30 Juni 2007

Dalam komunitas: Ideologi membentuk estetika

Oleh: Kurnia Effendi

SENIMAN, termasuk sastrawan, sebenarnya pekerja kreatif individual. Kerja sama antarseniman muncul ketika sebuah karya harus tampil dalam medium berikutnya. Misalnya sebuah novel yang ditulis oleh seorang pengarang, akan melibatkan kreator seni lain saat diterbitkan menjadi buku. Mereka antara lain penyunting yang umumnya juga seorang penulis atau ahli bahasa, dan perupa (pelukis atau pegrafis) yang membuat ilustrasi untuk sampul bukunya.

Perjalanan jadi lebih panjang bila novel yang telah menjadi buku itu ternyata menarik minat seorang sutradara untuk difilmkan. Proses sampai menjadi karya sinema lebih banyak melibatkan para seniman dan teknisi lain. Sebut saja penulis skenario, pembuat storyboard, juru kamera, aktor dan aktris, juru rias, penata artistik, penyunting film, pembuat efek suara dan efek gambar, pengisi ilustrasi musik, dan seterusnya. Umumnya, ketika karya sastra yang semula dibuat secara individual itu terjun ke dunia industri (buku, film, pertunjukan teater) akan membutuhkan banyak campur tangan para seniman bidang lain.

Sebuah kerja sama yang nyaris sempurna lazimnya didukung oleh ikatan kimiawi antarpersonal. Mereka memiliki rasa saling membutuhkan, rasa saling memiliki tujuan, dan boleh jadi tumbuh persahabatan di antara hubungan bisnis itu. Persahabatan yang didukung profesionalisme tentu melahirkan sinergi yang baik. Misalnya seorang pengarang yang dekat dengan redaktur, sepanjang kualitas karyanya tetap dijaga, tak ada salahnya untuk saling memberikan fasilitas. Contoh lain, sebuah tim pembuat film yang secara garis besar terdiri dari produser, sutradara, pemeran, dan penulis cerita bisa memahami keinginan satu sama lain tanpa menjatuhkan mutu kinerja, walhasil bakal mencapai sebuah film yang baik. Dengan kata lain, mereka yang ahli dalam bidangnya masing-masing itu mengusung satu visi dan misi dalam memproses sebuah karya bersama.

Kegiatan yang tidak individual itu bisa berawal dari komunitas, atau sebaliknya bisa pula mendorong lahirnya komunitas. Tanpa perlu mendefinisikan komunitas, kita tahu bahwa sekumpulan orang dalam bidang yang sama atau berbeda dengan tujuan awal yang kira-kira sama, membentuk sebuah ikatan keorganisasian (belum tentu organisasi yang sungguh-sungguh tertib dan resmi), berusaha secara berkala menyelenggarakan kegiatan. Bentuk kegiatan itu bisa macam-macam. Sebuah komunitas seni, atau khususnya sastra, pun tidak luput dari kegiatan sosial. Contoh yang paling hangat adalah upaya penggalangan dana untuk membantu saudara sebangsa yang tertimpa musibah gempa di Jogja beberapa waktu lalu, pernah dilakukan oleh Komunits Sastra Indonesia (KSI) yang kegiatan utamanya bersastra.

Ada apa di balik komunitas sastra yang tumbuh subur di Indonesia ini? Apakah dengan komunitas seorang pegiat sastra menjadi lebih dipandang? Atau sebaliknya, komunitas akan lebih bersinar bila didukung oleh para pegiat sastra yang sudah mapan? Mengenai pengaruh komunitas sastra bagi seorang pengarang atau pertumbuhan sastra di Indonesia, pernah saya tulis untuk Kompas di tahun 1998. Ketika itu, KSI telah melakukan tahap pertama pemetaan komunitas sastra seluruh Indonesia.

Bicara mengenai ideologi dalam komunitas, sadar atau tidak, memang ada. Meskipun tidak selalu ditulis secara jelas, namun tersirat dalam AD/ART organisasi. Apakah semua komunitas memiliki AD/ART seperti KSI? Belum tentu. Namun demikian bukan berarti tak ada visi dan misi. Saya kira ideologi melekat pada visi dan misi itu. Katakanlah sebuah komunitas yang salah satu kegiatannya adalah memberi pelatihan penulisan kreatif, selain memang memandang perlu pertumbuhan jumlah penulis, boleh jadi sembari memasukkan serpihan ideologi dalam pengajarannya. Mungkin sudah diketahui sejak awal bahwa KSI yang digagas salah satunya oleh Wowok Hesti Prabowo, memiliki pondasi sastra buruh (para pegiat sastra dari kalangan pegawai pabrik di Tangerang) yang menitikberatkan kaderisasi sastrawan dari para buruh yang memiliki talenta literer. Pada perkembangannya memang sempat menimbulkan friksi terhadap tarik-menarik kepentingan di dalam tubuh organisasi. Namun lantaran unsur kekeluargaan yang tinggi di antara para anggota KSI, masih tampak jejak dan kontribusinya terhadap perjalanan sastra Indonesia.

Komunitas besar semacam Bengkel Teater dan Komunitas Utan Kayu, lebih dipengaruhi oleh tokoh sentralnya, yakni Rendra dan Goenawan Mohamad. Masing-masing tentu membawa ideologi yang berbeda satu sama lain. Ideologi itu tertanam dan membersit dalam bentuk ejawantahnya: karya, kegiatan, pendapat; menjadi semacam “mazhab” yang membedakan dirinya dari yang umum. “Mazhab” itu kemudian mewarnai panggung sastra Indonesia. Dan jangan lupa, “mazhab” yang membentuk masing-masing anggotanya itu akan, seperti layaknya partai, menjadi kubu-kubu yang acap menimbulkan pro dan kontra.

Saya kira tak ada salahnya membikin citra diri dengan kemampuannya yang utuh. Dengan keberbedaan masing-masing ideologi dalam setiap komunitas, baik besar maupun kecil, justru membuat dinamika yang melahirkan opini-opini cerdas. Sudah pasti bahwa setiap gesekan menimbulkan panas, tetapi juga menghasilkan kecemerlangan. Satu pendapat yang sama alias seragam (sebagaimana lazim disuarakan oleh anggota MPR/DPR di masa pemerintahan Soeharto) justru lambat-laun menunjukkan penurunan kualitas dan ketumpulan karya. Pertentangan pendapat akan memaksa setiap orang (di luar atau di dalam komunitas) akan terus mencari jawaban yang paling benar menurut cara pandangnya. Karena kita tahu bahwa tak pernah ada jawaban paling benar, sepanjang dunia berputar dan kepentingan selalu berubah-ubah, rancak-banalah khazanah kesusastraan kita.

Dengan demikian menurut saya, ideologilah yang membuat sebuah komunitas bisa survive. Ideologi pula yang terus mempertahankan dan melahirkan komunitas-komunitas sastra di pelbagai tempat. Sebut saja untuk wilayah Jabotabek: Kelompok Poci Bulungan, Masyarakat Sastra Jakarta, Forum Lingkar Pena, Komunitas Meja Budaya, Komunitas Yin Hua, Creative Writing Institute, sampai yang berkesan main-main seperti Komunitas Lidah Buaya, dan seterusnya. Di luar Jakarta, bahkan sampai ke Aceh, tentu banyak lagi, dengan tujuan awal mewadahi potensi seniman (sastrawan) daerah. Dan pada akhirnya, ideologi juga membentuk estetika, baik dalam karya maupun dalam sikap anggotanya.

Saat teknologi informasi menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari, muncul pula gagasan bersastra di media maya. Awalnya merupakan solusi atau katarsis ketika ruang media massa untuk sastra sangat terbatas. Bahkan ada semacam pendapat, betapa sulitnya menembus dinding “arogansi” redaktur budaya. Yayasan Multimedia mungkin salah satu perintisnya yang resmi membuat organisasi cyber-sastra dan memilih Medy Loekito sebagai presidennya. Sebagai alternatif untuk mengobarkan karya sastra, media maya tidak serta-merta diterima khalayak. Ada sinisme di antara para sastrawan yang beruntung mendapat tempat di “mimbar” media cetak, namun lambat-laun situasi berubah. Kini sama-sama kita sadari bahwa internet bukan piranti yang harus dijauhi, namun justru harus kita kuasai. Ternyata teknologi informasi jauh mempermudah seluruh proses kerja, termasuk dalam bersastra. Tentu ini menjadi semacam genre sastra dilihat dari sistemnya.

Memang urusan kualitas karya patut dipertanyakan. Tetapi lihatlah sekarang, banyak karya-karya cemerlang lahir di media maya, banyak pula naskah tak bermutu terbit dalam halaman kertas. Mau apa lagi? Dunia seni, termasuk sastra, selalu mengandung dua hal: baik dan buruk. Tergantung dari tujuan menulis dan bagaimana kita memilih bahan bacaan.

Faktanya, beratus komunitas telah lahir melalui media maya dalam bentuk mailing list (milis). Karena media maya tidak terbatas ruang, jangkauannya menjadi lebih luas. Sebuah komunitas media maya bisa beranggotakan orang Kediri sekaligus warga yang tinggal di Amerika. Apa boleh buat? Ketakterbatasannya itu (kecuali oleh padamnya listrik) membuat kemungkinannya menjadi lebih terbuka lebar. Anggota bisa keluar-masuk sekehendak hati. Pertanyaan berikutnya, adakah ideologi dan estetika dalam komunitas sastra cyber?

Sekali lagi, ideologi itu ada, tersirat atau tersurat dalam profilnya. Itu sebabnya anggota yang cocok dengan ideologi milis bersangkutan akan betah sementara yang tak cocok akan hengkang dengan mudah. Ideologi ini yang membedakan karakter milis, misalnya, antara Pasar Buku, Musyawarah Burung, Apresiasi Sastra, Klub Sastra Bentang, Fordisastra, Penyair, Komunitas BungaMatahari, dan banyak lagi. Karena keuntungan secara sosialisasi dan penyebarannya sangat tinggi, media maya juga digunakan oleh komunitas sastra seperti Forum Lingkar Pena yang didirikan oleh kakak-beradik Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Bahkan baru-baru ini Jurnal Kalam (Komunitas Utan Kayu) pun membuka jalur online dalam internet, digawangi Hasif Amini. Menyusul majalah berkala Cipta yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta dan ditangani oleh Nirwan Ahmad Arsuka.

Saya kira tulisan ini cukup menjadi pengantar diskusi lebih lanjut. Diharapkan terjadi gesekan pendapat yang akan melahirkan kecemerlangan gagasan baru. Terutama mengenai ideologi dan estetika yang mencerminkan citra diri komunitas sastra.

Jakarta, 30 Juni 2007

(Ditulis untuk diskusi Ode Kampung 2, Temu Komunitas Sastra, Rumah Dunia, 2007)

Sphere: Related Content

26 Juni 2007

Langkan: Anugerah "Cerpen Kompas Pilihan"

Surat kabar harian Kompas akan memberikan penghargaan kepada cerita-cerita pendek (cerpen) pilihan yang pernah dimuat di harian ini selama periode tahun 2005-2006. Penganugerahan itu akan digelar bertepatan dengan Ulang Tahun Harian Kompas pada Kamis (28/6) di Gedung Bentara Budaya, Jakarta, pukul 18.30, khusus untuk undangan.

Sebelumnya, Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2005 diberikan kepada Kuntowijoyo (alm) sebagai penulis cerpen berjudul "Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana". Pada tahun yang sama, penulis Ratna Indraswari Ibrahim mendapat Anugerah Kesetiaan Berkarya. (AIK)


Sumber: Kompas, Selasa, 26 Juni 2007

Sphere: Related Content

24 Juni 2007

Sendiri Memutari Tanah Air Mata

Selamat Ulang Tahun, Presiden Penyair


PADA 1974, beberapa hari sebelum berangkat ke Iowa City, Amerika Serikat, penyair Sutardji Calzoum Bachri tampil membacakan puisi-puisinya di Gedung Teater Arena, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Di situlah, ketika botol-botol bir bersatu dengan aksi deklamasi puisi, saat Sutardji berguling-gulingan tanpa baju, ia berteriak pertama kalinya:

"Akulah Presiden Penyair....akulah Presiden Penyair...." Publik sastra saat itu tercengang dan kawula wartawan tidak lengah mencatat deklarasi diri itu. Sejak saat itu pula, Sutardji Calzoum Bachri dikenal dengan julukan Presiden Penyair hingga hari ini. Segenap pujian terus mengalir sebagai penyair yang mampu merumuskan proses kreatifnya secara jenius, termasuk sebagai penyair yang mampu bertahan hidup 'susah' menjaga kemandirian dalam bersastra. Segenap penghargaan pun telah ia raih dari dalam dan luar negeri, termasuk penghargaan sastra bergengsi South East Asia Write Award (SEA Award) pada 1979. Namun demikian, tidak ketinggalan, sebagai manusia biasa, ia juga dikenal sebagai makhluk yang 'keras kepala', senang konfrontasi, dan lari dari tugas-tugas rutin kelompok atau organisasi. Pada titik itulah, ia juga dikenal sebagai penyair yang selalu sendiri memutari 'tanah air mata'-nya.

Di hari ini, Minggu 24 Juni 2007, sang Presiden Penyair genap berusia 66 tahun. Sejumlah agenda acara telah disiapkan menyongsong ulang tahunnya. Sejak awal bulan ini saja, kita bisa melihat bagaimana Jakarta dan daerah sekitarnya penuh poster dan banner pengumuman, 'Lomba Baca Puisi Piala Sutardji Calzoum Bachri HUT ke-66: Memperebutkan hadiah Total Rp15 Juta, Piala, Piagam, dan Ziarah Budaya ke Pulau Penyengat, Tanjung Pinang (Situs Sejarah Sastrawan Raja Ali Haji)'. Pada puncaknya, dalam acara Pekan Presiden Penyair (14-19 Juli) di TIM, Jakarta, sebuah seminar bertaraf Internasional akan digelar dengan tajuk Seminar Internasional Sutardji Calzoum Bachri, dengan pembicara V Braginsky/Irena Katkova (Rusia), Dr Muhammad Zafar Iqbal (Iran), Henri Chambert-Loir (Prancis), Maria Emelia Irmler (Portugal), Prof Dr Koh Young-Hun (Korea), Dr Haji Hashim bin Haji Abd Hamid (Brunai Darussalam), Suratman Markasan (Singapura), Asmiaty Amat (Sabah), Dato Kemala (Malaysia), Dr Abdul Hadi WM/Taufik Ikram Jamil/Prof Dr Suminto A Sayuti (Indonesia).

Untuk seminar yang dikelola Yayasan Panggung Melayu itu, setiap peserta harus membayar uang pendaftaran sebesar Rp200.000. Dari informasi panitia, para pendaftar sudah mulai membludak. Itukah bukti kecintaan para pecinta sastra Indonesia kepada si 'keras kepala' itu?

Dari penyair ke masyarakat


Dalam proses kreatifnya, Sutardji sering menyampaikan kepada publik bahwa ia adalah orang yang lambat merumuskan pikirannya. Pengakuan itu tidak pernah ragu dan malu-malu ia ungkapkan. Kepada Media Indonesia beberapa hari lalu, di sela kesibukannya menyiapkan naskah pidato ulang tahun yang akan dibacakannya di Pekan Baru, Riau, pada 22 Juni, ia terus terang berkata, "Maaf baru bangun. Semalaman begadang menulis acara di Pekanbaru. Dan mulai sekarang sampai malam nanti akan melanjutkan tulisan lagi." Tidak hanya itu, saat-saat kemarin, ia juga disibukkan pula dengan menulis pengantar buku kumpulan artikelnya dan naskah pidato untuk acara ulang tahunnya di Jakarta yang akan disampaikannya pada tanggal 19 Juli 2007.

"Sebenarnya untuk buku saya itu, tidak perlu lagi pengantar dari saya. Tapi Dorothea (Dorothea Rosa Herliani, seorang penyair di Magelang dan pengusaha buku) terus memaksa saya untuk menuliskan pengantar," ungkapnya seraya menjelaskan bahwa meskipun mengaku lamban bekerja, ia merasa tertantang bila diberi tenggat.

Namun, harus diakui bahwa kerjanya yang lamban sebetulnya cermin dari kehati-hatian Sutardji dalam merumuskan pemikirannya. Sehingga, hasilnya seperti kita ketahui bersama adalah karya-karya yang orisinal, cemerlang, dan tahan waktu. Dengan kata lain, dialah penyair yang bekerja layaknya seorang filsuf.

Pada Kredo Puisi yang ia tulis 30 Maret 1973, sebuah pledoi yang ia tulis untuk membela puisi-puisi mantranya, terlihat bagaimana ia cukup dalam menelusuri pandangannya tentang kata, mantra, dan puisi. Ia menulis, 'Dalam penciptaan puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tidak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.'

Tidak hanya sampai di situ, tetapi ia pun merumuskan bagaimana kerjanya sebagai penyair ketika kata-kata telah ia posisikan sebagai makhluk hidup yang bebas berkreasi. Ditambah ketika ia meyakini bahwa menulis puisi sama halnya mengembalikan kata kepada mantra.

"Sebagai penyair saya hanya menjaga--sepanjang tidak mengganggu kebebasannya--agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapat aksentuasi yang maksimal. Menulis puisi, bagi saya, adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan kata pertama adalah mantra. Menulis puisi, bagi saya, adalah mengembalikan kata kepada mantra."

Dalam periode kepenyairan itu, tepatnya periode 1966-1979, Sutardji mengakui bahwa saat itu ia benar-benar tertantang bagaimana ia mengambil sikap ketika dunia perpuisian Indonesia belum melirik kepadanya.

"Saat itu saya memang belum dikenal, tapi saya sudah merasa bahwa saya harus mengatakan kepada kawan-kawan penyair bahwa begitulah cara kerja penyair dalam menuliskan puisi. Jadi, pada masa itu, puisi-puisi yang saya tulis memang saya khususkan untuk mengajarkan penyair," ujarnya sambil tertawa.

Baginya, menuliskan puisi sama dengan membuat patung. Atau secara ilustratif sebagaimana ia tuangkan dalam sajak Sculpture yang berbunyi, 'Kau membiarkan perempuan dan lelaki meletakkan lekuk tubuh mereka, meletakkan gerak menggeliat bagai perut ikan dalam air dari gairah tawa sepi mereka dan bungkalan tempat kehadiran menggerakkan hadir dan hidup dan lobang yang menangkap dan lepas rahasia kehidupan kau tegak menegakkan lekuk bungkalan lobang dalam gerak yang tegak diam dan kau menyentak aku ke dalam lekukbungkalanlobangmu mencari kau.'

Namun demikian, sejak periode akhir 1990-an dan 2000-an, yakni pada periode penulisan puisi 'Tanah Air Mata' hingga puisi 'Munafik Ismail', Sutardji mengakui bahwa ia sudah mengubah target yang ia arahkan dari karyanya, yakni masyarakat umum.

Pergeseran dari target penyair ke masyarakat umum memang bagi beberapa kalangan sangat disayangkan. Sebab warna mantra tidak lagi bergolak dari puisi-puisinya, tetapi hanyalah larik-larik yang umum ditulis penyair kebanyakan. Begitu pun dengan tenaga puisinya yang tidak lagi eksplosif.

"Ini sudah perjalanan dalam hidup saya. Kalau dulu saya lebih banyak mengarahkan puisi-puisi saya untuk penyair dan sekarang kepada masyarakat luas, saya rasa tidak masalah. Yang penting bagaimana sang penyair bisa menjadi balok es yang bisa meneteskan airnya ke gelas-gelas kosong. Artinya, ia tidak lagi berguna hanya bagi dirinya, tapi untuk masyarakat luas," tukas penyair kelahiran Riau itu.

Selamat ulang tahun ke-66, wahai Presiden Penyair! Semoga kemandirian, kesederhanaan, kedalaman, dan ketenangan Anda menjadi oase bagi orang-orang Indonesia yang nasibnya masih tergerus di tanah air mata. (Chavchay Syaifullah/M-3).

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 24 Juni 2007

Sphere: Related Content

Wacana: 'Ruang Kebebasan' Dalam Novel Kontemporer

Hudan Hidayat*


NOVEL, sebagai karya sastra, harus diletakkan dalam hubungan antara Tuhan, alam dan manusia. Tuhan, sebagai Maha Kesadaran yang tak berbentuk, memerlukan semesta untuk menampakkan kehadiran-Nya. Kita bisa menandai kehadiran Tuhan melalui bentuk ciptaan-Nya. Yakni dunia dan manusia.

Tuhan memang bisa membuat apa saja, tetapi bentuk yang dibuat-Nya itu tetap mengandaikan waktu. Waktu yang memuat tahapan dalam proses yang kita nikmati atau sesali. Begitulah manusia menikmati proses terbentuknya alam dengan mengeluarkan teori Big Bang atau Statemen Evolusi. Proses dan bentuk yang terikat dalam hukum-hukumnya sendiri. Proses dan bentuk yang menimbulkan keindahan dan kecemasan, ketakutan dan harapan -- seperti bentuk janin dalam perut ibu. Bentuk yang menginginkan kekekalan dalam nilai-nilainya. Proses dan bentuk adalah novel itu sendiri. Proses dan bentuk adalah penceritaan itu sendiri.

Seperti Tuhan mencipta semesta yang menjadi latar bagi manusia, demikian juga manusia mencipta karya sastra yang menjadikan alam sebagai latar bagi tokohnya. Kehadiran tokoh dalam karya sastra adalah turunan langsung dari kehadiran manusia di tengah semesta. Tanpa manusia yang mengalami peristiwa, semesta tak mempunyai arti. Hanya alam yang membisu: ada, tapi tak bisa dimaknai. Karena hanya manusialah yang bisa membuat makna dengan kesadarannya.

Demikian juga dengan tokoh dalam karya sastra. Latar, alur, tema, ada dalam sebuah novel. Tanpa tokoh yang bermain di latar, alur dan tema, maka novel itu hanya membisu bagi pembaca. Dengan hadirnya tokoh, maka segenap unsur 'semesta' dalam novel tiba-tiba membentuk jalinan makna bagi pembaca.

Itulah gejala 'kesadaran' yang memerlukan 'tubuh'nya. Seperti Tuhan memerlukan semesta untuk memperlihatkan kebesaran-Nya. Begitu juga manusia memerlukan tubuhnya untuk menampakkan roh kesadarannya. Maka prinsip penciptaan adalah bagaimana mengkonkretkan dunia yang abstrak. Konkretisasi inilah kerja sang pengarang. Maka novel adalah tubuh pengarang, tempat gejala kesadarannya mewujud. Dalam wujud novel.

Dalam elemen-elemen novel, sang pengarang berdiam. Masa lalunya mengendap di situ. Tokoh dalam novel menjadi alter-ego sang pengarang. Dengan tokoh-nya, sang pengarang memberantakkan dirinya. Membongkar gudang jiwanya. Gudang jiwanya yang terhubung dengan alam dan Tuhan. Sang pengarang membuat semacam terowongan untuk sampai ke alam dan Tuhan. Terowongan yang bercabang di mana di dalamnya sang pengarang berjalan bolak balik antara manusia, alam dan Tuhan.

Tentu saja sang pengarang boleh membuat terowongan jiwanya sendiri, tanpa terhubung dengan alam dan Tuhan. Tekanan diberikan pengarang kepada relasi antara tokohnya dengan manusia lain. Sesekali saja dia menyentuh alam dan Tuhan. Sikap seperti ini sikap yang sah. Sebab novel sebagai bagian bentuk seni tidak bisa dibakukan. Membakukan novel sama dengan menindas sang pengarang untuk menghayati alam dan Tuhan, sementara sang pengarang ogah menyentuh kedua bidang ini.

Tetapi, bila sikap ini yang ditempuh, maka dunia yang dibangun pengarang dalam novelnya akan kekurangan bahan renungan. Sebab hidup ibarat jalannya mobil: seseorang tertarik pada rodanya atau pintilnya, orang lain tertarik pada warna dan bentuknya. Baik roda atau pintil ban bukanlah mobil itu sendiri. Juga warna dan bentuk mobil. Mereka hanya elemen mobil. Elemen yang penting, tapi bukan mobil itu sendiri. Maka datang orang lain lagi yang terpikat dengan keseluruhan mobil, sambil kemudian mulai menanyakan hakekat mobil: darimana mobil itu memperoleh tenaganya. Hendak kemanakah mobil itu dibawa oleh pengemudinya. Singkat kata, kenyataan mobil ditransenden ke dalam makna yang lebih luas.

Tanpa terowongan yang menghubungkan dengan alam dan Tuhan, maka sebuah novel akan bertaruh dengan kedalaman jiwa sang tokoh. Tentu, tokoh yang ditempatkan dalam bingkai relasi dengan manusia lain. Tokoh yang karena lakunya atau laku orang lain pada dirinya, telah membuat manusia fiksi itu menembus kedalaman dirinya sendiri. Ia memamerkan lukanya, ke dalam suatu kengerian psikologis karena luka jiwanya. Ia memburaikan jiwanya. Ia meninggi. Ia menjauh dari dunia sehari-hari.

Tokoh seperti ini biasanya memiliki keunikan dan ketinggian baik pikiran maupun lakunya. Sebuah penceritaan yang penuh talenta, akan menghidupkan tokoh yang unik ini ke dalam simbol dan metapor. Ia bukan penceritaan yang hanya memusat pada hasrat tubuh. Penceritaan yang hanya tubuh, akan meringkus novel ke dalam kekeringan makna. Novel menjadi dunia yang sempit. Tak bisa menjadi kaca banding bagi pembaca.

Sebab hidup penuh lapisan dan tarikan. Seolah lapisan dan tarikan hati. Seolah lapisan dan tarikan bumi. Tarikan Tuhan juga. Lapisan dan tarikan yang seolah arus sungai menarik diri-diri pembaca. Diri pengarang juga.

Sering dikatakan orang, dunia yang begitu kompleks ini telah membuat seluruh relasi menjadi nisbi. Hidup menjadi serba permisif. Dan dalam kenisbian itu relasi lelaki dan perempuan menjadi medan yang penuh ujian: nilai-nilai terguncang. Manusia kini boleh melakukan apa saja. Bahkan seorang perempuan boleh meniru lebah. Di mana sang ratu lebah dikelilingi dan dicicipi banyak lelaki.

Sudah demikian jauh hidup berjalan, meninggalkan jaman Siti Nurbaya. Tetapi soalnya, "kebebasan tubuh", harusnya hanya menjadi sampiran, bukan isi, dari perjuangan memuliakan manusia. Manusia (tokoh novel) boleh terjatuh, tetapi sang pengarang menariknya untuk tegak kembali. Memberinya sayap pikiran untuk menjangkau dunia.

Ledakan kehidupan, tarikan kematian, lintasan hati, dalam bentuk varian keanehan dan ketinggian pikiran dan perasaan, yang memendar dalam sekian banyak tindakan aneh dan gila, harusnya menjadi harga yang pantas bagi novel yang mengusung kebebasan. Bukan hanya berhenti pada tubuh. Mengerucut hanya hasrat pada tubuh. Tetapi ia bergerak liar menjangkau dunia. Novel menjadi tandingan dunia dalam bingkai kata-kata. Tempat di mana manusia dapat menyimak dan memetik kabajikan darinya.

Sejak Iwan Simatupang, Budi Darma, Mangunwijaya, Kuntowijaya atau Putu Wijaya misalnya, berhenti menulis, saya merasa dunia novel sudah lama mengusir alam dan Tuhan dari kisahnya. Juga mengusir disiplin psikologi.

Novelis kita (terutama perempuan), banyak yang hanya bertumpu pada kisah tubuh. Seolah patriarki benar-benar mengungkung dan hendak mereka rubuhkan. Tak ada salahnya. Tapi kebebasan itu, tak menjadikan tubuh terangkat, atau tubuh dipandang, sebagai sesuatu yang lebih tinggi. Tubuh tak menjadi keping alam dan Tuhan. Tempat dimana renungan dunia ditegakkan.

Tubuh adalah segala-galanya, membuat novel seolah dunia tak lengkap. Kalaupun ada luka, kesakitan, kegilaan, aspirasi, maka luka, kesakitan, kegilaan, dan aspirasi itu tidak bisa naik. Karena tubuh bukan sampiran tapi isi. Sastra kehilangan nilai transendennya.

Fasilitas yang diberikan oleh novel, semangat kebaruan yang hendak diusung dalam fasilitas itu, tak mengangkat novel. Kecuali pameran hasrat akan tubuh. Pembaruan yang menyempit pada tubuh, bukan membuka pada dunia, tapi tak akan sampai kemana-mana.

* Hudan Hidayat, Cerpenis dan pekerja sastra

Sumber: Republika, Minggu, 24 Juni 2007

Sphere: Related Content

23 Juni 2007

Buku: Laku Etik dan Estetik Dalam Watak Kepenyairan

Damhuri Muhammad*


SEJAK akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2004 silam, sejumlah koran riuh oleh polemik menyoal diluncurkannya buku kumpulan puisi Kuda Ranjang, karya Binhad Nurrohmat. Tak kurang dari 15 esai telah menimbang buku itu.

Banyak yang memuji kepiawaian Binhad mengurai tubuh perempuan dalam bait sajak, banyak pula yang menghujat, bahkan ada yang terang-terangan menyeringai: "Menjijikkan membaca puisimu." Tapi, Binhad tak kunjung jera menuai cela, penyair itu baru saja melepas antologi puisi terbaru, Bau Betina (2007). Setali tiga uang dengan Kuda Ranjang, lewat Bau Betina ia masih latah bergunjing perihal “dunia basah”, “dunia tengah”, (tapi diburu banyak watak).

Bukan berarti ia sedang mengutukinya sebagaimana para ustaz berwejang di mimbar-mimbar khotbah, Binhad justru mendekonstruksi seks sebagai dunia yang tak perlu “diaibkan”. Nalar puitiknya bernujum bahwa peristiwa seksual seamsal peristiwa buang hajat. Bukankah buang hajat adalah gejala alamiah yang niscaya? Jadi, tak perlu malu berbincang soal buang hajat, sebagaimana tak harus tabu bersijujur bahwa kita mendambakan kenikmatan seksual. Berak memang kotor, sebagaimana persetubuhan liar juga keji, tapi kenapa malu mengakui bahwa kita memang “doyan” pada yang kotor dan keji itu. Hubungan antara peristiwa seks dan peristiwa buang hajat dipetakan Binhad dengan permisalan baru; Kota Tanpa Bordil adalah Rumah Tanpa Kakus.

Bagi Binhad, seks dipotret sebagai realitas yang kacau, karut-marut, beringas. Seks identik dengan kata menggigit, mencekik, menghujah, bukan menyentuh, mengelus atau membelai. Persebadanan tak lagi berarti bersekutunya dua tubuh dalam bingkai “suka sama suka”, tapi pertarungan satu lawan satu yang berhasrat saling mengalahkan. Gejala ini jelas pada "Ajal Begundal" : Setelah empatpuluh hari kematian/seluruh kota bernapas lega/tak ingat lagi coretan dinding penuh ancaman/atau erang perkosaan di belakang bioskop murahan/. Pejantan yang sebelumnya disimbolisasikan dengan Kuda (dalam Kuda Ranjang) dan Singa (dalam Bau Betina) rupanya tidak melulu “menaklukkan”, tapi kerap pula “ditaklukkan”. Sebagai pejantan yang diburu banyak betina, ringkik dan aumnya hanya terdengar bila sedang di ranjang, setelah itu bakal menelentang sebagai pecundang.

Kepenyairan Binhad yang menjalankan laku “tarekat tubuh” seperti termaktub dalam sajak “Hidung Belang”, “Sex After Lunch”, “Pengakuan Sepasang Girang”, “Ulang Tahun Tubuhmu”, “Malam Janda”, “Homo Eroticus”, “Tak Sedalam Tubuhmu”, memang bukan tanpa risiko. Antologi puisi Kuda Ranjang yang semula sudah terpajang di rak sastra toko-toko buku, tiba-tiba raib, ditarik dari peredaran. Seperti dilaporkan Anton Kurnia (mailing list pasarbuku@yahoogroups.com), sejak 3 Agustus 2004 lalu, toko buku Gramedia telah menarik peredaran buku itu dari toko-tokonya di seluruh Jakarta. Dalam salah satu seminar sastra, seorang penyair senior mengukuhkan nama Binhad sebagai penyair perusak moral bangsa. Bakal seperti apakah nasib Bau Betina? Wallahualam.

**

Pada masa Orde Baru, teks sastra yang berseberangan dengan ideologi stabilitas politik (Binhad menyebutnya “sastra sosial”) dianggap subversif. Masa itu, “sastra sosial” lebih berisiko ketimbang “sastra seks”. Penguasa bebas memberangus teks dan “mengamankan” sastrawan tanpa proses peradilan.

Kini, situasinya terbalik, sastra seks yang dianggap subversif. Bedanya, teks-teks “berlendir” itu tidak lagi berhadapan dengan kekuasaan negara, tapi menuai sinisme dan caci maki dari sebagian sastrawan, pengamat sastra dan khalayak pembaca umum dengan alasan-alasan moral. Penyair Taufik Ismail tak sudi menyebutnya sebagai karya sastra, melainkan pornografi (Ermina K., Suara Karya, 14/03/05). Padahal, sastra seks juga berperan sebagaimana sastra sosial. Jika sastra sosial menggambarkan kobobrokan moral kekuasaan, sastra seks memetakan kemunafikan dan kebobrokan moralitas masyarakat, begitu Binhad berdalih. Jadi, mana yang lebih tak senonoh antara para petinggi negara yang menjarah uang rakyat (di tengah-tengah duka-nestapa rakyat akibat bencana bertubi-tubi) dengan sajak-sajak Binhad?

Tapi, di sinilah celakanya. Sastra diukur berdasarkan sudut pandang etika, bukan ditelaah berdasarkan pencapaian estetika sastrawi. Sukar mencari titik temu antara sastra dan etika, seperti pernah dikemukakan Ribut Wijoto (2002), etika menciptakan pagar, sementara sastra membongkarnya. Sastra merayakan kerapuhan, sementara etika memperkokohnya kembali. Laku estetik kerap tak berjalan seiring dengan laku etik. Lagi pula, teks sastra tentu bukan kitab suci, bukan traktat dogmatik agama tertentu.

Agak mengejutkan, seorang alumnus pesantren Krapyak (Yogyakarta) seperti Binhad memilih jalan “menyimpang” dengan menulis sajak-sajak bergelimang syahwat. Apakah ia sudah terjerembap dalam asyik-masyuk dunia malam Kota Jakarta yang memang kerap menyesatkan? Marshall Clark, peneliti sastra Indonesia di School of Asian Languages and Studies memang menyebut puisi-puisi Binhad sebagai “puisi metropolitan”.

Kuda Ranjang dan Bau Betina adalah buah dari eksplorasi estetik selama ia tinggal di Jakarta. Tapi, bukan berarti ia telah “membelakang bulat” dari etos santri yang membesarkannya. Justru latar belakang pesantren yang mewarnai kepenyairan Binhad. Hipotesis ini terdengar ganjil. Mestinya, Binhad menulis puisi sufistik sebagaimana Ahmadun Y. Herfanda menulis Sembahyang Rumputan (1996) atau mengikuti jejak kepenyairan Jamal D. Rahman, Radhar Panca Dahana dan Ahmad Nurullah, bukan menulis sajak-sajak yang tidak mencerminkan budaya santri.

Tapi, kitab-kitab kuning sangat akrab dengan wacana seks. Bukalah kitab Qurrat al-Uyun yang detail mengurai tipe-tipe perempuan berdasarkan perspektif seks, juga membahas tahapan-tahapan dalam hubungan suami istri serta seluk beluk masalah seks lainnya. Begitupun Kitabun Nikah, Uqudullijain, dan Ushfuriyah yang tak asing lagi bagi para santri. Berkat pembacaan terhadap kitab-kitab itu, seks bukan sesuatu yang terlarang dibicarakan. Mata pelajaran tentang seks di pesantren, tak ada bedanya dengan tarikh, tasawuf, nahwu, syaraf, dan balaghah. Mungkin, wacana seks sudah menjadi air berkumur Binhad setiap pagi.

Maka, penghakiman terhadap kepenyairan Binhad hanya akan dihadang dengan jurus anjing menggonggong kafilah berlalu. Bukankah Moammar Emka (Jakarta Undercover, 2003) yang sempat menghebohkan jagat perbukuan Indonesia itu juga lahir dari tradisi pesantren? Jika Inul Daratista menujumkan sasmita tentang kemunafikan massal dengan bahasa bokong, jalan yang ditempuh Binhad lebih santun, menorehkan kata pantat, selangkang, dan cupang dalam sajak. Ketika mulut-mulut para ustaz tak mempan lagi menyeru kesadaran umat dari ketersesatan, Binhad berwejang dengan sajak-sajak telanjang….***

* Damhuri Muhammad, Cerpenis, bermukim di Jakarta

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 23 Juni 2007

Sphere: Related Content

21 Juni 2007

Perawatan terhadap Cagar Budaya Minim, Tidak Ada Anggaran untuk Pemeliharaan Bangunan

Palembang, Kompas - Perawatan terhadap bangunan-bangunan cagar budaya di Palembang masih sangat minim. Belum adanya aturan hukum untuk melindungi bangunan dan situs cagar budaya menjadi salah satu pemicu kurangnya upaya pelestarian terhadap kekayaan warisan budaya tersebut.


Peneliti Balai Arkeologi Palembang Aryandini Novita, Rabu (20/6), mengatakan, rentang kesejarahan Palembang meninggalkan situs dan bangunan-bangunan bersejarah mulai dari masa kejayaan Sriwijaya sampai runtuhnya Kesultanan Palembang Darussalam, dan mulainya kolonialisme Belanda pada 1823.

Berdasarkan survei dari Balai Arkeologi Palembang tahun 2002, tercatat ada 16 bangunan kuno bersejarah peninggalan kolonial Belanda, di antaranya Benteng Kuto Besak (BKB), Balai Prajurit, Gudang Jason van Den Berg di kawasan sekitar BKB, Kantor Telkom dan Hotel Musi di Jalan Merdeka, dan SMP Negeri I (eks Mulo School).

Selain itu, tercatat 20 bangunan bersejarah peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, di antaranya Masjid Agung, permukiman Arab di Kampung Al Munawwar, Kompleks Makam Kambang Koci di Kelurahan 3 Ilir, dan Makam Pangeran Syarif Ali di Kelurahan Lawang Kidul.

Novita mengatakan, upaya pelestarian bangunan bersejarah belum didukung pemerintah. Dari sejumlah bangunan, baru empat yang diakui secara legal sebagai benda cagar budaya (BCB), yaitu BKB, Makam Ki Gede Ing Suro, Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, dan Sabokingking.

Selain itu, belum ada peraturan daerah tentang perlindungan benda-benda kuno bersejarah sebagai benda cagar budaya. Salah satu bentuk perusakan bangunan kuno bersejarah adalah pembongkaran gedung eks- Hotel Sehati di dekat Kambang Iwak Besar yang sebenarnya dilindungi UU No 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Kurang dana


Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang Hendri Yansyah mengatakan, pihaknya sampai saat ini tidak memiliki anggaran rutin untuk pemeliharaan bangunan kuno bersejarah.

"Pemeliharaan bangunan kuno bersejarah bukan merupakan prioritas, karena keterbatasan dana," kata Hendri. (lkt)

Sumber: Kompas, Kamis, 21 Juni 2007


------------------------------


Cagar Budaya: Redupnya Situs Peninggalan Sriwijaya karena Kurang Perhatian

-- BM Lukita Grahadyarini

KOTA Palembang boleh berbesar hati dengan julukan sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 sampai ke-9 Masehi. Namun, penyebutan itu dibayangi polemik yang hingga kini belum tuntas, yaitu di mana persisnya lokasi bangunan Istana Sriwijaya?

Masalahnya, kerajaan maritim di Sumatera itu tidak meninggalkan istana atau keraton yang fisiknya masih bisa dilihat hingga sekarang. Penemuan para peneliti hingga kini terbatas pada situs-situs yang mengarah kepada peninggalan Sriwijaya.

Kepala Balai Arkeologi Palembang Nurhadi Rangkuti mengatakan, hasil penggalian arkeologis tahun 1986-1990 menunjukkan bahwa situs-situs peninggalan Kerajaan Sriwijaya tersebar hampir di sepanjang perairan Sungai Musi, yaitu dari Kecamatan Ilir Timur II sampai Kecamatan Gandus.

Banyak benda-benda bersejarah yang ditemukan di situs-situs tersebut, di antaranya candi, keramik, dan struktur bata. Hampir seluruh situs itu ditemukan di wilayah permukiman warga. Namun, selang beberapa tahun, sebagian situs peninggalan itu justru lenyap karena tertutup oleh padatnya hunian.

Nurhadi menuturkan, lenyapnya situs peninggalan sebagai dampak pembangunan kota merupakan ironi di tengah pencarian jati diri Palembang sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya.

"Tanpa bukti lokasi, sulit meyakinkan bahwa pusat Sriwijaya benar di Palembang," kata Nurhadi.

Sementara itu, kondisi situs peninggalan Sriwijaya di Palembang yang berjumlah 18 situs kondisinya memprihatinkan. Kawasan Bukit Siguntang, misalnya, kini lebih dikenal sebagai areal rekreasi dan "mojok" bagi muda-mudi ketimbang menjadi wisata budaya.

Ia berharap masyarakat memiliki rasa memiliki warisan budaya itu, sehingga situs yang sudah ditemukan bisa dilestarikan. Hal itu juga harus diikuti dengan kemauan politik pemerintah untuk melindungi keberadaan situs.

"Pemerintah harus serius membela warisan budaya dengan memikirkan kelestarian situs dengan aturan yang melestarikan keberadaan situs cagar budaya," ujar Nurhadi.

Selain Palembang, ada beberapa wilayah yang sering diklaim sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya, antara lain Kota Palembang, Jambi, Lampung, Riau, dan Thailand. Masing-masing tempat didukung adanya temuan arkeologis yang berkaitan dengan Sriwijaya, berupa candi, prasasti, atau sisa bangunan lama.

Namun, bukti-bukti tertulis tentang Sriwijaya masih terbatas. Penggalian dan kajian yang dilakukan belum bisa mengungkap semua fakta.

Kegamangan itu membuka peluang penemuan fakta baru. Hanya saja, diperlukan dukungan pemerintah dan masyarakat.

Sumber: Kompas, Kamis, 21 Juni 2007


Sphere: Related Content

17 Juni 2007

Wacana: Nuansa Lokal dalam Sastra Indonesia

Gunoto Saparie*


SUATU hari Melani Budianta mengeluh. Daerah-daerah di Indonesia, kata dia, memang sangat kaya dengan beragam budaya, tetapi sayangnya masih sedikit pengarang sastra subkultur atau sastra lokal yang menuliskan kekayaan tersebut. Padahal sastra subkultur dapat mulai dikembangkan dalam komunitas-komunitas sastra.

Di dalam komunitas ini seorang pengarang dapat mengembangkan diri sebelum menjadi mainstream. Menurut Melani, kurangnya pengarang sastra subkultur bisa disebabkan oleh pasar yang tidak responsif. Padahal dukungan pasar terhadap sastra subkultur turut memengaruhi perkembangannya. Bagaimanapun karya sastra akan berhadapan dengan masyarakat yang menjadi sasarannya.

Harus diakui, perkembangan sastra subkultur di Indonesia masih diadang banyak kesulitan. Tidak semua daerah di Indonesia memiliki pengarang yang mampu menuliskan sastra subkulturnya sendiri, apalagi di daerah-daerah yang selama ini terpinggirkan, seperti di daerah timur Indonesia. Kalaupun daerah itu memiliki penulis sastra subkultur dengan bahasa dan gayanya sendiri, belum tentu mereka mampu melawan pasar yang sudah memiliki mainstream penilaian karya sastra.

Harus diakui, nuansa lokal makin tersisih dalam sastra Indonesia. Para sastrawan kita mulai kehilangan kepekaan terhadap alam sekitarnya. Ahmad Tohari menyebut kehilangan kepekaan para sastrawan ini sebagai sebuah pengkhianatan yang nyata. Dia menekankan pilihan mengangkat realisme sosial sebagai latar belakang karya sastra tidaklah buruk, tetapi pengayaan karya serasa mandek ketika tidak ada eksplorasi terhadap nuansa lokal. Karya-karya sastra kita dewasa ini terlalu didominasi nuansa urban yang kemudian memunculkan karya-karya massal tanpa dilengkapi identitas tersendiri.

Gerakan untuk menengok kembali tradisi dan budaya daerah dalam sastra pernah dicoba oleh Ajip Rosidi dan dan kawan-kawan. Ajip mengatakan, bahwa generasi terbaru sastra Indonesia -- yang adalah generasinya -- tidak belajar dari sastra dunia, khususnya sastra Barat, melainkan belajar dari para sastrawan Indonesia sendiri di satu sisi dan budaya lokal yang mereka hidupi sebelumnya di sisi lain. Dengan bekal itulah mereka menulis sastra.

Umumnya sastrawan era 1950-an yang mencanangkan kembali ke daerah itu pada dasarnya menulis bukan dari pusat jantung budaya daerah mereka. Agus R Sarjono menunjuk Robohnya Surau Kami. Karya AA Navis ini dengan mudah dapat saja diterakan pada latar yang lain, Jawa Barat, atau Sulawesi Selatan misalnya. Tentu saja di sana ada unsur surau yang memiliki signifikansi makna sebagai salah satu akar tradisi Minang. Namun dalam cerpen Navis, ia tidak signifikan mengacu pada surau sebagai sebuah basis budaya Minang. Surau di sana mengacu pada sebuah basis kultur keagamaan tertentu.

Harus diakui, pada era 1980-an kecenderungan mengangkat warna lokal dalam sastra Indonesia memang menguat. Tidak bisa tidak salah satu pemicunya adalah lahirnya dua novel yang fenomenal, yakni Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang sangat kuat warna lokalnya, dan Pengakuan Pariyem yang juga basah oleh lokalitas kedaerahan. Dua karya ini dapat dijadikan contoh bagi dua kecenderungan menggali daerah dalam sastra Indonesia.

Ronggeng Dukuh Paruk menyajikan daerah sebagai sebuah latar yang solid. Tak tergantikan. Latar tidak menjadi warna lokal, karena lokalitas di sana menjadi acuan peristiwa serta melahirkan peristiwa. Kita menemukan gejala yang sama pada novel Mochtar Lubis >Harimau! Harimau!, yang sebagaimana Ronggeng Dukuh Paruk tidak dapat digantikan latarnya.

Harimau sebagai kenyataan real tidak dapat kita temukan di pelosok hutan Kalimantan, misalnya, meskipun harimau sebagai metafor hasrat liar dan ganas manusia boleh saja ada di sana. Permainan antara harimau sebagai binatang buas di satu sisi dengan harimau yang bermain di sudut hati tokoh-tokohnya hanya mungkin disajikan dengan latar rimba raya Sumatera.

Agus menunjukkan pula, bahwa bersamaan dengan itu bermunculan pula karya-karya sastra yang lahir dari hati nurani daerah, dengan ideologi kedaerahan tertentu, sebagaimana ditunjukkan oleh Pengakuan Pariyem, serta kemudian juga cerpen dan novel Umar Kayam seperti Sri Sumarah, Bawuk, serta Para Priyayi. Berbeda dengan Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari, misalnya, Pengakuan Pariyem tidak bermula pada latar, melainkan pada ideologi daerah.

Latar kisah ini dapat ditukar ke mana saja, Jakarta, Sulawesi, atau Kalimantan, namun sejauh yang bermain di dalamnya adalah manusia Jawa semacam Pariyem dalam relasinya dengan bangsawan Jawa seperti Cokrosentono, maka ia tetap bisa tegak. Hal ini berbeda dengan jika tokohnya diganti. Begitu tokoh utamanya diganti menjadi perempuan Minang, misalnya, maka novel ini tidak bisa jalan, hancur berkeping tidak karuan. Jawa dan kejawaan dalam Pengakuan Pariyem menjadi unsur utama. Demikian pula kejawaan dalam Sri Sumarah, Bawuk, atau Para Priyayi.

Kecenderungan dalam sastra untuk menjadikan daerah sebagai ideologi tandingan bagi Indonesia kini makin menguat di berbagai daerah. Gus TF lewat novelnyaTambo jelas-jelas menyajikan budaya Minangkabau yang diromantisasi dan diidealisasi sedemikian rupa sebagai tawaran alternatif dan jalan ke luar bagi budaya Indonesia di masa depan.

Kecenderungan lain dalam mengelola tenaga budaya daerah adalah dengan menjadikan (sastra) daerah sebagai teknik. Di sini bukan latar dan/atau manusia-manusia daerah yang terutama dihadirkan, melainkan penggunaan teknik sastra daerah. Tentu saja yang paling menonjol dan berhasil dalam hal ini adalah Sutardji Calzoum Bachri. Di tangannya, mantra sebagai salah satu bentuk sastra daerah dapat bertransformasi sedemikian rupa dan menyeruak dalam khasanah sastra Indonesia. Banyak yang terkejut karenanya, dan diam-diam atau terus terang banyak pula sastrawan yang mulai menggali-gali khasanah sastra daerah untuk dimanfaatkan tekniknya bagi sastra modern Indonesia.

Sebelum Sutardji, kecenderungan untuk memanfaatkan teknik dari khasanah tradisi daerah sudah terlihat pada Rendra sebagaimana nampak pada kumpulan sajaknya yang pertama Balada Orang-orang Tercinta, yang sarat dengan aroma sastra rakyat Jawa, khususnya dolanan anak-anak. Hal yang sama terlihat pula pada sajak-sajak Ramadhan KH pada Priangan Si Jelita yang banyak memanfaatkan teknik tembang Sunda. Namun, pada Rendra pemanfaatan teknik ini menjadi sebagian saja dari pilihan teknik yang dia gali bagi sajak-sajaknya. Pada masa kini, pemanfaatan khasanah sastra daerah sebagai teknik ungkapan terlihat pada misalnya sajak-sajak Taufik Ikram Jamil yang menggunakan teknik bersanjak Melayu sebagaimana terlihat pada kumpulan puisinya Tersebab Haku Melayu.

Penggunaan daerah sebagai sumber inspirasi juga menjadi salah satu kecenderungan. Kecenderungan semacam ini paling kuat terlihat pada D Zawawi Imron. Madura, misalnya, terus-menerus menjadi sumber inspirasi bagi sajak-sajaknya. Tidak berlebihan memang ketika Agus mengatakan, bahwa lewat karya sastra yang mengangkat kehidupan manusia dan latar daerah dengan segala permasalahannya, lewat karya sastra yang menggali inspirasi dari daerah-daerah, serta dari karya-karya sastra yang lahir dari transformasi (teknik) sastra daerah tertentu, kita bisa bertemu dengan hasil-hasil imajinasi dan denyut batin daerah-daerah di Indonesia.

Keperluan terhadap sastra yang mengangkat masalah daerah menjadi lebih mendesak lagi belakangan ini bersama ramainya gerakan otonomi daerah. Kita tidak ingin otonomi daerah itu tumbuh menjadi sebuah gerakan isolasi terhadap daerah lain sehingga mewacanakan budaya tunggal yang sudah kita alami bersama dampaknya semasa Orde Baru.

* Gunoto Saparie, Penyair, pengamat sastra

Sumber: Republika, Minggu, 17 Juni 2007

Sphere: Related Content

Horison: Fiksi Kilat, Apa Pula Itu?

Reiny Dwinanda


SEOLAH mengambil inspirasi dari irama kehidupan yang serbacepat, praktis, dan memudahkan, ranah sastra sepertinya tak mau ketinggalan mengikuti tren dunia. Lantas, hadirlah fiksi kilat ke sidang pembaca. Apa pula itu?

Argumen tadi sejatinya bukan alasan yang memunculkan fiksi kilat. Faktor pendorongnya malah masih berupa tanda tanya. Sebab, karya-karya macam itu telah diciptakan dari dulu kala. Meski begitu, dunia belum juga memiliki kesepakatan tentang definisi fiksi kilat. Hal itu secara tertulis diungkapkan Nukila Amal selaku sekretaris Komite Sastra di buku kumpulan fiksi kilat yang dibacakan pada Lampion Sastra, dua pekan lalu (8/6). ''Apa sebenarnya fiksi kilat, sampai kini masih simpang-siur,'' ujarnya.

Fiksi kilat dikenal dengan berbagai nama di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, sebagian orang menamai fiksi kilat dengan sebutan cerita mini atau fiksi mikro. Di Amerika, fiksi kilat punya cukup banyak julukan, cerita seketika, cerita singkat, cerita kartu pos, cerita kalap, cerita gesit, cerita kurus, dan juga fiksi mikro.

Orang Prancis mengenal fiksi kilat sebagai nouvelles. Orang Jepang menamainya cerita setelapak tangan. ''Itu karena jumlah baris-barisnya berukuran tak lebih dari setelapak tangan,'' Nukila mengungkapkan. Orang Cina malah mendeskripsikan fiksi kilat dengan lebih imajinatif. Mereka menggambarkannya sebagai cerita pendek kecil, cerita semenit, atau cerita seukuran buku. ''Ada pula yang menyebut fiksi kilat ibarat cerita sebatang rokok. Artinya, sembari menghisap sebatang rokok, cerita itu habis dibaca,'' urai Nukila.

Jika merujuk pada sejumlah julukan tadi, satu kesimpulan bisa didapat. Fiksi kilat merupakan cerita yang sangat pendek. Seberapa pendek? 'Aturan main' sepertinya masih kabur. Ada yang bilang fiksi kilat hanya memuat 250 sampai 1000 kata. Versi lain menyebut 750 kata. ''Yang lain menetapkan 1500 kata,'' ujar Nukila.

Terlepas dari sederet pertanyaan tanpa jawaban yang seragam, fiksi kilat telah menjadi bagian dari bacaan penggemar sastra. Penulis asing maupun lokal bersaing merebut hati pembaca. Pengakuan sejumlah penonton dan penampil Lampion Sastra membuktikannya. Adi Kurdi amat terkesan dengan fiksi kilat yang dibacakannya. Sebelum Mandi (Ismail Kadare) memikat hatinya. ''Belum pernah saya membaca fiksi kilat sebagus ini. Saya sampai takut kurang bagus membacakannya,'' celetuk pemain teater yang juga artis sinetron.

Akmal Puji Santoso yang penggemar novel menaruh hati pada fiksi kilat. Sepanjang pembacaan 36 fiksi kilat, ia lebih sering memejamkan mata. ''Lebih tergambar jalan ceritanya,'' kata Akmal yang sudah tiga kali menonton Lampion Sastra.

Di mata Akmal, Kemungkinan Abstraksi termasuk cerita yang hebat. Fiksi kilat ini ditulis oleh Julio Cortazar. Dia adalah penulis besar asal Argentina yang bermukim di Paris. Cortazar merupakan penulis sastra moderen Amerika Latin yang juga seorang penyair, penerjemah, dan musisi jazz amatir. ''Cortazar berhasil merangkai kata dengan pas hingga tergambar di benak apa yang dicoba ceritakannya,'' papar Akmal yang kerap menyambangi dunia maya untuk mencermati majalah sastra online dan blog sastra.

Usai menikmati Lampion Sastra, Aniqotul Ummah menarik kesimpulan tentang fiksi kilat. Baginya, fiksi kilat termasuk sastra tingkat tinggi. ''Pastinya tak semua penulis bisa menghasilkannya,'' komentar Aniq yang sering menulis cerpen dan puisi. Fiksi kilat, lanjut Aniq, dibatasi oleh jumlah kata. Otomatis, penulis harus memaparkan fiksinya dengan ringkas sekaligus menawan. ''Lantas, tak seperti cerita pendek, fiksi kilat pasti ada ending-nya,'' Aniq berpendapat.

Aniq juga berasumsi keringkasan fiksi kilat belum tentu dapat memikat pecinta sastra secara keseluruhan. Penikmat novel, contohnya, bisa jadi tak menyukai cerita yang begitu pendek. ''Tidak sembarang pembaca yang bisa menikmatinya,'' tandas Aniq. Benar begitu?

Sumber: Republika, Minggu, 17 Juni 2007

Sphere: Related Content

14 Juni 2007

Pusaran Lima Penyair

MANTERAKU terbang bersama malam bernafsu. Adakah yang tak akan goyah karena goda dan nafsu? Telah kusiapkan uba rampe guna menjebakmu.


Sepenggal puisi bernada guna-guna itu meluncur dari bibir S. Yoga di Gedung Utama Balai Pemuda tadi malam (13/6). Puisi bertajuk Jaran Goyang tersebut merupakan salah satu di antara beberapa puisi yang dilantunkan lima penyair pada panggung Festival Seni Surabaya (FSS) 2007.

Yoga, penyair asal Sumenep tersebut, tampil bersama empat penyair lain. Yaitu, Zen Hae (Jakarta), Iswadi Pratama (Bandar Lampung), Gunawan Mariyanto (Jogjakarta), dan Sindu Putra (Mataram). Masing-masing membawakan beberapa puisi.

Yoga menampilkan puisi berciri keunikan berbagai daerah yang pernah dia kunjungi. "Dia selalu membawa puisi sepulang dari tempat lain. Puisi yang dia buat memasukkan unsur etnologi. Jadinya seperti dunia lain," kata Project Officer (PO) Sastra Mardiluhung.

Zen Hae menampilkan puisi beraroma imajinasi. Misalnya, yang berjudul Paus Merah Jambu. Dalam karya itu, dia berkisah tentang sang paus hidup dan menyelami kehidupan. Sindu Putra, penyair asal Bali yang bermukim di Mataram, menampilkan puisi dengan tipografi (bait ditulis atau diketik menjadi bentuk-bentuk tertentu).

Malam itu, pertunjukan sastra ditutup Teater Mozaik asal Malang. Mereka membawakan Hubbu, novel pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006. Novel tersebut karya Mashuri, sastrawan asli Lamongan. Berkat kemenangan itu, Mashuri disebut-sebut menyamai fenomena Ayu Utami yang juga mengawali langkah dari sayembara novel DKJ.

"Hubbu menceritakan tentang pemberontakan anak muda terhadap kemajuan zaman. Ceritanya, seorang ahli waris pesantren digadang-gadang sebagai penerus tradisi. Namun, dia berontak dan memilih kuliah di perguruan tinggi kota besar. Akhirnya, dia gagap dengan kultur kehidupan kota," ungkap Mashuri.

Kemarin, panitia FSS 2007 juga mengeluarkan buku Lima Pusaran. Buku itu merupakan kumpulan puisi dari lima penyair yang tampil tadi malam. Editor buku tersebut adalah Nirwan Dewanto, kurator sastra FSS 2007.

Nanti malam (14/6), Guangzhou Art Ensemble hadir menyajikan suguhan terbaik yang ditampilkan seniman terbaik dari Negeri Tiongkok. Kemarin, kelompok yang terdiri atas 24 orang itu mampir ke Jawa Pos bersama panitia FSS 2007. Dalam kunjungan tersebut, mereka tersanjung atas sambutan yang diberikan untuk penampilannya di FSS 2007.

"Kami datang sudah disambut panitia hingga konjen Tiongkok. Kami mengucapkan terima kasih," ujar Cui Ri Sou, vice director of the People’s Government of Guangzhou Municipality. "Misi kami, selain menyebarluaskan budaya Tiongkok, juga ingin mempererat persahabatan Tiongkok-Indonesia," ungkapnya.

Soal penampilan malam nanti, Mr Cui menjanjikan pertunjukan luar biasa. Sebab, hampir semua pemain Guangzhou Art Ensemble adalah pemain terbaik di Negeri Tiongkok. Mulai penyanyi, penari, hingga pemain musik adalah yang terbaik.

Kelompok tersebut akan mengolaborasikan berbagai jenis kesenian. Misalnya, musik, tari, bahkan sedikit akrobatik. Pertunjukan itu memang sebagian besar berupa teater tari. Namun, nuansa yang dibawakan akan berbeda setiap penggalan. Mereka akan memainkan kesenian tersebut menjadi enam sesi. (ode)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 14 Juni 2007

Sphere: Related Content

13 Juni 2007

Esai: Mencegah Disintegrasi dengan Strategi Kebudayaan

Hardi Hamzah*


APA yang dikemukakan oleh Dr. Soedjatmoko (1986) tentang pembangunan dan pembebasan bagi sosok manusia, sesungguhnya mengandung makna kebudayaan.

Pembangunan, ujar Soedjatmoko, sangat erat kaitannya dengan proses perubahan manusia dalam dimensi kebudayaan. Sementara pembebasan dalam konteks kemanusiaan dilihat Bung Koko sebagai pisau analisis untuk suatu interaksi dalam konteks akulturasi budaya.

Beranjak dari sudut pandang itu, tampaknya Bung Koko ingin mengajak kita untuk melihat pembentukan kebudayaan, harus mempunyai prasyarat dinamika dan strategi. Artinya, pembangunan dan pembebasan yang sesungguhnya identik dengan reformasi, transisi, keterbukaan, dan restrukturisasi, sebagaimana yang kita alami dewasa ini, teristimewa setelah tumbangnya Soeharto, seyogianya diantisipasi dengan strategi kebudayaan.

Strategi kebudayaan yang diperkenalkan Van Heusen adalah indikator konkret, bahwa masyarakat dunia ketiga harus mampu membangun pilar-pilar baru lewat strategi kebudayaan. Ini, misalnya, ketika ia melihat berbagai suku di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, selalu saja meletakkan pilar-pilar yang mantap untuk membangun masyarakat. Masih menurut Heusen, pilar, kilahnya adalah kemampuan membangun rasa kebangsaan dari setiap etnis, baik etnisitas perkotaan maupun etnisitas dalam artian tradisi.

Kalau kita sepakat bahwa reformasi dan transisi yang cenderung melahirkan "keberantakan sosial", seyogianya kita harus mampu dan mentransformasikan bahwa itu adalah proses dari pembangunan dan pembebasan yang bersenyawaan dengan pengembangan pilar-pilar etnisitas untuk mengintegrasikan bangsa yang equivalen dengan rasa kebangsaan. Dengan kata lain, etnisitas dan tradisi harus mampu menjadi pilar utama bagi upaya membangun nasionalisme bangsa melalui strategi kebudayaan.

Mengapa ini menjadi signifikan untuk dibicarakan, karena gejala disintegrasi bangsa di era reformasi dewasa ini telah menjadi "lampu merah" untuk bangsa ini. Tanpa harus mengecilkan arti nilai-nilai normatif etnisitas (kesukuan) dan tradisi, selayaknya kita patut memahami bahwa kebudayaan tidak identik dengan ornamen semata, seperti tari, musik, bangunan-bangunan kuno, dan peninggalan sejarah, karena kebudayaan harus dilihat sebagai suatu bentuk masa depan bagi masyarakat yang sedang mengalami transisi di era reformasi.

Itulah sebabnya, pilar yang patut kita bangun melalui strategi kebudayaan adalah pilar strategis mengaktualisasikan etnisitas sebagai suatu kesamaan, dalam arti tidak memandang suku dan primordialisme secara sempit, pun tradisi tidak kita pandang sebagai suatu sikap seremoni, seperti ngelabuh, ngaben, dan lain sebagainya.

Dalam pandangan yang universal, Indonesia saat ini yang notabene "terancam" disintegrasi, mengedepankan semangat kesukuan dan primordialisme menjadi penting dan urgen, terutama kalau kita tekankan pada orientasi, bahwa paguyuban yang selalu muncul bukanlah suatu bentuk polarisasi, melainkan justru suatu proses pembelajaran yang faktual, bahwa negeri ini memang patut mempunyai pilar normatif yang dinamis lewat etnisitas.

Sementara, tradisi yang selama ini dilihat sebagai kajian yang hanya bersifat hubungan seremoni, haruslah diaksentuasikan pada pilar-pilar baru bagi fondasi pembangunan dan pembebasan masyarakat.

Sejalan dengan pemikiran di atas, apa yang patut diimplementasikan untuk menguatkan kembali semangat kebangsaan tak lebih dan tak kurang adalah motivasi kita untuk memandang komunitas paguyuban sebagai aktualisasi primordialisme yang fungsional. Dalam bahasa yang sederhana, setiap kita membutuhkan paguyuban yang tidak ditunggangi oleh motif-motif politik dari elite kekuasaan. Sementara, tradisi pun kita harapkan mampu merefleksikan kebersamaan dan kesenyawaan, semisal, tradisi cakalang (membangun keamanan) di Bali sesungguhnya sama dan sebangun dengan tradisi restanipola di ujung Papua.

Pokok-pokok utama membangun strategi kebudayaan, teristimewa dalam dimensi pembangunan dan pembebasan adalah kemampuan kita melihat secara jeli, apa yang sesungguhnya yang terjadi dalam masyarakat kita dewasa ini. Sebagai contoh, dalam pemilihan kepala daerah, kita terkadang masih meletakkan pilar putra daerah, kader daerah dan berbagai kedaerahan yang seolah-olah kita hanya mempersempit semangat kesukuan. Sedangkan pembangunan dan pembebasan plus minus substansinya adalah kesenyawaan dari akulturasi budaya masyarakat Indonesia di tengah perkembangan masyarakat dunia.

Secara sederhana, dapat dibandingkan di sini antara nilai-nilai kultur Jawa dan nilai-nilai kultur Lampung, yang kalau disenyawakan mampu membangun pilar-pilar, sebagai penulis singgung di muka tulisan ini.

Kita dapat saja mengambil contoh, manusia dan atau laki-laki Jawa yang mempunyai falsafah kutilo (burung), makaryo (pekerjaan), wismo (tempat tinggal), garwo (isteri), dan turonggo (baca: kendaraan).

Nada pragmatis kultur jawa yang kongkret ini, alangkah indahnya bila kita kaitkan dengan semangat "normatif" dengan nilai-nilai kultur Lampung, seperti piil pesenggiri (menaikkan derajat), nemui nyimah (bersemangat untuk menerima tamu), nengah nyepur (bersemangat untuk berinteraksi sosial), bejuluq be'adoq (etika menghormati lewat panggilan) dan sakai sambayan (gotong royong).

Strategi Kebudayaan

Urgensitas strategi kebudayaan bagi pembangunan bangsa adalah upaya kita membangun wilayah dan wawasan memantapkan etnisitas dan tradisi. Bangsa-bangsa Afrika denga Xenomia, dus tak terlepas dari pembuka ruang bagi adaptasi kita. Bangsa Afrika dengan kultur ini memperkenalkan agama sebagai suatu kebutuhan ritual dan sosialisasi pembangunan bagi masyarakat yang nota bene juga mempunyai esensi kesukuan.

Demikian pula, bangsa Asia melalui kesamaan moralitas spiritual, meski tanpa harus menapikan perbedaan agama, juga bangsa di Amerika Latin yang mentokohkan Santo sebagai suatu kebersamaan untuk membangun dan membebaskan masyarakat melalui moralitas agama.

Dalam lingkup itu pula kita pahami, suku Inca, Aborigin, Indian, dan beragam nilai-nilai Europanisme (baca: paham-paham yang berkembang di Eropa), kiranya memunyai kesenyawan pilar dengan kita dalam konteks mengantisipasi globalisasi demi pembangunan bangsa di tengah transisi lewat strategi kebudayaan.

Itulah yang mengajak kita untuk mencari tahu, bahkan mencari jawab, bahwa ada banyak proses-proses yang terjadi untuk membangun watak bangsa lewat strategi kebudayaan. Dalam kalimat yang sederhana, untuk membangun masyarakat Indonesia ditengah keberantakan sosial kita harus mengantisipasi dan atau melihat setiap proses, arus dan transformasi globalisasi.

Ini artinya, setidaknya terdapat lima strategi kebudayaan untuk mencegah terjadinya disintegrasi. Pertama, metamorfosis etnisitas dan tradisi harus bersenyawa baik dalam lingkupnya sendiri maupun dengan semangat globalisasi. Kedua, beragam suku dan tradisi di Indonesia merupakan pilar-pilar penyangga untuk diteruskan dan disesuaikan dengan pembaruan yang ada sesuai dengan perubahan sosial.

Ketiga, proses yang terjadi di Afrika, Asia, dan Amerika Latin patut dipertimbangkan tidak dengan sudut pandang normatif, tetapi pada lebih pada sudut pandang interaktif. Keempat, Indonesia sebagai suatu negara yang tak terlepas dari nilai-nilai moralitas agama, wanti-wanti harus mengadaptasi ritualisme setiap kesukuan dan ritualisme yang teraktualisasi lewat tradisi.

Kelima, di tengah arus globalisasi, pembangunan watak bangsa dalam upaya mencegah disintegrasi, tak luput dari arus penetrasi kebudayaan Eropa dan Amerika.

Dari perspektif kelima analisis di atas, bahwa keinginan kita untuk membangun Indonesia, bukan hanya terletak pada keinginan pragmatis, seperti melegitimasi paguyuban untuk melanggengkan kekuasaan, menyemangati tradisi yang bertentangan dengan moralitas agama dan menguatkan kebudayaan pop dan komersialisasi gaya hidup yang diusung oleh Eropa.

Urgensitas terhadap adaptasi kebudayaan lain, merupakan strategi kebudayaan bagi Indonesia untuk concern terhadap dirinya. Dalam arti, kita memang patut mencari wajah Indonesia dengan pilar pemantapan terhadap etnisitas dan tradisi dengan memaknai akulturasi budaya sebagai sesuatu kekuatan. Bagaimanapun, kita tidak bisa menolak penetrasi kebudayaan asing, namun kitapun tidak harus menerima "mentah-mentah" penetrasi yang sejalan dengan eksklarasi kebudayaan liberal yang terus-menerus mengembangkan human material (baca: kebutuhan mencari materi lewat apa saja dengan menanggalkan moralitas agama).

Perspektif


Kalaulah kita sepakat strategi kebudayaan yang selalu menginginkan pembaruan sesuai dengan etnisitas dan tradisi, maka strategi kebudayaan yang patut kita mantapkan adalah menatap ke depan, bahwa suatu orientasi kebudayaan merupakan kesenyawaan antara kita dan masyarakat dunia.

Dalam perspektif ini apa yang diperkenalkan Bung Koko dan Van Huesen, menuntut kita untuk mencari titik masuk baru sesuai dengan wawasan kebangsaan. Memang, wawasan kebangsaan, yang ketika di era Soeharto hanya menjadi jargon politik dengan eufisme pembangunan menjadikan bangsa ini kerdil, tetapi sudah lain sekali halnya dengan era reformasi.

Strategi kebudayaan telah menjadi kebutuhan mutlak bagi bangsa ini untuk luput dari disintegrasi, kendati, ktapun tidak menutup mata bahwa beragam suku dengan beragam pola sulit untuk membangun pilar integritas internal, tetapi kita tidak harus pasrah untuk mencari wajah Indonesia.

Dengan demikian, barangkali tidak ada salahnya bila penulis menawarkan tujuh pertimbangan yang patut menjadi bahan diskusi kita bersama untuk membangun watak bangsa lewat strategi kebudayaan. Ketujuh tawaran tersebut sebagai berikut.

Pertama, kesadaran kita terhadap "rumah besar" Indonesia, dus bukan "kampung besar". Artinya, rumah Indonesia di tengah pernik-pernik ornamen kesukuan dan tradisi mendapat nilai lebih bila memantapkan keberadaannya di tengah arus globalisasi dengan mencari nilai-nilai baru.

Kedua, pertimbangan kita terhadap pertumbuhan ekonomi, yang tentu saja dalam konteks ini harus kita kaitkan dengan kesukuan dan tradisi, semisal, menghidupkan sektor riil, manufaktur lewat infrastruktur yang ditransformasikan oleh semangat human material tadi (tanpa harus menapikan kebudayaan pop dan komersialisasi gaya hidup). Sebagai contoh, tradisi berdagang etnis Sumatera Barat bisa disenyawakan dengan elan vital masyarakat Cina di Indonesia.

Ketiga, karena wajah Indonesia "mau tidak mau" harus dipoles dengan "lipstik" europanisme, maka gincunya harus diadopsi lewat kedekatan nilai-nilai kebudayaan Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Sebab, ketiga bangsa yang ada ini "patut dipercayai" beresensi sama.

Keempat, akulturasi budaya untuk membangun wajah Indonesia, simultan menuntut kita untuk menstimulir beragamnya suku dan beragamnya tradisi, istimewanya dalam wilayah keberagaman dan kebersamaan demi Indonesia masa depan, maka peredaman terhadap potensi konflik patut menjadi pertimbangan.

Kelima, reorientasi kebudayaan baru yang muncul tiba-tiba melalui perkembangan teknologi komunikasi, terus menerus merongrong kita untuk menjadikan ruang lingkup kemajuan itu sebagai suatu kebutuhan anak bangsa. Pada titik ini anak bangsa diharapkan mampu "melecehkan" kebudayaan pop dan komersialisasi gaya hidup, tanpa harus mengurangi semangat penguatan terhadap pertumbuhan kebudayaan itu sendiri.

Keenam, kesejarahan Indonesia yang telah berkembang dari kurun waktu yang berbeda dan struktur sosial yang berlainan, kiranya menjadi pelajaran tersendiri, bahwa "rantai emas" untuk membentuk wajah Indonesia, bukan hanya dari kebanggan kita terhadap kaum sekolahan yang telah merangkainya lewat 1905, 1908, 1928, 1945, 1966 sampai reformasi, tetapi lebih dari itu, kita patut memasuki wilayah baru, bahwa transisi di era reformasi telah bergumul dengan kekuatan-kekutan sosial lainnya di luar dugaan kita.

Ketujuh, struktur demografi yang tidak harmonis dan stuktur geografi yang sedemikian luas, barangkali patut menjadi pertimbangan bagi kita semua. Terlebih lagi, bagi para elite politik, mengingat strategi kebudayaan yang akan dibangun dan dikembangkan serta disegarkan, utamanya untuk mencari Indonesia seutuhnya tidaklah begitu mudah.

Karena itu, etnisitas, tradisi sebagai "cantelan" utama dalam tulisan ini sesuai dengan strategi kebudayaan, harus mempertimbangkan pilihan-pilihan keutuhan bangsa lewat moralitas agama, pluralitas dan kesamaan pola dalam mengadaptasi perkembangan masyarakat dunia. n

* Hardi Hamzah, Pekerja Sosial, tinggal di Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Rabu, 13 Juni 20007

Sphere: Related Content

10 Juni 2007

Horison: Aksi Panggung para Penyair Nusantara

ADA yang mengaum, ada yang beteriak, ada yang merintih, ada yang membanting kursi, ada yang berdendang, ada yang membawa jaelangkung, ada yang cool-cool saja. Begitulah aksi panggung para 'penyair Nusantara' dalam perhelatan Pesta Penyair Indonesia, Sempena The 1st Medan International Poetry Gathering, di Medan, 25-28 Mei 2007 lalu.

Tampil pada malam ketiga, penyair Pekanbaru, Fakhrunnas MA Jabbar, mendengdangkan lagu pedih nasib Riau yang terus diterpa perubahan zaman, melalui 'sajak seri'-nya, Riau 1 dan Riau 2. Bagi sastrawan yang juga deputi direktur PT Riau Andalan Pulp & Paper ini, Riau adalah 'harta karun' budaya yang harus disayangi, namun ia tidak dapat mencegahnya ketika Riau terus dieksploitasi kekayaan alamnya:

sungguh aku tak bisa beri dikau permata
bebatuan purba tertanam jauh di lembah-lembah
semua orang menambang uang dan logam
biar kutambang perahu saja
sungguh aku tak bisa beri dikau mutiara
kerang dan tripang tertanam jauh di laut dalam
semua orang memetik mawar
biar aku saja memetik senyummu yang ramah


Beragam gaya dan beragam tema. Begitulah sajak-sajak para penyair Nusantara yang terkumpul dalam buku antologi puisi Medan Waktu (dieditori oleh Afrion Medan, Antilan Purba, dan M Yunus Rangkuti) yang melengkapi perhelatan tersebut. Maka, beragam pula gaya penampilan mereka di panggung. Binhad Nurrohmat pun membanting kursi, untuk memunculkan sensasi teateral. Tapi, Krismalyanti, cool-cool saja ketika membaca sajak Jerat Kering.

Sebelum mereka, penyair Malaysia yang juga aktor ternama, Khalid Salleh, seperti mengaum ketika meneriakkan sajak Merdeka di Tangan Siapa? -- sebuah sajak lugas yang berbicara tentang makna kemerdekaan:

merdeka adalah kebebasan melakukan dan menyatakan erti kebenaran memberi dan menerima kebaikan mengusulkan pandangan untuk kebaikan bersama membuka semangat untuk kesedaran -- berbangsa, beragama, dan bernegara

Sekitar 100 penyair dari berbagai penjuru kawasan Nusantara -- Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand Selatan -- adu kebolehan membaca sajak di atas panggung selama empat malam berturut-turut, 25-28 Mei 2007. Tiga malam pertama berlangsung di Taman Budaya Sumatera Utara, dan malam terakhir di Garuda Plaza Hotel.

Dari Brunei, penyair yang tampil membaca sajak, antara lain Zefri Ariff, Adi Swara dan Sheikh Mansor. Dari Malaysia, antara lain SM Zakir, Khalid Salleh, DR Ibrahim Ghaffar, Mohammad Saleeh Rahamad, DR Ahmad Razali Yusuf, Muhammad Lutfi Ishak, Shamsudin Othman, Nasury Ibrahim, Rahimidin Zahari, Ijamala MN, Saring Sirad, Amirul Fakir, Amran Daud dan Saifulizan Yahya.

Paling banyak, tentu, dari Indonesia, antara lain Korrie Layun Rampan (Kutai Barat), Shantined (Balik Papan), Micky Hidayat (Banjarmasin), Dinullah Rayes (Mataram), Doel CP Allisah (Aceh), Idris Pasaribu (Medan), Hasan Bisri BFC (Bogor), Khoirul Anwar (Kediri), Sarah Serena (Jakarta), Epri Saqib (Depok), Isbedy Stiawan ZS, Syaiful Irba Tanpaka (Lampung), Harta Pinem dan M Raudah Jambak (Medan).

Selain mereka, penyair yang ikut meramaikan pentas baca sajak, antara lain Viddy AD Daery (Lamongan), Fikar W Eda (Aceh), R Galuh Angger Mahesa (Medan), Syaifuddin Ghani (Kendari), Doddy SH (Bojonegoro), Leonowens SP (Jakarta), Hasan Al Banna, Nurhilmi Daulay, Mihar Harahap, Koko Bhairawa, Dini Usman, Raswin Hasibuan (Medan), A Aris Abeba (Pekanbaru), dan Amin Setiamin (Labuhan Batu).

Jika pada malam pembukaan dimeriahkan musikalisasi puisi dan tari, panggung puisi pada malam penutupan makin seru dengan tampilnya Bupati Langkat H Syamsul Arifin SE. Ketua Majelis Adat dan Budaya Melayu ini membacakan sajak-sajak Amir Hamzah dengan penuh penghayatan. Bahkan, beberapa penyair Malaysia dan Indonesia masih membaca sajak sambil membentuk lingkaran mengelilingi meja, meski acara telah ditutup oleh Kepala Disbudpar Medan H Syarifuddin SH.

Pesta penyair yang dilenggarakan oleh Laboratorium Sastra Medan bekerja sama dengan Disbudpar setempat ini tentu tidak hanya diisi 'pesta sajak'. Pada siang hari para peserta suntuk mengikuti workshop (pagi) dan diskusi sastra (siang). Pada hari kedua (pagi) sempat digelar pula silaturahmi Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang diprakarsai oleh Ketua KSI Cabang Medan, Idris Pasaribu.

Diskusi sastra membahas khasanah puisi Nusantara dan kesastraan Indonesia mutakhir, dengan pembicara Suyadi San (Medan), Moh Saleeh Rahamat, SM Zakir (Malaysia), Zefri Ariff (Brunei), Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), dan Isbedy Stiawan ZS (Lampung). Sedangkan sesi proses kreatif menampilkan Viddy AD Daery, Binhad Nurrohmat, Rahimidin Zahari (Malaysia), dan Sheikh Mansor (Brunei).

Puncak pesta penyair ini adalah gathering di Garuda Plaza Hotel, yang diawali dialog budaya bersama Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Depbudpar RI, DR Mukhlis Pa'Eni. Berbagai isu kebudayaan mutakhir, seperti makin terpinggirkannya seni tradisi, dibahas oleh doktor antropologi sosial ini.

Usai dialog, gathering diisi musyawarah untuk membahas kemungkinan dibentuknya forum bersama penyair Nusantara. Seperti diakui oleh ketua panitia, Afrion Medan, sempat menguat rencana untuk membentuk sebuah jaringan kerja dengan nama Komunitas Sastra Nusantara.

Sidang pleno yang dipimpin oleh Ahmadun YH, Viddy AD Daery dan Idris Pasaribu, akhirnya menyepakati event tahunan Pesta Penyair Nusantara, Sempena The International Poetry Gathering sebagai forum bersama penyair Nusantara untuk bermusyawarah sambil berapresiasi dan mengekspresikan karya.

Pesta penyair tersebut akan diadakan secara bergilir di kota-kota negara peserta, yakni Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Thailand. Disepakati, Pesta Penyair Nusantara 2008 akan diadakan di Kediri, Jawa Timur.

Maka, ''sampai bertemu di Kediri tahun depan!'' kata beberapa penyair Malaysia, sambil melambaikan tangan ke beberapa penyair Indonesia di depan Hotel Srideli, tempat mereka menginap.

Pesta Penyair Model Gotong Royong

Kini menjadi semacam kelaziman bahwa event sastra se Nusantara, baik di Indonesia maupun di negeri jiran, diadakan secara bergotong royong -- biaya peserta ditanggung bersama.

Demikian pula pesta penyair se-Nusantara di Medan ini. Panitia hanya menyediakan akomodasi selama acara berlangsung. Sedangkan transport dari kota asal peserta, baik sebagai pembicara, pembaca puisi, maupun penggembira, ditanggung sendiri. Karena itu, sebelum acara, para calon peserta biasanya sibuk mencari bantuan dana.

Berungtunglah, ada saja lembaga pemerintah dan swasta yang peduli pada sastra dengan membantu keberangkatan peserta. Salah satunya adalah PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP). "Tentu, kami sangat peduli pada acara seperti itu, karena sangat penting untuk meningkatkan prestasi budaya bangsa," kata Dirut PT RAPP Rudi Fajar.

Menurut Rudi, acara semacam pesta penyair di Medan itu sejalan dengan program peduli budaya yang dilaksanakan oleh produsen pulp dan kertas ini. Salah satu program yang kini sedang digalakkannya adalah pendirian taman bacaan di desa-desa yang kini telah mencapai lebih dari 110 desa di Riau. (ika/ayh)

Sumber: Republika, Minggu, 10 Juni 2007

Sphere: Related Content

03 Juni 2007

Esai: Sastra Tanpa Kredo

F Rahardi*


Sejak 20 tahun terakhir, sastra buku dan koran maju cukup pesat. Namun, kemajuan itu tampak hanya sekadar teknis, sekadar kulit. Bukan isi dan bukan esensi, alias sastra tanpa kredo.

Bait puisi Wiji Thukul yang sangat terkenal adalah, Hanya ada satu kata: Lawan! Itulah "Kredo Puisi" Wiji Thukul yang walau tak pernah ditulis seperti Kredo Puisinya Sutardji Calzoum Bachri, tetapi tetap kuat dan punya makna. Sebab yang dia tulis juga dia lakukan dalam bentuk perbuatan. Selain menulis, Thukul juga aktif secara konkret melawan kekuasaan yang represif dan otoriter. Akibat perlawanan melalui kata dan perbuatan ini, Thukul raib sampai sekarang.

Ada memang pihak yang mencemoh Thukul bahwa dia terlalu maju, terlalu berani, terlalu sembrono. Hingga nasib yang menimpanya adalah sebuah konsekuensi dari kesembronoan itu sendiri. Namun, sembrono membela buruh yang digencet kekuasan kapital, kekuasaan birokrasi dan senjata, jauh lebih mulia dibandingkan dengan mereka yang sembrono bermunafik, apalagi sembrono menembaki rakyat sampai mati. Mereka yang munafik tampak seakan-akan kritis terhadap kapitalis AS dan Pemerintah RI, tetapi uang proyek dari dua negeri ini diembat juga dengan lahap.

Sastra lalu menjadi bagian dari proses degradasi nasional. Mereka yang bersedia ikut arus besar akan segera menjadi makmur dan tampak mulia. Mereka yang masih konsisten menjalankan semangat Chairil Anwar, Iwan Simatupang dan Wiji Thukul, dan secara ekstrem menolak berkompromi, akan tertinggal jauh dalam keterbelakangan atau gugur di tengah jalan. Sementara kota-kota besar di Indonesia sudah dipenuhi mal yang menawarkan semua kenikmatan hidup sebuah metropolis.

Inovasi penerbit

Tidak semua kemajuan bersifat negatif. Tak bisa dimungkiri, selama dua dekade terakhir ini, sastra koran dan buku memang sangat menonjol dan jauh mengungguli sastra majalah yang pernah berjaya pada tahun 1970-an. Kemajuan ini terutama tampak dari kuantitas oplah dan luasnya peredaran. Dampak dari kuantitas cetak yang tinggi adalah, menulis karya sastra menjadi bisa diandalkan secara ekonomis. Tampilnya generasi penulis cantik yang beredar dari kafe ke kafe bak selebritis juga telah ikut mendongkrak prestise sastra.

Kolaborasi antara media audiovisual, pers, dan penerbit buku telah ikut memosisikan sastra ke ranah publik yang lebih luas dan terhormat. Penerbit buku, koran, televisi, dan radio tidak saling mengungguli, melainkan berkolaborasi. Dekade 1990-an, penulis dan penerbit buku berada dalam posisi tawar yang lebih rendah dibandingkan dengan produser film. Ketika itu, novel yang terpilih untuk difilmkan menjadi tampak lebih terhormat dan terangkat martabatnya.

Sekarang, penerbit buku bisa meminta teks skenario film dan sinetron untuk dinovelkan. Promosi dalam bentuk roadshow dilakukan melalui radio. Novel yang lahir dari skenario ini bisa "meledak" di pasaran. Di AS, Jepang, Korea, dan Taiwan, kolaborasi ini malahan meluas. Di negeri-negeri ini, satu cerita dengan tokoh, plot dan setting sama bisa tampil dalam bentuk novel, komik, film, theme song, dan game. Pasar diserbu oleh pemilik modal dengan enam jenis produk massal sekaligus.

Manipulasi pasar

Ciri utama produk massal adalah tunduk pada selera pasar. Kalau pasar Indonesia dianggap pemilik modal sedang menyenangi hantu dan setan, materi ini menjadi andalan produk massal berupa sinetron, film, dan juga novelnya. Indonesia masih belum mampu melengkapi tiga produk ini sekaligus dengan komik, theme song, dan game. Meskipun beberapa fiksi yang difilmkan dan sekaligus dinovelkan, theme songnya juga ikut meledak di pasaran. Misalnya Cinta Pertama (Sunny) yang penyanyi sekaligus pemeran utamanya sama, yakni Bunga Citra Lestari.

Sastra koran dan buku yang maju pesat dan menjadi produk massal juga merupakan pengabdi selera pasar. Sebagai abdi, produk massal demikian harus patuh pada titah pasar sebagai Sang Majikan. Namun, pasar ini bisa dimanipulasi oleh pemilik modal. Film sampah yang sejak tahun 1970-an mendominasi bioskop kita, dan sinetron yang sejak tahun 1990-an merajai televisi, sebenarnya bukan merupakan kehendak pasar, melainkan kehendak "selera rendah" pemilik modal. Dan, publik terpaksa menonton dan membaca produk sampah ini karena tidak ada alternatif lain.

Film-film Usmar Ismail, Nyak Abas Akub, dan Syumanjaya, misalnya, juga tetap diterima pasar, tanpa harus mengeksploitasi selera rendah. Demikian pula dengan Losmen, Si Doel Anak Sekolahan, dan Bajaj Bajuri. Untuk bisa mencapai oplah cetak puluhan sampai ratusan ribu eksemplar, sastra koran dan sastra buku juga tidak harus serta merta mengabdi pada selera rendah. Sebab, produk massal yang mutlak harus tunduk pada kehendak pasar, tidak harus identik dengan selera rendah. Namun, kalangan bisnis sering terkecoh menyamakan produk massal, tren pasar dan selera rendah.

Narasi besar

Kalangan pengamat sastra sering bertanya: Selama 20 tahun ini telah terjadi banyak peristiwa besar di dunia dan juga di Indonesia. Namun, mengapa tidak ada karya sastra dengan "narasi besar" lahir dari sana? Penculikan aktivis, rusuh Mei 1998, gempa dan tsunami Aceh, korupsi, pemanfaatan isu sektarian untuk tujuan politik praktis dan lain-lain hanya sekadar melahirkan karya sastra yang bersifat "reaksioner". Jenis karya sastra ini beda dengan "sastra kontekstual" dan memang menjadi tuntutan koran yang harus selalu aktual. Namun, sastra yang baik tidak cukup hanya bersifat reaksioner.

Ada pula anggapan bahwa narasi besar memang sudah tidak diperlukan lagi dalam kehidupan yang "ultra modern" ini. Sebab, dunia harus bergerak dengan super cepat dengan jet foil, kereta api kapsul berbantal udara, dan jumbo jet. Informasi juga bisa menembus ruang publik sampai sedetail dan sekecil mungkin melalui internet dan SMS. Puisi bisa ditulis di layar telepon seluler dan menyebar secara cepat sesuai dengan kebutuhan. Lalu untuk apa narasi besar? Apakah kredo sastra juga masih diperlukan? Bukankah sah kalau sastra hanyalah berupa kerajinan tangan sebagai aksesori dalam sebuah koran dan novel hanyalah bagian dari industri hiburan di televisi?

Sebenarnya, selama 20 tahun terakhir ini, bukan hanya telah terjadi dominasi industri sastra secara massal, melainkan juga penindasan terhadap harkat kemanusiaan. Publik hanya dianggap sebagai target pasar yang harus dieksploitasi oleh kapitalisme global. Ozon yang bolong karena pemanasan atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil yang berlebihan menjadi bukan lagi urusan sastra. Ketidakadilan, keserakahan, dan kekerasan terhadap masyarakat sipil juga bukan pula urusan sastra yang sudah menjadi bagian dari bisnis besar, tanpa isi, tanpa kredo.

* F Rahardi, Penyair, Wartawan

Sumber: Kompas, Minggu, 3 Juni 2007

Sphere: Related Content