20 Oktober 2005

Proses Kreatif Taslim Ali: Ramuan pendidikan, zaman, teman dan kepedulian

oleh Yonathan Rahardjo
(versi asli, dimuat di Kaki Langit HORISON, setelah diedit Redaksi, 2005)

Dalam berkarya, pendidikan Mahmud Taslim Ali di Fakultas
Kesusateraan Universitas Indonesia yang didirikan pada tahun 1940,
membuat M Taslim Ali mempunyai daya magnet yang teramat kuat,
prinsip mendasar dalam pergulatan di bidang sastra khususnya puisi.
Taslim Ali paham betul tentang suatu anatomi dan sifat sajak yang
kemudian hari ditulisnya dalam menyusun Puisi Dunia, "Mengenai corak
sajak-sajak yang dimuat dalam kedua jilid ini: Yang diutamakan ialah
sajak-sajak lirik, termasuk dalamnya nukilan-nukilan dari sandiwara-
sandiwara Shakespeare dan Calderon yang mengandung anasir lirik, dan
berkenaan dengan macam: Dari berbagai-bagai aliran kesusasteraan dan
pelbagai lapangan keharuan."

Penguasaan tentang ilmu sastra itu membentuk puisi Taslim Ali pada
Pujangga Baru VIII/1-2 Juli-Agustus 1940 memenuhi kriteria sajak
lirik itu yaitu pada Sajak Angklung. Demikian pula puisinya pada
Pujangga baru VIII/ 9 Maret 1941 yang berjudul Kepada Murai dan
tentu saja karyanya yang menjadi perbincangan Kepada Angin Raja
Kelana. Di sini terasa nyawa sastra masa Pujangga Baru itu ikut
mewarnai, tapi itu baru permulaan, dan tak lama sesudah itu ia sudah
masuk masa perang. Jepang menduduki Indoonesia pada tahun 1942.
Fakultas dan Universitas di mana Taslim Ali kuliah ditutup dan di
kemudian hari ia tak sempat menyelesaikannya. Masa pendudukan Jepang
dan masa sesudah perang, membentuknya punya nyawa baru lagi dalam
bersastra. Angkatan 45, begitu disebut angkatan sesudah Pujangga
Baru ini.

Menurut kritikus sastra yang sudah berkecimpung langsung pada masa
itu, HB Jassin dalam Gema Tanah Air (1948), pendalaman dari hasil-
hasil angkatan sesudah perang berbeda dengan masa Pujangga Baru yang
berbeda dengan masa Balai Pustaka. perbedaan itu karena melihat dan
mengingat umur pengarang dan penyair yang rata-rata di bawah 30
tahun, kesungguhan ada. Perhatian kepada politik terbayang pada
sajak-sajak dan cerita-cerita yang berkelirkan pandangan politis,
baik di masa Jepang maupun sesudahnya. Itulah pula yang menjadi
angkasa pada masa Taslim Ali membuat karya-karyanya dan mempengaruhi
proses kreatifnya. Tampak pada puisinya yang berjudul Retetan Harus
yang tertulis dibuat di Yogyakarta 26 Juni 1948 dan dimuat di Mimbar
Indonesia, tempat Taslim Ali menunjukkan hasil proses kreatifnya
sesudah masa Jepang.

Sebelumnya, pada 24 Mei 1948 HB Jassin yang di kemudian hari
mendapat julukan Paus Sastra Indonesia, mengirim surat kepada
sebagai pimpinan Balai Pustaka saat itu yaitu Tengku Pamuntjak yang
mengatakan "Dia (Taslim Ali) adalah satu tenaga yang baik untuk
mengusahakan cita-cita kita bersama." Maka mulailah Taslim Ali
bekerja di Balai Pustaka. Kesempatan untuk berenang di samudera
sastra pun terbuka seluas-luasnya.

Pada tahun 1950-an, Balai Pustaka dipenuhi oleh banyak pengarang.
Ruangan Balai Pustaka yang besar dan luas itu, tanpa kamar per
kamar, tapi penuh meja per meja, dan mereka yang bekerja di situ
pada umumnya adalah sebagai redaktur Balai Pustaka, baik majalah
yang diterbitkan oleh Balai Pustaka maupun sebagai buku tersendiri.
Antara meja per meja saling berdekatan, dengan demikian antara
sesama pekerja di ruangan itu menjadi terbuka secara umum. Pengarang-
pengarang itu antara lain Pramoedya Ananta Toer, Anas Makruf, Amal
Hamzah, M.Balfas, Achdiat K Mihardja, Utuy Tatang Sontany, dan
Taslim Ali yang semuanya sudah punya nama secara nasional serta
masih banyak lagi yang semuanya adalah para sastrawan, penyair dan
pekerja budaya lainnya.

Para pekerja seni budaya itu, sebagian besar memang bekerja di Balai
Pustaka. Tetapi ada juga yang hanya sebagai pekerja honorer, atau
bahkan hanya datang-datang saja saling mau bertemu. Kebanyakan
mereka, kini sudah lama meninggal. Dan menurut catatan HB Jassin,
Taslim Ali bekerja di Balai Pustaka sejak 1948 hingga pensiun pada
tahun 1971; masa yang panjang untuk sebuah pengabdian, betapa banyak
buku yang telah lahir dengan turun tangannya.

Rekomendasi HB Jassin kepada Tengku Pamuntjak agar M Taslim Ali bisa
bekerja di Balai Pustaka nyatalah benar sesuai visinya. Menurut
catatan PDS HB Jassin, konsistensi keaktifan Taslim itu tampak di
antaranya pada perhatian keduanya (HB Jassin dan Taslim Ali)
terhadap penciptaan perbukuan dan kesusastraan. Pada 1959 HB Jassin
bersurat kepada Taslim Ali bahwa ia mengembalikan buku Elements of
Critical Theory karangan Wayne Shumaker yang ia pinjam. Tiga buku
yang lain ia pinjam lagi. HB Jassin juga menulis kepada Taslim Ali
bahwa di dalam karangannya (HB Jassin) untuk "Pustaka dan Budaja"
satu pembicaraan "Ajip Rosidi Tunas Harapan" harap dirobahkan pada
bagian mengenai di tengah keluarga empat kali ia menyebut "bekas
ayah" harap Taslim mencoret perkataan "bekas".

Perhatian angkatan sesudah perang pun lebih intensif tertuju ke luar
negeri. Dan itulah yang dilakukan Taslim Ali. Bahkan dia lah yang
menterjemahkan dan menyusun puisi-puisi penyair luar negeri dan
berlabel dunia dalam bukunya dengan judul Puisi Dunia I (1952) dan
Puisi II (1953). Suatu pekerjaan besar yang dilakukan Taslim Ali
dengan memanfaatkan waktu seluas-luasnya dalam bekerja sebagai
Redaktur Balai Pustaka sejak 1948. Ia pun menggunakan bahasa
Indonesia yang sama untuk menterjemahkan sejumlah besar sajak dari
berbagai negeri dan zaman. Karena sebagian besar penerjemahan
dilakukan oleh Taslim Ali, mau tidak mau sajak-sajak yang berasal
dari bangsa, bahasa, dan zaman yang berbeda-beda itu harus tunduk
pada gaya bahasa yang dikuasainya sebagai penerjemah.

Puisi dunia yang menjulang mencakar langit dan mempengaruhi
peradaban dunia yang maju pesat, siapa yang bisa membaca dan
menikmatinya dalam bahasa Indonesia kalau tidak ada yang
menterjemahkannya? Dengan kumpulan puisi-puisi karya penyair-penyair
besar dengan bahasa-bahasa dari berbagai negara di dunia yang
disusun oleh M Taslim Ali, maka bangsa Indonesia yang hanya bisa
berbahasa Indonesia bisa mengenal karya-karya mereka.

Dalam menyusun buku terbitan Balai Pustaka itu, Taslim Ali dibantu
Anas Ma'ruf, Bahrum Rangkuti, Asrul Sani, Siti Nuraini dan Utuy T
Sontani yang ikut menterjemahkan beberapa puisi dan ia sendirilah
yang paling banyak menterjemahkan sebelum akhirnya menyusun buku
ini. Buku Puisi Dunia Jilid I saja berisi puisi para penyair dari
negara-negara Slavia dan Latin yang diterjemahkan dari bahasa asli
dan atau melalui terjemahan bahasa lain sehingga menjadi begitu
dekat dengan kaum Indonesia lantaran terjemahan-terjemahan mereka.

Lalu Buku Puisi Dunia Jilid II tentang Jiwa Germania. Belum lagi
Jilid III yang memuat karya penyair Asia-Afrika yang hilang dan
belum sempat dicetak.

Dengan pergaulannya dengan berbagai sastrawan budayawan Indonesia,
lebih-lebih yang karya-karyanya ia edit sebagai redaktur Balai
Pustaka, maupun ia terbitkan bersama seperti dikisahkan riwayat
hidupnya, ditambah dengan mengetahui nama-nama penyair Dunia yang
Diterjemahkan Taslim Ali dalam Puisi Dunia, dapat diketahui dengan
siapakah dan dari apakah sebenarnya Taslim Ali yang sangat berperan
dalam proses kreatif Taslim Ali. Bacaan! Diolah dengan keunikannya
sendiri, maka lahirlah sosok karya seni Taslim Ali.

Mengenai tehnik terjemahan sehingga Buku Puisi Dunia dipercaya
secara kuat, kata taslim Ali: "Yang dicita-citakan senantiasa
sedekat mungkin pada teks dengan berpegang pada ekonomi kata dalam
menurutkan irama dan membulatkan persanjakan, sehingga jiwa syair
dan penyair tetap terpelihara. Tetapi dalarn prakteknya, kerap juga
terpaksa lari kepada kompromis, memberi dan mengambil berkenaan
dengan kesulitan-kesulitan yang harus diatasi. Yang dilakukan,
membaca sajak-sajak yang akan diterjemahkan itu berulang-ulang,
mencoba menangkap suasana sajak dan jiwa penyair, sudah itu
menghidupkan suatu gambaran dengan alat-alat yang dijangkau dari
seluruh perbendaharaan kata-kata Indonesia yang ada pada saya."

Menurutnya, keterangan secara pendek tentang mendekati teks orisinil
dari sajak-sajak asing itu. Sekalipun hanya sekian, saya kira
memadahi buat sementara waktu, karena berpanjang panjang tentang
soal-soal detail, bakal membawa kepada rentetan pengupasan bersifat
kering, lebih pada tempatnja dilakukan oleh yang berpendirian
akademis, akan meliputi perbandingan tekanan kata dan kalimat, soal-
soal irama dan persanjakan, penghargaan bunyi dan nilai warna kata-
kata, berbagai-bagai cara ucapan, dan sebagainya, antara bahasa yang
diterjemahkan dan bahasa terjemahan."

Adapun, menurut Taslim Ali sendiri, latar belakang kondisi dunia
sastra saat pembuatan karya monumental Buku Puisi Dunia itu, memang
saat itu lapangan esai dan puisi barat merupakan getaran jiwa yang
belum lagi mendapat perhatian pandang sebelah mata, dianaktirikan
sejadi-jadinya. Berbeda dengan begitu banyak terjemahan karya asing
tentang karya sandiwara oleh sastrawan-sastrawan Indonesia. Hal ini
akibat sebelumnya pada jaman penjajahan Belanda pengajaran sastra
lebih mengutamakan perhatian pada golongan semak belukar dari rimba
kesusasteraan mereka, sehingga amat sedikit bersisa kesempatan untuk
perkenalan dengan raksasa-raksasa kesusteraan dunia yang menjulang
mencakar langit. Ditambah sikap bersastra, dan kesulitan perangkat
teknis penunjang serta kondisi ekonomi yang tentu berbeda dengan
kemajuan di masa kini.

Namun ketika jaman sudah berubah di mana karya esai dan perpuisian
barat sudah mulai dan mudah didapat untuk dilahap oleh sastrawan
Indonesia seiring kemajuan teknologi, rupanya karya monumental
Taslim Ali tetap bertahta di hati penyair yang sadar wawasan
sehingga menjadi daya dorong untuk memilih hidup berkarya bagi
penyair generasi ke sekian sesudah Taslim Ali tadi. ***


Sphere: Related Content