Viddy A Daeri

Jumari HS

Sphere: Related Content

Peluncuran buku puisi "Nyanyian Miris"

Kami mohon kehadirannya pada acara peluncuran buku puisi Sdr Doel CP Allisah "The Sadness Song" [Nyanyian Miris] dilanjutkan dengan "Buka Puasa Bersama"

Hari/Tgl:
Minggu 30 September 2007

Waktu:
Jam 17.00 wib hingga selesai

Tempat:
Aula Museum Negeri Aceh (Banda Aceh)

Atas kehadiran saudara/i sekalian, kami haturkan terima kasih



Hormat Kami,

Dewan Kesenian Banda Aceh [DKB]

Zoelfikar Sawang
Ketua



Saiful Bahri
Sekretaris


Aliansi Sastrawan Aceh [ASA]

Mira Miranda
Sekretaris


Nani.HS
Bendahara

Sphere: Related Content

Para seniman dan sastrawan Lekra, kehidupan mereka sekarang (3): Tristuti Rachmadi Suryosaputro

Tukang batu yang diundang mendalang keliling Amerika


Tristuti Rachmadi Suryosaputro pernah menjadi dalang tersohor pada era 1960-an dengan sebutan "Bang Kris". Meski kini disalip tokoh-tokoh yang lebih muda, mantan aktivis Lekra di Jateng itu masih menjadi jujukan banyak orang. Naskah-naskah "skenario" cerita wayangnya dipakai banyak dalang kondang.

LEO TEJA KUSUMA, Solo

EMPAT belas tahun setelah diasingkan di Pulau Buru pada 1965-1979, Tristuti Rachmadi Suryosaputro seperti orang "linglung" saat pulang ke kampung halamannya di Purwodadi, Jawa Tengah. Istri dan kedua anak dalang yang pernah kondang di Jawa Tengah pada 1960-an tersebut pergi diambil orang. Demikian pula dengan rumah dan harta bendanya yang lain.

Dengan status eks tapol (ET) yang disandang, saat itu dia tidak berpikiran untuk bisa mendalang lagi. Satu-satunya modal yang dimiliki adalah keterampilan tukang batu yang dipelajari di Pulau Buru. Supaya tetap bisa makan, Pak Tris, demikian dia dipanggil, akhirnya memutuskan menjadi "kuli bangunan" alias tukang batu.

Untunglah, Ki Anom Suroto -dalang kondang asal Solo- kemudian mencari dia di tempatnya bekerja di Jetis, Jogjakarta. "Kalau tidak ada Pak Anom, mungkin saya sudah mati sekarang. Fisik saya tidak akan kuat menjadi tukang batu," kata Tris kepada Radar Solo (Grup Jawa Pos) di rumahnya yang mungil (tipe 18) di Perumnas Mojosongo, Solo, Kamis (27/9).

Rumah pria kelahiran 3 Januari 1939 tersebut sangat sederhana. Sama sekali tidak tercermin rumah itu dihuni mantan aktivis Lekra (Lembaga Kebudayaan Lekra) yang hingga sekarang masih menjadi rujukan banyak dalang kondang seperti Anom Suroto, Manteb Soedharsono, dan Purbo Asmoro.

Di ruang tamu rumahnya, benda-benda berharga yang dipamerkan adalah tiga pamflet berukuran 50 x 75 sentimeter yang dibingkai pigura kayu. Pamflet yang dicetak di kertas jenis paper art glossy tersebut diterbitkan Brown University, UCLA Berkeley, dan Wesleyan University. Tiga perguruan tinggi itu berada di AS.

Pamflet-pamflet tersebut memang sengaja didokumentasikan Tris sebagai kenang-kenangan kunjungan dirinya ke lima perguruan tinggi di AS, 5-24 April 2001. Saat itu, dia diundang bersama istri dan dua rekan seniman asal Solo untuk pentas di Negeri Paman Sam. "Selain menjadi pembicara, saya diundang sebagai puppeteer (dalang) dalam pementasan wayang kulit," ungkapnya.

Undangan dari perguruan tinggi dari AS itu, kata Tris, selain menjadi wujud penghargaan atas eksistensi dirinya sebagai seniman, menjadi pelipur lara. Sebab, rentetan peristiwa politik pascaperistiwa 30 September 1965 telah merampas segala-galanya dari dirinya. Termasuk, penghasilan Rp 25 ribu sekali pentas kandas.

Jika dikonversikan dengan nilai uang sekarang, jelas dia, honorarium sebesar itu melebihi dalang kondang seperti Anom Suroto dan Manteb Soedharsono. "Sekarang, sekelas Pak Manteb dan Pak Anom, kalau mendalang, dibayar sekitar Rp 50 juta," tegasnya.

Pukulan yang terberat bagi dia adalah kehilangan istri pertamanya, Nasrini, yang kini dinikahi orang lain dan tinggal di Batam. Dua anak hasil perkawinan pertamanya itu, Chandra Krisnani dan Yuli Krisranti, kini tinggal Sydney, Australia, yang kadang-kadang mengontak dirinya lewat telepon.

Soal peristiwa politik yang terjadi menjelang dan pasca 30 September 1965 itu, Tris yang kelahiran Sugihmanik, Tanggung, Kabupaten Purwodadi, mengaku tidak banyak tahu. "Saya bukan orang dari politbiro, tapi hanya seorang seniman yang berusaha eksis," katanya.

Salah satu yang dikenangnya selama "episode gelap" di Pulau Buru adalah teman sesama tapol, Kho Bien Kiem, yang dia anggap guru spiritual. Wejangan-wejangan Kho membuat Tris bertambah kuat. Kemudian, nasihat itu dia terapkan saat "mendalang" lagi setelah kembali pada 1979.

"Kalau kamu mendalang dengan alat-alat bagus, nayaga, pesinden, dan alat-alat lengkap, lalu kamu bisa makan enak terus dari hasil mendalang itu, berarti kamu belum bisa disebut ’dalang putih’," kata Tris menirukan pesan Kho Bien yang hingga sekarang tetap dikenangnya.

Tris mengakui, ajakan Anom Suroto lah yang membuatnya terjun ke dunia pedalangan lagi. Dalam setiap pentas mendalang, Anom selalu mengajak serta Tris yang dijadikan sebagai "kamus hidup pewayangan".

Lambat laun, Tris diminta membuat kaweruh pedhalangan (sejenis naskah atau skenario cerita dalang) untuk Anom. Hingga saat ini, entah sudah berapa ratus kaweruh yang dia tulis untuk Anom. Yang jelas, yang masih dia simpan sekitar 150 naskah yang sudah dibukukan.

Hingga sekarang, Tris masih menjadi rujukan bagi Anom, Manteb, Purbo, dan dalang- dalang lain di wilayah eks Karesidenan Surakarta, Jogja, dan wilayah lain di Jawa Tengah. "Harga" satu kaweruh Tris setebal 50-an halaman sekitar Rp 100 ribu.

Begitu berartinya kaweruh yang dibuat Tris, dalang Ki Purbo Asmoro pun menjadikannya sebagai tesis saat menempuh S-2 di Universitas Gadjah Mada (UGM). "Karismanya di mata para dalang di Solo dan sekitarnya memang sangat kuat," kata Purbo yang juga dosen pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Selain membuat kaweruh, beberapa kali Tris dipercaya menjadi dalang ruwat serta diundang menjadi dalang pentas. Dia bahkan pernah menjadi dosen lepas di ISI Surakarta (semasa masih bernama Sekolah Tinggi Seni Indonesia). Setelah ekonominya membaik, Tris menata hidup lagi. Setelah perkawinan pertama gagal, hingga sekarang dia sudah dua kali menikah. Setelah istri keduanya, Mulyati, meninggal pada 2000, dia menikahi Maria Sri Lestari.

Bersama sang istri, Tris membesarkan anak perempuannya, Kinanthi Finarsih, 17, yang kini kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Rumah yang ditempati saat ini merupakan hasil jerih payahnya sekembali dari pengasingan. Sayang, masa kebangkitan kedua Tris hanya bertahan hingga 2005. Saat ini, dia semakin tua (68 tahun). Suaranya tidak kung (merdu) lagi. Napasnya mulai tersengal untuk nada panjang. Demikian pula, keprakan kakinya tidak kencang lagi.

Saat ini, kata Tris, order mendalang tidak mesti tiga bulan sekali bisa dia dapat, meski dirinya mematok harga cukup murah. Yaitu, hanya seperlima sampai seperenam dari tarif dalang kondang "muridnya" semacam Anom dan Manteb. "Sebenarnya, kalau masih bisa mendalang dua kali sebulan, itu sudah cukup. Tapi, sekarang sulit sekali," sesal Tris.

Menurut dia, beberapa kali penerbit pernah meminta naskah-naskah kaweruh-nya untuk diterbitkan. Tapi, hingga sekarang, belum satu pun yang mau menerbitkan sebagai buku. Sebab, Tris tidak mau karya-karyanya itu dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. "Maknanya hilang. Sebab, apa yang saya tulis (dalam bahasa Jawa, Red) hasil perenungan 14 tahun di Buru dan beberapa tahun setelah lepas dari sana," kata sosok yang mengagumi karya-karya Pramudya Ananta Toer itu. (*)

Jawa Pos - Sabtu, 29 September 2007

Sphere: Related Content

Insert Character

PEMBUKAAN

Rabu, 3 Oktober 2007; jam 19:30 WIB

Di Ruang Pamer Kedai Kebun Forum (KKF)

OPENING

Wednesday, October 3rd, 2007; 7:30 pm

At the Gallery of Kedai Kebun Forum (KKF)

PAMERAN

Berlangsung dari tanggal 3 – 20 Oktober 2007

(Kecuali Selasa & Idul Fitri (12-16 Oktober 2007), KKF libur)

EXHIBITION

It will take place from 3 – 20 October 2007

(Except for Tuesday & Idul Fitri (12 – 16 October 2007), KKF is close)

WORKSHOP

Workshop tentang "Paper Toys" akan diadakan pada tanggal 6 Oktober
2007; jam 15:00 WIB; di Ruang Pertunjukan KKF, oleh Santi dan Otom
(Indieguerillas) dan Terra Bajraghosa.

Workshop

Workshop on "Paper Toys" will be held on October 6th, 2007; at 3:00 pm; in the Performance Space KKF, by Santi and Otom (Indieguerillas), and Terra Bajraghosa.

Tentang Insert Character

Saat ini kita hidup di dalam dunia komunikasi visual. Mulai dari kita membuka mata di pagi hari, sarapan, berangkat kerja, sampai kita beranjak untuk tidur lagi, selalu dikelilingi oleh produk-produk desain komunikasi visual. Sebut saja: poster, iklan TV, bungkus rokok Anda, kaos yang anda pakai, sampai cover majalah langganan anda
adalah sebagian kecil contoh dari jagad ilmu desain komunikasi visual yang sangat luas. Namun masyarakat awam lebih sering tidak menyadari hal ini. Mereka tidak tahu kalau benda yang mereka sentuh tiap hari, majalah yang mereka baca, pakaian yang dikenakan adalah produk dari desain komunikasi visual. Walau tak jarang barang-barang tersebut sudah melekat di hati mereka karena desainnya yang menarik.

Pameran ini bertajuk "INSERT CHARACTER", diambil dari sebuah istilah salah satu tool dalam software grafis di computer (CorelDraw) yang akrab bagi desainer grafis. Tool ini berfungsi untuk memasukkan karakter pilihan kita ke dalam halaman kerja. Hal ini dihubungkan dengan konsep pameran ini yang mencoba memberi sentuhan berbeda
dengan memasukkan desain-desain karakter kreasi seniman tersebut ke dalam produk- produk yang sering kita jumpai setiap hari, seperti: toys, neon box, video klip, sepatu, tempat tissue, kaos, mouse, dll.

Biasanya desain karakter hanya merupakan sisipan dalam pameran seni rupa. Kalaupun ada pameran yang mengkhususkan pada desain karakter, maka yang ditampilkan berupa art work yang di print atau digambar manual dan toys character. Kami membuat sesuatu yang berbeda dengan menerapkan desain karakter ke dalam produk-produk yang disebutkan di atas. Mnegingat bahwa desain adalah seni terapan.

Pameran ini diprakarsai oleh Kelompok Kotak Pensil yang bekerja sama dengan beberapa seniman lain, seperti Santi Indieguerillas, Terra Bajraghosa, Farid Stevi, Bendung, Yudhi, Danan RSL, dll.

About Insert Character

Nowadays, we live in a visual communication world. Started since we open our eyes in the morning, breakfast, go to work, till we are going to bed, we always surrounded by visual communication design products, for example: poster, TV commercial, cigarette pack, T-shirt that you wear, till your regular magazine's cover. They are little part of the world of visual communication design, but the people seem do not realize it. They do not know that the things which they touch everyday, the magazine that they read, the clothes that they wear, are the product of visual communication design. Even though the numbers of that things already stick to their heart because the
designs are interesting.

This exhibition is entitled "INSERT CHARACTER", which is taken from an expression in one of the icon in computer graphic software (CorelDraw) which is very common in graphic designers. This icon is for inserting the chosen characters into the worksheet. In this thing, it is connected with the exhibition concept which tries to
give different touch by putting in the character designs in to products that we've seen everyday, such as toys, neon box, video clip, shoes, tissue box, T-shirt, mouse, etc.

Usually, the character design only as an insertion in visual art exhibition. If there is an exhibition special for character design, so it will be printed or manual drew art works and toys character. In this exhibition tries to make something different by applying the character design in to the products that already mentioned above. Considering that design is an applied art.

This exhibition is organized by Kotak Pensil group featuring some other artists, such as Santi (Indieguerillas) , Terra Bajraghosa, Farid Stevi, Bendung, Yudhi, Danan RSL, etc.

Kedai Kebun Forum (KKF)
Jl. Tirtodipuran No. 3 Yogyakarta 55143 Indonesia
Telp./fax. +62 (0) 274 376114
E-mail: kkforum@indosat.net.id
Website: http://www.kedaikebun.com

Office and Gallery hours, 11.00 am - 07.00 pm
Restaurant hours, 11.00 am - 11.00 pm
We are closed on Tuesday

KKF is an art space in Yogyakarta manage independently by artists and
consisting of a gallery, performance space, 'HALTE' a text learning
media in art critics, bookstore and restaurant.
KKF is a small community established since 1996 with the purpose of
providing an arena of learning and studying, in the context of
developing sensibilities to all phenomena of social transformation
through art.

All activities of KKF are supported by its extraordinary restaurant.

Sphere: Related Content

Ruang pameran seni budaya di Yogyakarta

Kedai Kebun Forum (KKF)
Jl. Tirtodipuran No. 3 Yogyakarta 55143 Indonesia
Telp./fax. +62 (0) 274 376114
E-mail: kkforum@indosat.net.id
Website: http://www.kedaikebun.com

Office and Gallery hours, 11.00 am - 07.00 pm
Restaurant hours, 11.00 am - 11.00 pm
We are closed on Tuesday

KKF is an art space in Yogyakarta manage independently by artists and consisting of a gallery, performance space, 'HALTE' a text learning media in art critics, bookstore and restaurant. KKF is a small community established since 1996 with the purpose of
providing an arena of learning and studying, in the context of developing sensibilities to all phenomena of social transformation through art.

All activities of KKF are supported by its extraordinary restaurant.

Sphere: Related Content

Tips jika otak buntu menulis

Otak Buntu Menulis (Writer's Block) kerap terjadi pada siapa saja. Bahkan penulis mahir juga sering menghadapi "writer's block" – kebuntuan menulis. Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi ini? Berikut sejumlah kiat sederhana:

SIMPAN TULISAN FAVORIT ANDA
Simpan tulisan Anda yang terbagus menurut Anda. Baca kembali ketika Anda menjadi terlalu kritis terhadap diri sendiri sampai tak berdaya menulis. Ini akan mengembalikan rasa percaya diri yang akan mendorong Anda untuk mulai menulis.

UBAH SUDUT PANDANG
Cobalah untuk melihat apa saja yang Anda tulis dari sudut pandang berbeda untuk sementara waktu. Ini akan membuat Anda menilai suatu masalah secara obyektif dan secara kreatif sekaligus, serta memacu dorongan untuk menulis.

AMBIL JARAK
Seringkali Anda harus menyisihkan tulisan secara fisik dan membiarkan alam bawah sadar Anda "mengerjakan" tulisan itu. Pergilah berjalan-jalan, atau mengerjakan apa saja yang lain, dan kembalilah setelah segar.

RUNTUHKAN KERUTINAN
Coba menulis pada waktu yang berbeda dari kebiasaan Anda, makan di restoran tradisional yang baru dibuka, belanja di pasar yang berbeda atau mengambil rute lain ketika pulang ke rumah. Melakukan sesuatu secara berbeda memungkinkan Anda untuk melihat masalah secara baru dan mengeksplorasi pengalaman baru yang tidak pernah Anda lakukan.

GANTI ALAT TULIS ANDA
Jika Anda biasa menggunakan komputer pengolah kata, coba menulis dengan mesin ketik atau tulis tangan.

UBAH LINGKUNGAN KERJA
Temukan tempat baru untuk menulis. Parkir mobil Anda di tempat dengan pemandangan indah dan mulailah menulis. Atau menulislah di taman dekat rumah Anda sekadar untuk membuat perubahan suasana.

BICARALAH KEPADA ANAK-ANAK
Sungguh, cobalah bicarakan topik yang Anda tulis pada anak-anak! Bahkan jika mereka tidak sepenuhnya memahami subyek yang Anda katakan mereka umumnya memiliki pendapat yang unik dan seringkali bisa membantu Anda melihat sebuah topik dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.

MEMBACA BUKU
Dengan membca buku kita bisa menambah imaginasi kita dan dapat menghimpun tulisan baru.

asep.wordpress.com/

_________________________________

TANGGAPAN

From: A.Nurpatria Krisna, Holland
E-mail: anurpatria@yahoo.com

Ada tembahan dari saya, Asbari Nurpatria Krisna, 64, novelis:

1. Pergilah jalan-jalan ke daerah atau negeri mana pun yang Anda pandang memberikan inspirasi. Bertemulah dengan manusia lain. Di Belanda saya banyak bertemu dengan orang, dalam rangka meliput atau wawancara. Tetapi negeri yang mapan seperti Belanda tidak inspiratif untuk saya. Eropa Timur, Italia, Jerman, Spanyol, Yunani, Skandinavia malah memberikan banyak inspirasi.

2. Kalau sudah terlalu banyak menulis dan banyak pula buku atau novel diterbitkan, mintalah pendapat pembaca Anda, (seorang wanita lebih baik) yang memang benar-benar suka membaca. Jangan terjebak pada tema, topik dan pola cerita yang yang monoton, karena Anda bekerja sangat rutin.

3. Jalan-jalan ke toko buku, menyaksikan betapa karya orang lain ditulis dan terutama di cetak. Di Belanda banyak fiksi setebal-tebal bantal (ha, ha, ha --- bantal bayi!)

4. Menulis dengan komputer dan mesin tulis ada untung ruginya. Tetapi sebenarnya kalau didengar telinga, menulis dengan mesin tulis lebih aaaaasssssyyyyiiiiiikkkkkk, karena suara detakan tuts mesin tulis atau fonts, walapun susah untuk mengoreksi (mesin tulis listrik lebih gampang).

5. Cara menyembuhkan kebuntuan adalah dengan terus menulis apa saja, mulai dari mana saja dan jangan berhenti kalau belum benar-benar buntu, seperti saran yang pernah saya terima dari Pramoedya Ananta Toer.

6. Buatlah selingan dengan menulis humor, surat cinta (walaupun entah untuk siapa), nasihat untuk anak (kalau sudah punya anak) atau untuk anak yang belum pernah lahir (karena belum menikah)

7. Tetap jatuh cintalah pada seseorang agar semangat menulis tetap berkobar-kobar.

Begitu tambahan dari saya.

Salam,
Asbari Nurpatria Krisna
Arminiushof 2
1216KE Hilversum
The Netherlands
+31642883883

Sphere: Related Content

Rangkaian puisi untuk Saut Situmorang


saut situmorang, penyair jembut

Tuhan bertemu Saut di neraka jahanam

Wahai anak-anak lajang nan jalang
(tidak wahai buat kalian yang tidak lajang dan tidak jalang)

Keluarlah kau dari kumpulan orang-orang terbuang
Akulah Tuhanmu nan garang
Selalu menakutimu di tiap malam, pagi, siang hingga rembang petang
Dengan Kubikin Bumi yang selalu berguncang-guncang

Wahai anak-anak lajang nan jalang
(tidak wahai buat kalian yang tidak lajang dan tidak jalang)

Sambutlah Tuhanmu yang lagi girang bukan kepalang
Karena di gigiKu terselip jembut-jembut pirang
Konon kabarnya milik bininya Saut Situmorang

Wahai anak-anak lajang nan jalang
(tidak wahai buat kalian yang tidak lajang dan tidak jalang)

Dengarkanlah kataKu, eh sabdaKu, dari langit lapang
Simaklah baik-baik ucapanKu, eh firmanKu, dari surga terawang
Berilah Aku puji-pujian yang menantang
Sambutlah kedatanganKu dengan doa-doa nan riang

Aku siap terdampar di negerimu yang malang
Tubuhku terjerambab di tanah merah penuh tulang belulang
Tempat para malaikat menyiksa setan-setan garang

Di semak-semak neraka jahanam yang panas terpanggang
Kudengar lolongan-lolongan panjang
Merintih, merintih bak dayang-dayang diperkosa kuda kepang

Suara siapakah gerangan?

Oh, ternyata itu erangan Saut Situmorang
Sang penguasa kerajaan setan jahanam dari negeri seberang
Otot-ototnya kejang-kejang
Matanya yang sayu tak lagi nyalang

Tubuh Saut pun leleh terpanggang
Siap ditaburi merica, bawang goreng dan kacang panjang.

Kecap Bangonya mana, Bang?

_______________________________

From: Ati Gustiati, USA

Memang susah jadi Saut Situmorang
Barang kecil, yang besar mulut doang

Seniman berak di kandang
Tulis puisi bikin orang meradang

_______________________________

Puisi Marah-Marah a la Saut

Hahahahahaha

Kenapa puisiku kau jadikan bahan becanda-AN?
Aku bukan lagi anak ingus-AN
Yang pantas kau jadikan bahan tertawa-AN
Apa kalian semua kurang kerja-AN?
Atau kalian malah kurang mak-AN?
Pantaslah bacotmu seperti orang kesetan-AN!

Puisi kan cuma panggung hibur-AN
Ibarat pasar malam di alun-alun selat-AN
Tiada yang melarang bercanda dengan Tuh-AN
Tuhan tidak ada kok kau ketakut-AN
Karena Ia cuma ada di angan-ang-AN
Hanya aku yang bisa melaw-AN
Sekarang aku maki-maki kali-AN!

Pokimak! Pokimak! Pokimak, kali-AN!

Hahahahahahahaha

Sphere: Related Content

28 September 2007

Saut di Gua Riho

Posted by: Su Bagyo
E-mail: moloekat@yahoo.com



Saut di gua Riho,
bukan gua Hiro yang di tanah suci itu,
tapi di sela-sela gigi Iblis.

Sebab Saut biasa melihat dewanya - bukan dewa orang Hindu -
yang bersembunyi di dalam gua Riho.

Di sana Saut merenung, membayangkan Tuhannya -
bukan Tuhan manusia - yang giginya diselipi jembut.

Saut menyepi, diam membisu,
lelah mengeluarkan kata-kata yang mengecam birahi.
Saut mempunyai birahi ala dirinya sendiri,
bukan birahi manusia umumnya.

Ut.... ayo muncul dong...
aku suka dengan celotehmu yang membuat dunia ini menjadi ramai.
Meski kau bilang aku goblok,
tapi kalau yang bilang dirimu aku merindukan itu.

Keluarlah dari gua Riho untuk mengacaukan dunia.
Tuhan alam ini menyediakan ruang bagi Iblis,
setan dan keburukan, apalagi terhadap dirimu.

Kau dikasihi Tuhan Ut.

Kau diberi hidup dan ketenaran di dunia kecil ini dengan caramu.

Ut, aku rindu padamu
(Tapi jangan dikira homo lo Ut, jancuk.)

Sphere: Related Content

Siapa mengubah naskah Ode Kampung?

Berikut ada temuan baru. Tadi siang, salah seorang penandatangan Ode Kampung berkirim email ke saya. Ia menyatakan bahwa isi Ode Kampung yang disebar-sebarkan oleh Saut Situmorang ternyata berbeda dengan yang ia ikut tanda tangani di Rumah Dunia, Serang, Banten.

Jadi ada seseorang ataupun sekelompok orang yang mengubah isinya tanpa memberitahukan kepada para penanda tangan Ode Kampung lainnya.

Mohon penjelasan kalau ada yang mengetahui lebih rinci.

Salam,

Radityo Djadjoeri

Sphere: Related Content

Sekilas tentang Dewan Kesenian Jakarta

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) adalah salah satu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada tanggal 17 Juni 1969. Tugas dan fungsi DKJ adalah sebagai mitra kerja Gubernur Kepala Daerah Propinsi DKI Jakarta untuk merumuskan kebijakan guna mendukung kegiatan dan pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Propinsi DKI Jakarta.

Pada awalnya, anggota pengurus Dewan Kesenian Jakarta diangkat oleh Akademi Jakarta,
yaitu para budayawan dan cendikiawan dari seluruh Indonesia . Kini dengan berjalannya waktu, pemilihan anggota DKJ dilakukan secara terbuka, melalui pembentukan tim pemilihan yang terdiri dari beberapa ahli dan pengamat seni, selain anggota Akademi Jakarta sendiri. Nama-nama calon diajukan dari berbagai kalangan masyarakat maupun
kelompok seni. Masa kepengurusan DKJ adalah 3 tahun.

Kebijakan pengembangan kesenian tercermin dalam bentuk program tahunan yang diajukan dengan menitikberatkan pada skala prioritas masing-masing komite. Anggota DKJ berjumlah 25 orang, terdiri dari para seniman, budayawan, dan pemikir seni, yang terbagi dalam 6 komite: Komite Film, Komite Musik, Komite Sastra, Komite Seni Rupa,
Komite Tari dan Komite Teater.

Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:

sumber: www.dkj.or.id

Sphere: Related Content

Pertunjukan Puisi Irmansyah

Ramadhan di Bulungan...WaPrESS : 28/9, pukul 20.30,

"KaLaU aDa RaNTiNg Yg PaTaH kUnCuP pUiSi KaN JaDi BuAh.."

(Pertunjukan Puisi Irmansyah, selama 30 mnt)

Puisi yang akan dipanggungkan adalah sajak-sajak kontemplatif yang transenden.

Semoga mampu menebarkan aroma wangi surga perenungan

Datang ya...

tabik,

evi widya putri

Sphere: Related Content

Buku: "China Undercover"

UFUK
Non Fiksi—Kisah Nyata—Isu Baru

CHINA UNDERCOVER
“Rahasia” di Balik Kemajuan Cina


Chen Guidi & Wu Chuntao
12.5 x 19 cm
388 halaman
Isbn: 979-1238-51-9
Harga: Rp. 45.000,-

Dilarang Beredar di Cina!
Pemenang Lettre Ulysses Prize
Edisi Bajakannya Terjual 10 Juta Kopi


Karya unik ini untuk kali pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Versi aslinya yang berbahasa Cina telah terjual lebih dari 250.000 eksemplar sebelum dilarang dan edisi bajakannya terjual hingga nyaris sepuluh juta kopi di Cina.

Belakangan, kedua penulisnya ditekan selama masa persidangan, dipaksa meninggalkan pekerjaan mereka, dan rumah mereka dilempari batu oleh segerombolan orang. Semuanya karena mereka berani membeberkan ‘rahasia’ yang ada dalam buku ini.

Chen Guidi lahir pada tahun 1943 di Anhui. Istrinya, Wu Chuntao, lahir pada tahun 1963 di provinsi Hunan di Cina. Mereka sama-sama berasal dari keluarga rakyat jelata. Chen dan Wu menjadi anggota dan penulis terkemuka dalam asosiasi sastra Hefei. Guidi menerima Lu xun Literature Achievement Award, salah satu hadiah sastra paling penting di Cina. Kedua penulis telah menerima berbagai penghargaan dari jurnal Contemporary Age atas reportase yang inovatif.

Sphere: Related Content

Majalah Pusara terbit kembali

Telah terbit kembali, majalah Pusara pada Oktober 2007. Majalah yang pertama kali diterbitkan oleh Ki Hadjar Dewantara pada bulan Oktober 1931 dan dihasratkan sebagai majalah pendidikan, ilmu, dan kebudayaan ini akan hadir dengan format baru, baik dari segi manajerial, redaksional, serta format fisiknya. Kebijakan penting yang ditelurkan oleh pihak manajemen adalah bahwa majalah Pusara bukan lagi sebagai majalah internal perguruan Tamansiswa, melainkan telah diancangkan sebagai majalah untuk umum dan terbuka yang tetap mengemban visi dan misi ketamansiswaan yang telah dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Dengan format fisik berukuran 23 x 28 cm, sampul berwarna, halaman dalam hitam putih, dengan tebal 40 halaman plus sampul, diharapkan menjadikan majalah Pusara sebagai salah satu wahana alternatif kecil untuk mengakomodasi dan mengolah berbagai pemikiran tentang ilmu, pendidikan, dan kebudayaan bagi publik untuk membentuk/ membangun peradaban dan karakter bangsa yang merdeka lahir batin.

Dalam peluncuran resmi yang dilakukan secara sederhana pada hari Selasa, 25 September 2007 lalu, Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Tyasno Sudarto, mengharapkan majalah Pusara ini mampu menjadi pusara atau tali pusat dalam memberi pengayaan dan dinamika pembangunan kebudayaan di Indonesia.

Dalam edisi perkenalan Bulan Oktober ini, redaksi Pusara menampilkan 9 artikel, masing-masing tulisan dari Indra Tranggono bertajuk Literasi dan "Loncatan" Budaya, Prof. DR. Teuku Jacob (Beberapa Prinsip Pendidikan), Agus Suwignyo (Ekosistem Keguruan), Tyasno Sudarto (Pendidikan Karakter dan Kepribadian Bangsa), Prof. DR. Wuryadi (Pendidikan Berbasis Pancasila: Menggali Nilai-nilai Lokal), Chisaan Mansoer (Lesbumi, Kini, dan Datang), Nurul Huda (Jameson, Posmodernisme, dan Kapitalisme Lanjut), Kuss Indarto (Pelajaran dari China), dan Dr. Inu Wicaksono (Neng-Ning- Nung-Nang).

Majalah Pusara edisi perkenalan ini dijual secara murah, yakni Rp 9.500,-.

Bagi Anda yang berminat, silakan hubungi:

Saudara Edi Yudarta dan Totok Darmasto
Majalah Pusara
Jalan Tamansiswa 25 Yogyakarta 55151
telepon 0274-374082
faksimili 0274-377120
e-mail majalah.pusara@gmail.com dan majalah.pusara@yahoo.com.

Petilan tampilan majalah Pusara juga bisa disimak di:

majalah-pusara.blogspot.com

Sphere: Related Content

Perang Pena

Posted by: Kang Becak
E-mail: kbecak@yahoo.com



Kulihat ,
Smart Bomb,
Nuklir,
Bahkan Father of Bomb.

Tersembur,
Dari pena-pena,
Para sastrawan.

Kulihat para sastrawan,
Mabuk,
Pusing,
Pingsan karenanya.

Bukankah para sastrawan,
Memiliki tingkat toleransi,
Tinggi....
Jauh melebihi orang biasa.

Kulihat kertas,
Berasap,
Terbakar....
Menjadi abu.
Tanpa sebaitpun karya sastra tertoreh diatasnya.


Jauh melebihi orang biasa.

Sphere: Related Content

Tanggapan Dewan Kesenian Jakarta tentang acara pembukaan Utan Kayu International Literary Biennale 2007

Tanggapan terhadap tulisan-tulisan tentang:
Acara pembukaan Utan Kayu International Literary Biennale 2007, tgl 23 Agustus 2007 di Teater Studio, Taman Ismail Marzuki

Sehubungan dengan beredarnya informasi yang tidak tepat di kalangan dunia sastra akhir-akhir ini, izinkanlah kami memberikan beberapa keterangan.

Informasi tidak tepat ini terkandung di dalam tulisan Saudara Chavchay Syaifullah di dalam harian Media Indonesia edisi 26 Agustus 2007 dan pengantar editornya pada edisi 2 September 2007—keduanya pada halaman XII—dan di dalam tulisan-tulisan Saudara Saut Situmorang dalam mailing-list publikseni@yahoogroups.com selama dua minggu yang
lalu.

Sebagaimana dapat diamati sebagai sesuatu yang biasa, terdapat perbedaan dan argumentasi pendapat di antara berbagai komunitas sastra. Tetapi sayangnya dalam argumentasi tersebut telah digunakan beberapa informasi yang salah. Perdebatan yang didasarkan pada informasi yang salah pada akhirnya dapat mencemari dan merugikan dunia kesenian secara keseluruhan, termasuk membingungkan masyarkat luas.

Kami merasa perlu mengimbau masyarakat luas, komunitas sastra dan seniman pada
khususnya, untuk tidak terlibat dalam perdebatan berdasarkan informasi yang salah, dan kami anjurkan untuk memeriksa dulu semua informasi yang diperoleh kepada pihak-pihak yang bersangkutan.

Kepada saudara-saudara wartawan dan redaksi media massa , kami juga mengimbau untuk menerapkan dengan sungguh-sungguh salah satu prinsip utama jurnalisme, ialah melakukan konfirmasi informasi kepada semua pihak yang bersangkutan, dan meliput pandangan semua pihak tersebut.

Berikut ini adalah informasi yang sudah kami periksa ketepatannya menyangkut beberapa hal yang telah beredar sampai hari ini. Semua ini disampaikan dengan penuh rasa tanggung jawab dan semuanya dapat dengan mudah diperiksa kebenarannya.

Apakah benar ada yang mabuk sesudah acara pembukaan Utan Kayu International Literary Biennale 2007, tgl 23 Agustus 2007 di Teater Studio, Taman Ismail Marzuki?

Tidak benar. Bir disediakan secara sangat terbatas pada malam pembukaan. Lagipula gerai bir sudah ditutup lebih dari satu jam sebelum acara selesai. Jadi ketika acara selesai tidak ada lagi bir yang dapat diminum. Jadi tidak mungkin ada yang mabuk.

Berita bahwa ada yang mabuk telah ditulis secara tidak bertanggung jawab oleh wartawan Chavcay di harian Media Indonesia. Sangat disayangkan bahwa sebuah media massa , yang seharusnya melaporkan fakta, telah mencetak informasi yang salah, tidak ada dalam kenyataan.

Kami percaya ini bukan kebijakan resmi Media Indonesia, dan karena itu kami mengimbaunya agar mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk perbaikan internalnya.

Apakah benar ada tamu yang diusir dan menangis pada malam itu?


Tidak ada kebijakan untuk mengusir orang. Yang benar adalah insiden karena inisiatif berlebihan dari petugas keamanan. Sdr. Geger Prahara, yang diberitakan "diusir" dan "menangis" di TIM oleh wartawan Chavcay di harian Media Indonesia, sedang mengisi
buku tamu ketika didekati oleh seorang petugas satpam yang berkata, "Maaf, ini acara khusus…" Ini ditafsirkan sebagai mengusir. Nur Zen Hae, ketua komite sastra yang berada di dekat tempat itu kemudian mendekati dan menegaskan bahwa ini acara terbuka, dan Sdr. Geger Prahara dipersilakan masuk dan makan malam. Tetapi karena terlanjur tersinggung, dia memutuskan keluar. Di jalan dia bertemu dengan wartawan Chavcay dan mengatakan bahwa dia "diusir". Wartawan inilah yang kemudian melaporkan bahwa dia "diusir" dan "menangis".

Sdr. Geger Prahara telah membantah bahwa ia menangis. Berita tersebut sepenuhnya karangan Saudara Chavcay, yang juga sama sekali tidak memeriksa kepada panitia biennale tentang kejadian sebenarnya yang disebut "mengusir" itu.

Mengapa DKJ mendukung Utan Kayu International Literary Biennale 2007?

Sastra, sastrawan, seni dan seniman terang memerlukan ruang dan giliran untuk tampil secara ajek berulang, baik untuk bertemu khalayak maupun untuk sekadar bertukar sapa di antara sesama, atau bahkan untuk bersaing secara senang dan tenang. Karena itu suatu biennale, atau bentuk-bentuk lain seperti festival yang berkelanjutan jelas, tegas diperlukan.

Dewan Kesenian Jakarta berkewajiban mendukung kehadiran lembaga dan peristiwa demikian. Sebagai sebuah dewan kesenian dari sebuah ibukota negara, DKJ juga berkepentingan mendorong peristiwa yang bercakupan internasional di ibukota Jakarta ini. Karena itu kami menyambut baik ajakan kerjasama dari Yayasan Utan Kayu untuk
menggarap Biennale ini. Ini sesuai dengan kebijakan DKJ untuk bekerjasama dengan sebanyak mungkin organisasi di luar dirinya sendiri, sehingga kesenian dapat tumbuh dan menyebar kokoh dengan akar rhizoma.

Kami mendukung kegiatan yang meningkatkan pertukaran budaya dan seni seluas-luasnya, melintas batas dan aliran. Lebih dari itu, kami senang bekerja dengan organisasi mana pun yang proaktif dan memiliki visi yang sama dengan kami dalam menyiapkan peristiwa dan kelembagaan kesenian yang berkelanjutan. (Kutipan dari sambutan Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta pada pembukaan Utan Kayu International Literary Biennale 2007 pada tanggal 23 Agustus 2007).

Dana dari DKJ untuk kegiatan tersebut hanya digunakan untuk membiayai peserta dari Indonesia , untuk perjalanan dari dan ke Jakarta, dan untuk biaya akomodasi selama di Jakarta.

Apakah DKJ sengaja tidak mendukung acara Ulang Tahun Sutarji Calzoum Bachri bulan Juli 2007 karena "tidak menyukainya"?

Tidak benar. DKJ tidak memiliki kesempatan menilai apakah acara itu layak atau tidak untuk didukung, karena sama sekali tidak pernah dihubungi atau diberitahu dan tidak pernah menerima proposal atau permintaan dukungandari panitia penyelenggaranya.

DKJ tidak memiliki sikap menyukai atau tidak menyukai berbagai bentuk dan tokoh kesenian. DKJ memilih mendukung kegiatan tertentu berdasarkan kesesuaiannya dengan visi dan program yang dirumuskan setiap tahun.

Untuk setiap tahun berikutnya, program disusun dalam bulan Juli-Agustus. Khusus untuk tahun 2009, program akan disusun dalam bulan Maret-Juli 2008. Saran dan usulan pada bulan-bulan ini akan diterima dengan senang hati, meskipun tentu saja harus disadari
bahwa tidak semua usulan akan serta merta mewujud menjadi program.

Mengapa DKJ menolak memberi bantuan pada permintaan-permintaan mendadak antara bulan Januari-Juli 2007, termasuk misalnya permintan dari Sdr. Sihar Simatupang pada bulan April 2007?

Pada masa Januari-Juli 2007 DKJ sama sekali tidak punya dana, tersebab terlambatnya pencairan dana dari Pemprov DKI. Pada masa itu para anggota DKJ tidak menerima honor apapun. Hanya 17 karyawan DKJ yang tetap menerima gaji. Para anggota Pengurus Harian bahkan harus meminjamkan (tanpa bunga) uang pribadinya untuk membayar gaji 17
karyawan.

Pada dasarnya DKJ tidak dapat menggunakan dana dari Pemprov DKI sebagai pemberian bantuan mendadak, terutama dengan berlakunya Permendagri 13/2006. Penggunaan dana Pemprov DKI didasarkan pada rencana anggaran/kegiatan /program berdasarkan siklus 3 bulanan (kuartal). Karena itu secara umum DKJ tidak memiliki kebijakan memberikan bantuan insidental yang dimintakan mendadak kepada seniman.

Sebagai gantinya, kami sedang melembagakan dukungan produksi kepada (kelompok) seniman yang berprakarsa (selain yang bersifat terprogram oleh DKJ sendiri) menjadi terjadwal dan berkompetisi, melalui program "rangsangan penciptaan" yang didasarkan pada pengajuan proposal.

(informasi selengkapnya lihat di: www.dkj.or.id).

Apakah benar Komite Sastra DKJ, memiliki hubungan berlebihan dan khusus dengan Komunitas Utan Kayu melalui anggota-anggotanya?

Tidak benar. Komite Sastra terdiri dari Sdr. Nur Zen Hae (ketua), Nukila Amal dan Ayu Utami, yang sebagai anggota juga merangkap sebagai sekretaris komite secara bergantian. Sdr. Ayu Utami memang pernah menjadi anggota pengurus Komunitas Utan Kayu. Tetapi ketika dicalonkan sebagai anggota DKJ dia sudah keluar dari KUK, dan memang itu menjadi syaratnya.

Melalui karya-karyanya, ketiga anggota Komite Sastra tersebut jelas sekali memiliki watak, pemikiran, gaya, dan bahan-bahan perhatiannya masing-masing yang sangat berbeda satu sama lainnya. Kebijakan umum DKJ, dan program-programnya ditetapkan melalui pembahasan bertingkat mulai dari rapat komite sampai akhirnya disetujui oleh rapat pleno DKJ. Program DKJ di bidang sastra juga jelas sama sekali tidak didominasi oleh komunitas atau aliran mana pun. (lihat program DKJ di www.dkj.or.id). DKJ berupaya memperhatikan sebanyak mungkin komunitas dan aliran, meskipun tetap ada keterbatasan karena sedikitnya sumber daya.

Sejauh pengetahuan kami, semua calon anggota DKJ yang sekarang telah dipilih melalui usulan terbuka yang diundang melalui media massa . Sebuah tim seleksi yang dipimpin oleh Sdr. Putu Wijaya kemudian memilih 30 calon yang memenuhi syarat dan mengajukannya kepada Akademi Jakarta . Tiap-tiap orang dari 30 calon itu kemudian diwawancarai secara individual oleh rapat pleno Akademi Jakarta, yang kemudian
memilih 25 anggota DKJ. Dua anggota lain dipilih oleh Gubernur Provinsi DKI, yaitu ex-officio Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, dan Saudara Syaiful Amri.

Demikianlah kami berharap dengan penjelasan ini kita dapat melihat keadaan dengan lebih terang dan tenang. Kami berharap informasi di atas dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan niat baik.

----------------------------------------------

Sekilas tentang Dewan Kesenian Jakarta

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) adalah salah satu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 17 Juni 1969. Tugas dan fungsi DKJ adalah sebagai mitra kerja Gubernur Kepala Daerah Propinsi DKI Jakarta untuk merumuskan kebijakan guna mendukung kegiatan dan pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Propinsi DKI Jakarta.

Pada awalnya, anggota pengurus Dewan Kesenian Jakarta diangkat oleh Akademi Jakarta, yaitu para budayawan dan cendikiawan dari seluruh Indonesia . Kini dengan berjalannya waktu, pemilihan anggota DKJ dilakukan secara terbuka, melalui pembentukan tim pemilihan yang terdiri dari beberapa ahli dan pengamat seni, selain anggota Akademi Jakarta sendiri. Nama-nama calon diajukan dari berbagai kalangan masyarakat maupun
kelompok seni. Masa kepengurusan DKJ adalah 3 tahun. Kebijakan pengembangan kesenian tercermin dalam bentuk program tahunan yang diajukan dengan menitikberatkan pada skala prioritas masing-masing komite. Anggota DKJ berjumlah 25 orang, terdiri dari
para seniman, budayawan, dan pemikir seni, yang terbagi dalam 6 komite: Komite Film, Komite Musik, Komite Sastra, Komite Seni Rupa, Komite Tari dan Komite Teater.

********

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Kiki Soewarso
Bagian Hubungan Masyarakat
Dewan Kesenian Jakarta
Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya 73
Jakarta 10330
Tel. 021-31937639, 021-3162780,
Fax. 021-31924616
E-mail: kikisoewarso@yahoo.com
Website: http://www.dkj.or.id

Link:
http://www.dkj.or.id/?opt=content&cidsub=78

Sphere: Related Content

Setahun Jogja Gallery:

Pameran Seni Visual

1st Anniversary of Jogja Gallery - ‘PORTOFOLIO’

Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta

Pembukaan Rabu, 19 September 2007, pukul 19.30 WIB


Pameran akan dibuka oleh

Remy Sylado
[Budayawan dan Penulis]



Kurator: Mikke Susanto

Seniman peserta pameran: Alexis – Andy Wahono – Antoni Eka Putra – Anthony David Lee - Arie Dyanto – AT. Sitompul – Catur Bina Prasetya - Denny ‘Snod’ Susanto – Deddy PAW- Didik Nurhadi – Dadi Setiyadi – Djoko Pekik – Donna Prawita Arrisuta– Erizal AS – Feri Eka Chandra– Hamdan – Hari Budiono – Heri Purwanto – KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno - I Gede Made Surya Darma - I Gusti Ngurah Udiantara – I Made Arya Palguna – I Made Supena - Iwan Effendi– I Wayan Cahya – I Wayan Sujana Suklu –I Wayan Sumantra - Januri - Luddy Astaghis –Mikke Susanto – M. Irfan - Made Wiguna Valasara– Muji Harjo – Mulyo Gunarso - Nanang Warsito – Nasrul – Nasirun - Nadiah Bamadhaj –Nico Siswanto – Niko Ricardi – Puji Rahayu – Riduan - Robi Fathoni – Saftari – Suraji - Syahrizal Koto – Suroso [Isur]– Wahyu Santosa - Wibowo Adi Utama –Yani Mariyani Sastranegara.



“senirupa adalah jendela peradaban bangsa, menembus sanubari semua insan, mengisi wawasan pikir, batin serta jiwa, menuju kebijaksanaan hidup dalam kedamaian sejati“- [KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno]



Sejak berdiri mulai 19 September 2006 lalu, Jogja Gallery [JG] telah dan terus berupaya memberi sumbangan dalam perhelatan seni rupa di Yogyakarta pada khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Munculnya galeri-galeri seni yang didirikan oleh masyarakat dan instansi swasta, sangatlah berarti di dalam upaya mewujudkan Yogyakarta sebagai ikon budaya. Jogja Gallery diharapkan mampu menjadi kebanggaan semua pihak dan mampu memberi kegairahan berkarya bagi para seniman. Banyak hal bisa dikreasikan bersama antara Jogja Gallery dengan masyarakat demi mewujudkan impian Yogya menjadi pusat perkembangan dan informasi dunia seni rupa Indonesia. Kepercayaan para seniman mulai tumbuh perlahan bersamaan dengan kepercayaan para kolektor serta masyarakat luas merupakan suatu bukti bahwa seni rupa adalah salah satu alat mewujudkan kedamaian dunia serta menciptakan persaudaraan antar manusia lintas bangsa. Kepercayaan dari teman-teman pers dan para sponsor, merupakan energi penyemangat bagi kami yang tak ternilai. Program demi program kami susun bersama-sama dengan atmosfir ‘kegilaan’ untuk mewujudkan karya terbaik melalui sebuah gelaran pameran. Keterbatasan apapun, selalu menjadikan kami justru semakin tegar dan berani melangkah maju, atas suatu rasa pertanggungjawaban perkembangan dunia senirupa Indonesia, di mana salah satunya ada di pundak Jogja Gallery.



Dalam pameran yang ke-16, Jogja Gallery telah menghasilkan berbagai hal: artefak, dokumen, jejaring, pengalaman dan sebagainya. Oleh sebab itu kami membuat sebuah pameran yang diikhtiarkan sebagai sebuah peringatan berdirinya Jogja Gallery. Singkat kata program ini merupakan pameran ulang tahun mengenai perjalanan pameran seni visual di Jogja Gallery selama satu tahun.



Adapun materi pameran yang ditampilkan adalah:

Kronologi dan dokumentasi perjalanan, baik berupa dokumentasi audio-visual foto-foto maupun dokumentasi cetak.
Artefak-artefak yang menyertai pameran, seperti poster, kanvas acara pembukaan, benda-benda dan instrumen pendukung karya.
Karya perupa-perupa pilihan (yang terdiri dari mereka yang pernah tampil di Jogja Gallery maupun undangan khusus) sejumlah 50 perupa/64 karya.


Dalam pameran ini kami tidak memberikan batasan mengenai ide karya. Tema apapun diperbolehkan. Banyak karya para perupa yang memberi rangsangan untuk tetap terus menggulirkan ide-ide yang segar dalam kajian seni rupa atau/dan memiliki kaitan dengan konteks dan berbagai kejadian masyarakat dewasa ini.



Lewat pameran ini kami siap menerima kritik dan saran yang dapat terus membuat kerja semakin mantap dan agar tetap melahirkan ide-ide brilian. Pada situasi yang lain, Jogja sebagai kota seni, jelas-jelas membutuhkan outlet untuk mengusung berbagai kekhasannya. Untuk itulah, Jogja Gallery ada dan akan terus berbenah.



Dalam pameran ini akan dipajang pula lukisan hasil karya KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno yang merupakan Direktur Eksekutif Jogja Gallery dan Mikke Susanto, Kurator Jogja Gallery.



Simak dan berikan komentar/saran/kritik pada talkshow kami di jadual berikut :



Radio Female 103,7 FM Minggu, 16 September 2007, pkl 10.00 WIB

Radio Istakalisa 96.2 FM Jumat, 21 September 2007, pkl 19.00 WIB

Jogja TV 48 UHF Rabu, 26 Agustus 2007, pkl 22.30 WIB

Radio Pro 1 RRI 91.1 FM Selasa, 2 Oktober 2007, pkl 19.00 WIB

Radio Eltira 102,1 FM Selasa, 9 Oktober 2007, pkl 11.00 WIB

Rakosa Radio 105,3 FM Rabu, 10 Oktober 2007, pkl 20.00 WIB

UTY Radio 106, 9 FM Rabu, 17 Oktober 2007, pkl 10.00 WIB



Sponsor: PT. Gudang Garam Tbk, Batik Margaria, Galeri Nasional Indonesia, Orasis Gallery, Galeri Canna, Christie’s Galeri, V-Art Gallery, Taman Budaya Jawa Timur, Museum Affandi,

Galeri Sri Sasanti.



Partner: Malioboro Mall Yogyakarta, Ambarrukmo Plaza, Galeria Mall, PT. Dakota, Gramedia Yogya, Jogja View.



Media Partner: Truly Jogja, Majalah Handicraft, Majalah Kabare, Majalah Harper`s Bazaar, Radio Rakosa, Radio Female, Radio Istakalisa, Radio UTY FM, Radio Eltira, Radio Unisi, Jogja TV



Keterangan lain:

Pameran berlangsung hingga 21 Oktober 2007.

Jam buka galeri Selasa – Minggu, 09.00 – 21.00 WIB

Tiket masuk Rp 3.000,-



Kontak person:



Nunuk Ambarwati [+62 81 827 7073] dan atau

Elly A. Mangunsong [+62 81 846 8283]



Jogja Gallery [JG]

Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000 INDONESIA

Tel. +62 274 419999, 412021 - Tel/Fax. +62 274 412023

Tel/SMS. +62 274 7161188, +62 888 696 7227

Email jogjagallery@yahoo.co.id / info@jogja-gallery.com

www.jogja-gallery.com




NUNUK AMBARWATI
[ m ] +62 81 827 7073
[ e+ym ] qnansha@yahoo.com
[ fs ] www.friendster.com/qnansha
[ blog ] http://q-nansha.blogspot.com

Sphere: Related Content