22 Desember 2006

Gerakan Syahwat Merdeka mengepung Indonesia

Seorang bule bertubuh tinggi besar bergegas ke luar ruangan Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta Pusat. Langkahnya acuh saja. Sembari berjalan lurus, dia kemudian mendekati penyair Taufiq Ismail yang tengah dirubung banyak orang. Setelah sampai di dekat Taufiq, ia menyalaminya.

"Selamat ya. Pidato kebudayaan Anda bagus sekali. Tapi ingat, media massa Indonesia juga banyak sampahnya. Lihat siaran televisi Anda. Bayangkan kalau di Amerika tayangan itu diputar pada pukul 03.00 pagi, di sini malah diputar pada prime time," kata si bule sembari memegang tangan Taufiq. Yang disalaminya pun membalas dengan senyum simpul. "Terima kasih Tuchrello. Memang demikian adanya. Maaf, kalau banyak mengambil contoh negara Anda," jawab Taufiq.

Sesaat dia lantas menerangkan sahabatnya itu adalah Will Tuchrello, direktur Perpustakaan Kongres AS Perwakilan Indonesia. "Bayangkan, mereka saja resah atas menggejalanya budaya bebas tanpa batas itu. Tapi, kok kita tidak ya?" ujar penulis lirik lagu-lagu hits Bimbo ini.

Taufiq, Rabu (20/12) malam, melalui pidato kebudayaannya di depan kalangan Akademi Jakarta mengguncangkan kesadaran publik untuk kembali menengok nurani pada hilangnya rasa malu orang Indonesia. Bahkan, Taufiq lugas menyebutkan hilangnya rasa malu itu telah mulai meruntuhkan bangunan bangsa.

Tagihan rekening reformasi, menurut Taufiq, ternyata mahal sekali. Indonesia dikepung gerakan 'Syahwat Merdeka'! "Gerakan syahwat merdeka ini tak bersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri sendiri. Tapi, bekerja sama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya. Ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan eletronik menjadi pengeras suaranya," kata Taufiq dalam pidatonya.

Ketika mendengar 'kesaksian' Taufiq, sesaat ruangan Teater Kecil yang penuh dipadati puluhan pengunjung mendadak berubah. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, misalnya, segera membuka buku kecil yang memuat pidato Taufiq Ismail.

Dari arah bangku belakang, kemudian terdengar lenguhan panjang. Seorang ibu berguman. Penulis skenario film senior, Misbach Yusa Biran, menggeleng-gelangkan kepala. Pemusik kontemporer Slamet Abdul Syukur tepekur di kursinya.

Ruangan teater pun terus senyap. Suhu udara berpendingin kini mulai terasa merambahi kulit. Taufiq kemudian meneruskan pidatonya dengan menjelaskan mengenai siapa saja yang menjadi komponen 'syahwat merdeka' itu.

Paling tidak ada 13 pihak yang menjadi pendukung fanatik gerakan ini. Pertama adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi.

Kedua, para penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklan televisi.

"Semua orang tahu betapa ekstentifnya pengaruh layar kaca. Setiap tayangan televisi rata-rata 170 juta pemirsa. Untuk situs porno kini tersedia 4,2 juta di dunia dan 100 ribu di internet Indonesia. Untuk mengaksesnya malah tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Fransisco, maupun Klaten," tegasnya.

Pendukung keempat adalah penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku sastra dan bukan sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya adalah penulis pria. Di Indonesia sebaliknya. Penulis yang asyik menulis wilayah 'selangkangan dan sekitarnya' mayoritas perempuan. "Dalam hal ini ada kritikus Malaysia berkata, 'Wah Pak Taufiq, pengarang Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu?" ungkap Taufiq Ismail.

Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam, produsen VCD/DVD porno. Ketujuh, pabrikan alkohol. Kedelapan, produsen, pengedar, dan pengguna narkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap rokok. Hal ini dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat permisif, interaksi antara seks, narkoba, dan nikotin akrab sekali. Sukar
dipisahkan.

Selanjutnya, komponen ke-10 adalah para pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Ke-11, germo dan pelanggan prostitusi. Ke-12 adalah dukun dan dokter praktisi aborsi.

"Bayangkan data menunjukan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,2 juta setahun. Maknanya, setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal di suatu tempat akibat dari salah satu atau gabungan faktor-faktor di atas," tandas Taufiq Ismail.

Menurut Taufiq, kehancuran hilangnya rasa malu itu kemudian tecermin dalam gemuruh gelombang penolakan RUU Pronografi dan Pornoaksi. Ini adalah pihak ke-13. Pada satu sisi memang ada kekurangan. Dan salah satu kekurangan RUU ini, yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah perlindungan terhadap anak-anak yang jumlahnya 60 juta.

Perbandingannya, kalau di Indonesia masih nihil perundangan perlindungan anak, di AS anak-anak di sana paling tidak kini dilindungi enam undang-undang.

Sastra ganjil

Mengomentari keresahan Taufiq, pengarang perempuan NH Dini menyatakan, saat ini memang ada yang ganjil dalam dunia sastra. Entah mengapa tiba-tiba ada sekelompok penulis perempuan yang giat menulis cerita bergaya pornografi. Mereka memang tidak merasa risi atau malu. Entah sengaja atau tidak, mereka sudah menyalahartikan erotisme menjadi sama saja dengan pornografi.

"Beberapa waktu lalu, ketika tinggal di Prancis, saya dikirimi mendiang Ramadhan KH sebuah novel Indonesia yang mendapat penghargaan karya sastra. Ramadhan, karena tidak 'kuat' membaca, meminta saya membaca novel tersebut. Dan benar, saya hanya kuat baca beberapa lembar saja."

"Saya kemudian berpikir, apa bagusnya novel ini, kok sampai mendapat penghargaan? Malah lebih terkejut lagi, ketika bertemu dengan seorang rohaniwan, dia malah memuji novel itu. Akhirnya, saya semakin tidak mengerti," tutur NH Dini.

Budayawan Riau, Al Azhar, menyatakan, apa yang dikatakan Taufiq itu memang kenyataan yang kini terjadi. Beberapa penulis memang menghasilkan karya yang 'tidak masuk akal' karena hanya membahas soal selangkangan. Dominasi ide hanya memaparkan idealisme hedonis. Realitas kehidupan rakyat yang berbudi diabaikan.

"Entah apa yang dipikirkan generasi hedonis itu. Mutunya sangat jauh bila dibanding karya Pramudya Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Terjadi penurunan mutu karya yang serius. Generasi syahwat merdeka memang kini mengepung kita," tandas Al Azhar.
(muhammad subarkah)

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=276485&kat_id=3a.co.id/koran_detail.asp?id=276485&kat_id=3

Republika - Jumat, 22 Desember 2006
__________________________________

TANGGAPAN


From: Mula Harahap
E-mail: mulaharahap@yahoo.com



Tentang Menjadi Teratai atau Lele

Sebagai seorang budayawan seharusnya Taufiq Ismail tahu bahwa kadang-kadang seniman perlu menggunakan ekspresi-ekspresi tentang seksualitas untuk memberikan kedalaman pemikiran dan perasaan dari gagasan besar yang sedang diusungnya lewat karya kreatifnya itu. Dan bila sang seniman berhasil membuat kita menangkap pesan yang lebih dalam, maka ekspresi-ekspresi tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah. Dalam beberapa karyanya Umar Kayam Mohtar Lubis, N.H. Dini, W.S. Rendra, Ahmad Tohari dsb. pernah memakai ekspresi-ekspresi seperti tersebut di atas.

Yang menjadi masalah ialah, bila ekspresi-ekspresi tentang seksualitas itu tidak memberi kedalaman pemikiran dan perasaan tentang gagasan besar yang sedang diusung sang seniman. (Apalagi kalau ekspresi-ekspresi itu disajikan secara blatant dan vulgar).

Ekspresi-ekspresi tentang seksualitas itu menjadi mengganggu dan "norak". Dan bagi orang yang tidak mempunyai cita rasa artistik dan otaknya "ngeres", ekspresi-ekspresi itulah yang dianggapnya sebagai gagasan besar yang sedang diusung oleh sang seniman. Pada gilirannya pemahaman yang salah-kaprah itu hanya mengumbar nafsu rendah manusia.

Tapi saya jadi bertanya-tanya, mengapa hanya mengeluhkan ekspresi-ekspresi tentang seksualitas? Bagaimana dengan ekspresi-ekspresi tentang hal-hal lain yang juga diumbar secara berlebihan, blatant dan vulgar?

Saya melihat bahwa di banyak karya, ekspresi-ekspresi tentang Tuhan dan agama pun acapkali diobral tanpa berhasil memberikan kedalaman pemikiran dan perasaan dari gagasan besar yang sedang diusung sang seniman lewat karya kreatifnya. Dan sama halnya seperti seksualitas, ekspresi-ekspresi itu pun acapkali terasa mengganggu, "norak", dan yang pada gilirannya juga hanya mengumbar nafsu rendah manusia.

Kalau Taufiq Ismail mengeluh tentang media massa kita yang sarat dengan ekspresi- ekspresi tentang seksualitas, maka seyogianya ia juga mengeluh tentang media massa kita yang juga sarat dengan ekspresi-ekspresi tentang Tuhan dan agama yang blatant dan vulgar. Bagi saya, mengobral ekspresi tentang seksualitas demi tujuan popularitas dan uang, sama saja bahayanya dengan mengobral ekspresi tentang Tuhan dan agama demi tujuan popularitas dan uang.

Tapi dalam konteks karya-karya kreatif, kita sebenarnya bukan hanya mengalami masalah dengan ekspresi-ekspresi tentang seksualitas dan Tuhan. Kita juga mengalami masalah dengan ekspresi-ekspresi tentang reformasi, demokrasi, keadilan, pendidikan, dan sebagainya.

Menurut hemat saya, dewasa ini persoalan kita sebagai masyarakat dan bangsa ialah bahwa kita telah kehilangan citarasa dan kepekaaan dalam memandang berbagai kenyataan kehidupan. (Aduh, lihatlah tingkah laku para politisi, birokrasi, penggiat LSM dan sebagainya itu). Kita sedang mengalami proses pendangkalan berpikir dan merasa.

Tapi pada fihak lain, para seniman kita pun tak bisa melepaskan diri dari kubangan lumpur pendangkalan yang sedang melanda masyarakat dan bangsanya. (Alih-alih menjadi teratai yang mampu memberikan bunga yang indah, mereka tetap tinggal menjadi lele).

Mereka telah kehilangan kemampuan untuk bisa menangkap berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi oleh dirinya, masyarakatnya dan bangsanya, serta juga telah kehilangan kemampuan untuk membungkus persoalan-persoalan tersebut secara kreatif dalam ekspresi-ekspresi yang subtil, sehingga masyarakat menjadi terbebaskan dan tercerahkan.

Kalau memang benar adanya bahwa reformasi, demokrasi, keadilan, kesejahteraan, seksualitas dan Tuhan adalah persoalan besar yang sedang kita hadapi sebagai masyarakat dan bangsa; maka mana karya- karya membebaskan dan mencerahkan yang merupakan pergumulan intens para seniman tentang hal-hal tersebut? Tidak ada!

Memang dalam beberapa karyanya seniman-seniman kita merepet tentang reformasi, demokrasi, keadilan, kesejahteraan dsb. Tapi ekspresi-ekspresinya juga sama blatant dan vulgarnya seperti ketika mereka berbicara tentang seksualitas dan Tuhan serta agama. Dengarkanlah ekspresi-ekspresi yang biasa dibacakan oleh para seniman kita (bersama dengan para saudagar, bintang filem sinetron, politisi, agamawan dsb) pada malam menjelang Hari Proklamasi 17 Agustus atau malam Pergantian Tahun itu. Datar, dingin, tak memberi kedalaman apa pun, bahkan mengganggu atau "norak". (Dan menurut hemat saya sajak- sajak Taufiq Ismail adalah salah satu dari karya yang seperti itu).

Kalau saya hadir di TIM ketika Taufiq Ismail membacakan orasi kebudayaannya, saya juga pasti gelisah. Tapi kegelisahan saya pasti akan berbeda dengan kegelisahan Din Syamsuddin dan kaum agamawan lainnya yang cenderung melihat kerusakan moral masyarakat dan bangsa ini hanya di seputar kebobrokan moral dan etika seksual.

Saya gelisah karena seorang seniman dan budayawan seperti Taufiq Ismail melihat persoalan masyarakat dan bangsa ini secara sangat sederhana dan meredusirnya hanya ke urusan seksualitas. Saya gelisah karena orasi kebudayaan cenderung berubah menjadi ceramah agama yang populer. Saya gelisah karena lagi-lagi seniman dan budayawan Indonesia--dalam kasus ini, Taufiq Ismail--tak mampu menangkap persoalan yang sedang dihadapi masyarakat dan bangsanya secara mendalam dan komprehensif.

Akhirnya, maafkanlah saya kalau gerutuan saya ini berubah menjadi "orasi kebudayaan" yang seharusnya menjadi porsi tuan-tuan terhormat yang menduduki kursi Akademi Jakarta itu.

Selamat memasuki Tahun Baru 2007. Jayalah Indonesia.

Horas,

Mula Harahap

Sphere: Related Content

01 November 2006

Politik komunitas sastra

Oleh Saut Situmorang*

“Aku tidur di depan sebuah kulkas. Suaranya berdengung seperti kaus kakiku di siang hari yang terik. Di dalam kulkas itu ada sebuah negara yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing. Sejak ia berdusta, aku tak pernah memikirkannya lagi.”

***

Demikianlah bunyi empat baris pertama prose-poem Afrizal Malna yang berjudul “Persahabatan Dengan Seekor Anjing” dari bukunya Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (Bentang, 2002). Sajak-prosa Afrizal tersebut, bagi saya, merupakan semacam metafor atas apa yang selama ini dikenal sebagai “sastra Indonesia”. Saya bilang selama ini karena, bagi saya, saat ini sudah tak ada lagi “sastra Indonesia” itu. Walau bahasa ekspresinya masih memakai bahasa “Indonesia”, tapi isi dari “sastra” yang disebut sebagai “sastra Indonesia” tersebut sudah bukan sastra lagi melainkan sesuatu yang cuma berpretensi sebagai “sastra” belaka. Dunia “sastra Indonesia” saat ini telah menjadi sebuah “negara” dalam sebuah “kulkas” dengan “partai-partai spanduk dan kaos oblong”. Sebuah negara “yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing” sambil “mencekik suara rakyat”nya sendiri, yaitu para sastrawan, para seniman sastra, yang dalam kepala masing-masing tak ada ambisi ekstra-literer kecuali hanya bagaimana mencipta karya-karya sastra yang baik dan perlu untuk dibaca oleh pembaca lokal maupun internasional. Baik karena memang ditulis sebagai sebuah karya seni dan perlu untuk dibaca karena memang menawarkan sebuah ide, sebuah pemikiran yang bisa memperkaya pengalaman intelektual pembacanya. Para seniman sastra yang mempertaruhkan reputasi kesenimanannya hanya pada mutu karyanya, bukan pada politik berkesenian yang semata-mata didukung oleh besarnya jumlah uang dan dusta belaka.

Arogansi yang cuma bersandar pada besarnya jumlah uang dan retorika dusta sudah merajelela dalam dunia kang ouw sastra Indonesia. Para dilettante sastra, para petualang sastra merajalela, menjadi paus-paus sastra baru, mencipta kanon-kanon sastra baru. Tapi tak pernah sekalipun para paus-paus sastra baru ini mampu membuktikan di mana sebenarnya kedahsyatan kanon-kanon sastra baru yang mereka ciptakan itu. Berhasilnya mereka menjadi paus-paus sastra baru yang mencipta kanon-kanon sastra baru pun bukan disebabkan oleh kedahsyatan argumentasi teori seperti yang biasanya terjadi dalam sebuah dunia yang demokratis dan beradab tapi cuma karena dominasi besarnya jumlah uang dalam bentuk media massa yang mereka miliki semata. Media mereka inilah yang menjadi alat retorika dusta mereka. Media mereka inilah arogansi mereka.

Impotensi kritik sastra di Indonesia merupakan sebuah penyebab utama merajalelanya para dilettante sastra. Otoritas akademis/teoritis sebuah institusi kritik sastra di “negara yang sibuk mengurus makanan anjing” ini sudah digantikan oleh otoritas modal kapitalis. Kondisi pascakolonial ini makin diperparah oleh munculnya sebuah fenomena baru, yaitu maraknya keberadaan apa yang disebut sebagai “komunitas sastra” atau pengarang. Komunitas pengarang yang sejatinya adalah perkumpulan sekelompok pengarang independen yang berideologi artistik yang sama, seperti yang kita kenal dalam sejarah peradaban Barat pada para pengarang Neo-Klasik, para pengarang Romantik, para pengarang Simbolis, para pengarang Ekspresionis, para pengarang Futuris, para pengarang Imagis, Dada, Surrealis, Absurd, Eksistensialis, Realis-Magis, Beat, L-A-N-G-U-A-G-E, Konkrit, Marxis, Feminis, Pascakolonial, Posmo..., di negeri ini ternyata cuma menjadi komunitas sastra arisanis belaka. Namanya saja “komunitas pengarang” tapi orientasi hidupnya bukanlah mengarang dalam pengertian kreatif kata tersebut melainkan menunggu antrean arisan untuk diundang baca puisi atau baca prosa oleh komunitas sastra lain yang paling dominan kekuasaan uangnya. Idealisme para leluhur mereka yaitu para pengarang Barat (yang sering mereka ejek atau puja-puji setinggi langit walau tak pernah mereka baca/pahami dengan sebenarnya itu meskipun “sastra” sebagai sebuah Seni mereka peroleh dari kolonialisme Barat) yang telah berhasil mewariskan beragam aliran estetika di atas telah mereka campakkan ke dalam tong sampah. Akibatnya, bukan pluralisme gaya menulis yang terjadi tapi keseragaman estetika fascis. Bukan keseragaman eksplorasi artistik yang menghasilkan gerakan seni (art movement), tapi fetishisme selera seseorang, atau dua orang, yang menjadi duta besar kepentingan politik komunitas sastra yang paling besar kekuasaan uangnya. Koran dan majalah adalah kedutaanbesar komunitas sastra yang paling besar kekuasaan uangnya dan menjadi orientasi publikasi/sosialisasi karya para pengarang komunitas sastra lainnya.

Skandal sastra adalah kanonisasi sastra tapi dalam versi Indonesia skandal sastra adalah sekedar skandal sastra. Skandal sastra yang disebabkan buku puisi Baudelaire Les fleurs du mal (1857) di Prancis, yang disebabkan novel esek-esek Henry Miller Tropic of Cancer (1934) di Amerika Serikat atau novel Lady Chatterley’s Lover (1928) DH Lawrence di Inggris, yang disebabkan buku puisi Howl (1956) Allen Ginsberg di Amerika Serikat, misalnya, telah membuka sebuah horison kemungkinan gaya mengarang yang baru pada masing-masing budaya, telah menyebabkan musim semi artistik pada dunia sastra masing-masing budaya. Tapi skandal sastra pada apa yang dulu disebut “sastra Indonesia” itu cuma memperparah kondisi impotensi kritik sastra dan meningkatkan kekuatan dominasi komunitas sastra tertentu yang memang sengaja menciptakan skandal-skandal sastra tersebut. Skandal sastra adalah alat untuk melegitimasi sekaligus memperkokoh status quo komunitas sastra yang paling besar kekuasaan uangnya tersebut. Skandal sastra itu sendiri bisa mengambil bentuk pembuatan klaim-klaim pseudo-kritik sastra atas karya-karya sastra tertentu, biasanya menjatuhkan untuk karya produk komunitas lain dan mengelu-elukan kalau dikarang anggota komunitas sendiri. Klaim-klaim pseudo-kritik sastra itu sendiri diumumkan bukan lewat jalur komunikasi informasi yang netral tapi melalui media massa nasional yang dimiliki komunitas yang berkepentingan dimaksud. Skandal sastra juga dilakukan lewat pemberian hadiah sastra kepada pengarang-pengarang tertentu atau, ini yang paling sering menjadi pilihan strategis, melalui undangan festival sastra yang diselenggarakan komunitas yang berkepentingan dimaksud. Tapi dengan satu catatan pinggir: para pengarang “tertentu” yang dipilih tersebut memang sudah tertentu ideologi kepengarangannya, yaitu minimum bukan merupakan pengarang yang akan kritis terhadap sepak-terjang komunitas dimaksud. Seorang pengarang boleh saja kritis atas dekadensi kultural yang dikembangbiakkan komunitas dimaksud tersebut tapi asal dia tutup mulut dan pura-pura tidak tahu maka kesempatan untuk terpilih dalam arisan menikmati kue kesastraan ala komunitas tersebut sudah jauh lebih terpastikan. Seperti yang diteriakkan penyair Beat Allen Ginsberg dalam baris pembuka yang sangat terkenal dari puisi panjangnya Howl yang kontroversial itu, “I saw the best minds of my generation destroyed by madness, starving hysterical naked”, begitulah yang saya lihat sudah dan sedang terjadi pada otak-otak cemerlang generasi saya yang rusak karena gila ketenaran instan 15-minute fame ala MTV, lapar histeris akan legitimasi status kesastrawanannya, oleh silau ilusi pseudo-kosmopolitanisme yang dengan naif disangkanya direpresentasikan oleh komunitas yang “kekuatannya” semata-mata bersandar pada besarnya jumlah uang yang dimilikinya, bukan pada canggihnya pengetahuan dan kemampuannya.

Kenapa saya terus menerus menyinggung soal “besarnya jumlah uang” yang dimiliki oleh komunitas (-komunitas) sastra tertentu dalam esei saya ini? Jawabannya sederhana; dalam bahasa bangsa saya bangsa Batak Toba dikatakan bahwa “hepeng do na mangatur negaraon”. Memang uanglah yang mengatur negara “yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing” ini, yang terpesona pada superfisialitas, pada kosmetik, pada obskuritas, pada mediokritas. Bagaimana mungkin bisa memiliki media cetak budaya yang art paper kertasnya dan berkilauan sampul pembungkusnya tanpa memiliki uang dalam jumlah yang besar, misalnya. Bagaimana mungkin bisa menyelenggarakan apa yang dengan arogan mereka klaim sebagai “festival sastra internasional” (walau tak ada orang yang pernah mendengar nama-nama apalagi membaca karya dari yang mereka katakan sebagai “para sastrawan internasional” yang mereka undang tersebut!) kalau tak punya uang dalam jumlah yang besar! Yang kemudian menjadi persoalan (di luar persoalan “keinternasionalan” dan “kesenimanan” para undangan dari luar tadi) tentu saja adalah asal-usul dari uang yang jumlahnya besar itu sendiri. Kecurigaan saya, nama eksotis Dunia Ketiga “sastra Indonesia” yang digadaikan di luar sana (di mana konsep “dosa sejarah” kolonialisme Barat sudah menjadi moralisme baru political correctness dalam konteks wacana pascakolonialisme) untuk mengongkosi penyelenggaraan sebuah event sastra “internasional” yang sekaligus dijadikan alat legitimasi domestik atas kosmopolitanisme komunitas lokal yang melakukannya. Sangat minimnya pengetahuan para donatur internasional atas apa yang diklaim sebagai representasi “sastra Indonesia” kontemporer telah menyebabkan para donatur ini tidak perlu lagi repot-repot mempersoalkan benar-tidaknya klaim tersebut apalagi kalau klaim itu sendiri dibuat oleh seorang sastrawan Indonesia yang namanya sudah dikenal di luar sana. Di sisi lain, berhasilnya klaim tersebut diterima oleh para donatur internasional sehingga memungkinkan diselenggarakannya festival sastra “internasional” sebagai realisasi penggunaan dana yang diterima telah melegitimasi kosmopolitanisme prestise/identitas komunitas tersebut di dalam negeri sendiri terutama di kalangan komunitas-komunitas lainnya yang memang tidak punya akses ke pergaulan donatur internasional. Di sinilah retorika dusta telah menjadi diplomasi kultural yang canggih. Atau dalam bahasa pepatah orang awak di Sumatera sana: Sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati.

Politik representasi identitas “sastra Indonesia” oleh sebuah komunitas sastra tertentu semacam ini telah terbukti cuma menimbulkan krisis artistik. Di satu sisi, seleksi yang dilakukan atas sastrawan mana yang “pantas” untuk diikutkan dalam sebuah peristiwa “sastra internasional” untuk mewakili/atas nama “sastra Indonesia” lebih banyak diwarnai oleh faktor “keamanan ideologis” ketimbang pencapaian artistik. Seorang sastrawan yang memutuskan untuk “pura-pura tidak tahu” (lebih baik lagi kalau benar-benar tidak tahu!) politik kepentingan yang sedang dimainkan, bisa dipastikan, cepat atau lambat akan segera menerima surat undangan atau ditelepon langsung untuk mengambil bagian dalam proyek “sastra internasional” komunitas dimaksud. Akibatnya, kekritisan pemikiran yang sejatinya harus dimiliki oleh seorang sastrawan sebagai seorang anggota elite intelektual masyarakat Dunia Ketiga (yang penuh dengan ketidakadilan sosial-ekonomi dan penindasan politik itu) telah dikompromikan hanya demi tujuan-tujuan prakmatis belaka. Di sisi lain, sosok “sastra Indonesia” yang ditampilkan dalam peristiwa “sastra internasional” tersebut telah mengalami reduksi besar-besaran terutama dalam konteks pluralisme ideologi kepengarangan sastrawan Indonesia. Seleksi yang dilakukan atas para sastrawan yang “tidak membahayakan”, yang merupakan prosedur pemilihan yang jelas tidak bisa diganggu gugat, bisa dipastikan berakibat pada terciptanya orientasi artistik baru terutama di kalangan para pengarang muda yang berambisi untuk “go national and international” secara instan. Selera artistik komunitas tertentu tersebut dianggap merupakan “selera internasional/kosmopolitan” dan akhirnya terjadilah epigonisme gaya penulisan seperti yang sudah terjadi di kalangan pengarang muda di sebuah daerah tertentu. Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi kalau wabah flu epigonisme ini makin meluas di negeri ini! Persoalannya bukanlah karena gaya penulisan komunitas dimaksud itu tidak bermutu tapi lebih kepada pertanyaan sederhana begini: siapa yang bisa membuktikan bahwa selera artistik komunitas dimaksud itu memang yang paling bernilai makanya harus diikuti? Di sinilah faktor ekstra-literer seperti uang yang jumlahnya banyak sehingga mampu menerbitkan media “budaya” yang glossy dan penyelenggaraan “festival sastra internasional”, lebih berpengaruh ketimbang karya sastra yang dihasilkan.

Sinisme historis dalam melihat kondisi “sastra Indonesia” kontemporer inilah yang memenuhi kepala saya waktu saya membaca artikel berjudul aforistis “Karya Bagus, Argumentasi Lemah” oleh Chavchay Syaifullah di Media Indonesia, Minggu 8 Oktober 2006 lalu. Waktu itu saya berada dalam kereta api pagi yang membawa saya pulang ke Jogja setelah diundang Dewan Kesenian Jakarta baca-puisi pada acara Tadarus Puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya ngakak setelah selesai membaca artikel “subversif” tersebut sampai cewek manis di samping saya melirik dengan matanya yang bersiluet jilbab merah muda itu. Akhirnya ada juga wartawan budaya yang benar-benar percaya dan menjalankan “kebebasan pers” yang selama ini cuma jadi retorika kosong wartawan omong kosong di Republik Animal Farm ini, sorak saya dalam hati. Saya jadi teringat pada apa yang pernah dikatakan wartawan-cum-novelis kelas wahid dari Inggris itu, George Orwell: “During times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act”! Siapa bilang revolusi itu sudah tak ada lagi!!!

Begitu saya sampai di negeri gempa Jogja saya mendengar kabar burung bahwa Media Indonesia mendapat serangan SMS dari kelompok “sastrawan” yang namanya disebut-sebut dalam artikel-reportase Chavchay tersebut, yaitu komunitas Teater Utan Kayu (TUK) dan salah satunya bahkan menyatakan dengan arogan bahwa ruang budaya Media Indonesia dipimpin oleh 2 orang super-bego dan bahwa kedua orang “super-bego” ini menyebarkan kebodohan di koran nasional bertiras besar! Betapa arogannya! Betapa reaksionernya! So much for freedom of the press.

Tapi saya setuju dengan pendapat Chavchay Syaifullah dalam artikelnya itu. Justru apa yang dia tuliskan itulah merupakan kondisi memprihatinkan dari apa yang dulu disebut sebagai “sastra Indonesia” itu, yang membuat saya jadi teridap sinisme sejarah itu. Politik “sastra” yang dilakukan TUK terlalu kasat mata, terlalu vulgar, untuk tidak mungkin terlihat oleh orang-orang di luarnya, seperti saya misalnya. Dan saya sendiri pernah bersinggungan langsung dengan salah satu dari aktivitas mereka ini sampai berefek skandal di kota Solo beberapa waktu lalu. Saya sengaja datang sendiri naik motor bebek saya dari Jogja untuk melihat apa yang TUK klaim sebagai sebuah “Temu Sastra Internasional” yang akan mereka adakan selama 2 malam di Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo, setelah selesai di Denpasar. Saya ingin membuktikan sendiri benar-tidaknya “internasionalisme” event yang menurut saya cuma semacam program menebus dosa sejarah kolonialisme Belanda yang ironisnya justru dilakukan oleh salah satu negeri bekas jajahannya sendiri itu. Di Solo saya mendapat informasi bahwa ternyata tidak ada satupun sastrawan Solo yang ikut sebagai peserta dalam peristiwa sastra antar-bangsa yang justru diadakan di Taman Budaya kota itu sendiri, kecuali sebagai pembawa acara! Padahal di 2 kota lain di mana acara yang sama juga diarisankan, Denpasar dan Jakarta, para sastrawan lokalnya terlibat aktif termasuk membacakan karya masing-masing. Saya dan beberapa kawan seniman asal Solo lalu merespons arogansi TUK yang seolah-olah menganggap tak ada sastrawan Solo yang pantas ikut acara mereka yang hebat itu dengan membuat surat pernyataan dengan tanda tangan para seniman dan non-seniman dari berbagai latar belakang profesi dan asal kota dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang kemudian kami bagi-bagikan pada malam kedua, termasuk kepada peserta dari luar Indonesia. Respons dari TUK yang kami terima sudah gampang diduga, mirip dengan respons yang diterima Chavchay Syaifullah. Kami dituduh macam-macam. Saya sendiri misalnya dalam sebuah artikel-reportase yang ditulis dalam majalah berita Tempo beberapa hari setelah Skandal Solo itu berlalu dikatakan sebagai cemburu atau iri hati karena tidak diundang! Disuruh untuk mengelus dada sendiri! Pada malam kedua acara “Temu Sastra Internasional” yang kami ganggu dengan sengaja itu, saya dan kawan-kawan perancang surat pernyataan tersebut sebenarnya menunggu diajak konfrontasi argumentasi oleh panitia. Kami menunggu sambil ngebir di warung kopi tepat di depan pintu masuk gedung TBS itu karena konon Goenawan Mohamad sangat tersinggung dengan surat kami itu dan mengklaim kami anti-diskusi. Sampai kami pindah tempat minum ke sebuah café tengah kota, tak ada ajakan yang kami tunggu-tunggu itu datang. Malah, kata seorang kawan yang ikut malam itu dengan panitia acara, mereka minum-minum anggur setelah acara usai di rumah salah seorang seniman tari lokal. So much for a democratic literary discussion.

Apa yang diamati Chavchay sebagai “kegagapan forum” orang-orang TUK di arena sastra “internasional” berbahasa Inggris seperti Ubud Writers and Readers Festival bulan lalu itu cuma membuktikan kadar “internasionalisme” dan “kosmopolitanisme” komunitas yang selalu berpretensi paling radikal selera artistiknya ini. Coba baca kembali apa-apa yang pernah ditulis oleh Nirwan Dewanto dalam media yang ada relasinya dengan TUK tentang sastra Indonesia kontemporer. Klaim-klaim yang dibuat Nirwan Dewanto tentang puisi Indonesia saja, misalnya, sangat mengada-ada, tidak dapat dipertanggungjawabkannya, dan arogan sehingga kalau dibandingkan dengan apa yang dituliskan Chavchay tentang realitas gagap forum internasional TUK justru sangat pantas untuk disebut “super-bego”. Sementara untuk memuji-muji karya sesama anggota TUK seperti yang dilakukannya atas Ayu Utami, Nirwan Dewanto tidak merasa ada persoalan untuk mengatakan bahwa Ayu Utami tidak terlahir dari sejarah sastra Indonesia.

Narsisisme TUK ini akan lebih jelas lagi terlihat dari kutipan di bawah ini yang saya ambil dari sebuah artikel berjudul “The Search for a Silver Lining in Indonesia” di edisi bahasa Inggris majalah Jerman Der Spiegel 23 Desember 2005. Dalam artikel yang juga menyebut-nyebut nama Ayu Utami itu, perhatikanlah kata-kata yang saya italic di bawah:

The Utan Kayu cultural center in Jakarta provides a perfect example of progress, Indonesian style. It was here that the foundation of modern Indonesia was laid not too long ago. In the summer of 1994, when then dictator Suharto ordered three news magazines shut down, journalists and writers bought a group of run-down buildings at Utan Kayu 68 H and opened a publishing house -- in direct defiance of the dictator's edict. A left-leaning political movement soon developed and, in 1998, Utan Kayu became the starting point for the mass demonstrations that led to Suharto's ouster.

Benarkah TUK merupakan tempat di mana fondasi dari Indonesia modern diletakkan? Benarkah TUK merupakan sebuah gerakan politik kiri dan yang menjadi awal-mula dari gerakan reformasi yang menjatuhkan diktator Suharto?

Kalau kita mengatakan bahwa ini terjadi karena kesuperbegoan wartawan Der Spiegel yang buta akan sejarah jatuhnya Suharto, lantas dari mana dia mendapatkan informasinya tersebut? Juga bukankah sebego-begonya seorang wartawan dari sebuah media internasional sekaliber Der Spiegel, dia tetap akan mendasarkan reportasenya itu pada wawancara dengan pihak yang bersangkutan (seperti yang juga tersirat dalam artikelnya itu) dan tidak berdasarkan khayalan semata-mata?

Begitulah ironi politik komunitas sastra di negeri ini. Kenapa semua ini bisa terjadi justru setelah negeri ini terlepas dari cengkraman kediktatoran penguasa militer? Jawab kenapa.

*Saut Situmorang, penyair dan eseis, tinggal di Jogjakarta.


Rumah Dunia - 01 November 2006 - 02:00

Sphere: Related Content

25 Oktober 2006

Pramudya Ananta Toer

Pramudya Ananta Toer dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Novelis Indonesia paling produktif dan terkemuka yang pernah meredakturi ruang kebudayaan "Lentera" Harian Rakyat (1962-65) dan dosen di Universitas Res Publica Jakarta ini, setelah peristiwa G30S/PKI ditahan di Jakarta dan Pulau Buru sebelum akhirnya dibebaskan pada 1979.

Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, antara lain: Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, Jepang. Novel-novelnya yang telah diterbitkan: Kranji-Bekasi Jatuh (1947),
Perburuan (1950; pemenang Hadiah Pertama Sayembara Balai Pustaka 1949), Keluarga Gerilya (1950), Mereka yang Dilumpuhkan (1951), Bukan Pasar Malam (1951), Di Tepi Kali Bekasi (1951), Gulat di Jakarta (1953), Maidah, Si Manis Bergigi Emas (1954), Korupsi (1954), Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958; menerima Hadiah Sastra Yayasan Yamin 1964, dan ditolak pengarangnya), Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), Gadis Pantai (1985), Rumah Kaca (1987), Arus Balik (1995), Arok Dedes (1999). Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam: Subuh (1950), Percikan Revolusi (1950), Cerita dari Blora (1952; memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN 1952), Cerita dari Jakarta (1957;
meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58, dan ditolak oleh penulisnya).

Sedangkan karya-karya terjemahannya antara lain: Tikus dan Manusia (1950; John Steinbeck), Kembali kepada Cinta Kasihmu (1950; Leo Tolstoy), Perjalanan Ziarah yang Aneh (1956; Leo
Tolstoy), Kisah Seorang Prajurit Soviet (1956; Mikhail Solokhov), Ibu (1956; Maxim Gorky), Asmara dari Rusia (1959; Alexander Kuprin), Manusia Sejati (1959; Boris Pasternak). Selain itu, ia juga menulis memoar, esai, dan biografi.

Sphere: Related Content

Rahim Qahhar

Rahim Qahhar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 29 Juni 1943.

Menulis puisi, cerita pendek, drama, novel, dan skenario televisi.

Karya-karyanya: Mabukku pada Bali (1983), Abraham ya Abraham

(1984), Langit Kirmizi (1987; terbit di Malaysia), Melati Merah

(1988; terbit di Malaysia), Sajak Buat Saddam Husein (1991). Selain

itu, karyanya dimuat pula dalam sejumlah antologi penting, antara

lain: Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991; Suratman Markasan

[ed.]).

Sphere: Related Content

Putu Wijaya

Putu Wijaya

dilahirkan di Tabanan, Bali, 11 April 1944. Karya-karya dramawan

dan penulis cerita pendek paling produktif di Indonesia yang atas

undangan Fulbright pernah mengajar di Amerika Serikat antara

1985-89 antara lain: Telegram (1972; novel yang memenangkan hadiah

Sayembara Mengarang Roman DKJ 1971), Stasiun (1977; novel pemenang

hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1971), Dar-Der-Dor (1996), Aus

(1996), Zigzag (1996), Tidak (1999). Sejumlah karyanya telah

diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Rusia, Perancis,

Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand. Pada tahun 1991, atas prestasi

dan pencapaiannya dalam bidang kebudayaan, ia menerima Anugerah

Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Sphere: Related Content

Ramadhan KH

Ramadhan KH dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 16 Maret 1927.

Mantan redaktur majalah Kisah, Siasat Baru, dan Budaya Jaya yang

banyak menulis buku biografi dan pernah lama mukim di luar negeri

ini adalah penulis kumpulan puisi Priangan si Jelita (1958;

memenangkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58), dan novel-novel

Kemelut Hidup (1976; pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ 1974),

Keluarga Permana (1978; pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ

1976). Novelnya yang lain, Ladang Perminus, membawa pengarang ini

ke Thailand, menerima SEA Write Award 1993.

Sphere: Related Content

Titis Basino

Titis Basino

dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, 17 Januari 1939. Karya-karya

novelis yang cukup produktif ini antara lain: Pelabuhan Hati

(1978), Dataran Terjal, Di Bumi Kita Bertemu, di Langit Kita Bersua

(1983), Bukan Rumahku (1986), Dari Lembah ke Coolibah (1997), Welas

Asih Merengkuh Tajali (1997), Menyucikan Perselingkuhan (1998),

Tersenyum Pun Tidak Untukku Lagi (1998), Rumah K. Seribu (1998),

Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah (1998), Mawar Hitam Milik

Laras (1999), Garis Lurus, Garis Lengkung (2000).

Sphere: Related Content

Rayani Sriwidodo

Rayani Sriwidodo

dilahirkan di Kotanopan, Sumatera Utara 6 November 1946. Cerpennya

“Balada Satu Kuntum” memperoleh penghargaan Nemis Prize dari

Pemerintah Chile (1987). Karya-karya alumna Iowa Writing Program,

Iowa University, Amerika Serikat ini antara lain: Pada Sebuah

Lorong (1968; bersama Todung Mulya Lubis), Kereta Pun Terus

Berlalu, Percakapan Rumput, Percakapan Hawa dan Maria (1989),

Balada Satu Kuntum (1994), Sembilan Kerlip Cermin (2001).

Sphere: Related Content

Titie Said

Titie Said

lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 11 Juli 1935. Lulus sarjana muda

Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1959). Pernah

menjadi redaktur majalah Kartini dan memimpin majalah Famili.

Novel-novelnya yang telah diterbitkan antara lain: Jangan Ambil

Nyawaku (1977), Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia. Kumpulan

cerita pendeknya: Perjuangan dan Hati Perempuan (1962).

Sphere: Related Content

Toeti Heraty Noerhadi

Toeti Heraty Noerhadi

dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 27 November 1933. Sarjana

Filsafat dari Rijk Universiteit Leiden ini meraih doktor

filsafatnya di Univeristas Indonesia. Karya-karyanya: Sajak-sajak

33 (1973), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979; [ed.]), Mimpi dan

Pretensi (1982), Aku dan Budaya (1984), Manifestasi Puisi

Indonesia-Belanda (1986; dengan Teeuw [ed.]), Wanita

Multidimensional (1990), Nostalgi = Transendensi (1995).

Puisi-puisinya dimuat pula dalam Antologi Puisi Indonesia 1997 dan

Sembilan Kilap Cermin (2000).

Sphere: Related Content

Rusli Marzuki Saria

Rusli Marzuki Saria

dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, 26 Februari 1936.

Karya-karyanya: Pada Hari Ini pada Jantung Hari (1966), Monumen

Safari (1966; dengan Leon Agusta), Ada Ratap Ada Nyanyi (1976),

Sendiri-sendiri Sebaris-sebaris dan Sajak-sajak Bulan Februari

(1976), Tema-tema Kecil (1979), Sembilu Darah (1995), Parewa, Sajak

dalam Lima Kumpulan (1988). Manuskrip esainya: Monolog dalam

Renungan.

Sphere: Related Content

Rustam Effendi

Rustam Effendi

dilahirkan di Padang, 13 Mei 1903, dan meninggal di Jakarta, 24 Mei

1979. Bebasari yang ditulisnya pada 1926 merupakan drama bentuk

baru dalam sastra Indonesia. Selain itu ia menulis kumpulan puisi

Percik Permenungan (1926) dan Van Moskow naar Tiflis (tt.)

Sphere: Related Content

Satyagraha Hoerip

Satyagraha Hoerip

dilahirkan di Lamongan, Jawa Timur, 7 April 1934, dan meninggal di

Jakarta, 14 Oktober 1998. Tahun 1972-73, ia mengikuti International

Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan pernah

menjadi dosen tamu di universitas-universitas di Amerika dan

Jepang. Karya-karyanya antara lain: Bisma Baneng Mayapada (1960),

Sepasang Suami Isteri (1964), Antologi Esai tentang Persoalan

Sastra (1969), Cerita Pendek Indonesia 1-3 (1979), Jakarta: 30

Cerita Pendek Indonesia 1-3 (1982), Palupi (1970), Keperluan Hidup

Manusia (1963; terjemahan dari Leo Tolstoy), Tentang Delapan Orang

(1980), Sesudah Bersih Desa (1990), Sarinah Kembang Cikembang

(1993).

Sphere: Related Content

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

dilahirkan di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Karya-karya

penulis cerita pendek yang sejak 1985 bekerja di majalah Jakarta

Jakarta ini antara lain: Mati Mati Mati (1978), Bayi Mati (1978),

Catatan Mira Sato (1978), Manusia Kamar (1978), Penembak Misterius

(1993), Saksi Mata (1994; kumpulan cerita pendek terbaik versi

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI 1994),

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Negeri Kabut (1996), Jazz,

Parfum, dan Insiden (1992). Cerpennya, “Pelajaran Mengarang”,

dipilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1992, dan cerpen-cerpennya

yang lain hampir setiap tahun terpilih masuk dalam antologi cerpen

terbaik surat kabar itu. Pada 1995 ia memperoleh penghargaan SEA

Write Award.

Sphere: Related Content

Slamet Sukirnanto

Slamet Sukirnanto

dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 3 Maret 1941. Karya-karya penyair

yang mantan Ketua Presidium KAMI pusat ini adalah: Jaket Kuning

(1967), Kidung Putih (1967), Sumur Tanpa Dasar (1971), Kasir Kita

(1972), Pemberang (1972), Tengul (1973), Orkes Madun (1974), Gema

Otak Terbanting (1974), Bunga Batu (1979), Catatan Suasana (1982),

dan Luka Bunga (1993).

SN Ratmana dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, 6 Maret 1936.

Tulisan-tulisannya dimuat di Sastra, Horison, Kompas, dan

lain-lain. Karya-karyanya yang sudah dibukukan: Sungai, Suara, dan

Luka (1981), Asap itu Masih Mengepul (1977). Karyanya dimuat pula

dalam antologi cerpen pemenang Sayembara Kincir Emas Radio

Nederland Wereldomroep, Dari Jodoh sampai Supiyah (1975).

Sphere: Related Content

Sori Siregar

Sori Siregar

dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 12 November 1939. Ia mengikuti

International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat

pada 1970-71, dan pernah bekerja antara lain di BBC London, Radio

Suara Malaysia, Matra, Forum Keadilan. Karya-karyanya: Dosa atas

Manusia (1967), Pemburu dan Harimau (1972), Senja (1979), Wanita

Itu adalah Ibu (1979; novel pemenang hadiah perangsang kreasi

Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1978), Di Atara

Seribu Warna (1980), Susan (1981), Awal Musim Gugur (1981), Reuni

(1982), Telepon (1982; pemenang hadiah harapan Sayembara Mengarang

Roman DKJ 1979); Penjara (1992), Titik Temu (1996). Di samping itu

ia banyak menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa

Indonesia, baik novel, cerita pendek, maupun drama.

Sphere: Related Content

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri

dilahirkan di Rengat, Riau, 24 Juni 1941. Pada 1974-75 mengikuti

International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat,

dan sejak 1979 hingga sekarang menjabat redaktur majalah sastra

Horison. Karya-karyanya: O (1973), Amuk (1977; mendapat Hadiah

Puisi DKJ 1976-77), Kapak (1979), O Amuk Kapak (1981). Sejumlah

puisinya diterjemahkan Harry Aveling dan dimuat dalam antologi

berbahasa Inggris: Arjuna in Meditation (1976; Calcutta). Pada 1979

ia menerima anugerah SEA Write Award dan sembilan tahun kemudian

dilimpahi Penghargaan Sastra Chairil Anwar. Sebelumnya, peraih

penghargaan tertinggi dalam bidang kesusastraan di Indonesia itu

adalah Mochtar Lubis.

Sphere: Related Content

Subagio Sastrowardoyo

Subagio Sastrowardoyo

dilahirkan di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924, dan meninggal di

Jakarta, 18 Juli 1995. Peraih M.A. dari Departement of Comparative

Literature, Yale University, Amerika Serikat ini pernah mengajar di

beberapa sekolah menengah di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM,

SESKOAD Bandung, Salisbury Teachers College, dan Flinders

University, Australia. Cerpennya, “Kejantanan di Sumbing” dan

puisinya, “Dan Kematian Makin Akrab”, masing-masing meraih

penghargaan majalah Kisah dan Horison. Kumpulan puisinya, Daerah

Perbatasan membawanya menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI

(1971), sementara Sastra Hindia Belanda dan Kita mendapat Hadiah

Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta, dan bukunya yang lain, Simfoni

Dua, mengantarkannya ke Kerajaan Thailand, menerima Anugerah SEA

Write Award.

Karya-karyanya yang berupa puisi, esai, dan kritik, diterbitkan

dalam: Simphoni (1957), Kejantanan di Sumbing (1965), Daerah

Perbatasan (1970), Bakat Alam dan Intelektualisme (1972), Keroncong

Motinggo (1975), Buku Harian (1979), Sosok Pribadi dalam Sajak

(1980), Hari dan Hara (1979), Sastra Hindia Belanda dan Kita

(1983), Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan (1992), Dan

Kematian Makin Akrab (1995).

Sphere: Related Content

Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana

dilahirkan di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908, dan

meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994. Penerima gelar doktor

kehormatan dari Universitas Indonesia dan Universitas Sains Penang

(Malaysia) ini pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai

Pustaka. Ia pendiri serta pengelola majalah Pujangga Baru.

Karya-karya guru besar dan anggota berbagai organisasi keilmuan di

dalam dan luar negeri ini antara lain: Tak Putus Dirundung Malang

(1929), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932), Tebaran Mega (1935),

Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Layar Terkembang (1936),

Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940), Puisi Lama (1941), Puisi

Baru (1946), The Indonesian Language and Literature (1962),

Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (1969), Grotta Azzura (1970-71),

The Failure of Modern Linguistics (1976), Perjuangan dan Tanggung

Jawab dalam Kesusastraan (1977), Dari Perjuangan dan Pertumbuhan

Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (1977),

Lagu Pemacu Ombak (1978), Kalah dan Menang (1978).

Sphere: Related Content

Taufiq Ismail

Taufiq Ismail

dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Penerima

American Field Service International Scholarship untuk mengikuti

Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57),

dan lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia,

Bogor (1963). Karya-karya penyair penerima Anugerah Seni Pemerintah

RI pada 1970 yang juga salah seorang pendiri majalah sastra Horison

(1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968) ini, telah diterjemahkan

ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis. Buku

kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963;

bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.), Benteng

(1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970), Tirani (1966),

Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit

(1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung

(1973), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Bersama Ali Audah dan

Goenawan Mohamad, penyair yang tinggi sekali perhatiannya pada

upaya mengantarkan sastra ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan

tinggi itu menerjemahkan karya penting Muhammad Iqbal, Membangun

Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Sedangkan bersama D.S.

Moeljanto, salah seorang seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan

ini menyunting Prahara Budaya (1994).

Sphere: Related Content

Toha Mochtar

Toha Mochtar

dilahirkan di Kediri, Jawa Timur, 17 September 1926, dan meninggal

di Jakarta, 17 Mei 1992. Pengarang yang di tahun 1971 bersama

Julius R. Siyaranamual dan Asmara Nababan mendirikan majalah

Kawanku ini, telah melahirkan sejumlah novel: Pulang (1958;

mendapat Hadiah Sastra BMKN 1957-58), Daerah Tak Bertuan (1963;

meraih Hadiah Sastra Yamin 1964), Kabut Rendah (1968), Bukan Karena

Kau (1968).

Sphere: Related Content

Toto Sudarto Bachtiar

Toto Sudarto Bachtiar

dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1929. Penyair yang

dikenal dengan dua kumpulan puisinya: Suara (1956; memenangkan

Hadiah Sastra BMKN 1957) dan Etsa (1958) ini, juga dikenal sebagai

penerjemah yang produktif. Karya-karya terjemahannya antara lain:

Pelacur (1954; Jean Paul Sartre), Sulaiman yang Agung (1958; Harold

Lamb), Bunglon (1965; Anton Chekov, et.al.), Bayangan Memudar

(1975; Breton de Nijs, diterjemahkan bersama Sugiarta Sriwibawa),

Pertempuran Penghabisan (1976; Ernest Hemingway), Sanyasi (1979;

Rabindranath Tagore).

Sphere: Related Content

Umar Kayam

Umar Kayam

dilahirkan di Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932. Meraih M.A. di

Universitas New York (1963), dan Ph.D. dua tahun kemudian dari

Universitas Cornell, Amerika Serikat. Guru Besar Fakultas Sastra

Universitas Gadjah Mada hingga pensiunnya di tahun 1997 ini adalah

anggota penyantun/penasehat majalah sastra Horison sebelum

mengundurkan pada 1 September 1993. Pada 1987, ia meraih SEA Write

Award. Karya-karyanya: Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972),

Totok dan Toni (1975), Sri Sumarah dan Bawuk (1975), Seni, Tradisi,

Masyarakat (1981), Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Bangsa

(1985), Para Priyayi (1992; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama

Departemen P dan K 1995), Mangan Ora Mangan Kumpul (1990), Sugih

Tanpa Banda (1994), Jalan Menikung (1999). Cerpen-cerpen-cerpennya

diterjemahkan Harry Aveling dan diterbitkan dalam Sri Sumarah and

Other Stories (1976) dan Armageddon (1976).

Sphere: Related Content

Umbu Landu Paranggi

Umbu Landu Paranggi

dilahirkan di Sumba, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Bersama

Ragil Suwarna Pagolapati, Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budhi

Santosa, mendirikan Persada Studi Klub, 5 Maret 1969, yang di

kemudian hari melahirkan sejumlah penyair. Karya-karya penyair yang

terakhir bekerja sebagai redaktur Bali Post ini adalah: Melodia,

Maramba Ruba, Sarang.
Upita Agustine dilahirkan di Pagaruyung, Sumatera Barat, 31 Agustus

1947. Puisi-pusinya dipublikasikan antara lain di Horison.

Karya-karyanya: Bianglala (1973), Dua Warna (1975; bersama Hamid

Jabbar), Terlupa dari Mimpi (1980), Sunting (1995; bersama Yvonne

de Fretes), selain terdapat pula dalam antologi Laut Biru Langit

Biru (1977; Ajip Rosidi [ed.]), Tonggak 3 (1987; Linus Suryadi

[ed.]), Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun

Rampan [ed.]).

Sphere: Related Content

Utuy Tatang Sontani

Utuy Tatang Sontani

dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat, 31 Mei 1920, dan meninggal di

Moskow, Uni Soviet, 17 September 1979. Karya-karya sastrawan

anggota pimpinan LEKRA (1959-65) yang menulis novel dan banyak

karya sastra drama ini adalah: Suling (1948), Bunga Rumah Makan

(1984), Tambera (1949), Orang-orang Sial (1951), Awal dan Mira

(1952; mendapat hadiah Sastra Nasional BMKN 1953), Manusia Iseng

(1953), Sangkuriang Dayang Sumbi (1953), Sayang Ada Orang Lain

(1954), Di Langit Ada Bintang (1955), Selamat Jalan Anak Kufur

(1956), Di Muka Kaca (1957), Saat yang Genting (1958; mendapat

Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58), Manusia Kota (1961), Segumpal

Daging Bernyawa (1961), Tak Pernah Menjadi Tua (1963), Si Sapar

(1964), Si Kampreng (1964), dan terjemahan Selusin Dongeng (1949;

Jean de la Fountain).

Sphere: Related Content

Wisran Hadi

Wisran Hadi dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, Juli 1945. Tahun 1977-78 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat. Karya-karyanya: Simalakama (1975), Anggun Nan Tongga (1978), Putri Bungsu (1978), Tamu (1996), Imam (1977).

Sejumlah naskah dramanya berikut ini memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta: Gaung (1975; hadiah ketiga), Ring (1976; hadiah harapan), Cindur Mata (1977; hadiah harapan); Perguruan (1978; hadiah kedua), Malin Kundang (1985; hadiah
harapan), Penyeberangan (1985; hadiah ketiga), Senandung Semenanjung (1986; hadiah perangsang), Pewaris (1981). Pada 1991 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya Penghargaan Penulis Sastra.

Sphere: Related Content

Selasih

Selasih dilahirkan di Talu, Sumatera Barat, 31 Juli 1909, dam meninggal pada usia 86 tahun. Sastrawan yang pernah menjadi Ketua Jong Islamieten Bond Bukittingi (1928-30) dikenal pula sebagai Sariamin atau Seleguri. Karya-karyanya: Kalau Tak Untung (1933), Pengaruh Keadaan (1937), Rangkaian Sastra (1952), Panca Juara (1981), Nakhoda Lancang (1982), Cerita Kak Mursi, Kembali ke Pangkuan Ayah (1986), dan dimuat pula dalam Puisi Baru (1946; Sutan Takdir
Alisjahbana [ed.]), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979; Toeti Heraty [ed.]), Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan [ed.]).

Sphere: Related Content

Sanusi Pane

Sanusi Pane dilahirkan di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14 November 1905, dan meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968. Antara tahun 1931-41, pernah menjadi redaktur di majalah Timbul, harian Kebangunan, dan Balai Pustaka.

Karya-karyanya meliputi puisi, drama, sejarah, dan terjemahan: Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1927), Airlangga (1928), Burung Garuda Terbang Sendiri (1929), Madah Kelana (1931),
Kertajaya (1932), Sandyakalaning Majapahit (1933), Manusia Baru (1940), Sejarah Indonesia (1942), Indonesia Sepanjang Masa (1952), Bunga Rampai dari Hikayat Lama (1946; terjemahan dari bahasa Kawi), Arjuna Wiwaha (1940; Mpu Kanwa, diterjemahkan dari bahasa Kawi),
Gamelan Jiwa (1960).

Sphere: Related Content

Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 20 Maret 1940. Puisi-puisi pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak 1975 dan pernah aktif sebagai redaktur majalah sastra-budaya Basis, Horison, Kalam, Tenggara (Malaysia) ini adalah: Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000).

Sedangkan karya-karya sastra dunia yang diterjemahkannya: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988; Okotp Bitek).

Sphere: Related Content

Sanento Yuliman

Sanento Yuliman dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, 14 Juli 1941, dan meninggal di Bandung, 14 Juli 1992. Pada 1981 menyelesaikan program doktoralnya di Ecole de Hautes Etudes en Science Sociale, Paris, Perancis.

Penyair yang juga dikenal sebagai penulis esai dan kritikus seni rupa yang disegani ini pernah menjadi redaktur Mahasiswa Indonesia, majalah sastra Horison (1971-73), dan Aktuil, khususnya untuk ruang "Puisi Mbeling". Puisi-puisinya diangkat Ajip Rosidi ke dalam Laut Biru Langit Baru (1977). Karya-karyanya antara lain: Seni Rupa Indonesia (1976), G. Sidharta di Tengah Seni Rupa Indonesia (1981; bersama Jim Supangkat).

Sphere: Related Content

Saini K.M.

Saini K.M. dilahirkan di Sumedang, Jawa Barat, 16 Juni 1938. Penyair yang bertahun-tahun mengasuh rubrik "Pertemuan Kecil" di Pikiran Rakyat Bandung ini terakhir menjabat Direktur Jenderal Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sejumlah penyair yang lahir dan berkembang dari kelembutan dan ketajaman kritiknya di "Pertemuan Kecil" antara lain: Sanento Yuliman, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Soni Farid Maulana, Beni Setia, Cecep
Syamsul Hari.

Karya-karyanya meliputi puisi, karya sastra drama, dan esai, di antaranya: Pangeran Sunten Jaya (1973), Ben Go Tun (1977), Egon (1978), Serikat Kaca Mata Hitam (1979), Sang Prabu
(1981), Kerajaan Burung (1980; pemenang Sayembara Direktorat Kesenian Depdikbud), Sebuah Rumah di Argentina (1980), Pangeran Geusan Ulun (1963), Nyanyian Tanah Air (1968), Puragabaya (1976), Siapa Bilang Saya Godot (1977), Restoran Anjing (1979), Rumah Cermin (1979), Beberapa Gagasan Teater (1981), Panji Koming (1984), Beberapa Dramawan dan Karyanya (1985), Ken Arok (185), Apresiasi Kesusastraan (1986; bersama Jakob Sumardjo [ed.]), Protes Sosial dalam Sastra (1986), Teater Modern Indonesia dan Beberapa Masalahnya (1987), Sepuluh Orang Utusan (1989), Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993; Agus R. Sarjono [ed.]). Buku terakhirnya yang merupakan seleksi dari seluruh kumpulan puisinya yang sudah maupun yang belum dipublikasikan adalah Nyanyian Tanah Air (2000).

Sphere: Related Content

Rendra

Rendra dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Sepulang memperdalam pengetahuan drama di American Academy of Dramatical Arts, ia mendirikan Bengkel Teater. Sajak-sajaknya mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an. Antara April-Oktober 1978 ditahan
Pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta (1956; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Perjalanan Bu Aminah (1997), Mencari Bapak (1997).

Buku-buku puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Indonesian Poet in New York (1971; diterjemahkan Harry Aveling, et.al.), Rendra: Ballads and Blues (1974; Harry Aveling, et.al.), Contemporary Indonesian Poetry (1975; diterjemahkan Harry Aveling).

Ia pun menerjemahkan karya-karya drama klasik dunia, yaitu: Oidipus Sang Raja (1976), Oidipus di Kolonus (1976), Antigone (1976), ketiganya karya Sophocles, Informan (1968; Bertolt Brecht), SLA (1970; Arnold Pearl). Pada 1970, Pemerintah RI memberinya Anugerah Seni, dan lima tahun setelah itu, ia memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta.

Sphere: Related Content

23 Oktober 2006

Budi Darma

Budi Darma dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Meraih M.A. dan Ph.D di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat. Novelis yang pernah menjadi Rektor IKIP Surabaya ini meraih SEA Write Award pada 1984. Karya-karyanya: Orang-orang Bloomington (1980), Solilokui (1983), Olenka (1983; pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan Hadiah Sastra DKJ 1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), Rafilus (1988), Harmonium (1995), Ny Talis (1996). Sebuah cerpennya, Derabata, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan dipublikasikan pada buku berjudul sama.

Sphere: Related Content

Budi Darma

Budi Darma dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Meraih M.A. dan Ph.D di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat. Novelis yang pernah menjadi Rektor IKIP Surabaya ini meraih SEA Write Award pada 1984. Karya-karyanya: Orang-orang Bloomington (1980), Solilokui (1983), Olenka (1983; pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan Hadiah Sastra DKJ 1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), Rafilus (1988), Harmonium (1995), Ny Talis (1996). Sebuah cerpennya, Derabata, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan dipublikasikan pada buku berjudul sama.

Sphere: Related Content

Piek Ardijanto Soeprijadi

Piek Ardijanto Soeprijadi dilahirkan di Magetan, Jawa Timur, 12 Agustus 1929. Karya-karya
penyair yang mengabdikan sebagian besar usianya sebagai seorang guru ini antara lain: Burung-burung di Ladang (1983), Percakapan Cucu dengan Neneknya (1983), Desaku Sayang (1983), Lagu Bening dari Rawa Pening (1984; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1984), Menyambut Hari Sumpah Pemuda (1984), Lelaki di Pinggang Bukit (1984), Nelayan dan Laut (1995), Biarkan Angin Itu (1996).

Selain itu, dimuat pula dalam antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]), Tonggak 2 (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).

Sphere: Related Content

22 Oktober 2006

Nur Sutan Iskandar

Dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, 3 November 1893, dan meninggal di Jakarta, 28 November 1975. Menulis novel Apa Dayaku karena Aku Perempuan (1922), Karam dalam Gelombang Percintaan (1924; ditulis bersama Abd. Ager). Cinta yang Membawa Maut (1926; ditulis bersama Abd. Ager), Salah Pilih (1928), Karena Mentua (1932), Tuba Dibalas dengan Air Susu (1933; ditulis bersama Asmaradewi); Hulubalang Raja (1934), Katak Hendak Menjadi Lembu (1935), Dewi Rimba (1935; ditulis bersama M. Dahlan), Neraka Dunia (1937), Cinta dan Kewajiban (1940; ditulis bersama L. Wairata), Cinta Tanah Air (1944), Mutiara (1946), Cobaan (1946), Jangir Bali (1946), Pengalaman Masa Kecil (1949), dan Turun ke Desa (1949).

Ia pun menerjemahkan sejumlah karya sastra dunia, yaitu: Tiga Panglima Perang (1925; Alexander Dumas), Belut Kena Ranjau (1925; Baronese Orczy), Anjing Setan (1928; A. Conan Doyle), Graaf de Monte Cristo (1929; 6 jilid, Alexander Dumas), Anak Perawan di Jalan Sunyi dan Rahasia Seorang Gadis (1929; A. Conan Doyle, diterjemahkan bersama K. St. Pamoentjak), Gudang Intan Nabi Sulaiman (1929; H. Rider Haggard), Memperebutkan Pusaka Lama (1932; Edward Keyzer), Iman dan Pengasihan (1933; Henryk Sienkiewicz), dan Cinta dan Mata (tt; Rabindranath Tagore).

Sphere: Related Content

Nugroho Notosusanto

Dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah 15 Juli 1931, dan meninggal di Jakarta, 2 Juni 1985. Karya-karya sastrawan dan sejarawan yang pernah menjabat Rektor Universitas Indonesia (1982-85) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1983-85) ini antara lain: Hujan Kepagian (1958), Tiga Kota (1959), Rasa Sayang (1961), Hijau Tanahku Hijau Bajuku (1963), Norma-norma dasar Penelitian Sejarah Kontemporer (1978), Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang (1979), Sejarah dan Sejarawan, Tercapainya Konsesus Nasional 1966-1969 (1985), Sejarah Nasional Indonesa I-IV (bersama Marwati Djoened Poesponegoro), dan sejumlah karya terjemahan.

Sphere: Related Content

Nh. Dini

Dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936. Karya-karyanya: Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1973), La Barka (1975), Keberangkatan (1977), Namaku Hiroko (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Amir Hamzah Pangeran dari Seberang (1981), Kuncup Berseri (1982), Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Orang-orang Tran (1985), Pertemuan Dua Hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Liar (1989; perubahan judul kumpulan cerita pendek Dua Dunia), Istri Konsul (1989), Tirai Menurun (1995), Panggilan Dharma Seorang Bhikku Riwayat Hidup Saddhamma Kovida Vicitta Bhanaka Girirakkhitto Mahathera (1996), Kemayoran (2000).

Sphere: Related Content

Nasjah Djamin

Dilahirkan di Perbaungan, Sumatera Utara, 24 Desember 1924, dan meninggal di Yogyakarta, 4 September 1997. Penerima Anugerah Seni Pemerinta RI di tahun 1970 yang sebelum menjadi redaktur Budaya dan bekerja di Bagian Kesenian Departemen P & K di Yogyakarta, hingga pensiunnya, pernah ikut mendirikan Angkatan Seni Rupa di Medan (1945) dan Gabungan Pelukis Indonesia di Jakarta (1948). Karya-karyanya antara lain: Titik-titik Hitam (1956), Sekelumit Nyanyian Sunda (1958; memenangan Hadiah Sastra nasional BMKN 1957-58), Hilanglah si Anak Hilang (1963), Helai-helai Sakura Gugur (1964), Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968), Dan Senja Pun Turun (1982), Ombak Parangtritis (1983; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1983), Bukit Harapan (1984; pemenang hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980).

Sphere: Related Content

N. Riantiarno

Dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949. Peserta International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1978 yang dikenal pula sebagai pendiri dan pemimpin Teater Koma ini, membidani kelahiran majalah Zaman dan terakhir memimpin majalah Matra.

Karya-karyanya antara lain Opera Kecoa, Ranjang Bayi dan Percintaan Senja (kedua novel yang disebut terakhir masing-masing memenangkan sayembara majalah Femina dan Kartini), Semar Gugat (1995), Cinta Yang Serakah (1978).

Sphere: Related Content

Mustofa Bisri

Dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Sering menggunakan nama samaran M. Ustov Abi Sri. Lulusan Universitas Al-Azhar (Kairo, Mesir) ini kerap mengikuti forum baca puisi, termasuk di Festival Mirbid X di Irak. Karya-karyanya dimuat dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain: Puisi Syukuran Tutup Tahun 1989; Bosnia Kita; Parade Puisi Indonesia; Antologi Puisi Jawa Tengah. Kumpulan puisi tunggalnya adalah: Ohoi; Tadarus; dan Pahlawan dan Tikus.

Sphere: Related Content

Muhammad Yamin

Dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, 23 Agustus 1903, dan meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962. Menulis (dan menerjemahkan) karya sastra dan sejarah dalam berbagai bentuk: puisi, drama, biografi. Antara lain: Tanah Air (1922), Indonesia Tumpah Darahku (1928), Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932), Ken Arok dan Ken Dedes (1934), Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara (1945), Menantikan Surat dari Raja (1928; Rabindranath Tagore), Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga (1933), Pangeran Dipanegara (1950), Lukisan Revolusi (1950), Julius Caesar (1951; William Shakespeare).

Puisi-puisi penyair yang memperkenalkan soneta ke dalam khasanah puisi Indonesia ini dapat ditemukan pula dalam Antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963; H.B. Jassin [ed.]), Tonggak (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).

Sphere: Related Content

Muhammad Ali

Dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, 23 April 1927, dan meninggal di kota itu juga, 2 Juni 1998. Menulis sejak 1942. Tulisan-tulisannya terdiri dari novel, cerita pendek, puisi, drama. Karya-karyanya yang telah diterbitkan antara lain: 5 Tragedi (1952), Kubur Tak Bertanda (1953), Siksa dan Bayangan (1954), Di Bawah Naungan Al-Qur`an (1957), Hitam Atas Putih (1959), Si Gila (1969), Kembali kepada Fitrah (1969), Qiamat (1971), Bintang Dini (1975), Buku Harian Seorang Penganggur (1976), Nyanyian Burdah (1980), Teknik Penghayatan Puisi (1983).

Sphere: Related Content

Motinggo Busye

Dilahirkan di Kupangkota, Lampung, 21 November 1937, dan meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999. Menulis banyak novel, menyutradarai film, dan melukis. Karya-karyanya antara lain: drama Malam Jahanam (1958; memenangkan hadiah pertama Sayembara Penulisan Drama Departemen P & K 1958), novel Malam Jahanam (1962), Badai Sampai Sore (1962), Tidak Menyerah (1962), Keberanian Manusia (1962), 1949 (1963), Bibi Marsiti (1963), Hari Ini Tidak Ada Cinta (1963), Perempuan Itu Bernama Barabah (1963), Dosa Kita Semua (1963), Tiada Belas Kasihan (1963), Nyonya dan Nyonya (1963), Sejuta Matahari (1963), Matahari dalam Kelam (1963), Nasehat untuk Anakku (1963), Malam Pengantin di Bukit Kera (1963), Cross Mama (1966), Tante Maryati (1967), Sri Ayati (1968), Retno Lestari (1968), Dia Musuh Keluarga (1968), Madu Prahara (1985). Cerita pendeknya, Dua Tengkorak Kepala, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas dan dipublikasikan dalam kumpulan cerita pendek berjudul sama (2000).

Sphere: Related Content

Mohammad Diponegoro

Dilahirkan di Yogyakarta, 28 Juni 1928, dan meninggal di kota yang sama, 9 Mei 1982. Karya-karya pendiri dan pemimpin Teater Muslim yang pernah menjadi Wakil Pimpinan Umum/Wakil Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah (1975-82) ini antara lain: Surat pada Gubernur, Kabar Wigati dan Kerajaan (1977), Duta Islam untuk Dunia Modern (1983; bersama Ahmad Syafii Maarif), Iblis (1983), Percik-percik Pemikiran Iqbal (1983), Siasat (1984), Yuk, Nulis Cerpen, Yuk (1985), Odah dan Cerita Lainnya, dan antologi puisi Manifestasi (1963).

Sphere: Related Content

Mochtar Lubis

Dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922. Mantan wartawan LKBN Antara ini memimpin harian Indonesia Raya sejak 1951 hingga koran tersebut dilarang terbit pada 1974. Karena tulisan-tulisannya di surat kabar itu pula, selama sepuluh tahun (1956-66) ia ditahan Pemerintah Orde Lama. Sejak 1966, ia memimpin majalah sastra Horison.

Ketua Yayasan Indonesia ini adalah penerima Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina (1958), Pena Emas dari World Federation of Editor and Publisher (1967), dan Hadiah Sastra Chairil Anwar (1992) dari Dewan Kesenian Jakarta. Kumpulan cerita pendek dan novel-novelnya adalah: Si Jamal dan Cerita-cerita Lain (1951), Perempuan (1956; mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56), Kuli Kontrak (1982), Bromocorah (1983), Tak Ada Esok (1951), Jalan Tak Ada Ujung (1952; memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN 1952), Tanah Gersang (1966), Senja di Jakarta (1970), Harimau! Harimau! (1975; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1975), Maut dan Cinta (1977).

Karya-karya terjemahannya: Tiga Cerita dari Negeri Dolar (1950; John Steinbeck, Upton Sinclair, John Russel), Orang Kaya (1950; F. Scott Fitzgerald), Yakin (1950; Irwin Shaw), Kisah-kisah dari Eropah (1952), dan Cerita dari Tiongkok (1953).

Sphere: Related Content

Marah Rusli

Dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 7 Agustus 1889, dan meningal di Bandung, 17 Januari 1968. Novelnya yang masyhur, Sitti Nurbaya hingga 1996 telah 22 kali dicetak ulang. Karya-karyanya yang lain: La Hami (1952), Anak dan Kemenakan (1956), otobiografi Memang Jodoh, dan novel terjemahan Gadis yang Malang (1922; Charles Dickens).

Sphere: Related Content

Mansur Samin

Dilahirkan di Batangtoru, Sumatera Utara, 29 April 1930. Ia banyak menulis drama dan cerita anak-anak. Karya-karyanya: Perlawanan (1966), Kebinasaan Negeri Senja (1968), Tanah Air (1969), Dendang Kabut Senja (1988), Sajak-sajak Putih (1996), Sontanglelo (1996), Srabara (1996). Ia juga banyak menulis cerita anak-anak, yaitu: Hadiah Alam, Hidup adalah Kerja, Kesukaran Terkalahkan, Percik Air Batang Toru, Warna dan Kasih, dan Urip yang Tabah.

Sphere: Related Content

M. Saribi Afn

Dilahirkan di Klaten, Jawa Tengah, 15 Desember 1936. Ia pernah menjadi redaktur majalah Konfrontasi, Gema Islam, Panji Masyarakat, harian Abadi. Sajaknya, “Hari Ini adalah Hari yang Penuh dengan Rahmat dan Ampunan”, meraih hadiah majalah Sastra (1962). Karya-karyanya terkumpul dalam Gema Lembah Cahaya (1962), Manifestasi (1963; [ed.]), dan diangkat pula ke dalam Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]) dan Tonggak 2 (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).

Sphere: Related Content

M. Fudoli Zaini

Dilahirkan di Sumenep, Madura, 8 Juni 1942. Meraih M.A. dan Ph. D. di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Karya-karyanya: Lagu dari Jalanan (1982), Potret Manusia (1983), Kota Kelahiran (1985; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Arafah (1985), Batu-batu Setan (1994). Cerita pendeknya terdapat pula dalam Antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]), Laut Biru Langit Biru (1977; Ajip Rosidi [ed.]).

Sphere: Related Content

LK Ara

Lahir di Takengon, Aceh, 1937. Karya-karyanya: Angin Laut Tawar (1969), Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gayo (1971), Serangkum Saer Gayo (1980), Namaku Bunga (1980), Anggrek Berbunga (1982), dan lain-lain. Bersama Taufiq Ismail menyunting Antologi Sastra Aceh, Seulawah (1995).

Sphere: Related Content

Leon Agusta

Dilahirkan di Sangiran, Maninjau, Sumatera Barat, 5 Agustus 1938. Karya-karyanya: Monumen Safari (1966), Catatan Putih (1976), Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978), Hukla (1979), Berkemah dengan Putri Bangau (1981), Hedona dan Masochi (1984).

Sphere: Related Content

Kuntowijoyo

Dilahirkan di Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943. Di tahun 1974 meraih MA dari Universitas Connecticut, dan enam tahun kemudian Ph.D. dari Universitas Columbia, keduanya di Amerika Serikat. Dikenal sebagai sejarawan, novelis, penulis cerpen, esais, dan penyair.

Karya-karyanya antara lain: Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966), Rumput-rumput Danau Bento (1969), Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma (1972), Barda dan Cartas (1972), Topeng Kayu (1973; mendapat hadiah kedua Sayembara Penulisan Lakon DKJ 1973), Isyarat (1976), Suluk Awang Uwung (1976), Khotbah di Atas Bukit (1976), Dinamika Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987), Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991), Radikalisasi Petani (1993), Dilarang Mencintai Bunga-bunga (1993), Pasar (1995).

Kedua cerpennya dijadikan dua judul buku antologi cerpen penting: Laki-laki yang Kawin dengan Peri dan Sampan Asmara (masing-masing cerpen terbaik harian Kompas 1994 dan 1995).

Sphere: Related Content

Korrie Layun Rampan

Dilahirkan di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953. Pernah bekerja sebagai direktur keuangan merangkap redaktur pelaksana majalah Sarinah. Karya-karyanya tersebar di berbagai antologi, majalah dan surat kabar. Selain menerjemahkan karya-karya sastrawan dunia, ia juga telah menulis sekitar 100 judul buku cerita anak-anak.

Karya-karya pentingnya antara lain: Matahari Pingsan di Ubun-ubun (1976), Upacara (1978; novel pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1976), Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985; meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1985), Pembicaraan Puisi Indonesia (6 jilid), Api Awan Asap (1999), Perawan (2000), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2000).

Sphere: Related Content

Kirdjomuljo

Dilahirkan di Yogyakarta, 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 19 Januari 2000. Karya-karyanya yang sudah diterbitkan: Romance Perjalanan I (1955), Nona Maryam (1955), Penggali Kapur (1956), Penggali Intan (1957), Dari Lembah Pualam (1967), Di Saat Rambutnya Terurai (1968), Cahaya di Mata Emi (1968), Romansa Perjalanan (1976). Karya-karyanya dapat ditemukan pula dalam Tugu (1986) dan Tonggak 2 (1987), keduanya dieditori Linus Suryadi AG.

Sphere: Related Content

J.E. Tatengkeng

Dilahirkan di Sangir-Talaud, Sulawesi Utara, 19 Oktober 1907, dan meninggal di Ujungpandang, 6 Maret 1968. Karya masyhur salah seorang pendiri Universitas Hasanuddin dan pernah menjabat Perdana Menteri NTT di tahun 1949 ini adalah Rindu Dendam (1934).

Sphere: Related Content

Iwan Simatupang

Dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928, dan meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970. Sastrawan yang pernah memperdalam antropologi dan filsafat di Belanda dan Perancis serta sempat meredakturi Siasat dan Warta Harian. Ia dikenal dengan novel-novelnya yang mengusung semangat eksistensialisme: Merahnya Merah (1968), Kooong (1975; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, 1975), Ziarah (1969), Kering (1972). Dua novel yang disebut terakhir diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris. Cerpen-cerpennya dikumpulkan dalam Tegak Lurus dengan Langit (1982), sedangkan puisi-puisinya dalam Ziarah Malam (1993).

Sphere: Related Content

Ike Soepomo

Dilahirkan di Serang, Banten, 28 Agustus 1946. Menulis sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama. Hampir seluruh novelnya telah difilmkan. Selain novel, ia menulis cerita pendek, novelet, artikel, skenario film. Karya-karyanya antara lain: Untaian yang Terberai, Anyelir Merah Jambu, Putihnya Harapan, Permata, Lembah Hijau, Malam Hening Kasih Bening, Mawar Jingga, Kembang Padang Kelabu, Kabut Sutra Ungu. Film yang didasarkan pada karyanya yang paling populer, Kabut Sutra Ungu, meraih beberapa piala “Citra” serta penghargaan Festival Film Asia di Bali. Sedangkan beberapa skenario film yang ditulisnya adalah: Hati Selembut Salju, Mawar Jingga, Hilangnya Sebuah Mahkota.

Sphere: Related Content

Idrus Tintin

Dilahirkan di Rengat, Riau, 10 November 1932. Ia pernah menjadi guru di SMAN II Pekanbaru dan mengasuh Sanggar Teater Bahana. Tiga kumpulan puisinya: Luput, Burung Waktu, dan Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan dikumpulkan kembali dalam Idrus Tintin: Seniman dari Riau Kumpulan Puisi dan Telaah (1996).

Sphere: Related Content

Idrus

Dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921, dan meninggal di kota yang sama, 18 Mei 1979. Tahun 1965-79, mengajar di Universitas Monash, Australia. Penutur fasih yang pernah menjadi redaktur majalah Kisah dan Indonesia ini dikenal sebagai pelopor penulisan prosa dalam kesusastraan Indonesia modern. Karya-karya drama, cerita pendek, novel dan terjemahannya adalah: Dokter Bisma (1945); Kejahatan Membalas Dendam (1945), Jibaku Aceh (1945), Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948), Keluarga Surono (1948), Aki (1949), Perempuan dan Kebangsaan (1949), Dua Episode Masa Kecil (1952), Dengan Mata Terbuka (1961), Hati Nurani Manusia (1963), Hikayat Puteri Penelope (1973), Kereta Api Baja (1948; Vsevold Ivanov), Acoka (1948; G. Gonggrijp), Keju (1948; Willem Elschot), Perkenalan (1949; Anton Chekov, Luigi Pirandello, Guy de Maupassant, dan Jeroslav Hasek).

Sphere: Related Content

Husni Djamaluddin

Dilahirkan di Mandar, Sulawesi Selatan, 10 November 1934. Karya-karyanya: Puisi Akhir Tahun (1969), Obsesi (1970), Kau dan Aku (1973), Anu (1974), Toraja (1979), Sajak-sajak dari Makassar (1974), Bulan Luka Parah (1986), Berenang-renang ke Tepian, dan antologi Puisi ASEAN Buku III (1978).

Sphere: Related Content

Ibrahim Sattah

Dilahirkan di Pulau Tujuh, Riau Kepulauan, 1943, dan meninggal di Pekanbaru, 19 Januari 1988. Karya-karya penyair berpendidikan terakhir kelas 1 SMA dan pernah menjadi dosen Universitas Islam Riau serta Wakil Kepala Pusat Penerangan Angkatan Bersenjata RI Riau/Sumatera Barat itu terkumpul dalam: Dandandid (1975), Ibrahim (1980), dan Hai Ti (1981).

Sphere: Related Content

HS Djurtatap

Dilahirkan di Payakumbuh, Sumatera Barat, 2 Juni 1947. Sejak 1974 menjadi redaktur harian Pelita Jakarta. Karya-karyanya dimuat antara lain di Horison. Dua sajaknya dimuat dalam antologi Sajak-sajak Perjuangan dan Tanah Air (1995; Oyon Sofyan [ed.]).

Sphere: Related Content

Hartoyo Andangjaya

Dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 4 Juli 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 30 Agustus 1991. Karya-karya aslinya: Simphoni Puisi (1954; bersama D.S. Moeljanto), Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, et. al.), Buku Puisi (1973), Dari Sunyi ke Bunyi (1991; kumpulan esai peraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud 1993). Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (1976; Rabindranath Tagore), Kubur Terhormat bagi Pelaut (1977; Slauerhoff), Rahasia Hati (1978; Natsume Soseki), Musyawarah Burung (1983; Farid al-Din Attar), Puisi Arab Modern (1984), Kasidah Cinta (tt.; Jalal al-Din Rumi).

Sphere: Related Content

Hamsad Rangkuti

Dilahirkan di Titikuning, Sumatera Utara, 7 Mei 1943. Sastrawan yang hampir setiap tahun karyanya selalu masuk dalam kumpulan cerita pendek terbaik Kompas ini, hingga sekarang menjabat pemimpin redaksi majalah sastra Horison. Karya-karyanya: Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Lampu Merah (1988; novel yang memenangkan hadiah harapan Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980), Kereta Pagi Jam 5 (1994), dan Sampah Bulan Desember (2000).

Sphere: Related Content

HAMKA

Dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908, dan meningal di Jakarta, 24 Juli 1981. Pernah memimpin majalah Pedoman Masyarakat, Gema Islam, Panji Masyarakat, dan hingga akhir hayatnya menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia. Karya-karya peraih gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar (Mesir) ini antara lain: Di Bawah Lindungan Ka`bah (1938), Merantau ke Deli (1938), Karena Fitnah (1938), Tuan Direktur (1939), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939), Keadilan Ilahi (1941), Di Dalam Lembah Kehidupan (1941), Dijemput Mamaknya (1949), Menunggu Beduk Berbunyi (1950), Kenang-kenangan Hidup I-IV (1951-52), Lembah Nikmat (1959), Cemburu (1961), Cermin Penghidupan (1962), Ayahku (1967), dan sejumlah buku filsafat, etika, dan khotbah.

Sphere: Related Content

Hamid Jabbar

Dilahirkan di Kotagadang, Sumatera Barat, 27 Juli 1949. Karya-karya penyair yang pernah menjadi wartawan Indonesia Express, Singgalang, dan redaktur Balai Pustaka ini antara lain: Paco-Paco (1974), Dua Warna (1975; bersama Upita Agustine), Wajah Kita (1981), Siapa Mau Jadi Raja, Raja Berak Menangis, Zikrullah. Cerpennya, Engku Datuk Yth. Di Jakarta terpilih masuk ke dalam antologi Cerita Pendek Indonesia IV (1986; Satyagraha Hoerip [ed.]). Kumpulan puisinya terakhir: Super Hilang, Segerobak Sajak (1998; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama).

Sphere: Related Content

Goenawan Mohamad

Dilahirkan di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Pemimpin redaksi majalah Tempo selama 23 tahun yang juga mantan wartawan harian Kami ini dikenal luas sebagai penyair dan penulis esai yang sangat cerdas. Karya-karyanya antara lain: Pariksit (1971), Potret Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang (1972), Interlude (1973), Seks, Sastra, Kita (1980), Catatan Pinggir (1982-91; empat jilid), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998). Salah seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan ini, pada 1973 mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah RI, dan delapan tahun kemudian meraih SEA Write Award.

Sphere: Related Content

Gerson Poyk

Dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).

Sphere: Related Content

Frans Nadjira

Dilahirkan di Makassar, 3 September 1942. Sastrawan yang juga pelukis ini pada 1979 mengikuti Iowa International Writing Program, di Iowa City, Amerika Serikat. Puisi dan cerpennya tersebar di berbagai media publikasi, antara lain di Horison, Sinar Harapan, Bali Post, AIA News (Australia), termasuk di beberapa antologi bersama Laut Biru Langit Biru, Puisi Asean, Tonggak, The Spirit That Moves Us (USA), On Foreign Shores, Teh Ginseng, A Bonsai’s Morning, dan Ketika Kata Ketika Warna. Kumpulan puisinya: Jendela dan Springs of Fire Springs of Tears, dan kumpulan cerpennya Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun.

Sphere: Related Content

Ediruslan Pe Amanriza

Dilahirkan di Pekanbaru, Riau, 17 Agustus 1947. Kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung tidak ia selesaikan. Kumpulan puisinya: Surat-suratku kepada GN, Vogabon, Bukit Kawin, Wangkang. Sementara novel-novelnya: Di Bawah Matahari, Taman, Jakarta di Manakah Sri, Nakhoda (mendapat Hadiah Sayembara mengarang Roman DKJ 1977), Panggil Aku Sakai (1987) Ke Langit (1993), Koyan, Jembatan, Dikalahkan Sang Sapurba (2000). Kumpulan cerita pendeknya: Renungkanlah Markasan (1997).

Sphere: Related Content

Djamil Suherman

Dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, 24 April 1924, dan meninggal di Bandung, 30 November 1985. Karya-karyanya berupa puisi, novel dan cerita pendek: Muara (1958; bersama Kaswanda Saleh), Manifestasi (1963), Perjalanan ke Akhirat (1963; memenangkan hadiah kedua Majalah Sastra 1962), Umi Kulsum (1983), Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984), Sarip Tambakoso (1985), Sakerah (1985).

Sphere: Related Content

Darmanto Jatman

Dilahirkan dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1942. Karya-karyanya antara lain: Sajak-sajak Putih (1968), Ungu (1968; bersama A. Makmur Makka), Bangsat (1974), Sang Darmanto (1975), Ki Blakasuta Bla Bla (1980), Karto Iya Bilang Mboten (1981), Sastra, Psikologi, dan Masyarakat (1985), Sekitar Masalah Kebudayaan (1986), Golf untuk Rakyat (1994), Istri (1997). Sejumlah sajaknya, bersama sejumlah sajak penyair lain seperti Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri, diterjemahkan Harry Aveling dan dipublikasikan dalam Arjuna in Meditation (1976).

Sphere: Related Content

Darman Moenir

Dilahirkan di Batusangkar, Sumatera Barat, 27 Juli 1952. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1988, dan empat tahun kemudian menerima Hadiah Sastra dari Pemerintah RI. Karya-karyanya antara lain: Gumam (1976), Bako (1983; novel pemenang hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980), Aku Keluargaku Tetanggaku (pemenenang kedua Sayembara Novel Kartini 1987), Jelaga Pusaka Tinggi (1997). Karyanya yang lain dapat ditemukan pula dalam antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991; Suratman Markasan [ed.]).

Sphere: Related Content

Danarto

Dilahirkan di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Karya-karya penerima SEA Write Award 1988 ini adalah: Godlob (1975), Adam Ma`rifat (1982; meraih Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Yayasan Buku Utama pada tahun yang sama), Berhala (1987; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1987), Orang Jawa Naik Haji (1984), Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek (1976), Bel Geduwel Beh (1976), Gergasi (1993), Gerak-gerak Allah (1996), dan Asmaraloka (1999).

Sphere: Related Content

Damiri Mahmud

Dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 1945. Karya-karyanya: Tiga Muda (1980), Aku Senantiasa Mencari (1982), Sajak-sajak Kamar (1983), Kuala (1975), Puisi (1977), Rantau (1984). Puisi-puisinya dimuat pula di Horison, Basis, Republika, dan lain-lain.

Sphere: Related Content

D. Zawawi Imron

Dilahirkan di Sumenep, Madura, 1946. Karya-karya penyair yang meraih Hadiah Utama dalam lomba penulisan puisi AN-Teve pada 1995 ini, antara lain: Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999).

Sphere: Related Content

Chairul Harun

Dilahirkan Kayutanam, Sumatera Barat, Agustus 1940, dan meninggal di Padang, 19 Februari 1998. Karya-karyanya antara lain: Monumen Safari (1966) dan Warisan (1979; novel penerima hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1979)

Sphere: Related Content

Chairil Anwar

Dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922, dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, sastrawan yang oleh H.B. Jassin dinobatkan sebagai Pelopor angkatan 45 dalam puisi itu, mendirikan "Gelanggang Seniman Merdeka" (1946). Kumpulan puisi penyair yang pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat Gelanggang dan Gema Suasana ini adalah Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang (1986), Derai-derai Cemara (1998).

Karya-karya terjemahannya: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948; Andre Gide), Kena Gempur (1951; John Steinbeck). Penerjemahan karya-karyanya ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dilakukan Burton Raffel, Chairil Anwar: Selected Poems (New York: 1963) dan The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (New York: 1970), Liaw Yock-Fang (Singapura: 1974), Walter Karwath, Feur und Asche (Wina: 1978). Karya-karya studi tentang Chairil Anwar antara lain dilakukan oleh: S.U.S. Nababan, A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar (New York: 1976), Boen S. Oemarjati, Chairil Anwar: the Poet and His Language (Den Haag: 1972).

Sphere: Related Content

BY Tand

Dilahirkan di Asahan, Sumatera Utara, 10 Agustus 1942. Karya-karyanya: Ketika Matahari Tertidur (1979), Sajak-sajak Diam (1983), Sketsa (1984; memenangkan Hadiah Utama Hadiah Puisi Putra II Malaysia), Alif Ba Ta (t.t.), Khatulistiwa (1981), Titian Laut I, II, III (1982; terbit di Malaysia), Si Hitam (1990), dan antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (Suratman Markasan [ed.]).

Sphere: Related Content

Bur Rasuanto

Dilahirkan di Palembang, Sumatera Selatan, 6 April 1937. Karya-karya salah seorang penanda tangan utama Manifes Kebudayaan dan doktor dalam bidang filsafat ini adalah: Bumi yang Berpeluh (1963), Mereka Akan Bangkit (1963; meraih Hadiah Sastra Yamin, namun ditolak pengarangnya), Mereka Telah Bangkit (1966), Sang Ayah (1969), Manusia Tanah Air (1969), Tuyet (1978; mendapat hadiah utama Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1978).

Sphere: Related Content

21 Oktober 2006

BM Syamsuddin

BM Syamsuddin dilahirkan di Natuna, Kepulauan Riau, 10 Mei 1935, dan meningal di
Bukitttingi, 20 Februari 1997. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen dimuat di antaranya di Kompas dan Suara Karya Minggu.

Selain sejumlah buku cerita anak, ia menulis antara lain: Seni Lakon Mendu Tradisi Pemanggungan dan Nilai Lestari (1995) dan Seni Teater Tradisional Mak Yong.

Sphere: Related Content

Asrul Sani

Dilahirkan di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926. Lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955) ini pernah menjadi redaktur Pujangga Baru, Gema Suasana, Gelanggang, dan Citra Film. Karya-karya aslinya adalah: Tiga Menguak Takdir (1950; bersama
Chairil Anwar dan Rivai Apin), Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat (1972), Mantera (1975), Mahkamah (1988). Selain banyak menulis skenario dan menyutradarai film, ia dikenal sebagai penerjemah andal dan produktif. Karya-karya terjemahannya, antara lain: Laut Membisu (1949; Vercors), Pangeran Muda (1952; Antoine de Saint Exupery), Enam Pelajaran bagi Calon Aktor (1960; Richard Bolslavsky), Rumah Perawan (1977; Kawabata Yasunari), Villa des Roses (Willem Elschot), Puteri Pulau (1977; Maria Dermout), Kuil Kencana (1978; Yukio Mishima), Pintu Tertutup (1979; Jean Paul Sartre), Julius Caesar (1979; William Shakespeare), Sang Anak (1979; Rabindranath Tagore); Catatan dari Bawah Tanah (1979; Dostoyevsky), Keindahan dan Kepiluan (1986; Nikolai Gogol).

Sphere: Related Content

Armijn Pane

Dilahirkan di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 18 Agustus 1908, dan meninggal di Jakarta, 16 Februari 1970. Antara 1933-55 pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru, Balai Pustaka, dan majalah Indonesia. Novelnya, Belenggu (1940), hingga saat ini dipandang sebagai peretas penulisan novel Indonesia modern. Karya-karyanya yang lain: Jiwa Berjiwa (1939), Kort overzicht van de Moderne Indonesische Literatuur (1949), Kisah Antara Manusia (1953), Jinak-jinak Merpati (1953), Gamelan Jiwa (1960), Tiongkok Zaman Baru, Sejarahnya: Abad ke-19 Sekarang (1953). Ia pun menerjemahkan dan menyadur novel dan drama, yaitu: Membangun Hari Kedua (1956; Ilya Ehtenburg) dan Ratna (1943; Hendrik Ibsen).

Sphere: Related Content

Arifin C. Noer

Dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 10 Maret 1941, dan meninggal di Jakarta, 28 Mei 1995. Pendiri Teater Kecil ini menulis puisi, drama, dan menyutradarai sejumlah film. Karya-karyanya antara
lain: Nurul Aini (1963), Mega-mega (1967), Kapai-kapai (1967; diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris), Prita Istri Kita, Umang-umang, Selamat Pagi Jajang (1979).

Sphere: Related Content

Amir Hamzah

Dilahirkan di Tanjungpura, Sumatera Utara, 28 Februari 1911 dan meninggal di Kuala Begumit, di provinsi yang sama, 20 Maret 1946, sebagai korban dari suatu "revolusi sosial". Ia merupakan pendiri majalah Pujangga Baru (1933) bersama-sama Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane. Dua kumpulan puisinya, Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941) tak henti-henti menjadi bahan pembicaraan dan kajian para kritikus sastra di dalam dan luar negeri serta diajarkan di sekolah-sekolah hingga saat ini. Selain itu ia pun melahirkan karya-karya terjemahan: Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933), Syirul Asyar (tt.).

Sphere: Related Content

Ali Hasjmy

Dilahirkan Seulimeum, Aceh, 28 Maret 1914, dan meninggal di Banda Aceh, 18 Januari 1998. Pernah menjabat Gubernur Aceh dan Rektor IAIN Jami`ah Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan novel. Karya-karyanya antara lain: Kisah Seorang Pengembara (1936), Sayap Terkulai (1936), Bermandi Cahaya Bulan (1938), Melalui Jalan Raya Dunia (1939), Suara Azan dan Lonceng Gereja (1948), Dewan Sajak (1940), Dewi Fajar (1940), Jalan Kembali (1964), Tanah Merah (1980).

Sphere: Related Content

Akhudiat

Dilahirkan di Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Mei 1946. Peserta International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1975. Sejumlah naskah dramanya memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta. Karya-karyanya antara lain: Gerbong-gerbong Tua Pasar Senen (1971), Grafito (1972), Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Jauh (1974), Jaka Tarub (1974), Bui (1975), Re (1977), Suminten dan Kang Lajim (1982), dan Memo Putih (2000).

Sphere: Related Content

Ajip Rosidi

Dilahirkan di Jatiwangi, Jawa Barat, 31 Januari 1938. Karya-karya Profesor Gaidai University of Foreign Studies Jepang ini antara lain: Tahun-tahun Kematian (1955), Pesta (1956; bersama Sobron Aidit dan S.M. Ardan), Di Tengah Keluarga (1956), Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN), Perjalanan Penganten (1958), Surat Cinta Enday Rasidin (1960), Jeram (1970), Jakarta dalam Puisi Indonesia (1972; [ed.]), Laut Biru Langit Biru (1977; [ed.]), Syafruddin Prawiranegara Lebih Takut kepada Allah Swt. (1986; [ed.]), Nama dan Makna (1988), Terkenang Topeng Cirebon (1992), Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995). Bersama Matsuoka Kunio, ia juga menerjemahkan novel-novel Kawabata Yasunari Penari-penari Jepang (1985; Izu no odoriko) dan Daerah Salju (1987; Yukiguni).

Sphere: Related Content

Ahmad Tohari

Dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Pernah bekerja sebagai redaktur majalah Keluarga dan Amanah. Karya-karyanya: Kubah (1980; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama 1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jantera Bianglala (1986; meraih hadiah Yayasan Buku Utama 1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986; pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1979), Senyum Karyamin (1989), Bekisar Merah (1993), Kiai Sadrun Gugat (1995), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Nyanyian Malam (2000). Novelis yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing ini adalah salah seorang alumnus International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan pada 1985 dianugerahi SEA Write Award.

Sphere: Related Content

Ahmad Tohari

Dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Pernah bekerja sebagai redaktur majalah Keluarga dan Amanah. Karya-karyanya: Kubah (1980; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama 1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jantera Bianglala (1986; meraih hadiah Yayasan Buku Utama 1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986; pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1979), Senyum Karyamin (1989), Bekisar Merah (1993), Kiai Sadrun Gugat (1995), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Nyanyian Malam (2000). Novelis yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing ini adalah salah seorang alumnus International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan pada 1985 dianugerahi SEA Write Award.

Sphere: Related Content

Achdiat K. Mihardja

Dilahirkan di Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911. Sebelum menjadi dosen Universitas Nasional Australia dari 1961 hingga pensiun, ia pernah bekerja sebagai guru Taman Siswa, redaktur Balai Pustaka, Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan Jakarta Raya, dan dosen Fakultas Sastra Indonesia. Karyanya antara lain: Polemik Kebudayaan (1948; [ed].), drama Bentrokan dalam Asmara (1952), Pak Dullah in Extremis (1977), dan novel Debu Cinta Bertebaran (1973) serta
Atheis (1949). Yang terakhir ini adalah karyanya yang paling terkenal dan memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah RI pada 1969. Tiga tahun kemudian novel tersebut diterjemahkan R.J. Maguire ke dalam bahasa Inggris.

Sphere: Related Content

Abrar Yusra

Dilahirkan di Agam, Sumatera Barat, 26 Maret 1943. Karya-karya mantan redaktur pelaksana harian Singgalang yang kini banyak menulis buku biografi ini, antara lain: Ke Rumah-rumah Kekasih (1975), Siul (1975), Aku Menyusuri Sungai Waktu (1976), Amir Hamzah 1911-1946 sebagai Manusia dan Penyair (1996).

Sphere: Related Content

Abdul Muis

Dilahirkan di Solok, Sumatera Barat, 1886, dan meninggal di Bandung, 17 Juli 1959. Menulis novel Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), Robert Anak Surapati (1953), dan menerjemahkan antara lain: Don Quixote de la Mancha (1928; Carventes), Tom Sawyer Anak Amerika (1928; Mark Twain); Sebatang Kara (1932; Hector Malot), Tanah Airku (1950; C. Swann Koopman).

Sphere: Related Content

Abdul Hadi WM

Dilahirkan di Sumenep, Madura, 24 Juni 1946. Antara 1967-83 pernah menjadi redaktur Gema Mahasiswa, Mahasiswa Indonesia, Budaya Jaya, Berita Buana, dan penerbit Balai Pustaka. Pada 1973-74 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat.

Karya-karyanya: Riwayat (1967) Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1976; meraih hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1976-77), Tergantung Pada Angin (1977), Anak Laut Anak Angin (1983; mengantarnya menerima penghargaan SEA Write Award 1985). Sejumlah sajaknya diterjemahkan Harry Aveling dan disertakan dalam antologi Arjuna in Meditation (1976). Karya-karya terjemahannya: Faus (Goethe), Rumi: Sufi dan Penyair (1985), Pesan dari Timur (1985; Mohammad Iqbal), Iqbal: Pemikir Sosial Islam dan Sajak-sajaknya (1986; bersama Djohan Effendi), Kumpulan Sajak Iqbal: Pesan kepada Bangsa-bangsa Timur (1985), Kehancuran dan Kebangunan: Kumpulan Puisi Jepang (1987). Kumpulan esainya, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber diluncurkan pada 1999, dua puluh tahun setelah ia menerima Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Sphere: Related Content

A.A. Navis

Dilahirkan di Padangpanjang, Sumatera Barat, 17 November 1924. "Robohnya Surau Kami" dan sejumlah cerita pendek lain penerima Hadiah Seni dari Departemen P dan K pada 1988 ini, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jepang, Perancis, Jerman, dan Malaysia. Cerpen pemenang hadiah kedua majalah Kisah di tahun 1955 itu diterbitkan pula dalam kumpulan Robohnya Surau Kami (1956). Karyanya yang lain: Bianglala (1963), Hujan Panas (1964; Hujan Panas dan Kabut Musim, 1990), Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi (1970; novel ini memperoleh penghargaan Sayembara Mengarang UNESCO/IKAPI 1968), Dermaga dengan Empat Sekoci (1975), Di Lintasan Mendung (1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Jodoh (1998).

Sphere: Related Content

23 September 2006

Foto bugil, Anjas dilaporkan ke polisi

JAKARTA-Foto bugil Anjasmara yang dipajang dalam pameran foto bertajuk "Urban/Culture" di Museum Bank Indonesia menuai protes dari Front Pembela Islam (FPI). Foto bertemakan Adam-Hawa itu dinilai menodai nama Nabi Adam. Anjas pun dilaporkan FPI ke Polda Metro Jaya.

Dalam laporan yang tercatat dengan nomor 3268/K/IX/2005/SPK Unit III tertanggal 22 September 2005 itu, bukan hanya Anjas yang dilaporkan. Model Isabel Yahya yang turut berfoto nyaris bugil, Davy Linggar selaku fotografer, dan penyelenggara pameran juga dinilai telah menghina Nabi Adam dan umat Islam secara umum.

Dalam keterangan tertulisnya, FPI menyebutkan foto Anjas dan Isabel sangat melukai perasaan umat Islam. Visualisasi Nabi Adam lewat foto tersebut dinilai FPI juga telah menyesatkan.

"Anjasmara difoto telanjang bersama model Isabele Yahya dengan berlatar belakang kisah Nabi Adam dan Hawa di Surga adalah penodaan terhadap Nabi Adam," ujar Komandan Laskar Nasional FPI, Jafar Sidiq di Polda Metro Jaya, Jakarta, kemarin.

Jafar menambahkan, foto tersebut bisa merusak moral bangsa. Apalagi dari pengamatannya, banyak warga masyarakat yang datang dan tak segan untuk ikut berpose di depan foto Anjas dan Isabel.

Selama ini Anjas yang bermain dalam sinetron ramadan Mukjizat Allah, dikenal lewat peran-perannya sebagai pria muslim yang taat.

Dalam beberapa sinetron, Anjas bahkan pernah memerankan karakter ustadz dan guru mengaji. Jafar menilai foto bugil Anjas justru melecehkan peran ustadz dan guru mengaji yang dimainkannya.

Sebelum melaporkan ke Polda Metro Jaya, FPI terlebih dahulu melayangkan protes kepada penyelenggara pameran. Menanggapi protes tersebut, foto kontroversial itu kini tak lagi dipajang. Foto tersebut diganti dengan lukisan menjangan. (dtc-45)

Suara Merdeka - Jumat, 23 September 2005 NASIONAL

laman: www.suaramerdeka.com/harian/0509/23/x_nas.html

Sphere: Related Content

28 Mei 2006

Katrin Bandel "mencincang" Ayu Utami




U L A S A N:
Suara Lain dari Seberang

Sekumpulan tulisan yang menyerang sanjung-puji para kritikus terhadap para penulis perempuan Indonesia mutakhir. Argumentasinya mantap.


Dalam lima tahun terakhir ladang sastra kita ramai oleh gunjingan telah terjadi krisis kritik sastra. Mutu kritik dituding tak bisa mengimbangi membanjirnya karya sastra sebagai objek kritik dengan tumbuhnya media massa dan penerbitan. Pendeknya, kritik sastra kita, sebagai sebuah ranah sastra tersendiri, sudah mati.


Ada yang menuding krisis itu berpangkal karena adanya “politik sastra”. “Politik” itu berupa kuatnya jaringan personal antara komunitas- komunitas sastra terkemuka (yang di dalamnya ada kritikus terkemuka juga) dengan para penulis. Penulis yang bisa masuk ke dalam jaringan- jaringan kritikus arus utama itu akan mendapat tempat dalam ranah sastra kita.


Aktivis sastra siber, Saut Situmorang, gencar menyuarakan tudingan dan asumsi ini. Bukan tanpa kebetulan jika istrinya, Katrin Bandel, penulis buku ini, juga punya asumsi yang sama. “Buku ini lahir dari rasa kecewa terhadap permainan politik sastra semacam itu,” tulis Katrin. Penulis asal Jerman ini menuding para kritikus dalam jaringan itu telah tidak adil dalam menilai sebuah karya.


Katrin menunjukkan pilih kasih para kritikus itu. Karya yang mendapat tempat dan sanjungpuji itu secara kualitas, dalam penilaian Katrin, ternyata biasa- biasa saja. Sementara itu, banyak karya lain yang punya kualitas lebih terlewat dari gunjingan para kritikus di media massa hanya karena dia tak punya kontak ke jaringan kritikus arus utama itu.


Dan sepanjang delapan tahun ini, sastra kita (terutama novel dan cerita pendek) ramai oleh tema seputar seks yang ditulis perempuan. Para kritikus arus utama menilai hadirnya perempuan mengangkat dan membongkar seks dari kotak tabu selama ini sebagai bentuk pemberontakan perempuan terhadap budaya patriarki—sebuah budaya yang makin kentara dalam gunjingan yang riuh itu bahwa perempuan memang baru dihargai karena dia perempuan.


Sebab, belum pernah terdengar ada penulis laki-laki dipuji karena dia terlahir sebagai laki-laki. Inilah fokus yang mengambil sebagian besar sorotan Katrin terhadap karya sastra kita dewasa ini. Dia, misalnya, menyoroti dua novel Ayu Utami, Saman dan Larung, yang dianggap “novel terbaik sependek sejarah sastra Indonesia modern”.


Lalu kemunculan tiba-tiba Djenar Maesa Ayu, Dinar Rahayu, dan penulis perempuan lainnya yang menggarap tema tak jauh-jauh dari selangkangan secara telanjang. Para penulis yang dipuji- puji telah mengenalkan teknik bercerita yang baru ini, di mata Katrin, tak lebih hanya merumitkan narasi belaka.


Ia menyiapkan argumentasi, merujuk teori, membongkar kelemahan sorotan atas karyakarya mereka, lalu ia sendiri menunjukkan fakta lain yang mendukung ulasannya. Ada terasa argumentasi yang mantap, memang, sehingga segala bangunan kritik puja-puji itu goyah bahkan ambruk.


Yang tampak segera dari tulisan-tulisannya ini adalah usaha menyampaikan argumentasi sendiri dengan meminimalkan kutipan pemikir-pemikir sebelumnya yang seringkali dipakai bermegah diri oleh para kritikus lokal generasi terbaru. Penilaian Katrin semacam ini sah dan wajar saja.


Sebuah karya sastra serupa raksasa tak akan habis sungguhpun dicincang dari pelbagai sudut. Karya yang berhasil malah akan terus merangsang daya kritis para pembaca. Tetralogi Bumi Manusia yang ditulis Pramoedya Ananta Toer sudah banyak diulas dari pelbagai segi: politik, nasionalisme, teori komunisme, kejiwaan, sejarah, cerita yang biasa saja, dan seterusnya.


Alih-alih habis, tetralogi makin mengukuhkan kepengarangan Pramoedya. Ini juga menunjukkan bahwa baik-buruk mutu sebuah karya ditentukan oleh lompatan waktu, bukan oleh kritikus yang memuji atau mencacinya. Seorang kritikus adalah seorang pembaca yang bertanya. Ia mengungkap segala aspek yang tak terlihat oleh penikmat sastra biasa.


Ia menyampaikan perspektif dengan, kalau perlu, mencari pijakan teorinya. Menurut Budi Darma, kritik yang baik adalah kritik yang memberi wawasan. Kritik yang baik adalah kritik yang bisa membangkitkan siklus mencipta: karya sastra bisa melahirkan kritik, dan kritik bisa merangsang sebuah karya baru. Dalam perkembangan sastra Indonesia yang belum menunjukkan keunikannya ini, rangsangan semacam itu sangat perlu.


Budi Darma sendiri sudah mempraktekannya ketika menulis novel Olenka (dan mungkin cerita-cerita Orang-orang Bloomington). Secara jujur ia mengaku terinspirasi oleh satu kritik sastra yang ditulis pengarang Inggris, EM Forster. Kita tidak tahu bagaimana Budi Darma mendapat ilham menulis cerita sepulang dari Amerika.


Cerita-cerita mutakhirnya lebih tertib dan terarah, tak ada lanturan dan tokoh-tokoh yang kesurupan lagi. Karena berangkat dari “rasa kecewa” itu, tulisan-tulisan Katrin yang menyerang kritik sebelumnya terasa garang dan berapi- api, lalu melupakan sorotan terhadap nilai sebuah karya sebagai suatu kesatuan.


Sebaliknya, tulisan lepas yang membahas novel atau fenomena jauh lebih subtil dan memberikan perspektif baru. Karena itu, tulisan yang paling menarik dari buku ini adalah ulasannya soal dukun dan obat dalam sastra Indonesia, tema-tema pascakolonial, dan sastra siber. Soal dukun dan obat agaknya ringkasan dari disertasi Katrin di jurusan sastra Indonesia Universitas Hamburg, Jerman.

Menarik karena sorotan semacam ini jarang disentuh oleh kritikus lokal. Lagipula, perdebatan kritik sudah terjadi sejak zaman kuda bertukar tanduk dengan rusa. Persoalan rendahnya mutu kritik dan kewibawaan kritik selalu berulang dari generasi ke generasi. Perulangan debat semacam ini, bukankah menunjukkan bahwa memang ada fenomena dan tren tertentu dalam sastra Indonesia?

Barangkali karena buku ini bukan sekumpulan tulisan dengan kepaduan tema. Katrin telah meniru tabiat “intelektual publik” Indonesia yang membuat buku dengan mengumpulkan serpihan-serpihan ide lewat tulisan yang terserak dalam pelbagai berkala. Karena itu setiap ulasan tentang sebuah tema dalam buku ini terasa tak bebas ruang geraknya karena terbatas oleh jumlah halaman dan karakter di media massa tempat asalnya.

Seandainya Katrin mau menambah jelas tiap argumentasi, menyelipkan teori yang lebih ajeg untuk mendukungnya, atau memperluas tema sorotan sebelum dibukukan, ke-11 tulisannya ini bisa jauh lebih berbobot. Kemungkinan lain, sebuah tulisan dalam buku ini ditulis untuk sebuah tema pada suatu waktu tertentu dengan mempertimbangkan aktualitas.

Meski begitu, buku ini tetap menarik sebagai sebuah bahan otokritik terhadap arus utama kritik sastra mutakhir kita, semacam suara lain dalam menimbang sebuah karya. Sebuah otokritik dari seberang, yang mengingatkan, memberi tempat pada karya yang luput dari pengamatan para kritikus arus utama itu.

BAGJA HIDAYAT

Ruang Baca Koran Tempo - Edisi 28 Mei 2006

Sphere: Related Content