27 Agustus 2007

Pemahaman budaya bisa ciptakan perdamaian

Jakarta, Kompas - Islam dan Barat saat ini seperti dua kutub yang berseberangan. Dalam situasi demikian diperlukan kesadaran dan usaha dari kedua budaya ini untuk mau saling berinteraksi dan memahami perbedaan yang ada sehingga kesalahpahaman dan stereotip antarkeduanya bisa dihilangkan.

Hal itu dikemukakan oleh Jacqueline Wasilewski, ahli kajian antarbudaya dari The International Society for Intercultural Education, Training, and Research dalam seminar "Islam and the West:
From Coexistence to Engagement" di Jakarta, akhir pekan lalu. Seminar yang digelar oleh Bina Antarbudaya ini dimaksudkan untuk memperingati 50 tahun Program Pertukaran Pelajar American Field Service (AFS) di Indonesia.

Program pertukaran pelajar seperti AFS, menurut Wasilewski, merupakan suatu wahana pembelajaran antarbudaya yang efektif. Peserta program harus belajar untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang memiliki nilai, cara hidup, dan cara pikir yang sangat jauh berbeda dengan lingkungan asal.

Ribuan peserta AFS dari berbagai negara Barat tinggal di keluarga Muslim, juga sebaliknya. "Tinggal bersama keluarga asing dengan budaya yang berbeda, mereka tidaklah belajar sebagai "penonton", tetapi sebagai "pemain" yang turut mengalami dan menghayati kehidupan budaya
lain yang sangat berbeda sehingga dapat lebih merasakan dan memahami secara mendasar dan mendalam," kata Wasilewski.

Para alumni AFS yang telah dibekali dengan pemahaman antarbudaya itu kini tersebar di berbagai penjuru dunia. AFS asal Indonesia di antaranya penyair Taufiq Ismail, Tanri Abeng, dan pendidik Arief Rachman. (LOK)



http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0708/27/humaniora/3793827.htm

Sphere: Related Content

26 Agustus 2007

Bunuhlah imajinasiku dengan puisiku

Melalui milis KlubSastraBentang di

http://groups.yahoo.com/group/klub-sastra/

saya baru dapat kabar kalau Saeful Badar telah “dihabisi” DDII Jawa Barat. Melalui pernyataan sikapnya, DDII Jawa Barat mengecam puisi “Malaikat” karya Saeful Badar yang dimuat di lembaran budaya “Khazanah” Pikiran Rakyat 4 Agustus 2007. (Ketika saya kunjungi puisi tersebut sudah sirna). Menurut DDII Jawa Barat, puisi tersebut dinilai telah jauh dari nilai estetika seni sastra, sekaligus tidak mengandung etika penghormatan terhadap agama, khususnya agama Islam. Oleh karena itu, sajak tersebut dapat dikategorikan menghina agama, khususnya Islam.

Masih ada 9 pernyataan lain dari DDII Jawa Barat yang intinya menyatakan “penistaan” terhadap kepenyairan sekaligus “keislaman” Saeful Badar. (Pernyataan sikap DDII Jawa Barat selengkapnya bisa dilihat di sini). Menyaksikan kerasnya reaksi DDII Jawa Barat, redaksi Pikiran Rakyat segera meminta maaf dan menyatakan puisi “Malaikat” karya Saeful Badar tidak pernah ada. (Pantas saja ketika saya kunjungi sudah raib. Tapi Anda bisa membacanya di sini). Saeful pun telah meminta maaf dan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Sementara itu, Fadjroel Rachman, penggagas Memo Indonesia menentang keras pengekangan itu. Berikut pernyataan sikapnya:

Pernyataan dari Fadjroel Rachman (via sms):
“Memo Indonesia menentang keras pemberangusan puisi MALAIKAT karya SAEFUL BADAR oleh lembaga dan individu manapun. Ini skandal perampasan hak kebebasan berekspresi” (Fadjroel Rachman, esais, penyair, novelis, penggagas Memo Indonesia).

Hem! Untuk ke sekian kalinya, seorang penulis harus lebih banyak menahan sabar menyaksikan begitu sensitif dan rentannya pihak-pihak yang merasa terusik ketika seorang penulis mencoba sedikit liar dan memberontak. (Respon lain terhadap “Malaikat”-nya Saeful Badar bisa dilihat di sini).

Sekitar tahun 50-an (?), dunia sastra Indonesia juga pernah terguncang kasus cerpen “Langit Makin Mendung” karya Ki Panji Kusmin yang dinilai juga telah melecehkan Islam sehingga HB Jassin (almarhum) sebagai redaksi yang telah meloloskan pemuatannya di majalah Sastra harus berurusan dengan pengadilan. Hal yang nyaris sama juga pernah dihadapi oleh AA Navis yang dinilai telah melakukan penyimpangan syariat melalui tokoh-tokohnya dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”.

Benturan antara pengarang yang menggunakan imajinasi sebagai “amunisi” dalam berekspresi dan kelompok tertentu yang menggunakan “dogma” dan keyakinan sebagai prinsip penegakan syariah, agaknya akan terus terjadi selama imajinasi pengarang masih mengalir ke dalam rongga benaknya.

Persoalannya adalah antara sastra dan agama memiliki “wilayah” yang berbeda, meskipun secara prinsip memiliki “tendensi” untuk sama-sama membangun sebuah peradaban “paripurna”. Demikian juga antara imajinasi dan keyakinan, tak bisa diposisikan dalam wadah yang sama. Imajinasi sangat erat kaitannya dengan kreativitas dan daya cipta yang kadang liar dan agresif, sementara itu keyakinan berkaitan dengan nilai-nilai spiritual yang sangat erat kaitannya dengan norma benar dan salah. Sedangkan, imajinasi tak mengenal benar dan salah. Itulah sebabnya, mengapa Ki Panji Kusmin, AA Navis, atau Saeful Badar begitu enjoy ketika jari-jari tangannya menekan keyboard atau tut mesin ketik mengikuti irama imajinasi yang terus mengalir dari lorong benaknya. Tak akan pernah terpikir oleh mereka kalau keliaran imajinasinya bakal menuai reaksi.

Seandainya saja saya jadi Saeful Badar, saya akan “memuseumkan” (ceile!) imajinasi saya sambil berseru: “Bunuhlah Imajinasiku dengan Puisiku!”. (Biar berbagai bentuk pelanggaran hak asasi, korupsi, manipulasi, dan ulah brengsek lainnya makin merajalela di negeri ini. Biar tak ada seorang pun yang bisa ikut mengontrol arogansi dan kesewenang-wenangan, biar pengarang Indonesia pada ko’it, marilah kita buat negeri ini “brengsek” bersama-sama).

Kenapa Indonesia yang sudah merdeka 62 tahun masih saja ada upaya untuk “menzalimi” hak seseorang untuk berekspresi? Kenapa berbeda pendapat saja mesti diselesaikan dengan cara-cara kasar dan tidak intelek?

Toh sebenarnya, dari sudut pandang sastra, puisi “Malaikat” karya Saeful Badar tidak monotafsir. Bisa saja “Malaikat”-nya Saeful bukanlah Malaikat dalam makna harfiah, mahluk yang paling suci dan paling taat kepada Sang Khalik. Tapi bisa ditafsirkan sebagai “malaikat” lain yang selalu memandang dirinya paling suci, sedangkan orang lain dipandang hina dan pendosa. Sebuah satire bagi mereka yang suka mengklaim dirinya paling suci seperti malaikat.

Namun, Saeful juga manusia. Tekanan yang begitu kuat mengharuskannya untuk bersikap sabar dan tawakal. Sebuah pelajaran berharga bagi mereka yang ingin kreatif dan menggunakan “imajinasi” sebagai pembangun peradaban.

Sementara saya akhiri dulu postingan ini, Ful, mudah-mudahan Sampeyan bisa menjadi lebih tenang setelah muncul beberapa respon empatik dari para kreator dan “pemuja” liarnya imajinasi. Salam budaya!

http://sawal64.blog.co.uk/?tag=sastra

Sphere: Related Content

23 Agustus 2007

Para kurator Komunitas Utan Kayu

ASIKIN HASAN, Kurator Galeri Lontar

Asikin belajar seni mematung di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung dimana ia meriset "Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia." Ia pernah bekerja sebagai wartawan khusus liputan Jawa Barat untuk majalah Tempo. Artikel-artikelnya telah dimuat di berbagai jurnal termasuk "Art and Asia Pacific", sebuah jurnal seni rupa terbitan Sydney, Australia, serta The Jakarta Post dan Majalah Tempo. Pada Tahun 1997, Asikin dapat kesempatan untuk meneliti di beberapa museum, antara lain: The Pushkin Museum, Moscow; The Hermitage, St Petersburg, Russia, serta beberapa museum di Paris.

Tahun 1998, ia mengikuti lokakarya kurator di Tokyo, Fukuoka, Hiroshima dan Kyoto disponsori oleh The Japan Foundation. Ia juga telah mengedit 2 buah buku, Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman. Asikin juga mengkurasi proyek "TRANSIT" New Media di Townsville, Brisbane, Darwin, Australia.


EKO ENDARMOKO, Anggota Tim Redaksi dan Sekretaris Penyunting Kalam

Moko belajar Sastra di Universitas Indonesia. Esai-esai dan kritiknya telah dimuat di berbagai media termasuk Basis, Horison, Kalam, Kompas, Sinar Harapan, Berita Buana, Berita Nasional, dan Suara Karya. Ia pernah menjabat sebagai redaktur di majalah Optimis (1983), Redaktur Pelaksana Berita Buku (Ikapi, Pusat, 1987-89), dan redaktur di penerbit Pustaka Utama Grafiti (1989-1997). Tahun 1996, ia menghadiri Frankfurt International Book Festival mewakili Pustaka Utama Grafiti. Ia mulai terlibat dalam Komunitas Utan Kayu pada tahun 1997 dan sekarang bekerja sebagai sekretaris penyunting majalah kebudayaan Kalam. Dia juga terlibat di KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land- en Volkenkunde) Jakarta (1997-2003) sebagai penyunting buku. Pada akhir tahun 2006, ia telah merampungkan Tesaurus Bahasa Indonesia, yang diterbitkan oleh Gramedia.

HASIF AMINI, Penyunting Jurnal Kebudayaan Kalam dan Kurator Film

Pernah mengikuti AFS Intercultural Learning Program selama satu tahun di Selandia Baru (1988-89). Pada tahun 1992, dengan beberapa teman dia mendirikan Gorong-Gorong Budaya, sebuah kelompok diskusi dan penerbitan buku kebudayaan. Bersama Margaret dan Leon Agusta ia menerjemahkan dan menyunting kumpulan puisi The Poets’ Chant (1995)
yang diterbitkan dalam rangka Istiqlal International Poetry Reading ’95. Ia menyunting kumpulan cerita pendek Para Pembohong (1996), menerjemahkan karya-karya Jorge Luis Borges dengan judul Labirin Impian (1999). Sekarang ia ketua redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam dan redaktur tamu rubrik puisi di Harian Kompas.


MOHAMAD GUNTUR ROMLI, Kurator Diskusi dan Penanggungjawab Website

Lahir di Situbondo, Jawa Timur, belajar di Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir dari tahun 1998 sampai akhir tahun 2004. Selama di Mesir, ia menjadi koresponden untuk Majalah Panji Masyarakat (2002-2003). Setelah Panji Masyarakat tutup, ia bergabung dengan Majalah Berita GATRA sebagai wartawan untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Selain menjadi kurator diskusi di Komunitas Utan Kayu, ia juga aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL). Buku terjemahannya Menyongsong Yang Lain, Membela Pluralisme karya seorang penulis Koptik Mesir, Milad Hanna diterbitkan oleh Jaringan
Islam Liberal tahun 2005. Bersama Moh Fawaid Syadzili menulis buku Dari Jihad Menuju Ijtihad (2003). Ia menulis agama, sastra dan politik Timur Tengah untuk sejumlah media cetak di Indonesia.

NIRWAN DEWANTO, Manager Umum Teater Utan Kayu

Dia menulis ulasan sastra, seni rupa, seni panggung, dan kadang-kadang film di sejumlah koran, majalah, buletin, dan jurnal.

Dalam 2 tahun terakhir, ia juga menyiarkan karya fiksi pada jurnal-jurnal Kalam dan Prosa. Ia pernah menjadi Ketua Redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam (1994-2003), dan sekarang Penjaga Lembar Seni Koran Tempo Edisi Minggu (sejak Juli 2002), dan anggota Dewan Redaksi Yayasan Lontar (sejak awal 2002) yang menerbitkan terjemahan Inggris karya-karya sastra Indonesia. Sejak 1996 ia ikut mengurus Teater Utan Kayu dan Galeri Lontar.

Pendidikan resminya tak berhubungan dengan seni: ia lulus dari Jurusan Geologi Fakultas Teknologi Mineral ITB (1987). Semasa kuliah ia memimpin Grup Apresiasi Sastra di kampusnya (1983-1985).

Sampai akhir 1991 ia bekerja di bidang eksplorasi minyak dan gas bumi. Kemudian, ia meninggalkan sepenuhnya bidang geologi, dan "bekerja" di lapangan seni. Beberapa kali ia melakukan "kajian kesenian" di sejumlah lembaga riset luar negeri. Misalnya, ia
pernah tinggal di University of Wisconsin, Madison sepanjang 1998-1999 sebagai peneliti/penulis tamu dengan sponsor Fulbright.

Buku esainya “Senjakala Kebudayaan" (1996).

SITOK SRENGENGE, Kurator Teater dan Anggota Tim Redaksi Kalam

Lahir di Desa Dorolegi, sebuah perkampungan petani kecil dengan tradisi lisan yang kukuh, di pedalaman Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sembari kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta), ia belajar di Bengkel Teater pimpinan Rendra dan kursus filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Puisi-puisinya terbit dalam kumpulan Persetubuhan Liar merupakan antologi puisinya yang pertama (terbit tahun 1992 dan 1994), disusul Kelenjar Bekisar Jantan; Anak Jadah; dan Nonsens.

Puisi-puisinya juga menjadi bagian buku The Poets’ Chant (Istiqlal International Poetry Reading, 1995), Chants of Nusantara (Sovia, Bulgaria, 1995), Dinamika Kaum Muda IPNU dan Tantangan Masa Depan (1997), Secrets Need Words (Ohio University, Ohio, USA, 2001) dan lainnya. Sejumlah ceritanya terbit dalam Para Pembohong (1996).

Novel pertamanya terbit bersambung di harian Media Indonesia dengan judul Tidur, Cintaku, Tidur—yang kemudian ditulis ulang menjadi Menggarami Burung Terbang.
Kini, terutama, ia aktif di Komunitas Utan Kayu sebagai kurator merangkap koordinator program dan jaringan Teater Utan Kayu, juga redaktur jurnal kebudayaan Kalam; selain bekerja sebagai pemimpin redaksi jurnal Prosa dan ketua editor penerbit Metafor.

TONY PRABOWO, Kurator Musik dan Tari

Tony Prabowo adalah salah satu komposer Indonesia yang paling dikenal dan seorang penting dalam dunia musik modern Indonesia. Ia mulai belajar musik antara lain pada komposer Slamet Abdul Sjukur di Institut Kesenian Jakarta dan mendirikan the New Jakarta Ensemble pada 1996.

Tony telah bekerja sama dengan penari/koreografer, pelukis, penyair dan sutradara teater maupun film. Di panggung internasional, musik Tony Prabowo dipentaskan di Amerika, Eropa, Australia dan Korea Selatan. Di Amerika Serikat, hasil kerja sama

Tony telah dipentaskan di New York International Festival of the Arts, Jacob’s Pillow Dance Festival, Lincoln Center, dan Tanglewood Festival (dengan Tan Dun). Karya dia sendiri telah dipentaskan oleh New Juilliard Ensemble, Seattle Creative Orchestra, ISI Yogyakarta Orchestra, Mannes Orchestra, Orchestra of the University of Newcastle- upon-Tyne, Deutsche Kammerphilharmonie Bremen, dan lain-lain.

Komposisinya yang mutakhir berpusat pada musik vokal. Karya operanya yang pertama, The King’s Witch (1999) dipentaskan di Alice Tully Hall, New York. Meditation on Lu Xun II (2000) adalah karya koor pertamanya, telah dibawakan oleh Paduan Suara Universitas Parahyangan. Tony juga pernah mendapat grant penting dari Meet the
Composer, Ford Foundation dan Asian Cultural Council; yang terakhir ini untuk tinggal di New York dari Oktober 1997 hingga April 1998.

sumber: www.utankayu.org

Sphere: Related Content

21 Agustus 2007

Undangan: Utan Kayu International Literary Biennale 2007

Serangkaian acara Utan Kayu Internastional Literary Biennale 2007 akan dimulai Kamis 23 Agustus di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Cikini, pukul 19.30.

Utan Kayu International Literary Biennale merupakan petualangan kreatif sastrawan dunia ke beberapa kota Indonesia, dalam serangkaian pertunjukan yang dinamis dilengkapi interaksi dengan hadirin. Pada setiap kota yang dikunjungi Biennale, penulis internasional akan menyajikan karya mereka sekaligus berkesempatan menikmati suguhan dari para penulis Indonesia yang unik, menampilkan keragaman talenta dan warna lokal yang menegaskan kekayaan budaya Indonesia.

Bertumbuh dari festival puisi, Biennale ini mengutamakan pembacaan karya dalam bahasa ibu si penulis. Apresiasi penonton tentang karya yang ditampilkan dipermudah oleh proyeksi terjemahan pada layar di samping panggung.

Takjub terhadap kedahsyatan alam yang telah menggetarkan kedua lokasi Biennale tahun ini, dan pada kekuatan lebih besar dari hati dan pikiran manusia yang dengan gigih membangun kembali komunitas yang hilang di hadapan tantangan tersebut, tema Utan Kayu International Literary Biennale keempat ini adalah Force Majeure. Tema ini juga isyarat hormat pada upaya pembangunan kembali Daerah Istimewa Aceh, yang karena berbagai alasan belum bisa menjadi tuan rumah Biennale kali ini sebagaimana direncanakan.

Biennale tahun ini diikuti oleh empat puluh enam sastrawan Indonesia dan mancanegara yang akan membacakan karya sastra mereka: puisi atau prosa. Menurut Kadek Krishna Adidharma, penghubung internasional Biennale, mulai hari ini, Selasa 21 Agustus, peserta dari luar negeri mulai berdatangan.

Bagi anda ingin mengetahui lebih lanjut acara ini silakan klik website:

http://ukliterarybiennale.com/

dan ikuti acara "Breakfast Club" di METRO TV, Kamis 23 Agustus 2007 pukul 08.30 tentang Utan Kayu International Literary Biennale 2007, bersama Kadek Krishna Adidharma dari panitia dan Mong-Lan, peserta Biennale dari Vietnam.

RANGKAIAN ACARA Utan Kayu International Literary Biennale 2007

23-24 Agustus 2007, 19.30
TEATER KECIL, TAMAN ISMAIL MARZUKI
Jl. Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat

25-26 Agustus 2007, 19.30
TEATER UTAN KAYU, Jl. Utan Kayu No. 68H, Jakarta Timur

28 Agustus 2007, 19.30
GALERI LANGGENG Jl. Cempaka No. 8B, Magelang

29-30 Agustus 2007, 19.30
PELATARAN CANDI BOROBUDUR, Magelang

Untuk wawancara dengan peserta dari Indonesia dan luar negeri silakan hubungi Kadek (0813.3771.3039), Rama (0816.130.8350) atau Wikan (0819.3118.2052)

Sphere: Related Content

19 Agustus 2007

Suara pembela Taufiq Ismail

Sastra: Surat Terbuka untuk M Fadjroel Rachman Dkk

-- Kuswaidi Syafi'ie*

DI dalam tulisanmu yang berjudul 'Membela Manusia, Merayakan Kebebasan' (Media Indonesia, 29 Juli 2007), Anda mengandaikan tidak ada tujuan dan ukuran apa pun di luar kehidupan manusia dan kemanusiaan. Saya pun jauh-jauh hari sudah memahami ungkapan demikian, tepatnya 20 tahun yang silam ketika saya mempelajari kitab Manthiq di sebuah pesantren. Adagium Al-insanu miqyasu kulli syayin dikumandangkan dengan lantang oleh filsafat subjektivisme.

Akan tetapi, adagium tersebut bukanlah tanpa masalah. Terutama ketika coba diejawantahkan di tengah gelanggang hidup yang gaduh dan majemuk. Karena, setiap varian humanitas terdiri dari sekian asas yang tidak sama, terdiri dari sekian ideologi yang tidak bisa ditekuk menjadi tunggal, dan terdiri dari sekian iman yang jelas tidak seragam. Semua itu menuntut implementasinya masing-masing untuk senantiasa menjadi (becoming) dan menjadi ada (to being) secara ontologis di atas gerbong hidup yang terus berlari.

Jika demikian adanya, lantas ukuran kemanusiaan universal macam apa yang akan diterapkan dalam kehidupan sastra dan kebudayaan Anda? Bahkan, judul tulisanmu yang seolah dengan tandas mengisyaratkan pembelaan terhadap manusia itu pun menjadi masygul dan rancu.

Mungkin Anda akan mengajukan seutas jawaban sebagaimana kalimat klise yang tertera dalam Memo Indonesia dengan Anda yang terlibat sebagai penggagasnya. 'Hukum dan demokrasi adalah tempat kami mengembalikan segala keberbedaan'. Akan tetapi, bukankah sedari awal sudah dimaklumi, bahkan oleh orang yang paling jahil sekalipun, apa

yang disebut sebagai hukum itu pada akhirnya merupakan pagar bahkan sering kali berwajah seram terhadap kebebasan yang Anda (dan kawan-kawan Anda yang lain) kibarkan dalam Memo Indonesia? Konkretnya, kebebasan yang Anda maksud bukanlah betul-betul kebebasan, melainkan semu belaka.

Maka itu jelas pada dataran filsafat logika, kalimat-kalimat yang terpacak dengan kaku dalam Memo Indonesia itu sesungguhnya mengalami kekacauan pada kawasan logic of meaning.

Lantas perkara idiom demokrasi yang juga Anda sebut dalam Memo Indonesia itu. Tidakkah Anda sadar demokrasi itu sebenarnya senantiasa menagih dan menelan jenis korbannya sendiri? Di tengah pusaran dan beliung demokrasi, segala ihwal yang minoritas dan ganjil mesti bersedia (baik dengan sukarela maupun terpaksa) untuk menyingkir dan tersisih dari gemuruh sosial yang menempuh jalur 'konsensusnya' sendiri itu.

Karena dengan berpegang kepada demokrasi, tentu semestinya Anda dan kawan-kawan Anda yang terlibat dalam pembuatan Memo Indonesia itu bersedia untuk tidak gusar ketika menerima getahnya.

Konsensus Moral

Akan tetapi, Anda dan kawan-kawan Anda ternyata tidak sanggup me-legowo-kan diri untuk menerima gelombang demokrasi yang melanda pikiran dan jiwa Anda, lain di 'mulut', lain pula di tindakan. Hipokrisi Anda dan kawan-kawan Anda itu betul-betul menjadi kentara ketika atas nama masyarakat luas yang masih teguh berpegang pada keagungan dan kemuliaan moral di tengah kehidupan sosial, Taufiq Ismail merisaukan adanya 'gelombang syahwat merdeka' yang menerpa sebagian generasi kita hari ini.

Termasuk menyeruduk sebagian kecil sastrawan di negeri ini yang menulis puisi, cerpen, dan novel, yang menurut istilah Taufiq Ismail dalam orasi kebudayaannya (gerakan syahwat merdeka), yang disampaikan di depan para mahasiswa Akademi Jakarta 2006 silam. Ia mengatakan, "Sudah mendekati VCD/DVD porno tertulis." Suara Taufiq Ismail dalam orasinya itu adalah suara setiap orang tua yang tidak mau menyaksikan anak dan cucunya tergilas oleh deru seks bebas, terjerat oleh situs porno, kecanduan film-film biru, dan seabrek lagi tindakan yang sungguh memalukan. Suara Taufiq Ismail dalam orasinya itu tidak lain adalah suara setiap nurani yang bersih, suara setiap pikiran yang sehat, suara setiap jiwa yang terjaga, dan suara setiap sukma yang menyala.

Mungkin itulah sebabnya, di mailist, kita setiap saat bisa menyaksikan barisan orang-orang yang rela berbondong-bondong meletakkan diri di 'belakang Taufiq Ismail.' Walaupun tentu saja jumlah yang menumpuk tidak mesti identik dengan kebenaran. Orang-orang itulah yang, meskipun di antara mereka ada yang merasa dirinya bobrok, masih sanggup untuk memilah barang-barang berharga di antara serakan sampah.

Pembelokan substansi

Sungguh saya mengakui terus terang Anda dan kawan-kawan Anda (Hudan Hidayat, Mariana Amiruddin, dan Rocky Gerung) betul-betul 'cerdik' dalam memanfaatkan kebesaran Taufiq Ismail dan peluang media massa, terutama koran.

Secara tidak persis sama, jurus yang Anda gunakan adalah jurus layang-layang. Anda dengan sengaja dan sekuat tenaga menantang angin supaya Anda sendiri 'mengangkasa'. Akan tetapi, setiap orang yang pernah mempelajari urut-urutan dan hierarki logika pasti betul-betul paham apa yang Anda (dan kawan-kawan) terapkan itu sungguh merupakan pembelokan substansi secara terang-terangan dari orasi kebudayaan Taufiq Ismail itu.

Taufiq Ismail menumpahkan kerisauannya terhadap moralitas yang ambrol dan dekil, akan tetapi Anda malah melenguh dengan geram bahwa apa yang disampaikannya itu adalah penghujatan terhadap kebebasan sekelompok sastrawan. Taufiq Ismail mengekspresikan tanggung jawabnya yang getir demi tegaknya kemaslahatan sosial, akan tetapi Anda malah berteriak dengan lantang bahwa hal itu adalah pembelengguan dan pemasungan kreativitas.

Taufiq Ismail ingin menandaskan dengan konkret, sebagaimana dulu Immanuel Kant (1724-1804) menyatakan, "Langit sedemikian tak terperi di atasku dan hukum moral melengking dalam jiwaku." Namun, Anda malah menuding hal itu tak lebih dari ekspresi paham keagamaan yang konservatif.

Adanya upaya pembelokan substansial seperti itu mengandaikan Anda dan kawan-kawan Anda itu sesungguhnya tidaklah (belum?) sanggup membuktikan diri sebagai sastrawan-sastrawan terhormat yang ditopang karya-karya besar sebagai puncak-puncak prestasi dalam kancah kesusastraan. Anda tidak sanggup menginvestigasi dengan tekun dan mendalam untuk melahirkan karya-karya sastra yang sanggup menyodorkan inspirasi bagi lahirnya perubahan paradigmatik dan kesadaran baru yang lebih mulia di kalangan para pembaca. Karena itu, untuk 'meninggi'z Anda memerlukan teknik dan jurus lain di luar gorong-gorong karya sastra melalui sejumlah intrik dan friksi yang nista.

Melampaui tubuh


Kalau Anda mencermati dengan seksama, apa yang diteriaki Taufiq Ismail dalam orasi kebudayaannya itu sesungguhnya bukanlah perkara kelamin dan selangkangan secara an sich. Karena, toh keduanya merupakan 'benda-benda' alami yang mewakili impuls-impuls yang dimiliki setiap manusia. Keduanya bisa bergerak dan berubah pada kebaikan atau keburukan.

Yang menjadi masalah krusial bagi Taufiq Ismail adalah kenapa dua 'benda' yang sensitif itu tidak diolah secara matang dan mendalam di dalam beberapa karya sastra yang dilahirkan sebagian penulis negeri ini.

Karena itu, penyajian kedua 'benda' tersebut tidak sanggup memancing munculnya impresi apa pun selain gambar yang jorok dan menjijikkan.

Di dalam wacana dan khazanah kesusastraan kaum sufi, anggota-anggota tubuh manusia yang dianggap tabu oleh publik untuk dicelotehkan itu ternyata dieksplorasi sedemikian rupa demi melahirkan telaga makna yang jauh melampaui ketubuhan itu sendiri. Dalam bahasa Coleman Barks, momen-momen memalukan terkait dengan seks, ereksi, dan keloyoan tiba-tiba sehabis sanggama, dorongan kelentit yang tidak kenal batas, bisikan bejat untuk menyetubuhi pasangan orang lain, semua itu, tak lain dijadikan lensa untuk meneropong pertumbuhan rohani di kalangan kaum salik. Karena itu, yang terkesan bukan joroknya, tapi iktibar spiritual yang sublim dan menggetarkan.

Karena itu, bukanlah merupakan sesuatu yang mengherankan kalau seorang pelukis Belanda Hieronymus Bosch (1450-1516) sampai betul-betul 'keranjingan' pada puisi Jalaluddin Rumi yang porno sekaligus sufistik, Pentingnya Keterampilan Labu.

Puisi yang termaktub dalam Al-Matsnawi jilid V itu (saya membaca versi Arabnya), menggambarkan perihal seorang babu yang mempunyai seekor keledai yang terampil memberikan servis layaknya laki-laki perkasa. Dari sebuah labu, si babu meraut pengapit yang pas untuk zakar si keledai agar penis keledai itu tak masuk terlalu dalam padanya. Hal itu dirancang untuk menuntaskan berahinya.

Ketika si babu bersetubuh dengan keledai itu, sang nyonya rumah mengintipnya lewat celah pintu. Ia melihat zakar mengagumkan dan kenikmatan si babu yang menelentang di bawah keledainya. Sontak, nyonya rumah mengetuk pintu dan memanggil si babu keluar untuk suatu urusan yang lama dan ruwet.

Si babu membatin, "Oh nyonyaku, mestinya kau tak menyuruh pergi ahlinya. Saat kau awali perbuatan tanpa ilmu yang utuh, kau gadaikan hidupmu. Kau malu bertanya perihal labu itu, padahal kiat itu tak kau kuasai." Hingga akhirnya si nyonya mati diseruduk penis keledai.

Rumi kemudian menukasi puisinya dengan menulis, 'Pembaca, jangan korbankan dirimu/ untuk kebinatanganmu!/ Jika kau mati demi kenikmatan tubuh/ Kau hanya seperti perempuan di lantai itu/ Ia gambaran dari perangai yang berlebih-lebihan'.

Fadjroel, nuansa porno yang sedemikian kuat mendorong transendensi itu ternyata tak kutemukan di dalam karya-karya sastra yang ditulis kawan-kawanmu. Tidak di Kuda Ranjang, tidak pula di Tuan dan Nyonya Kosong.

* Kuswaidi Syafi'ie, dosen tasawuf di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Media Indonesia, Minggu, 19 Agustus 2007




Sphere: Related Content

17 Agustus 2007

Wage Rudolf Supratman

From: Nyonya Muskitawati
E-mail: muskitawati@yahoo.com

Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya, itu aslinya WN Belanda, anak seorang opsir Belanda. Oleh Bung Karno dia dianggap orang Jawa dan direkayasa seolah-olah bapaknya adalah bekas KNIL. Rekayasa untuk meningkatkan kebanggaan terhadap bangsa Indonesia lebih penting sehingga perlu dibuat gambar wajah Wage Rudolf Supratman dengan mengenakan peci yang khas Indonesia. Padahal tidak pernah dalam seumur hidupnya Wage Rudolf Supratman mengenakan peci.

Beliau tidak pernah ada fotonya, semua wajah yang ditampilkan dalam buku-buku sejarah adalah hasil lukisan bukan foto asli. Nama aslinya adalah "Wagner Rudolf Schoonhoven" oleh Bung Karno namanya diubah menjadi "Wage Rudolf Supratman". Riwayat hidup beliau yang Anda temukan dalam sejarah sama sekali dusta.

Wage Rudolf Supratman dinyatakan sudah meninggal dunia jauh sebelum kemerdekaan RI. Lirik aselinya juga dalam bahasa Belanda, dia menciptakan lagu ini dalam rangka apresiasinya akan keindahan alam Indonesia. Dan nama Indonesia pada saat itu belum ada, bahkan belum
dikenal, jadi bagaimana mungkin dalam lirik lagi Indonesia Raya sudah menggunakan kata Indonesia? Padahal pada waktu hidupnya nama Indonesia adalah "Nederlands-Indië", tapi dalam lagu Indonesia Raya yang sudah diubah Bung Karno ternyata menjadi Indonesia.

Aneh sekali bukan??? Bagaimana mungkin Wage Rudolf Supratman bisa menuliskan lagunya dalam bahasa Indonesia dan menyebut nama Indonesia yang belum dikenalnya waktu itu didalam liriknya !!!

Lebih hebat lagi, dalam sejarah Indonesia itu diceritakan Wage Rudolf Supratman ditangkap karena mengarang lagu kebangsaan Indonesia ini sementara belum dikenal istilah "bangsa Indonesia" dan juga belum dikenal kata "Indonesia" yang ada dalam lirik lagu Indonesia Raya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.


Sphere: Related Content

14 Agustus 2007

Catatan perang sastra Indonesia

Peta Sastra Negara Kita August 7, 2007
Posted by Romeltea in Opini, General. add a comment
Peta Sastra Negara Kita

Oleh H. Usep Romli HM

“Para penyair diikuti orang-orang sesat. Apakah engkau
(Muhammad) tidak melihat, sesungguhnya mereka,
berseliweran di lembah-lembah dan perkataan mereka,
menyimpang dari kebenaran? Mereka mengucapkan apa-apa
yang tak pernah dikerjakan. Kecuali para penyair yang
beriman dan berbuat kebajikan, serta banyak mengingat
Allah, dan bangkit melawan setelah dianiaya” (QS.
Asy-Syu’ara:224-227).

KASUS pemuatan sajak “Malaikat” buatan Saeful Badar
pada lembaran “Khasanah” HU Pikiran Rakyat edisi 4
Agustus 2007, hlm. 30, yang jelas-jelas mengandung
penghujatan terhadap konsep Rukun Iman Islam,
sebetulnya tidak berdiri sendiri. Para penyair dan
pengarang sastra Indonesia mutaakhir kini sedang
mengalami kontroversi amat luar biasa.

Di satu pihak, mencoba mempertahankan nilai-nilai
norma etika dalam berestetika. Di pihak lain,
memforsir segala daya upaya untuk merobohkan
norma-norma etika itu. Kelompok terakhir yang memang
sangat dominan karena didukung publikasi media massa
dan penerbitan yang kuat, menganggap estetika adalah
estetika tok. Tanpa perlu etika. Karena kebebasan
berekspresi yang masih menganut etika, dianggap tidak
bebas lagi. Bukan ekspresi murni lagi. Melainkan
ekspresi semu hasil “penjajahan” norma-norma etika
yang selalu kuno, primitif, beku, jumud, terbelakang,
dsb.

Maka kelompok terakhir ini, diusung para
seniman-sastrawan-budayawan yang biasa berkelompok di
“Teater Utan Kayu”, berkelayapan dari kafe ke kafe,
seolah-olah mengembangkan sebuah mazhab sastra-seni
yang –-katakanlah– porno. Karya-karya mereka penuh
dengan idiom-idiom tentang alat kelamin, air mani,
persetubuhan, seks bebas.

Sebutlah nama-nama Ayu Utami, dengan novel-novelnya
“Saman” dan “Larung”, Djenar Mahesa Ayu (novel “Mereka
Bilang Aku Monyet”), Dewi Lestari (”Supernova”), dll.
Karya-karya lain berupa kumpulan sajak, cerpen, hasil
pengumbaran daya khayal tanpa batas dan tanpa etika
(serta logika), lahir dari tangan-tangan Hudan
Hidayat, Binhad Nurohmat, Fajrul Rahman, Dinar Rahayu,
Rieke Diah Pitaloka, dll. Media-media seperti
“Kompas”, “Media Indonesia”, “Koran Tempo”, selalu
memuat dan menyanjung-puja karya-karya mereka.

Anehnya, orang seperti Binhad Nurohmat, yang konon
hapal di luar kepala hadits-hadits Nabi Muhammad Saw
dari “Kutubus Sittah” (enam kitab hadits paling
representatif, terdiri dari susunan Imam Bukhari,
Muslim, Turmudzi, Nisai dan Ibnu Majah), ikut-ikutan
menulis sajak-sajak yang liar dan brutal yang penuh
imajinasi-imajinasi seksual. Antara lain sajak-sajak
yang terkumpul dalam “Kuda Ranjang” (2002).

Mereka bebas leluasa melahirkan karya apa saja dalam
bentuk apa saja, asal mengandung unsur penghujatan
terhadap norma-norma kemanusiaan dan keagamaan. Malah
mereka menganggap karya-karyanya itu, sangat
manusiawi, karena konon berhasil mengungkap watak
dasar dan perasaan manusia paling dalam. Konon
berhasil mendobrak kemunafikan karena berani mengupas
hal-hal yang selalu ditabukan akibat kungkungan norma
etika.

Adakah perlawanan dari sastrawan budayawan yang masih
punya norma? Tentu saja ada. Bahkan mereka memberikan
perlawanan dari dua arah dan cara.

Pertama, langsung menohok kelakuan para sastrawan yang
mengatasnamakan kebebasan berekspresi tanpa norma
etika itu. Dipelopori sastrawan senior Taufik Ismail,
pada pidato kebudayaan di Akademi Jakarta (20 Desember
2006), berjudul “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan
Syahwat Merdeka”, menyebut kelompok sastrawan pemuja
kebebasan berekspressi itu sebagai “Gerakan Syahwat
Merdeka”. Karya mereka, menurut Taufik, dikategorikan
“Sastra Mazhab Selangkangan” (SMS), atau “Fiksi Alat
Kelamin” (FAK), yang mengandung faham neo-liberalis.
Bahaya karya-karya mereka, sejajar dengan bahaya
narkoba, VCD porno, TV mesum, foto-foto cabul di
internet, dan semacamnya.

Kedua, dengan membuat karya-karya tandingan yang penuh
norma etika, relijius, serta ajakan takwa kepada Allah
SWT. Dipelopori “Forum Lingkar Pena” (FLP),
karya-karya baik-baik ini, mampu merebut pasar. Banyak
yang berkali-kali cetak ulang. Novel “Ayat-Ayat Cinta”
karya Habiburahman el Sirazi, misalnya, sudah belasan
kali cetak ulang. Sukes buku-buku tersebut tak pernah
diulas di “Kompas”, “Media Indonesia”, atau
“KoranTempo” yang hanya mendukung “SMS” dan “FAK”
saja.

Menanggapi pidato kebudayaan Taufik Ismail, para
pendukung “SMS” dan “FAK” segera bereaksi keras. Hudan
Hidayat, Fajrul Rahman, Marian Amiruddin, Rocky
Gerung, mengeluarkan risalah “Memo Indonesia” (12 Juli
2007). Penuh keangkuhan, mereka menyatakan:

“Setiap upaya atas dasar moral, nilai-nilai, atau
kekuasaan yang hendak membelenggu,adalah menghambat
dan menjauhkan manusia dari kemajuan dan kebebasannya
sendiri. Kami adalah manusia bebas. Berdaulat atas
jiwa dan raga kami.Untuk mencipta kemanusiaan kami
sendiri, dalam kebebasan penciptaan tanpa penjajahan….
Kemajuan dan kebebasan kemanusiaan adalah cita-cita
kami!”

Proklamasi “Memo Indonesia” itu, dimuat dalam “Media
Indonesia Minggu” 22 Juli 2007. Pada media yang sama,
dan tanggal yang sama, penyair Binhad Nurohmat yang
konon hafal hadits “Kutubus Sittah” itu, menulis
pendapatnya yang menentang pendapat Taufik Ismail.

Dalam tulisan berjudul “Malu (Aku) Jadi Penghujat
Sastra”, Binhad memberi “petuah” kepada Taufik Ismail.
Bahwa serangan terhadap para sastrawan mutakhir,
sebagai provokasi. Tak ubahnya dengan provokasi para
pengarang “Lembaga Kebudayaan Rakyat” (Lekra),
organisasi kebudayaan milik Partai Komunis Indonesia
(PKI) th.1950-1965. Ia menggunakan pendapat “Lekra”
ketika menyerang Taufik Ismail dan kawan-kawan yang
tergabung dalam “Manifest Kebudayan” (Manikebu), yang
merupakan musuh nomor satu “Lekra” tahun 1960-an.

Ketika itu “Lekra” menyerang puisi-puisi erotis karya
para sastrawan “Manikebu”: “…puisi erotis adalah puisi
hina. Sastra semacam inilah yang harus dibabat”
(dikutip oleh Binhad dari rubrik “Lentera” koran
“Bintang Timur”, 2 Nopember 1962). Lalu Binhad
bertanya, bukankah isi pidato Taufik Ismail bukan
sejenis pembabatan juga ?

Binhad juga menyatakan bahwa “Gerakan Syahwat Merdeka”
sesungghnya tidak ada. “GSM” hanya jargon orisinil
karangan Taufik Ismail semata, yang
dibesar-besarkannya melalui koran dan mimbar pidato
demi penghujatan dan penyudutan belaka.

Suatu pendapat yang bertolakbelakang dengan kenyataan,
yang coba disembunyikan oleh Binhad Nurohmat, penyair
“Kuda Ranjang” yang juga penuh kejalangan amoral,
padahal ia seorang penghafal hadits Nabi Saw. “GSM”
hasil lontaran Taufik Ismail, memang ada. Karya-karya
Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, Dinar Rahayu, Hudan
Hidayat, dkk., termasuk Binhad Nurohmat, benar adanya.
Benar membawa genre “Sastra Mzhab Selangkangan”. Yang
oleh Mahdiduri, Penyair dan Ketua KSI Banten, dinilai
sebagai fiksi seksual yang tak jauh berbeda dari
layanan seks premium call 0809 (Republika, 22 Juli
2007).

Pidato kebudayaan Taufik Ismail di Akademi Jakarta,
yang menghujat “GSM”, “SMS”, dan “FAK”, tidak pernah
diliput, diberitakan atau diulas di koran-koran
“Kompas”, “Media Indonesia”, “Koran Tempo”, dan media
pendukung neoliberalisme –termasuk pendukung publikasi
“Jaringan Islam Liberal” (JIL)– lainnya. Hanya
“Republika” yang memuat. Sayang, sebaran “Republika”
jauh lebih kecil dan lebih sempit daripada koran-koran
neoliberal tadi. Sehingga gemanya tidak sampai ke
masyarakat.

Demikian pula, pemberitaan atau iklan buku-buku karya
pengarang “Forum Lingkar Pena” yang Islami, hanya
“Republika” yang suka memasang. Yang lain-lain
–terutama “Kompas” lebih suka mempublikasikan dan
menyanjung puja karya-karya “picisan” semacam fiksi
“teenlit” atau “chiklit”, yang isinya hanya cocok
untuk sinetron-sinetron remaja kelas kambing di TV-TV
yang juga mengemban missi neoliberal.

Berdasarka fakta-fakta di atas, umat Islam perlu
melakukan langkah-langkah preventif dan berskala
besar. Antara lain :

1. Merangsang pertumbuhan pengarang dari lingkungan
Islami (madrasah, pesantren, harakah, dll.). Mendidik
dan melatih para pengarang fiksi dan non-fiksi yang
bervisi etis serta agamis.

2. Memperbanyak media massa yang selalu siap
mempublikasikan, mengulas, mempromosikan karya-karya
Islami tanpa batas. Artinya, tidak hanya karya-karya
yang sudah berhasil mencapai batas nilai mutu tinggi
yang dipromosikan.Karya para pemula juga perlu
diperhatikan.

Sebagai contoh: karya-karya “teenlit” dan “chiklit”
(para pengarang remaja, anak sekolahan), sangat gencar
dipromosikan “Kompas”. Karya-karya semacam “Eifel My
Love”, “Buruan Cium Gue”, dan sejenisnya, berkat
promosi yang diada-adakan itu, laku keras. Bahkan
diangkat ke layar kaca dan film. Membuat terpesona
kaum remaja yang masih polos dan lugu.

Alhasil, sajak “Malaikat” karya Saeful Badar di “PR”,
berikut visi dan missi Redaktur Budaya “PR”, hanya
sebagai dampak akibat dari keberhasilan jaringan
konspirasi imperialisme-kapitalisme dalam memandulkan
etika dan rasa keimanan pada jiwa para sastrawan.

Akibat lebih jauh, harus berkonfrontasi dengan
kelompok-kelompok masyarakat Islam yang ingin
mempertahankan kemurnian akidah dan ketahanan etika.
Kelompok-kelompok yang justru merupakan pangsa pasar
paling utama media massa, termasuk “PR”. Sehingga
timbul kesan – dan ini sudah menjadi kenyataan global
– mereka mencari keuntungan dari orang-orang yang
dikorbankan dan dihinakan.***

– H. Usep Romli HM adalah wartawan senior,
sastrawan-budayawan Sunda, penggiat komunitas “Raksa
Sarakan”. Tinggal di Pedesaan Kec. Cibiuk, Kab. Garut.
Naskah ini khusus dikirim buat www.romeltea.co.nr.
Copyright (c) 2007 www.romeltea.co.nr


http://bagusalfa.blogspot.com/2007/08/catatan-perang-sastra-indonesia.html

Sphere: Related Content

13 Agustus 2007

Dody Kriswaloejo

Dody Kriswaloejo (=Dody Kristianto), lahir 3 April 1986, adalah mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Bergiat di Kelompok Jeda Interlude. Puisi-puisinya pernah tergabung dalam antologi bersama: Eksekusi Kata (Sastra Reguler 2004, Surabaya, 2006), Sapi in Love (Warung 85, 2007)

http://puitika.net pada Sab, 02/06/2007 - 16:47

Sphere: Related Content

06 Agustus 2007

Permohonan maaf dan penyesalan Saeful Badar

Permohonan Maaf dan Penyesalan Saeful Badar

MEMBACA permohonan maaf Pikiran Rakyat (Senin, 6 Agustus 2007) atas pemuatan puisi saya berjudul "Malaikat" yang dimuat lembar budaya "Khazanah", Sabtu, 4 Agustus 2007 yang mendapat reaksi keras dari kalangan aktivis dan ormas Islam, saya telah dibuat merenung dan kemudian menyadari bahwa saya telah melakukan suatu kekhilafan dengan membuat puisi
seperti itu.

Meski sebetulnya adalah hak dan kewenangan Redaksi "PR" untuk memuat atau tidak memuat setiap puisi yang dikirimkan, (dan sebetulnya saya telah mengirimkan beberapa puisi lain sebagai pilihan untuk dimuat), sebagai penulisnya, saya juga tidak hendak menyalahkan
Redaksi. Karena ini adalah kekhilafan dan kesalahan besar yang telah saya lakukan sepanjang karier kepenyairan saya.

Untuk itu, dari lubuk hati yang paling dalam, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya dan
setulus-tulusnya atas kekhilafan ini. Apa yang telah saya tulis di puisi tersebut merupakan bentuk kedhaifan saya sebagai manusia dalam menginterpretasikan gagasan dan imajinasi tentang malaikat. Sama sekali, tak terbersit niatan untuk menghina apalagi melecehkan. Sebetulnya sebagai umat Islam, saya yakini pula bahwa malaikat itu sebagai makhluk Allah SWT yang sangat suci dan mulia. Saya tidak hendak berkilah lebih lanjut tentang hal ini,
sebab kesalahan itu memang nyata telah saya lakukan. Oleh karenanya, saya merasa menyesal telah melakukan itu.

Adanya reaksi keras atas puisi tersebut, sangat-sangat saya pahami, dan hal itu saya terima sebagai satu teguran yang meski datangnya dari saudara-saudara saya para aktivis umat Islam, namun hakikatnya adalah dari Allah SWT. Insya Allah, kejadian ini akan senantiasa saya ingat sepanjang sisa hidup saya, dan akan saya ambil hikmahnya, agar kapan pun di kemudian hari, saya tidak melakukan kesalahan serupa.

Seraya memohon ampunan kepada Allah SWT, sekali lagi saya memohon maaf yang sebesar- besarnya dan setulus-tulusnya dari saudara-saudara saya sesama umat Islam, baik yang berada di Bandung dan daerah-daerah lainnya di Jawa Barat maupun yang berada di mana pun
di permukaan bumi ini. Atas perhatian dan maaf yang diberikan untuk kesalahan saya ini, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kepada Redaksi "PR" saya juga mohon maaf dan terima kasih atas dimuatnya surat ini.

Saeful Badar
Tasikmalaya 46122

Sphere: Related Content

Pernyataan DDII Jawa Barat vs Puisi karya Saeful Badar

Pernyataan DDII Jawa Barat

PADA lembaran budaya "Khazanah" Pikiran Rakyat 4 Agustus 2007, telah dimuat sajak karya Saeful Badar, berjudul "Malaikat".

Setelah membaca sajak tersebut, menimbang serta menilai dari berbagai sudut dan aspek, serta demi mencegah terulangnya kasus serupa pada masa mendatang, maka dengan ini kami berpendapat.

1. Sajak berjudul "Malaikat" karya Saeful Badar tersebut, jauh dari nilai estetika seni sastra,
sekaligus tidak mengandung etika penghormatan terhadap agama, khususnya agama Islam. Oleh karena itu, sajak tersebut dapat dikategorikan menghina agama, khususnya Islam.

2. Jika penulisan dan pemuatan sajak tersebut dilakukan tanpa ada maksud melecehkan Islam, hal itu mengindikasikan "kebodohan" penulis dan redaktur tentang konsep malaikat dalam agama-agama samawi, khususnya Islam.

3. Jika penulisan dan pemuatan sajak tersebut dilakukan dengan sengaja untuk memancing amarah umat Islam dan menista ajaran Islam, tindakan tersebut serupa dengan apa yang dilakukan para penista Islam, seperti kasus Salman Rushdie dengan novel "Ayat-ayat Setan", koran Jylland-Posten Denmark dengan karikatur Nabi Muhammad saw., dan kasus-kasus lainnya yang dinilai melecehkan Islam dan kaum Muslimin.

4. Menerima permohonan maaf pihak Pikiran Rakyat seperti dimuat di halaman I "PR" edisi Selasa, 6 Agustus 2007, juga mengapresiasi tindakan Redaksi "PR" yang segera menyatakan pencabutan sajak tersebut dan menganggapnya tidak pernah ada.

5. Kami menganggap permohonan maaf saja tidak cukup, karena ini menyangkut akidah Islam, sehingga harus ada tindakan lebih jauh, seperti klarifikasi tentang sosok malaikat yang sebenarnya, sekaligus meng-counter opini yang dibangun penulis sajak lewat judul sajak "Malaikat" yang telanjur dipublikasikan.

6. Menuntut Pikiran Rakyat melakukan tindakan setimpal, baik terhadap penulis sajak itu, maupun redaktur yang memuatkannya, berupa mem-black list Sdr. Saeful Badar atau mencekalnya dari daftar kontributor sajak "PR", sehingga ia minta maaf secara terbuka kepada umat Islam atas kekhilafannya.

7. Dalam konsep ajaran Islam, Malaikat adalah satu dari sekian banyak makhluk ciptaan Allah SWT yang mendapat keistimewaan tersendiri. Mereka merupakan makhluk rohani bersifat gaib, tercipta dari cahaya (nur), selalu tunduk patuh, taat, dan tak pernah ingkar kepada Allah SWT. Malaikat menghabiskan waktu siang-malam untuk mengabdi kepada Allah SWT. Mereka
tidak pernah berbuat dosa dan tidak pernah mengerjakan apa pun atas inisiatif sendiri, selain menjalankan titah kuasa perintah Allah SWT semata. Mereka diciptakan Allah SWT dengan tugas-tugas tertentu.

8. Bagi umat Islam, percaya (iman) kepada Malaikat, adalah bagian dari rukun Iman yang enam, di samping iman kepada Allah, Rasul-rasul Allah, Kitab-kitab Allah, Qodlo-Qodar (takdir), dan hari akhir. Iman kepada Malaikat menjadi bagian terpenting dari tauhid (mengesakan Allah) dan membebaskan manusia dari syirik (menyekutukan Allah).

9. Dengan demikian, bagi umat Islam, Malaikat bukan sosok yang bisa dipermainkan atau diolok-olok, baik oleh ucapan, kalimat, maupun tindakan, oleh seorang penyair, sekalipun atas nama kebebasan berekspresi.

10. Mengharapkan Redaksi "PR", penyair, dan masyarakat pada umumnya, untuk berhati-hati dalam berkarya, menulis, ataupun tindakan lain yang dapat dinilai menista agama, dan menyinggung keyakinan umat Islam.

Mahasuci Allah yang telah menciptakan Malaikat dengan segala kesucian dan ketakwaannya, dari segala cercaan dan penyipatan batil manusia tak bertanggung jawab.

H.M. Daud Gunawan
Wakil Ketua Umum
Dewan Dakwah Islamiyah
Indonesia
Jawa Barat

Dari Redaksi:

Terima kasih. Kami telah memohon maaf atas pemuatan sajak tersebut pada penerbitan "PR" 6 Agustus 2007 halaman 1 dan menyatakan bahwa sajak tersebut dicabut dan dianggap tidak pernah ada.

Sphere: Related Content

05 Agustus 2007

Tifa: Memberhalakan 'Kebebasan' ala 'Memo Indonesia'

Saut Situmorang*


LARUT malam di bawah banner depan Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya yang hendak pergi ke Serang, Banten, menghadiri pertemuan komunitas sastra se-Indonesia, dipanggil Hudan Hidayat untuk gabung ngebir bersamanya. Waktu saya menemui Hudan, ternyata sudah ada beberapa orang, seperti Djenar Mahesa Ayu dan Richard Oh. Mereka baru saja mengikuti acara Pekan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Malam bertambah larut, bahkan hampir pagi. Lalu ada yang mengusulkan untuk menelepon Bang Tardji keluar dari hotel di depan TIM tempat ia dan keluarga menginap. Bang Tardji ditelepon dan tak lama kemudian ia keluar dan duduk bersama kami. Sejak tadi, perempuan bernama Djenar Mahesa Ayu itu macam-macam tingkahnya dan sekarang lebih gawat lagi. Sambil memegang-megang kepala Bang Tardji, yang selama sepekan diperingati sebagai penyair terbesar dalam sejarah sastra Indonesia modern, perempuan berpakaian sangat revealing itu mulai bermonolog menyebut 'sosok' kelamin lelaki berulang-ulang.

Karena mulai muak dengan pemakaian bahasa yang sangat minimalis dan sexist Chauvinist"! Hudan Hidayat sang 'pembela kebebasan' dan pencetus manifesto pembela kebebasan bernama seram Memo Indonesia diam tak berkata apa-apa. So much for freedom of expression!

***

Serang, Banten, dua hari kemudian. Dalam sebuah diskusi tentang ideologi dan estetika di Pertemuan Sastrawan Ode Kampung 2, Hudan Hidayat menyatakan baginya teks (karya sastra) adalah segalanya dan di luar teks tak ada apa-apa. Hudan juga mengklaim ideologi seseorang tidak harus sama dengan praktik kehidupan (berkarya) seseorang. Karena teringat pada malam di bawah banner depan TIM itu, saya merasa kasihan kepada orang itu. Kalau memang ia benar-benar percaya pada apa yang ia omongkan, sambil mengutip-ngutip ayat-ayat Alquran lagi, bahwa teks adalah segalanya dan di luar teks tak ada apa-apa. Lantas, untuk apa ia ribut-ribut dengan Taufiq Ismail membela-bela 'kebebasan kreatifnya' sebagai sastrawan? Untuk apa-apa ribut-ribut membuat (bersama tiga orang lain) Memo Indonesia lalu 'mendeklarasikannya' di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan media massa, cuma agar teks seperti yang dihasilkannya diterima sebagai 'karya sastra' oleh dunia sastra Indonesia? Bahkan, menyerang Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung (ditandatangani ratusan sastrawan dan penggiat komunitas sastra dengan latar ideologi seni yang berbeda-beda dari Aceh sampai Lombok) yang prihatin terhadap kondisi dekadensi kultural dalam sastra kontemporer Indonesia dan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia! Kalau seorang Djenar Mahesa Ayu saja tidak dapat ditangani Hudan Hidayat dalam soal 'kebebasan berpendapat', bagi saya memonya itu cuma bullshit.

***

Sekarang mari kita simak isi memo mereka itu. Dengan bahasa yang begitu abstrak (mirip bahasa memo para birokrat kekuasaan!) Memo Indonesia ditulis dalam enam paragraf yang intinya tentang kemanusiaan dan kebebasan. Mereka menyatakan, "Kesempurnaan kemanusiaan adalah... toleransi atas keberagaman nilai, tempat warga bangsa-bangsa berbahagia atas perbedaan mereka." Seandainya mereka benar-benar percaya atas konsep 'toleransi' dan 'keberagaman nilai', bukankah tidak seharusnya mereka menyerang Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung yang memang berbeda pandangannya atas apa itu 'standar estetika' dalam penulisan karya sastra, seperti yang dilakukan M Fadjroel Rachman dalam tulisannya di Media Indonesia (29 Juli 2007)? Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung (PSOK) jelas-jelas menolak 'eksploitasi seksual' sebagai 'standar estetika' karena setiap 'eksploitasi' apalagi yang dilakukan atas nama 'kebebasan' adalah perendahan atas nilai kemanusiaan. PSOK tidak tabu terhadap seks, tapi antieksploitasi seks demi eksploitasi seks itu sendiri. Contoh nyatanya adalah buku (yang diklaim kedua penulisnya sebagai 'karya seni sastra', tapi tanpa mampu dibuktikan dalam konteks kritik sastra!) berjudul Tuan & Nona Kosong oleh Hudan Hidayat dan Mariana Amiruddin. Saya lebih mendapat tekstase seksual yang berseni dari film Andrew Blake tentang seks seperti Paris Chic ketimbang novel post-novel Hudan dan Mariana. Alasannya, karena film Blake memakai seks seperti sudah seharusnya dan bukan dibuat-buat supaya kelihatan provokatif. Seks adalah teks itu sendiri dan dieksplorasi lewat berbagai posisi pandangan termasuk psikologi cerita. Istilah pasarannya, seks dalam film Andrew Blake bukan bumbu cerita, tapi harus ada. Mirip dengan teks-teks Marquis de Sade. Apa yang bisa saya dapat dari Tuan & Nona Kosong yang peristiwa penerbitannya saja dimulai (dengan sengaja!) dengan 'polemik' di koran Media Indonesia antara para pembuat Memo Indonesia dan Hudanis lainnya itu!

"Kami adalah manusia bebas. Berdaulat atas jiwa dan raga kami untuk mencipta kemanusiaan kami sendiri dalam kebebasan penciptaan tanpa penjajahan," teriak Memo Indonesia lagi. Siapa rupanya yang melarang mereka 'mencipta'! Siapa yang menghalangi mereka untuk berdaulat atas jiwa dan raga mereka! Kok, sepertinya para penulis memo itu memberi kesan sudah dirampas kebebasannya, bahkan hak atas jiwa dan raga mereka. Padahal memo mereka itu sangat bebas mereka iklankan ke mana-mana termasuk di SMS!

"Kemajuan dan kebebasan kemanusiaan adalah cita-cita kami. Perbedaan dan kerja sama adalah jalan kami. Hukum dan demokrasi adalah tempat kami mengembalikan segala keberbedaan," demikianlah bunyi repetitif Memo Indonesia. Terus terang saya capek membacanya. Slogan melulu sih. Birokrat speak doang! Sebenarnya saya mengharapkan isi yang cerdas, lebih intelektual elaborasi idenya, dan lebih nyastra bahasa ekspresinya. Bukankah keempat pembuatnya orang-orang hebat semuanya (sastrawan, esais, redaktur majalah, cendekiawan) seperti yang mereka sendiri cantumkan sebagai penjelas nama mereka!

M Fadjroel Rachman dalam tulisannya di Media Indonesia, seperti yang saya sebut di atas, dengan gagah menyatakan, "Tidak ada pribadi Indonesia, tak ada kebudayaan Indonesia, manusia yang tinggal di negeri Indonesia adalah pribadi global..." Kalau memang identitas 'Indonesia' itu tak ada, lantas kenapa masih merasa perlu untuk memakai istilah 'Indonesia' dalam nama Memo Indonesia?

Sloganisme dan inkonsistensi dianggap akan memajukan kemanusiaan. Ambisi besar tentu wajar apalagi dalam diri para elite dunia ketiga pascakolonial yang rata-rata hidup di ibu kota negerinya. Motorway dan gedung pencakar langit dipercaya sebagai simbol kebebasan kemanusiaan. Bagaimana bisa bicara kemajuan kemanusiaan dan kebebasan individu di tengah-tengah kemiskinan dan ketakadilan sosial yang mengelilinginya! Dan, betapa naifnya pandangan politik segelintir elite dunia ketiga yang merayakan pribadi global dan kebudayaan global tanpa pernah sekalipun memeras otak mereka untuk menelusuri genealogi historis dari konsep globalisme itu sendiri.

"Apa artinya menjadi manusia Indonesia hari ini?" tanya Fadjroel Rachman dalam tulisannya itu. Dengan baik hati ia memberikan jawabannya sendiri, "Menjadi manusia global membubung tinggi bersama jiwa-jiwa bebas seluas Bumi, mencipta hari depan manusia bersama-sama secara global."

Tak ada yang baru dalam slogan itu. Humanisme liberal dari abad 19 penuh dengan frase-frase indah tentang kebebasan dan kemanusiaan. Juga kesetaraan perempuan. Tapi, apa kenyataannya? Humanisme liberal menyebabkan agama Kristen mati di Barat dan kolonialisme terjadi di Asia, Afrika, dan benua Amerika. Dan, bukankah feminisme sebagai gerakan perlawanan perempuan justru lahir dalam era kekuasaan liberalisme! Sekarang kita saksikan kekuatan liberal paling besar dalam planet ini mengeksploitasi kekuasaan ekonomi dan politiknya untuk menghancurkan negeri-negeri dunia ketiga kecil (Amerika Latin, Vietnam, Afrika, Afghanistan, Irak) yang tidak mau tunduk dalam kebebasan dan kemanusiaan ala Paman Sam.

Sebagai elite dunia ketiga, manusia mana yang akan Anda bela? Kebebasan siapa yang akan Anda rayakan? Apakah manusia Indonesia memang termasuk yang dianggap manusia dalam kemanusiaan global? Apakah kebebasan manusia Indonesia termasuk yang dirayakan dalam kebebasan kemanusiaan global? Mana buktinya?!

Ada beberapa kawan dan kenalan yang seharusnya berangkat ke Amerika Serikat tiba-tiba tidak jadi berangkat, padahal mereka diundang institusi-institusi Amerika sendiri untuk datang. Ternyata Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta tidak memberikan mereka visa. Alasannya sangat sepele, yaitu nama mereka nama orang Arab. Kalau politik rasisme sudah menjangkau nama, masih tidak malu Anda mengaku-ngaku sebagai humanis liberal?

* Saut Situmorang, esais, tinggal di Yogyakarta

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 5 Agustus 2007

Sphere: Related Content