28 Mei 2007

Sitor Situmorang: Karena Sastrawan Bukan Malaikat




Ruang Baca TEMPO - Edisi 28 Mei 2006

Percakapan

Sitor Situmorang Karena Sastrawan Bukan Malaikat

Suaranya masih bergemuruh di usia yang menanjak 82. Gayanya juga masih khas: menggebrak, menunjuk, atau mengguncang pundak lawan bicara sambil terkekeh—terutama jika menyangkut soal politik di sekitar tahun 1965. Sitor Situmorang memang tak bisa dipisahkan dari situasi politik ketika itu yang membuat dua kubu seniman berhadapan secara tegas. Di satu sisi ada seniman-seniman realisme-sosialis yang mendukung kebijakan Presiden Soekarno dan di seberangnya berdiri para seniman muda yang kemudian disebut kelompok Manikebu (Manifes Kebudayaan). “Situasi dunia akibat perang dingin antara Amerika dan Soviet yang membuat politik seperti itu,” katanya.

Banyak yang mengkritik, atau menyayangkan, terjunnya Sitor ke politik sehingga “mengganggu” bakat kepenyairannya. Pada awal-awalnya, puisi-puisi Sitor membawa gaya sendiri dengan menengok kembali tradisi lama berupa pantun, dengan renungan personal yang sublim. Setelah Sitor aktif di Lembaga Kebudayaan Nasional sajak-sajaknya lebih banyak menyuarakan pujipujian politik, terutama setelah ia melawat ke Tiongkok. A. Teeuw dan Asrul Sani menyebut Sitor sebagai “penyair yang hebat tapi politikus picisan.”

Karena aktivitasnya itu, Sitor kemudian mendekam di penjara Salemba selama delapan tahun sejak 1966. Selepas dari bui, ia melanglang ke berbagai kota di dunia. Terakhir ia menetap di Belanda dan mendapat istri seorang diplomat di sana, sambil mengajar bahasa Indonesia di Universitas Leiden dari 1978 sampai 1988. Sitor berseloroh, kepulangannya ke Indonesia kali ini untuk mengantarkan teman-temannya ke alam baka. Sejak ia di Indonesia, para sahabatnya meninggal dunia: Ramadhan KH disusul Pramoedya Ananta Toer.

Menurut Ajip Rosidi, Sitor mungkin penyair yang paling banyak menghasilkan sajak. Dari dua jilid kumpulan sajak yang terentang antara 1948 hingga 2005, ada 605 sajak yang pernah dibuat Sitor. Belum lagi sajak yang tercecer sebagai hadiah ulang tahun seseorang atau kado di sebuah pesta. “Kalau dilihat dari umur seharusnya saya bisa menghasilkan puisi dua atau tiga kali lipat lebih banyak,” katanya.

Berikut ini perbincangan Bagja Hidayat dan Qaris Tajudin dari Tempo dengan penyair Angkatan 45 ini. Percakapan dilakukan tiga kali, dengan tidak berangkat dari satu pokok, tetapi menampung pelbagai segi. Percakapan pertama di MP Book Point ketika dua jilid kumpulan sajaknya diluncurkan dua pekan lalu, kedua di rumah salah seorang anaknya di daerah Sawangan yang sepi tempat Sitor selama ini tinggal sepekan kemudian, lalu dilengkapi dengan percakapan lewat telepon.

Apa yang anda lakukan sekarang?

Saya sedang mengumpulkan data sejarah tentang perang Batak antara 1883-1907. Keluarga besar saya ikut langsung dalam perlawanan di baratlaut Danau Toba. Belanda maju dari Sibolga tahun 1878 dan mulai ke Aceh tahun 1872. Jika Pramoedya menulis periode itu di Jawa, saya di Batak, ha-ha-ha. Ternyata kolonilaisme itu satu pola saja. Jadi, perlawanan budaya lokal itu harus ditulis.

Bagaimana mencari bahan-bahannya?

Di Belanda itu bahannya lengkap sekali. Dokumentasi penjajah itu efesien. Tiap pelor harus dipertanggungjawabkan. Laporan sampai tingkat kecamatan itu ada. Sangat lengkap jika ingin menulis soal sosial, ekonomi, pemerintahan, bencana alam. Semua ada. Seluruh Indonesia.

Akan jadi novel sejarah?

Saya belum tahu bentuknya seperti apa.

Kapan selesai?

Wah, kalau pakai target saya bisa senewen. Lihat saja nanti.

Novel sejarah sekarang sedang diminati. Apakah sastra yang baik harus mengaitkan diri dengan realitas?

Sastra yang baik itu harus bermanfaat bagi pembaca. Pembaca mendapat kesempatan menghayati keragaman manusia. Pram sudah mempraktekkannya dengan sangat baik. Ia mengolah sejarah dan hidup manusia Indonesia yang bisa bicara ke dunia luar. Dia lahir dari sejarah manusia Indonesia.

Sebagai penyair Angkatan 45, apa sesungguhnya yang digarap angkatan ini?

Angkatan 45 ingin merintis jalan sendiri. (Sitor berdiri sambil menunjuk-nunjuk) Chairil Anwar teriak-teriak, “Apa itu Takdir Alisjahbana? Polemik Pujangga Baru bukan urusan kami lagi. Kami punya jalan sendiri.” Tapi itu kelancangan remaja saja meskipun ada artinya. Kami lebih diilhami oleh semangat kemerdekaan. Semangat pemberontakan.

Chairil dianggap sebagai pelopor modernisme. Dia menggarap sajak bebas, citraan baru, kekuatan bahasa, kenapa anda malah balik ke tradisi lama di tahun 1950-an?

Chairil itu orang kota, saya pedalaman, ha-ha-ha. Kalau modern sudah pasti diterima. Modernitas di Pujangga Baru itu baru tahap ambisi. Angkatan 45 memang meninggalkan gaya sajak sebelumnya. Tapi itu hanya di antaranya saja. Dalam budaya ada perhitungan faktor penerimaan bentuk baru. Menerima pengaruh dari luar dengan daya cipta sendiri. Tidak sekadar nyontek. Penghayatan generasi 45 itu terungkap jelas dalam karya mereka, terutama sajak-sajak Chairil. Ada yang terlewat, yaitu Amir Hamzah yang meskipun berakar pada sastra klasik melayu, dia sudah masuk dunia modern. Saya menggali tradisi lama karena saya terbentuk oleh tradisi itu. Sejak SMA yang terngiang di kepala saya adalah pantunpantun. Saya menggarap itu, meskipun saya juga bikin puisi bebas.

Sajak anda banyak sekali ditujukan untuk seseorang, tidak cuma satu, tapi banyak...

Sebuah tema bisa dikembangkan berkali-kali.

Terutama sajak untuk perempuan. Apakah perempuan memang ilham anda?

Bayangkan saja bagaimana sajaknya. Perasaan ke perempuan itu beraneka ragam: kasih sayang dan syahwat-erotik. Saya sekarang lebih berminat ke mistik. Menyatu dengan asal. Kematian. Mungkin karena sudah dekat, ha-ha-ha. Memandang gunung. Alam yang mengacu kepada jagatraya. Gunung itu perlambang budaya lokal kita. (Sitor kemudian membacakan sajak 1 Syuro dan Parangtritis 1 Syuro sembari menjelaskan maksudnya).

Kabarnya anda menulis sajak karena pesanan?

Pesanan hati saya. Bukan pesanan orang, meski boleh saja. Kalau berkenan saya tulis. Yang penting pesanan hati itu selalu yang utama. Ada juga yang pesan secara main-main. Kalau mampir ke rumah teman, kemudian ada yang ulang tahun lalu meminta dibuatkan puisi, kadang-kadang saya buat. Perkara mutu, silakan nilai sendiri.

Anda juga bisa mengubah sebuah sajak yang sudah jadi sewaktu akan diterbitkan kembali sehingga orisinalitasnya sudah tak ada...

Umumnya membuat sajak itu seperti menggubah lagu. Kalau saya, pergulatan dengan tema bisa satu-dua hari. Saya menangkap tema dari pengalaman, pengamatan atau pendengaran yang mengharukan perasaan. Lalu menyembul katakata. Setelah itu sambungannya biasanya mengalir. Dalam 12 jam jadi. Besoknya ketika dibaca lagi sudah mendapat bentuk yang final. Tapi sebuah sajak yang dianggap sudah selesai masih mungkin diubah lagi setelah sekian tahun dibaca dan kurang pas. Ada juga pembaca yang lebih senang versi pertama, itu terserah saja.

Pantas anda sangat produktif...

Lima-belas tahun terakhir sudah tinggal menetes saja, dulu itu mengalir deras.

Kenapa?

Susah menerangkannya. Ini tidak berlaku umum. Ini berhubungan dengan bahasa. Soal kepekaan. Bahasa itu bentuk budaya yang hidup dalam diri kita lewat pendengaran, pengalaman, dengan manusia lain. Ada bunyi, irama. Kalau makin tambah umur, kepekaan menerima suara-suara, nada-nada, dan irama itu menurun.

Karena tinggal lama di luar negeri?

Tidak juga.

Apa sih kriteria sebuah puisi dikatakan berhasil?

Jika sudah menyentuh hati pembaca. Kepekaan membaca itu merupakan hasil pengalaman dan penghayatan setelah secara rutin main-main dengan bahasa.

Ada yang menilai kualitas sajak anda menurun setelah beranjak ke puisi bebas...

Sajak itu banyak bentuknya. Saya menerima segala bentuk. Waktu itu, saya berpikir kita punya warisan pantun kenapa itu tak dipakai. Bukan karena saya memilih sebuah gaya, tapi memang suasana puisinya menuntut seperti itu. Saya pelopor pemakaian pantun dengan isi baru. Sajak saya yang paling banyak dibincangkan adalah Lagu Gadis Itali. Itu memang saya menggunakan kekuatan pantun. (Lihat Asal Usul Gadis Itali).

Lebih menurun lagi setelah anda berpolitik...

Saya tidak bisa dipisahkan dari politik. Silakan nilai puisi saya dari puisi, bukan dari politiknya. Saya memang menulis puisi politik, ada juga yang tidak. Jika politik dinilai merusak bakat saya, itu kesimpulan mereka. Tapi banyak orang yang memaksakan penilaian dengan hanya membaca puisi politik saya. Padahal dia juga baca puisi saya yang baik, tapi tidak masuk penilaian. Ini tidak bagus. Jika sajak saya dianggap tidak berhasil, silakan. Tapi itu bukan karena aktivitas saya di politik.

Terutama sejak anda berkunjung ke Tiongkok (periode 1956-1967)?

Sekarang kita lihat, Tiongkok besar dan mengancam Amerika. Karena mereka berjuang dengan caranya sendiri. Saya melihat Tiongkok sebagai bangsa yang menjunjung nasionalisme. Sebagai nasionalis aliran Soekarno saya melihat itu. Soviet tidak saya anggap sebagai proyek nasionalis karena budayanya lain dengan kita. Ada budaya Barat di sana. Sementara Tiongkok sejarahnya mirip dengan kita. Budaya mereka diinjak oleh imperialis, seperti kita. Jika ada ekonom yang menilai ekonomi Tiongkok bakal rusak karena menganut komunisme, omong kosong itu. Orang Tiongkok menganut komunis itu hak mereka. Lihat, sekarang mereka bangkit.

Apakah karena pandangan itu, anda ikut bergabung dengan kelompok yang berhadapan dengan seniman Manifes Kebudayaan?

Begini. Konflik tahun 1965 itu sangat dipengaruhi oleh situasi dunia akibat perang dingin Amerika Serikat dan Soviet. Amerika ingin Indonesia memilih salah satunya. Bung Karno tidak mau. Lalu karena Bung Karno didukung oleh komunis Indonesia, Bung Karno dicap komunis. Itu akal-akalan mereka saja. Padahal Bung Karno ingin berjuang dalam garis nasionalis. Dia menunggalkan perlawanan bahwa yang bukan nasionalis itu imperialis. Intelektual muda waktu itu tak setuju dengan strategi Bung Karno. Mereka dimanfaatkan untuk melawan Soekarno. Manikebu itu disusupi CIA. Kami mendukung Bung Karno karena ideologinya jelas: nasionalis. Lalu mereka bilang Bung Karno itu pengekor komunis. Kami balik menyerang, kalau begitu kalian antek-antek Amerika.

Bukankah Bung Karno memang berkiblat ke Soviet?

Itu penilaian Amerika. Padahal itu tidak ada. Prasangka ini yang dibakar-bakar oleh Amerika di Indonesia. Boleh kami dituduh. Tapi kalau Bung Karno disamakan dengan komunis, itu tuduhan konyol.

Kenapa kisruh itu merembet ke dalam kesenian?

Karena sastrawan itu bukan malaikat. Manusia, yang kebetulan sastrawan, tak boleh berlagak tak ada urusan dengan politik nasional. Kalau ada yang bilang sastrawan tak boleh berpolitik, itu omong kosong. Pramoedya besar bukan karena dia Lekra, tapi karena karyanya. Kami menghadapi tantangan imperialis, kami melawan. Bagi kami imperialis itu Amerika. Sebab Cina dan Soviet itu negara besar, tapi untuk dirinya sendiri.

Manikebu menolak politik sebagai panglima, termasuk dalam kesenian...

Boleh saja. Tapi jangan berlagak politik itu tidak perlu. Itu naif namanya. Karena mereka juga sebenarnya sudah berpolitik. Tapi tidak terang-terangan seperti kami ini. Kalau mau melawan politik komunis, lawanlah dengan sikap politik juga. Bukan lantas mengaku-ngaku tidak berpolitik padahal sebenar iya.

Kenapa sampai ada bredel membredel karya seni?

Situasinya berkelahi. Mereka juga omong kosong. Ketika buku Pram dilarang, orang-orang Manikebu diam saja. Wiratmo Sukito, kapten Manikebu itu, katanya kirim surat ke Jaksa Agung supaya tak melarang buku Pram. Kenapa dia tak kumpulkan itu orang-orang Manikebu, bikin tanda tangan seperti dulu, lalu melawan pembredelan? Kenapa tak dilakukan? Itu sikap sangat memalukan dari seorang intelektual paling militan. Apakah ada yang bersuara ketika saya dan ratusan ribu orang dipenjara tanpa pengadilan? Tidak ada! Mana humanisme universal itu. Kalau mereka diam, berarti mereka setuju dengan cara-cara seperti itu. Apakah saya ini tidak dianggap human? Karena itu dalam satu tulisannya, Goenawan Mohamad merasa malu dengan uraian Wiratmo ketika merumuskan filsafat humanisme universal. Malu karena tak cukup kuat alasannya.

Kalau saya tanya, apakah Sitor Situmorang seorang komunis? Apa jawab anda?

Berarti saudara belum tahu saya. Tapi kalau pertanyaan itu untuk menguji, saya katakan saya ini tokoh PNI. Semua orang yang mendukung Soekarno bisa saja komunis. Tapi itu bahasa perang dingin.

Apakah Pramoedya juga seorang komunis?

Mana ada karya-karyanya yang menyuarakan komunisme. Tidak ada. Dia hanya ingin menyuarakan kaum tertindas. Bagaimana melawan penjajah, dan seterusnya. Dan itu sangat dipengaruhi oleh kehidupan pribadinya waktu di Blora. Dia itu baca buku-buku Marxisme saja tidak tamat, ha-ha-ha

O ya? Kalau anda sendiri?

Saya baca Marxisme lewat saringannya Bung Karno.

Kenapa anda tak menulis situasi ketika itu sekarang dari perspektif kelompok anda?

Saya tak punya kecakapan sebagai sejarawan. Menulis sejarah itu harus netral menyampaikan fakta dari dua sisi.

Sebagai korban Orde Baru, apa yang sebaiknya dilakukan kepada Soeharto?

Ada dua, yaitu pengadilan sejarah dan pengadilan hukum. Harus diungkap apa yang terjadi selama 33 tahun dia berkuasa. Harus terbuka dan didebat oleh para pendukungnya. Kesalahan Orde Baru itu membangun rezim dengan sistem kediktatoran, mengkhianati cita-cita Undang- Undang Dasar 1945. Peristiwa Tanjung Priok, siapa yang memerintakan penembakan? Lalu penembak misterius. Pasti ada yang punya pelor dan senjata. Siapa? Ini tak pernah jelas. Pengadilan harus membuka itu. Dari awal kami sudah omong, Soeharto ini bakal jadi diktator dengan fasisme-militerisme. Perlu dimaafkan? Memaafkan ya. Tapi memaafkan atas kesalahan apa? Harus dibuka dulu apa kesalahan Soeharto di depan hakim. Ada kelambanan dalam budaya kita, yaitu budaya bapakisme. Ini terjadi sekarang. Seorang bapak itu tak pernah salah. Kalaupun salah harus dimaafkan. Ini budaya bapakisme yang tidak pada tempatnya.

Kalau diminta hakim, apakah anda mau jika dipanggil sebagai saksi?

Kalau dipanggil saya siap.

Sampai kapan berada di Indonesia?

Mungkin sampai September. Setelah itu saya kembali ke Belanda.

Omong-omong, sekeluar dari Salemba anda punya impian mengguncang Paris. Apa sudah tercapai?

Sebelum masuk penjara saya sudah ke Paris. Mengguncang itu urusan tahun 1950-an. Setelah masuk penjara urusan sudah lain.

Mengikuti perkembangan sastra Indonesia mutakhir?

Sangat sedikit. Saya cuma baca buku seorang penyair dari Jogja. Tetapi kalau sastra ingin berkembang kita harus meniru apa yang sudah dilakukan Takdir yaitu menerjemahkan karya dunia. Kita harus sebanyak mungkin mencerap khasanah sastra dunia. Ini untuk mengimbangi globalisasi negatif dalam bidang lain. Sekarang, sastra sangat ditentukan oleh pasar. Orang bebas menulis apa saja.

Sphere: Related Content

27 Mei 2007

Seni Tradisi di Ibukota: Banyak Penggiat Miskin Peminat

Reini Dwinanda


Tantangannya adalah meracik seni trasisi menjadi menarik bagi generasi muda.

Ibarat sepiring gado-gado, Jakarta menampung warganya yang campur aduk latar belakang budayanya. Pendatang --entah dari berbagai penjuru Indonesia atau negara lain-- dan tentunya juga orang Betawi asli, memadati Jakarta.

Meski tak lagi di kampung halamannya, para pendatang tak serta merta melupakan jati diri kesenian tradisionalnya. Jadilah Jakarta -- ibukota yang hampir genap berusia 480 -- itu sebagai pentas besar seni tradisi.

Semanis itukah kenyataannya? Rupanya tidak. Di Jakarta, seni tradisi tidak hidup penuh gemerlap. Bahkan, geliatnya lemah. Seni tradisi terpinggirkan, tergerus.

Pengamat seni tradisi, Jusuf Sugito, memantau fenomena tersebut. Selaku kasubdis pembinaan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, ia tak berdiam diri. ''Demikian pula mitra kami yang melakukan pengkajian dan pengembangan kebudayaan,'' katanya.

Pemerintah, lanjut Jusuf, tak meluputkan perhatiannya pada keberadaan seni tradisi. Sejumlah uang dianggarkan untuk membina sanggar-sanggar seni tradisi yang hidup di Jakarta. Tanpa menyebut jumlahnya, Jusuf mengatakan APBD memang mengadakan pos pendanaan tersebut.

Dukungan pemerintah ditunjukkan pula dengan mengadakan ajang pemberdayaan kelompok-kelompok kesenian melalui lomba dan festival untuk kalangan pelajar. Lantas, pemerintah juga mengupayakan peningkatan kualitas SDM. ''Di lima wilayah Jakarta terdapat balai latihan kesenian yang dapat dimanfaatkan oleh para penggerak seni tradisi,'' papar Jusuf.

Bentuk pembinaan yang paling penting, menurut Jusuf, adalah kesempatan tampil. Ini akan menjadi alat bukti eksistensi sebuah kelompok kesenian. ''Pagelaran seni tradisi dibutuhkan untuk pelakon sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat,'' katanya.

Seni tradisi memang banyak pelakonnya. Mereka terus saja berkesenian di tengah kesibukan sehari-hari mempertahankan hidup di Jakarta. Malah, tak jarang para pelakon menyambung hidup dengan berkesenian. ''Sayangnya, orang yang mengapresiasinya masih terbatas,'' sesal Jusuf.

Kenyataan getir tadi tak bisa diubah oleh pemerintah seorang. Posisi pemerintah dalam hal ini hanyalah fasilitator. ''Yang bisa mengubah keadaan cuma masyarakat,'' ucap Jusuf.

Di Jakarta, ada 32 lembaga kebudayaan daerah. Yang berhasil mengemas seni tradisi dengan menariklah yang dapat bertahan. Seni tradisi yang dipercantik penampilannya itu lantas menjelma menjadi milik bersama, dan lebih mudah mencuri hati penikmat seni.

Jusuf mencontohkan ketoprak humor. Seni lakon orang Jawa itu kini diminati masyarakat secara luas. ''Ketoprak humor sukses menggaet penonton tanpa mempedulikan perbedaan latar belakang budayanya,'' katanya.

Bagaimana dengan seni tradisi Betawi? Sebagai tuan rumah, kesenian tradisional Betawi mendapat perhatian besar dari pemerintah setempat. ''Pelestarian seni tradisinya dipusatkan di Srengseng yang kini dikenal sebagai perkampungan budaya Betawi,'' kata Jusuf.

Soal nasib seni tradisi di Jakarta, Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Aurora Tambunan, pernah mengungkapkan kegusarannya. Ia miris melihat kawula muda menganggap kuno seni tradisi. ''Ini merupakan tantangan bagi penggiat seni tradisi, bagaimana meraciknya menjadi suguhan yang menarik bagi generasi muda,'' katanya.

Padahal, seperti diyakini Prof Dr Arief Rachman MPH, seni tradisi berdampak positif bagi tumbuh kembangnya anak. Ia bahkan yakin pengajaran seni tradisi di kalangan pelajar dapat meminimalisir angka kejadian bullying.

Berpegang pada keyakinan tersebut, ketua harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO itu lantas memberi dukungan penuh pada penyelenggaraan Konser Karawitan Muda Indonesia yang akan digelar pada 28 dan 29 Mei mendatang di Auditorium RRI Pusat Jakarta.

''Berbagai tindak kekerasan terjadi karena orang tak lagi dekat dengan seni budaya,'' kata Arief kepada Republika beberapa waktu silam.

Untuk mendekatkan anak muda zaman sekarang dengan seni tradisi, Arief berpendapat pengenalan harus dilakukan di sekolah. Seni tradisi selayaknya dijadikan ekstrakurikuler.

Agar pengenalan seni tradisi berjalan lancar, menurut Arief, tenaga pengajar tentunya mesti disiapkan dan digaji dengan semestinya.

Sumber: Republika, Minggu, 27 Mei 2007

Sphere: Related Content

23 Mei 2007

Indonesia Hadapi Ancaman Kepunahan Bahasa Daerah

Jakarta, Kompas - Kepunahan bahasa, terutama bahasa daerah, menjadi masalah serius yang juga perlu perhatian pemerintah dan masyarakat. Sebab, proses kepunahan bahasa ini akan diikuti dengan kepunahan budaya dan pada akhirnya kepunahan masyarakat.


Padahal, bahasa adalah refleksi dan identitas yang paling kokoh dari sebuah budaya. Untuk itu, upaya serius dalam menyelamatkan bahasa-bahasa daerah perlu dilakukan sehingga Indonesia tetap menjadi negara yang bhineka tetapi tetap bertunggal ika.

Demikian disampaikan Arief Rachman dalam orasi pengukuhan sebagai guru besar bidang ilmu pendidikan bahasa Inggris pada Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta (FBS- UNJ), Selasa (22/5). Sidang pengukuhan tersebut dipimpin Rektor UNJ Bedjo Sujanto.

"Kondisi bahasa-bahasa daerah di seluruh dunia yang sangat banyak ini ternyata hanya digunakan oleh minoritas masyarakat dan tergeser oleh bahasa-bahasa yang dianggap lebih universal, seperti bahasa Inggris dan bahasa resmi negara masing-masing. Indikasi ini mencerminkan bahwa bahasa-bahasa daerah yang masuk dalam kategori bahasa mayoritas, tetapi minoritas pemakaiannya, secara perlahan akan mengalami kepunahan," kata Arief dalam orasinya berjudul "Kepunahan Bahasa Daerah karena Kehadiran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris serta Upaya Penyelamatannya".

Kepunahan bahasa daerah di Indonesia, seperti terhimpun dalam Atlas of The World’s Languages in Danger of Disappearing karya Stephen A Wurm (2001) yang diterbitkan UNESCO menunjukkan fenomena itu. Di Sulawesi, misalnya, dari 110 bahasa daerah, 36 bahasa terancam punah dan satu sudah punah. Di Maluku, 22 bahasa terancam punah dan 11 sudah punah dari 80 bahasa daerah yang ada. Ancaman kepunahan cukup besar ada di Papua. Dari 271 bahasa yang ada di sana, 56 terancam punah.

Dalam konteks Indonesia, kata Arief, memang tidak ada bukti yang dapat dikemukakan bahwa kehadiran bahasa Indonesia ataupun bahasa lainnya, seperti bahasa Inggris, menyisihkan kedudukan bahasa daerah. Akan tetapi, ada indikasi atau kecenderungan pemakaian bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk kepentingan tertentu—termasuk dalam pendidikan formal—membuat kedudukan bahasa-bahasa daerah menjadi lemah.

"Anak-anak sekolah digiring untuk beranggapan bahwa bahasa Indonesia dan (bahasa) Inggris menjadi superior dibandingkan dengan bahasa ibunya. Kondisi ini diperparah sikap orangtua di rumah yang juga tidak memakai bahasa daerah dalam berkomunikasi," jelas Arief.

Menurut Arief, perlu dibuat program-program penyelamatan bahasa daerah yang terancam punah melalui kegiatan-kegiatan strategis. Bahasa daerah juga perlu diberi peran yang berarti dalam kehidupan modern, termasuk pemakaian bahasa lokal pada kehidupan sehari-hari, perdagangan, dan pendidikan. (ELN)

Sumber: Kompas, Rabu, 23 Mei 2007

Sphere: Related Content

20 Mei 2007

Sejarah Terbelah, Sastra Jadi Perekatnya

M Shoim Anwar*


BARU-BARU ini Kejaksaan Agung mengeluarkan surat keputusan yang isinya menarik tiga buku pelajaran sejarah karena dinilai mengingkari fakta. Buku-buku tersebut tidak mencantumkan kata "Partai Komunis Indonesia/PKI" untuk peristiwa Pemberontakan Madiun 1948 dan Gerakan 30 September 1965. Buku-buku ini ditulis untuk Kurikulum 2004.

Tahun 2003 yang lalu buku Kaum Merah Menjarah (2001) karya Aminudin Kasdi juga secara diam-diam "ditarik" dari pasaran. Padahal, buku tersebut mengungkap dengan jelas aksi sepihak PKI/BTI di Jawa Timur tahun 1960-1965. Konon, buku ini ditarik karena tidak disukai oleh penguasa saat itu. Sementara, pada pertengahan tahun 1980-an, Nugroho Notosusanto saat menyusun buku sejarah nasional juga pernah mendapat reaksi keras karena dinilai tidak sesuai dengan fakta.

Pada awalnya sejarah adalah fakta. Tetapi, dalam perjalanannya, sejarah dapat berbias menjadi opini. Berbagai kepentingan didesakkan, sehingga pohon sejarah menjadi terlalu rimbun dengan berbagai cabang, ranting, dan dahan semu. Pijakan akar sejarah akhirnya menjadi goyah oleh berbagai tarikan kepentingan. Secara metodologis, mengungkap sejarah kontemporer, termasuk keberadaan PKI, sebenarnya lebih mudah. Tapi, politik dan kekuasaan selalu membelah wajah sejarah.

Penguasa memberi andil terbesar dalam perjalanan wajah sejarah. Tidak heran jika ada yang menyatakan bahwa sejarah adalah milik penguasa. Dengan berbagai motif dan kepentingan, sejarah direkayasa menjadi opini yang tendensius. Peristiwa semacam ini lebih banyak terjadi pada sejarah kontemporer yang para pelakunya masih banyak yang hidup. Mereka memperebutkan citra hero.

Pramoedya Ananta Toer membuat pembelaan dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995) untuk diri dan kelompoknya, Lekra, dalam peristiwa G30S/PKI. Sementara itu Taufiq Ismail dan DS Moeljanto dalam buku Prahara Budaya (1995) dan Katastrofi Mendunia (2004) menyodorkan bukti autentik tentang keterlibatan Lekra dalam tragedi sejarah tersebut. Terbitnya buku BJ Habibie, Detik-detik Yang Menentukan (2006) tentang peran Prabowo saat-saat reformasi juga menimbulkan perdebatan perihal sejarah kontemporer.

Peristiwa pemberontakan PKI memang fakta, tapi siapa saja dalang di balik peristiwa tersebut masih sering diperdebatkan. Buku Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai (1989) karya Soegiarso Soerojo, juga pernah menjadi perdebatan panjang. Bahkan, naskah asli Super Semar yang punya kaitan sejarah dengan pemberontakan PKI pun hingga kini tak jelas rimbanya. Akibatnya, opini tentang itu jadi makin melebar. Kepentingan politik telah membelahnya.

Memang, sejak reformasi bergulir, ada fenomena untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan berbangsa, termasuk dalam menyikapi masa lampau. Tetapi, sejarah adalah sejarah. Fakta yang terjadi di masa lampau tidak boleh dibelokkan untuk kepentingan pragmatis. Bagaimanapun, generasi penerus harus mengetahui jejak-jejak kehidupan bangsanya yang terburuk sekali pun. Di beberapa negara lain, dokumen rahasia yang merupakan bagian dari sejarah bahkan boleh diungkap setelah berumur 50 tahun. Artinya, ada tanggung jawab untuk meluruskan jejak sejarah yang mungkin masih buram.

Sejarah adalah bagian dari ilmu sosial yang sulit menemukan kemapanan. Untuk itu, wacana sejarah kontemporer perlu mendapat sandingan sehingga fakta lebih mudah dikukuhkan. Taufiq Ismail, dalam kedua bukunya di atas telah mengumpulkan puisi para aktivis PKI, seperti Kusni Sulang, Wong Tjilik, Subronto K. Atmodjo, Mawie, Sobron Aidit, T Iskandar AS, Setiawan Hs, Virga Belan, Nusananta, Agam Wispi, dan Tobaga. Di antara puisi-puisi mereka ada yang judulnya khas simbol sosialis, seperti Kepalaku Marxis, Diriku Leninis; Leningrad, Penerbangan Malam ke Leningrad, Peking, dan Tafakur kepada Lenin.

Puisi-puisi mereka dengan jelas mengarah pada terjadinya provokasi dan pemberontakan PKI, kebanyakan dimuat koran Bintang Timur yang diredakturi oleh Pramoedya Ananta Toer. Salah satu puisi karya Mawie berjudul Kunanti Bumi Memerah Darah yang ditulis 21 Maret 1965 telah menampakkan citra kekerasan PKI:

bulan arit di langit
cinta dan kasih
bergelimpangan di jalanan
mawar dan wajah
menanti bumi memerah


Melalui teks-teks sastra, sejarah dapat dikuak secara lebih baik. Tulisan-tulisan Pramoedya yang dimuat di koran Bintang Timur telah menjadi bukti tak terbantahkan aliran politik Pram. Teks sastra telah memberikan kesaksian pada zamannya. Itulah sebabnya Umar Kayam sangat tergoda untuk mengangkat peristiwa yang berkaitan dengan pemberontakan PKI ke dalam karya sastranya, seperti cerpen Sri Sumarah, Bawuk, Musim Gugur Kembali di Connecticut (1975), serta novel Para Priyayi (1992) dan Jalan Menikung (2000).

Dalam Para Priyayi, Umar Kayam memberi gambaran prototipe aktivis PKI lewat tokoh Retno Dumilah (Gadis) --anggota Gerwani-- yang keras, progresif, sengit, dan suka mengganyang lawan dan organisasi lain. Melalui tokoh ini kita tahu kecenderungan politik PKI yang keras sehingga menyeret tokoh Harimurti dalam keterpengaruhannya. Pada Bawuk, lewat tokoh Hasan dan Bawuk, juga dapat diketahui sepak terjang keorganisasian PKI hingga meletusnya pemberontakan di Madiun. Penggayangan oleh PKI ditulis pula oleh Satyagraha Hoerip lewat cerpen Pada Titik Kulminasi (1966).

Ahmad Tohari lewat novel Kubah (1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Jantera Bianglala (1986) dan Lintang Kemukus Dini Hari (1988) juga merekam peristiwa pemberontakan PKI lewat sisi kemanusiaan. Dalam Kubah terlihat sekali pemikiran dan provokasi tokoh Margo sebagai pengikut PKI yang menyeret tokoh Karman untuk ikut bergabung. Karakter Margo senada dengan Retno Dumilah dan Hasan pada karya Umar Kayam. Mereka adalah motor PKI.

Agak berbeda dengan sejarah, sisi kemanusiaan dalam tokoh sastra mendapatkan perhatian secara lebih utuh. Tokoh-tokoh yang menjadi korban sejarah mendapat penekanan. Tokoh Srintil, dalam tiga novel Ahmad Tohari yang disebut terakhir, adalah contoh figur yang menjadi korban permainan politik PKI, mirip seperti nasib tokoh Karman. Figur-figur yang mengalami keterpengaruhan PKI juga digambarkan Umar Kayam lewat tokoh Sri Sumarah, Bawuk, Harimurti, dan Eko.

Sisi kemanusiaan dalam kaitannya dengan pemberontakan PKI juga ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma lewat novel Kalatidha (2007). Dalam karya Seno ini bahkan dikisahkan hingga kejatuhan Soeharto.

Sastra memang memiliki kaitan erat dengan sejarah dan perpolitikan suatu bangsa. Pemberian hadian nobel sastra, sampai hari ini, masih ada kecenderungan untuk dikaitkan dengan hal tersebut. Itulah sebabnya meski sudah beberapa kali masuk nominator penerima hadiah nobel sastra, sampai akhir hanyatnya Pramoedya belum juga berhasil. Meski karyanya dinilai bagus, Pram juga dinilai memiliki hutang kemanusiaan ketika dia bergerak di dunia politik-kebudayaan yang pernah menindas sesamanya.

Posisi tokoh atau pelaku sejarah dalam kehidupan nyata mungkin akan sering berubah. Politik dan kekuasaan membuat mereka selalu dalam proses ketegangan. Pergantian posisi kawan dan lawan akan terus membelah wajah sejarah. Buku sejarah mungkin masih akan sering berubah. Tetapi, karya sastra yang telah merekam perjalanan wajah sejarah tak akan berubah. Itulah sebabnya, ketika sejarah terbelah, sastra akan jadi perekatnya.

* M Shoim Anwar, Sastrawan dan pengajar sastra

Sumber: Republika, Minggu, 20 Mei 2007

Sphere: Related Content

19 Mei 2007

Esai: Arsenal Utama yang Terlupa

Radhar Panca Dahana*


SEMBILAN tahun reformasi berlalu dan Orde Baru tumbang ternyata masih meninggalkan banyak pesimisme di berbagai kalangan. Kritik dan keluhan banyak dilontarkan pada merosotnya kemampuan produksi, daya saing, kreativitas, dan kualitas produk-produk unggulan negeri ini.

Biar tercatat sedikit kemajuan, ia tidak cukup signifikan untuk mengangkat standar hidup, terutama di kalangan rakyat kecil, ke tingkatan yang sama dengan negara-negara tetangga, bahkan pada level yang pernah dicapai pemerintahan Soeharto. Apa yang kini menjadi bahan keributan utama justru urusan-urusan politik, atau segala macam persoalan yang dipandang dari kepentingan politis.

Hal itu tak hanya membuat kita menderita mental "kalahan", sampai tak mampu berbuat apa-apa ketika beberapa potensi utama bangsa ini "dirampok" atau dipatenkan oleh pihak asing, di mana mereka mengomersialkannya secara global tanpa sisa keuntungan sedikit pun untuk kita.

Dominasi kepentingan politis itu membuat kita lupa pada satu kekuatan utama, yang—dalam sejarah panjang negeri ini—justru membuat bangsa mana pun respek, bahkan mengapresiasinya dengan kekaguman. Di kala semua komoditas ekonomi, sosial, dan politik kita mengalami inflasi di tingkat global, potensi inilah satu-satunya yang dapat mempertahankan nilai dan mutunya.

Mesti diakui, potensi dan produk yang satu ini pula yang selama ini berhasil menjaga wibawa, meningkatkan "harga", bahkan mendukung—langsung dan tak langsung—sukses diplomasi kita. Potensi itu tidak lain adalah karya kreatif, artistik pada khususnya. Kita menyebutnya karya seni dan kesenian.

Bahkan, sebelum negeri ini secara modern terbentuk dan diakui, kesenian negeri kepulauan ini telah sukses. Tak hanya menerima aplaus, tetapi juga menanam pengaruh yang tajam di beberapa seniman legendaris dunia. Sejak dari masa Raden Saleh, kekaguman Rabindranath Tagore (yang menolak menyatakan Borobudur adalah karya seni derivatif dari India), hingga Claude Debussy, Antonin Artaud, atau Peter Gabriel—antara lain—yang konsep-konsep jenial mereka "meminjam" atau dipengaruhi oleh kekaguman dan studi mereka pada kesenian di kepulauan ini.

Dan itu berlaku hingga hari ini.

Senjata budaya

Betapa pun, dahulu Soekarno—sebagai presiden pertama Indonesia—memiliki perhatian begitu besar pada kesenian. Begitu pun KH Abdurrahman Wahid, presiden keempat, memiliki keterlibatan kental dengan hidup kesenian. Akan tetapi, tetap saja seni sebagai sebagai "kekuatan"—kultural, ekonomis, juga politis—belum diperhitungkan dalam strategi besar kita dalam bernegara.

Berbagai kebijakan perihal kesenian hingga di kabinet "SBY", sebagaimana tertuang dalam kebijakannya di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, masih tetap melihat peran kesenian secara minor, jika tidak termarjinalisasi, dibandingkan sektor-sektor lainnya. Pemahaman akan kesenian lebih didominasi oleh pertimbangan ekonomis: sebagai salah satu sektor penghasil keuntungan finansial.

Pandangan tersebut tidak seluruhnya keliru. Namun, tentu, ia tidak harus menafikan potensi kesenian dalam menciptakan fungsi dan peran yang jauh lebih kuat dan lebih luas dari itu. Dibandingkan dengan nama-nama besar dalam dunia politik dan diplomasi kita, mulai dari Soekarno, Agus Salim, hingga Adam Malik, Soeharto hingga Gus Dur, dan presiden incumbent kita sekarang ini, banyak nama dalam kesenian Indonesia yang memperoleh penghargaan dan kehormatan setara di dunia internasional.

Katakanlah nama Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar (yang masuk dalam ensiklopedia resmi Perancis dan Rusia, misalnya), Mochtar Lubis, Rendra, Putu Wijaya, Sardono W Kusumo hingga belakangan Rahayu Supanggah, Garin Nugroho, dan masih banyak nama lagi. Penghargaan internasional banyak diraih tokoh-tokoh kesenian, bahkan di saat citra Indonesia—secara sosial, politik, dan ekonomi—terpuruk.

Itu pun belum memperhitungkan karya-karya kreatif lain yang bersifat kolektif dan anonim, baik yang modern, tradisional, maupun yang primitif. Dibandingkan dengan sektor-sektor hidup lain, bukti dan potensi ini sesungguhnya dapat menjadi kekuatan pendamping, bahkan senjata utama, dalam usaha diplomasi atau penegakan posisi tawar Indonesia di mata dunia.

Sayangnya, masih banyak pengambil kebijakan yang memandangnya sebelah mata. Itu karena mereka tak mengenalnya dengan baik atau telanjur terkena stigma negatif akibat latar historis seni yang buruk atau perilaku yang kadang terpandang "eks-sentris", urakan bahkan asosial.

Potensi raksasa

Satu hal lagi yang terlupa dari potensi kesenian sebagai produk budaya adalah kemampuannya dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara sangat signifikan. Hal ini terbukti di Inggris, negeri yang pada tahun 1990-an awal disebut sebagai "negara ketiga Eropa" secara ekonomis karena kekalahannya dalam industri berat, terutama setelah ekspansi macan-macan Asia, seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan India belakangan.

Tahun 1998, Pemerintah Inggris melakukan pemetaan yang komprehensif mengenai potensi ekonominya. Mereka menemukan ternyata sektor (industri) kreatif, termasuk musik—yang sampai 1997 dipandang sebelah mata—telah memberi sumbangan sangat signifikan dan pertumbuhan ekonomi mereka. Data itu membuat para pengambil kebijakan memberi fokus yang lebih kuat pada industri budaya tersebut.

Hasilnya, industri kreatif Inggris—seperti kriya, desain, busana, film, televisi, musik, seni pertunjukan, iklan, arsitektur—menciptakan pertumbuhan rata-rata 9 persen per tahun, tiga kali lebih pertumbuhan ekonomi nasionalnya yang hanya 2,8 persen. Tahun 2003 ia menyumbang 8 persen dari PDB Inggris (121,6 miliar pound) dan 15 persen dari nilai ekspornya. Ia menjadi sumber penghasilan kedua setelah jasa perbankan, dan merekrut tidak kurang dari dua juta tenaga kerja.

Di bagian lain dunia, kita tahu, bisnis serupa merupakan penghasil uang terbanyak di Amerika Serikat, setelah bisnis senjata. Di Singapura ia menyumbang 5 persen dari PDB dengan pertumbuhan annual 10 persen. Di Kolombia, 4 persen PDB dan jauh lebih tinggi dari produk unggulan mereka: kopi.

Di Indonesia, potensi itu begitu meraksasa. Bukan hanya karena pengenalan dunia pada kreativitas seniman kita yang tinggi dan penuh ide, tetapi juga fakta-fakta kecil, seperti 1.500 gerai pakaian independen ("distro") di Jakarta, Bandung, Yogya, Medan atau Surabaya, yang memberi penghasilan pada pengusaha muda hingga 75.000-100.000 dollar AS tiap bulannya.

Belum lagi kreativitas seniman muda kita dalam semangat DIY (Do It Yourself)-nya, yang juga mampu menembus pasar internasional di bidang game dan animasi. Bahkan, dalam permebelan global muncul merek Chamdani, perusahaan lokal yang semula bernama Alam Calamus.

Raksasa tidur

Contoh kecil di atas masih tak bisa menutupi kenyataan bagaimana sentra-sentra industri kreatif, kota-kota atau komunitas dengan kekayaan artistik dan produk budayanya, seperti batik, lukisan, patung, musik, seni pertunjukan, furnitur, hingga arsitektur, masihlah kembang kempis hidupnya, sebagaimana UKM pada umumnya.

Karya-karya mereka begitu kaya dan unik, tetapi selalu gagal pada tahap komersialisasi atau industrinya. Banyak yang kemudian menjadi korban pembajakan dan "perampokan" potensi ekonominya. Posisi mereka begitu lemah bahkan subordinat di antara kapital besar. Sementara bukan hanya birokrasi pemerintah, para elite, melainkan juga pihak swasta (perbankan antara lain) tak berhasil memandang kekuatan gigantik dari raksasa tidur itu.

Pihak kreator dan senimannya sendiri kerap bereaksi secara pasif dan defensif, seperti Putu Wijaya yang pernah menyatakan, "Biarlah mereka merampok satu-dua, bahkan sepuluh-dua puluh ide kita, karena kita masih menyimpan seribu dalam kepala." Sikap ini memang mengundang decak kekaguman walau juga menyiratkan kenaifan dan semacam kepasrahan.

Padahal, Putu sendiri, dengan gaya teatrikal eksperimental tahun 70-annya saja, masih mampu meraih penghargaan tertinggi dalam festival teater eksperimental internasional di Cairo, tahun lalu. Dan masih banyak putu-putu lain, yang tak cukup menyadari, betapa mereka sesungguhnya adalah panglima besar yang dapat menjadi loko bagi perkembangan bangsa ini di semua lini.

Karena, mereka memiliki satu hal yang khas: karya kreatif. Sebuah arsenal yang begitu utama, tetapi kita melupakannya. Maka, siapa pun jenderal dan prajurit negeri ini pasti menderita rugi bila mereka lupa diri dan tenggelam melulu dalam statistik serta indikator politik-ekonomi, yang sebenarnya sudah bisu dan basi.

* Radhar Panca Dahana, Sastrawan Tinggal di Tangerang

Sumber: Kompas, Sabtu, 19 Mei 2007

Sphere: Related Content

15 Mei 2007

Indonesia Bangsa yang Santun dalam Tradisi Berbahasa: Ritus Kehidupan di Festival Pantun Nusantara 2007

Jakarta, Kompas - Pada dasarnya bangsa Indonesia memiliki cita rasa yang tinggi dalam tradisi berbahasa. Bisa dipahami bila pada banyak daerah di Nusantara, tradisi kritik-mengkritik yang disampaikan pun tetap mempertimbangkan aspek kesantunan.


"Dalam konteks budaya Indonesia, salah satu sumber berbahasa dengan santun dapat diambil dari berbagai pantun sebagai inspirasi," kata Pudentia, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan, Senin (14/5), terkait rencana pergelaran Festival Pantun Nusantara 2007 dalam waktu dekat.

Festival itu sendiri, menurut Pudentia, akan dikemas sebagai seni pertunjukan dengan tema besar terkait ritus kehidupan. Sedikitnya 12 daerah sudah menyatakan siap berpartisipasi dengan tradisi berpantun mereka yang menggambarkan mulai dari saat manusia di kandungan hingga pantun-pantun yang tersaji pada upacara kematian.

Festival pantun ini merupakan salah satu program Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, bekerja sama dengan ATL; Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB-UI), serta para seniman yang akrab dan kerap mendukung kegiatan seni pertunjukan di Tanah Air.

Sumber keteladanan

Menurut Pudentia, pemerolehan berbahasa yang santun tidak dengan serta-merta dapat dilakukan dan didapatkan oleh seseorang. Sebab, kebiasaan sejak dini dan lingkungan sosial masyarakat akan banyak menentukan pola berbahasa seseorang.

"Bagaimana keefektifan bahasa sebagai sarana komunikasi akan berperan dalam penyampaian gagasan, pikiran, dan perasaan sudah terbukti dan tak perlu lagi diperdebatkan. Namun, yang perlu diingat, bahasa yang baik tidak saja karena konstruksi tata bahasanya benar, tetapi juga karena disampaikan dengan cara yang tepat, sesuai dengan situasi, kondisi, dan sasaran pembicaranya," papar Pudentia, yang sehari-hari adalah staf pengajar di FIB-UI.

Dalam beberapa tahun terakhir muncul gejala, dalam peristiwa politik, misalnya, masyarakat Indonesia mulai mengabaikan aspek kesantunan dalam menyampaikan pikiran dan gagasannya. Bahasa yang digunakan cenderung vulgar, bahkan terkesan kasar, jauh dari sifat dasar pola berbahasa orang-orang Indonesia pada umumnya yang penuh kesantunan.

"Festival pantun yang direncanakan digelar bulan Oktober nanti adalah salah satu upaya untuk mengingatkan kita semua bahwa sifat kesantunan dalam berbahasa itu ada di hampir setiap daerah di Nusantara," ujar N Riantiarno, dramawan yang ikut terlibat dalam persiapan festival ini.

Karena sifat kesantunan dalam ragam pantun Nusantara, kata Pudentia, apa yang diungkapkan pun hampir tidak pernah melukai hati meski yang itu dimaksudkan sebagai kritikan. Karena itu, tak aneh bila pantun dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.

"Menyampaikan gagasan, pikiran, dan perasaan dengan cara yang santun, tetapi tepat dan sekaligus indah dapat dijadikan sebagai salah satu kebanggaan bangsa, sekaligus juga kekuatan bangsa," kata Pudentia. (ken)

Sumber: Kompas, 15 Mei 2007

Sphere: Related Content

14 Mei 2007

Langkan: Gus tf Sakai di "Apresiasi Reboan" FIB UI

Kumpulan cerpen terbaru peraih Southeast Asian (SEA) Write Award tahun 2004 dari Indonesia, yaitu Gustrafizal—atau lebih dikenal dengan Gus tf Sakai (ketika menulis prosa) atau Gus tf (ketika menulis puisi)—akan diperbincangkan dalam forum Apresiasi Reboan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB UI). Perantau, yang merupakan kumpulan cerpen ke-4 Gus tf Sakai, akan dibahas oleh Sunu Wasono (pengajar FIB UI) dan Ibnu Wahyudi (pengajar FIB UI). Adapun Gus tf Sakai sendiri dijadwalkan akan hadir dan mengungkapkan proses kreatif maupun hal-hal yang bersinggungan dengan kumpulan cerpen terbarunya itu. Acara yang merupakan kegiatan rutin dua kali sebulan ini, yang diberi nama Apresiasi Reboan, kali ini terselenggara berkat kerja sama Program Studi Indonesia FIB UI dengan Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Untuk diskusi karya penerima penghargaan Hadiah Sastra Lontar tahun 2001, penghargaan Pusat Bahasa tahun 2002, penghargaan Sih Award dari Jurnal Puisi tahun 2002 itu dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Mei 2007, pukul 13.00-15.00, di Ruang Serbaguna II (Ruang 4101) FIB UI Depok. Diskusi terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. (*/ine)


Sumber: Kompas, Senin, 14 Mei 2007

Sphere: Related Content

13 Mei 2007

Sastra: Peluncuran Buku Puisi Aurelia Tiara

SEUSAI berkeliling ke beberapa kota untuk meluncurkan buku puisinya yang bertajuk Sub Rosa, penyair belia yang dikenal sebagai penggiat komunitas Bunga Matahari (milis para pecinta puisi), Aurelia Tiara Widjanarko, 24, mengenalkan karyanya khusus ke publik Jakarta, akhir pekan lalu.


Buku puisi setebal 174 halaman itu secara umum bertutur tentang cinta, yang dikelompokkan dalam enam bagian, yakni penemuan rasa, penjajakan, rindu, klimaks, ingkar, dan ikhlas. Setiap bagian dipisahkan dengan foto-foto artistiknya dalam balutan gaun panjang tanpa lengan. Uniknya, meski bertutur tentang cinta, Tiara tak menggunakan kata-kata yang indah dan puitis untuk menggambarkannya. "Yang terpenting adalah kejujuran dan bisa membuat orang yang membaca tergugah atau teringat pernah merasakan hal serupa," ujarnya.

Sub Rosa, menurut Aurelia, artinya di bawah bunga mawar. "Yakni, istilah untuk situasi pembicaraan yang bersifat rahasia ketika digantungkan bunga mawar pada pintu ruang pertemuan," ungkapnya. Dalam buku puisinya, Tiara juga menyisipkan kata berbahasa asing, seperti bahasa Latin dan Jawa yang sengaja tak diberinya keterangan arti.

Penyair asal Yogyakarta, Joko Pinurbo, yang diundang untuk membahas puisi-puisi ini menilai, penyair yang lulus pendidikan S-1 dengan predikat summa cum laude itu mempunyai orisinalitas karya. "Yang paling istimewa, saya tidak bisa melacak jejak penyair-penyair sebelumnya dalam karya Tiara," ungkapnya.

Joko mengungkapkan sebagian besar penyair muda Sering kali terinspirasi oleh penyair-penyair terkenal yang dikaguminya. Inspirasi itu akhirnya ikut larut dalam karya-karya penyair baru itu.

"Ia memiliki estetika tertentu yang menjadi acuan dan belum terkontaminasi estetika penyair senior," tambahnya. (Eri/R-2)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 13 Mei 2007

Sphere: Related Content

Kreativitas: Sastra Indonesia harus Melahirkan Ide-Ide Dunia

LINTAS pergaulan dunia sastra kita, sering kali terjebak pada lintas pergaulan sektoral. Ia hanya berbicara pada tataran domestik dan mengabaikan wilayah global sebagai sarana untuk memprovokasi sastra Indonesia ke dalam jangkar sastra dunia.


Masuknya sastra Indonesia ke lintas pergaulan sastra dunia, mau tak mau, harus dijadikan tolak ukur dan titik pijak akan keberhasilan sastra Indonesia.

Pikiran di atas dilansir Nugroho Suksmanto, pengusaha dan penulis buku cerita pendek Petualangan Celana Dalam dalam diskusi terbatas di University of Southern California, pekan silam. Nugroho Suksmanto yang didampingi sastrawan Triyanto Triwikromo, novelis Eka Kurniawan, dan penyair Edy A Effendi yang juga wartawan Media Indonesia, melihat realitas sastra sebagai sebuah industri, yang mau tak mau harus berkompromi dengan pasar dunia.

''Perspektif pergaulan sastra dunia ini, jika kita ingin berdiri sejajar dengan sastra dunia, para sastrawan Indonesia harus mempromosikan karya-karyanya ke dalam lajur sastra dunia. Tentu saja cara berpikir seperti ini, untuk keluar dari sangkar sastra Indonesia yang hanya berkutat pada isu-isu domestik tanpa mau menyentuh isu universal,'' tegas Nugroho.

Nugroho juga mengharapkan para sastrawan Indonesia harus melihat subjektivitas pembaca. Selama ini, ungkap Nugroho, para sastrawan melihat subjektivitas pribadi tanpa mau menjenguk keinginan pembaca. Pola seperti itu seolah-olah sastrawan tidak mau kompromi dengan pembaca. ''Padahal, pembaca sastra adalah bagian dari proses kreatif sastrawan.''

Acuan yang ingin digulirkan Nugroho, yaitu karya-karya sastra juga harus mampu membidik pasar dunia sebagai risiko agar karya-karya sastra Indonesia bisa berdiri sejajar dengan sastra negara lain. Pada titik itu para sastrawan harus berkompromi dengan ide-ide besar, ide universal, dan tidak masuk perangkap ide-ide sektoral.

Pikiran Nugroho dalam konteks yang lain, diamini sastrawan Triyanto Triwikromo. Triyanto yang juga wartawan Suara Merdeka membenarkan pikiran-pikiran yang digulirkan Nugroho Suksmanto.

Bagi Triyanto, sastrawan Indonesia harus melihat otonomi kreativitas tidak hanya kebebasan berekspresi secara individual, tapi ia juga harus mampu berkompromi dengan sektor lain, yakni sektor bisnis.

''Jika ada ide dari pengusaha agar sastra kita bisa masuk pasar dunia, ini tidak serta-merta membelenggu kreativitas sastrawan. Justru ide masuk pasar dunia itu perlu direspons sebagai bagian dari upaya penyebaran wilayah bacaan,'' ungkap Triyanto.

Triyanto menganggap para sastrawan sudah seharusnya membidik pasar dunia jika karya-karya yang tercipta ingin masuk lintas pergaulan dunia. Dan tentu saja, jangan selalu melihat sumir, jika ada para pebisnis masuk dunia sastra.

''Kita harus melihat niat baik pengusaha atau pebisnis. Saya yakin, toh mereka tidak akan mengerangkeng ide-ide kreatif kita. Para pengusaha itu sekadar memberi ruang lain dalam peta sastra Indonesia, agar masuk pasar sastra dunia,'' tegas Triyanto.

Menjemput isu

Gagasan Nugroho dan Triyanto juga didukung novelis Eka Kurniawan. Eka melihat para sastrawan memang harus membuka banyak kemungkinan masuk sastra dunia. Dan, salah satu cara masuk sastra dunia, yaitu dengan mencoba membuka pasar sastra ke dalam jantung sastra dunia. Upaya membuka pasar dunia itu, menurut Eka, salah satu caranya dengan mencoba menjemput isu-isu dunia dengan mengusung gagasan besar yang tidak terpaku dalam wilayah domestik semata.

''Gagasan-gagasan besar itu berkaitan erat dengan persoalan-persoalan universal, yang memiliki tata nilai dunia, bukan tata nilai lokal. Dan, jika ada tata nilai lokal, sebaiknya dijadikan pendamping untuk masuk tata nilai dunia,'' papar Eka.

Penulis novel Lelaki Harimau itu melihat perjalanan para sastrawan ke Los Angeles, Las Vegas, California, dan San Fransisco itu, sebagai upaya untuk melihat lebih dekat realitas pasar sastra dunia. Sebuah pasar yang harus dijadikan pembanding untuk melahirkan karya-karya berkelas dunia.

Di sisi lain, menurut Edy A Effendi, realitas pasar sastra, mau tak mau, harus dijadikan poros utama dalam menembus realitas pasar dunia. Selama ini, para sastrawan Indonesia terjebak dalam lingkar pergaulan domestik dan tidak mau melihat realitas pergaulan dunia.

''Salah satu hambatannya adalah kemampuan bahasa. Harus diakui kemampuan bahasa untuk melihat realitas karya-karya dunia, memang menjadi satu persoalan. Sementara itu, ada beberapa kawan yang sudah masuk lintas pergaulan sastra dunia, tapi tidak mampu menciptakan ruang-ruang baru bagi sastrawan yang lain,'' tegas Edy.

Dari sudut itulah, Edy melihat harus ada cara baru untuk membongkar kebekuan sastra Indonesia. Sebuah cara melihat sastra tidak hanya pada isu-isu lokal, tapi ia juga mampu menyeret isu-isu global dalam kerja kreatifnya. ''Sastrawan harus melahirkan ide-ide besar, ide-ide dunia," tegas Edy. (Chavchay Saifullah/R-2)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 13 Mei 2007

Sphere: Related Content

Esai: Risiko Kritik(us)

Aminudin TH Siregar*


TULISAN Bre Redana dan Afrizal Malna yang dimuat dalam harian ini (Kompas, 6 Mei 2007) sama-sama mempermasalahkan peran dan fungsi kritik(us) seni atau boleh dibilang keduanya tengah mempertanyakan kemerosotan "aura" (pamor) kritik seni. Menurut Bre, dibalik agresivitas pasar mengonsumsi karya-karya seni rupa kontemporer, diam-diam posisi kritikus jadi dilematis. Bre curiga, pasar sesungguhnya tidak membutuhkan acuan dari seorang kritikus, sebab pasar sanggup berjalan dengan logikanya sendiri.

Sementara, kritikus cenderung merayakan pasarnya, yaitu "pasar wacana" yang berbeda kepentingan dengan "pasar" dalam arti sesungguhnya. Di lain pihak, Afrizal Malna berkeluh kesah tentang transformasi peran kritik seni sebagai promotor seni. Kritik seni, demikian Afrizal, menjadi lipstik untuk karya yang dipuji dan menjadi comberan untuk karya yang dianggap buruk.

Baik Afrizal maupun Bre kemudian mencium gelagat bahwa kondisi seni rupa kita sekarang belum bisa keluar dari kungkungan pasar. Yang berbahaya, dalam situasi demikian, kritikus mau tidak mau harus tunduk pada kepentingan pasar.

Oleh karena itulah, pertanyaan esensial yang diajukan oleh keduanya: apakah peran kritik(us) seni di zaman komersialisasi-komodifikasi seni dewasa ini? Alih-alih menjawab peran maupun fungsi kritik seni, saya lebih tertarik untuk mendiskusikan soal bagaimana seseorang menjalani hidup sebagai kritikus di tengah perubahan konstelasi maupun infrastruktur seni rupa sekarang ini.

Afrizal agak benar ketika menyebutkan bahwa kritik yang menjelma ke dalam "jurnalisme gaya hidup" condong bersikap kurang adil, sebab lebih mengutamakan seniman selebritas. Padahal, sejatinya kritik seni menyasar pula ke relung medan seni rupa di lapis bawah. Namun, inilah kiranya, hemat saya, risiko yang dihadapi oleh kritikus kontemporer yang berhadapan dengan perubahan dalam paradigma seni yang begitu cepat.

Menjalani hidup sebagai kritikus saat ini tidak lagi berhadapan dengan medan sosial seni yang sederhana, sebagaimana yang dihadapi oleh, misalnya, generasi S Sudjojono maupun Trisno Sumardjo. Meskipun demikian, bobot permasalahannya boleh jadi sama-sama rumit. Satu hal yang kentara jelas, di masa S Sudjojono cakupan mediasi seni jauh lebih variatif dan hubungan-hubungan antarjenis kesenian masih bisa disatukan dalam satu majalah. "Tradisi" kritik kita mulanya dibangun melalui komunikasi interdisiplin.

Kita pun tahu sejumlah terbitan majalah seni budaya pada masa itu siap menampung tulisan-tulisan kritik, begitu pula surat kabar umum yang sesekali disisipi tulisan tentang seni rupa. Kita kenang majalah Zenith, Indonesia, Budaja, Siasat, Seni, Seniman atau Mimbar Indonesia, dan banyak lagi. Berbeda dengan peluang kritikus untuk menulis di segelintir media massa yang kita miliki sekarang di mana kritikus pun harus rela antre agar tulisannya bisa dimuat di sebuah koran nasional, sebab setiap koran atau majalah sudah memiliki penulis yang otomatis mengambil peran kritikus. Kalaupun kelak tulisan kritik tersebut dimuat, kritikus pun geleng-geleng kepala menghitung kecilnya jumlah bayaran yang diterima.

Kondisi yang payah ini tak ayal membuat kritikus beralih ke profesi lain yang kini makin terkenal, yaitu kurator. Tentu saja, dari segi ekonomis, menjalani hidup sebagai kurator jauh lebih layak.

Pendek kata, merosotnya jumlah kritikus di Indonesia antara lain disebabkan kecilnya ruang mediasi yang kita miliki sekarang dan minimnya pendapatan ekonomis. Belum pernah ada dalam sejarah di Republik ini yang mengabarkan kelayakan hidup seorang kritikus seni dibandingkan seniman. Sejarah lebih sering mengabarkan keperihan hidup seorang kritikus.

Kita tentu ingat almarhum kritikus Trisno Sumardjo. Sampai-sampai pelukis Nashar, Rusli, dan Zaini pada tahun 1970-an berinisiatif menggelar pameran yang hasil penjualannya kelak dimanfaatkan untuk memperbaiki makamnya. "Kalau tidak mau TBC", kata S Sudjojono dulu, "jangan jadi seniman!" Kredo ini bisa berlaku untuk kritikus sekarang. "Kalau tidak mau TBC, jangan jadi kritikus!"

Krisis kritisisme semacam ini sempat melanda seni rupa Amerika beberapa tahun silam. Kritisisme di Amerika mengalami kemerosotan pasca-Clement Greenberg. Setiap surat kabar maupun majalah sudah memiliki penulis internal. Lalu, jurnal-jurnal seni rupa seolah diperuntukkan khusus untuk kritikus terkenal. Bayaran yang diterima kritikus pun relatif kecil untuk menyambung hidup selama sebulan. Persis dengan situasi di Indonesia, tidak heran kalau berbondong-bondong kritikus menjelmakan dirinya sebagai kurator.

Belum lagi, "kritikus-kritikus sejati" kini berhadapan dengan "kritikus medioker" yang hanya numpang sesaat menulis di surat kabar nasional atau majalah. Bisa dikatakan, meneruskan nalar Afrizal, setiap orang hari ini bisa tiba-tiba menjadi kritikus sebagaimana tiba-tiba seseorang menjadi seniman dan dibaptis oleh media massa, dirayakan oleh kilau gaya hidup.

Saya paham bahwa alasan di balik fenomena kritikus medioker adalah premis-premis yang menginginkan terciptanya egaliterisme dalam dunia seni rupa. Premis ini bertolak dari pemikiran bahwa dunia seni rupa adalah dunia elitis, menara gading. Salah satu biang keroknya yang sering disasar tak lain adalah akademi-akademi seni rupa. Namun, implikasinya, terciptanya situasi egaliter sekarang membuat kita akan selalu bertemu dengan tulisan-tulisan kritik yang medioker tersebut.

Situasi sekarang membuat kita tidak tahu lagi, mana kritik yang baik, mana kritik yang sifatnya review, mana kritik yang tidak berbekal pemahaman seni rupa. Nah, sebenarnya pada titik ini terasa ganjil kalau Afrizal Malna menilai lemahnya peran akademi dan penelitian menghadapi fenomena perkembangan seni rupa. Dari perspektif akademi, bagaimanapun juga perkara demikian lagi-lagi akan menciptakan sikap dilematis alias serba salah. Bukan, tidak mustahil, kembali dominannya para kaum akademis dalam medan sosial seni akan memunculkan kecemburuan dan kecaman dari publik seni. Tetapi, mau tidak mau demikianlah situasinya.

Sudah sepantasnya publik seni rupa tidak harus menuntut peran dan fungsi kritik(us). Keberanian untuk menjalani hidup sebagai seorang kritikus di zaman sekarang saja sudah merupakan sesuatu yang luar biasa.

* Aminudin TH Siregar, Kurator Galeri Soemardja

Sumber: Kompas, Minggu, 13 Mei 2007

Sphere: Related Content

Si Binatang Jalang dan Sang Maestro

Wahyudin*


PADA Jumat siang, 18 April 1949, ketika Chairil Anwar dikebumikan di pekuburan Karet, Affandi tengah meradang dan menerjang di hadapan sosok Si Binatang Jalang yang belum rampung tergurat di sepotong terpal becak yang meranggas di bekas sebuah garasi di kompleks Taman Siswa, Jalan Garuda 25, Jakarta. Itu sebabnya, pelukis itu absen di pemakaman penyair yang meninggal pada usia 27 tahun itu.

Kata dia kepada Nasjah Djamin—yang di kemudian hari mengutip perkataan ini dalam bukunya, Hari-hari Akhir Si Penyair (Pustaka Jaya, 1982: 52): "Saya tidak ikut tadi mengantarnya ke Karet, Dik! Dari CBZ (Centraal Burgerlijk Ziekenhuis—sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta) saya terus pulang. Untuk menyiapkan tarikan terakhir pada lukisan Chairil, sebab saya takut besok lusa saya tak menemukan lagi ke-Chairilannya Chairil."

Tak lebih dari dua babak pertandingan sepak bola, lukisan itu pun kelar. Tampak di dalamnya Chairil Anwar menerpa dengan mata merah menyala bak kuda jantan yang tergasang paha-paha putih-pasi perempuan malam. Affandi memberikannya judul Chairil Anwar (1949). Pada hemat saya, lukisan itu merupakan sebuah dokumen visual terbaik tentang sang penyair yang pernah dibuat oleh seorang kampiun seni lukis Indonesia modern.

Pasalnya, lukisan itu menggurat tidak hanya makna ekspresif berupa kehendak sang pelukis mengentalkan ingatannya akan sang penyair, tapi juga santir rupa yang cergas perihal sang penyair sebagai Si Binatang Jalang, seperti yang berkumandang dalam sajak "Aku" (1943): "Kalau sampai waktuku/ ’Ku mau tak seorang ’kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedu sedan itu/ Aku ini binatang jalang ...."

Domestikasi


Kini, lukisan itu berada di tangan Chris Dharmawan, arsitek dan pemilik Galeri Semarang, Jawa Tengah, setelah sebelumnya menjadi koleksi pengusaha Jusuf Ronodipuro selama lebih-kurang dari empat dasawarsa. Pada titik ini, secara aksiologis, lukisan itu mengalami domestikasi—yang menyembunyikannya dari penglihatan publik—dan karena itu membuatnya diam ditekan dan tercekik kesunyian.

Apa boleh buat. Mungkin itulah nasib—dan nasib adalah kesunyian masing-masing, kata Chairil Anwar dalam sajak "Pemberian Tahu" (1946)—yang harus dipikul oleh tidak hanya lukisan itu, tapi juga lukisan-lukisan Affandi lainnya yang terdomestikasi di rumah-rumah mewah para kolektor seni rupa di dalam dan luar negeri.

Bagaimanapun, lukisan itu telah membuktikan bahwa Chairil Anwar merupakan sosok penting yang mendapat tempat terhormat dalam kehidupan Affandi—dan ini seolah-olah menjawab permintaan sang penyair kepada sang pelukis, seperti tersurat dalam salah satu larik sajak "Kepada Pelukis Affandi" yang bertitimangsa 1946: "... berilah aku tempat di menara tinggi, di mana kau sendiri meninggi."

Tapi, lebih dari sekadar permohonan, larik sajak itu mengikhtisarkan pengakuan sang penyair terhadap reputasi sang pelukis—sebentuk ungkapan takzim yang merendah-hati—sekalipun pada waktu itu ia telah tersohor sebagai "Si Binatang Jalang dari kumpulannya terbuang" yang "hilang sonder pusaka, sonder kerabat"—dan karena itu "tidak minta ampun atas segala dosa, tidak memberi pamit pada siapa saja." Tapi tidak pada Affandi—yang menjelmakan ke dalam dirinya harkat dan martabat seorang pemeluk teguh ekspresionisme "atas keramaian dunia dan cedera, lagak lahir dan kelancungan cipta," sehingga "gelap-tertutup jadi terbuka".

Di sinilah, saya kira, Affandi dan Chairil Anwar saling mempertautkan diri sebagai pemeluk teguh dan pengusung aliran ekspresionisme dalam seni lukis dan sastra Indonesia modern. Selain itu, mereka bertautan dalam perkara membaca suratan takdir—terutama yang berkenaan dengan maut. Pada Chairil Anwar maut mengental-pekat dalam sajak-sajaknya. Misalnya, "Yang Terampas dan Yang Putus"—di mana ia menulis larik magis ini: "... di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru dingin", seolah-olah ia sudah tahu bahwa di pekuburan itulah ia akan berkalang tanah pada 1949.

Sedangkan pada Affandi maut menyelubung nyesak di antara lukisan-lukisan potret dirinya yang bertarikh 1980-an. Sebutlah, misalnya, Ayam Mati dan Potret Diri (1986) dan Hampir Terbenam (1987)—yang mengisyaratkan dengan pedih nasib seorang pelukis kenamaan di bawah bayang-bayang maut pada senja usia. Kenyataannya, tiga-empat tahun kemudian, setelah mengikutsertakan kedua lukisan tersebut dalam pameran retrospektif di Jakarta, pelukis itu tutup usia dalam umur 83 tahun.

Modal spiritual

Mungkin itu sebabnya, ada yang memercayai keduanya sebagai individu-individu jenius dengan keahlian elite—yang tidak hanya memiliki modal simbolik, tapi juga modal spiritual untuk meramal ajal masing-masing. Kini, keduanya telah diam dan sendiri di pusara masing-masing. Tapi ada yang selalu bisa diucapkan tentang keduanya—yang namanya selalu lekat dalam sanubari anak-anak sekolah dari Sabang sampai Merauke. Sangat mungkin bahwa tidak ada nama penyair dan pelukis Indonesia yang seterkenal nama Chairil Anwar dan Affandi di kalangan anak-anak sekolah di negeri ini.

Bahkan, seperti pernah dikemukakan Sapardi Djoko Damono, beberapa larik sajak Chairil Anwar telah menjelma semacam pepatah atau kata-kata mutiara: "Sekali berarti sudah itu mati", "Hidup hanya menunda kekalahan", "Kami cuma tulang-tulang berserakan", dan "Aku mau hidup seribu tahun lagi"—yang belum lama ini telah menginspirasi perupa Agus Suwage untuk menggelar pameran potret diri tokoh-tokoh besar dunia—termasuk, tentu saja, potret diri Chairil Anwar—yang bertajuk I/Con di Galeri Nadi, Jakarta.

Sedangkan lukisan-lukisan Affandi, khususnya yang tersimpan di museum pribadinya di tepi Sungai Gajah Wong, Yogyakarta, sekalipun tak selalu ramai, tak luput dikunjungi oleh masyarakat dari dalam dan luar negeri—tak terkecuali kunjungan para pelajar dari berbagai penjuru negeri ini pada musim liburan sekolah.

Kenyataan itu, mengambil-alih kata-kata Sapardi Djoko Damono, tentu tidak membuktikan bahwa kebanyakan anggota masyarakat kita telah menekuni sajak-sajak Chairil Anwar dan menelaah lukisan-lukisan Affandi—juga belum menunjukkan bahwa pemahaman dan penghargaan masyarakat kita terhadap sastra dan seni rupa telah tinggi. Namun, setidaknya ia mengungkapkan bahwa sajak-sajak Chairil Anwar dan lukisan-lukisan Affandi sudah mendapat tempat di tengah masyarakat.

Saya kira, pernyataan itu cukup beralasan, terutama bila kita menempatkannya untuk Affandi. Sudah jadi pengetahuan umum bahwa lukisan-lukisan sang maestro berharga ratusan juta rupiah di pasar seni rupa. Tapi ironisnya, sampai sejauh ini, telaah dan kajian mendalam tentang lukisan-lukisan Affandi dan riwayat hidupnya sebagai seorang maestro seni lukis Indonesia modern masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.

Kenyataan itu memang bukan milik Affandi semata, tapi juga berlaku untuk hampir semua kampiun seni lukis di negeri ini. Apa mau dikata: Ia sudah dapat tempat, tapi belum dicatat.

* Wahyudin, Kurator Seni Rupa, Tinggal di Yogyakarta

Sumber: Kompas, Minggu, 13 Mei 2007

Sphere: Related Content

Wacana: Menuju Komunitas Sastra-Budaya Nusantara

Viddy AD Daery*


KOMUNITAS Sastra Indonesia (KSI) sudah banyak dikenal. Tapi, apakah sudah ada yang mengenal keberadaan komunitas sastra-budaya Nusantara?

Sudah dapat dipastikan tidak ada yang tahu, karena sebenarnya secara de jure terbentuk. Tetapi, secara de facto, komunitas yang mencoba menggalang hubungan timbal-balik dan kerjasama sastra dan budaya Nusantara itu sudah ada. Hanya saja belum mempunyai wadah resmi secara organisatoris.

Ide untuk membentuk semacam jaringan atau komunitas sastra se Nusantara (baca: Asia Tenggara) sebenarnya sudah sempat mengemuka di kalangan pengurus KSI. Pembentukan komunitas -- yang idenya bermula dari penyair Ahmadun Yosi Herfanda -- itu bahkan sudah menjadi agenda penting Jambore Sastra Asia Tenggara yang rencananya akan diadakan tahun 2006 di Pantai Anyer, Banten. Tapi, acara itu tertunda oleh Pilkada Banten 2006, dan sampai saat ini belum diagendakan kembali.

Kebetulan sekali, pada 25-28 Mei 2007, di Medan akan digelar The 1st International Poetry Gathering, yang mayoritas pesertanya berasal dari negara-negara di wilayah Nusantara. Kiranya sangat tepat, kalau pada acara yang dilaksanakan oleh Laboratorium Sastra Medan itu juga diagendakan pembetukan semacam jaringan atau komunitas sastra-budaya se Nusantara.

Misalnya, disepakati nama dan pengurus inti atau formaturnya dulu, lalu dideklarasikan. Sedangkan kelengkapan pengurus, program dan tetek bengeknya, sesuai usul Ahmadun, bisa dimatangkan dalam 'kongres pertama' (misalnya, Kongres Komunitas Sastra-Budaya Nusantara I) yang kita harapkan dapat dilaksanakan di tengah Jambore Sastra Asia Tenggara di Anyer, Banten, yang juga kita harapkan dapat direalisir pada tahun 2008.

Wilayah Nusantara tentu tidak hanya Indonesia. Wilayah Nusantara atau yang disebut oleh pujangga penyair besar zaman Mojopahit, Empu Prapanca, sebagai Wilayah Yang Delapan dimulai dari Tanah Genting Kra sampai Pattani (kini disebut Thailand selatan), lalu Hujung Medini (kini Malaysia bagian Semenanjung), Temasik (kini Singapura ), Baruna Dwipa (kini menjadi wilayah Brunei, Sabah-Malaysia, Labuan-Malaysia dan Kalimantan-Indonesia).

Selanjutnya, adalah Sulu dan Manila (kini Filipina), lalu Timor (kini Timor Leste dan Timor-Indonesia), dan keseluruhan wilayah Indonesia tanpa kecuali. Saat dikuasai oleh Majapahit, keseluruhan wilayah itu diberi nama Nusantara atau Dwipantara. Jadi, wilayah Nusantara hampir meliputi sebagian besar wilayah Asia Tenggara.

Konsep kewilayahan Nusantara itu tidak banyak diingat oleh kebanyakan orang Indonesia. Tetapi, para budayawan-sastrawan Malaysia, Singapura, Brunei dan Thailand, serta sedikit dari Filipina Selatan (Mindanao), sangat mengenal dengan baik konsep kenusantaraan itu.

Karena itulah, dalam setiap pertemuan antar mereka yang diadakan secara patungan dan sistem gilir-arisan di negara-negara mereka, tanpa risih mereka memakai istilah Nusantara. Padahal, bagi mereka yang non-Indonesia, sebenarnya istilah Nusantara mempunyai konotasi masalalu yang kurang enak, karena identik dengan penjajahan politik Jawa-Majapahit terhadap bangsa-bangsa Nusantara.

Tetapi, mungkin karena mereka kini adalah bangsa-bangsa yang kaya dan terhormat, maka tak merasa risih dan jengah kepada mantan 'penjajah mereka' yang kini jatuh miskin dan bodoh, akibat selalu menjatuhkan diri secara pasrah mirip keledai ke dalam jajahan para pemimpinnya sendiri yang berjiwa kerdil dan korup.

Bahkan, saking berjiwa besarnya para tetangga itu, pada PSN (Pertemuan Sastrawan Nusantara) XIV pada Juli 2007 nanti, yang direncanakan akan berlangsung di Alor Star, Negara Bagian Kedah, Malaysia, salah satu makalah yang dipesan mereka adalah Membicarakan Kembali Gajah Mada, Pahlawan Agung Nusantara. Karena, tema utama pertemuan internasional itu memang Maha Wangsa atau bangsa yang gagah perkasa.

Mungkin karena mereka sadar, bahwa Gajah Mada tidak hanya menjajah, melainkan juga mendidik mereka menjadi bangsa yang berperadaban maju, dan mereka sadar, ketika Jawa sudah menjadi kota yang canggih dan beradab, kota-kota besar Malaysia masih berupa hutan. Pemukiman mereka kebanyakan hanya di pantai-pantai nelayan, dengan istana kesultanan yang ringkih dan mudah terbakar.

Kondisi itu bahkan berlangsung sampai abad ke-17 M, seperti digambarkan oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dalam karyanya, Pelayaran Abdullah ke Kelantan.

Toh, sekarang keadaannya terbalik total. Murid yang dulu banyak berguru ke Majapahit, bahkan di zaman Orba masih banyak mahasiswa Malaysia yang belajar di Indonesia, kini menjadi bangsa maju dan kaya, dengan kota-kota indah dan cantik bersih, karena sistem gotnya yang bagus dan besar ala Amerika.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan mantan gurunya yang bodoh, kota-kotanya becek dan banjir tiap hujan, akibat sistem gotnya yang cethek dan penuh sampah.

Aktivitas jaringan sastrawan Nusantara yang ada, yang biasanya diaktifkan oleh Gapena Malaysia di bawah pimpinan Prof DR Tan Sri Datuk Ismail Hussein, kini agak meredup. Sudah menjadi hal yang biasa, bila sang pimpinan sudah sepuh, generasi penerusnya belum tentu mau melanjutkan usaha mulia yang telah dirintisnya.

Bahkan, mereka yang berada di bawah bimbingan Tan Sri, kini mulai merasa pintar, dan mulai berani melontarkan kritik. Padahal, apa yang diperbuatnya secara pribadi sangat jauh sedikit dan tidak banyak artinya dibanding keringat dan air mata sang pemimpin.

Maka, sangat diperlukan 'penerima tongkat estafet baru' dari komunitas sastrawan Nusantara itu yang akan melanjutkan usaha mulia Tan Sri Datuk Ismail Hussein.

Kebetulan, The 1st International Poetry Gathering di Medan akan diikuti sekitar 100 penyair dan sastrawan dari berbagai negara di Nusantara. Selain dari Indonesia, ada yang dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan dan Thailand selatan.

Komitmen mereka yang luar biasa terhadap persaudaraan Nusantara perlu diresmikan dengan pembentukan wadah secara nyata dalam organisasi nirlaba serumpun, semacam komunitas sastra-budaya Nusantara.

Pencantuman unsur budaya disamping sastra adalah untuk memperluas wilayah cakupan kegiatan, karena sastra tanpa budaya akan sangat miskin dan kering, dan selama ini mau tidak mau, sastra akan banyak bersentuhan dengan unsur kebudayaan secara luas.

Bahkan, dalam Perhimpunan Penulis Muda Nasional 2005 yang berlangsung di Pontian, Johor, Malaysia, yang sebagian dari tokoh-tokoh pentingnya akan hadir dalam acara di Medan tersebut, ada budayawan muda bernama Rahimiddin Zahari, yang melontarkan kerisauannya karena unsur budaya banyak diterlantarkan oleh para penulis muda Malaysia.

Rahimiddin mengajak penulis generasi baru untuk memperkaya wawasan dengan mengenal budaya sendiri, budaya lokal yang kaya dan tinggi mutunya.

Bagi Indonesia, acara di Medan itu adalah momMient yang tepat, karena dilantiknya DR Mukhlis PaEni sebagai Dirjen Kebudayaan telah membawa angin segar dengan kebijakan yang berkomitmen pada kebudayaan lokal.

Beberapa langkah pentingnya, antara lain memberi santunan tetap tiap bulan kepada empu-empu kebudayaan lokal Indonesia, dan kemudian akan memberi uang pensiun kebudayaan kepada budayawan Indonesia.

Di Malaysia, Brunei dan Singapura, hal itu sudah biasa dan sudah lama dilakukan oleh pemerintah, karena pemerintah di sana berpendapat, bahwa budayawan adalah penjaga roh bangsa. Tanpa penjagaan, kebudayaan suatu bangsa akan tergerus dan akhirnya akan musnah, seperti yang sedang terjadi di Indonesia.

* Viddy AD Daery, Sastrawan, pekerja televisi

Sumber: Republika, Minggu, 13 Mei 2007

Sphere: Related Content

11 Mei 2007

ASA cetak 11 buku sastrawan Aceh

Juni 18, 2007 ¡¤ Disimpan dalam KLIPING

ARF News Jum`at, 11 Mei 2007

Lhokseumawe, acehmagazine.com

Aliansi Sastrawan Aceh (ASA) mencetak sedikitnya 11 buku karya sastrawan Aceh. Dari 10 buku tersebut, tiga di antaranya biografi dari tiga sastrawan tersohor di Aceh yang hilang dalam musibah tsunami dan meninggal dunia.

Humas ASA, Mira Miranda kepada acehmagazine.com, Jumat (11/5) menyebutkan, ¡±Tiga Buku biografi sastrawan Aceh yang telah mendahului kita adalah ¡°Restu Penyair¡± karya A.R Nasution (Dev Vareyra), ¡°Yang¡±, karya M. Nurgani Asyik, dan ¡°Luka Poma¡±, karya Maskirbi.

Sedang, tujuh buku lainnya yang di cetak adalah Antologi Cerpen ¡°Orang-Orang Pos 327¡å, karya MN.Age, Antologi Puisi, ¡°Tarian Cermin¡± karya Mustafa Ismail,

kumpulan essei ¡°Sastra dan Problematikanya di Aceh¡± karya Mukhlis A. Hamid, MS, Novel ¡°Romansa Taman Cinta¡± karya Arafat Nur, Hikayat ¡°hikeumah Tsunami¡± karya Ameer Hamzah dan Roman ¡°haba Angen Pot¡± karya Hasbi Burman.,Serta Hikayat ¡°semangat Aceh¡± karya hilmi hasballah

Buku kesebelas yang di cetak ASA adalah antologi puisi ¡°The Sadness Song ¡° (Nyanyian Miris) karya Doel CP Allisah. ¡°Kita cetak dalam dua

bahasa, Indoensia dan Inggris,¡± ujarnya. Buku ini merupakan kerjasama ASA dengan Dewan Kesenian

Banda Aceh. ¡°Kita harapkan ke 11 buku ini dapat diluncurkan awal Juli mendatang,¡± paparnya.

Kata Mira, kesepuluh buku yang disebutkan tadi adalah swadaya Aliansi Sastrawan Aceh dan ikut didukung bantuan dana dari Direktorat Budaya BRR Aceh - Nias.,Sebelumnya ASA juga telah menerbitkan Buku Antologi Sastrawan Aceh + Medan + Jakarta Dengan Judul ¡°Lagu Kelu¡± bekerjasama dengan Japan Net-Tokyo (2005), serta Biografi Sastrawan Hasyim.KS ¡°serdadu tua nguyen polan¡± (2006) bekerjasama dengan Dewan Kesenian Aceh. ASA Juga menerbitkan buku puisi pilihan Penyair Aceh Hasbi Burman yang berjudul ¡°Suatu Malam Di Rex¡± (april 2007)

[M. Sambo]

http://aliansisastrawanaceh.wordpress.com/2007/06/18/asa-cetak-11-buku-sastrawan-aceh/

---------------------------------------------------------------------

http://aliansisastrawanaceh.wordpress.com/2007/08/03/the-sadness-song/

Judul : The Sadness Song (Nyanyian Miris)

Penerbit : Aliansi Sastrawan Aceh/Dewan Kesenian Banda Aceh

Pengantar : Ahmadun Yosi Herfanda (Redaktur Budaya Republika)

AS.Atmadi (Redaktur B-Wacth Magazine)

Mustafa Ismail (Redaktur Seni Koran Tempo)

Idris Pasaribu (Redaktur Budaya Analisa)

Sambutan : Zulfikar Sawang,SH (Dewan Kesenian Banda Aceh)

Penterjemah : Jakarta House Publishing dan Debra Yatim

Layout : Erwinsyah

Desain Cover : T.Afeed ¨C Myblue Design

Sket wajah/Photo : Round Kelana dan Nani.HS

Edisi/KDT : Juli 2007 ¨C ISBN 978-979-16308-1-8

Ukuran buku : 15 x 18,5 CM, 387 Halaman

Aliansi Sastrawan Aceh (Aceh Writers Alliance) berkerjasama dengan Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB), akhirnya berhasil menerbitkan kumpulan puisi penyair Aceh, Doel CP Allisah. Buku dwibahasa (Inggeris ¨C Indonesia) yang di beri judul The Sadness Song (Nyanyian Miris) setebal 387 halaman ini, merupakan antologi puisi Doel, yang berisikan 103 sajak-sajak yang telah pernah terbit di berbagai media di Indonesia dan Malaysia.

Ke 103 puisi ini merupakan, karya-karya Doel dari tahun 1976 sampai 2006. yang mengangkat berbagai tema dan warna, baik itu persoalan cinta kasih, ketuhanan, konflik dan berbagai tragedy berdarah di tanah Aceh.

Buku bersampul biru, yang dicetak luks ini, sejak mulai penyiapan layout dan cover di siapkan di Aceh dan kemudian di cetak oleh sebuah percetakan nasional di Jakarta.

Menurut humas ASA Mira Miranda, buku ini secara informal telah di luncurkan atas inisiatif Novelis Golagong dan Firman Vanayaksa dari Jaringan Rumah Dunia , disela acara Temu Komunitas Sastra se- Nusantara ¡°Ode Kampung 2¡± di Ciloang-Serang, Banten (21/7/07). Dan pada kesempatan itu juga, ASA menyumbang sekitar 30 buku untuk dijual dan disumbangkan untuk kas Rumah Dunia. Masih menurut Mira, buku ini nantinya akan diluncurkan secara resmi oleh Dewan Kesenian Aceh dan ASA. Buku tsb dalam minggu ini sudah dapat diperoleh di berbagai toko buku di Aceh, dan untuk luar Aceh akan di edar oleh Alfa Agency Jakarta. Sementara khusus kepada Sekolah menengah-atas dan Univesitas dapat memperoleh buku ini secara gratis dengan mengajukan permintaan ke sekretariat ASA di jalan geulumpang no.6 meunasah papeun-lamnyong Banda Aceh/ Aceh Besar, dengan menanggung sendiri ongkos kirim via pos. Hal ini merupakan upaya ASA dalam konteks penyebaran minat baca dan tulis sastra bagi para pelajar dan mahasiswa di Aceh. Aliansi Sastrawan Aceh yang berdiri sejak tahun 1993, merupakan pusat pendokumentasian karya-karya sastrawan Aceh dan Unit Penerbitan buku-buku budaya yang didirikan oleh beberapa wartawan dan penyair/penulis Aceh.

Dalam tahun 2007 ini. ASA telah menerbitkan 13 buku karya sastrawan Aceh, antaranya ¡°serdadu tua nguyen polan (alm Hasyim.KS), ¡°suatu malam di rex¡± (Hasbi Burman), ¡°sastra dan problematika pembelajarannya di aceh¡± (Mukhlis A.Hamid,MS), ¡®romansa taman cinta (Arafat Nur), ¡°orang-orang pos 327 (MN.Age), ¡°hikeumah tsunami¡± (Ameer Hamzah), ¡°serenade senja¡± (Nani.HS/alm.AR Nasution), ¡°tarian cermin¡± (Mustafa Ismail), ¡°haba angen pot¡± (Hasbi Burman), "seumangat aceh" (hilmi Hasballah), "luka poma" (alm.Maskirbi), ¡°yang¡± (alm.M.Nurgani Asyik), serta"the sadness song" .

Pada akhir tahun ini juga, ASA sedang mempersiapkan penerbitan 2 buku karya AA.Manggeng dan Ameer Hamzah.

Sebelumnya, tahun 2005 ASA bekerjasama dengan Japan Net (JAN) Tokyo juga pernah menerbitkan antologi 40 penyair Aceh plus Medan dan Jakarta "Lagu Kelu" yang diedar oleh jaringan gramedia Jakarta

Sphere: Related Content

08 Mei 2007

Konferensi Linguistik: Penggunaan Bahasa Gaul Semakin Marak

Jakarta, Kompas - Penggunaan bahasa gaul dirasakan semakin marak. Meski tidak semua penggunaannya merusak khazanah bahasa Indonesia dan bahasa Melayu, bahasa gaul perlu pengawalan jika digunakan secara formal.


Kenyataan ini diungkapkan Supyan Hussin dari Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universitas Kebangsaan Malaysia, dalam Konferensi Linguistik Tahunan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Senin (7/5). Supyan mengadakan penelitian di Malaysia, Jakarta, Bandung, dan Riau dengan melihat penggunaan bahasa gaul dalam berbagai media, terutama surat kabar.

Dia mengatakan, bahasa gaul atau bahasa singkatan dapat dianggap bahasa slang dan umumnya digunakan dalam konteks tidak formal. Fenomena bahasa gaul sesungguhnya menggambarkan betapa bahasa bersifat dinamis dan hidup bila ia memenuhi keperluan komunikasi, ekonomi, dan sosial masyarakat. Bahasa yang terus dilestarikan adalah bahasa yang dihargai penuturnya.

Ciri bahasa gaul dan singkatan ialah beberapa perkataan disingkat menjadi akronim, gabungan beberapa perkataan dijadikan perkataan baru, serta pemendekan kata melalui proses pengguguran huruf—baik vokal maupun konsonan—yang mengubah ejaan asalnya.

Menurut dia, tidak semua bahasa gaul merusak bahasa. Singkatan nama seseorang, misalnya di Indonesia ada SBY untuk Susilo Bambang Yudhoyono atau di Malaysia ada DSMM untuk Dato’ Seri Mahathir Mohamad. Untuk jangka panjang, hal itu tidak memengaruhi pelestarian bahasa Melayu-Malaysia dan Indonesia karena akan hilang dengan sendirinya ketika yang bersangkutan tidak menjabat atau tiada lagi. Demikian pula singkatan untuk nama tempat atau yang sudah diterima dipakai secara luas.

"Yang akan memengaruhi antara lain singkatan untuk kata nama umum, seperti minyak tanah menjadi minah, rumah toko menjadi ruko, rapat kerja menjadi raker dan lain-lain," katanya.

Dalam konferensi linguistik tersebut terdapat sekitar 40 makalah lain yang dibawakan oleh para akademisi bidang linguistik. Sebagian dari makalah tersebut menyoroti perkembangan penggunaan bahasa seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. (INE)

Sumber: Kompas, Selasa, 8 Mei 2007

Sphere: Related Content

06 Mei 2007

Pluralisme: Hidup damai milik Dawam Rahardjo

PADA perayaan ulang tahun ke-65, Dawam Rahardjo keluar dari ruang kesepiannya setelah teman-teman lama menjauhinya. Mengenakan peci hitam dan setelan jas abu-abu, ia menyambangi teman-teman barunya.


Ulang tahun Dawam dirayakan bersamaan dengan peluncuran buku berjudul Demi Toleransi, Demi Pluralisme, di aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat (4/5) malam.

''Ternyata teman saya masih banyak, karena akhir-akhir ini saya merasa ditinggalkan oleh teman-teman lama saya,'' kata Dawam di sela perayaan ulang tahunnya.

Buku sebagai hadiah ulang tahun telah diedit oleh kawan-kawannya, Ihsan Ali-Fauzi, Syafiq Hasyimm, dan JH Lamardy. Buku itu memberi kesan bahwa para kolega dan sahabatnya masih setia dengan pemikiran dan gerak aktivitas, serta esai-esai Dawam.

Keistimewaan buku itu ditulis oleh 31 orang, antara lain Ahmad Syafii Maarif, BJ Habibie, Siti Musdah Mulia, Franz Magnis Suseno, Komaruddin Hidayat, Didik J Rachbini, Nono Anwar Makarim, dan Daniel Dhakidae.

Ada yang istimewa bagi mantan Rektor Unisma Bekasi kelahiran Kampung Baluwarti, Solo, 20 April 1942, dalam pesta ulang tahunnya itu. Malam itu ikut hadir juga teman-teman 'terbaru' Dawam, dari Komunitas Eden. Komunitas itu melalui salah seorang juru bicaranya menyatakan hanya Dawam satu-satunya orang yang bersedia dialog dan bertanya tentang kepercayaan mereka.

Dawam pun ikut terlibat dalam diskusi-diskusi panjang untuk mencoba memahami ajaran Eden. Ia juga menyerukan untuk membela Ahmadiyah, sebuah sikap yang berseberangan dengan kawan-kawannya.

''Semua itu atas nama toleransi dan pluralisme. Saya tidak peduli dikatakan orang. Dibilang Komunitas Eden, enggak apa-apa. Ahmadiyah, enggak apa-apa. NU juga enggak apa-apa. Asal jangan bilang saya Muhammadiyah,'' kata Dawam disambut tawa hadirin.

Pluralisme, baginya, menjadi sebuah jalan menuju kedamaian. Ia mengaku, saat menjadi seorang yang belum toleran, ia harus terus-menerus membenci dan menolak segala sesuatunya yang berbeda darinya. Ia harus terus penuh dengan rasa marah. ''Tapi sekarang saya dapat kasih sayang lebih banyak. Ancaman yang saya terima malah berkurang,'' katanya lagi.

Toleransi, juga menjadi kata kunci menuju kedamaian. Namun baginya yang lebih penting lagi adalah kunci menuju kemajuan. Tanpa toleransi, tidak mungkin Islam akan menjadi maju. ''Toleransi tidak berarti lemah. Saya malah lebih bisa memahami akidah saya dengan lebih baik,'' ujar Dawam.

Dawam yakin kebenaran ada di mana-mana. Kebenaran bisa ditemukan di berbagai kitab suci. Ia pun pernah memberikan nasihat kepada Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra tentang toleransi. ''Seseorang tidak akan bisa menjadi intelektual sempurna jika ia masih apriori dengan marxisme.''

Teman-temannya yang hadir seperti Utomo Dananjaya, Daniel Dhakidae, Siti Musdah Mulia, dan M Syafi'i Anwar pun memuji langkah intelektual Dawam yang berani menunjukkan jati dirinya.

Mereka menilai Dawam sebagai seorang intelektual yang telah melakukan pembelaan bagi rakyat dan mengedepankan keadilan. Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Jakarta M Syafi'i Anwar menambahkan mengutip pendapat Bung Hatta, intelektual harus memiliki kepribadian moral, kepedulian sosial, dan melakukan pembelaan terhadap rakyat.

''Beliau telah memenuhi persyaratan itu dengan menunjukkan identitas dan jati dirinya saat melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok yang dipinggirkan.''

Selamat ulang tahun Pak Dawam. (Isyana Artharini/H-3)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 6 Mei 2007

Sphere: Related Content