31 Desember 2007

Pentas Kritikus Adinan Teater Institut Unesa di Radar Mojokerto

Minggu, 30 Des 2007
Perjalanan seorang Kritikus

Pentas Teater Institute di Mojokerto

MOJOKERTO - Memasuki ruang pertunjukan pukul 20.00, tampak kritikus Adinan (Buyung Akhirul) sedang duduk termenung dan gelisah dengan membawa tas. Dua lampu menyorot. Penonton mulai memasuki ruangan.

Pertunjukan Teater Institute dengan karyanya yang berjudul Kritikus Adinan ini molor 30 menit dari jadwal semula di Balai Kelurahan Balongsari Jl Empunala, kemarin. Kritikus Adinan merupakan cerpen karya Prof Budi Darma. Terbit lima tahun lalu.

Kritikus Adinan adalah seorang penulis kritik yang kemudian oleh orang dikenal sebagai kritikus Adinan. Ia menulis banyak kritik di berbagai media. Dan tulisan-tulisannya dikagumi banyak orang hingga pada suatu hari petugas pengadilan yang diperankan Tyas dan Nunik, datang ke rumahnya dengan membawa surat perintah dari pengadilan.

Adinan merasa tidak mempunyai urusan dengan pengadilan akan tetapi pada akhirnya ia memenuhi panggilan pengadilan tersebut. Adinan banyak mendapat cerca dari hakim yang diperankan Luxi sehingga dalam ruangan tersebut terjadi perdebatan sengit antara hakim dan Adinan. Adinan yang seorang kritikus membantah keputusan hakim karena dianggap tidak memberi penjelasan tetang kesalahan yang ia perbuat.

Adinan dipaksa untuk pulang. Beberapa hari kemudian datang lagi seorang petugas pengadilan yang membawa surat dari pengadilan tentang surat pembebasan Adinan dari segala tuduhan. Beberapa saat setelah menerima surat pembebasan masalah, datanglah seorang penerbit (Diyan) yang berbaris, kemudian Adinan diundang ke gedung penerbit. Di sana Adinan mendengar suara ibunya dan bercakap-cakap. "Kau anak yang luar biasa Adinan," kata ibunya.

Pementasan berdurasi enam puluh menit itu pun berakhir. Setelah pentas diadakan diskusi. Ditemui seusai pementasan, kepada wartawan koran ini, M. Misbakh, Biro Seni Drama Dewan Kesenian Kota Mojokerto (DKM) menjelaskan, pentas teater Institute Unesa malam itu merupakan salah satu upaya Biro Seni Drama DKM untuk membuat jejaring teater dengan kelompok dari luar kota.

Sementara itu Abdul Malik, salah satu penonton menambahkan. "Saya tertarik menonton pementasan ini karena menampilkan karya sastrawan besar Budi Darma dan kapasitas Teater Institute yang telah berusia 27 tahun. Terakhir saya menonton pentas Rashomon 14 tahun lalu dalam Pekan Teater Naskah Jepang di Malang," katanya. (in)
(Harian Radar Mojokerto)

Sphere: Related Content

Undangan diskusi buku JAKARTA 1950-AN

Penerbit Masup Jakarta mengundang Anda untuk hadir dalam acara
peluncuran dan diskusi buku:
JAKARTA 1950-AN
Kenangan Masa Remaja
karya FIRMAN LUBIS
Melalui buku ini Firman Lubis si anak Jakarta yang adalah dokter medis berhasil menggambarkan kehidupan dan keadaan Jakarta tahun 1950-an yang unik dan menarik. Mengikuti metode medical history yang lazim dipakai dokter untuk mempelajari riwayat penyakit yang diderita seseorang atau masalah kesehatan yang ada di masyarakat, Firman merangkai sejarah sosial ibu kota RI yang baru berdiri, yang baru mulai membenahi diri dan mencoba membangun kembali kehidupannya yang terpuruk selama bertahun-tahun akibat pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan pada 1940-an.
Berbagai kenangan yang dialami dan disaksikannya semasa remaja di Jakarta pada 1950-an dituangkannya dengan jembar. Kenangannya tentang Jakarta mulai dari ingar-bingar revolusi kemerdekaan sampai tempat jajan dan musik-lagu serta gaya pesta remaja; penduduknya yang multietnis dan multiras hingga kegiatan olahraga dan kisah dokter Basri yang eksentrik; soal dekolonisasi dan barisan rakyat sampai soal tempat-tempat rekreasi, mode juga geng dan kenakalan remaja; kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya dan perkembangan demokrasi hingga suasana keadaan dan lingkungan hidupnya yang asri dengan kanal dan situ; soal pemberantasan buta huruf sampai lalu lintas dan sarana transportasi; dunia sekolah dan aktivitas luar sekolahnya; pengusiran orang Indo pada 1957-58 serta masih banyak lagi sisik melik Jakarta tahun 1950-an. Sebuah buku yang bukan saja kaya data sejarah sosial, tetapi juga ditulis dengan gaya populer dan dilengkapi dengan foto-foto sezaman yang akan menguatkan imajinasi historis setiap pembacanya.
Hari/Tanggal: Saptu, 12 Januari 2008 / Jam: 10.00 – 13.00 WIB / Tempat: Ruang Kuliah Besar Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI, Jl. Pegangsaan Timur No.16 (samping Pasar Cikini/Apartemen Menteng Prada) Jakarta Pusat / Pembahas: Tamrin Amal Tomagola (Antropologo FISIP UI) / Rushdy HuseinJJ Rizal (Peneliti sejarah (Pengamat sejarah) / Komunitas Bambu)
Dapatkan diskon 25% untuk pembelian buku Jakarta 1950-an yang dibandrol Rp 60.000 dan buku-buku lain terbitan penerbit Masup Jakarta & Komunitas Bambu selama acara atau pesan langsung ke penerbit melalui (021) 7755462 HP 99162080 / 08121326952 dengan fasilitas antar dan diskon 15%.
gratis dan terbuka untuk umum

Sphere: Related Content

30 Desember 2007

Alam Lembang

Kronik Dokumentasi Wida:
ALAM LEMBANG
Sebagai pekerja biasa Koperasi Restoran Indonesia Paris, buruh rendahan, "smiker", jika menggunakan ungkapan orang Paris, aku paling sering mendapat giliran kerja malam yang sering mendapat kesulitan pulang jika sudah terlalu larut. Lebih-lebih di akhir pekan. Mencari taksi pun tidak gampang dan kadang terpaksa pulang jalan kaki menembus dingin musim. Dari para sopir taksi, aku paham kemudian bahwa jumlah taksi ibukota Perancis ini sesungguhnya tidak memadai untuk menjawab permintaan. Cerita-cerita sopir taksi dari berbagai negeri asal, kemudian kurasakan sebagai salah satu sumber informasi berharga untuk mengenal kehidupan Paris senyatanya. Sumber yang tidak didapat melalui buku-buku akademi.
Demikian pula hari itu. Sebuah petang bulan Desember 2007. Aku bekerja malam yang secara umum imbalannya lebih besar dari yang bekerja siang. Tapi tidak di Koperasi kami. Imbalan yang bekerja siang dan malam sama saja. Bahkan pernah kami mengambil kebijakan ekstrim, menggunakan gaji samarata dan menimbulkan dampak buruk. Agaknya ekstrimitas, senantiasa merupakan pandangan dan sikap yang tak tanggap keadaan dan tidak apresiatif. Ekstrimitas, entah kiri atau kanan, dan entah berlindung di balik nama apa pun: setan atau dewa, hanyalah ujud lain dari subkyetivisme dan keterbatasan daya pandang yang bisa memerosotkan diri dan kehidupan bermasyarakat. Musuh ekstrimitas barangkali adalah pertanyaan dan kejujuran.
Saban datang, sebagai kerja pertama yang kulakukan adalah memeriksa "buku reservasi" di mana tercatat nama-nama pelanggan yang akan datang, jam datang, dan berapa jumlah mereka yang akan makan malam. Makan malam, di negeri ini bukan sekedar makan , tapi berwayuh arti, jika menggunakan istilah alm. Prof.Djojodigoeno S.H. dari Universitas Gadjah Mada dulu zaman aku masih jadi mahasiswa universitas beken di ibukota Republik zaman revolusi ini. Atas dasar informasi "buku reservasi" itu, aku bisa menduga keadaan yang akan dihadapi malam itu dan mengatur cara menghadapinya. Dengan kata lain: menetapkan rencana kerja dan mensistematikkan pekerjaan sehingga yang bekerja bisa lancar dan para tamu merasa nyaman. Kenyamanan tamu merupakan sesuatu hal yang patut dihitung oleh usaha seperti restoran. Para pelangganlah yang menghidupi restoran dan usaha produktif. Karena itu, di sini, pelanggan disebut "raja". Padahal di masa kecilku di Katingan, Kalimantan Tengah, kata "raja" mengandung konotasi sangat buruk. Berarti pemalas, main perintah, dan menghisap tenaga orang lain. Apakah pengertian Oloh Katingan ini merupakan penelenjangan watak masyarakat kapitalistik di mana sekarang aku berada di tengah-tengahnya? Entahlah, tapi benar, di masyarakat Katingan pada waktu itu, kehidupan komunal masih sangat kuat. Hasil perburuan dibagi-bagi pada tetangga. Semangat kebersamaan dari budaya rumah betang [rumah panjang, long house] di masa kecilku masih sangat terasa.
Dari "buku reservasi" di suatu petang bulan Desember ini, aku dapatkan sebuah catatan aneh. Pemesan tempat bernama seorang Jerman, tapi di bawahnya tertulis: "Orang Indonesia". Mengapa harus ditambah kata-kata "Orang Indonesia"? Padahal, jika mau terus-terang, kami tidak terlalu gairah melayani tamu "Orang Indonesia". Rewel dan minta diutamakan, minta segalanyasegera, tanpa memperdulikan urut-urutan pelayanan bak seorang raja atau ratu, pangeran. Dan adakah budaya antri, sebagai tanda kita menghormati orang lain di Indonesia? Ucapan "maaf" dan "terimakasih" pun menjadi langka kudengar di tanah kelahiranku. Yang sering kuhadapi adalah peragaan kehebatan diri dan kekuasaan. "Aku hebat. aku berkuasa!. Kau tak ada apa-apanya". Sikap yang kuanggap tidak terlalu jauh dari hukum rimba. O, barangkali ini adalah pola pikir yang ditelorkan oleh globalisasi kapitalis dan "uang adalah raja". Katingan, Oloh Katinganku! Budaya Rumah Betang-mu secara fisik dan wacana sudah jadi kadaluwarsa. Matahari dan langitmu pun berobah warna di musim hutan terbakar, para dandau durang [bahasa Dayak Katingan, berarti: orang-orang tersayang]. Mencintai dan menjadi Indonesia adalah suatu tekad dan pilihan terhitung. Membuatnya menjadi Republik Indonesia adalah suatu program dan memerlukan orang-orang yang bertekad dan berkesadaran. Demikian pula untuk kehidupan budayanya. Sebab aku sering melihat kita "meragi usang"kan budaya kita sendiri atas nama modernisasi atau melestarikan budaya sendiri.
Melihat catatan di bawah nama Jermanik, rasa ingin tahuku lalu menjadi-jadi. Aku sangat menanti-nanti kedatangan "Orang Indonesia" itu.
Tepat waktu, seorang perempuan muda bulé datang dan mengatakan bahwa ia sudah pesan tepat. Aku menatap wajahnya lurus ke mata. Sama sekali tak ada tanda-tanda Indonesia.
"Benar ini nama Madame atau Mademoiselle?" , tanyaku dalam bahasa Perancis sambil memegang kertas nama yang disebutkannya.
"Maaf, saya tidak bisa berbahasa Perancis", ujarnya ramah tenang diiringi senyum dalam bahasa Inggris.
"Sorry", jawabku menyesal.
"Is this right your name, Miss?"
"Yes. But I am Mrs, not a Miss! I am an Austrian, and my husband is an Indonesian".
Aku jadi lebih kurius.
"Sorry then Mrs..."
"Mrs. Dhalin Lembang. It is ok. I'm coming earlier. Tapi ia pasti datang ", ujarnya meyakinkan aku. Kami bertatapan sambil tertawa.
"Welcome to our Restoran Indonesia, Mrs. Dhalin. Please be at home and take your time".
"Thanks".
Aku menarik kursi untuk dia duduk, kemudian melanjutkan pekerjaan setelah memberikannya air minum dan krupuk. Otomatisme di Restoran.
Paris, Desember 2007.
-----------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa di Koperasi Restoran Indonesia, Paris.
[Berlanjut....]

Sphere: Related Content

Kabar dari Jemek Supardi

Jemek dapat anugerah seni dari Pasar Seni Ancol Jakarta

Atas kesetiaannya menggeluti kesenian, tahun ini Jemek mendapat anugerah seni dari pengelola Pasar Seni Ancol, Jakarta. Penghargaan tahunan yang diberikan kepada seniman yang konsisten hidup dalam berkesenian itu, akan diserahkan langsung kepada Jemek Supardi bertepatan dengan malam pergantian tahun baru, 31/12, di kawasan Pasar Seni Ancol Jakarta.


Tentu anugerah seni ini sangat berarti bagi Jemek, terlebih kini dirinya tengah mempersiapkan sebuah karya yang akan digelar di awal tahun 2008 nanti di Taman Budaya Yogya. Berbeda dengan karya Jemek sebelumnya karya yang kini tengah dipersiapkan ini, merupakan refleksi dirinya usai melakukan operasi mata katarak. Judulnya tidak jauh apa yang ia alami, yakni : Mata Mati.

Jemek Supardi, lahir di Yogya, 14 Maret 1953 ini semula menekuni teater tetapi kemudian dia merasa ada kekurangan dalam dirinya untuk mendalami bidang tersebut, terutama dalam hal menghafal naskah. Ia pun lantas menjatuhkan pilihan pada seni pantomim yang lebih mengandalkan gerak tubuh. Pantomim telah ditekuni selama kurang lebih tiga puluh tahun.

Dunia seni pantomim bagi Jemek Supardi mepakan rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Artinya, Jemek berkat pantomim dapat menemukan kembali kesadarannya sebagai manusia normal. Ia kembali dalam kewajaran manusia yang harus bermasyarakat. Kapan Jemek mulai berpentas pantomim? Secara lugas dijawabnya, "Persisnya saya lupa. Kalau tidak salah mulai tahun 1976. Pertama kali mendukung pementasan pantomim Azwar AN., yang berjudul Malin Kundang di gedung Seni Sono Art Galery. Saya pun tidak muncul penuh, hanya telapak tangan dan telapak kaki saja yang dilihat penonton. Itulah awal saya ikut pentas pantomim, belum pentas sendiri".

Proses kreatif Jemek dalam mecipta pantomim dilakukan dengan menggeliding. Lebih kanjut dipaparkan sebagai berikut:"Dalam mencipta, mime, ya, saya menggelinding saja. Seperti dalam kehidupan ini. Saya sudah di cap sebagai pantomimer, maka saya harus berkarya. Yang penting bagi saya mengolah tubuh supaya luwes, ada ide yang orisinal, keberanian berekspresi dan mementaskannya secara serius". Proses yang dilakukan Jemek dengan olah tubuh, yakni bagaimana seorang seniman harus bekerja keras menyiapkan dirinya masuk dalam proses berkesenian secara total. Dengan demikian pasrah dirilah. Mental, pikiran dan tubuh harus lentur.

Pantomim Jemek sering sensasional. Dia misalkan berpantomim di tempat tak lazim, di jalan, kuburan, kereta api, dan Rumah Sakit Jiwa Magelang. Dia juga membuat heboh ketika pantomim tak disertakan dalam agenda Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 1997. Lantas, dengan pakaian pantomim--kaos hitam-hitam dan muka putih--dia berangkat dari rumahnya di Jl. Katamso dan naik becak ke Pasar Seni FKY. Tapi, satuan petugas keamanan di Benteng Vredeburg mencegat dan menggelandangnya. Dia lalu menggelar pantomim Pak Jemek Pamit Pensiun di sepanjang Malioboro. Jalan itu pun macet total.

Dia juga pernah berpantomim sepanjang Yogyakarta-Jakarta bolak-balik naik kereta api. Saat maraknya aksi mahasiswa menuntut Presiden Soeharto mundur, Jemek menggelar aksi diam dari Yogya hingga Jakarta.

Jemek jadi buah bibir ketika menggelar Bedah Bumi (1998). Di pentas itu dia "mati" dan "dikubur" di Makam Kintelan tempat para Pahlawan Revolusi dimakamkan. Jemek menyewa 10 tukang becak untuk membawa 10 peti mati, satu peti berisi dirinya. Di makam, peti-peti diturunkan dan seorang rois membacakan doa orang mati. Lalu Jemek muncul dari peti, melepas kostumnya hingga tinggal berkain putih, lalu berkeliling makam, bertanya pada nisan-nisan di mana liang kuburnya.

Karya seni mime Jemek Supardi biasanya dibawakan tunggal dan kolektif. Dekade 1970-an merupakan masa proses pencarian mime Jemek Supardi, yang terangkum dalam karya repertoarnya yang berjudul:
  • Sketsa-sketsa Kecil (1979)
  • Dokter Bedah (1981)
  • Perjalanan hidup dalam gerak (1982)
  • Jemek dan Laboratorium, Jemek dan teklek, Jemek dan Katak, Jemek dan Pematung, Arwah Pak wongso, Perahu Nabi Nuh (1984)
  • Lingkar-lingkar, Air, Sedia Payung Sesudah Hujan, Adam dan Hawa, Terminal-terminal, Manusia Batu (1986)
  • Kepyoh (1987)
  • Patung selamat datang, Pengalaman Pertama, Balada Tukang beca, Halusinasi, Stasiun, dan Wamil (1988)
  • Soldat (1989)
  • Maisongan (1991)
  • Menanti di Stasiun, Sekata Katkus du Fulus (1992)
  • Se Tong Se Teng Gak (1994)
  • Termakan Imajinasi (1995)
  • Pisowanan, Kesaksian Udin, Kotak-kotak, Pak Jemek Pamit Pensiun (1997)
  • Badut-badut republik atau Badut-badut Politik, Bedah Bumi atau Kembali ke Bumi, Dewi Sri Tidak menangis, Menunggu Waktu, Pantomim Yogya-Jakarta di Kereta (1998)
  • Kaso Katro (1999)
  • Eksodos (2000)
  • 1000 Cermin Pak Jemek (2001)
  • Topeng-topeng (2002)
  • Air Mata Sang Budha (2007).

Mas Jemek yang sudah mencurahkan hidupnya di pantomim saat ini pun tetap tinggal di Jl. Brigjen Katamso No. 194 Yogyakarta INDONESIA 55152, bersama sang isteri Tredha Maryati dan putrinya Sekar Kinanthi Rahina bahkan tetap setia menunggui Simboknya. Boleh dikata kelurga Jemek suatu hal yang unik, istirnya adalah seorang pelukis, sedang anaknya adalah seorang penari (kini masih kuliah di ISI Yogyakarta).


TTD


Jemek Supardi
www.jemeksupardi.multiply.com
www.jemekmime.blogspot.com

Sphere: Related Content

Season's Greetings from Selasar Sunaryo Art Space





JADWAL LIBUR AKHIR TAHUN GALERI:
JUM'AT 28 DESEMBER 2007 - JUM'AT 4 JANUARI 2008
BUKA KEMBALI SEPERTI BIASA: SABTU, 5 JANUARI 2008

KOPI SELASAR TETAP BUKA SEPERTI BIASA, TUTUP PADA HARI SENIN 31 DESEMBER 2007 DAN SELASA 1 JANUARI 2008


Selasar Sunaryo Art Space
Jln. Bukit Pakar Timur No. 100
Bandung - 40198
West Java - INDONESIA
Ph: +62 22 2507939
Fax: +62 22 2516508
E-mail: selasar@bdg.centrin.net.id
Website: www.selasarsunaryo.com

Open daily 10 am - 17 pm (Closed on Monday and Public Holiday)

Sphere: Related Content

Season's Greetings from Edwin Gallery



Dear Friends,

Please be informed, we are closed for Year End Holiday:

Office from Monday 31st January 2008 &

Resume normal office hours on Wednesday 2nd January 2008

And

Gallery from Friday 28th December 2007 &

Resume normal office hours on Thursday 3rd January 2008

Warm Regards,

Staff & Management of Edwin's Gallery
Jl. Kemang Raya No. 21,
Jakarta 12730
Phone: 62 21 7194721, 71790049
Fax: 62 21 71790278
Email: edwingaleri@cbn.net.id
Website: www.edwingallery.com

Sphere: Related Content

Selamat Natal dan Tahun Baru 2008!




Rani Karina
Jakarta Art Seasons
Jl. Kemang Timur # 63 B Jakarta 12730
Indonesia

e. rani@artseasonsgallery.com
t. +6221 68453980, +62856 8642411
f. +6221 7179 0858
m. +62 817 405128 or +6221 997 097 02

w. www.artseasonsgallery.com

Sphere: Related Content

Seikat tahlil buat Hudan (me-nujuh hari)

IBU


ketika ibu mengecup pipi saya malam itu
dan berbisik: mimpilah yang indah
saya tidak benar-benar memejamkan mata

sampai ibu memadamkan lampu, menutup pintu
saya masih pura-pura terlelap, berharap
ibu akan menghampiri saya sekali lagi

memastikan cintanya telah sampai
di alis saya, seperti rembulan
mengusap setiap helai jendela

saat ibu membalut luka rindu saya
dan berkata: menangislah sekuatnya
saya ternyata memang tak mampu memejamkan mata

sampai saya padamkan lampu, menutup pintu
mata saya masih saja terbuka
seperti sepasang tangan piatu

yang terbentang
dalam bisu
dan nyeri doa

mata terpejamlah
agar bisa kuteteskan tangis ibu
yang tak pernah basah

ibu datanglah
saya ingin menciummu
sekali lagi dan berkata:

tidurlah dengan indah


batam 2007

Sphere: Related Content

29 Desember 2007

Catatan Ujung Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu

Catatan Ujung
Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu

Hidup Mati Penulis & Karyanya

Oleh: A.Kohar Ibrahim

http://16j42.multiply.com/



SAYA ucapkan banyak terima kasih, terutama pada Mediacare dan ACI serta pembaca yang budiman, yang telah menggugah, yang menyambut dan turut memasang-siar serangkaian naskah « Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu » yang saya jadikan salah satu serial naskah « Hidup Mati Penulis & Karyanya ». Naskah yang tersusun dari nomor 1 sd 25 ini saya sudahi dulu, dan jadikan rencana buku jilid I. Yang mudah-mudahan akan berkelanjutan.

Berkas naskah « Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu » ini jadinya melengkapi berkas-berkas naskah sebelumnya, yang juga berupa catatan-memoar saya sebagai pribadi saksi sekaligus pelaku sejarah di bidang kebudayaan, seni dan sastra Indonesia. Yang terdahulu itu berupa « Catatan Dari Brussel – Dari Pijakan Bumi Kaum Eksil » dan « Sekitar Tembok Berlin – Perang Dingin Yang Panas ».

Semoga saja, ke-tiga-nya bisa dijadikan sekedar bahan pertimbangan adanya.

Bersama ini, saya juga ingin menggunakan kesempatan untuk mengucapkan banyak terima kasih pada Redaksi Bekasi News yang telah turut memasang-siar berkas-berkas tulisan saya, sehingga bisalah menemukan pembacanya lebih banyak lagi. Pun kepada pengelola dan moderator situs atau milis-milis lainnya. Dan akhirnya, barang tentu kepada para pembaca yang berkenan, termasuk yang memberikan kritik dan sambutan hangat lainnya.

Akhirul kalam, di ujung tulisan, hari, pekan, bulan dan tahun 2007 ini, saya sampaikan mohon maaf atas segala kekurangan, kekhilafan atau kesalahan dari semua yang saya sajikan. Teriring doa-asa yang terbaik untuk Tahun Baru 2008.

29 Desember 2007.
(A.Kohar Ibrahim)

*

Sederetan Kata Yang Layak Penjelasan Ala Kadarnya
Disusun oleh: A.Kohar Ibrahim


Polemik
Pertukaran atau pergesekan pendapat, perdebatan secara lisan maupun tulisan, umumnya berlangsung di media massa cetak atau di radio-tv atau forum umum lainnya.
Menurut Grand Dictionnaire de Culture Générale, Polemique adalah kata benda dan kata sebutan berasal dari bahasa Yunani: polemikos. "berkaitan dengan peperangan". Polemik adalah perdebatan sengit politik atau intelektual. Suatu bentuk perjuangan ide atau wawasan; soal yang jadi persoalan kepentingan umum, estetika, politik, sosial, falsafah atau pandangan dunia.
Umumnya polemik timbul ditimbulkan oleh kalangan penulis, jurnalis atau intelektual yang selalu gelisah dalam menghadapi situasi stagnasi, dekadensi, kemunduran atau ketimpangan dalam kehidupan masyarakat manusia, istimewa sekali di bidang kehidupan kebudayaan, kesenian dan ke-ilmu-an.

Polemik tentang "l'art pour l'art" ("seni untuk seni") dan "l'art pour l'engagée" ("seni bertendens", "memihak") telah terjadi di zaman Poejangga Baroe, dengan sosok-sosok tokohnya seperti Sutan Takdir Alisyahbana, Ki Hadjardewantara dan Sanusi Pane. Kemudian polemik segera sesudah zaman kemerdekaan, terutama sekali antara pembawa gagasan "humanisme universal" dengan "seni untuk rakyat". Sebagai kelanjutan saja dari perdebatan soal yang jadi persoalan antara "seni untuk seni" dengan "seni bertendens". Yang kemudian muncul dimunculkan polemik sekitar Manikebu dan Pramoedya/Lekra dengan "Lentera"nya. Di zaman jaya berjayanya OrBa/Manikebu, tak ada polemik yang selayaknya, kecuali pengeroyokan sewenang-wenang dari pihak yang berkuasa atau yang berada dalam kantong kekuasaan demi kepentingan atau kemapanan mereka.

Tanpa adanya kehidupan demokratis, tanpa pengakuan dan penghormatan atas pluralisma atau keberbedaan, polemik tidak dimungkinkan, maka dampaknya adalah stagnasi bahkan kemunduran. David T. Hill mengkonstatasi bahwa setelah kaum Manikebu/OrBa menghegemoni kehidupan kebudayaan, yang berpusat di Ibukota Jakarta, "kegiatan sastra jadi mandek karena tidak mendapat dorongan tantangan ideologi dari kaum kiri". Situasi mana mulai terjadi perubahan, 15 tahun kemudian, ketika kaum kiri, seniman dan sastrawan kiri mulai hadir kembali dengan hasil-hasil karyanya. Setelah mereka diberangus, dibungkam, dipenjara dan dibuang ke Kamp Konsentrasi Kerjapaksa Pulau Buru. Kehadiran kaum kiri dengan Pramoedya Ananta Toer sebagai simbolnya, sekaligus sebagai canang bahwa hari depan yang membawakan semangat perjuangan demi kemajuan dan keadilan telah dimulai kembali. Cepat atau lambat, kecerahan pastilah menggantikan kegelap-pengapan.

R.I.
Republik Indonesia. Negara Hukum. Ditegakkan berkat hasil perjuangan kemerdekaan nasional melawan penjajahan dan diproklamirkan oleh Bung Karno dengan didampingi oleh Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Bung Karno adalah Presiden R.I. yang pertama ; Bung Hatta sebagai Wakil Presiden.

ABRI - Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Pangti - Panglima Tertinggi
PBR - Pemimpin Besar Revolusi

OrLa - Orde Lama
OrLa atau Orde Lama adalah sebutan yang diberikan oleh penguasa militer untuk rezim Sukarno. Rezim yang di bawah Presiden/PBR/Pangti ABRI Sukarno menjalankan jurus perjuangan untuk mencapai kemerdekaan yang penuh, perjuangan anti nekolim dan anti-feodalisme, demi terciptanya kehidupan masyarakat Indonesia yang aman, adil dan makmur. Jurus mendasar adalah pembinaan menuju Sosialisme ala Indonesia. Seperri yang dijabarkan oleh Bung Karno dalam pidato-pidato atau ajarannya yang antara lain tercantum dalam MANIPOL (Manifesto Politik) dan USDEK. Suatu perangkat perjuangan yang digagalkan oleh lawan-lawan politiknya, dengan Kudeta Militer 1 Oktober 1965.

OrBa – OrBaru
Sejak 1 Oktober 1965, kaum penguasa militer membelah masyarakat Indonesia menjadi 2 macam, yakni Orde Lama (OrLa) dan Orde Baru (OrBa). OrLa adalah kekuatan Bung Karno dengan sekalian para pendukung atau yang dianggap sebagai pendukungnya. Yang otomatis sebagai lawan politik yang harus dikalahkan, dilumpuhkan, dilikwidasi secara psikik ataupun fisik. Sedangkan penguasa yang menang, yang berhasil merebut kekuasaan negara, menamakan diri sebagai OrBa – dengan lokomotip militer yang jurumudinya jenderal ; sedangkan gerbong utamanya orsospol Golkar, dan sambungan gerbong lainnya yang juga hasil rekayasa kaum militer.

Jurus mendasar pembinaan masyarakat berbeda dengan jurus OrLa BK yakni menuju Sosialimse ala Indonesia, sedangkan OrBa menjurus pada pembinaan kapitalisme, dengan sidah sejak mulanya membuka pintu lebar-lebar bagi investasi modal asing.
Peristiwa 1 Oktober 1965 sampai dengan Supersemar 1966 merupakan Kudeta Militer yang sukses menaikkan kaum militeris ke singgasana kekuasaan negara -- sejak terjadinya Peristiwa 17 Oktober 1952, di mana Nasution beserta pasukannya menodongkan meriam langsung ke arah Istana Negara teriring tuntutan Pembubaran Parlemen. Presiden Sukarno menolak tuntutan militer tersebut dan upaya kudeta itupun gagal. Setelah juga terjadinya serangkaian pemberontakan reaksioner bersenjata seperti DI/TII, RMS, PRRI dan PERMESTA.


SOKSI - GOLKAR
Serikat Organisasi Karyawan Seluruh Indonesia - didirikan di zaman OrLa oleh kaum militer untuk menghadapi sekaligus menyaingi SOBSI - Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia.
Cikal bakalnya adalah rekayasa kaum militer untuk aktip berpolitik dan memperoleh kekuatan politik dengan menciptakan "golongan fungsional" (kata fongsional yang bermakna dan dimaknai sebagai karyawan) untuk bisa menduduki kursi parlemen; dengan demikian bisa mengibangi atau menyaingi kekuatan politik sipil (partai-partai politik).
Di zaman OrBa, SOKSI berubah menjadi GOLKAR (Golongan Karya) sebagai gerbong utama dari orsospol rekayasa OrBa, di samping partai-partai hasil rekayasa OrBa lainnya: PPP (Partai Persatuan Pembangunan) dan PDI.(Partai Demokrasi Indonesia).
"Golkar adalah partner atau sambungan tangan ABRI dalam politik". (Dr. Alfian, in "Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia", P.T. Gramedia 1978, hlm 5).


NASAKOM
Nasionalis Agamis Komunis - suatu jurus politik persatuan besar rakyat dan bangsa Indonesia; kekuatan orsospol (organisasi sosial politik) yang terdiri dari ragam macam partai penganut ragam macam aliran, kepercayaan dan agama yang ada secara obyektif di Indonesia. Jurus persatuan besar dalam perjuangan meneruskan perjuangan anti-kolonialisme, neo-kolonialisme dan imperialisme (nekolim) serta sisa-sisa feodalisme. Perjuangan demi mencapai kemerdekaan yang penuh.
Partai-partai seperti PNI (Partai Nasional Indonesia), PARTINDO (Partai Indonesia), Partai NU (Nahdatul Ulama), PSII (Partai Sarikat Islam Indonesia), Partai Kristen Indonesia, Partai Katolik Indonesia, Partai Murba, PKI (Partai Komunis Indonesia) adalah merupakan salah satu bentuk poros kekuatan politik OrLa. Oleh OrBa, jurus dan poros politik OrLa ini dilumpuh-hancurkan oleh manifestasi aksi Teror Putih di seluruh Indonesia, dengan hanya alasan berupa tuduhan sewenang-wenang: terlibat "G30S/PKI". Seiring dengan itu, OrBa menjadikan kekuatan militer sebagai poros kekuatan politiknya, dengan Golkar sebagai orsospol utamanya, disamping orosospol hasil rekayasa atau yang tunduk pada tongkat komando politik kaum militeris -- terutama sekali dari golongan masyarakat yang anti-komunis.


Teror Putih
Teror putih, seperti manifestasi aksi teroris pada umumnya, adalah penyebaran rasa ketakutan teriring ancaman marabahaya secara psikik maupun fisik; suatu manifestasi aksi kekerasan secara lisan maupun tulisan teriring kekerasan bersenjata yang dilancarkan oleh kekuatan reaksioner secara resmi ataupun non-resmi guna mencapai tujuan politik tertentu.
Di zaman penjajahan Belanda pernah terjadi manifestasi aksi Teror Putih oleh kekuatan kapitalis bersenjata untuk menindas pemberontakan rakyat bersenjata tahun 1926-1927. Belasan ribu jiwa jadi korban manifestasi aksi teroris tersebut: tewas ditembak langsung, dihukum tembak, digantung di tiang-tiang gantungan dan dibuang ke Boven Digul. Dari mereka yang dibuang itu, salah seorangnya adalah penulis-jurnalis terkenal: Mas Marco Kartodikromo -- murid sekaligus pengikut sosok tokoh jurnalis dan pejuang nasional Tirto Adhisoerjo.
Sedangkan contoh yang paling gadang-gamblang akan manifestasi aksi teroris yang merupakan Teror Putih yang terjadi dalam sejarah modern Indonesia adalah yang dilancarkan oleh kaum militeris OrBa dalam tahun 1965-1966 bahkan 1967. Sejak itu, manifestasi aksi teroris telah menjadi salah satu macam budaya biadab dalam masyarakat Indonesia.


Pembantaian Massal
Manifestasi aksi Teror Putih yang berkecamuk di Nusantara, terutama sekali terkenal di media internasional, sebagai peristiwa Pembunuhan Massal 1965-1966 dan 1967 yang menelan korban jutaan jiwa. Hal mana mendapat perhatian para pakar, seperti antara lain Ben Anderson, WF Wertheim dan Noam Chomsky. Pasalnya? Menurut Ben Anderson ada dua faktor. "Faktor yang pertama adalah policy atau kebijaksanaan dari pimpinan tentara di Jakarta yang diwujukdkan dengan pengiriman RPKAD ke Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Mereka ingin supaya PKI dihancurkan dan mereka ingin juga bahwa ini tidak hanya dikerjakan oleh tentara tapi juga oleh kelompok-kelompok yang mau dijadikan sekutu untuk membangun apa yang belakangan dinamakan Orde Baru. Jadi mereka menyertakan warga Banteng, NU, Katolik, Protestan dsb. Karena itu senjata, latihan, perlindungan, kendaraan, dsb, dikasih kepada kelompok-kelompok pemuda yang mereka hubungi. Jadi kalau policy pimpinan tentara ini tidak ada,
kemungkinan pembunuhan massal itu saya kira tidak besar." (Ben Anderson: Tentang Pembunuhan Massal'65. In Majalah ARENA N° 24 Januari 1998, Stichting ISDM, Culemborg. Editor: A.Kohar Ibrahim).

Massaker
Dari kata Perancis: massacre. Pembunuhan besar-besaran, massal, pembantaian, pembinasaan.

LKN
Lembaga Kebudayaan Nasional.

LESBUMI
Lembaga Seni Budaya Musilim Indonesia

LEKRA
Lembaga Kebudayaan Rakyat -- adalah sebuah gerakan kebudayaan yang nasional dan kerakyatan (Joebar Ajoeb).

Lestra
Lembaga Seni Sastra Indonesia
salah sebuah dari lembaga-lembaga kesenian LEKRA lainnya. Seperti Lesrupa (Lembaga Senirupa), Lembaga Seni Drama, Film, Musik, Tari dan yang lainnya lagi.


Mukaddimah Lekra
berisi konsepsi, wacana, gagasan sekaligus jurus bagi pembinaan kebudayaan yang nasional dan kerakyatan.


Manikebu
Manifes Kebudayaan -- formator-formatornya berhubungan erat dengan militer; konseptornya sendiri, Wiratmo Soekito, mengaku bekerja untuk Dinas Rahasia ABRI. Lihat pula Wiratmo Soekito: "Satyagraha Hoerip Atau Apologi Pro-Vita Lekra" (Horison N° 11 1982) dan "Catatan Mengenai Manifes Kebudayaan" in Tifa Budaya, Jakarta 1981 hlm-29-32.

KKPI
Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia. Manifestasi aksi dari kesepakatan para formator-konseptor-promotor Manikebu dan Militer; terselenggarakan berkat perlindungan dan dukungan (akomodasi, biaya, uang bagi peserta) oleh militer dan diketuai oleh Jenderal Dr. Sudjono.

PKPI
Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia
Proyek ke-karyawan-an militer di bidang kebudayaan.

Majalah Sastra
Majalah sastra -- organ para calon kaum Manikebuis.

Majalah Horison
Majalah sastra OrBa -- organ kaum Manikebuis.

Majalah Zaman Baru
Majalah Sastra dan Seni organ Lekra.

HR Minggu
Edisi Kebudayaan Harian Rakyat


Lentera
Ruang Kebudayaan Harian Bintang Timur
pemimpin redaksi: Pramoedya Ananta Toer.

Humanisme
Ajaran yang mementingkan nilai-nilai manusia dalam harkat dan martabatnya serta perkembangan jiwa dan pikirannya, humanisme.
Humanis: budayawan atau penganut humanisme.

Pancasila
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pancasila: asas kenegaraan yang lima (ialah asas Republik Indonesia yaitu: Ketuhanan Yang Mahaesa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan di permusyawaratan/perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).

Hasil galian pemikiran Bung Karno ini, oleh dan selama berjayanya OrBa telah "dipersucikan" dalam retorika, namun dikotori dalam perbuatan dengan diberlakukannya budaya kekerasan berupa kejahatan atas manusia dan kemanusiaan serta pelanggaran Hak-Hak Azasi Manusia lainnya, teriring budaya KKN yang dampak negatipnya bertolak-belakang dengan makna Pancasila.

HAM
Pernyataan Sedunia tentang Hak-Hak Azasi Manusia diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 10 Desember 1948. Sedangkan teks Indonesia diterbitkan di Jakarta tahun 1952 oleh Kementerian Penerangan Republik Indonesia.

Nasionalisme
Faham, rasa kebangsaan, nasionalis.

Kolonialisme
Faham, sistim kolonialis, penjajahan.

Imperialisme
Faham, sistim imperialis -- kolonialisme dalam tingkat tertinggi.

Nekolim
Neo kolonialisme dan imperialisme.

Feodalisme
Kefeodalan, sifat feodal. Sistim politik dan sosial feodal dengan bangsawan feodal sebagai penguasanya yang memiliki hak-hak istimewa, terutama pemilikan atas tanah dan eksploitasi atas kaum tani nyaris seperti zaman perbudakan.


Kapitalisme
Faham, sistim kapitalis.
Sistim politik dan sosial yang lebih maju dari sistim feodalis.

Sosialisme
Faham, sistim sosialis.
Sistim politik dan sosial yang lebih maju dari sistim kapitalis.

Komunisme
Faham, sistim komunis.
Sistim politik dan sosial yang lebih maju dari sistim sosialis.

MARXISME
Isme, faham, berdasarkan teori Karl Marx.

Leninisme
Isme, faham, berdasarkan teori V.I. Lenin.

Stalinisme
Isme, faham, berdasarkan teori J. Stalin.

Maoisme
Isme, faham, berdasarkan teori Mao Zedong.

Trotskisme
Isme, faham, berdasarkan teori L. Trotski.

Monolit
Suatu kesatuan yang absolut bulat, tanpa keretakan atau cacat.

Pluralis
Jamak, lebih dari satu.

Demokrasi
Demo: Rakyat. Krasi: Kekuasaan. Demokrasi: kekuasaan tertinggi ditangan Rakyat (melalui perwakilan atau parlemen).

Diktatur
Sistim politik yang sewenang-wenang, anti-demokrasi, represip. Kekuasaan ditangan seorang atau suatu klik penguasa.

Otoriter
Penguasa atau kekuasaan politik yang sewenang-wenang, represip.

Totaliter
Mengenai atau bersifat keseluruhannya; negara totaliter, negara yang menggunakan segala-galanya (manusia dan benda) demi kepentingan negara.

Tirani
Kekuasaan yang digunakan sewenang-wenang, represip. Suatu negara yang diperintah oleh seorang raja atau penguasa yang dapat bertindak sekehendak hatinya.

Militeris
Faham, sifat, prilaku ala militer dengan andalan cara kekerasan atau cara-gaya primitif lainnya.

Fasisme
Faham, sistim politik dan sosial represip, diktatorial, otoriter dan biadab. Contoh: fasisme Nazi Jerman dan fasisme Jepang.

Demokrat
Kaum demokrat penganut faham demokrasi.

Progresip
Kaum progresip, kaum yang berpikiran maju, menghendaki kemajuan; kebalikan dari kaum konservatip yang menggelayuti adat-faham lama dan kemapanan.

Revolusioner
Kaum revolusioner yang menghendaki perubahan radikal, mendasar dan cepat.

Reaksioner
Kaum yang bersikap reaktif, lebalikannya dari kaum revolusioner.

Kiri
Sikap-pendirian yang umumnya anti-konservativisme; kaum yang berpihak pada kaum yang tertindas dan lemah; berpihak pada rakyat pekerja yang luas, bukan pada kekuasaan yang sewenang-wenang; kaum kiri adalah pembela kebenaran dan keadilan.

Kanan
Kaum Kanan adalah kebalikannya dari kaum Kiri.

Tengah
Kaum atau golongan tengah memiliki sikap-pendirian antara dua kekuatan politik dan sosial.

Ekstrim
Yang paling paling... Ekstrim kiri atau ekstrim kanan. Ekstrimis kaum yang persikap-pandangan ekstrim.

Komprador
Begundal atau oknum pengabdi kepentingan (politik dan ekonomi) kolonialis atau imperialis atau nekolim.

AS
Amerika Serikat, mengepalai Blok Barat -- Blok Kapitalis anti-Komunis dalam Perang Dingin.

US
Uni Soviet atau URSS (Uni Republik Soviet Sosialis), mengepalai Blok Timur dalam Perang Dingin.

RRT
Republik Rakyat Tiongkok

Perang Dingin

Dicetuskan segera seusai Perang Dunia Kedua. Perang Dingin merupakan manifestasi aksi adu kekuatan dari dua Blok sistim politiko-sosial-ekonomi-militer yang masing-masing dikepalai oleh negara adikuasa AS dan US untuk mendominasi atau menghegemoni dunia, kongkretnya untuk menguasai kekayaan dunia.

Tembok Berlin

Kota Berlin dibelah dua oleh Tembok. Tembok Berlin, disebut juga sebagai Tembok Yang Memalukan ummat manusia yang beradab, salah satu monumen dari variasi Perang Dingin, yang diruntuhkan pada akhir tahun 1989.

Perang Vietnam

Perang Vietnam adalah bukti dari Perang Dingin Yang Panas; atau perang agresi yang dilancarkan oleh kaum nekolim pimpinan AS. Secara fakta: Vietnam tak terkalahkan; kaum agresor hengkang pulang. Tapi dampak Perang Vietnam cukup besar bagi Asia, khususnya Asia Tenggrara, lebih khusus lagi bagi Indonesia dan Timor Timur. Menurut Noam Chomsky, "bloodbath archipelago" tidak hanya terjadi di Vietnam, tapi juga di Nusantara.

Kaum komprador Indonesia, seperti halnya Ngodinh Diem di Vietnam, telah dengan taat melaksanakan "panglima politik" Pentagon sejak 1 Oktober 1965 di Indonesia; disusul dengan pendudukan militer Timor Timur tahun 1975. Dengan korban teramat besar: 200.000 korban jiwa kebanding penduduk Timtim yang hanya 700.000 jiwa waktu itu.

Perang Kemerdekaan

Perang Kemerdekaan atau Perang Pembebasan anti-belenggu kolonialis dan imperialis berkobar setelah usai Perang Dunia Kedua dan bareng dengan dimulainya Perang Dingin. Dengan inspirasi dan kobaran perang kemerdekaan Vietnam dan Indonesia serta Konferensi Bandung 1955 yang turut mengangkat kepopuleritasan Bung Karno di mata rakyat dan pejuang kemerdekaan Asia dan Afrika.

Dusta dan Fitnah

Akhirnya, terutama setelah sang kepala OrBa lengser, umum mengetahui bahwa salah satu manifestasi aksi budaya OrBa adalah Dusta teriring Fitnah. Adalah Jenderal Nasution, pada hari-hari di bulan Oktober 1965 yang mempopulerkan makna kajian bahwa Fitnah adalah lebih berbahaya dari pembunuhan. Ironis sekaligus tragisnya, sang jenderal bersama konco jenderalnya pula yang demi tegaknya OrBa memberlakukan budaya dusta dan fitnah selama berdasa-dasa-warsa lamanya, bahkan sampai sekarang! Yakni dusta teriring fitnah sekitar 7 mayat korban "G30S" yang ditemukan di Lubang Buaya. Mayat yang dinyatakan sebagai korban kebiadaban kaum komunis perempuan Gerwani itu dalam kenyataannya adalah akibat tindakan kaum militer sendiri, dan segala apa yang dikisahkan secara sensasional itu adalah fitnahan belaka. Dampaknya luarbiasa: kabar yang digencar-siar sarana propaganda hitam kaum militeris OrBa itu telah menjadi penyulut kebencia teriring tindakan biadab berupa
pembantaian massal.

Salah satu bukti dusta teriring fitnahan tersebut diabadikan dalam foto yang terpasang di halaman buku salah seorang penandatangan Manikebu Taufik Ismail "Tirani Dan Benteng" halaman 56.

Munafik

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata munfik bermakna: hanya kelihatannya saja percaya (suci, setia dan sebagainya) tetapi sebenarnya tidak; kemunafikan -- hal (perbuatan dan sebagainya) munafik. Pura-pura saja. Seperti sikap-pendirian tak-berpolitik, a-politik, menentang-politik, terutama sekali dalam kepura-puraan menentang "politik adalah panglima" seperti prilaku kaum Manikebu. Padahal secara faktual, lagi memanifestasikan aksi politik dengan deklarasi Manikebu dan yang disusul oleh pengorganisasian KKPI yang diketuai oleh Jenderal dan yang merupakan proyek kekaryawanan militer.

Kemunafikan juga gamblang sekali dalam soal sikap-pendirian terhadap jurus politik Bung Karno seperti Manipol dan juga terhadap Pancasila -- yang dengan melagak untuk upaya "pengamanan" pun mempersucikannya, dengan upacara munafik tiap 1 Oktober.

Khususnya dalam hal perikemanusiaan yang salah satu sila dari Pancasila, atau humanisme atau kehumanisannya, kepura-puraan kaum Manikebu juga gamblang sekali, seperti yang dikonstatasi oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggirnya (Suara Independen N° 3/1, Agustus 1995).

Tapi tidaklah mengherankan, kalau dari orang awam sampai budayawan, serta para penggede sampai pada orang kuat sekalipun, telah memberlakukan budaya munafik atau kemunafikan. Karena justeru Sang Orang Pertama yang bertindak sebagai Panglima Politik -- yang Jenderal beneran, bukan sekedar kiasan -- memang sudah menjadikan kemunafikan sebagai tabiatnya: nampak senyum manis sebenarnya senyum bengis fasis! Coba lah diingat bagaimana prilakunya ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua, Presiden, PBR dan Pangti ABRI pula -- Bung Karno itu!

Asbun

Asbun, yang kadang kala sebagai kata yang bisa menyembulkan senyum ini, bermakna : asal bunyi. Untuk orang yang mengucapkan kata atau opini tanpa keseriusan, ikut-ikutan atau asal-asalan saja. Iya. Jika yang menyuarakan itu aktor lenong atau ketoprak, pelawak atau humoris sih dampaknya nggak seberapa, atau malah sebagai salah satu cara memancing senyum tawa. Tetapi kalau ada kata atau kata-kata yang mengandung muatan politiko-ideologis lalu dikenakan begitu saja secara asbun, orang yang bersangkutan bisa mengalami kerugian bahkan bencana luar biasa. Seperti kata berupa cap sekaligus tuduhan: "komunis" atau "terlibat G30S/PKI" itu! Akibatnya: ratusan tibu bahkan jutaan menjadi korban pembantaian atau derita sengsara. Padahal, kebanyakan sang pemberi cap atau pengucap bahkan jadi algojo itu cuma lagi asbun saja. Alias tak tahu apa makna dan apalagi akar sejarah kata-kata yang diucap-kenakan pada sasaran korbannya!

Jangankan orang dari massa biasa, bahkan orang yang berfungsi sebagai komandan RPKAD macam Sarwo Edhie pun belum tentu mengerti benar apa komunisme atau ideologi komunis yang di-anti-kan dan jadi alasan untuk melakukan pengejaran dan pembunuhan massal -- selaras perintah sang Panglima Politik anti-komunis di Jakarta dan selaras sang Panglima Politik di Pentagon!

Begitupun para jenderal-jenderal Vietsel, Korsel, Iran, Kinsasa atau Santiago dan semacamnya lagi yang menuruti tongkat komando Panglima Politik Pentagon. Ketika mereka melancarkan propaganda anti-komunis selaras paduan suara pimpinan Pentagon, bukankah merekapun lagi mengumandangkan suara asbun juga?

Jika diingat kenyataan yang hakiki baik sang penuding maupun yang tertuding atau dituding- tuding itu: idemdito alias sami mawon! Sang penuding (dari Blok Barat) mengumandangkan corong sebagai mewakili Dunia Kapitalis Anti-Komunis melancarkan tudingan ke pihak yang dijadikan musuh, yakni Blok Timur sebagai "Sosialis-Komunis" yang anti-Kapitalis! Padahal secara hakiki sama-sama Kapitalis-nya! Yang satu kapitalisme bebuyutan yang kedua kapitalisme negara! Maka itu, terbukti, dalam hal peperangan yang merupakan pernyataan politik tertinggi ltu mereka memiliki ksesmaan kandungan watak ke-imperialistisan-nya. Jika yang pertama dengan watak keimperialisannya yang buyutan, sedangkan yang kedua disebut sebagai "sosio-imperialisme". Alias sosialis dalam kata-kata tapi imperialis dalam tindakan. Seperti yang dikonstatasi oleh Tiongkok pada masa polemik besar GKI (Gerakan Komunis Internasional) tahun-tahun 60-an: Dogmatisme vs Revisionisme.

Dalam kenyataannya yang hakiki, baik di Blok Timur maupun di Uni Soviet sendiri, masyarakat sosialis apa lagi komunis belum pernah terwujudkan. Yang ada adalah upaya-upaya ke arah itu; yang ada adalah tampuk kekuasaan politik yang dipimpin oleh partai sosialis atau partai komunis dan yang menamakan diri demikian. Yang kebenaran atau ketepatannya jurus-jurus perjuangan yang dilancarkannya layak mengalami ujian ataupun dipertanyakan adanya.

*
Serangkaian referensi atau bahan bacaan, antara lain:

Kamus Umum Bahasa Indonesia, WJS Poerwadarminta, Balai Pustaka, Jakarta 1986.

Grand Dictionnaire de Culture Générale, Bruno Hongre, Marabout, Allour 1996.

Kamus Perancis Indonesia, Winarsih Arifin, Farida Soemargono, PT Gramedia, Jakarta 2001.

Pertumbuhan Perkembangan Dan Kejatuhan Lekra Di Indonesia, Yahya Ismail, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur 1972.

Sastera dan Budaya, Ajip Rosidi, Pustaka Jaya, Jakarta 1995.

Tirani dan Benteng, Taufik Ismail, Penerbit Yayasan Ananda, Jakarta 1993.

SASTRA, Introduction - la Litterature Indonésienne Contemporaine, Cahier d'Archipel 11.1980.

Indonesia Di Bawah Sepatu Lars, S. Indrotjahyono, Komite Pembelaan Mahasiswa Dewan Mahasiswa ITB Bandung 1979.

Sepuluh Sanjak Berkisah, HR Bandaharo, World Citizen Press, SKBSI, Amsterdam 1987.

Siapa Yang Kiri, Sastra Indonesia Pada Mula Tahun 80-an, David T. Hill, Kertas-kerja no.33 Departemen Indonesia dan Malaya, Universitas Monas, 1984.

Esei Sastra, Alan Hogeland, Stichting ISDM Culemborg, Nederland, 1994.

Lekra dan PKI, Politik Adalah Panglima, Joebaar Ajoeb, Kreasi N° 10, 1989-92, Stichting Budaya, Amsterdam.

Beberapa Pertimbangan Atas Terbitan Yayasan Budaya Dan ISDM, Prof. Wim F. Wertheim, Arena N° 22 1990-97, Culemborg, Nederland.

Pernyataan Sedunia Tentang HAM, PBB, Teks Indonesia Kempen RI, Arena N° 1 1990, Culemborg, Nederland.

Serangkaian esai dan pernyataan oleh Pramoedya Ananta Toer dan sastrawan serta intelektual lainnya disiar majalah seni dan sastra KREASI dan majalah budaya dan opini pluralis ARENA dalam periode 1989-1999 yang di-editor-i oleh Abe alias D. Tanaera alias A. Kohar Ibrahim. ***

(27.12.2007)

Sphere: Related Content

Politik nasional tentang sukubangsa

Kronik Dokumentasi Wida:


POLITIK NASIONAL TENTANG SUKU BANGSA
Bhinneka Tunggal Ika & Republik Indonesia Sebagai Politik Kebudayaan



Untuk melanjutkan sekolah, sejak lepas SD yang dulu bernama Sekolah Rakjat [SR], aku terpaksa meninggalkan rumah orangtua di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah [Kalteng]. Waktu itu Kalteng belum menjadi sebuah propinsi tersendiri. Untuk mendapatkan status sebagai pronpinsi tersendiri, demi kepentingan mereka sendiri, setelah melihat darah yang dicucurkan untuk mengibarkan Merah Putih, tidak memberikan arti apa-apa secara nyata, maka orang-orang Dayak terpaksa juga, dan lagi-lagi terpaksa, melancarkan pemberontakan bersenjata di bawah pimpinan Gerakan Mandau Talawang Pancasila dengan semangat Dayak "Isen Mulang" [ tak pulang perang jika tak menang]. Presiden Soekarno lalu memanggil Tjilik Riwut ke Istana. Tjilik Riwut adalah pimpinan pasukan payung AURI pertama yang diterjunkan oleh Republik Indonesia di bawah nama sandi MN 1001, yang kemudian diabadikan dalam filem "Kalimantan Berjuang" oleh seniman-seniman filem Cekoslowakia [waktu itu Ceko dan Slowakia masih jadi
satu negara], dengan Bambang Hermanto sebagai pemain utama dari Lembaga Filem Lekra. Tjilik Riwut, sepertinya hal dengan Kahar Muzakar, adalah seorang anggota Lasjkar Anak Seberang di Yogyakarta dan kenal dekat sejak lama dengan Soekarno, Jendral Sudirman dan Suryadarma.


Pagi-pagi pada saat makan pagi, Tjilik Riwut ditemani oleh mantan Kapten [semasa gerilya melawan Belanda] Tiyel Djelau, sudah berada di Istana Merdeka. Begitu berjumpa tanpa dipersilahkan duduk, Presiden Soekarno langsung bertanya setengah menuding Tjilik Riwut: "Kau memberontak ya?!". Tjilik Riwut dan Tiyel Djelau menatap tajam mata Soekarno, kemudian berkata: "Saya dan teman-teman sudah mempertaruhkan kepala untuk Republik ini. Jika Bung Karno tak percaya saya, saya keluar sekarang. Tak usah bicara apa-apa lagi". Tjilik Riwut dan Tiyel Djelau segera mau balik belakang. Mau meninggalkan Istana Merdeka. Melihat sikap demikian, Bung Karno lalu surut dan mengajak dua putera Dayak duduk dan berbicara sungguh-sungguh tentang soal Kalteng.


Pemberontakan Dayak pada waktu itu untuk mendapatkan status propinsi tersendiri setelah boyak , tak sabar dan tak tahan lagi atas sedotan alam mereka secara tak semena-mena dan orang setempat tak mendapatkan hasil apa-apa, sampai SD, SMP apalagi SMA jadi sesuatu yang mewah, memperlihatkan "ada sesuatu yang tak beres" dalam politik nasional suka bangsa penyelenggara negara. Pemberontakan adalah jawaban terhadap politik etnik yang diturunkan oleh kendaraan politik nasional. Asap pemberontakan lokal bermula dari api yang dinyalakan oleh Jakarta. Pemberontakan adalah jawaban langsung balas-berbalas dari daerah terhadap pusat. "Api dihadapi dengan api, mata dihadapi dengan mata" , jika menggunakan istilah Jendral Ch Van Tân dari Viêt Bac, Vîêt Nam Utara.


Tiga dasawarsa kemudian, aku balik kampung. Menengok Katingan sungai pengasuhku sebagai guru kecil di sebuah universitas dikirim oleh salah satu universitas di Jenewa. Kesempatan ini kugunakan maksimal untuk melihat keadaan secara langsung jauh sampai jauh ke hulu-hulu berbagai sungai. Kesimpulanku pada waktu itu dan kutulis secara terbuka di harian lokal terkemuka "Kalteng Pos" dan lain-lain penerbitan lokal, serta kuucapkan pula di depan rupa-rupa pertemuan besar tingkat propinsi bahwa: "Orang Dayak sakit dan bingung. Orang Dayak sekarang bukan lagi orang Dayak dahoeloe". Yang lebih mencemaskan, terutama angkatan mudanya, sekali pun tinggal di Kalteng, mereka asing dari Kalteng. Terkesan padaku bahwa mereka banyak -- pada waktu itu bahkan sebagian besar yang kutemui, terbius oleh suatu mimpi ajaib, tersihir oleh keadaan yang tidak mereka pahami sehingga mereka tidak lagi menjadi Dayak sebagai "Utus Panarung". Banyak segi yang niscaya disentuh untuk memahami keadaan
begini. Tapi di sini aku membatasi diri pada apa yang terjadi pada keluarga besarku dalam memberi nama pada anak-anak mereka. Ada yang menamakan anak mereka dengan Robert Kennedy, ada pula yang menamakan anak-anak mereka dengan nama Jawa.


"Mengapa mesti memilih nama Jawa?", tanyaku penuh rasa ingin tahu latarbelakang pikiran mereka.


Aku dijawab secara terus-terang: "Jawa kan mayoritas dan banyak jadi penguasa. Jawa kan begitu lahir menyebut dirinya Islam? Dan berkuasa pula. Asal etnik dan agama kan sangat menentukan dalam mencari serta mendapatkan kerja". Keterangan ini seakan mau mempertontonkan ada penindasan sejenis kolonialisasi bangsa oleh bangsa kita sendiri. Dan mengenai soal pemberian nama kepada anak, jika orang mengenal daerah, akan segera manggut-manggut mengerti, tidak lebih dari satu titik kecil sangat kecil yang bisa dengan gampang dicarikan contoh-contoh lain lebih besar. Betapa pun kecil, soal memberi nama mengangkat soal hakiki dan mendasar.


Jauh sebelum mengganasnya konflik etnik dan daerah, dalam pertemuan INGI di Merryland , Amerika Serikat, pernah kutarik perhatian peserta pada soal politik nasional tentang sukubangsa, tapi tak mendapat sambutan dan tanggapan. Sia-sia hingga aku merasa diriku sedang melakukan "pertunjukan konyol". Barangkali aku dianggap asing. "Yak-yak o", ujar orang Jawa. Lalu ketika bekerja jadi guru kecil di sebuah universitas Kalteng, konflik besar berdarah berulangkali meletus. Aku langsung berada di tengahnya. Di tengah genangan darah dan airmata, kendati tangis ditahan bagai segukan. Tapi luarbiasanya, apabila orang bicarakan tentang konflik-konflik pada waktu itu, orang lebih banyak bocara tentang eksotisme peristiwa, yang sangat laku diperdagangkan dan merupakan adegan-adegan menarik di masyarakat pertunjukan [la société du spectacle, the spectacle society]. Apakah laporan dan pemberitaan tipe demikian bukannya contoh kongkret dari masyarakat pertunjukan yang dangkal dan
dahsyatnya pengaruh "uang sang raja" [l'argent roi] itu? Manusia jadi barang dagangan?.


Kembali aku melihat, setelah sekian dasawarsa RI bereksistensi, masalah politik nasional terhadap soal daerah dan suku bangsa, masih saja belum diselesaikan oleh penyelenggara negara. Aku tidak tahu, apakah masalah ini tidak mendesak untuk sebuah negeri, bangsa dan negara yang sangat bhinneka? Tapi yang sering kusaksikan bahwa ujaran Tiongkok Kuno "yang menabur angin akan menuai badai" memang sungguh kerap terbukti.****



Paris, Desember 2007
----------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa Di Koperasi Restoran Indonesia Paris.

Sphere: Related Content

Siapakah Balawan?

Di kalangan praktisi musik jazz baik tanah air maupun manca negara, nama Balawan sudah tidak asing lagi. Pemilik nama I Wayan Balawan ini lahir di Gianyar, Bali pada 9 September 1973. Ia mulai bermain musik pada umur delapan tahun dan mendirikan grup band pada saat duduk di bangku sekolah dasar.

Balawan banyak memainkan lagu-lagu dari Deep Purple dan Beatles. Jenuh dengan musik rock, tamat dari SMU dia pindah ke Sidney untuk belajar jazz gitar dan vokal di the Australian Institute of Music. Talentanya yang besar di musik membawanya meraih beasiswa selama tiga tahun (Diploma of Music).


Setelah merampungkan pendidikannya, Balawan berkarir sebagai gitaris profesional di Sidney selama lima tahun dan namanya pun mencuat sebagai salah satu dari deretan pemain gitar handal.

Tahun 1997, Balawan pulang ke tanah kelahirannya.Bersama kawan-kawan semasa kecilnya ia mendirikan Batuan Ethnic Fusion, sebuah grup musik yang memainkan musik etnik Bali yang dikombinasikan dengan musikjazz. Mereka sempat merilis album pada tahun 1999 berjudul gloBALIsm.

Memainkan gitar bagai memainkan piano

Balawan dikenal sebagai gitaris yang handal memainkan gitar secara teknik tapping (touch tapping style), yaitu teknik khusus dimana jari-jari kiri dan kanan secara bersamaan memainkan bass, chords, dan melody, seakan-akan dia memainkan piano. Publik pun dibuatnya takjub dengan kepiawaiannya memainkan dua gitar secara bersamaan dengan cepat, lincah, juga melodius.
Balawan adalah satu-satunya pemain gitar di Asia yang mengembangkan permainan ini,sampai-sampai Stanley Jordan ( USA Jazz Guitarist ) sengaja datang ke Bali karena ingin berduet dengan Balawan.
Balawan juga dikenal sebagai guru gitar dan sering tampil di berbagai sekolah musik di kota-kota di ndonesia . Ia pun kerap memberikan klinik gitar dan promo tur yang disupport oleh gitar Ibanez dan Laney amplifiers. Selama ini Balawan telah banyak melanglang buana, merambah festival demi festival bergengsi mancanegara. Di Bali sendiri, dia terkadang tampil di Jazz Café, Ubud, Bali.

Sphere: Related Content

Crippling realities bring out human side of Jakarta

2007/12/29

By : Johan Jaaffar


I HAVE always believed Jakarta is one of the greatest cities on earth. Depending on how you define it, it certainly has all the trappings that will engulf, engage, entertain and frustrate you. It is a bustling metro-polis where anachronism abounds. It is a city where happiness and misery are in abundance and where greatness and pettiness collide.

The inhabitants made Jakarta into what it is today -- a city teeming to the brink, unable to cope with the onslaught of humans utilising whatever little space left. Millions are attracted to the glitters of modern life -- yet many are left at the periphery, sometimes for their entire lives, unable to make good the dream to succeed in the cruel, uncaring world of Jakarta.

My last trip last week was a brief one. I was there more than three years ago. Jakarta's skyline is now dotted with many more skyscrapers than I care to remember.

The krismon or krisis moneter (Bahasa Indonesia for monetary crisis) seemed to be a thing of the past. No one talks about the crisis that shredded the society's fabric nor the turmoil after the fall of its strongman, president Suharto. Jakartans have short memories, 1997 and 1998 are now history. They just want to move on with their lives. History is too burdensome to be of any interest to millions calling Jakarta home.

To many Malaysian writers and dramatists, Jakarta used to be the centre of their cultural universe. They looked to Jakarta for inspiration. There were no boundaries then -- we were but brothers in literary and cultural arms. We accepted Indonesian writers, poets, artists and dramatists just like our own. Many among us were influenced by the works of Indonesian writers -- Rendra, Iwan Simatupang and Pramoedya Ananta Toer to name a few. When Rudolph Puspa came with his Teater Keliling (literally "moving theatre") troupe in the early 1970s to Kuala Lumpur, the influence was hard to ignore. As a young dramatist, it left a lasting impression on me.

I spent a lot of time in Jakarta back then. Taman Ismail Marzuki (TIM) was everyone's dream of a unique cultural centre. I watched plays and poetry readings there. It was the idea of the former governor of Jakarta, the legendary Ali Sadikin. Everyone worth his or her salt wanted to be part of the action at TIM. Jakarta was a lot simpler then. And a lot less expensive. For those in government service, the only affordable hotel in lieu of our entitlement was the Sabang. It was within walking distance of Jakarta's major landmarks -- Tugu Monas, the Triangle (comprising of its major boulevards, Jalan Sudirman, Jalan Gatot Subroto and Jalan Rasuna Said), not to mention affordable shopping arcades, halal food and a robust nightlife.

I befriended Pak Suparto ("call me Sandy"), the Mr Fix It. He had only one phrase, "Bisa diatur pak!" (It shall be arranged, pak) for every request, with the right price of course. For many years whenever I was in Jakarta, he was my supir (driver), my guide and bodyguard, sort of. He took me to many seminars, outings and dinners. When I left government service and joined a newspaper company, he was my handyman sorting out logistics that even the most well-oiled corporate communication guys would feel like giving up.

Sandy was a mystery himself, revealing very little of who he really was. He spoke a Javanese accent that revealed his origin -- a Ponorogo from Central Java. His run-down Toyota Corolla KE 20 was like a cockroach meandering the notorious macet (traffic jam) that was already a standard feature of Jakarta back then. Just tell him where to go. When his car was too cumbersome to brave the lorong (alleys), he would get the bone-shaking bajaj to take me places. Or when I was really rushing, he would put me on an ojek (motorcycle taxi). It was a hell ride, but worth the try when one is facing a matter of life and death.

He was Mr Jakarta himself who claimed to know every nook and corner of the city. Many times I went local, nongkrong (squatting) with him enjoying es alpukat (iced sweetened avocado) or teh botol (bottled tea). At Pasar Senen, he caught a pencopet (pickpocket) trying to run away with my wallet. He knew almost everyone that matters in town -- even pengamen (street buskers), Pak Ogah (the streets' U-Turn boys), asongan (boys selling almost everything that is the city's version of roadside convenience stores) and the preman (literally local thugs). He had his way of solving various infractions with the police and the guys from the city authorities.

Jakarta has changed over the years. But many things remain. The kampung kumuh (slums) are still there, so too the macet (which is getting worse) and the nightlife. Jakarta is redefining itself every day. It is a city that is least understood yet standing out as one with a character of its own. Jakarta is not about high-rise structures and chock-a-block slums, it is also about culture and the art scenes.

Jakarta is a city where ABG (Anak Baru Gede or young girls) are trying to find space as much as the demonstran (demonstrators) trying to make waves on the slightest provocation. Just look at its newspapers -- it has the freest press this side of the globe, and the 300-odd gossip and celebrity tabloids to distract you.


It is a city where people survive on hopes and dreams yet punctured by crippling realities. But they manage somehow -- survival is becoming an art form for many of its poorest inhabitants. The rich are from a different planet altogether. Many are nesting in such enclaves as Menteng, Kebayoran, Pondok Indah and Kemang. The OKB or Orang Kaya Baru (New Rich) show off their opulent lifestyles.

Life is tough in this city, yet very few are complaining. Perhaps it is a part of the Jakarta psyche to brave another day. For someone like Sandy who died two years ago, spending five decades in Jakarta was worth the hassle. People like him made others understand Jakarta better -- at least they brought to my attention the human side of this great city.


http://www.nst.com.my/Saturday/Columns/2119834/Article/index_html

Sphere: Related Content

Kenangan di Pasar Senen

Rabu, 26-12-2007 14:50:36 oleh: Berthold Sinaulan

Kanal: Gaya Hidup
Kenangan di Pasar Senen Ini mungkin satu lagi contoh "kisah narsis" di Wikimu. Ya, gara-gara Mbak Mira Tj menulis "Jangan Sombong Kalau Masuk Pasar Senen" (http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?ID=5409) , penulis jadi terkenang kembali dengan pengalaman-pengalaman penulis di kawasan pasar yang telah berusia ratusan tahun itu.
Pasar Senen memang telah ada sejak masa Hindia-Belanda. Setidaknya, ada dua pendapat mengenai penamaan pasar itu. Pertama, karena pada masa lalu pasar di sana memang hanya buka pada hari Senin (seperti juga Pasar Rebo yang buka di hari Rabu, Pasar Kamis buka di hari Kamis, Pasar Minggu di hari Minggu, dan sebagainya). Kedua, ada yang menganggap bahwa penamaan pasar itu berdasarkan nama tokoh yang kemungkinan besar juga menjadi tuan tanah pemilik kawasan itu.
Dalam tulisan saya "Mester, Mester, ..." yang dimuat di Wikimu pada 29 Maret 2007 (http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=1916), penulis telah menyinggung sedikit mengenai seorang tokoh yang mempunyai tanah luas di kawasan yang saat ini dikenal dengan nama Jatinegara di Jakarta Timur. Pada masa Hindia-Belanda, Jatinegara disebut dengan Meester Cornelis.
Ini kutipan dari tulisan berjudul "Mester, Mester..." itu:
"Nama Meester Cornelis digunakan dengan merujuk kepada pemilik tanah di kawasan itu yang bernama Meester Cornelis Senen. Dia adalah seorang warga Pulau Lontar, Banda, yang dikirim ke Batavia (nama Jakarta saat itu) oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Jan Pieterzoon Coen pada tahun 1621.
Pastor Adolf Heuken SJ menulis di dalam bukunya yang berjudul Gereja-gereja Tua di Jakarta (terbitan tahun 2003), bahwa Cornelis Senen adalah anak dari keluarga kaya di Pulau Lontar. Di Batavia, Cornelis Senen menjadi seorang guru agama Kristen. Pada tahun 1635, Cornelis Senen membuka sekolah, memimpin doa, dan membaca khotbah dalam Bahasa Melayu. Selain mampu berbahasa daerahnya, Banda, dan Bahasa Melayu, Cornelis Senen, mempelajari juga Bahasa Portugis dan tentu saja Bahasa Belanda. Itulah sebabnya dia juga diberi kesempatan memimpin khotbah agama dalam Bahasa Portugis. Jabatannya sebagai guru (agama) itu yang membuat Cornelis Senen mendapat tambahan gelar Meester di depan namanya.
Setelah sepuluh tahun melayani umat Kristen berbahasa Melayu dan Portugis, maka dia diangkat menjadi proponent, calon pendeta. Saat akan menempuh ujian untuk menjadi seorang pendeta pada tahun 1657, dia ditolak oleh panitia ujian. Tak jelas sebabnya, namun bisa jadi karena Cornelis Senen adalah seorang bumiputera asli dan bukan bangsa Belanda.
Walaupun demikian, Meester Cornelis Senen masih diberikan hak istimewa untuk menebang pohon di tepi Kali Ciliwung yang letaknya sekitar 15 sampai 20 kilometer dari kota Batavia (kawasan Jakarta Kota saat ini). Di tempat itu, dia juga mempunyai sebuah tanah luas penuh pepohonan jati pada tahun 1661. Kayu dari pohon-pohon jati yang ditebang, dikirim ke kota dengan cara dihanyutkan lewat Kali Ciliwung. Kayu-kayu itu kemudian dipakai menjadi bahan untuk membangun rumah dan lainnya. Tanah luas penuh pepohonan jati itulah yang kemudian dikenal dengan Meester Cornelis dan karena pernah penuh dengan pohon-pohon jati, belakangan disebut pula Jatinegara."
Nah, ada yang menganggap bahwa Meester Cornelis Senen itu bukan hanya mempunyai tanah di kawasan Jatinegara sekarang, tetapi juga di kawasan yang kini dikenal dengan nama Senen di Jakarta Pusat.
Ah, entahlah. Namun yang pasti, penulis telah mengenal Pasar Senen itu sejak kecil. Dibandingkan dengan Suhu Tan atau mungkin juga Pak Mimbar, Ibu Nury dan Wikimuers lainnya yang telah lebih lama mengenal Jakarta, mungkin pengalaman yang telah penulis rasakan saat "bersinggungan" dengan pasar itu tak terlalu banyak.
Walaupun demikian, ada beberapa catatan penulis tentang pasar itu. Paling tidak di kawasan itulah, kalau tidak salah di Jalan Kenanga, penulis "berkenalan" dengan beragam produk peralatan olahraga, di samping toko-toko olahraga di Pasar Baru. Ada satu toko olahraga yang cukup terkenal di kalangan anak-anak dan remaja, yaitu "Siong Vo" (maaf, kalau salah penyebutannya). Toko itu terkenal dengan sepatu bolanya yang waktu itu belum banyak dijual di Jakarta.
Soal sepatu bola ini, penulis yang ketika SD sempat bergabung dengan klub sepakbola anak-anak "Putra Dewata" dan berlatih di lapangan sepakbola Manggarai, Jakarta Selatan, juga mempunyai pengalaman tersendiri. Suatu ketika, sepatu bola milik penulis ketinggalan di bangku sekolah di SD Kwitang III PSKD di Jalan Slamet Riyadi Raya, Jakarta Timur. Wah, padahal itu merupakan sepatu bola kesayangan penulis.
Semalaman penulis tak dapat tidur. Pagi-pagi sekali penulis berangkat ke sekolah, dan untunglah sepatu bola itu masih teronggok di bangku penulis. Pengalaman itu kemudian penulis kirimkan ke Harian Indonesia Raya yang kalau tidak salah dipimpin oleh wartawan senior Rosihan Anwar. Luar biasa, tulisan karya seorang siswa SD dimuat di harian ternama itu pada 1972 (ah, jadi ingin mencari tulisan itu, mungkin ada di koleksi Perpustakaan Nasional RI).
Kembali ke Pasar Senen, penulis semakin sering ke sana sewaktu duduk di bangku SMA di SMA III PSKD di Jalan Kwini I, Jakarta Pusat. Sekolah penulis persis bersebelahan dengan tempat tinggal penyanyi terkenal 1970-an Ade Manuhutu yang kemudian menjadi pendeta. Lagunya yang terkenal adalah Nona Anna, dan kami para siswa sering menirukan menyanyikannya. Baik di sekolah maupun saat pulang sekolah. Sepulang sekolah, penulis dan teman-teman yang pulangnya searah, menyeberang jalan dan menunggu bus kota di depan Pasar Senen, sambil bernyanyi, "Nona Anna, Nona Anna, engkau membuat semua pria...". Waktu itu mal Atrium Senen belum ada, dan Lapangan Banteng masih menjadi Terminal Bus Kota. Jadi kami para siswa, menunggu bus kota dari arah Lapangan Banteng yang melalui Pasar Senen dan menuju ke arah Matraman dan Jatinegara. Penulis sendiri akan turun di depan Apotik Djatinegara, lalu menyeberang menuju ke rumah di Jalan Slamet Riyadi IV.
Nah, ada kalanya sebelum pulang ke rumah, kami bermain-main dulu di Pasar Senen. Di sana ada toko Sincere Store, dan di toko itulah penulis membeli kamera Yashica, yang merupakan kamera foto pertama milik penulis, dengan uang tabungan yang penulis kumpulkan sedikit demi sedikit. Rasanya bangga, mempunyai kamera foto sendiri.
Sewaktu jatuh cinta, aha...!, penulis juga mengajak teman dekat wanita yang juga siswa SMA, ke Pasar Senen untuk sekadar membelikan es shanghai atau makan mi bakso. Mungkin inilah yang namanya "cinta monyet", karena saat itu penulis memang sering membeli kacang goreng (bukankah monyet sering diasosiasikan makan kacang, he..he..he..).
Bagaimana dengan Wikimuers lainnya? Ada juga pengalaman di Pasar Senen?
Foto: Lambang Hindia-Belanda, bisa dilihat di Museum Kebangkitan Nasional/Gedung STOVIA di Jalan Kwini, Jakarta Pusat.

Sphere: Related Content

Foto Performance Art Ilham J.Baday

Dengan hormat,

Foto-foto Performance Art Ilham J.Baday

Jumat, 28 Desember 2007

di eks Museum Mpu Tantular (depan Kebun Binatang) Surabaya

dimuat di www.suarasurabaya.net

Selengkapnya, silakan klik:

http://www.suarasurabaya.net/v05/potretkelanakota/index.php?d=&id=071cc62a859f8369b78707c1a0a8a4164664

Fotografer: Totok.

Siang ini masih ada performance art di Eks Museum Mpu Tantular Surabaya.


Informasi:
Ilham J.Baday
081 55 986 1860

http://ilhamjbadaysurabaya.multiply.com


Terima kasih.

Sphere: Related Content

28 Desember 2007

Milis Mediacare dan PKI

Kronik Dokumentasi Wida:


POLA PIKIR DAN MENTALITAS "KAMBING HITAM".
Suatu Sikap Budaya



Milis mediacare@yahoogroups.com, dituding oleh pimpinan redaksi Majalah Forum Keadilan, Jakarta, sebagai "Milis PKI". Secara spontan aku mereaksinya dengan gelengan kepala tak mengerti. Zaman sekarang khoq masih ada orang berpikir sesempit ini, menjadikan PKI yang secara organisasi sudah diremukkan oleh Orba Soeharto sebagai "kambing hitam", memelihara budaya takut yang bersifat represif dan menolak kenyataan bahwa hidup bermasyarakat itu di mana pun serta kapan pun senantiasa majemuk. Jika dilihat dari sudut nilai Repulik dan berkeindonesiaan, tudingan terhadap milis mediacare di atas pasti bertolak belakang dengan rangkaian nilai republiken [yaitu: kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan] dan berkeindonesiaan yang bersarikan kemajemukan seperti yang disimpulkan dalam motto: bhinneka tunggal ika yang tercantum di kaki garuda sebagai lambang Republik Indonesia [RI].


Kenyataan majemuk itu menagih keterampilan meramu sari kemajemukan itu menjadi sesuatu yang baru dan tanggap zaman guna memanusiawikan manusia dan kehidupan yang tak henti berkembang. Keragaman itu indah, penyeragaman mengandung janin petaka. Demikian Rara temanku sering berkata agar aku tidak lupa karena tahu bahwa lupa lebih gampang mengusik diri kita dan berdampak negatif .Di negeri ini lupa atau pura-pura lupa atau sengaja lupa sering masih jadi asesoris hidup yang dibanggakan.


Dari segi sejarah pun, agaknya berkutat pada gertakan menakut-nakuti orang dengan "bahaya PKI", kukira juga bersifat ahistoris. Sebab RI dalam sejarahnya didirikan dan dibela oleh bukan oleh satu dua etnik dan agama besar tapi oleh semua etnik di negeri ini dan oleh pengikut rupa-rupa pandangan serta aliran pikiran. Pandangan ahistoris begini memang masih kuat di Indonesia, salah satu ujud lemahnya pandangan dan sikap serta pengetahuan sejarah , termasuk ketakutan pada kenyataan sejarah. Pembakaran buku sejarah di berbagai daerah karena tidak mencantumkan kata PKI atau G30S/PKI, kiranya paralel dengan tudingan dan pola pikir pimpinan redaksi majalah Forum Keadilan di atas.


Tudingan ini, aku lihat sebagai satu contoh lagi dari sekian banyak contoh bahwa kerusakan terberat yang dilakukan dan ditinggalkan oleh Orba Soeharto terletak pada perusakan sistematik pola pikir dan mentalitas anak negeri dan bangsa. Berpangkal pada otoritarianisme dengan segala anak cucu pikirannya seperti paternalisme, militerisme, kekuasaan lelaki dan sistem sentrisme atau sentralisasi [seperti yang terkandung misalnya pada penafsiran bahwa Republik Indonesia disempitkan pada kesatuannya. Padahal untuk tercapainya kesatuan bisa diujudkan dengan berbagai cara.Misalnya desentralisasi, otonomi luas, negara serikat].

Tudingan pimred Majalah Forum Keadilan pada milis mediacare@yahoogroups com di atas, kubaca juga sebagai petunjuk bahwa nilai non republiken dan tidak berkeindonesiaan masih merupakan nilai dominan di negeri ini secara budaya. Masalah kebudayaan, jadinya merupakan masalah mendesak untuk diperhatikan. Barangkali di sini budayawan, sastrawan-seniman dan para pendidik serta pimpinan politik ditagih peran dan tanggungjawab mereka. Pola pikir dan mentalitas "kambing hitam", "gunjing", "intrik" hanyalah beberapa bentuknya saja. Republiken dan berkeindonesiaan , kukira adalah suatu sikap nalar, pandai membaca kenyataan dan tegar maju ke perujudan RI yang sebenarnya. Cara pikir "kambing hitam", "menakut-nakuti", kiranya tidak diperlukan untuk melaksanakan RI yang masih sedang menjadi. Cara pikir dan mentalitas begini, kukira sudah kadaluwarsa dan tidak tanggap zaman lagi. Benarkah?!


Tahun Baru 2008 sebentar tiba menunggu dengan sekian tantangan. Berapa kadar sikap budaya begini tersisa di tahun mendatang? Sebagai anak Dayak, aku memasukinya dengan ikat kepala rara [lawung bahandang, ikat kepala merah]. Selamat Tahun Baru 2008 dengan segala makna serta usaha maksimal memaknakannya demi pemanusiawiaan manusia dan kehidupan.***


Paris, Desember 2007
-----------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa Koperasi Restoran Indonesia, Paris.

Sphere: Related Content

Tanggapan atas Novel Sejarah Towan ES Ito

Towan en Nyonya sekalian,


Rahasia Meede terkarang Towan ES Ito, saya kaget sekutika baca itu advertentie besar dengan segambreng nama,
dengan segambreng cahaya pepujian yang mencorong bikin silo, bikin oleng en kliyengan ka setiap orang
yang baca percis kena sunglap advertentie tobib jeman normal. Saya lantes pasang kuping ka sajomblah marika
yang ada mengarti sejarah jeman kumpeni, sebab dari legokan sastra itu urusan yang trada bisa diope-ope,
tapi laen soal dengan yang disebut begitu gagah sebagai cerita dengan "fakta-fakta yang dijadikan latar belakang
historis" – (Towan John-de Rantau); "lika-liku sejarah... dengan dukungan riset amat kuat" (Towan Chatib Basri);
"kaya data" (Towan Donny Gahral Adian); "detail sejarah
Jakarta" (Towan H. Timbo Siahaan); "dahsyat detil
sejarahnya" (Towan Fadjroel Rahman).
Sekutika leos juga dengkul saya dengernya, marika bilang  itu ada lebi sebagi fantasi yang ora punya akar suatu yang
ada betul kajadian di dalem sejarah, lebi sebagi bebisaan si empunya cerita.

Emang kitaorang ora perlu kaget srenta kudu redhoin buat ngusap dada krena yang model beginian betul-betul lagi rame
diikutin orang, termasuk juga slordig atawa gegabahnya. Saya ada baca novel Gajah Mada yang berelo-elo serinya itu
precis
snetron jeman kemarian itu, saya juga ikut diskusinya tapi kaget kutika si pengarang jemberangan
sumbernya, trada satupun dia sebut buku babon yang saya berasa ora mungkin kitaorang tau sisik melik
singasari-majapahit tanpa baca NJ Krom, CC Berg, FDK Bosch dan cuman mengandalkan Slamet Mulyana juga Moh Yamin.

Aha, tentu saja kita orang kudu kasi tanya sama itu Towan Ito, apa yang ada dia baca sebagi bahan buat kasi bangunan
sejarah jeman-jeman en peristiwa srenta manusia yang dibikin sebagai latarnya dengan detil itu, sebab kitaorang pun
tahu begimana Pram itu ada pengarang yang bebakat besar, tapi dia sadar betul kutika akan bikin itu opus magnum Buru.
Dia bukan cuman kendirian bahkan ada kasi prenta seluruh mahasiswanya buat geratak gedong arca en bikin tindesa itu
macam-macem koran citakan awal abad. Kata Towan Goenawan Mohammad dia jadi siap dengan catatan, data, statistik yang
meyakinkan. Lantas sekali lagi tulung Towan Ito kasi tau kitaorang apa itu "riset amat kuat" yang katanya Towan
Basri?

Kitaorang emang kangen en kepengenan punya "Pram" lagi, ngarep malah ampe tengimpi-ngimpi, tapi tulung jangan itu
bikin kitaorang jadi precis orang buta. Lebi bahaya lagi krena kemudian orang rame angap itu sebagai accepted
history, astaga ini bebahaya betul dah…lebih bebahaya setidanya sama dengan kitaorang menganggap sejarah buat
Towan Nugroho untuk Orba itu ada sebagai accepted history.
Tapi itu soal kekurangan afdol sejarah dalam novel ada  senggol juga kitaorang ampunya perkara dimana para
sejarawan kitaorang mandeg. Kitaorang ampunya studi sejarah mandek, marika kebanyakan nguplek di sejarah 65 aja,
en itu juga belon juga mendapet terang, tapi saya berasa emang betul kalu dalem kerapatan pertama sejarawan
Indonesia,
itu panitia bapak Mohammad Ali ada bilang, "Kitaorang kudu kumpulin itu sumber, bikin ngejablek dan baru mulai historiografi
alias penulisan sejarah". Tapi kenyataannya pinjem kata Pram - ratusan doktor sejarah, puluhan jurusan sejarah tapi
hasilnya anak belaka. Sedang vertaling buku-buku babon sejarah ada trada dipratiin, krena orang ada rame-rame buat
vertaling picisan-picisan jepang en europa seranta amrika doang. Kalu dah begini kitaorang kudu kasi mahap dah, kalu
ada yang nulis itu novel sejarah, jadinya percis orang bikin nasi goreng tapi ora ada nasinya, bumbu doang yang kecium
kemana-mana tapi trada nasinya, sayang emang jadi ora kenyang en menyihatkan cuman mabok aroma, tapi mo ngatah
apa la emang kitaorang emang bener kata Towan Onghokham "demen betul dibohongin, didongegin". Klop dah, pas kalu
karang ada rame orang srebu itu buku Towan Mangaraja Onggang Parlindungan, Towan Langit Kresna Hariadi, en
yang baru eni buku Towan ES Ito. Kalu dah begin inget Bung Kecil dah "Ah bangsaku".

Tabe srenta hormat

JJ Rizal
(Sejarawan UI, Kolumnis Koran Nederlands, Ketua Komunitas Bambu)

e-mail: masupjakarta@yahoo.com

KPSBI-HISTORIA
Phone: (021) 7044-7220, Mobile: 0818-0807-3636

Sphere: Related Content

Agenda Acara DKJ - Januari 2008

Rencana Kalender Kegiatan
Dewan Kesenian Jakarta
Januari 2008
No.
Tanggal
Pukul (wib)
Kegiatan
Tempat
1.
3 – 30 Januari
14.15 / 17.30 / 19.30
Kineforum
Pemutaran film sebulan penuh, setiap hari, tiga kali sehari. Bulan ini, Kineforum akan memutar film-film
Studio 1 TIM 21
14 Januari
16.00
Diskusi Kineforum
Diskusi onn air tentang "Karakteristik Cinematografi Film Indonesia" di Radio Utan Kayu, bersama Raya Makarim, Arya Agni, dan MT Rizaq*.
* dalam konfirmasi
On air di Radio Utan Kayu
2.
14 – 20 Januari
Sehari penuh
Urbanimation
Pesta Animasi Indonesia yang merupakan ajang untuk mengapresiasi dan mengembangkan animasi Indonesia sebagai wadah komunitas animasi, studio film animasi, komunitas film independen, maupun para individu pembuat film animasi, yang akan menjadi barometer seni dan industri animasi Indonesia. Kegiatan ini akan dihadiri, didukung, dan diramaikan oleh komunitas animasi dalam, luar negeri, dan masyarakat pecinta animasi. Keterangan lebih lanjut, klik www.urbanimation.org.
Teater Kecil, Graha Bakti Budaya (GBB), Kineforum, Galeri Cipta 2, Galeri Cipta 3, Kineforum (Studio 1 TIM 21) -- Taman Ismail Marzuki (TIM)
3.
25 Januari
20.00
Teater Tujuan
"Lagu ini Untukmu" oleh kelompok I Love You Mime, naskah dan sutradara oleh Stephanus Hermawan K. Pementasan ini bercerita tentang seorang remaja yang berjuang menghadirkan konser persembahan untuk mendiang ibunya.
Sanggar baru dan Kampus UI*
*dalam konfirmasi
4.
26 Januari
18.00
Gondang Naposo
Tradisi Gondang Naposo adalah tradisi Batak Toba yang dulunya adalah saat yang ditunggu-tunggu karena mereka dapat berkenalan dengan para pemuda pemudi dari kampung-kampung yang lain dalam acara ini. Bahkan di acara Gondang Naposo inilah mereka menemukan pasangannya.
Gelanggang Remaja Olah Raga Rawamangun, Jakarta Timur
Informasi lebih lanjut, hubungi:
Nina Samidi
Communication Officer
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya No.73 Jakarta Pusat 10330
Telp. (021) 3193 7639 / 316 7280
Fax. (021) 3192 4616
Hp. 0817.078.1719
Klik www.dkj.or.id untuk melihat agenda kegiatan Dewan Kesenian Jakarta.
Tengok juga jurnal kesenian dan kebudayaan terbitan DKJ, www.jurnalcipta.com.

Sphere: Related Content