28 Mei 2006

Katrin Bandel "mencincang" Ayu Utami




U L A S A N:
Suara Lain dari Seberang

Sekumpulan tulisan yang menyerang sanjung-puji para kritikus terhadap para penulis perempuan Indonesia mutakhir. Argumentasinya mantap.


Dalam lima tahun terakhir ladang sastra kita ramai oleh gunjingan telah terjadi krisis kritik sastra. Mutu kritik dituding tak bisa mengimbangi membanjirnya karya sastra sebagai objek kritik dengan tumbuhnya media massa dan penerbitan. Pendeknya, kritik sastra kita, sebagai sebuah ranah sastra tersendiri, sudah mati.


Ada yang menuding krisis itu berpangkal karena adanya “politik sastra”. “Politik” itu berupa kuatnya jaringan personal antara komunitas- komunitas sastra terkemuka (yang di dalamnya ada kritikus terkemuka juga) dengan para penulis. Penulis yang bisa masuk ke dalam jaringan- jaringan kritikus arus utama itu akan mendapat tempat dalam ranah sastra kita.


Aktivis sastra siber, Saut Situmorang, gencar menyuarakan tudingan dan asumsi ini. Bukan tanpa kebetulan jika istrinya, Katrin Bandel, penulis buku ini, juga punya asumsi yang sama. “Buku ini lahir dari rasa kecewa terhadap permainan politik sastra semacam itu,” tulis Katrin. Penulis asal Jerman ini menuding para kritikus dalam jaringan itu telah tidak adil dalam menilai sebuah karya.


Katrin menunjukkan pilih kasih para kritikus itu. Karya yang mendapat tempat dan sanjungpuji itu secara kualitas, dalam penilaian Katrin, ternyata biasa- biasa saja. Sementara itu, banyak karya lain yang punya kualitas lebih terlewat dari gunjingan para kritikus di media massa hanya karena dia tak punya kontak ke jaringan kritikus arus utama itu.


Dan sepanjang delapan tahun ini, sastra kita (terutama novel dan cerita pendek) ramai oleh tema seputar seks yang ditulis perempuan. Para kritikus arus utama menilai hadirnya perempuan mengangkat dan membongkar seks dari kotak tabu selama ini sebagai bentuk pemberontakan perempuan terhadap budaya patriarki—sebuah budaya yang makin kentara dalam gunjingan yang riuh itu bahwa perempuan memang baru dihargai karena dia perempuan.


Sebab, belum pernah terdengar ada penulis laki-laki dipuji karena dia terlahir sebagai laki-laki. Inilah fokus yang mengambil sebagian besar sorotan Katrin terhadap karya sastra kita dewasa ini. Dia, misalnya, menyoroti dua novel Ayu Utami, Saman dan Larung, yang dianggap “novel terbaik sependek sejarah sastra Indonesia modern”.


Lalu kemunculan tiba-tiba Djenar Maesa Ayu, Dinar Rahayu, dan penulis perempuan lainnya yang menggarap tema tak jauh-jauh dari selangkangan secara telanjang. Para penulis yang dipuji- puji telah mengenalkan teknik bercerita yang baru ini, di mata Katrin, tak lebih hanya merumitkan narasi belaka.


Ia menyiapkan argumentasi, merujuk teori, membongkar kelemahan sorotan atas karyakarya mereka, lalu ia sendiri menunjukkan fakta lain yang mendukung ulasannya. Ada terasa argumentasi yang mantap, memang, sehingga segala bangunan kritik puja-puji itu goyah bahkan ambruk.


Yang tampak segera dari tulisan-tulisannya ini adalah usaha menyampaikan argumentasi sendiri dengan meminimalkan kutipan pemikir-pemikir sebelumnya yang seringkali dipakai bermegah diri oleh para kritikus lokal generasi terbaru. Penilaian Katrin semacam ini sah dan wajar saja.


Sebuah karya sastra serupa raksasa tak akan habis sungguhpun dicincang dari pelbagai sudut. Karya yang berhasil malah akan terus merangsang daya kritis para pembaca. Tetralogi Bumi Manusia yang ditulis Pramoedya Ananta Toer sudah banyak diulas dari pelbagai segi: politik, nasionalisme, teori komunisme, kejiwaan, sejarah, cerita yang biasa saja, dan seterusnya.


Alih-alih habis, tetralogi makin mengukuhkan kepengarangan Pramoedya. Ini juga menunjukkan bahwa baik-buruk mutu sebuah karya ditentukan oleh lompatan waktu, bukan oleh kritikus yang memuji atau mencacinya. Seorang kritikus adalah seorang pembaca yang bertanya. Ia mengungkap segala aspek yang tak terlihat oleh penikmat sastra biasa.


Ia menyampaikan perspektif dengan, kalau perlu, mencari pijakan teorinya. Menurut Budi Darma, kritik yang baik adalah kritik yang memberi wawasan. Kritik yang baik adalah kritik yang bisa membangkitkan siklus mencipta: karya sastra bisa melahirkan kritik, dan kritik bisa merangsang sebuah karya baru. Dalam perkembangan sastra Indonesia yang belum menunjukkan keunikannya ini, rangsangan semacam itu sangat perlu.


Budi Darma sendiri sudah mempraktekannya ketika menulis novel Olenka (dan mungkin cerita-cerita Orang-orang Bloomington). Secara jujur ia mengaku terinspirasi oleh satu kritik sastra yang ditulis pengarang Inggris, EM Forster. Kita tidak tahu bagaimana Budi Darma mendapat ilham menulis cerita sepulang dari Amerika.


Cerita-cerita mutakhirnya lebih tertib dan terarah, tak ada lanturan dan tokoh-tokoh yang kesurupan lagi. Karena berangkat dari “rasa kecewa” itu, tulisan-tulisan Katrin yang menyerang kritik sebelumnya terasa garang dan berapi- api, lalu melupakan sorotan terhadap nilai sebuah karya sebagai suatu kesatuan.


Sebaliknya, tulisan lepas yang membahas novel atau fenomena jauh lebih subtil dan memberikan perspektif baru. Karena itu, tulisan yang paling menarik dari buku ini adalah ulasannya soal dukun dan obat dalam sastra Indonesia, tema-tema pascakolonial, dan sastra siber. Soal dukun dan obat agaknya ringkasan dari disertasi Katrin di jurusan sastra Indonesia Universitas Hamburg, Jerman.

Menarik karena sorotan semacam ini jarang disentuh oleh kritikus lokal. Lagipula, perdebatan kritik sudah terjadi sejak zaman kuda bertukar tanduk dengan rusa. Persoalan rendahnya mutu kritik dan kewibawaan kritik selalu berulang dari generasi ke generasi. Perulangan debat semacam ini, bukankah menunjukkan bahwa memang ada fenomena dan tren tertentu dalam sastra Indonesia?

Barangkali karena buku ini bukan sekumpulan tulisan dengan kepaduan tema. Katrin telah meniru tabiat “intelektual publik” Indonesia yang membuat buku dengan mengumpulkan serpihan-serpihan ide lewat tulisan yang terserak dalam pelbagai berkala. Karena itu setiap ulasan tentang sebuah tema dalam buku ini terasa tak bebas ruang geraknya karena terbatas oleh jumlah halaman dan karakter di media massa tempat asalnya.

Seandainya Katrin mau menambah jelas tiap argumentasi, menyelipkan teori yang lebih ajeg untuk mendukungnya, atau memperluas tema sorotan sebelum dibukukan, ke-11 tulisannya ini bisa jauh lebih berbobot. Kemungkinan lain, sebuah tulisan dalam buku ini ditulis untuk sebuah tema pada suatu waktu tertentu dengan mempertimbangkan aktualitas.

Meski begitu, buku ini tetap menarik sebagai sebuah bahan otokritik terhadap arus utama kritik sastra mutakhir kita, semacam suara lain dalam menimbang sebuah karya. Sebuah otokritik dari seberang, yang mengingatkan, memberi tempat pada karya yang luput dari pengamatan para kritikus arus utama itu.

BAGJA HIDAYAT

Ruang Baca Koran Tempo - Edisi 28 Mei 2006

Sphere: Related Content

01 Mei 2006

Pramoedya Telah Pergi, Berangkatlah Polemik!




http://kompas.com/kompas-cetak/0605/01/utama/2619997.htm

Senin, 01 Mei 2006

Obituari
Pramoedya Telah Pergi, Berangkatlah Polemik!


Riuh kiriman pesan lewat layanan pesan singkat atau SMS sejak Sabtu (29/4) terus berlanjut hingga Minggu petang.

SMS gelombang pertama kaget bertanya, benarkah pengarang besar itu
sudah meninggal dunia? Gelombang kedua bergeser, mengapa koran dan sejumlah
tokoh menganggapnya pahlawan, padahal dia dulu anti-"Manikebu" dan lagi ia
dulu berhaluan kiri?

Kalau Anda hadir melayat di kediaman pengarang yang pernah mendekam di
bui selama 10 tahun dalam pembuangan di Pulau Buru, dengan nomor tahanan
politik (tapol) 007, "perdebatan", dan sebenarnya "pembelaan" oleh sejumlah
anak muda dan pendukungnya, juga terjadi menjelang jenazah diberangkatkan
dan dimasukkan ke liang lahat, Minggu (30/4) siang.

Setelah dimandikan, jenazah Pramoedya dishalatkan pukul 12.00 di tengah
ruangan. Saat keranda diangkat menuju ambulans sekitar pukul 13.00, tidak
dinyana berkumandanglah lagu Internationale dan Darah Juang di tengah
ratusan pelayat yang berdempetan di gang sempit Jalan Multikarya II/26, Utan
Kayu, Jakarta Timur. Lagu yang pertama adalah sajak seorang buruh anggota
Komune Paris (1871), Eugene Pottier, yang selanjutnya menjadi lagu mars kaum
proletariat dan kekuasaan diktatur proletariat yang berkuasa selama 72 hari
pada masanya.

Internationale yang dinyanyikan adalah versi terjemahan dalam bahasa
Indonesia oleh Ki Hadjar Dewantara. Yang kedua adalah lagu perjuangan
mahasiswa Indonesia yang lahir di zaman reformasi menjelang jatuhnya Orde
Baru, 1997-1998. Ini lagu karangan aktivis John Sonny Tobing, mahasiswa
Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta. Sebagai catatan, bersama lagu ini lahir
juga Sumpah Mahasiswa, ciptaan Afnan Malay, juga aktivis dari Fakultas Hukum
UGM. Meski sekilas, syair kedua lagu itu jelas, pembelaan pada rakyat kecil,
pada buruh: Bangunlah kaum yang terhina/Bangunlah kaum yang lapar
("Internationale").

Keluarga besar Pramoedya Ananta Toer yang terdiri dari 8 anak, 16 cucu,
dan 2 cicit semuanya berkumpul. Istrinya, Ny Maemunah, ada di sana. Minggu
pukul 09.15, Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia setelah sebelumnya jatuh
di rumah Bojong Gede dan sesak napas.

Hadir di sana antara lain Goenawan Mohammad, Sitor Situmorang, Ratna
Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik,
puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Sejumlah karangan bunga tanda
duka, antara lain dari Kontras, artis Happy salma, pengurus DPD PDI
Perjuangan, dan Dewan Kesenian Jakarta, mengantar kepergiannya.

Menjelang jenazah dimasukkan ke liang lahat di Makam Karet Bivak,
Jakarta Pusat, kembali lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan.
Anak-anak muda yang datang sebagian dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan
elemennya.

Sastrawan penerima penghargaan dari dalam dan luar negeri, yang
terakhir Presidential Medals of Honor for Pablo Neruda Centennial dari
pemerintah Cile (2004), itu oleh pendiri PRD, Budiman Sujatmiko, dianggap
sebagai gurunya. Pikiran dan buku-buku Pram adalah inspirasi sebuah
perlawanan oleh anak muda, katanya. Tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua
Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah adalah potret anak muda di tengah
perubahan dari masa feodalisme ke kapitalisme. Mingke, adalah tokoh
simboliknya. "Aku hidup di zaman Orba, pakai jalan juga jalan raya Orba,
tapi bukan berarti kita berutang kepada Orba, justru fasilitas-fasilitas itu
kita manfaatkan untuk melawan," kata Budiman. Penyair Yogyakarta, Joko
Pinurbo, malah mengirim SMS puisi berjudul Selamat Jalan Pram: selamat jalan
buku/selamat sampai di ibukata/ibunya rindu....

Generasi sezaman, sahabat eratnya, wartawan senior Amarzan Lubis
(aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat/Lekra dan mantan Redaktur Harian Rakjat)
dan Oei Hai Djun (77) (mantan anggota DPR dari Partai Komunis), melihat Pram
sebagai sosok independen dan manusia kuat. Kualitas utama Pram adalah tidak
pernah dapat dipatahkan oleh penderitaan. "Pram juga tidak pernah tunduk
berargumen. Pikirannya mandiri," kata Oei.

Dramawan Putu Wijaya mengaku pengagum karya Pram, tetapi tidak pada
kegiatan politiknya. Sejak SD, Putu mengagumi karya Pram, seperti Perburuan,
Si Midah Bergigi Emas, atau Mereka yang Dilumpuhkan. "Tetapi, setelah
periode itu, karya Pram berciri realisme sosial. Soal politik itu urusan
beliau dan saya tidak bisa gabungkan menilainya," ujar Putu.

Sastrawan Eka Budianta melihat peran Pram pada dorongan untuk mencintai
dan mengenali Tanah Air kita sedalam-dalamnya. Pram disebutnya pembina
bahasa Indonesia lewat karyanya. "Pram minta adakan kongres pemuda supaya
pemuda sendiri melahirkan tokoh-tokohnya," kata Eka tentang Pram yang
katanya masih menyimpan sejumlah manuskrip yang belum terbit, Soekarno di
Mata Dunia dan Dunia di Mata Soekarno.

Sebagaimana pernah diungkapkan Goenawan Mohammad, "kreativitas
Pramoedya adalah krativitas polemik", agaknya inilah kehadiran Pram,
karyanya dan pribadinya. Tetralogi di atas, lalu Mangir, Arok Dedes, Arus
Balik, dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, bahkan Gadis Pantai, jelas merupakan
sebuah "dekonstruksi" dan pada akhirnya perlawanan terhadap feodalisme,
kekuasaan, mitos, atau kedengkian yang melahirkan penindasan.

Polemik akan mekar lagi sejak sekarang: adakah kata senapas dengan
perbuatan? Bagi siapa pun di muka bumi ini....(VIN/DHF/EDN/HRD)




Senin, 01 Mei 2006 NASIONAL

Pramoedya Telah Tiada
SM/Antara

JAKARTA - Pramoedya Ananta Toer akhirnya mengembuskan napas terakhir,
Minggu (29/4) pagi kemarin, tepatnya pukul 08:55, di kediamannya, Jl Multi
Karya II, Utan Kayu, Jakarta. Di dekapan kawan-kawan terdekatnya dan
Judistira Ananta Toer (41), anak bungsunya, Bung Pram, demikian almarhum
biasa disapa, sempat menitipkan beberapa pesan.

''Salah satunya, ayah meminta saya untuk mengurus Lentera Dipantara
(usaha penerbitan yang dirintis Pramoedya),'' ujar Judistira yang mengaku
sedih sekaligus gembira itu. ''Saya gembira karena dalam seumur hidup baru
kali ini berpelukan dengan ayah,'' imbuh Judis. Adapun beberapa pesan
terakhirnya, setelah melalui rapat keluarga, tidak diluluskan.

''Bung Pram meminta untuk dibakar jasadnya,'' terang Mujib Hermani yang
bersama Chafjay Syaifullah juga menjadi saksi detik-detik terakhir kepergian
Pram.

Mujib dan Judistira kemudian mengisahkan saat-saat terakhir kandidat
penerima Hadiah Nobel Sastra itu wafat. ''Seperti biasa, yang jelas beliau
masih ingin melakukan aktivitas seperti membakar sampah, ngumpulkan koran,
dan mengklipingnya,'' ujar Judis.

Pesan-pesan lainnya tidak bisa ditangkap dengan jelas oleh Judis.
''Pembicaraannya sudah tidak jelas, meski saya sudah menempelkan telinga
saya. Jadi, saya hanya ngangguk-ngangguk."

Pramoedya ketika dibawa pulang dari Ruang ICU RS St Corolus, Salemba,
Sabtu (28/4) malam pukul 20.30 masih dalam keadan sadar dan menatap satu per
satu kawan-kawan dekatnya. ''Subuh, Bung Pram sempat meminta saya untuk
dibantu mengenakan baju berwarna biru, dan saya segera membantunya,'' ujar
Mujib. Setelah itu, lanjut Mujib, Pramoedya berkata bahwa dia sudah tidak
kuat.

Kehilangan

Pramoedya yang meninggalkan delapan putra dari dua istri, dalam ingatan
Judistira adalah sosok yang keras dan teguh pendirian.

Berpulangnya Pramoedya menimbulkan duka berbagai kalangan yang
menunjukkannya dengan memberikan penghormatan terakhir di kediamannya.
Tampak Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Salahudin Wahid, Menteri Kebudayaan
dan Pariwisata Jero Wacik, Nurul Arifin, Mayong, Yenny Rosa Damayanti, Radar
Panca Dahana, Taufik Rahzen dan kalangan aktivis serta musisi punk rock
Jakarta hadir di sana.

Dalam prosesi pemakaman Pramoedya secara Islam, istri dan anak-anak
sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu tampak tabah dan takzim.
''Bapak meninggal dengan tenang, jadi apa yang harus saya sedihkan?'' kata
Judistira.

Pramoedya datang ke rumah iparnya di Blora, Ny Susilo, terakhir pada
pertengahan bulan puasa tahun 2005. (Benny Benke,Urip Daryanto-41n)



Senin, 01 Mei 2006 NASIONAL

Tinggalkan Bumi Manusia

INNA lillahi wa inna ilaihi rajiun. Pramoedya Ananta Toer tak pernah
menyerah di bawah kepongahan dan kebebalan (kekuasaan) manusia. Namun kini,
mau tak mau, dia harus menyerah di bawah kuasa ilahi.

Ya, Minggu (30/4) kemarin pukul 08.30, dia mengembuskan napas terakhir
dalam rengkuhan keluarga tercinta. Kini Pram telah pergi, meninggalkan bumi
manusia.

Sebelumnya, pada saat kritis Pram sempat menceletuk bahwa kaum muda
harus melahirkan pemimpin. Dia memang senantiasa menumpukan harapan akan
perubahan ke arah kehidupan (berbangsa dan bernegara) yang jauh lebih baik
pada kaum muda. Dia sudah kehilangan kepercayaan kepada generasi tua,
termasuk generasi seangkatannya.

Menurut penilaian dia, mereka tak mampu mengelola negara ini menjadi
lebih beradab dan bermartabat. Cuma kaum mudalah, ujar dia pada berbagai
kesempatan, yang harus ambil peranan: merebut kesempatan dan menjadi
pemimpin di segenap sektor kehidupan.

Pramoedya Ananta Toer dilahirkan di Jetis, Blora, 6 Februari 1925. Dia
anak sulung sulung M Toer, aktivis politik dan sosial terkemuka di kota
kecil itu. Sang ayah pernah menjadi Kepala Sekolah Institoet Boedi Oetomo,
menggantikan dokter Soetomo yang pindah ke Surabaya.

Pramoedya telah menelurkan ratusan tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi,
baik karya asli maupun terjemahan. Karya paling monumental adalah tetralogi
Buru, Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca. Itulah
sebagian karya yang dia tulis di pengasingan, di Pulau Buru, berbelas tahun
pada masa pemerintahan Soeharto.

Dia dikenal sebagai sosok kontroversial, baik sebagai pengarang maupun
aktivis kebudayaan. Dia senantiasa memperjuangkan kebebasan (kreatif). Namun
justru karena itulah dia kerap tertelikung di balik jeruji penjara. Pada
masa kolonial, dia dipenjara karena keberpihakannya pada kemerdekaan bangsa
ini. Tahun 1961, pemerintahan Soekarno memenjara dia akibat menulis buku
Hoakiau di Indonesia - wujud keberpihakan pada kebenaran sejarah dan
keadilan bagi kelompok minoritas.

Sebagai pemuncak, pada masa Orde Baru, Pram harus "menikmati" belasan
tahun hidup di berbagai penjara karena peranannya sebagai eksponen Lembaga
Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dianggap onderbouw Partai Komunis Indonesia
(PKI). Pada 13 Oktober 1965-Juli 1969 dia mendekam di Penjara Salemba,
Jakarta. Kemudian dipindah ke Nusakambangan (sampai 16 Agustus 1969), Pulau
Buru (sampai 12 November 1979), serta Penjara Magelang dan Banyumanik,
Semarang (sampai Desember 1979).

Pulang dari pengasingan bukan berarti Pram bebas dari penistaan.
Rumahnya terampas serta koleksi buku dan naskahnya dibakar. Dia juga
mengalami pembunuhan karakter. Stigma sebagai eksponen komunis, yang tak
pernah dibuktikan lewat pengadilan yang adil, jujur, dan terbuka,
terus-menerus membayangi kehidupan Pram dan seluruh keluarganya.

Dia ada dan terus berkarya. Namun terus-menerus ditiadakan.
Buku-bukunya dilarang beredar. Bahkan para pemuda, antara lain Bonar Tigor
Naipospos dan Isti Nugroho di Yogyakarta, yang sekadar membaca dan
mendiskusikan karyanya pada paro kedua 1980-an harus meringkuk di penjara.
Berkali ulang penulis novel Koroepsi (1954) itu diunggulkan untuk menerima
hadiah Nobel kesusastraan. Namun konon karena lobi pemerintahan Soeharto,
suami Maemunah Thamrin, kemenakan pahlawan nasional Mohamad Husni Thamrin,
itu tak pernah memperoleh anugerah tersebut.

Akan tetapi berbagai hadiah dan penghargaan lain telah lebih dari cukup
mengukuhkan peran pria perokok berat yang dinobatkan sebagai orang paling
berpengaruh oleh majalah Time itu. Dia menerima antara lain anugerah Freedom
to Write Award dari PEN American Center (1988), The Fund for Free
Expression, AS (1989), Wertheim Award, Belanda (1995), Ramon Magsaysay
Award, Filipina (1995), Partai Demokratik Rakyat Award (1996), Unesco
Madanjeet Singh Prize (1996), doctor of humane letters dari University of
Michigan, Madison, AS (1999), Chanceller's Distinguished Honor Award dari
University of California, Berkeley, AS (1999), Chevalier de l'Ordre des Art
et des Letters dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Prancis (1999),
New York Foundation for the Art Award, AS (2000), Fukuoka Cultural Grand
Prize, Jepang (2000), dan Centenario Pablo Neruda, Cile (2004).

Pengumuman Yayasan Magsaysay, 19 Juli 1995, yang hendak memberikan
penghargaan bidang sastra dan jurnalistik kepada Pramoedya memunculkan
kehebohan. Pada 29 Juli 1995, 26 orang antara lain Mochtar Lubis, Rendra,
dan Taufiq Ismail mempertanyakan pemberian hadiah itu. Mereka berpendapat
Pram tak layak memperoleh penghargaan karena bertanggung jawab atas
pengekangan kebebasan kreatif dan berpendapat pada masa paling gelap dalam
sejarah kreativitas di negeri ini (1959-1965).

Mochtar Lubis bahkan bersikap lebih keras. Dia mengembalikan uang
hadiah uang dari lembaga itu dengan mencicil - hadiah sama yang dia peroleh
jauh sebelum Pram. Pemerintah juga menghambat kepergian Pram ke Filipina
untuk menerima penghargaan. Akhirnya Maemunah Thamrin-lah yang datang ke
negeri yang lebih bisa menghargai prestasi dan sumbangan Pram terhadap
kemanusiaan itu ketimbang di negeri sendiri.

Sikap Mochtar Lubis dan kawan-kawan direspons kaum muda, antara lain
Ariel Heryanto, Sitok Srengenge, Sutanto (Mendut), Sosiawan Leak, dan Tan
Lioe Ie, dengan mengumumkan "Pernyataan Kaum Muda untuk Kebudayaan". Dalam
pernyataan sikap yang ditandatangani 26 pemuda dari berbagai kota di
Indonesia itu, mereka menilai sikap Mochtar Lubis dan kawan-kawan merupakan
pewarisan dendam masa lalu dan pengobaran kembali prasangka politik. Bagi
mereka, langkah itu jelas menghambat demokratisasi yang bertumpu pada
kejujuran, keadilan, sikap kritis, serta kedewasaan sikap dan nurani.

Kontroversi sosok penerjemah Mother karya masterpiece Maxim Gorki
menjadi Ibunda (1958) itu tampak pula, misalnya, dari kesediaan dia memenuhi
permintaan Gus Dur datang ke Istana Negara pada hari-hari awal sang kiai itu
menjadi presiden. Saat itu Gus Dur bertanya soal visi kemaritiman karena
tahu betapa mendalam dan visioner pandangan Pram mengenai perkara itu.
Banyak orang heran, namun tak menyadari bahwa visi itu telah tertuang secara
menarik dan dramatis dalam novel Arus Balik (1995).

Namun, beberapa waktu kemudian, dia memboyakkan Gus Dur yang meminta
maaf, baik sebagai pemimpin NU maupun pemimpin bangsa ini, atas keterlibatan
jamaah NU dalam pembunuhan massal pasca-G30S 1965. Bagi Pram, rekonsiliasi
bangsa ini hanya mungkin jika seluruh komponen mau mengakui secara jujur apa
yang telah terjadi. Dan, kemudian mengubah keadaan menjadi lebih baik
melalui pembangunan sistem hukum yang berkeadilan. Itu, menurut pendapat
dia, tidak mungkin tercapai cuma lewat omongan. Namun harus diwujudkan dalam
tindakan nyata.

Lihatlah pula, betapapun dicegah beredar di negeri sendiri, karya-karya
Pram tak terhalangi untuk diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di
dunia. Karya-karya itu bakal tetap hidup, meski Pram sendiri telah pergi,
sekali lagi, meninggalkan bumi manusia menuju ke keabadian.

Ya, dia meninggalkan bumi manusia, tempat selama ini dia nyaris
senantiasa disalahpahami. Namun dia juga meninggalkan Bumi Manusia, karya
yang akan senantiasa dibaca dan dibaca lagi oleh orang-orang di berbagai
belahan bumi ini. Itulah karya kemanusiaan yang abadi. Karya-karya, yang
menurut penilaian The Washington Post Book Review, muncul dari seorang
master, seseorang yang berkecerdasan brilian dalam menata jejaring motivasi,
karakter, dan emosi.

Selamat, Pram, selamat jalan!

(Gunawan Budi Susanto-53)

Sphere: Related Content