20 Oktober 2005

Proses Kreatif Taslim Ali: Ramuan pendidikan, zaman, teman dan kepedulian

oleh Yonathan Rahardjo
(versi asli, dimuat di Kaki Langit HORISON, setelah diedit Redaksi, 2005)

Dalam berkarya, pendidikan Mahmud Taslim Ali di Fakultas
Kesusateraan Universitas Indonesia yang didirikan pada tahun 1940,
membuat M Taslim Ali mempunyai daya magnet yang teramat kuat,
prinsip mendasar dalam pergulatan di bidang sastra khususnya puisi.
Taslim Ali paham betul tentang suatu anatomi dan sifat sajak yang
kemudian hari ditulisnya dalam menyusun Puisi Dunia, "Mengenai corak
sajak-sajak yang dimuat dalam kedua jilid ini: Yang diutamakan ialah
sajak-sajak lirik, termasuk dalamnya nukilan-nukilan dari sandiwara-
sandiwara Shakespeare dan Calderon yang mengandung anasir lirik, dan
berkenaan dengan macam: Dari berbagai-bagai aliran kesusasteraan dan
pelbagai lapangan keharuan."

Penguasaan tentang ilmu sastra itu membentuk puisi Taslim Ali pada
Pujangga Baru VIII/1-2 Juli-Agustus 1940 memenuhi kriteria sajak
lirik itu yaitu pada Sajak Angklung. Demikian pula puisinya pada
Pujangga baru VIII/ 9 Maret 1941 yang berjudul Kepada Murai dan
tentu saja karyanya yang menjadi perbincangan Kepada Angin Raja
Kelana. Di sini terasa nyawa sastra masa Pujangga Baru itu ikut
mewarnai, tapi itu baru permulaan, dan tak lama sesudah itu ia sudah
masuk masa perang. Jepang menduduki Indoonesia pada tahun 1942.
Fakultas dan Universitas di mana Taslim Ali kuliah ditutup dan di
kemudian hari ia tak sempat menyelesaikannya. Masa pendudukan Jepang
dan masa sesudah perang, membentuknya punya nyawa baru lagi dalam
bersastra. Angkatan 45, begitu disebut angkatan sesudah Pujangga
Baru ini.

Menurut kritikus sastra yang sudah berkecimpung langsung pada masa
itu, HB Jassin dalam Gema Tanah Air (1948), pendalaman dari hasil-
hasil angkatan sesudah perang berbeda dengan masa Pujangga Baru yang
berbeda dengan masa Balai Pustaka. perbedaan itu karena melihat dan
mengingat umur pengarang dan penyair yang rata-rata di bawah 30
tahun, kesungguhan ada. Perhatian kepada politik terbayang pada
sajak-sajak dan cerita-cerita yang berkelirkan pandangan politis,
baik di masa Jepang maupun sesudahnya. Itulah pula yang menjadi
angkasa pada masa Taslim Ali membuat karya-karyanya dan mempengaruhi
proses kreatifnya. Tampak pada puisinya yang berjudul Retetan Harus
yang tertulis dibuat di Yogyakarta 26 Juni 1948 dan dimuat di Mimbar
Indonesia, tempat Taslim Ali menunjukkan hasil proses kreatifnya
sesudah masa Jepang.

Sebelumnya, pada 24 Mei 1948 HB Jassin yang di kemudian hari
mendapat julukan Paus Sastra Indonesia, mengirim surat kepada
sebagai pimpinan Balai Pustaka saat itu yaitu Tengku Pamuntjak yang
mengatakan "Dia (Taslim Ali) adalah satu tenaga yang baik untuk
mengusahakan cita-cita kita bersama." Maka mulailah Taslim Ali
bekerja di Balai Pustaka. Kesempatan untuk berenang di samudera
sastra pun terbuka seluas-luasnya.

Pada tahun 1950-an, Balai Pustaka dipenuhi oleh banyak pengarang.
Ruangan Balai Pustaka yang besar dan luas itu, tanpa kamar per
kamar, tapi penuh meja per meja, dan mereka yang bekerja di situ
pada umumnya adalah sebagai redaktur Balai Pustaka, baik majalah
yang diterbitkan oleh Balai Pustaka maupun sebagai buku tersendiri.
Antara meja per meja saling berdekatan, dengan demikian antara
sesama pekerja di ruangan itu menjadi terbuka secara umum. Pengarang-
pengarang itu antara lain Pramoedya Ananta Toer, Anas Makruf, Amal
Hamzah, M.Balfas, Achdiat K Mihardja, Utuy Tatang Sontany, dan
Taslim Ali yang semuanya sudah punya nama secara nasional serta
masih banyak lagi yang semuanya adalah para sastrawan, penyair dan
pekerja budaya lainnya.

Para pekerja seni budaya itu, sebagian besar memang bekerja di Balai
Pustaka. Tetapi ada juga yang hanya sebagai pekerja honorer, atau
bahkan hanya datang-datang saja saling mau bertemu. Kebanyakan
mereka, kini sudah lama meninggal. Dan menurut catatan HB Jassin,
Taslim Ali bekerja di Balai Pustaka sejak 1948 hingga pensiun pada
tahun 1971; masa yang panjang untuk sebuah pengabdian, betapa banyak
buku yang telah lahir dengan turun tangannya.

Rekomendasi HB Jassin kepada Tengku Pamuntjak agar M Taslim Ali bisa
bekerja di Balai Pustaka nyatalah benar sesuai visinya. Menurut
catatan PDS HB Jassin, konsistensi keaktifan Taslim itu tampak di
antaranya pada perhatian keduanya (HB Jassin dan Taslim Ali)
terhadap penciptaan perbukuan dan kesusastraan. Pada 1959 HB Jassin
bersurat kepada Taslim Ali bahwa ia mengembalikan buku Elements of
Critical Theory karangan Wayne Shumaker yang ia pinjam. Tiga buku
yang lain ia pinjam lagi. HB Jassin juga menulis kepada Taslim Ali
bahwa di dalam karangannya (HB Jassin) untuk "Pustaka dan Budaja"
satu pembicaraan "Ajip Rosidi Tunas Harapan" harap dirobahkan pada
bagian mengenai di tengah keluarga empat kali ia menyebut "bekas
ayah" harap Taslim mencoret perkataan "bekas".

Perhatian angkatan sesudah perang pun lebih intensif tertuju ke luar
negeri. Dan itulah yang dilakukan Taslim Ali. Bahkan dia lah yang
menterjemahkan dan menyusun puisi-puisi penyair luar negeri dan
berlabel dunia dalam bukunya dengan judul Puisi Dunia I (1952) dan
Puisi II (1953). Suatu pekerjaan besar yang dilakukan Taslim Ali
dengan memanfaatkan waktu seluas-luasnya dalam bekerja sebagai
Redaktur Balai Pustaka sejak 1948. Ia pun menggunakan bahasa
Indonesia yang sama untuk menterjemahkan sejumlah besar sajak dari
berbagai negeri dan zaman. Karena sebagian besar penerjemahan
dilakukan oleh Taslim Ali, mau tidak mau sajak-sajak yang berasal
dari bangsa, bahasa, dan zaman yang berbeda-beda itu harus tunduk
pada gaya bahasa yang dikuasainya sebagai penerjemah.

Puisi dunia yang menjulang mencakar langit dan mempengaruhi
peradaban dunia yang maju pesat, siapa yang bisa membaca dan
menikmatinya dalam bahasa Indonesia kalau tidak ada yang
menterjemahkannya? Dengan kumpulan puisi-puisi karya penyair-penyair
besar dengan bahasa-bahasa dari berbagai negara di dunia yang
disusun oleh M Taslim Ali, maka bangsa Indonesia yang hanya bisa
berbahasa Indonesia bisa mengenal karya-karya mereka.

Dalam menyusun buku terbitan Balai Pustaka itu, Taslim Ali dibantu
Anas Ma'ruf, Bahrum Rangkuti, Asrul Sani, Siti Nuraini dan Utuy T
Sontani yang ikut menterjemahkan beberapa puisi dan ia sendirilah
yang paling banyak menterjemahkan sebelum akhirnya menyusun buku
ini. Buku Puisi Dunia Jilid I saja berisi puisi para penyair dari
negara-negara Slavia dan Latin yang diterjemahkan dari bahasa asli
dan atau melalui terjemahan bahasa lain sehingga menjadi begitu
dekat dengan kaum Indonesia lantaran terjemahan-terjemahan mereka.

Lalu Buku Puisi Dunia Jilid II tentang Jiwa Germania. Belum lagi
Jilid III yang memuat karya penyair Asia-Afrika yang hilang dan
belum sempat dicetak.

Dengan pergaulannya dengan berbagai sastrawan budayawan Indonesia,
lebih-lebih yang karya-karyanya ia edit sebagai redaktur Balai
Pustaka, maupun ia terbitkan bersama seperti dikisahkan riwayat
hidupnya, ditambah dengan mengetahui nama-nama penyair Dunia yang
Diterjemahkan Taslim Ali dalam Puisi Dunia, dapat diketahui dengan
siapakah dan dari apakah sebenarnya Taslim Ali yang sangat berperan
dalam proses kreatif Taslim Ali. Bacaan! Diolah dengan keunikannya
sendiri, maka lahirlah sosok karya seni Taslim Ali.

Mengenai tehnik terjemahan sehingga Buku Puisi Dunia dipercaya
secara kuat, kata taslim Ali: "Yang dicita-citakan senantiasa
sedekat mungkin pada teks dengan berpegang pada ekonomi kata dalam
menurutkan irama dan membulatkan persanjakan, sehingga jiwa syair
dan penyair tetap terpelihara. Tetapi dalarn prakteknya, kerap juga
terpaksa lari kepada kompromis, memberi dan mengambil berkenaan
dengan kesulitan-kesulitan yang harus diatasi. Yang dilakukan,
membaca sajak-sajak yang akan diterjemahkan itu berulang-ulang,
mencoba menangkap suasana sajak dan jiwa penyair, sudah itu
menghidupkan suatu gambaran dengan alat-alat yang dijangkau dari
seluruh perbendaharaan kata-kata Indonesia yang ada pada saya."

Menurutnya, keterangan secara pendek tentang mendekati teks orisinil
dari sajak-sajak asing itu. Sekalipun hanya sekian, saya kira
memadahi buat sementara waktu, karena berpanjang panjang tentang
soal-soal detail, bakal membawa kepada rentetan pengupasan bersifat
kering, lebih pada tempatnja dilakukan oleh yang berpendirian
akademis, akan meliputi perbandingan tekanan kata dan kalimat, soal-
soal irama dan persanjakan, penghargaan bunyi dan nilai warna kata-
kata, berbagai-bagai cara ucapan, dan sebagainya, antara bahasa yang
diterjemahkan dan bahasa terjemahan."

Adapun, menurut Taslim Ali sendiri, latar belakang kondisi dunia
sastra saat pembuatan karya monumental Buku Puisi Dunia itu, memang
saat itu lapangan esai dan puisi barat merupakan getaran jiwa yang
belum lagi mendapat perhatian pandang sebelah mata, dianaktirikan
sejadi-jadinya. Berbeda dengan begitu banyak terjemahan karya asing
tentang karya sandiwara oleh sastrawan-sastrawan Indonesia. Hal ini
akibat sebelumnya pada jaman penjajahan Belanda pengajaran sastra
lebih mengutamakan perhatian pada golongan semak belukar dari rimba
kesusasteraan mereka, sehingga amat sedikit bersisa kesempatan untuk
perkenalan dengan raksasa-raksasa kesusteraan dunia yang menjulang
mencakar langit. Ditambah sikap bersastra, dan kesulitan perangkat
teknis penunjang serta kondisi ekonomi yang tentu berbeda dengan
kemajuan di masa kini.

Namun ketika jaman sudah berubah di mana karya esai dan perpuisian
barat sudah mulai dan mudah didapat untuk dilahap oleh sastrawan
Indonesia seiring kemajuan teknologi, rupanya karya monumental
Taslim Ali tetap bertahta di hati penyair yang sadar wawasan
sehingga menjadi daya dorong untuk memilih hidup berkarya bagi
penyair generasi ke sekian sesudah Taslim Ali tadi. ***


Sphere: Related Content

13 September 2005

Kebudayaan dan seni Sumbawa

Selasa, 13 September 05 - oleh : arief

Kesusasteraan

Periode awal kesusasteraan Samawa merupakan dimulainya sebuah tradisi lisan. Sejumlah karya sastra Tau Samawa, juga kisah dan dongeng yang dinyanyikan atau diucapkan, acara keagamaan, pertemuan suci dan pemerintahan, dipengaruhi oleh beberapa norma sosial.

Kesusasteraan permulaan melukiskan kecintaan dan pada alam dan manusia serta berpegang bahwa keaslian alami manusia adalah satu. Kesusasteraan awalnya menekankan norma perilaku seperti kesetiaan kepada raja, kealiman anak, hormat kepada guru atau lebih tua, persahabatan yang tulus dan kesucian wanita.

Masyarakat tradisional Samawa, menulis karangan sastra pada daun lontar yang telah dikuningkan yang dinamakan "bumung". Karya sastra ditulis dengan cara menggoreskan daun lontar dengan ujung pangat ( pisau kecil tajam ). Mereka menyimpannya dengan menggantung ada didinding dan tiang rumah.

Sastra lisan yang disebut - sebut sebagai pilar sastra Samawa adalah lawas ( isi yang dilagukan ). Lawas ini sejak perekambangannya mendapat pengaruh "Elom ugi" atau syair Bugis. Sastera jenis ini hidup dan berkembang dengan subur dalam masyarakat selama berabad - abad lamanya.

Tulisan khas Sumbawa yang ditulis diatas daun lontar disebut "Satera Jontal".

Seni Kelingking

Seni kelingking adalah istilah seni rupa daerah Samawa. Artinya, membuat ornamen atau hiasan pada suatu benda tertentu dengan menggunakan tekhnik menghias. Hasilnya, berupa langit kelingking, kre alang, tabola, peti kayu berhias, gerbah dan sebagainya.

Bentuk seni ini sudah berlangsung lama. Mendapat pengaruh Hindu dengan motif hias tumbuhan dan selanjutnya pengaruh islam.

Berbagai bentuk corak hiasan kelingking yang dikenal di tana Samawa adalah : lonto engal ( ragam sulur ), kemang satange ( ragam bunga) pohon hayat, pucuk rebung, gelambok, slimpat ( jalinan ), naga, burung, manusia dan binatang ( sapi, kuda, kerbau dan sebagainya ).

Ragam hias seni kelingking bagi masyarakat Samawa mempunyai makna tertentu. Slimpat melambangkan percintaan dan kerukunan. Piyo ( burung ) berlambang roh nenek moyang. Pohon hayat sebagai lambang kehidupan manusia. Manusia sebagai berlambang kerakyatan. Naga, lambang kesuburan dan cecak lambang penangkal kejahatan.

Hasil - hasil seni kelingking pada masyarakat Samawa diantaranya adalah : kain untuk bahan pakaian, gorden, sprai, aneka meubel rumah tangga, benda - benda gerabah, tas, kipas, topi, kaos oblong, gantungan kunci, plakat dll.

Sistem Kepercayaan

Masyarakat Samawa tradisional percaya bahwa pohon - pohon besar atau batu - batu besar atau tempat - tempat angker, ada "baengna" ( ada yang punya ). Kalau melewati tempat tersebut tidak boleh ribut dan harus sopan. Kalau tidak bisa "disapa" atau ditegur oleh mahkluk halus tersebut, dan jatuh sakit. Mahkluk - makhluk halus
Tersebut ada yang mereka namakan Kono ( makhluk halus yang suka berkeliaran siang hari ditempat sepi ), Baki ( makhluk halus dihutan ), Setan belata ( Hantu hajat ), Leak ( manusia yang menyerupai mahkluk halus ), Jin ( menurutnya ada yang kafir dan ada yang islam ).

Sistem kepercayaan Tau Samawa juga percaya pada adanya guna - guna (black magic ) untuk menundukkan lawan. Penggunaannya banyak dijumpai ada kerajaan kerbau ( barapan kerbau ) atau pacuan kuda ( main jaran ). Dikenal dua jenis black magic yaitu sihir yang konon dilepas seperti angin, dan Bura yang dilepas ditempat - tempat yang diperkirakan akan dilalui oleh lawan. Ditempat - tempat perhelatan seperti perkawinan juga olahraga ( main bola ) hal ini juga dilakukan. Karena itu, setia ada perhelatan atau kegiatan tertentu, selalu ada pendamping, yaitu Sanro ( dukun ) yang bertugas mengawasi agar segala sesuatu bisa berjalan semestinya.

Ada orang - orang yang sakti berupa kekebalan masih sangat dipercaya oleh masyarakat Samawa. Demikian pula dengan adanya benda - benda pusaka seperti keris dan golok yang punya kesaktian.

Sistem Pengetahuan

Masyarakat Samawa memiliki sistem pengetahuan yang turun temurun. Untuk obat - obat tradisional, yang mulanya dari Sanro ( dukun ) misalnya : obat batuk, yaitu air jeruk nipis dicampur kapur kemudian dioles pada leher, luka bakar, dioles madu, luka baru diobat dengan serbuk kopi, sarang laba - laba yang besar, getah jarak ; sakit perut diobati dengan mengunyah daun jambu muda yang dicampur sedikit garam dll.
Kalau akan memulai turun sawah, petani cukup melihat arah dan letak bintang renggala ( bintang bajak ). Kalau akan melaut dengan melihat warna langit pada malam hari.
Dimasyarakat tradisional ada macam - macam upacara seperti : upacara minta hujan. Masyarakat Samawa mengenal adanya jimat sebagai penolak bala. Pemakaiannya bisa dikalung, diikatkan di pinggang.

Kepercayaan ada sihir pada masyarakat tradisional masih ada, seperti adanya yang disebut loma - lome, bura, pedang pekir dan sebagainya.
Meramal ( ramuka ) merupakan kebiasaan tradisional masyarakat samawa. Meramal nasib, menanyakan hari baik, menemukan barang yang hilang dsb. Mereka juga mengenal apa yang disebut cuca' dengan harapan agar selamat dan tercapai tujuannya.

Lukisan

Lukisan Samawa mewakili sebuah pola / tipe pencapaian budaya kekuatan kreatif dan rasa estetis tau samawa. Lukisan samawa telah berkembang melalui panjangnya sejarah Tanah Samawa sejak Zaman Hindu, Islam dan Modern sekarang ini. Lukisan pertama dari tau Samawa ditemukan pada dinding kubur sarkofagus Ai Renung dengan ragam hias manusia biawak yang dibuat ribuan tahun silam.

Dalam perkembangannyanya lukisan-lukisan Samawa mewarisi tradisi keindahan pada batu - batu nisan berukir yang dijumpai di Telebir, pada tiang - tiang rumah, dinding rumah dll.

Lukisan - lukisan Samawa, berkaitan loebih banyak dengan kehidupan tumbuhan dan binatang dan juga kehidupan sehari - hari rata - rata Tau Samawa serta aspirasi dan impian mereka. Penuh warna dan hidup, serta bebas dari pengekangan biasa yang berlaku. Warna - warna merah, kuning, hitam, hijau dan merah muda ( beko ). Umumnya lukisan bunga diberi warna merah dan kuning dengan daun berwarna hijau.

Arsitektur

Arsitektur Samawa menggunakan struktur isatana dan sangat dipengaruhi oleh arsitektur Makasar, baik pada perumahan bangsawan, maupun perumahan rakyat biasa dan terdiri dari banyak variasi lokal. Peninggalan istana tua ( dalam loka ) menghambat mode Balla Lompoa di Goa.

Karakteristiknya, bangunan berdiri diatas tiang kayu, dinding kayu, lantai kayu, atau kayu genting. Dinding, tangga dan bagian - bagian tertentu diukir dan ditonjolkan secara megah.

Lingkungan alam selalu dikaitkan dengan sebuah elemen yang penting dan utama dalam arsitektur Samawa. Dalam memilih lokasi untuk bangunan, tau samawa cendrung mengikatkan makna khusus ada rinsi - rinsi pertahanan yang menguasai filosofi Samawa.
Gaya bangunan - bangunan di Tana Samawa mulai dari bangunan rumah, balai desa, mesjid, langgar, mushallah, lumbung dsb, selalu mengacu pada arsitektur tradisional dengan empat persegi panjang dan model atau seperti perahu.

Bahkan, walaupun saat ini arsitektur moderen sudah memasuki dan kuat pengaruhinya pada arsitektur Samawa, filosofi dasarnya tetap saja dipertahankan. Kecuali ada penataan ruang, lantai dan ornamen lainya.

Musik

Kehidupan seni tradisional mendapat tempat di hati masyarakat Tana Samawa, terutama yang berdomisili di pedesaan. Musik orkestra samawa yang disebut Gong Genang sangat populer di masyarakat. Gong Genang terdiri dari sebuah gong, dua buah genang ( gendang ) dan sebuah serune. Serune dalam orkestra Gong genang berfungsi sebagai pembawa melodi.

Sejumlah musik daerah yang dihayati masyarakat pendukungnya antara lain : Ratib ( Rabana Ode dan Rabana Rea / Kebo ), Bagenang, Sakeco, Langko, Saketa, Gandang, Bagesong dsb.

Dari lirik - lirik lawas telah diangkat kepermukaan sejumlah lagu yang berirama daerah dengan iringan instrumen alat - alat musik modern. Lagu khas daerah Samawa sudah banyak dilagukan dalam berbagai kesempatan upacara dan acara perhelatan perkawinan. Dalam bentuk kaset ataupun kepingan CD dan VCD.

Beberapa peralatan musik tradisional Samawa adalah : Serune, yaitu alat musik tiup. Alat ini termasuk alat musik golongan serofon yang berlidah, serune dibuat dari dua bahan pokok yaitu bulu ( jenis bambu kecil ) dan daun lontar. Lolo dan anak lolo dibuat dari bulu, sedangkan seremung ode dan seremung rea dibuat dari daun lontar yang digulung dan membentuk cerobong / kerucut. Serune tidak berfungsi sebagai alat musik yang sakral, karena itu dapat dimainkan oleh siapa saja yang berminat. Serune dapat memainkan lagu apa saja asal sesuai dengan nadanya. Kebanyakan lagu - lagu yang dibawakan adalah lawas ( syair Samawa ) yang kebanyakan tidak dikenal siapa penciptanya.

Alat musik tradisional lainnya adalah : Palompong. Di Taliwang ( bagian ano rawi ) disebut garompong. Alat musik ini termasuk alat musik idiofon. Di jawa yang sejenis dengan alat musik ini adalah gambang. Bahan untuk membuat palompong adalah jenis kayu ringan yang di Sumbawa di sebut kayu kabong, kenangas dan berora. Palompong biasanya di pergunakan dalam permainan orkestra Goa genang, dan berfungsi sebagai alat ritmis. Palompong di pukul dengan menggunakan pemukul yang banyaknya dua buah.

Rebana adalah alat musik yang terbuat dari kayu, kulit, rotan dan kawat. Di sumbawa kayu yang dipakai membuat rebana adalah kayu jepun (kayu kemboja ) dan kulit yang dipakai adalah kulit kambing ( lenong bedes ). Rebana di pergunakan untuk mengiring lawas ( tembang khas Samawa ) atau dalam bentuk musik orkestra seperti sakeco, saketa dan juga untuk mengiringi tari - tari kreasi.

Cara memainkan rebana ada yang dipukul dengan tangan dan ada yang menggunakan alat pemukul. Cara memainkan ada yang diangkat dan satu tangan memukul, seperti dalam mengiring qasidah, dzikir. Untuk Rebana Rea (besar ) dalam memainkannya diletakkan diatas tanah secara berdiri, satu tangan memegang dan tangan lainnya memukul.

Tarian

Tradisi tari sudah lama ada di Tana Samawa. Tari tanak ( Tanak Juran dan Tanak Eneng Ujang ) adalah contoh tarian Samawa yang merupakan tari persembahan Tau Juran ( seketeng, Samapuin, Lempeh dan Brangbara ) kepada raja Sumbawa. Sedangkan Tau kampung bugis sebagai tamu khusus kerajaan mempersembahkannya Sempa. Sempa memiliki gerakan yang khas dan unik dengan gerakan kaki dinamis dan cekatan.

Tarian Samawa memperlihatkan gerakan tanak, sempa, redat, ngumang, pengantan bolang kemang, nyemah dan berbagai gerakan yang terdapat pada permainan rakyat, serta gerakan petani tradisional di sawah. Disamping gerakan - gerakan pada berbagai upacara adat.

Para pencipta tari dan para penari mencoba mengungkapkan sebuah kekuatan dan keindahan yang mendalam.

Sejumlah tarian kreasi baru yang dikenal luas di masyarakat Samawa adalah Tari Nguri, Tari Pego Bulaeng, Tari Pasaji, Tari Pamuji, Tari Batu nganga, Tari lalu diya - lala jines, Tari ngasak, Tari dadara bagandang, tari berodak, ari rapancar, tari kemang komal, tari dadara melala, tari rabinter, tari dadara nesek, tari barapan kebo, tari kosok kancing, tari lamung pene, tari tanjung menangis dan sejumlah tarian yang penampilannya dalam bentuk sendratari.

Teater

Teater tradisional di tana samawa tidak terlalu menonjol dan bahkan kurang berkembang. Bagesa atau gesa yang mengundang tawa bahak yang dilakukan oleh seorang atau dua orang dengan gaya yang jenaka dan sarat humor bisa dimasukkan sebagai teater mula. Pada tahun 1981 dalam pentas sosial darama di tana Samawa, pernah diangkat keatas pentas bagesa dan ternyata mendapat sambutan hangat dari penonton yang memang sudah hafal dengan selera komedi seperti itu.

Masyarakat Samawa mengenal teater kontemporer tanpa melalui jenjang teater tradisional.

Permainan Rakyat

Sejumlah permainan rakyat tradisional masyarakat Samawa yang menjadi ciri dari masyarakat antara lain adalah : Karaci yaitu permainan tradisional yang dilakukan oleh dua orang yang masing - masing memegang empar ( tameng ) dan we ( pemukul dari rotan ) serta pabulang. Keduanya saling memukul dengan we dan menangkis dengan empar ( tameng ).

Berempuk, adalah permainan lain di Tana samawa, yaitu tinju bebas yang tidak menggunakan sarung tinju. Biasanya dilaksanakan dilapangan terbuka atau sawah seusai panen padi. Kuntao, pencak silat juga merupakan bagian permainan rakyat samawa.
Main jaran, Barapan kebo dan nganyang / main mayung dan beradu ayam adalah permainan rakyat yang berkaitan dengan peternakan. Sedangkan bagi anak - anak Samawa permainan masa kecilnya antara lain adalah : Rabanga, Ramake, Bariwak, Bakatato, saling hom / saling buya, rabenteng, main bawi, main longga, Ramajang, bakalepak, ramacan ( main macan ) dll.

Senjata

Tercatat sejumlah senjata tajam yang menjadi bagian dari identitas budaya daerah. Mulai dari keris, pedang, berang, bate, ladeng, badik, dangko ( arit ) disamping tombak, pana dan jenis - jenis lainnya.

Mengikatkan parang panjang di peinggang ketika akan kesawah atau ladang bagi lelaki Samawa adalah pemandangan yang biasa kita lihat sehari - hari didesa - desa Samawa. Parang sumbawa yang panjang dilengkapi dengan sarung dari kayu yang indah dan berhias.

Upacara Adat

Di tana Samawa dikenal banyak jenis upacara adat, mulai dari upacara adat daur hidup / life cycle, seperti proses kelahiran, masa kanak - kanak, masa remaja dan perkawinan sampai pada upacara kematian disamping upacara yang berkaitan dengan memulai suatu pekerjaan seperti bangun rumah.

Melakukan kenduri ( basadekah ) juga menjadi bagian penting dari adat Samawa, seperti : sadekah orong, sadekah rapina bale, sadekah tolak bala, belo umir, sadekah yang berhubungan dengan perkawinan, sunat rasul, kelahiran nabi ( munit ) dsb.

Dalam pelaksanaan upacara - upacara tersebut biasanya digelar kesenian daerah seperi : ratib, bagenang, langko, saketa, sakeco, lawas, dll

Sistem Gotong Royong

Dikenal tiga sistem gotong royong dalam masyarakat samawa yaitu Saling tulong ( tolong menolong ) basiru ( saling tolong menolong untuk pekerjaan yang ditujukan hasilnya untuk seseorang ) dan ketiga adalang nulong ( membantu ).

Baik saling tulong, basiru, maupun nulong biasanya tidak hanya dalam bentuk materian tapi juga tenaga. Saling tulong bisa diartikan sebagai pemberian pertolongan yang akan dibalas pada kesempatan lain.

Basiru, lebih pada pengertian mengajak beramai - ramai mengerjakan sesuatu pekerjaan yang nantinya juga beramai - ramai mengerjakan pekerjaan dari yang lainnya. Nulong lebih dikhususnya pada adanya imbalan berupa jasa atau materi.

Hasil dari Kebudayaan

Hasil dari kebudayaan Samawa mulai dari zaman purba yang sampai pada zaman kerajaan Sumbawa menjadi bagian penting dari peninggalan sejarah dan keperbukalaan daerah.
Makam sampar di perbukitan dusun ai awak, kelurahan seketeng sumbawa adalah tempat pemakaman Sultan Amrullah, Raja Sumbawa yang memerintah tahun 1836 - 1883. dikompleks ini juga dimakamkan permaisuri sultan dan keluarga bangsawan keraton lainnya.

Sarkofagus Ai Renung, di Batu tering, Moyo Hulu yang tersebar pada lima lokasi yang relatif berdekatan. Situs megalitik telebir dan patung mampis di dusun rarak, desa bangkat monteh Taliwang. Komplek kubur batu di tarakin dan lutuk batu peti di dusun kuang amo, Moyo Hulu.

Istana tua Sumbawa ( dalam loka ) yang terletak di pusat kota Sumbawa besar yang dibangun pada tahun 1885 pada zaman pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin III.

Sumber tulisan : Fakta - Fakta Tentang Samawa ; Manggakang Raba

http://www.sumbawanews.com/?view=lihatartikel&id=809&topik=4

Sphere: Related Content