19 Agustus 2002

The Girl From the Coast by Pramoedya Ananta Toer

Bound to Java's Huts
The Girl From the Coast by Pramoedya Ananta Toer

by Joy Press
August 19th, 2002 5:30 PM

The Girl From the Coast starts the way many fairy tales end: with a wedding. But this is a dark fairy tale riddled with the horrors of real life. In early 20th-century Dutch-colonialist Java, happily ever after isn't in the equation. This much is obvious from the very first pages of Pramoedya Ananta Toer's novel. A lovely 14-year-old girl from a poor fishing village (who has no name except "the Girl from the Coast") catches the eye of an important nobleman known as the Bendoro.

He's too busy to show up for their wedding, so she is married by proxy, with a dagger standing in for her new husband. Although her family and villagers are very impressed by this match, the girl gradually discovers that the Bendoro considers her "a practice wife," a rehearsal for a later "real" marriage to someone of his class. Her heart sinks when she realizes that she is more a possession than a person.

The Bendoro's lavish mansion in the city inspires both awe and claustrophobia in our heroine. Waited on by a squadron of servants yet at the mercy of her husband's every whim, she's kept a prisoner inside the house's intricate routines. The book conveys her conflicted feelings through a textured array of sense-memories. "Her entire body felt strange, as if it weren't her own. The perfumed scent emanating from her pores made her feel light. She had never smelled so fragrant before. That wasn't her body's smell. And the delicate cloth of her apparel made her feel as if she were wearing nothing at all. . . . But even as she dwelled on these new sensations, the servant's voice never stopped droning in her ear, telling her that things must be done this way or that." In the village she could express emotions, but here "there was no one willing to hear the sound of her voice."

Pramoedya Ananta Toer spent 14 years imprisoned in much less pleasant circumstances—first in various Indonesian jails and then on the Buru Island penal colony, followed by more than a decade under house arrest. Regularly mentioned as a front-runner for the Nobel Prize, he is modern Indonesia's great literary hero, though his work is still officially banned there. Pramoedya (as he is known) composed his most famous work, The Buru Quartet, as an oral tale which he read aloud to his fellow political prisoners at the penal colony. These four novels follow a Javanese boy in the dying days of Dutch colonialism as he gravitates toward revolutionary ideas and forges a new kind of Indonesian nationalist identity.


The Girl From the Coast has the feel of an oral tale passed down across the ages by storytellers, too: graceful and elliptical as a myth while occasionally veering into heavy-handed political messaging. Only an epilogue tacked onto the novel mentions that this story is based on a real person—Pramoedya's grandmother, herself a "practice wife"—and that it was intended to be the first book of a multi-generational trilogy depicting the rise of the anti-Dutch nationalist movement (in which his parents and he were involved). The Indonesian military destroyed the rest of the manuscript, so we are left with a simple story that reverberates with epic overtones.

Pramoedya's heroine exudes such a perfect combination of passion, right thinking, and strength that she sometimes comes across like a nationalist poster girl. And she's so full of life that nearly all the book's other characters seem ghostly in comparison. The sole exception is Mbok, a long-suffering servant who tutors the girl in the ways of the household (including how to speak cravenly to her husband—"Forgive me, Master . . . " seems to do the trick) and instills an understanding of their country's political inequality ("[T]he kings and princes and regents of Java have sold this sacred land to the Dutch. And now, to regain it you must fight them, but . . . it will take more than just one generation to complete"). Having left her mother behind in her village, the girl craves affection and companionship from Mbok. Theirs is the novel's most bittersweet, strangled relationship:

The two of them talked into the night, without either the girl hearing the words she wanted the older woman to speak—a simple and direct declaration of affection, unfettered by bonds of convention and politesse—or the older woman finding from her mistress an assertion of the appreciation she felt for her obedience and service, the very things through which she herself showed her affection.

By the time the Bendoro banishes Mbok for insubordination, the girl has absorbed all her servant's bleak lessons and seems well equipped to defend herself against the silly plot line that Pramoedya throws at her, almost derailing the last third of the book. This dramatic twist revolves around Mardinah, a pretty new maid who may be a spy sent to murder the girl from the coast; her brother Mardikun, a sexually ambiguous masseur; and Crazy Dul, a court jester who croons tales the villagers aren't ready to hear. The madcap plotting feels like it's wandered over from another book altogether (maybe some minor Shakespeare comedy) and detracts from this otherwise powerful novel.

The conclusions Pramoedya's Everygirl comes to are fairly obvious: Would you be surprised to hear that she was happier being a poor nobody, because she was allowed to speak her mind and be herself, rather than a rich man's starter kit? Or that she ends up believing her husband is the embodiment of evil, and that working folk are the real heroes?

Despite these substantial flaws, The Girl From the Coast is saved by its intensely evocative everyday details and its genuine affection for its heroine. She careens through the minefield of colonial society with her eyes wide open, both an emblem of Indonesian independence and the fleshly grandmother of a brave 20th-century novelist.


www.villagevoice.com/issues/0234/press.php






Sphere: Related Content

29 April 2002

Menolak sekte sastra

Oleh: Oyos Saroso H.N.

Seperti Ahasveros yang ditolak di setiap pintu, kritik sastra Indonesia berjalan tertatih-tatih mengejar luncuran bola salju yang memenuhi jagad kesusastraan
kita. Kritik sastra Indonesia selalu dicap gagal menafsirkan setiap gerak perkembangan karya sastra.

Jagad sastra Indonesia kemudian justru dengan sejumlah politisasi sastra yang menjurus kepada ’penghinaan terhadap kreativitas’. Persepsi demikian, saya tarik
dari sejumlah perdebatan tentang legimitasi hadiah sastra, perdebatan sastra internet (cyber), perdebatan novel Supernova karya Dewi Lestari, sehingga perdebatan tentang antologi dari Fansuri ke Handayani, yang berbuntut perdebatan panjang itu. Semua
perdebatan hanya melingkar-lingkar kepersoalan lama: stagnasi kritik sastra lama.

Pertanyaan kemudian masih relevankah kita meperbincangkan masih miskinnya kritik di tengah meruyaknya karya? Siapakah kritikus sastra Indonesia yang hingga saat ini konsisten mengawal nilai karya sastra Indonesia? Haruskah kita akan terus menyerahkan tugas pengawalan nilai-nilai puisi, cerpen, dan novel Indonesia hanya kepada para
pemimpin sekte sastra Indonesia.

Sebelumnya, berilah maaf jika saya menggunakan istilah sekte sastra. Itu hanyalah bahasa yang saya petik dari udara untuk memberikan identifikasi bagi kerja sastra yang tidak memerlukan ukuran, tanpa profesionalisme, dan hanya berdasarkan feeling yang sudah tentu sangat subyektif.

Setelah muncul penolakan terhadap sentralitas dengan Taman Ismail Marzuki sebagai simbol tempat dan para penguasa sastra jakarta sebagai obyek yang harus dilawan, saya kira perbincangan tentang sekte-sekte sastra menjadi sangat penting. Alasannya sederhana saja: setelah sekitar lima tahun berlalu, gerakan penolakan terhadap pusat ternyata mandul lantaran kurang amunisi. Selain itu, para penolak puast itu juga ternyata sedang membangun imperium baru sastra.

Itulah salah satu bentuk sekte sastra. Sebagai sekte, tentu saja yang ada adalah penilaian mutlak-mutlakan, pengabdian total, sembari menegasikan pemikiran dan
estetika lain. Perkembangan sekte sastra Indonesia berjalan seiring dengan perjalanan macetnya kritik sastra Indonesia. Setelah kepergian H.B. Jassin, saya kira, tidak memiliki kritikus sastra yang siap menjaga nilai-nilai sastra Indonesia. Bukan saja kritikus yang berwibawa. Selebihnya, karya sastra terus lahir tanpa dikawal kritikus.

Begitulah, ekologi sastra Indonesia tumbuh dan berkembang dalam kelimpahruahan karya,
dengan nol kritik. Dari ekologi sastra yang tak sehat itulah muncul kritik ’kata pengantar antologi’ model tulisannya Budi Darma dan Faruk di kumpulan cerpen
terbaik Kompas. Di tengah kemelimpahruahan karya itu muncul pula para legitimator. Masuk dalam kelas ini adalah Tommy F Awuy, saat mengklaim Supernova sebagai
tantangan baru bagi kritik satra Indonesia (Kompas, 11 Maret 2001). Juga Sutardji Calzoum Bachri yang ’melegitimasi’ penyair wanita Medy Loekito sebagai penyair yang layak diperhitungkan karena ’haiku’-nya.

Juga bagaimana Komunitas Sastra Indonesia (KSI) menggelar acara-acara sastra yang melambungkan nama Wowok Hesti Prabowo. Sialnya, legitimasi acap tidak fair dan obyektif. Legitimasi sastra acap tidak menyentuh ’darah-daging’ karya, tetapi lebih pada persentuhan permukaan. Semua itu terjadi karena ukuran sastra seolah hanya masuk ke keranjang sampah. Yang penting kemudian adalah feeling dan feeling. Dari arus
itulah munculah apa yang dinamakan sekte-sekte sastra.

Sastra Indonesia kemudian dipenuhi barisan sekte. Kategorisasi karya sastra kemudian tidak di dasarkan pada analis ’baku mutu’, tetapi lebih pada feeling para pemimpin sekte. Bayangkan jika seorang penyair besar macam Sutardji Calzoum Bachri melakukan kerja kepenyairan, sekaligus kerja kritik hanya berdasarkan feeling! Bayangkan pula jika seorang redaktur sastra media massa tidak memiliki kapasitas yang baik di
bidang sastra dan menyeleksi yang masuk berdasarkan cita rasanya sendiri. Karena hanya mengandalkan kehebatan pemimpin sekte, jangan heran jika setiap pengiriman sastrawan untuk belajar di lowa ukurannya hanyalah seberapa dekat si sastrawan dengan pemimpin sekte. Begitu juga untuk urusan workshop sastra, baik di dalam maupun di luar negeri.

Sepintas ini memang persoalan remeh-temeh. Namun, bagi perkembangan sastra Indonesia pada masa depan, fenomena ini jelas membahayakan. Kebanggan adanya pengakuan dari para pemimpin sekte, saya kira berbeda dengan kebanggaan karena mendapat pengakuan dari kritikus sekelas Jassin. Soalnya jelas, meski sering dituduh tanpa ukuran, yang dilakukan jassin adalah murni demi kemajuan sastra Indonesia. Jassin sangat bertanggung jawab terhadap penilaian yang diberikannya.

Ukuran-ukuran sastra Jassin pun jelas, sementara legimitasi yang diberikan oleh pemimpin sekte acap tidak jelas ukurannya. Fenomena sekte-sekte sastra dalam jagad kesusastraan Indonesia hanya meneguhkan asumsi bahwa sastra Indonesia tidak pernah lepas dari mitos dan kontramitos. Siapapun yang bisa menghancurkan mitos, apalagi bisa menundukkan pusat-pusat kekuasaan sastra dan pemimpin sekte sastra, maka dia akan serta menjulang sampai ke ’langit ke tujuh’. Mitos dan kontramitos seolah
menjadi paduan seiring bagi terjadinya perubahan atau revolusi estetika. Amir Hamzah adalah mitos yang kemudian diluruhkan oleh Chairil Anwar. Setelah Chairil menjadi mitos, peluruhan dilakukan secara beramai-ramai oleh generasi sesudahnya: Sutardji
Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Goenawan Mohamad, dll.

Pada dekade awal 80-an, mitos itupun dibongkar lagi oleh generasi yang lebih muda seperti Afrizal Malna. Begitu kuatnya hegemoni mitos itu, sampai-sampai Afrizal Malna nyaris ’terbantai’ pada masa awal kepenyairannya. Persoalaannya kemudian, penghancuran mitos-mitos kepenyairan saat ini tidak dilakukan dengan dengan senjata kekuatan estetika, tetapi lebih dengan kekuatan lobi. Kritik sastra yang memiliki
panglima sastra tidak segera muncul, kecuali saat peluncuran buku antologi puisi dan cerpen. Kemiskinan kritik sastra obyektif ini melahirkan sejumlah perdebatan yang mungkin tidak perlu karena di luar koridor dan ukuran-ukuran sastra.

Sepanjang dekade itu 1980-an dan 1990-an, kritik sastra nyaris hanya bagai temperasan hujan. Ada beberapa nama yang masih disegani. Misalnya Budi Darma, Sapardi Djoko Damono, Korrie Layun Rampan, faruk, dan Nirwan Dewanto. Namun, sayangnya, dekade itu tidak melahirkan kritikus yang sekelas Jassin. Para kritikus umumnya juga ’berprofesi’ sebagai satrawan, sehingga totalitasnya sebagai kritik masih kurang. Bahkan, kalau angkatan 45, angkatan 66, dan angkatan 70-an memiliki juru bicara, sastra angkatan 1980-an hingga 1990-an nyaris yatim piatu. Dekade itu sastra berjalan tanpa juru bicara, sampai ’lahirlah angkatan satra baru’ yang oleh Korrie Layun Rampan disebut ’Angkatan Sastra 2000’. Nilai-nilai sastra seolah berjalan ’tanpa
pengawalan’, kecuali oleh para pemimpin sekte sastra, para penguasa pusat-pusat kekuasaan sastra, termasuk para penjaga gawang rubrik sastra-budaya media
massa.Bersama ’meledaknya’ sastra koran berapa sastrawan juga menghiasi ruang kritik sastra. Mereka antara lain Afrizal Malna, Radar Panca Dahana, Triyanto Triwikromo, Eko Tunas, Adi Wicaksono, Gus Tf Sakai, Ahmad Nurullah, Jamal D Rahman, Agus R
Sardjono, Cecep Syamsul Hari, Beni R Budiman, Eddy A Effendi, Ahmad Sybhanuddin Alwy, Nurzain Hae, Iwan Gunadi, dan lainnya.Dari kampus ada Melani Budianta, Maman S Mahayana, Nyoman Tusti Eddy, Sunaryono Basuki Ks, dan lain-lain. Fenomena sastra koran inilah yang juga berpengaruh (atau bergandengan tangan) dengan kritik model ’temperasan air hujan’ alias kritik yang benar-benar tidak tuntas.Kenapa? Mungkin, karena sebagian dari para kritikus atau pengulas sastra kita, meminjam istilah Budi Darma, memang hanya memaknai dunia sastra sebagai ’dunia sepintas lalu’. Mereka tak
benar-benar selesai pada saat berbicara tentang sastra dan kritik sastra.

Soalnya kemudian, baik mereka yang mengeluh maupun mereka yang rileks saja mencermati
kritik sastra, sama-sama tidak memberikan formula penyelesaian persoalan. Kritik sastra tetap menjadi ladang tandus, sementara karya sastra tetap bermunculan. Kritikus sastra mati dan gagal mengawal karya sastra. Posisinya kemudian direbut pemimpin sekte sastra, para legitimator, dan penjaga gawang rubrik sastra media massa. Ekologi sastra Indonesia akhirnya menjadi tidak sehat. Di tengah-tengah
meruyaknya penolakan terhadap pusat-pusat kekuasaan kesusastraan, misalnya, justru terjadi pembangunan imperium sastra baru, baik itu yang lewat justifikasi
komunitas sastra maupun komunitas budaya. Mereka sama-sama menerapkan ukuran ambigu: menolak pusat (Dewan kesenian, pusat/lembaga kesenian pemerintah), sementara dirinya sendiri membangun kekuasaan yang tidak mengakomodasi keberagaman. Karya sastra akan
terus bermunculan, kritik sastra akan terus terbirit-birit, dan kita pun akan terus terkejut oleh ’fenomena baru’ dalam bersastra. Kita akan lebih mudah terkejut. Seperti orang terkejut lantaran nun di Bandung sana ternyata ada penyair muda sangat berbakat dan masih duduk di bangku SMA. Atau kita terkejut ketika menyaksikan bagaimana dunia show dan ngerumpi sastra lebih digemari ketimbang membicarakan persoalan sastra secara serius. Kita agaknya harus berani menolak sekte-sekte sastra sembari membangun kemungkinan lahirnya kritik sastra yang memcerdaskan. Memang
kritik sastra belum tentu didengar oleh para sastrawan. Namun, kehadirannya jauh lebih menyehatkan dunia sastra ketimbang kita harus terus menerus
menyerahkan kepada para pemimpin sekte.*

Harian Media Indonesia, 28 April 2002.

Sphere: Related Content