25 Februari 2007

Sobron Aidit dan makna sebuah nama

Oleh Budi Kurniawan

Wartawan; Penulis Buku Menolak Menyerah, Menyingkap Tabir Keluarga Aidit


"kau dan aku
hanya percaya dan setia
maka kita berdua bisa begitu"

Dering telepon tiada henti memecah malam yang beku di Friendship
Hotel, pinggiran Beijing. Agak tergesa, lelaki 28 tahun itu
meninggalkan buku-buku Indologie yang tekun ia baca. Pelan ia
mengangkat gagang telepon. Lima menit pembicaraan berlangsung. Lalu
semuanya jatuh dalam muram. Seketika ruang yang disediakan pemerintah
Tiongkok untuk para ahli itu jatuh dalam suram.

Seorang teman yang baru pulang dari Havana, Kuba, membuat Sobron
Aidit tercenung. Indologie (ilmu tentang keindonesiaan) yang
disiapkan untuk mahasiswa tingkat tiga dan empat di Institut Bahasa
Asing (IBA) Beijing, ia biarkan berserakan.

Keindahan Istana Musim Panas di sebelah hotel lenyap seketika. Kawan
yang baru bertemu Fidel Castro itu mengabarkan bahwa abangnya, Dipa
Nusantara (DN) Aidit, telah tewas terbunuh. Melalui sang kawan,
pemimpin revolusi Kuba itu menyampaikan dukacita yang mendalam.

Sobron menahan marah, kehilangan, juga sedih. Baginya Bang Amat—
demikian panggilan sayang Sobron pada abangnya itu—bukan sekadar
abang. Ia tahu betul, DN Aidit sangat memerhatikan kehidupannya.
Malam kian larut dan beku pada November 1966 itu.

Di antara kebekuan itu, Sobron teringat sebuah peristiwa bersama DN
Aidit yang sangat berkesan baginya. Di suatu senja yang temaram, Bang
Amat memanggil Sobron ke kantornya di Kramat Raya 81 (Kantor Pusat
Partai Komunis Indonesia).

Bang Amat meminta Sobron menimbang-nimbang pencantuman nama Aidit di
belakang namanya. Dia khawatir hal itu akan menjadi persoalan di
kemudian hari, sebab nama itu akan berkonotasi PKI karena ketuanya
bernama sama.

Mendengar permintaan itu, Sobron terdiam. Ia sadar apa yang
dimaksudkan abangnya itu. Abangnya ingin ia terus berkembang dan
tetap eksis dengan bakat budaya yang ia miliki, tanpa harus terganggu
dengan persoalan politik yang ingar-bingar dan melelahkan itu.
Apalagi ketika itu Sobron dikenal khalayak sebagai sastrawan yang
tulisannya menyebar di banyak media: Zenith, Sastra, Kisah, Republik,
Harian Rakjat, Sunday Courier, dan Bintang Timur.

Di sepanjang jalan sebelum tiba di Kramat 81, Sobron mengira Bang
Amat keberatan ia menggunakan nama belakangnya. Padahal, nama Sobron
Aidit sudah dipakainya jauh sebelum Bang Amat menjadi anggota
petinggi PKI. Ia sudah memakai nama itu sejak 1948. Sedangkan Bang
Amat baru menjadi ketua partai pada tahun 1951. Sobron tetap kukuh
menggunakan nama Aidit di belakang namanya.

Ketika senja yang temaram ditelan malam, kepada Bang Amat, Sobron
menolak permintaan Bang Amat untuk mengubah namanya. Apa pun
alasannya. Dengan jujur pula Sobron menceritakan pikiran-pikiran
salahnya di sepanjang jalan sebelum bertemu Bang Amat.

Sambil meminta maaf, Sobron memeluk Bang Amat. Bang Amat membalas
pelukan itu dengan sangat erat. Air mata Sobron mengalir deras di
sela peluk yang erat itu.

Bang Amat berbisik pada Sobron: "Baik, sangat baik, aku selalu
percaya kepadamu, kau sangat jujur. Aku senang akanmu. Kau harus tahu
lagi bahwa aku menaruh kepercayaan kepadamu. Sangat dan sangat. Ingat
itu! Pegang eratlah kepercayaanku kepadamu. Aku sangat ingin
melihatmu jadi orang. Jadi sastrawan yang baik. Kalau sanggup,
menjadilah kebanggaan rakyat! Kalau tidak sanggup, jadilah sastrawan
yang jujur dan memihak rakyat! Tapi selalulah jangan menipu,
menyiksa, dan menindas rakyat. Kita ini adalah bagian rakyat yang
luas. Tanpa kita, rakyat yang luas itu takkan apa-apa. Tapi kita
tanpa mereka yang luas itu bukanlah apa-apa. Tak ada artinya."

Menjelang malam, sesudah dua kali makan di kantor itu, keduanya
berpisah. Bagi Sobron, sekali inilah ia merasa paling lama berbicara
dari hati ke hati dengan Bang Amat. Ia kian mengerti siapa sebenarnya
abangnya itu. Begitu juga dengan Bang Amat, ia kian mengerti siapa
adiknya yang ia katakan sangat dipercaya itu.

Kepercayaan yang pekat seperti yang ditulis Sobron dalam sebuah
puisinya enam tahun lalu. Kau dan aku/hanya percaya dan setia/maka
kita berdua bisa begitu.

Walau bersaudara dan menggunakan nama belakang yang sama, Sobron
Aidit sungguh berbeda dengan DN Aidit. DN Aidit sangat fasih dalam
soal politik. Sobron justru tak menyukai politik. Sobron lebih
memilih bergerak di ranah budaya dan sastra.

Sobron membuktikan orientasinya itu dalam rentang waktu yang panjang.
Sobron menulis berbagai karya sastra kala berusia 13 tahun.
Cerpennya, Buaja dan Dukunnja, mendapatkan penghargaan dari majalah
Kisah pada 1955-1956. Basimah, cerpennya yang lain, pada 1961
mendapat penghargaan dari Harian Rakjat.

Selain menulis karya-karya sastra, Sobron juga menjadi guru dan
dosen. Bahkan, pada tahun 1963, Sobron dikirim pemerintah ketika itu
menjadi dosen tamu di Beijing.

Soal pilihannya yang berbeda dengan sang abang ini, berkali-kali
disampaikan Sobron kepadaku. Ketika diundang hadir dalam pertemuan
dengan kawan-kawannya di sebuah rumah yang asri di kawasan Cibubur;
pada peringatan ulang tahunnya yang ke-70 di Blok M; ketika
peluncuran dua bukunya di Gedung Juang di Menteng, November tahun
lalu, Sobron menegaskan penolakannya pada dunia politik. Politik,
kata Sobron, bukan bidangnya. Tolong biarkan saya untuk terus
berjuang melalui tulisan dan karya sastra, katanya kepadaku.

Komitmennya pada sesuatu, saya kira, menjadi satu hal yang membuat
Sobron tegar menghadapi segala dera dan coba. Ketika terempas oleh
pusaran politik yang buram di China; mengungsi ke Perancis dan lalu
membuka restoran di Paris; menjadi "kaum kelayaban" dan orang
terbuang yang hanya boleh datang, tetapi tak boleh pulang ke tanah
airnya; Sobron menunjukkan ketegarannya.

Sobron memang keras hati pada sesuatu yang dianggapnya benar. Tetapi,
dia juga selalu ingin bersahabat dengan siapa pun, tak peduli warna
kulit dan ideologi.

Semua komitmen, jalan panjang, dan kenangan Sobron Aidit terhadap
segala hal mencapai akhirnya pada pagi hari, 10 Februari 2007. Di
usianya yang ke-73—lahir pada 2 Juni 1934 di Belitung—Sobron
berpulang setelah terjatuh di sebuah stasiun kereta api bawah tanah
di Perancis. Dia sempat dirawat di rumah sakit. Namun, Sang Khalik
rupanya punya skenario lain. Selamat jalan sahabat yang terbuang….


Kompas - 25 Februari 2007

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/25/seni/3339330.h

Sphere: Related Content